23 – Pengakuan (4)

Comments 29 Standar

Mereka sudah menyendiri selama tiga menit, namun belum saling berbicara, seolah menikmati kesunyian yang panjang di malam itu. Angin malam yang dingin bertiup dengan kencang.

“Ini pertama kalinya kita berbicara lagi,” kata Cathy sambil tersenyum pahit.

Richard mengangguk.

“Aku menghindarimu, kau pun menghindariku. Seperti dua anak kecil yang lari dari masalah,” kata Richard.

Cathy tersenyum lagi. Lebih tepatnya, memaksa dirinya untuk tersenyum. Hatinya bergejolak begitu hebat saat berada di samping Richard lagi. Mata biru itu, mata biru yang sangat ia rindukan, kini memandangnya begitu dalam.

“Maafkan aku,” kata Richard. “Soal orangtuamu. Ayahmu. Aku tak tahu kalau ia meninggalkanmu. Dan aku melakukan kebodohan yang sama. Maafkan aku karena telah begitu menyakitimu, Cathy.”

Cathy menggeleng. Rasa rindunya pada Richard mulai menguasainya.

Cathy menyeka air matanya yang tidak tertahan lagi. Beberapa saat berikutnya, Cathy sudah tidak berbicara, namun menutup mukanya dan menangis tersedu-sedu.

“Bolehkah aku memelukmu? Cathy?” kata Richard. Cathy mengangguk terisak-isak. Tubuhnya berguncang saat Richard melingkarkan lengan di pundaknya.

Richard merangkul Cathy dengan hangat. Gadis itu kini menangis lebih keras. Richard menyentuhkan dagunya ke kepala Cathy dan mengusap rambutnya dengan lembut.

“Maafkan aku.”

Cathy masih menangis di pelukan Richard.

“Kau adalah semua yang kuinginkan, Richard. Khayalanku tentang mimpi yang sempurna. Hanya saja kau tidak mencintaiku. Kau—” suara Cathy bergetar hebat.

Tangisannya semakin kencang. Ia menangis begitu sedih seperti tidak pernah dilakukannya sebelum ini.

“Maafkan aku,” kata Richard.

“Kenapa kau tidak berkata apa-apa tadi?” tanya Cathy kemudian. “Kenapa kau hanya diam saja? Kenapa kau tidak membela dirimu sendiri di depan mereka?”

Richard menarik napas panjang.

“Aku tidak perlu menjelaskan apa-apa pada mereka,” kata Richard. “Lagipula apa yang dikatakan Kayla memang benar. Aku adalah anak laki-laki brengsek yang suka menyakiti hati wanita.”

“Itu tidak benar,” kata Cathy.

Richard mendesah pelan, menyiratkan luka di hatinya. Ia tidak meneruskan pernyataan itu lagi.

“Apakah aku boleh bertanya padamu?”

“Tanyakanlah,” kata Richard dengan nada terbuka. “Kau adalah pengecualian. Aku berhutang penjelasan padamu selama ini. Tanyakanlah apa pun yang ingin kau ketahui. Aku akan menjawabnya hanya padamu saja.”

Gadis itu sekarang sudah lebih tenang dan melepas pelukannya dari Richard.

“Apa benar Julie adalah cinta pertamamu?”

Richard terdiam sejenak.

“Tanyakan pertanyaan yang lain,” kata Richard sambil memalingkan muka, sedikit mengangkat bahunya. Ia melepas tangan Cathy dan mulai menghindari kontak mata dengan gadis itu. Postur tubuhnya dengan jelas mengindikasikan kalau ia menolak menjawab pertanyaan ini.

Cathy tetap bersikeras dengan pendiriannya.

“Itu pertanyaanku. Kau harus menjawabnya.”

“Aku tidak ingin menyakitimu lagi, Cathy,” kata Richard perlahan.

“Aku menginginkan ini!” Cathy menatapnya dengan sorot memohon yang tidak dapat dielakkan. “Kumohon jawablah! Berikan aku penjelasan yang kuinginkan.  Aku berjanji tidak akan marah. Aku ingin mengetahui jawabannya.”

Cathy bukan tipe gadis yang bisa dipuaskan dengan jawaban yang menggantung. Begitu ia menginginkan sesuatu, ia akan berusaha mendapatkannya, sampai ia merasa puas. Menyadari hal ini, Richard akhirnya mengubah pikirannya. Lagipula, ia memang sudah berniat ingin menyelesaikan ini dengan baik, mengakhiri masalahnya dengan Cathy.

“Baiklah. Iya.”

Richard menarik napas panjang, tidak berbicara lagi.

“Lebih panjang,” protes Cathy.

“Dia cinta pertamaku. Aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Tidak, entahlah,” kata Richard, terpaksa bersuara lebih banyak. “Aku pernah menyukai anak perempuan, Cathy, tapi tidak pernah seperti yang kurasakan pada Julie. Rasanya benar-benar berbeda. Dia membuatku memikirkannya setiap hari, tapi aku takut padanya. Entahlah. Aku tak tahu kenapa. Aku sama sekali tidak bisa menebak isi pikirannya. Dia benar-benar aneh. Itu sebabnya aku takut.”

“Dan Nick juga benar… Aku tidak pernah harus mengejar anak perempuan. Maka dari itu, aku tidak berani mengejar Julie. Terlebih lagi, aku tidak mengerti kenapa dia selalu menjauhiku. Kadang-kadang dia terasa sangat dekat denganku, tapi kadang-kadang jarak kami terasa sangat jauh.. Dan dia tampaknya tak pernah peduli padaku. Apa pun yang dia lakukan, semuanya membingungkan.”

Cathy mengangguk, tersenyum pahit.

“Kenapa kau tidak langsung mendekatinya?”

“Sudah kucoba, tapi tidak pernah berhasil. Gadis itu selalu menghindar, atau mungkin hanya perasaanku,” kata Richard. “Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Aku tak mengerti.”

“Apa yang membuatmu menyukainya?” tanya Cathy tanpa berhenti. “Sejak kapan kau menyukainya?”

Richard mendesah pelan.

“Tidak apa, aku tidak akan marah,” kata Cathy menegaskan keputusannya.

“Aku suka semua hal tentangnya. Raut wajahnya dan tingkah laku uniknya. Aku suka melihat dia bergurau, tersenyum, tertawa. Dan saat dia datang ke Kelas Prancisku waktu itu,” kata Richard, “aku harus susah payah menyembunyikan rasa senangku. Akhirnya aku bisa berinteraksi dengannya. Aku mulai memikirkannya sejak saat itu. Aku berpikir keras bagaimana cara agar bisa mendekatinya.

“Lalu datanglah kesempatan itu, liputan kejuaraan Catur. Saat dia memintaku untuk menjadi narasumbernya, aku menyambut kesempatan itu dengan cepat. Aku tak pernah mendekati anak perempuan sebelumnya, jadi aku bingung bagaimana cara mendekati Julie. Terlebih lagi, gadis itu tidak seperti anak perempuan lainnya. Dia sangat lucu, tentu, tapi dia juga sangat lucu ke semua orang. Apakah dia menyukaiku? Aku tak merasa demikian. Julie tidak memberikan sinyal apa pun yang membuatku percaya diri. Dia sangat.. tidak terbaca. Dan aku selalu sulit menemuinya. Kenapa? Aku tak tahu. Mungkin dia menyukaiku? Tapi dia Sang Tak Tertaklukkan. Bagaimana mungkin dia menyukaiku? Semua sinyal yang dia berikan selalu negatif, aku lama-lama berpikir kalau sebenarnya dia tidak tertarik padaku sama sekali.”

Richard menggumam pelan.

“Dan terakhir, dia merobek puisiku.”

Cathy teringat akan puisi yang dulu sempat membuatnya bermasalah dengan Julie. Puisi yang fenomenal itu, ternyata memang puisi ungkapan cinta yang disampaikan Richard untuk Julie. Persis seperti kekhawatirannya di masa lalu, ternyata benar-benar terjadi.

Anak laki-laki itu tersenyum tipis.

“Aku marah karena aku tak bisa mengerti dia. Dan aku terlalu pengecut untuk menanyakannya secara langsung. Semua anak laki-laki yang pernah mendekatinya menyerah. Padahal mereka lebih sering bertemu dan berinteraksi dengannya. Apalagi aku? Julie jelas-jelas tak menyukaiku. Dia selalu terlihat tidak nyaman ketika melihatku. Dia menjauh. Dia pasti tidak menyukaiku.”

“Dan sekarang, kau akhirnya menyerah?” tanya Cathy. Richard mengangguk.

Cathy menggigit bibirnya. Susah payah ia mencoba tersenyum, dengan mengulum bibirnya sedikit, untuk terlihat tegar dari penampilannya. Ia sama sekali tidak mau terlihat lemah lagi di depan anak laki-laki yang sangat disukainya ini.

Cathy akhirnya menanyakan pertanyaan yang tersulit. “Kenapa kau berpacaran denganku? Apakah bagimu aku–” Cathy berusaha menahan sesak di dadanya. “—adalah pelarian?”

Richard tersenyum.

“Karena aku juga menyukaimu,” kata Richard.

Napas Cathy berhenti seketika.

“Apa?

“Jiwamu yang selalu bersemangat dan memeriahkan suasana, aku suka gadis yang seperti itu. Wajahmu yang sangat cantik seperti malaikat hanyalah salah satu alasan lainnya kenapa aku memilihmu,” kata Richard. “Saat aku berkata ingin melupakan Julie dan memilihmu, aku memang ingin melakukan itu. Aku memang sungguh-sungguh ingin membahagiakanmu.”

“Kau berbohong,” kata Cathy dengan bibir yang menekuk ke bawah. “Kau tidak menyukaiku, Richard. Aku ini egois dan manja. Aku selalu bersikap seenaknya. Aku angkuh dan sombong. Aku Si Ratu Drama yang dibenci semua orang. Kau mengatakan semua ini hanya untuk menyenangkan hatiku, kan?” kata Cathy.

Richard menggeleng lagi.

“Kau gadis yang berbeda saat bersama denganku. Kau memang manja, tapi kau selalu bersikap manis, tidak pernah mengecewakanku sama sekali,” kata Richard dengan wajah yang menunjukkan kesungguhan. “Kau gadis yang baik, Cathy. Kau menyayangiku dan membuatku merasa dibutuhkan. Dan aku menyukai itu. Sikap dramatismu itu, sama sekali bukan masalah untukku.”

Richard melanjutkan.

“Julie pun juga menarik perhatianku dengan cara yang seperti itu. Kalian berdua sebenarnya hampir sama, tapi berbeda. Kalau kau bisa memeriahkan suasana dengan cara sengaja menarik perhatian semua orang, Julie melakukannya tanpa ia menyadari kalau ia jadi pusat perhatian karena tingkah lakunya.”

“Aku suka gadis yang berjiwa hidup seperti kalian. Sialnya, kalian berdua saling bersahabat. Jadi, ketika aku memilihmu, aku justru makin sering bertemu dengan Julie,” kata Richard. “Dan Julie.. benar-benar berbeda. Aku juga tak mengerti kenapa. Semua usaha yang kulakukan untuk melupakannya, justru membuatku semakin tersiksa. Aku semakin mencintainya. Aku tidak bisa mencintaimu lebih daripada yang kurasakan pada Julie.”

