22 – Teman (2)

Comments 30 Standar

Nick bersedekap.

Julie belum datang juga. Padahal Mr.Kennedy sudah berada di ruang Kelas Musik hari ini–dan Nick yang hampa ini, tidak bisa membayangkan sehari pun dunianya di Kelas Musik tanpa kehadiran Julie.

Ia menyisir rambut hitam belah tengahnya dengan jari-jemarinya yang panjang.

“Jadi, hari ini kita akan membawakan parodi. Pilih anggota kelompokmu berisi 4-5 orang, pilih lagu kalian, dan hibur aku hari ini, anak-anak,” kata Mr.Kennedy dengan suaranya yang menyala.

“Parodi LAGI??” Respon beberapa siswa yang mengeluh panjang.

“Ya, PARODI LAGI,” tukas Mr.Kennedy dengan gaya dibuat-buat. “Apa Anda keberatan, Tuan-tuan dan Nyonya-Nyonya? Anda bisa melaporkan surat keberatan Anda pada guru Musik yang bertugas hari ini–yang mana aku yakin dia memiliki kewenangan tak terbatas untuk menentukan apa pun topik pelajaran yang dia mau, ini nomornya 03822211..”

Mr.Kennedy menepuk dahinya sendiri.

“.. Tunggu, tunggu dulu. Itu nomorku. Kenapa nomorku bisa ada di sana? Wah! Ternyata guru Musik itu aku! See?”

Dengan gayanya yang khas, kedua tangan Mr.Kennedy menari-nari dan melambai setiap kali ia berbicara, seperti kebiasaan seorang konduktor orkestra yang terbawa dari lahir.

“Di mana Julie?”

Mr.Kennedy mendelik ke arah Nick, kemudian menyapu pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Julie tidak ditemukan di mana pun.

Semua orang kini ikut-ikutan memandang ke arah Nick–seolah-olah dia pacarnya Julie atau semacamnya. Entah kenapa. Padahal gadis itu, melihat bulu hidungnya yang legendaris saja sudah menahan muntah.

“Aku juga menanyakan pertanyaan yang sama, Sir,” tukas Nick dengan napas pendek. “Kurasa dia terlambat lagi.”

Julie adalah murid kesayangan Mr.Kennedy sejak awal semester. Walaupun suaranya pas-pasan dan hampir selalu keluar tempo, tapi penampilan Julie selalu memukau guru Musik mereka, tak peduli betapa pun anehnya hal apa pun yang dinyanyikan oleh gadis itu.

Kalimat yang sepele yang diucapkan orang normal dengan normal pun, entah kenapa bisa terdengar luar biasa menggelikan jika Julie yang mengucapkannya.

“Ya sudahlah,” kata Mr.Kennedy, tampak kecewa.

Mr.Kennedy lalu bertepuk tangan dengan keras untuk memberikan isyarat pada seluruh siswa untuk memulai tugas mereka.

“Tiga puluh menit dari sekarang! Durasi pendek saja, tidak usah panjang, Gentlemen! Ingat apa yang aku ajarkan minggu lalu? Praktik! Kalo tidak ada elemen-elemen yang pernah kuajarkan, tidak ada nilai A, mengerti? Aku sangat baik hati hari ini, maka izinkanlah aku memberi nilai A untuk kalian semua. Please? Mulai!”

Dalam sekejap, kelas menjadi rusuh karena para siswa mulai mencari partner kelompok Musik mereka.

“Nick, apa kau akan sekelompok dengan Julie lagi jika dia datang?” tanya Clara suatu ketika. Nick mengangguk. Clara menarik garis bibir dengan masam.

“Ada masalah?” kata Nick.

Clara menggeleng.

“Tidak–hanya saja, kupikir sebaiknya kau mencari teman baru, Nick. Aku hanya kasihan dengan Jessie, kalau sampai ternyata antara kau dan Julie juga–” Clara tidak melanjutkan kata-katanya.

Nick tahu apa maksudnya. Pasti ini soal Richard dan Cathy.

“Jadi kau mau sekelompok Musik denganku atau tidak?” kata Nick tanpa menghiraukan pernyataan Clara tadi.

“Mau, tapi–”

“Kalau mau, aku ingin ada Julie di kelompokku. Aku tidak menerima negosiasi. Dan satu lagi. Julie, tidak seburuk yang Anda bayangkan, Nona.”

Nick meniru gaya santai yang dilakukan Mr.Kennedy tadi dan bersikap cuek seperti tidak terjadi apa-apa. Ia memanggil Rom dan Daniel, yang membalas lambaian tangannya dengan seringai lebar.

“Aku sudah dapat dua personel untuk kelompokku,” kata Nick pada Clara. “Nah, hanya tinggal satu kursi lagi yang tersisa. Kalau kau mau, ini kesempatan terakhirmu. Kalau tidak juga tidak apa-apa. Dengan Julie, kelompok kami pas berempat.”

Clara menggigit bibirnya. “Tapi Julie kan belum datang–”

Nick memotong cepat, memanggil dari kejauhan.