Cathy tersenyum pahit.

“Aku mengerti. Kau menyukaiku. Tapi, kau hanya mencintai Julie.”

Richard mengangguk pelan.

“Di antara semua orang yang bersalah, akulah yang paling bersalah. Akulah yang telah memulai semua ini. Aku membiarkan akhir yang kacau pada kalian—betapa tidak adilnya karena ketidakdewasaanku. Aku bahkan merasa tidak pantas berbicara denganmu hari ini. Maafkan aku, Cathy, telah membuatmu terluka karena sikapku. Aku telah membuatmu tidak bahagia dengan kehadiranku. Seharusnya kita memang tidak pernah bertemu, agar aku tidak menyakitimu seperti ini. Aku akan pergi dari hidup kalian.”

Cathy terkejut. Ia mulai bersikap dramatis.

“Tidak! Tidak. Apa maksudmu? Pergi?”

Richard mengangguk. “Aku akan menyelesaikan semua kekacauan ini lalu pergi menjauh dari kalian. Sekarang, dengarkanlah apa yang kurencanakan terhadap Emma.”

“Tidak, Richard. Tidak! Aku bahagia! Aku sangat bahagia ketika bersamamu! Perhatianmu padaku benar-benar tulus. Kau mengajarkanku arti cinta yang sesungguhnya!” kata Cathy dengan menggebu-gebu.

“Dengarkan—”

“Sebelum bertemu denganmu, aku hanya bermain-main dengan hati orang lain, Richard. Tapi sekarang, aku merasakan jatuh cinta. Aku juga merasakan patah hati. Itu rasanya sakit sekali. Dan seumur hidupku, baru kau yang berhasil membuatku seperti ini. Ini rasa sakit yang sekarang justru membuatku bahagia. Kau telah mengajariku untuk melihat cinta yang kuharapkan. Kau membuatku sekarang menerima kerapuhanku dan masa laluku. Aku tahu kau menyayangiku.” Cathy memegang tangan Richard yang dingin.

Ia memandang Richard. Wajahnya yang mempesona itu selalu membuat jantungnya berdegup kencang.

“Dengarkan aku,” kata Richard sekali lagi, dengan wajah serius. Cathy terdiam seketika.

“Jadi begini,” kata Richard. “Aku tidak punya masalah personal dengan Emma dan aku juga tidak ingin menghancurkan masa depannya, jadi yang ingin kulakukan hanyalah menggertak saja. Aku tidak benar-benar akan memberikan video itu ke kepala sekolah, mungkin tidak akan pernah jika tidak terpaksa. Dari mana aku mendapatkan video itu? Sangat sulit sebenarnya, tapi aku tahu ini patut dicoba. Emma memiliki banyak pengikut loyal dari Kelas Dua Belas, tapi aku yakin pasti ada satu dua di antara mereka yang pernah merasa kecewa dan disakiti. Tidak mungkin tidak pernah.”

“Aku memang mengandalkan peruntunganku semoga salah satu di antara mereka ada yang pernah melakukan sesuatu untuk mengamankan diri. Aku benar. Ruth Orland melakukannya,” kata Richard. “Ruth Orland salah satu pengikut Emma sebelum Emma ke luar negeri. Dia adalah orang yang pernah disakiti hatinya oleh Emma dan menunggu saat untuk balas dendam. Yang Emma tidak tahu adalah, dia sepupu jauh Tania Lawless.”

“Ruth sudah lama memendam kebencian pada Emma, tapi tidak pernah berani berbuat apa-apa, sampai akhirnya Emma mengganggu Tania. Ruth dan Tania memang tidak dekat, tapi akhirnya hubungan darah itu membuat Ruth akhirnya berani merekam kejadian penyiksaan Tania di saat tak seorang pun berani melakukannya,” kata Richard. “Emma pun sedang lengah saat itu. Jadi, video itu berhasil tersimpan di ponsel Ruth dan Ruth memberi tahu Tania soal rencanannya membalas dendam.”

“Pada akhirnya, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar berani merealisasikan rencana itu. Mereka takut pada pembalasan Emma, tak cukup pintar untuk mengatur strategi melawannya. Tania memilih pindah sekolah, daripada harus melawan Emma. Video itu tetap berada di tangan Ruth tanpa pernah sekali pun dipergunakan lagi.”

“Aku beruntung karena akhirnya menemukan Ruth dan gadis itu mau diajak bekerjasama. Dengan syarat, gadis itu tidak ingin namanya ketahuan dan jangan sampai Emma membalas dendam padanya. Dan jangan sampai ia bermasalah dengan Nimberland gara-gara itu. Ia hanya ingin Emma mendapat pelajaran, atau setidaknya menghentikan perbuatannya, tapi ia sendiri tidak mau terlibat masalah sama sekali. Aku mengerti hal itu. Oleh karena itu, satu-satunya cara yang akan berhasil adalah, aku tidak akan menyerahkan video itu sama sekali. Aku akan memainkan tipuan psikologis tanpa identitas. Untuk itu, aku perlu bekerjasama dengan Jerry.”

“Kesalahanku adalah karena melibatkan Julie terlalu dini. Aku tidak mengira kalau dia akan bertindak segegabah itu menghampiri kelompok Emma. Ini permainan yang berbahaya, seharusnya kalian tidak perlu kulibatkan sama sekali. Aku sudah mengatur strategi agar terornya di ujung nanti bisa menjatuhkan Emma. Perang pikiran untuk menunjukkan siapa yang paling cerdas. Ini adalah bagian kesukaanku. Ini keahlianku.”

“Teror?”

Richard tersenyum penuh arti.

“Pokoknya jangan khawatir tentang Emma. Aku tahu persis apa yang kulakukan,” kata Richard. “Yang penting sekarang, aku ingin hubunganmu dengan Julie membaik kembali. Semua akan baik-baik saja seperti dulu lagi.”

“Dan setelah itu kau akan pergi dari kami?” tanya Cathy dengan mulut tertekuk ke bawah. Richard mengangguk.

“Itu lebih baik untuk kita semua—”

“JANGAN BODOH!” Cathy menyambar cepat seperti singa marah. “Kau pikir apa yang menyebabkan pertengkaran hebat kami tadi sore? Itu karena Julie akhirnya mengakui padaku kalau DIA JUGA MENCINTAIMU.” Cathy mengulangi pernyataan itu dengan lebih dramatis. “Aku mendengarnya sendiri. Julie juga mencintaimu! Dia sendiri yang bilang padaku. Kau tahu? Tadi sore, kami bertengkar hebat karena itu. Dia marah padaku tidak mengizinkannya mencintaimu.”

Cathy mulai mengendalikan dirinya lagi.

“Yah, kupikir itulah yang membuatku semakin cemburu. Kalau Julie sendiri juga ternyata mencintaimu, aku pasti tidak punya harapan sama sekali,” lanjut Cathy. “Aku marah karena kalian berdua ternyata saling mencintai.”

Richard terdiam seribu bahasa. Akal sehatnya menolak mempercayai kata-kata ini.

“Tapi kau jangan pernah pergi! Atau aku tidak akan pernah memaafkanmu sama sekali! Aku akan benar-benar marah. Sangat marah!” kata Cathy. “Kau berhutang maaf padaku, Richard. Kau tahu kan, aku belum menerima permohonan maafmu sama sekali? Tanyakan padaku bagaimana agar aku memaafkanmu. Tanyakan padaku!”

Richard menahan napasnya. Percakapan ini mulai membawanya ke arah yang membuat jantungnya bergetar.

Cathy tersenyum.

 

***

BACA SELANJUTNYA >>https://nayacorath.com/2016/02/02/23-pengakuan-5/

CATATAN DARI PENULIS (80)

Comments 208 Standar

Halo teman-teman! 😀

Part terakhir dari novel blog seri : FRIDAY’S SPOT – JULIE LIGHT DAN KELAS PRANCIS !

Bab Selamanya – Part 3

…..akhirnya bisa dibaca. 😀

Ngomong-ngomong, aku berubah pikiran. Seri Friday’s Spot tadinya mau kuhentikan dari blog ini. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, aku masih ingin menulis cerita Julie dan Richard di sini. Mulai tahun depan, setiap update Friday’s Spot yang baru, aku akan menulis cerita lepas tentang Julie, Richard, dan kawan-kawan di sini. (Setelah Julie Light dan Kelas Prancis)

Ditunggu ya! 😉

 

BACA DARI AWAL (DAFTAR ISI)

 

 

UPDATE TERBARU >>

Novel ETERNAL FLAME sudah terbit di Gramedia! Yang mau pesan novel Eternal Flame bertandatangan Naya Corath, hubungi aku melalui e-mail nayacorath@gmail.com. 😀

20151201_195606[1]

20151129_150305[1]

Eternal Flame fix

 

UPDATE TERBARU >>

Aku membagikan e-book gratis untuk teman-teman pembaca blogku, silakan klik di postingan “Bagi-bagi E-Book Motivasi #NayaQuote GRATIS!”

11751468_1618653588375757_4799274557439409812_n

 

>> UPDATE TERBARU >>

Video #NayaTalk pertama-ku, tentang perubahan format novel blog Naya Corath.

 

23 – Pengakuan

Comments 30 Standar

Cathy gemetar hebat, tubuhnya kejang karena shock. Di hadapannya kini berceceran darah sahabatnya, yang terbujur diam di atas aspal hitam. Ia berjalan mendekati Julie, menggoncang tubuh itu sekali lagi, terkejut saat darah menetes lebih banyak dari kepala gadis itu.

Ia melihat ke arah  truk tadi, yang menghilang dengan cepat seperti angin.

“Julie,” katanya lirih. Sekarang air matanya menggenang, membanjiri kelopak bawah matanya.

“JULIE!”

Cathy berteriak minta tolong. Beberapa orang yang berada di sekitar tempat kejadian langsung menghampiri mereka. Suasana di sana semakin ramai saat Cathy melihat Mr.Bouncer yang bertubuh besar berlari dengan wajah pucat, sama pucatnya seperti wajah orang-orang yang ikut berlari di sekelilingnya.

“Apa yang terjadi?” tanya Mr.Bouncer dengan tidak sabar. Laki-laki itu menghampiri tubuh Julie dan memeriksakan denyut nadinya. Wajahnya cemas dan sangat khawatir.

Cathy menatap Mr.Bouncer sambil menangis. Ia berusaha menjelaskan, tapi hanya suara gumaman dan gemuruh kacau yang terdengar dari mulutnya.

“Panggil ambulans,” kata Mr.Bouncer pada salah seorang murid.

Cathy masih memanggil nama Julie berkali-kali, namun gadis itu tidak menjawab. Ia masih tidak percaya ini benar-benar terjadi. Gadis yang tadi terus-menerus mengejarnya itu kini tidak bersuara lagi.

Orang-orang mulai mengerumuni dan membantu Mr.Bouncer menghentikan pendarahan Julie. Cathy merasakan perih di lutut dan sikunya, luka gores yang baru ia sadari akibat terjatuh tadi, tapi matanya tidak pernah lepas dari pemandangan mengerikan yang ada di hadapannya sekarang.

“Tidak, tidak—”

Wajah Cathy mendadak kosong. Ia menyaksikan tubuh Julie yang tidak bergerak lagi, seperti terkulai begitu saja saat Mr.Bouncer menggendongnya. Jantung Cathy mendetakkan kengerian yang menghebat. Ucapannya tadi tidak boleh menjadi kenyataan. Tidak! Dia tidak ingin Julie mati!

Cathy menangis lagi.

Beberapa menit kemudian mobil ambulans datang. Dua orang petugas medis turun dari mobil itu dan memberikan bantuan pertama pada Julie. Salah seorang petugas lain menghampiri Cathy dan memintanya untuk ikut masuk ke dalam ambulans. Di mobil yang sama, Cathy melihat mereka mengangkat tubuh Julie yang lunglai dengan hati-hati.

Semuanya terjadi begitu cepat. Mereka membawa Julie ke ruang gawat darurat segera setelah mobil ambulans itu tiba di rumah sakit. Salah seorang perawat menghampiri Cathy dan menawarkan diri untuk mengobati luka-lukanya, namun Cathy tak membiarkannya—ia hanya ingin menemani Julie. Cathy melihat orang-orang itu membawa Julie kembali ke ruang operasi. Mereka menutup pintunya rapat-rapat, tidak mengizinkannya ikut masuk ke dalam.

Cathy jatuh terduduk di atas kursi. Ia tidak pernah menyangka kalau keegoisannya akan berakibat sampai sejauh ini. Dia sangat takut jika yang terburuk benar-benar terjadi.

“Kenapa,” kata Cathy lemas. Ia menutup mukanya, “Kenapa jadi seperti ini?”

Beberapa siswa yang tadi ada di tempat kecelakaan telah menyusul ke rumah sakit. Semuanya menghampiri Cathy. Gadis itu tidak merespon mereka sama sekali. Sampai akhirnya salah seorang dari mereka menepuk pundaknya, ia melompat marah. Mereka bergidik ketakutan dan segera menjauh.

“Pergi! PERGI!!” teriak Cathy frustasi.

Lubang itu kembali menganga, berdenyut-denyut nyeri, mengingatkannya lagi dengan rangkaian peristiwa dalam hidupnya di masa lalu, yang telah mengakibatkan ini semua. Sebuah rahasia yang tidak pernah diceritakannya pada siapa pun.

Seorang anak laki-laki yang tampan dan menawan telah memenjarakan hatinya. Ia belum pernah melihat anak laki-laki seperti itu sebelumnya. Anak laki-laki yang diyakininya dapat mengubah semua kemarahannya pada masa lalunya.

Richard Soulwind.

Cathy ingat pertama kali bertemu dengan Richard. Anak laki-laki itu begitu sopan dan terpuji. Ketampanan Richard menyengatnya dengan lekukan wajahnya yang begitu sempurna. Tapi di atas itu semua, sikap misterius namun lembut anak laki-laki ini terhadapnya telah menyihirnya dalam sebuah fantasi yang tidak masuk akal.

Cathy memang tipikal gadis yang gampang jatuh cinta. Ia mudah tertarik cowok-cowok tampan, memperlakukan kehidupan romantikanya seperti sebuah permainan. Mark McGollen dan Jake Williams hanyalah salah satu cerita yang mewarnai sejarah panjang petualangannya. Cathy bahkan tak segan-segan memacari Mark di hari pertamanya berkenalan dengan anak laki-laki itu.

Yang tidak pernah diketahui siapa pun adalah—sifatnya ini merupakan ungkapan alam bawah sadar Cathy terhadap kondisi keluarganya sendiri. Ayahnya seorang playboy yang berselingkuh, sementara ibunya menjadi pecandu minuman keras yang selalu memungkiri kenyataan. Cathy menyalahkan ibunya yang naif dan bodoh karena membiarkan ayahnya berbuat sesukanya dan pergi meninggalkan mereka. Itulah sebabnya Cathy tumbuh menjadi gadis yang sangat egois—cara yang ia pilih untuk melindungi hatinya dari kekecewaan. Kemarahan pada kedua orangtuanya ia ekspresikan  dengan cara berpacaran dengan sebanyak mungkin anak laki-laki dan mencampakkan mereka. Baginya, tidak akan ada orang yang bisa menyakiti hatinya dan meninggalkannya jika ia yang melakukan hal itu lebih dulu. Kemarahan pada ayahnya membuatnya berpikir bahwa semua anak laki-laki memang pantas diperlakukan demikian, sebelum mereka melakukan itu padanya, sebagaimana yang pernah dilakukan ayahnya pada ibunya.

Di antara semua orang yang pernah ditemuinya, Richard Soulwind ternyata benar-benar lain. Ketertarikan awal Cathy pertama kali memang karena penampilan fisik Richard yang luar biasa, namun persepsi itu segera berubah dengan cara yang aneh setelah Cathy mengenal Richard lebih lama. Ia seperti menemukan harapan yang tidak mungkin. Ia tak pernah melihat anak laki-laki yang begitu tampan seumur hidupnya, namun lebih dari itu—ada sesuatu di dalam diri Richard yang membuatnya nyaman dan bahagia.

Kelembutan Richard adalah sesuatu yang tidak pernah dilihatnya selama ini. Untuk pertama kalinya, sisi rapuh Cathy yang sedang bersembunyi di balik sikap egoisnya mulai menginginkan kehadiran Richard yang akan menenangkan hatinya. Ia percaya bahwa Richard adalah orang yang telah dicarinya selama ini. Orang yang akan melindungi hatinya yang terluka dan menjaganya dengan hati-hati. Orang yang terpilih untuk menjadi pendamping hidupnya selamanya.

Sang Pangeran.

Sejak perkenalannya dengan Richard, Cathy selalu menyimpan perasaan khusus pada anak laki-laki itu. Ia pun tak segan-segan mengungkapkannya pada semua orang, dan apa pun yang pernah ia lakukan untuk pria-pria tampan lain, Cathy selalu memberikan Richard perlakuan lebih spesial. Richard anggun, manis, tampan, dan sopan. Ia benar-benar tergila-gila pada anak laki-laki ini, mengubah seluruh pandangannya tentang cinta, dan sangat serius mengharapkan kisah cintanya yang satu ini.

Cathy merasakan kebahagiaan yang besar ketika Richard menyatakan cinta. Banyak hal yang berubah dari dalam dirinya. Sifat Richard yang tenang dan melindungi telah membuatnya menjadi gadis manja yang lebih membuka diri dan menerima kerapuhannya sendiri. Sang Pangeran yang selalu melindungi hatinya, membuat kabut yang berbekas sejak kepergian ayahnya dulu, perlahan-lahan menghilang.

Cathy tidak pernah menyangka bahwa Sang Pangeran yang memberi harapan itu justru tega menghancurkan hatinya. Saat Richard menyatakan bahwa ia menyukai Julie, luka di hatinya terbuka lagi.

Sejak dulu ia selalu takut ditinggalkan dan tidak diinginkan. Adanya pihak ketiga yang harus disalahkan adalah jawaban atas krisis kepribadian yang dialaminya. Ia tidak ingin merasa tidak diharapkan. Sebagaimana kemarahan saat ayahnya menelantarkannya demi perempuan lain, maka dengan cara yang sama, ia kali ini memilih percaya bahwa kepergian Richard adalah kesalahan orang ketiga. Pengingkaran atas rasa percaya dirinya yang begitu rendah membuatnya memilih menyalahkan Julie.

Ini semua salah Julie.

Cathy sudah merasakan keresahan sejak Julie mulai terkenal dengan julukannya sebagai “The Unbeatable.” Sejak anak laki-laki berbondong-bondong mendekati Julie dengan alasan yang tidak masuk akal, orang-orang di Nimber berspekulasi kalau Richard suatu saat nanti pasti bertekuk lutut pada Julie. Ide itu begitu menakutkan, seperti penghancur semua harapannya yang mulai tumbuh. Sialnya, meskipun Cathy terus berdoa semoga Richard tidak akan pernah melakukannya, akhirnya mimpi buruknya malah jadi kenyataan.

Richard memang mencintai Julie. Richard tak pernah mencintainya sama sekali.

Cathy merasa dikhianati, sakit hati yang terulang lagi dan kesedihan yang selalu dihindarinya dari dulu itu membuatnya begitu terguncang. Ia memutuskan meninggalkan mereka, orang-orang yang ia percaya akan menghancurkan hatinya lagi. Hanya Cassandra yang masih bisa ia percaya. Seperti yang pernah terlintas di pikirannya dulu, ia pun bergabung dengan Pinky Winky. Sebuah pelarian yang tidak benar-benar diinginkannya.

Cathy harus mengakui kalau sesungguhnya ia merindukan teman-temannya. Cassandra benar, tanpa The Lady Witches semuanya tak pernah sama, gadis itu selalu menasehatinya. Tak peduli sekeras apa pun Cathy memungkiri kenyataan ini, bahkan meskipun Pinky Winky terlihat menarik dari luar kelompok, tak ada yang bisa menggantikan Kayla, Jessie, Julie, Cassandra, dan Lucy dari hatinya. Ia merindukan kebersamaannya dengan mereka, gadis-gadis heboh yang berlebih-lebihan, dramatis, gila, baik hati, dan selalu menyenangkan.

Juga Julie.

Cathy menelan ludahnya. Sekarang ia baru sadar, ternyata justru Julielah yang dulu menarik perhatiannya untuk menjadi bagian dari The Lady Witches. Pertemuan pertamanya dengan pasangan Julie-Jessie pada hari kedua di Nimber waktu itu, merupakan awal dari segalanya. Ada daya tarik aneh yang ganjil yang membuatnya ingin mendekati mereka berdua. Daya tarik yang ia pikir tak mampu dilihatnya dan hanya menarik perhatian para anak laki-laki buta yang mengejar-ngejar Julie—Cathy baru sadar ternyata ia sendiri selama ini justru telah terpikat oleh sihir itu. Sejak pertama mereka bertemu.

Pesona Julie Light.

Cathy mengingat bagaimana keunikan kepribadian Julie telah membuatnya tergoda ingin bergabung dengan teman-temannya lamanya dari Springbutter—Kayla dan Jessie—bahkan meskipun ia baru saja mengenal mereka. Gadis itu memang menarik. Dengan alasan yang tidak bisa dijelaskan, gadis itu memang pantas disukai. Bukan kecantikan atau kecerdasan, namun ada sesuatu dalam diri Julie yang memancarkan feromon itu. Ketulusan hati seseorang yang kikuk dan bodoh yang selalu tertawa dengan orang-orang di sekelilingnya, dengan kehangatan pertemanan yang selalu terbuka untuk siapa saja. Sesuatu yang selalu Cathy pungkiri selama ini, namun sekarang ia dapat melihatnya dengan sangat jelas.

Sesuatu yang membuat Richard pantas mencintainya.

Cathy menelan ludahnya. Kebaikan hati Julie bahkan membuatnya semakin merasa dirinya terlalu jahat. Ia menghabiskan hampir seluruh waktunya di masa lalu untuk mengkhawatirkan jika Julie akan merebut kekasihnya dan membenci Julie karena ketakutannya itu menjadi kenyataan, namun hari ini sahabatnya telah mengorbankan dirinya sendiri demi menyelamatkannya. Cathy tak mengerti kenapa ia selama ini begitu buta oleh rasa cemburu dan kemarahan, namun ia melampiaskannya pada orang-orang yang salah. Sahabat-sahabatnya bukanlah penyebab perceraian kedua orangtuanya. Mereka adalah penyembuh lukanya, penjaga hatinya, yang selama ini ia pikir akan ia temukan dari seorang pangeran, namun Cathy lupa bahwa ada yang lebih meneduhkan daripada kehadiran pria impian pengganti ayahnya yang telah pergi meninggalkannya.