“Hey, Felton, kau mau ikut kelompokku?” Kata Nick sambil melambai. Clara menarik tangan anak laki-laki itu dengan wajah panik. “Oke, oke! Nick! Aku masuk.”

Dua menit kemudian, mereka sudah duduk melingkar di atas bangku yang mereka susun. Clara sudah menyiapkan kertas dan pulpen, menyerahkannya pada Nick.

“Kenapa kau menyerahkannya padaku?” tanya Nick.

“Karena kau ketua kelompok, Nick,” sambut Daniel dan Rom sambil tertawa. Clara tersenyum-senyum sendiri.

“Sejak kapan aku jadi ketua kelompok?” celetuk Nick.

Ketiga anak itu tak mendengarkan keluhannya, sehingga Nick terpaksa meraih kertas dan pulpen itu. Nick mendesah panjang. Panjang sekali. Selama beberapa puluh detik berikutnya, ia hanya menatap kertas itu dalam kesunyian. Dan ia mendesah sekali lagi. Ini bagian yang paling sulit.

“Rom, tolong beri aku ide.”

Rom menggaruk-garuk kepalanya, memberikan usulan agar kelompok mereka membawakan Metallica. Clara menolak mentah-mentah, sementara Daniel menyarankan untuk memparodikan Linkin Park. Clara semakin mengamuk, tapi Daniel bilang dia hanya mau memainkan melodinya saja, liriknya urusan Clara.

“Ha–ah, kalian ini menyedihkan,” keluh Nick sambil mengusap panjang wajahnya. Otaknya berputar-putar mencari ide, tapi untuk sebuah pertunjukan spektakuler yang biasanya ia mainkan, ia butuh satu personel lagi yang paling berbakat di antara mereka semua.

Sepertinya Nick tak perlu menunggu terlalu lama untuk frustasi, karena tak berapa lama kemudian, terdengar ketukan pelan dari pintu kelas mereka. Setelah gagang pintu ditarik ke bawah, sebuah kepala bulat berambut pirang panjang menjulur aneh di celah pintu.

“Siang,” kata Julie.

Nick mendongak gembira, seperti anak anjing yang menyambut pulang majikannya. Ia mengayunkan tangan kanannya dengan gerakan memutar, untuk menarik perhatian Julie ke arah tempat kelompok mereka duduk.

“Ms.Light. Masuk,” kata Mr.Kennedy. “Segera pilih kelompokmu. Ya, hari ini parodi lagi. Penampilan kesukaanku. Kau tentunya ingin bergabung dengan Mr.White, kan?”

Nick melihat sekeliling. Entah kenapa, tidak ada yang terlalu peduli akan kedatangan Julie. Julie tak terlalu mendapat banyak perhatian saat berada di Kelas Musik hari ini. Biasanya mereka selalu antusias setiap melihat Julie di dalam kelas, tapi sejak kejadian minggu lalu tampaknya hanya beberapa orang saja yang tertarik padanya.

Bahkan Rom dan Daniel pun tak seantusias biasanya.

“Hai Julie,” kata mereka datar.

Julie tersenyum hanya tipis saja.

Nick mengetahui dari Jessie kalau Julie sedang bersedih karena masalah yang menimpa mereka. Ia memikirkan sesuatu untuk membuat gadis itu bersemangat kembali.

“Jadi, Julie—” seringai Nick. “Lagu apa yang akan kita bawakan hari ini?”

“Entahlah,” kata Julie malas. “Terserah kau saja.”

Nick berpikir sejenak. Ada tiga orang lain di tim mereka—Daniel, Rom, dan Clara. Daniel dan Rom spesialis melodi dan perkusi. Clara penyanyi Sopran yang piawai, salah satu yang terbaik di klub Paduan Suara Nimber. Mereka adalah musisi yang handal di kelas, kombinasi yang paling menarik, namun ada lagi yang lebih menarik. Nick menoleh ke arah Julie dengan senyum terbuka.

Nick merasa ini adalah kesempatan emas untuk memulihkan kepercayaan orang-orang pada gadis yang sedang bersedih itu. Gadis itu pantas mendapatkannya.

“Buatkan aku sebuah lirik,” kata Nick kemudian. “Ini parodi lagi. Aku akan membuatkan komposisi musiknya. Seperti biasa.”

“Apa yang harus kutulis?” tanya Julie.

“Terserah,” kata Nick sambil bersenandung.

“Tentang apa?”

Nick mengangkat bahunya sambil tersenyum miring.

Julie menanyakan pertanyaan yang sama pada ketiga orang lainnya, tapi mereka tak terlalu bergairah menjawab. Clara bahkan tak henti-hentinya menengok ke arah kelompok lain.

Gadis itu akhirnya menghela napas.

“Baiklah, baiklah. Tapi jangan salahkan aku kalau aku menghancurkan mood kalian,” kata Julie dengan pasrah. “Kurasa aku sangat berbakat menghancurkan segalanya akhir-akhir ini.”

Ia mengambil secarik kertas dan menulis sembarangan.

“Sudah selesai,” kata Julie. Ia mendorong kertas itu dan pulpennya ke arah mereka.

Do You Wanna Build A Snowman. FROZEN.”

Nick mendengar judul lagu itu dengan antusias. Ia mengambil kertas yang tadi ditulisi Julie dan membacanya.

Ia tertawa keras-keras.

Ketiga orang lain memandangnya dengan penasaran, ingin tahu apa yang ditulis Julie di kertas itu. Daniel, Rom, dan Clara mengambil kertas itu dari tangan Nick dan membacanya.

Mereka tertawa meledak.

“Kau hebat, Julie.” Clara menyunggingkan senyumnya.

Nick sudah menduga ini akan terjadi. Tak peduli seberapa pun siswa-siswa Nimber kehilangan gairah mereka akan Julie, gadis itu pasti akan kembali menarik perhatian mereka dengan pesonanya.

Mereka membawakannya di depan kelas. Awalnya, tidak ada yang bereaksi saat tim mereka memperkenalkan diri. Tapi saat Nick memulai parodinya dengan petikan gitarnya yang profesional, mereka mulai tersihir.

Terutama saat Julie mulai membuka suaranya.

JULIE: [1]
Do you wanna eat potato?
Better than tomato
Potato chips is the best, in toaster it is fresh
tomato melts away

I’m so hungry I could die
I can’t think or sing
I’m dumb and I don’t know why 

Seisi kelas langsung riuh seperti petasan. Kata-kata yang diucapkan Julie begitu tidak masuk akal, hingga akhirnya ingatan akan penampilan-penampilan aneh Julie minggu-minggu sebelumnya segera meluncur cepat ke kepala mereka.

Nick berusaha mati-matian berkonsentrasi pada permainan gitarnya.

Do you wanna eat potato?
It’s really better than tomato..

okay, bye

Beberapa orang mulai menahan merah di muka mereka saat Julie mengakhiri nyanyiannya. Ekspresi Julie masih sama lugunya ketika menatap Clara dengan wajah polos.

“Itu bukan lagunya, Julie,” kata Clara sambil berakting. “Biar kuajarkan lagu yang sebenarnya.”

Nick, Rom, dan Daniel mulai berimprovisasi lagi.

CLARA:[2]
Do you wanna school in Nimber?
It’s the real song we have to sing
You will learn many things in this place, education is the best
Now get out of your nest

Come on let’s go in hurry
‘Cause I know you’re not
Or you could lose brighter sky..

Suara Clara terdengar merdu. Semua yang mendengarkan mereka sangat terpukau. Sampai akhirnya Julie menjawab percakapannya.

JULIE: [3]
Do you wanna eat potato? (no!)

It’s our lunch in Nimber’s cafetaria 
(not like that, Julie!)
Okay, bye 

Julie kemudian menyanyikan kelanjutannya sebagai pemeran utama menggantikan Clara, dengan suaranya yang pas-pasan dan tempo berlarian. Tidak ada yang peduli kecuali pada apa yang dinyanyikannya, ekspresinya dan gaya bicaranya.

JULIE: [4]

Alright, it’s about Nimber
Well, I don’t think so, I don’t know..
You’re right many things in this place, education is the best
With one cardiac arrest

M.Wandolf is scary
He asks me to French
His bald head will shine so bright..

Anak-anak tertawa lagi. Julie menghentikan lagunya sesaat dengan penuh penghayatan. Bahkan Mr.Kennedy tak kuasa membayangkan kilap di kepala guru Kelas Prancis itu, yang memang berkilau-kilau di ruang guru.

Tak lama kemudian, Julie dan Clara berduet, Clara mengisi suara dua. Nick menaikkan nada dasarnya, mempercepat tempo permainannya. Rom dan Daniel mengiringi dengan sangat cekatan.

JULIE & CLARA: [5]

Mr.Kennedy in Music Class
He never let you make a mess
He asks weird questions to you in flash, breaks your brain in a crash
He won’t care for the rest (never care for the rest)

Julie bernyanyi sendirian.

JULIE: [6]

If we can live in Hawaii
And release birds’ poo
We can have a better sky (WHAT?)

Clara menatap Julie sambil berkacak pinggang.

Wait, wait.. Julie
Birds’ p-poo? 

Julie menyengir.

JULIE & CLARA: [7]

Yeah.. It’s brilliant idea, right? A new invention, you like it? (NO!)
I like it (I DON’T)
What a better sky than a smelly jelly white and grey one? (EVERY NORMAL SKY, JULIE)
Or.. Maybe we can really make clouds from chicken’s poo. (DON’T DISTURB THE SONG)
Okay, I will change the song

Nick’s nose hair is overdue, and it is smelly, too
I wanna go away (JULIE!!)

Saat Julie membawakan bagian percakapan reff yang terakhir, seisi kelas kembali tertawa.