The Lady Witches. Geng bodoh yang selalu membuatnya tertawa.

Sahabat-sahabatnya.

Dan sekarang Cathy sadar, ia telah menghancurkan segalanya. Julie yang begitu baik dan ia benci selama ini, sekarang meregang nyawa karena keegoisannya yang jahat.

Cathy menunduk dan menangis lagi.

***

BACA SELANJUTNYA >>

22 – Teman (6)

Comments 27 Standar

Julie berusaha menormalkan pernapasannya. Ia tidak tahu dari mana keberanian itu datang, tapi yang jelas keberanian itu datang di saat yang tepat.

Ia kemudian menatap Cathy. “Kau tidak apa-apa?”

Cathy tidak menjawab. Gadis itu terdiam membatu seperti patung. Ia memaku pandangannya pada ponsel Julie yang berserakan di tanah.

Julie berjongkok meraih ponselnya, mencoba mengumpulkan potongan logam itu di telapak tangannya. Ia tersenyum senang. “Ternyata Emma memang tidak sepintar yang kita pikirkan, Cath. Siapa sangka mereka dengan mudah bisa tertipu bualanku. Jessie pasti terkejut.”

Cathy tidak menjawab apa-apa. Ia hanya memperhatikan Julie memasukkan sisa-sisa kepingan ponselnya ke dalam tasnya dalam diam, sesekali menatap bekas luka bakar di tangan Julie.

“Richard yang mengirimkan video itu padaku. Baru saja. Itu sebabnya aku langsung ke sini. Kau pasti tidak percaya,” kata Julie. “Aku tak tahu bagaimana ia mendapatkannya, tapi kuharap ia masih menyimpan salinannya. Dia sangat khawatir padamu, Cath. Kami semua sangat khawatir padamu. Kenapa kau tidak pernah menceritakan pada kami tentang Emma? Apa saja yang dilakukan Emma padamu? Apakah dia menyakitimu?”

Cathy berkerut masam. Ia menjawab ketus. “Bukan urusanmu.”

Mendengar nama Richard yang disinggung Julie membuat Cathy merengut kesal, ia meraih tas sekolahnya dengan cepat, dan memakainya dengan gegabah. Kejadian hari ini bukan hal yang disukainya, kehadiran Julie lebih-lebih membuatnya merasa semakin dipermalukan. Ia segera menyingkir dari tempat itu tanpa mempedulikan gadis itu lagi.

“Tidak—” kata Julie. “Hey. Tunggu!”

Julie terpaksa mengejar Cathy dengan susah payah. Langkahnya tertatih-tatih namun ia memaksanya untuk tetap berjalan. Kakinya masih sakit karena ditendang Emma tadi, tapi ia berusaha untuk tidak menggubrisnya.

“Kenapa kau tak pernah bilang pada kami kalau kau masih diganggu Emma?”

Julie mengejar sambil meringis menahan nyeri. Tangannya pun mulai berkedut-kedut perih lagi. “Kau tahu kami bisa membantumu. Kami sahabatmu.”

“Kau bukan sahabatku,” desis Cathy.

“Kenapa kau bersikap seperti ini? Aku tidak ingin kita seperti ini. Cathy!” kata Julie.

Cathy berjalan tanpa henti, Julie tetap mengikutinya dari belakang. Cathy tidak menghentikan langkahnya sama sekali. Ia terus menghindar dan menghindar, bahkan meskipun itu berarti harus menghadang ilalang tajam yang hampir mengiris kulitnya.

“Cathy!”

Cathy malah mempercepat langkahnya.

“Kenapa kau terus-menerus mengikutiku? ENYAH!” Ia memandang garang. “PERGI!”

“Kenapa kau tidak mau berhenti dan menyelesaikan masalah ini? Aku akan terus mengikutimu sampai kita menyelesaikan urusan antara kau dan aku.” Julie mendengus kesal.

Cathy berjalan cepat lagi menghindari Julie, menuju trotoar di belakang sekolah, menyeberangi jalan raya lebar.

“Kenapa?” runtut Julie, mencoba berkomunikasi dengan Cathy lagi. “Kenapa kau begitu membenciku? Aku tak mengerti. Selama ini kita adalah teman baik, kan? Kupikir persahabatan kita lebih berarti daripada segalanya. Kenapa kita harus jadi seperti ini?”

“Aku tidak ingin bersahabat denganmu,” kata Cathy. “Enyah!”

“Jadi apa yang kau inginkan?” kata Julie. “Berhentilah, Cathy! Ayo kita bicarakan ini baik-baik. Katakan apa yang kau inginkan agar kau memaafkanku. Aku akan melakukannya untukmu.”

Mereka masih saja bekejar-kejaran seperti anak kecil. Situasi seperti ini lama-kelamaan membuat Julie menjadi sangat dongkol. Julie mulai kehilangan kesabaran. Ia akhirnya mengeluarkan sisa tenaganya demi berteriak sangat keras.

“CATHY! KUBILANG BERHENTI!”

Gadis itu akhirnya berhenti juga.

Napas Julie sekarang terengah-engah. Seluruh energinya hampir habis untuk berlari dan berteriak. Ia menunggu respon Cathy, yang saat ini sengaja membiarkan suasana di antara mereka sunyi selama beberapa puluh detik, sebelum memberikan reaksi berikutnya. Ia memutar tubuhnya perlahan ke arah Julie.

“Kau ingin tahu apa yang kuinginkan? Kau yakin kau bisa memenuhinya, Julie?” desis Cathy. Julie mengangguk. Cathy balas menatap Julie dengan tatapan bengis. Nada bicara yang ia gunakan sengaja dimaksudkan untuk mengiris perasaan siapa pun yang mendengarnya.

“Aku ingin kau mati.”

Julie terdiam.

Kata-kata Cathy barusan benar-benar menyakiti hatinya. Kebencian Cathy padanya benar-benar dalam, sampai gadis itu tega mengucapkan hal seperti itu padanya. Langkahnya mulai melambat, seakan menyerap setiap kata kasar yang telah dilontarkan Cathy barusan. Matanya panas dan perih. Ia sudah tidak tahan lagi. Ketika darah panas surut dari wajahnya, air mata marah merebak.

“Kau benar-benar keterlaluan, Cathy.”

Julie menahan rahangnya yang gemetar. Suaranya yang bergetar tidak dapat dikontrolnya lagi. Ini adalah momen yang paling dihindarinya selama ini.

“Kenapa hanya aku yang tidak boleh menyukai Richard? Kenapa?” Julie mencecar dengan pertanyaan membakar. “Kenapa hanya kau yang boleh menyukainya? Kenapa!?”

Cathy memalingkan muka. Ia sekarang menatap Julie dengan senyuman sinis. “Jadi kau menyukainya?”

Julie menatap Cathy dengan pandangan menantang. Kalimat itu akhirnya keluar juga dari mulutnya. Dadanya panas. Urat-urat kepalanya tegang dan tertekan. Mereka berpandang-pandangan dengan dingin seperti saling bermusuhan.

“Iya. Aku menyukai Richard,” Julie menjawab tegas, tanpa sedikit pun keraguan.

“Pengkhianat.”

Julie merasa wajahnya semakin mengeras.

“Aku memang menyukainya! Tapi aku tak pernah sekali pun ingin merebut Richard darimu. Tidakkah kau melihatnya? Aku selalu mengalah untukmu! Kenapa kau sangat egois??”

Cathy menatap tajam. Amarah mengguncang tubuhnya seperti cambuk.

“EGOIS?” Cathy tertawa. “Ya, aku memang egois, Julie. Manusia teregois di dunia ini. Puas? Supaya kau semakin puas lagi, akan kuceritakan apa yang kupikirkan tentangmu. Aku akan menunjukkan padamu betapa egoisnya aku.” Cathy menarik rambutnya dengan frustrasi.

“Kau tahu apa yang kupikirkan sekarang, Julie? Kau tahu?? Aku muak. Aku muak padamu. Aku benci dan cemburu dengan semua yang kau dapatkan. Bagaimana rasanya sekarang? Menjadi THE UNBEATABLE! Sang Tak Tertaklukkan!” Suara Cathy menggelegar, memperagakan setiap kalimatnya dengan intonasi menyindir. “Kau selalu mendapatkan apa pun yang kau mau. RICHARD. Bahkan sekarang kau berhasil mengalahkan Emma. Wow! Kau memang sangat sempurna, Julie! Semua orang pasti jatuh cinta padamu!”

“Apa? Apa maksudmu? Aku tidak—” Kening Julie berkerut.

“Aku tak pernah habis pikir kenapa semua anak laki-laki menyukaimu. Kenapa? Maksudku, lihatlah dirimu. Kau tidak cantik. KAU BODOH. Apa yang menarik dari gadis biasa sepertimu?” kata Cathy tanpa mempedulikan ucapan Julie sama sekali.

“Aku sudah cukup bersabar selama ini. Kau boleh menaklukkan siapa pun, Julie. Aku tak peduli pada mereka, para anak laki-laki bodoh itu. Aku tak peduli jika seluruh orang di dunia ini jatuh cinta padamu tanpa alasan yang jelas. Tapi sekarang—Richard? Kenapa Richard menyukaimu? Apa yang dia lihat!? Apa dia buta?”

Julie menatap kecewa. Dadanya sakit sekali.

“Jadi, itu yang kau pikirkan tentangku selama ini?”

“Di antara semua orang di dunia ini, kenapa harus kau yang disukainya? Kenapa?” kata Cathy penuh emosi. “Di sekolah kita, kenapa hanya kau yang bisa membuat Richard jatuh cinta padamu? Kenapa? BAGUS! SEMPURNA. Kau memang adalah segalanya di dunia ini, Julie. Yang Tak Tertaklukkan! Dan siapa aku?”

Air mata kesedihan bergulir kencang di pipi Cathy. Gadis itu berusaha susah payah menahannya, menyeka setiap tetes yang keluar dari matanya, seolah ingin memungkiri kesedihan itu.

“Siapa aku di mata orang-orang?” isaknya. Nada suaranya berubah menjadi rendah. “Aku bukan siapa-siapa, aku sama rendahnya seperti sampah yang tidak berharga. Aku tidak berharga. Aku–”

Cathy tampak sangat terpukul dan rapuh. Kepedihan membuat wajahnya terpilin. Kelopak matanya turun dan suaranya terdengar letih. Air mata yang mengalir semakin deras di pipi Cathy sekarang mulai melunakkan hati Julie.

“Cathy,” kata Julie.

Cathy menceracau seperti orang yang kehilangan harapan.