Gerakan kikuk Julie dan rasa jijiknya saat melihat bulu hidung Nick yang saat itu memang sedang berkibar-kibar membuat semua orang sakit perut kegelian. Mereka bertepuk tangan penuh semangat, teringat kembali pada lagu “Bulu Hidung Nick Bukanlah Kacang Panjang” yang pernah menjadi hits di Kelas Musik mereka beberapa bulan yang lalu.

Setelah beberapa bait selanjutnya yang semakin mengundang tawa, Julie melanjutkan lirik berikutnya, yang tidak ia tulis di kertas tadi. Tidak ada yang menyangka bahwa lagu itu masih berlanjut, bahkan Nick sendiri.

Gadis itu mengulangi lirik asli dari lagu tersebut, tanpa iringan musik, menyanyikannya dengan sangat pelan.

JULIE: [8]

Do you wanna build a snowman
Come on let’s go and play
I never see them anymore, come out the door
It’s like they’re gone away

We used to be best buddies
And now we’re not
What am I gonna do?

Seisi kelas terdiam. Mereka tahu benar, Julie sedang membicarakan siapa.

Nick tak bisa menggambarkan betapa sunyinya ruang kelas itu. Ia tak pernah melihat Julie seperti ini.

Tak lama kemudian, Julie tersenyum dan memberikan isyarat pada teman-teman sekelompoknya. Nick mengangguk. Mereka bernyanyi dan bermain musik lagi, seperti ending yang sudah mereka rencanakan tadi.

JULIE & CLARA: [9]

We make fun of our teachers
We’re gonna get absolute A plus 

Thank you, byee~

Kelas itu akhirnya bertepuk tangan sangat meriah.

Kepiawaian Nick, Daniel, dan Rom dalam bermain instrumen membuat penampilan kocak mereka menjadi semakin mengagumkan. Julie dan Clara berpegangan tangan lalu membungkuk dengan hormat, mengakhiri pertunjukan mereka dengan salam.

Pertunjukan mereka benar-benar disukai oleh semua orang.

“Kerja yang bagus, Julie!” kata Clara sambil mengajak high five setelah kelompok mereka selesai tampil. “Maafkan aku karena sikapku yang buruk padamu sebelumnya. Kuharap kita bisa tetap menjadi teman.”

Julie menyengir. “Memang kita teman, kan?”

“Sudah kuduga, kau akan melakukannya, Julie,” kata Nick. “Kau seorang natural. Kau membuat semua orang sakit perut tanpa perlu kau rencanakan. Itu sudah tercetak di cetakan darahmu.”

Julie menatapnya. “Berbakat badut sirkus, maksudmu?”

Nick terkikih.

 

***

[1]

Apa kau mau makan kentang?
Lebih enak daripada tomat
Kripik kentang itu enak, di pemanggang roti rasanya segar
Sementara tomat meleleh

Aku sangat lapar hampir mati
Tidak bisa berpikir atau bernyanyi
Aku bodoh dan aku tak tahu kenapa

[2]

Apa kau mau sekolah di Nimber?
Itu lagu yang seharusnya kita nyanyikan
Kau bisa belajar banyak hal di tempat ini, pendidikan di sini yang terbaik
Sekarang keluarlah dari sarangmu

Ayo cepat kita ke sana
Karena aku tahu kamu selalu terlambat
Kalau tidak kamu bisa kehilangan langit yang lebih cerah

[3]

Apa kau mau makan kentang? (tidak!)

Itu menu makan siang kita di kafetaria Nimber 
(bukan seperti itu liriknya, Julie!)
Oke, dagh

[4]

Baiklah, ini tentang Nimber
Well, kayaknya sih, aku tak tahulah..
Kau benar banyak hal di tempat ini, pendidikan yang terbaik
Dengan bonus serangan jantung

M.Wandolf mengerikan
Dia menyuruhku berbahasa Prancis
Kepala botaknya bersinar sangat terang..

[5]

Mr.Kennedy di Kelas Musik
Dia tidak bakal membiarkan kalian berbuat kekacauan
Dia suka bertanya pertanyaan aneh tiba-tiba, merusak otakmu dalam kecelakaan maut
Dia tidak peduli hal yang lainnya (tidak peduli hal yang lainnya)

[6]

Kalau kita bisa tinggal di Hawai
Dan melepaskan kotoran-kotoran burung di sana
Kita bisa punya langit yang lebih indah (APA?)

[7]

Yeah.. Itu ide brilian, kan? Penemuan terbaru, kau suka? (TIDAK!)
Aku suka (AKU TIDAK)
Langit apa yang lebih indah daripada langit putih abu-abu berbau kenyal-kenyal yang kuciptakan tadi? (LANGIT NORMAL, JULIE)
Atau.. Mungkin kita memang bisa bikin awan dari tai ayam. (JANGAN RUSAK LAGUNYA, JULIE)
Oke, aku akan mengganti lagunya

Bulu hidung Nick sangat panjang, dan bau juga

Aku ingin pergi menghindarinya (JULIE!!)