“Ya, aku cuma sampah, Julie! Aku cuma sampah! Emma benar. Tidak ada yang menginginkanku di dunia ini, Julie. Tidak ada! Semua orang akan meninggalkanku, karena mereka tidak pernah sayang padaku. Mereka akan melukai hatiku dan lagi dan lagi, seperti yang Dad selalu lakukan padaku selama ini. Dia tak pernah peduli padaku! Dia jahat! Semua orang meninggalkanku. Semua orang membuangku seperti sampah! Bahkan Richard. Bahkan Richard meninggalkanku. Dia menyadari kalau aku tidak pernah berharga untuknya.”

Luapan hati Cathy yang baru saja diucapkannya sekarang, tidak pernah Julie lihat sebelumnya. Gadis yang selalu pura-pura kuat itu, yang tidak pernah sekali pun ingin terlihat menangis di depan mereka, kini menangis sesegukan di depan Julie.

Ini seperti bukan Cathy.

“Cathy, apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Julie dengan ekspresi terkejut.

Seorang gadis yang terluka dan disakiti, tengah berdiri di hadapannya, seperti orang berbeda yang pernah dikenalnya. Momen ini akhirnya membuat Julie sadar sebenarnya betapa rapuhnya jiwa sahabatnya itu. Cathy telah menutup dirinya dalam tembok yang amat tinggi tanpa seorang pun yang mengetahuinya, sambil bersembunyi di balik keegoisannya selama ini.

Cathy tidak menjawab. Ia menghapus air matanya dengan wajah marah. Mulutnya terkunci seperti ada rahasia yang benar-benar tidak ingin disampaikan.

“Jika kau menginginkannya,” kata Julie kemudian, “aku akan menghilangkan perasaanku ini untukmu, Cath. Aku berjanji. Aku juga akan membantumu mendapatkan Richard kembali. Bukankah itu yang selama ini kulakukan untukmu?”

Cathy meradang. Kecemburuan yang sangat kentara menyelubungi isi hatinya.

“Tapi dia tidak menginginkanku? Dia mencintaimu, Julie. Dia mencintaimu! Dan aku hanyalah seorang gadis menyedihkan penampung semua bekas mainanmu. Itu kan yang mau kau bilang?”

“Ti-tidak, bukan,” Julie terbata-bata. Ia menghela napas. “Jangan salah paham dulu, Cath. Bukan begitu maksudku. Aku—”

Sekarang Julie merasakan sebuah firasat buruk. Ia melihat sekeliling. Ini tidak akan berakhir baik. Pertengkaran ini harus dihentikan, karena ia mulai menyadari, ada hal lebih genting yang harus mereka lakukan sesegera mungkin. Sekarang juga.

“Cathy, dengarkan–”

“TIDAK! Aku tidak mau mendengarmu!”

“Begini. Sebaiknya kita pindah ke tempat lain, Cath—”

Cathy masih mencecar tanpa henti. Ia berpikir kesempatan yang bagus ini akhirnya memberikan peluang untuk mengungkapkan semua kemarahannya pada Julie.

“Ketika kupikir aku telah menemukan orang yang kucintai dan menyayangiku dengan tulus, dia malah melakukan hal yang sama dengan yang selalu kutakutkan. Richard adalah jawabanku, Julie! Tapi kau merebutnya! Kau merebutnya! Kau tahu kenapa aku membencimu? Karena kau merebutnya, kau merebut orang yang kusayangi, sama seperti saat wanita jahat itu merebut ayahku—”

“Cathy! Ini berbahaya,” kata Julie sambil melihat sekelilingnya. Mereka berada tepat di tengah-tengah jalan raya. Ia berusaha meraih tangan Cathy untuk menyingkir. “Kita harus pergi dari sini.”

“JANGAN SENTUH AKU!”

Gadis itu tidak mau mendengar penjelasannya. Gadis itu tidak berhenti berbicara.

Julie mulai panik karena ia melihat sebuah truk besar datang ke arah mereka.

“Cathy, ayolah!”

Cathy menoleh. Gadis itu akhirnya mendengar suara klakson besar menghujaninya tanpa henti. Ia sudah sangat dekat dengan truk yang akan menabraknya.

“Tidak, tidak—” kata Julie cemas. “CATHY!”

Julie mendorongnya dengan cepat, dan membiarkan tubuhnya sendiri terhempas oleh truk besar itu.

Cathy terperanjat.

 

 BACA SELANJUTNYA >>

22 – Teman (5)

Comments 38 Standar

“Kau tahu, sudah berapa kali aku sengaja membiarkanmu menginjak-injak harga diriku?” kata Emma. “Tidakkah kau mendapat pelajaran dari beberapa kali pertemuan pribadi kita dulu?”

Emma mendongak dan tersenyum.

“Aku sengaja membiarkanmu menghisap darahku seperti seekor lintah selama beberapa bulan belakangan. Dan aku tidak sempat mencabut hisapanmu itu. Kau tahu? Kau sudah sangat gemuk sekarang. Tidakkah kau merasa senang, Mesmerizer?”

Emma menyurukkan jari-jarinya di sela-sela rambut Cathy yang berantakan. Matanya berkilat kejam. Auranya mencekam, ketakutan menyelimuti wajah Cathy yang pucat pasi.

“Aku tidak takut padamu,” geram Cathy di sela-sela giginya yang terkatup. Suaranya jelas bergetar.

“Aku akan melaporkanmu. Aku pasti akan melaporkan semua perbuatanmu ini. Kau dan anak-anak buahmu itu akan dikeluarkan dari sekolah, Emma.”

Gadis itu tertawa membahana.

“Ingin mengancamku, Pecundang? Sungguh?” Gadis itu mendengus. “Tidakkah kau sadar akan posisimu sekarang, Cathy? Menurutmu apa yang bisa membuat kepala sekolah percaya padamu, hah? Wajahmu? Kecantikanmu? Ya. Tentu saja hanya itu yang bisa kau andalkan—”

Emma mendorong tubuh Cathy dengan keras. “—sebab otakmu saja tak lebih besar dari otak udang.

Cathy berusaha memberontak. Teman-teman Emma menahan kedua tangannya, menarik rambutnya dengan kasar.

“Kecoa sepertimu benar-benar merepotkan,” kata Emma. “Aku terlalu sibuk untuk sempat mengurusi kau, Cath. TERLALU SIBUK! Bagaimana rasanya menikamku dari belakang, hah? KECOA!” Gadis itu membentak tinggi. “Aku tahu Jake memacarimu karena kau cantik. Tapi kini dia kembali padaku, Cathy, setelah Jake menyadari aku lebih berderajat dan berkelas dibandingkan dirimu. Seandainya saja aku tidak sibuk mengurusi urusan beasiswaku, pasti dari kemarin aku sudah menginjakmu sampai mati.”

“Tapi pembalasan tidak akan manis jika tidak dilakukan saat kau sudah terinjak-injak, kan?” kata Emma sambil tersenyum lembut. Ia mengayunkan tangannya dengan ringan, “Aku tahu, aku tahu. Dari dulu aku sudah tahu, kok. Pada saatnya kau pasti akan jatuh, dengan tabiat menjijikanmu itu. Gadis dengan kualitas kepribadian serendah sampah seperti kau, Cathy sayang, aku tahu suatu saat kau pasti yang menghancurkan dirimu sendiri. Semua orang akan meninggalkanmu, Honeydew. Cepat atau lambat. Dan tepat seperti dugaanku, kan? Puff! Semua yang kau cintai menghilang.”

Bibir Emma mencibir saat mengucapkannya. Kalimat berikutnya keluar dengan ekspresi muak.

“Kelakuanmu menjijikkan. Kesombonganmu menjijikkan. Semua hal tentangmu palsu. Apa yang kau sombongkan, Cath? Lihat isi kepalamu. Kosong. Nihil. Kau tak punya apa pun yang bisa kau banggakan.

“Bahkan Sunshine sekarang mencampakkanmu. Oh? Orang itu, orang yang kau gila-gilai? Lihat? Dia membuangmu demi perempuan lain. Kau sudah bisa melihat nilai dirimu yang sebenarnya, kan? Kau itu—TIDAK BERHARGA. Apakah kau sudah sadar sekarang? Tidak ada yang menginginkanmu. Kau sadar betapa jauhnya perbedaan kita?”

“Kau pengecut,” desis Cathy.

Emma menamparnya dengan sangat keras. Cathy berusaha berteriak minta tolong tapi teman-teman Emma langsung menutup mulutnya, mengunci kedua tangannya. Cathy menendang-nendang sekuat tenaga, tapi Emma menamparnya lagi. Emma menarik rambutnya dengan kasar, tidak mempedulikan tangisan Cathy.

“Kau memang tidak  pernah belajar dari pengalaman,” kata Emma. Ia memberi aba-aba pada teman-temannya. “Mungkin aku perlu memberimu pelajaran lagi.”

Dua orang gadis anak buah Emma segera mengeluarkan buku-buku sekolah Cathy, melemparnya ke atas tanah. Tanpa ragu-ragu, mereka menginjak-injak buku-buku itu dengan sepatu mereka yang kotor. Mereka mengambil buku-buku itu lagi dan memasukkannya kembali ke dalam tas.

“Oh? Kau tampak lapar,” Emma berbicara iba. “Beri dia makanan yang pantas untuk derajatnya.”

Beberapa gadis yang menggunakan sarung tangan plastik meraup segenggam tanah di permukaan rumput dan memasukkannya dengan paksa ke dalam mulut Cathy. Gadis itu meraung-raung memberontak tapi kedua tangannya dipegang dengan sangat erat oleh teman-teman Emma.

Cathy berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya.

“HENTIKAN!” Julie berteriak keras.

Julie tersandung dan tersungkur di rerumputan. Gadis-gadis itu terperangah melihat kedatangannya, lalu tertawa keras.

Well, well. Lihat siapa yang datang,” kata Emma. “Oh? The Unbeatable.

Teman-teman Emma datang menghampiri untuk menangkap Julie, tapi Emma melarangnya. “Tidak, tidak. Jangan tangkap dia. Biarkan saja, tapi tutup jalan keluarnya. Aku ingin tahu ke mana arah permainan ini. Ini sangat menarik.”

Emma menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Pemandangan ini telah memberinya ide untuk menciptakan sebuah pertunjukan baru. Ia lalu memberi aba-aba pada teman-temannya yang mengunci tangan Cathy. “Lepaskan dia.”

Segera setelah teman-teman Emma melepaskan Cathy, gadis itu menghapus air matanya dan membersihkan mulutnya yang kotor. Julie menghampiri Cathy, menawarkan bantuan.

“Pergi sana! Aku tak butuh bantuanmu!”

Cathy menyentakkan lengannya, berteriak marah. Julie tersentak kaget. Ia menghentikan gerakannya, terpaku diam saat menyadari Cathy menatapnya dengan tatapan kebencian.

“Siapa nama aslinya? Julie? Julie Light?” tanya Emma pada teman-temannya. “Menarik sekali, Julie, karena aku dan Cathy tadi sempat membicarakan tentang kisahmu dan Sunshine. Bagaimana kabar kekasih bermata birumu hari ini, Julie?”

Julie meringis.

“Oh? Kuharap dia baik-baik saja,” sambung Emma tanpa menunggu, “karena di sini ada seorang gadis yang sangat mengharapkan kehadirannya. Seorang gadis sombong yang suka bermain api denganku.

“Tidakkah dia pernah menceritakannya padamu, Sayang? Dan geng norak kalian itu? Tentang petualangan-petualangan kecil kami?” tanya Emma dengan gerakan halus dan sangat anggun. “Oh? Tentu saja dia tidak menceritakannya pada kalian. Aku lupa kalau kalian adalah teman-teman palsu. Maafkan aku.”

Julie menatap ke arah Cathy. Gadis itu masih membersihkan mulutnya dengan mata yang basah dan penuh kemarahan. Tidak sekali pun Cathy melihat ke arahnya kembali. Dadanya naik turun dengan cepat, namun kepalanya selalu memilih menunduk dan menghindar dari pandangan Julie.

“Seharusnya sejak beberapa peringatan yang aku berikan padanya dulu, dia sudah menyadari betapa beresikonya kalau dia bermain-main dengan kekasihku. Itu kalau dia pintar! Dan kau tahu? Saat aku sedang lengah, DIA MALAH BERPACARAN DENGAN JAKE-KU DAN MENCAMPAKKANNYA! KAU BISA LIHAT KURANG AJARNYA DIA?”

“Kenapa kau tidak mencegahnya melakukan kebodohan itu, Julie? KENAPA?” tanya Emma dengan nada kasar. Sekejap kemudian, ia terlihat lebih tenang dan terkendali.

“Ah, iya. Aku lupa lagi. The Mesmerizer tidak mungkin menceritakan apa pun pada teman-teman palsu seperti kalian. Apalagi mempercayaimu.” Gadis itu terkekeh, tawanya rendah dan panjang. Teman-temannya mengikuti dengan tawa merendahkan yang sama.

Julie merasa terpukul. Rasa kebas yang menjengkelkan kini mencengkram perutnya. Ini persis seperti yang pernah dikatakan Jessie padanya waktu itu. Tentang rahasia Cathy. Pada kenyataannya, selama ini ternyata Cathy memang tidak pernah mengucapkan apa pun pada mereka. Tidak satu pun. Julie memandang dingin ke arah Cathy.

“Kenapa kau tidak pernah menceritakannya pada kami, Cath?” tanya Julie dengan perasaan kecewa.

“Bukan urusanmu!” jawab Cathy ketus.

Emma tertawa.

“Tidakkah dia gadis yang menyebalkan, Julie?” kata Emma, setengah berbisik. “Kau membelanya mati-matian dan dia malah membentakmu. Teman macam apa itu? Mari kita balas pelacur ini hari ini dengan beberapa kejutan yang menyenangkan.”

“JANGAN MENGHINA SAHABATKU!”

Julie terlihat benar-benar marah. “Dia lebih baik daripada kalian semua!”

Emma mendengus.

“Heh.”

Ucapan Julie barusan membuatnya merasa tertantang.

Gadis itu mengayunkan tangannya lagi dengan gemulai, segera menyuruh para anak buahnya untuk menangkap dan mengunci tangan Julie dan Cathy. Kedua gadis itu berusaha memberontak tanpa hasil.

“Baiklah, Julie. The Unbeatable. Karena kau sudah memintanya dengan sopan, mari kita membahas mengenai dirimu hari ini.”

Emma memulai presentasinya dengan gaya formal dan sangat anggun. Pengendalian kualitas suaranya benar-benar terlatih dengan baik, postur tubuhnya tegak sempurna, dengan jelas menggambarkan pengalamannya yang luas dalam kompetisi berkelas internasional selama ini.

“Aku akan memperkenalkanmu pada teman-temanku. Saudari-saudariku, perkenalkan. Ini adalah Julie Light. Gadis kelas Sepuluh, Nimberland High School. Siapa kau, Julie? Julie Light. Oh. Hanya seorang idiot yang tidak bisa berbahasa Prancis. Meme un escargot ne est pas aussi stide que son. Kau pasti tidak mengerti apa yang kukatakan, kan?”

Gadis-gadis itu tertawa.

“Prestasi? Nihil. Kesibukanmu? Hanya reporter bodoh penulis artikel tidak penting di klub koran sekolah. Kualitas tulisanmu di bawah standar. Rongsokan seperti itu pasti langsung dijadikan pembungkus kotoran anjing di meja juri lomba-lomba yang sudah kumenangkan. Kecerdasanmu jelas di bawah rata-rata,” kata Emma dengan berwibawa. “Tapi kau manis juga, Julie. Pantas saja Cathy sangat cemburu padamu.”

Emma membelai rambut Julie dengan sangat lembut, jari-jari Emma menelisik lincah di kulit kepalanya. Mata Emma yang mengerikan kini menatapnya tepat di depan hidungnya. Julie berusaha keras menyembunyikan napasnya yang berantakan. Jantungnya berdegup tidak karu-karuan.

“Apa yang membuatmu berpikir bisa melawanku, Julie? Kenapa kau merasa sederajat denganku? Jenis hukuman apa yang pantas? The Unbeatable pasti butuh tantangan yang tidak biasa, kan?” tanya Emma dengan senyum jahat. Ia mundur beberapa langkah untuk menikmati pemandangan mangsanya.

“Baiklah. Aku akan memberikan hadiah yang tidak bisa kau lupakan, Julie. Apakah kau punya permintaan khusus?” tanya Emma sekali lagi.

Julie masih berusaha menarik tangannya yang dipegang kuat oleh teman-teman Emma, namun tidak membuahkan hasil apa-apa. Semakin ia berusaha melawan, tangannya semakin ngilu dan kram karena ditahan sekuat tenaga oleh lawannya.

Emma mengeluarkan sebotol kecil cairan berwarna kuning muda dari tasnya. Ia mengaduk-aduk botol itu, tampak bimbang dengan keputusannya kali ini.

“Kau tahu ini apa? Ini urinku. Air seniku sendiri. Hadiah spesial yang kusiapkan untuk penggemar-penggemarku. Tadi aku menyiapkannya untuk diminum Cathy. Tapi aku sekarang ragu apakah aku ingin menghadiahkannya untukmu. Rasanya hukuman seperti ini terlalu standar, tapi aku tak tega jika terlalu jahat padamu, Julie. Karena sebenarnya kau gadis yang manis. Kesalahanmu hanyalah berteman dengan pelacur ini,” kata Emma. “Bagaimana sebaiknya?”

Emma meletakkan botol itu kembali ke dalam tasnya. Ia berubah pikiran setelah berpikir sejenak. Sebagai gantinya, ia mengambil sebuah pemantik api dari saku samping tas sekolahnya.

“Baiklah. Sudah kuputuskan. Hukumanmu. Aku akan membakar tanganmu,” kata Emma.

“Apa?”

Julie terkejut. Ia hampir mengira kalau tadi ia hanya salah dengar, atau mungkin hanya bercanda, tapi reaksi penolakan yang keras langsung muncul dari orang-orang di sekelilingnya membuatnya meyakini kalau Emma memang benar-benar berniat membakar tangannya. Terdengar suara gemuruh dari teman-teman Emma yang juga ternyata tidak setuju dengan ide gila ini.

“Emma, apa yang kau lakukan? Kita tidak pernah melakukan ini sebelumnya.”

Emma tersenyum miring.

“Tenanglah. Aku hanya akan membakar sebuah fragmen kecil di kulit tangan kirinya. Dia tidak kidal, kan? Sebuah luka bakar kecil di pergelangan tangannya pasti memberinya kenangan tak terlupakan. Dia pasti akan mengingatku seumur hidupnya. Aku merasa terhormat, The Unbeatable, mematahkan julukan tidak terkalahkanmu itu. Buktinya, aku akan mengalahkanmu, sekarang. I beat you.

Emma menyalakan pemantik apinya.

“TIDAK!”

Julie meronta-ronta untuk melepaskan diri. Kedua anak buah Emma yang sedang memeganginya pun mulai terlihat panik dan tidak yakin.

“Jangan sampai kalian melepaskannya! Kalau kalian mengkhianati kepercayaanku, kalian yang akan jadi korbanku berikutnya!”

“Tapi, Emma—ini berbahaya.”

“Turuti apa kata-kataku maka semuanya akan baik-baik saja. Aku hanya akan membakarnya sedikit. Selama ini juga kita tidak pernah ketahuan, kan? Kalian meragukan kemampuanku?” Emma membentak. “Aku tahu apa yang kulakukan. Tahan tangan kirinya, jangan sampai dia bergerak, kalau tidak nanti api ini juga bisa membakar baju kalian. Dan tutup mulutnya.”

Julie berteriak dan meronta sekuat tenaga, tapi kini anak buah Emma yang membekuknya bertambah jadi empat orang. Mereka memegangi kaki Julie, tangan Julie, membekap mulutnya, berusaha menghentikan perlawanan tubuhnya dengan segala cara, sampai tubuh Julie jatuh tersungkur di atas tanah. Mereka langsung menduduki punggungnya, menahannya dengan kaki, lalu berusaha sekuat tenaga menghentikan semua gerakan apa pun dari lengan kirinya.

Cathy memandangi semua itu dengan wajah ketakutan.

“Bagus,” kata Emma. Ia menyalakan pemantik apinya lagi, lalu meletakkannya tepat si kulit lengan kiri Julie. “Sekarang, Mlle.Light. SELAMAT DATANG DI NERAKA.”

Emma meletakkan nyala api itu tepat di bagian dalam pergelangan tangan kiri Julie. Ia membuat gerakan memutar untuk bersenang-senang, lalu mulai memusatkannya lagi di satu titik yang sama.

Julie menjerit tanpa suara, luar biasa kesakitan. Api itu membuat kulitnya melepuh perlahan-lahan. Air matanya mengalir tanpa dapat dikendalikannya. Rasa dingin yang disusul cepat oleh perih dan panas dari api pemantik itu membuatnya kehilangan kontrol atas tubuhnya sendiri.

Emma tertawa. Ia menghentikan siksaannya setelah melihat Julie cukup terluka. Dengan aba-aba dari gerakan tangannya, ia memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan Julie dari cengkraman.

Julie berusaha bangun dengan susah payah. Seluruh sendi tubuhnya sakit, tulangnya sakit, punggungnya sakit, dan tangan kirinya lebih sakit lagi. Rasanya api itu masih membakar kulitnya. Ia melihat kulitnya yang melepuh, membentuk keriput basah putih berdiameter satu inci.

“Bagaimana, Julie? Kau suka dengan salam perkenalanku?” tanya Emma. “Tanda tangan itu yang nanti akan jadi pengingatmu kapan pun kau berpikir untuk bermain-main api lagi denganku. Oh? Kenapa aku melakukan ini padamu? Seharusnya aku melakukan ini pada Cathy, bukan padamu. Benar juga. Aku menyesal. Maafkan aku. Tapi tidak apa-apa, yang penting Cathy sudah menyaksikannya. Benar kan, Cathy?”

Julie melihat ke arah Cathy. Kali ini, gadis itu juga melihatnya, dengan ekspresi wajah yang tidak pernah Julie lihat sebelumnya—rasa bersalah, iba, sedih, dan benci yang bercampur menjadi satu. Rasa sakit di pergelangan tangannya kali ini membuatnya tersadar bahwa sesuatu di dalam hatinya juga sedang merasakan rasa sakit yang sama. Ia terluka oleh penolakan sahabatnya. Ia sangat menginginkan semua kekacauan di pikirannya ini cepat berakhir.