[8]

Apa kau ingin membuat boneka salju?
Ayo kita keluar dan bermain bersama
Aku tidak pernah melihat mereka lagi, keluar dari pintu itu
Rasanya seperti mereka menghilang dari hidupku

Kami dulu adalah sahabat terbaik
Dan sekarang tidak lagi
Apa yang harus kulakukan?

[9]

Kita membuat lelucon tentang guru-guru kita
Kita bakal mendapat nilai absolut A plus

Terima kasih, daagh~

***

 

 BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

22 – Teman

Comments 24 Standar

Julie menghabiskan makan siangnya dalam diam. Bahkan ketika Jessie mengajaknya bercanda soal rambut palsu Ms.Watson, ia hanya tersenyum sedikit.

Kayla merasakan perubahan yang kentara ini, tapi tak mampu berbuat banyak untuk mencerahkan perasaan Julie. Ia mengingatkan Julie untuk lebih sabar dan tenang–bahwa masalah ini akan segera berlalu, tapi gadis itu hanya termenung sambil memandang Cathy dan Cassandra dari kejauhan, bersama teman-teman baru mereka.

Dalam perjalanan menuju ke kelas, Julie akhirnya menceritakan tentang kejadian kemarin sore pada Jessie dan Kayla. Tentang pertemuannya dengan Richard.

“Kemarin aku menemui Richard,” kata Julie akhirnya.

Ini pertama kalinya ia berterusterang pada mereka terhadap peristiwa-peristiwa yang biasanya hanya ia rahasiakan.

Jessie dan Kayla terkejut, menghentikan langkah mereka.

“Apa?”

“Aku memintanya kembali pada Cathy, tapi dia menolak,” lanjutnya dengan suara parau. “Dia marah. Sangat marah. Dia meninggalkanku begitu saja. Kurasa aku semakin merusak semuanya.”

Julie terdiam, menghela napas.

“Kau meminta Richard kembali pada Cathy? Kenapa kau–” Jessie mengerang. “Argh! Kenapa kau sangat idiot?”

“Aku tahu,” Julie menunduk lemah. Ia tidak ingin mendebat Jessie lagi. Kali ini Jessie memang benar. Ia memang merasa sangat, sangat tolol.

Tak lama kemudian, ia juga menceritakan tentang Richard yang menemui beberapa gadis kelas dua belas selama beberapa hari terakhir. Dan soal pendapat Jerry tentang Richard.

“Aku juga melihatnya,” kata Kayla. “Aku tak tahu kenapa dia melakukan itu, tapi kurasa tindakanmu menemui Richard sudah benar, Julie. Aku sendiri tak pernah punya kesempatan mendekatinya. Dia selalu menghindariku. Sama seperti Cathy dan Cassandra.”

“Memang brengsek si Richard itu,” Jessie meradang. “Mentang-mentang dia tampan lalu seenaknya memperlakukanmu seperti ini. Dan–jangan sebut-sebut nama dua orang Ratu Drama itu lagi, Kay. Aku sudah sangat muak dengan kelakuan bodoh mereka.”

“Apa lagi yang kau bicarakan dengan Richard?”

“Tidak banyak,” kata Julie, memalingkan muka. “Hanya soal kenapa dia menyukaiku dan berbuat semua kebodohan ini. Sejujurnya, aku tak begitu mengerti apa yang ia ucapkan. Dia–” suaranya melemah, “Dia–sangat marah.”

Kayla menatap tajam.

“Apa kau menyukai Richard, Julie?”

Julie terdiam sejenak, lalu menggeleng. Gadis itu masih sama keras kepalanya seperti saat Kayla pertama kali mengenalnya.

“Julie.”

Julie menutup rahangnya rapat, seakan seluruh partikel tubuhnya berubah menjadi batu.

“Aku ingin kau mempercayai kami sebagai sahabatmu, Julie, bukan hanya sebagai teman bersenang-senang saja. Aku ingin kau jujur padaku.” Kayla menggenggam tangan Julie dengan erat.

Julie menggigit bibirnya. Satu-satunya yang masih belum bisa ia utarakan pada teman-temannya adalah soal perasaannya yang sebenarnya pada Richard. Ada satu bagian di ruang hatinya yang masih menolak kenyataan itu. Segala gejolak yang asing dan tidak wajar ini membuatnya merasa benar-benar tidak mengerti akan apa yang terjadi pada dirinya sendiri.

“Tidak,” kata Julie, menarik tangannya, menyangsikan kebenaran itu dengan wajah kaku.

Kayla mengangguk paham.

“Baiklah. Jika saatnya nanti kau sudah siap, katakanlah yang sejujurnya pada kami. Aku tidak akan memaksamu lagi. Aku tahu semua ini sangat baru untukmu, Julie. Semua kejadian ini. Tapi kita akan melaluinya bersama-sama. Kami akan selalu menemanimu.”

Kayla lalu menghiburnya dengan kata-kata yang menyenangkan, berusaha membuatnya merasa lebih baik dengan mata hitam Asianya yang menenangkan. Jessie akhirnya berhasil membuat Julie tertawa setelah menunjukkan jerawat gendut di balik poninya, mengingatkan Julie akan hari pertama mereka bersekolah di Nimberland. Mereka saling berangkulan lagi, tidak peduli betapa terlambatnya mereka masuk ke kelas siang itu.