Tiba-tiba suara yang lembut seperti piano bergema di telinga Julie. Suara yang sama yang tadi berbisik padanya saat ia membaca pesan dari telepon selularnya. Suara Richard!

“Jangan berpikir kau udah menang,” kata Julie dengan mantap dan tegas. Sekarang ia teringat lagi alasan kenapa dia bisa berada di tempat ini sejak awal. Ia menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan diri untuk serangan berikutnya.

Emma mengedikkan kepalanya. “Kau ingin tambahan hukuman lagi?”

“Aku punya bukti video yang bisa membatalkan beasiswa ke luar negerimu, Emma,” kata Julie tajam.

Emma menegakkan alisnya. “Video?”

Julie menelan ludahnya.

Yeah, sebuah video penyiksaan yang kau lakukan di tempat ini. Persis seperti yang kau lakukan padaku dan Cathy sekarang. Kami merekamnya dengan sangat baik, yang sebentar lagi akan mengakhiri masa depanmu. Semua reputasi akademis yang susah payah kau bangun selama ini, Emma. Semua akan runtuh saat video ini kami sebarkan ke semua orang.”

Julie mencoba maju selangkah meski dengan kaki goyah dan gemetaran. Ia menarik napas panjang. Bayangan tentang Richard tadi telah memberinya keberanian dan senjata untuk melawan Emma. Ia sudah tidak merasa takut lagi.

Emma tertawa.

“Cih. Kau pikir aku bodoh,” kata Emma. “Gertakanmu tidak akan berpengaruh apa-apa padaku, Julie. Aku selalu memastikan setiap tindakanku bersih dan bebas dari kecurigaan. Kau pikir aku tidak mempersiapkan semua ini dengan cerdas? Kau lupa sedang berhadapan dengan siapa?”

“Lalu menurutmu apa yang ada di kantongku sekarang, Emma?” jawab Julie dengan menantang. Ia merogoh sakunya memperlihatkan telepon selulernya. “Video aksi yang kau lakukan di tempat ini.”

“Ambil ponsel itu!” perintah Emma pada anak buahnya.

Gadis-gadis itu menggeledah Julie dengan kasar. Mereka merebut ponsel Julie, memastikan tidak ada ponsel lain di pakaiannya, lalu menyerahkannya pada Emma. Emma memeriksa ponsel itu, meyakinkan kalau tidak ada aplikasi perekam yang sedang diaktifkan. Ia kemudian memeriksa galeri, menemukan sebuah file yang tidak ingin dilihatnya.

“Apa ini?” kata Emma dengan marah. “Kenapa video ini bisa ada di sini!?”

“Video apa?” tanya teman Emma.

“Siapa yang merekam ini!?”

Emma berlari mencengkram kerah Julie, berteriak dengan intonasi yang mengerikan. “KENAPA VIDEO INI BISA ADA DI SINI!!!”

“Video apa, Emma?” tanya yang lain.

“SIAPA YANG MEREKAM INI!?”

Emma menunjukkan video pada ponsel itu satu persatu pada teman-temannya.

“Kupikir kau bilang kau sudah memastikan semuanya aman dan terkendali, Glade!” kata Emma dengan bergemuruh marah pada salah seorang sahabatnya. “Kenapa aku selalu dikelilingi para idiot!”

Julie menjawab pertanyaan itu dengan ekspresi menantang. “Apa hal itu menakutkanmu?”

Emma menyambar Julie. “Dari mana kau mendapatkan ini!”

“Dari teman-teman yang menyayangi Cathy,” kata Julie. “Dan orang-orang yang peduli padanya. Dan kami masih punya banyak lagi.”

Mereka mulai semakin riuh saat ponsel Julie diperebutkan dan diperdebatkan satu sama lain. Emma menarik ponsel itu dengan paksa dari mereka, lalu mulai menyalahkan orang-orang kepercayaannya. Mereka bertengkar dan bersilat lidah, sedapat mungkin melepaskan diri sendiri dari tuduhan dengan cara mengkambinghitamkan anggota geng yang lainnya. Emma mendapat kecaman yang paling berat karena dia mulai mengancam akan membeberkan keburukan semua orang.

“Aku tahu kau sangat pintar, Emma, tapi kau tidak dikelilingi sahabat-sahabat seperti Cathy. Tidakkah kau lihat sendiri di sekelilingmu, apakah teman-temanmu akan menyukaimu di saat kau sedang terpuruk?” kata Julie. “Kami bukan teman-teman palsu Cathy, Emma. Kami adalah sahabatnya. Dan kami akan melakukan apa pun untuk membantunya.”

Julie terlihat lebih berani daripada Julie yang biasanya. Ia seperti orang yang berbeda.

“Aku dan teman-temanku punya banyak video seperti itu, dan kau tahu? Kami lebih pintar daripada yang kau duga.” Julie meringis. “Kau tidak ingin video itu sampai di tangan kepala sekolah, kan? Atau kau ingin aku buatkan artikel khusus di koran sekolah untuk membahas perbuatanmu? Aku tidak akan ragu-ragu melakukannya, karena aku sudah punya bukti yang kuat.”

“Kau ingin tahu bagaimana kelanjutan nasib beasiswa luar negerimu? Dan nasib semua orang yang ada di sini? Semua orang yang menuruti kemauanmu untuk mem-bully orang lain?” lanjut Julie. “Kuharap berakhir indah, karena itu semua adalah keputusanmu. Pikirkanlah baik-baik.”

Emma menelan ludahnya dengan penuh amarah. Ia sangat yakin dengan kehati-hatiannya selama ini. “Kenapa video itu bisa ada!”

Emma menyambar kerah baju seragam sekolah Julie dengan kasar. “Bagaimana kau melakukannya!?”

“Mungkin kau harus berpikir lagi tentang definisi pintar, Emma,” kata Julie sambil menyeringai. “Kalau kau berpikir kau sangat pintar, bisa jadi karena selama ini karena kami mengalah dan mengasihanimu. Atau kalau kau mulai menyadari kenyataannya, kau tidak sepintar yang kau kira.

Emma benar-benar kehilangan kendali emosinya. Ia melepas satu persatu partisi ponsel Julie, mematahkannya, mencabut memori card-nya dengan marah dan merusaknya, lalu menginjak ponsel itu hingga hancur.

“Hancurkan saja. Aku masih punya banyak yang lain,” kata Julie sambil menyengir.

Emma menampar Julie, gadis itu tersungkur. Ia menendang tungkai kaki kanan Julie dengan keras, membuat gadis itu kesakitan. “Bagaimana kalau aku menghancurkan kakimu? Kau masih punya banyak yang lain?”

Julie meringis dan bangkit.

“Kau yakin mau meneruskan ini, Emma?” kata Julie, melayangkan pandangan sengit pada gadis itu. “Pertimbangkanlah tawaranku baik-baik, Emma. Dan teman-temanmu juga. Mereka akan dikeluarkan dari sekolah karena membantumu.”

Emma menggeram.

“Kau tidak akan menyerahkan video itu pada siapa-siapa,” bentak Emma. “Karena kau akan tamat hari ini, Julie.”

“Kau pikir memangnya kenapa aku berani datang ke tempat ini seorang diri? Apakah karena aku yang bodoh atau kau yang bodoh?” balas Julie dengan nada sama tinggi. “Silakan lanjutkan jika kau ingin menambah koleksi videoku untuk diserahkan ke kepala sekolah. Sekarang teman-temanku sedang merekam kejadian ini dari suatu tempat. Kalau kau bersikap lebih kasar lagi padaku, aku akan menyuruh mereka memanggil semua orang ke tempat ini sekarang juga.”

“Omong kosong!” kata Emma. Ia tertawa mencibir. “Teman-temanmu? Kau tidak bisa menggertakku dengan omong kosong itu. Tidak ada siapa-siapa di sini.”

Teman-teman Emma mulai terlihat gelisah. “Emma, sudahlah. Ayo kita pergi dari sini.”

“Dia berbohong!” kata Emma.

“Lalu bagaimana caranya ia mendapatkan video itu?” tanya yang lain dengan keras. “Wajahku juga terekam di sana. Aku tidak mau terlibat lebih jauh lagi.”

“Salah seorang dari kalian berkhianat padaku,” kata Emma. “Katakan! Siapa yang merekam ini!”

“Bukan aku yang merekamnya—”

“Kau juga ada di sana waktu itu! Mukamu tidak ada di sini. Jangan-jangan kau yang berkhianat padaku—”

“HEY! KAU PIKIR KAU SEKARANG DALAM POSISI TAWAR??” bentak Julie. “Pecahkan teka-teki itu di tempat lain! Pergi dari sini sebelum aku kehilangan kesabaran!”

“Jalang!”

Setelah berdebat dan berargumen tidak henti-hentinya, Emma tidak bisa mengalahkan desakan teman-temannya yang sudah sangat ketakutan kalau video itu akan tersebar. Gadis itu dan teman-temannya akhirnya pergi meninggalkan Julie dan Cathy, sambil tetap saling menyalahkan satu sama lain dan berbantah-bantahan. Emma mendengking marah dari kejauhan.

***

 BACA SELANJUTNYA >>

22 – Teman (4)

Comments 25 Standar

Julie baru saja tiba di lantai tiga saat ia mendengar sebuah pesan masuk yang berdering dari ponselnya. Ia mengambil ponsel dari saku bajunya, melihat nomor tak dikenal yang cukup familiar di matanya. Ia menahan napasnya.

Pesan dari Richard.

Jantung Julie berdegup kencang.

Ia berhenti berjalan. Tubuhnya merapat di dinding, di sudut koridor, setengah bersembunyi seperti memastikan tidak ada orang yang melihat keberadaannya di situ.

 

Julie.

Segera hapus pesan ini setelah kau membacanya. Tapi jangan lupa mengunduh file video di lampiran pesan ini terlebih dahulu sebelum kau melakukannya. Simpan di dalam direktori ponselmu, atau perbanyak untuk rangkap pribadimu. File asli ada padaku. Aku mendapatkannya dari seorang teman yang dapat dipercaya. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi.

Aku sudah membicarakannya dengan Jerry. Dia setuju untuk membantu menulis artikel yang mengancam Emma. Mungkin dia akan menghubungimu lagi hari ini untuk membahas tentang rencanaku padanya.

Aku memenuhi janjiku padamu, Julie. Kuharap ini juga dapat memperbaiki hubunganmu dengan Cathy.

Aku minta maaf karena sudah merusak persahabatan kalian.

 

Richard.

 

Ia membaca pesan itu sekali lagi. Tangannya gemetar karena panik, tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan jari-jemarinya.

Kata-kata pada tulisan itu ditulis dengan rapi dan sopan, seperti ciri khasnya Richard yang membuat Julie begitu terkacaukan. Suara Richard yang lembut seperti berbisik pelan di telinganya. Ia tidak bisa berkonsentrasi. Dadanya getir sekali saat Richard mengucapkan kata maaf.

Setelah berkali-kali menarik napas, Julie berusaha mencerna kata-kata yang ditulis oleh Richard barusan. Sekarang ia mencoba meng-klik sebuah ikon bergambar video. Ia meng-klik tombol “Play” pada pesan multimedia tersebut.

Julie melihat gambar video rekaman Emma dan teman-temannya sedang memukul seorang siswi kelas Sepuluh di belakang gedung sekolah.