Julie sangat jarang bersikap sentimentil, tapi kali itu ia menyatakan dengan haru bahwa ia merasa beruntung memiliki sahabat-sahabat yang sangat baik seperti mereka berdua. Percakapan mereka berakhir saat mereka berpencar memasuki kelas masing-masing.

***

 BACA SELANJUTNYA >>

21 – Keberanian (3)

Comments 29 Standar

1049204-royalty-free-rf-clip-art-illustration-of-a-valentine-cartoon-boy-crushing-over-a-school-girl

Hari keenam.

Julie sudah tidak tahan lagi. Ia selama ini tidak pernah menyimpan masalah terlalu lama. Apalagi yang berkaitan dengan sahabat-sahabatnya.

Masalah ini terus-menerus mengganggu pikirannya.

Sejak koran sekolah terbit kemarin, jumlah orang yang menanyainya semakin bertambah banyak. Mereka memburu Julie dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjepit, penasaran, seringkali memojokkan. Lebih dari itu, sebenarnya yang paling menyakitkan bagi Julie adalah tatapan kebencian sahabatnya yang menghantui pikirannya setiap kali mereka menanyakan soal Cathy. Ia benar-benar ingin semuanya kembali seperti semula, berbaikan lagi dengan sahabat-sahabatnya, namun sejauh ini belum ada tanda-tanda sedikit pun bahwa semuanya akan membaik. Dan di kafetaria siang ini, lagi-lagi mereka hanya duduk bertiga.

Jessie, Julie, dan Kayla.

Ini adalah mimpi buruk baginya.

Julie juga kehilangan kesibukan yang biasanya ia lakukan di klub koran sekolah. Sekarang ia hanya menghabiskan detik-detik yang hampa di setiap pergantian jam pelajaran kelas. Setelah ia bersitegang dengan Jerry karena masalah permintaan jadi narasumber berita yang telah ditolaknya mentah-mentah di ruangan klub koran sekolah dua hari yang lalu, Julie tidak pernah menghampiri ruangan itu lagi. Ia berpapasan dengan Jerry sesekali—dan beberapa anggota klub koran sekolah lainnya—hanya untuk tersenyum sesaat dan melewati mereka begitu saja. Ini seperti bukan dirinya sendiri. Semua yang terjadi dalam hidup Julie sekarang terasa ganjil dan terasa tidak menyenangkan.

Julie benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan.

Selama hidupnya, Julie selalu lebih terlatih untuk menghindari masalah, bukan untuk menghadapinya. Setiap kali ia memiliki masalah, ia memang selalu memilih untuk melupakan atau mengalihkan perhatiannya pada hal-hal lain yang lebih menyenangkan. Rasa cueknya telah menyelamatkannya dari begitu banyak hal, seperti halnya masalah kelas Prancis atau masalah lain yang selalu mengganggunya. Tapi kali ini, untuk pertama kali dalam hidupnya, Julie merasa tidak mampu melakukan hal itu lagi.

Hatinya terjebak dalam konflik pertemanan ini.

Kayla belum memberi petunjuk apa-apa, Jessie malah selalu mengamuk kalau mereka mulai membahasnya lagi. Nick sangat jarang ditemuinya. Apalagi Lucy—Julie sama sekali tak ingin merepotkan gadis itu di saat-saat pentingnya. 

Julie tidak berani menemui Cathy seorang diri. Gadis itu selalu membuang muka, berlari menghindar, atau justru menatapnya dengan sorot mata mengerikan yang membuat bulu kuduknya meremang. Sementara itu, Cassandra selalu menempel dengan Cathy, tidak pernah mengeluarkan sepatah kata pun tanpa kehadiran gadis itu di sampingnya. Dan yang semakin membuat semuanya menjadi sangat sulit adalah mereka berdua sekarang selalu berjalan bersama dengan Pinky Winky, tanpa sedetik pun memberikan Julie kesempatan untuk memiliki waktu yang cukup berbicara dengan mereka.
Julie harus berpikir keras. Ia lalu memikirkan orang itu—satu-satunya orang yang ingin ditemuinya namun juga sangat tidak ingin ditemuinya. Kemudian Julie menyadari masalah pertemanan ini lebih membebaninya daripada apa pun.

Ia telah memutuskan untuk menemui anak laki-laki itu.

RICHARD.

Julie melihat Richard di belakang sekolah. Anak laki-laki itu sedang menatap ponselnya sambil mengetikkan sesuatu, begitu asyiknya sampai-sampai anak laki-laki itu tidak menyadari saat Julie secara diam-diam berjalan mendekat ke arahnya. Julie menahan napas, membiarkan tubuhnya bergerak sendiri, menggunakan kesempatan untuk melakukan hal yang seharusnya sudah ia lakukan dari dulu. Entah kenapa, saat itu keberaniannya muncul secara tiba-tiba.

Ia ingin menyelesaikan ini sekarang.

“Richard,” kata Julie.

Anak laki-laki itu terkejut. Ia hampir saja menjatuhkan ponselnya, kalau saja ia tidak langsung menangkap ponsel itu dengan cepat. Anak laki-laki itu menatap Julie dengan mata birunya yang menggeletar terbuka, terbelalak.

“Julie,” suaranya terkesiap.

Mereka berdua terdiam selama beberapa detik, menyingkapkan keganjilan yang selama ini hanya mereka hindari. Julie mengontrol pernapasannya. Jantungnya membeku, namun segera mencair dan melunak saat melihat satu kedipan mata biru yang khas, yang telah lama tidak dilihatnya. Wajah itu selembut beledu, memancarkan kehangatan.

“Ke mana saja kau?” kata Julie dengan suara serak aneh, seperti orang yang baru saja kena batuk berdahak. Ia berdehem singkat untuk melancarkan suaranya yang mendadak parau, yang entah kenapa kali ini begitu sulit untuk dikeluarkan.

Julie mengumpulkan keberanian yang lain.

“Semua orang mencarimu.”

Richard terdiam mematung, menahan luka. Ia sudah berupaya sedemikian rupa untuk tidak melukai hatinya sendiri sekarang, tapi tampaknya hari ini ia terpaksa harus menghadapi sakit hati itu lagi. Ia segera menunduk, seperti tidak dapat bertahan menatap Julie lebih lama.

“Tidak kemana-mana,” kata Richard pelan. “Apa yang kau inginkan?”

Julie menelan ludahnya. Ini lebih sulit dari yang ia duga.

“Aku ingin kau kembali dengan Cathy.”

Julie tidak mengerti kenapa ia mengucapkan itu. Ia bahkan sebenarnya tidak tahu apa yang seharusnya ia bicarakan dengan Richard. Entah bagaimana caranya, ia hanya memikirkan kondisi di mana semuanya benar-benar kembali seperti semula. Ia tidak bisa memikirkan ide yang lebih pintar.

Richard mengerjap. “Tidak akan pernah terjadi.”

Julie menaikkan alisnya.

“Kenapa?” Julie menuntut.

Richard tertawa dengan suara rendah. “Kau sudah tahu jawabannya.”

Senyuman anak laki-laki itu memudar. Ia tak lagi menatap Julie. Rambut emasnya yang terpapar sinar matahari berkilau cemerlang, seperti mencoba menutupi bayang-bayang kesedihan yang berkelabat di balik wajahnya. Richard memutar tubuhnya dan berjalan menjauh.

Reaksi yang tiba-tiba itu membuat Julie terkejut.

“Tidak, Richard. Tunggu!”

Julie mengejar Richard yang semakin jauh, dengan gayanya yang kikuk, tapi sebenarnya anak laki-laki itu tidak pernah benar-benar berniat pergi. Richard akhirnya berhenti berjalan. Ia menarik napas panjang. Giginya terkatup rapat karena menahan emosinya.

“Kenapa, Julie?” gumam Richard tiba-tiba. “Kenapa kau melakukan ini padaku?”

Julie terperangah.

Richard menengadah, memperlihatkan kelopak matanya yang terbuka lebih lebar. Tidak ada yang bisa menjelaskan betapa ganjilnya pemandangan itu, selain rasa aneh yang mencekik di leher Julie. Siluet wajah itu sekarang terlihat begitu jelas, sama mengagumkannya seperti saat Julie pertama kali melihatnya.

“Bukankah aku sudah menyebutkannya waktu itu?” kata Richard.  “Aku menyukaimu. Aku tidak pernah menyukai Cathy,” kata Richard dengan suara lebih lantang. “Dan sangat bodoh jika aku kembali lagi padanya. Aku menyukaimu. Kau ingin aku mengucapkannya sekali lagi? Itukah yang kau inginkan?”

Julie menelan ludahnya. “Tidak.”

Sekali lagi, setelah percakapan itu, mereka berdua terdiam. Mereka hanya berpandang-pandangan, lebih sering saling membuang muka, menyembunyikan perasaan tertekan. Angin yang berhembus gemericik di rerumputan di sekitar mereka telah mengabarkan cuaca mendung yang akan segera datang. Angin yang lebih kencang meniup tubuh mereka lagi, seolah-olah mengetahui bagaimana cara mengisi kesunyian yang ganjil yang terjadi saat itu.

Richard menghela napas, menenangkan diri. Ia menyadari kembali betapa gadis ini benar-benar berbeda dari gadis lain yang pernah ditemuinya, betapa ganjil perasaan yang selalu Julie berikan padanya, dan betapa ia kesulitan mengontrol perasaan itu. Kali ini, ia tidak dapat menyimpan perasaannya lagi. Ia akan mengatakannya sekarang, tepat di depan gadis ini.

“Aku menyukaimu sejak lama, jauh sebelum kau memintaku untuk bertemu di kedai Steak~Stack waktu itu. Tapi aku tak pernah berani mengatakannya padamu,” kata Richard lirih. “Aku sangat menyukaimu.”