Ia terperanjat.

Gadis yang ada di video itu adalah Tania Lawless, gadis kelas Sepuluh yang dikabarkan berhenti sekolah sejak dilabrak geng Emma beberapa bulan yang lalu. Namun tidak pernah ada seorang pun pihak otoritas di sekolah yang mempercayainya karena Emma selalu dapat menutupi kejahatannya dengan baik. Gosip itu akhirnya hanya menjadi satu dari jutaan gosip-gosip yang berlalu di Nimber, tanpa ada penanganan khusus, dan menghilang begitu saja tanpa penjelasan.

Dari sudut pengambilan gambar yang tidak mulus dan bergoyang serampangan, jelas terlihat bahwa rekaman ini diambil diam-diam oleh seseorang di suatu tempat tanpa sepengetahuan Emma dan teman-temannya. Beberapa kali terlihat jari-jemari pengambil gambar tampak menghalangi layar kamera, setiap kali Emma dan teman-temannya menatap ke arah sana, seperti berusaha menutupi agar aktivitasnya tidak ketahuan.

Julie langsung mematikannya saat video itu menampilkan adegan sadis di pertengahan menit pertama. Dengan hati-hati, ia menyimpan video itu di galeri ponselnya, lalu menghapus pesan tadi, sesuai perintah Richard. Ia merenung lagi, memikirkan arti dari semua ini. Ia kemudian teringat perkataan Nick padanya di Kelas Musik tadi, tentang Richard yang membuat sebuah rencana untuknya. Apakah video ini adalah bagian dari rencananya? Mengapa Richard mengirimkan ini?

Puluhan pertanyaan tiba-tiba muncul di kepalanya secara bertubi-tubi. Julie tidak tahu apa persisnya yang direncanakan Richard, tapi Richard berkata kalau ini ada hubungannya dengan Jerry. Kenapa Richard menemui Jerry? Apa saja yang mereka bicarakan? Apakah pesan Jerry menyuruhnya ke ruangan klub koran sekolah sore ini adalah untuk membahas ini? Apakah nanti Richard juga akan ada di sana? Apakah mereka berencana merusak nama baik Emma di koran sekolah dengan video ini? Kenapa? Apakah itu tindakan yang bijaksana? Artikel seperti apa yang ditulis Richard dan Jerry yang bisa menyelamatkan Cathy nanti?

Dari mana Richard mendapatkan video ini?

Semakin lama Julie memikirkannya, semakin semuanya menjadi lebih jelas sekarang. Video ini dapat menjadi alat bukti kejahatan Emma yang selama ini tidak tersentuh, mereka bisa menjadikannya kartu As kapan pun Emma mengganggu Cathy. Richard benar, Julie bisa menggunakan video ini untuk memperbaiki hubungannya dengan Cathy.

Julie memutuskan untuk menonton video itu sekali lagi, kali ini hingga durasi video empat menit dua puluh detik itu selesai dimainkan. Ia mengecilkan volume ponselnya dan mengerling sesekali ke sekelilingnya dengan hati-hati, jangan sampai kepergok geng Emma yang menangkap basah tiba-tiba dari belakang. Beberapa adegan awal tidak terlalu jelas kelihatan karena posisi kamera yang sering bergoyang, tapi menuju pertengahan video terlihat lebih stabil. Wajah Emma terlihat jelas, begitu mengerikan, sedang mem-bully Tania dengan ancaman tamparannya yang sengaja mengintimidasi.

Tak lama kemudian, video itu berlanjut ke adegan penyiksaan yang lebih menakutkan. Emma menarik rambut Tania dan melumuri wajahnya dengan semangkuk cacing tanah yang masih hidup dan menggeliat. Ia memasukkan sisanya ke dalam saku seragam sekolah Tania, lalu menjahit mulut saku itu agar cacing-cacing itu tidak dapat keluar. Sebagian yang berjatuhan dimasukkan ke dalam kaus kaki Tania, sambil teman-teman Emma membungkam mulutnya agar tidak berteriak.

Julie menelan ludahnya. Bayangan tentang Cathy yang diperlakukan seperti itu membuatnya ngeri.

Ia ingat sekarang. Dulu saat ia memergoki Cathy menangis, gadis itu juga datang dari arah tempat yang sama. Ia tiba-tiba mengurungkan niatnya menemui Jerry. Ada hal lain yang lebih mengganggu pikirannya—lebih daripada apa pun. Firasat buruk dan naluri jurnalismenya menyuruhnya untuk segera mengunjungi lokasi penyiksaan itu sekarang.

Julie berlari secepat kilat menuruni tangga menuju tempat itu. Tidak ada yang pernah peduli pada bagian belakang bangunan tua bekas gudang. Tempat itu terlalu angker dan tidak menarik untuk dikunjungi. Semak-semak yang tumbuh liar dan tinggi di sekelilingnya membuat tempat itu tak terjamah oleh banyak orang, dan sudut mati yang sempit mungkin tak menarik perhatian tukang kebun sekalipun. Pantas saja Emma selama ini selalu dapat menutupi kejahatannya.

Setelah semakin dekat dengan bangunan tua itu, Julie mendengar bunyi tawa yang berdentum dari kejauhan, kelebat bayangan beberapa orang di sela-sela semak dari tempat yang ia tuju. Ia memperlambat langkahnya, lalu berjalan mengendap-endap untuk menyelinap.

Dugaannya benar. Gerombolan Emma sedang ada di sana, menyakiti seseorang lagi. Dengan napas yang ditahan, Julie merangkak mendekati tempat itu dengan sangat hati-hati, bersembunyi di balik pilar dan semak-semak tinggi dengan posisi setengah berjongkok. Ia mengamati kalau ada sepuluh orang senior kelas atas—Kelas Sebelas dan Dua Belas, berjaga berkeliling di sekitar area itu untuk memastikan tidak ada yang menyusup dan mengetahui aktivitas mereka. Di lingkaran tengah, Emma dan tiga sahabat utamanya berdiri melingkar menghadap tembok.

Ketika ia sudah sangat dekat, ia melihat sosok berambut coklat bergelombang yang sangat dikenalnya.

Cathy!

***

 BACA SELANJUTNYA >>

22 – Teman (3)

Comments 3 Standar

Setelah penampilan mereka berakhir, mereka menghabiskan sisa jam Kelas Musik itu dengan perasaan lebih cerah. Nick diam-diam merasa bangga pada dirinya sendiri, ia telah berhasil membuat Julie tertawa kembali. Gadis itu terlihat lebih riang sekarang, kekonyolannya yang dulu akhirnya sudah mulai kembali seperti semula.

Beberapa siswa tertawa lepas saat Mr.Kennedy mengatakan akan memberikan A+ pada kelompok Julie dan kawan-kawan, Julie malah meminta program subsidi silang untuk mendongkrak nilai Kelas Prancisnya. Mereka benar-benar menyukainya, seolah telah lupa dengan ketidaksukaan mereka pada gadis itu beberapa waktu yang lalu.

Nick yakin, Jessie dan Kayla pasti akan senang mendengar kabar ini.

Dengan optimisme yang sama, Nick memutuskan untuk mengajak Julie pergi ke Kalle Expo sore itu, setelah Kelas Musik berakhir. Ayahnya menyelenggarakan pameran patung selama beberapa hari terakhir ini, yang Nick pikir mungkin akan menyegarkan pikiran gadis-gadis itu setelah melewati minggu yang melelahkan.

“Tidak bisa, Nick,” tolak Julie. “Kau saja pergi dengan Jessie dan Kayla. Aku harus menemui Jerry.”

“Kau yakin?” tanya Nick. “Di antara semua gadis, justru kau-lah harusnya mendapat liburan, Julie. Melihat patung Michael Angelo tiruan atau seni patung tak berbentuk mungkin bisa membuat pikiranmu lebih rileks lagi. Ayolah. Jerry bisa menunggu.”

Julie menggeleng.

“Aku sudah berjanji,” kata Julie. “Kau tahu, Nick. Aku sudah memperburuk semuanya. Aku tidak ingin semakin memperburuknya lagi. Kalau ada kesempatan bagiku untuk mengembalikan semuanya lagi seperti semula, aku akan melakukannya demi itu.”

Nick mengkerut masam.

“Kau menyukai Jerry, ya?”

Julie menjawab cepat. “Jangan macam-macam.”

Nick mencibir. Ia memang tidak berkata apa-apa, tapi alis matanya yang tegak naik-turun jelas-jelas menunjukkan kalau ia meragukan pernyataan itu. Julie melotot.

“Tidak,” kata Julie, mempertegas jawabannya. “Aku tidak pernah menyukainya.”

“Memang kuharap tidak.”

Nick menyengir penuh arti. Tuhan tahu benar siapa yang ia harapkan untuk disukai Julie dan itu selalu diusahakannya diam-diam. Termasuk menyugesti dan mensabotase isi pikiran Jessie selama ini agar merestui hubungan dua orang itu—Richard dan Julie. Siapa pun harusnya tahu Richard tidak pernah cocok dengan Cathy.

“Baiklah kalau begitu. Good luck,” Nick menyemangati. “Aku tahu kau bisa melakukannya dengan baik, Julie. Semua akan baik-baik saja.”

Julie balas tersenyum. Tapi dalam sekejap senyuman itu langsung menghilang, digantikan oleh seringai jijik yang berfokus pada satu titik di wajah anak laki-laki itu. Seuntai bulu hidung Nick menjuntai dari lubang hidungnya yang besar.

“Errgh. Sinting.” Julie menggeram rendah.

Nick tertawa. Ia mengorek hidungnya tepat di depan gadis itu, dan menunjukkan salah satu bulu hidungnya. Gadis itu menendangnya dengan kesal. Nick mengaduh.

“Nick,” kata Julie ragu-ragu. “Hari ini kau tidak menemani—orang itu?”

Nick tersenyum.

“RICHARD?” kata Nick, langsung menyebutkan nama itu tanpa berbasa-basi. Julie menyengir terpaksa. Nick menggeleng pelan. “Tidak. Sore ini Richard mengunjungi pamannya. Lagipula, aku tidak mungkin bisa mengajak dia berjalan beriringan bersama kalian, kan?”

Gadis itu menyengir pahit.

Yeah.

“Julie, sebelum kau pergi,” kata Nick suatu ketika. Wajahnya terlihat lebih serius daripada biasanya. “Aku tahu Jessie sangat membenci Richard sekarang. Kayla juga. Cathy, Cassandra, Lucy—hmph, mungkin semua orang sekarang membencinya. Bahkan kau adalah yang paling punya alasan untuk marah padanya saat ini.”

Nick menatap lekat.

“Aku ingin kau tahu kalau Richard tidak seburuk itu. Dia orang yang baik, dia sedang melakukan sesuatu untuk kalian. Meskipun yaah, dia juga punya kekurangan dan kebodohan. Tapi–yaah, itulah. Dia manusia biasa, Julie. Aku harap kau mau memaafkannya.”

Julie menelan ludahnya dengan kaku. Sampai akhirnya ia membuka suara dengan pelan dan serak. “Yeah.”

Mereka akhirnya berpisah di ujung tangga, sementara Nick turun dan Julie naik ke lantai atas menuju ruang klub koran sekolah.

***

 BACA SELANJUTNYA >>