Jantung Julie berpacu cepat. Setiap kali Richard mengatakan bahwa ia menyukainya, kakinya bergetar. Pengakuan Richard minggu lalu terdengar seperti mimpi samar-samar, namun hari ini Richard mengulanginya lagi dengan begitu jelas, seolah-olah meyakinkan Julie bahwa semua ini terasa semakin nyata. Ini benar-benar terjadi.

“Lalu kenapa kau berpacaran dengan Cathy?”

Julie hampir tidak menyadari ia mengucapkan kalimat ini. Ia mengucapkannya begitu saja. Lehernya kaku dan tegang.

“Kenapa kau mendekati Cathy dan sekarang menyakiti hatinya? Kau berbuat kekacauan ini lalu menghilang begitu saja, Richard. Kenapa kau melakukan ini? Kenapa?” runtut Julie, mulutnya bergerak sendiri tanpa diperintahkan. “Kau menempatkanku di posisi yang sulit, kau tahu? Sahabat-sahabatku sekarang menghindariku. Mereka membenciku. The Lady Witches kini tercerai-berai. Itu semua karena ulahmu.”

Julie berusaha keras menahan panas yang akan membuncah dari dadanya. Ia akhirnya mengungkapkan perasaan kesal yang selama ini hanya ditahannya. Napasnya memburu, ia berbicara dengan nada suara asing yang biasanya tidak pernah ia lakukan.

Ia menuntut dengan nada mendesak. “Dan sekarang aku gantian bertanya padamu, Richard. Kenapa kau melakukan semua ini padaku?”

Richard hanya bergeming. Ia tidak senang mendengarnya, sudut-sudut mulutnya tertekuk ke bawah. Wajahnya membuang pandangan, mata birunya menghampiri Zinnia yang tumbuh liar tanpa disengaja di atas permukaan tanah. Ia belum siap menghadapi situasi seperti ini.

Ia tidak menjawab.

“Kenapa kau diam saja? Katakan sesuatu,” desis Julie kesal.

“Kau tidak mengerti, Julie—”

Richard menarik napas panjang. Rasanya sangat berat. Butuh waktu lama baginya untuk bisa menyampaikan perasaannya pada gadis itu. Jika bukan karena gadis itu yang memintanya hari ini, ia tidak akan pernah berani mengungkapkan jawaban ini. Ia tampak murung karena terikat dengan rasa bersalah yang terus menghantuinya.

Ia menatap Julie dengan tajam.

“Aku adalah pemain logika yang bisa diandalkan. Aku selalu menempatkan logikaku di atas segalanya. Namun ketika berurusan denganmu, aku kehilangan semua akalku. Tidakkah kau menyadarinya?” jelas Richard.

Secercah nada pedih terdengar pada getaran suaranya.

“Puisiku–” Richard menarik napasnya, “–puisiku adalah ungkapan hatiku yang ingin kusampaikan untukmu. Tapi kau tak mengerti. Kau malah merobek-robeknya seperti sampah. Tidakkah kau tahu betapa marahnya aku padamu? Semua tentangmu Julie, semuanya menyiksaku. Aku mencoba melupakanmu, tapi aku malah terjebak dalam kebodohan yang merusak semua akal sehatku. Aku tak dapat mengendalikan diriku sendiri, Julie. Kau adalah satu-satunya orang yang membuatku merasa sebodoh ini dalam hidupku.”

Richard sekarang memandang Julie dengan matanya yang biru.

“Dan di antara semua orang yang pernah kutemui dalam hidupku, kau adalah orang yang paling membingungkan. Aku tidak pernah bisa memahami jalan pikiranmu. Sekarang kau ingin tahu kenapa aku melakukan semua kebodohan ini?”

Richard tidak dapat menahan emosinya lagi.

“Itu karena aku adalah seorang pengecut,” kata Richard tegas. “Aku seorang pengecut yang bodoh. Pengecut yang jatuh cinta padamu.”

Julie merasakan gejolak hebat di perutnya.

“Kalau kau ingin berbicara denganku sekarang, setidaknya katakanlah sesuatu yang bisa membuatku merasa lebih tenang. Aku butuh berpikir lebih logis, namun aku tidak bisa melakukannya ketika aku bersamamu.”

Pernyataan ini mengguncang Julie, membuat gigi-giginya gemelutukan karena panik. Ia tidak bisa memberikan respon yang normal, bahkan terhadap perasaannya sendiri pada anak laki-laki itu. Saat ini hanya satu hal yang mampu dipikirkannya. Alasan pertama kenapa ia akhirnya memutuskan untuk menemui anak laki-laki itu.

“Kembalilah pada Cathy.”

Richard menatap kosong. Kekecewaan dan sakit hati menyaput garis-garis wajahnya yang sempurna. Ia mendesah, tertawa tanpa suara. “Sudah kuduga. Kau benar-benar mustahil.”

Ia akhirnya memutuskan untuk menyudahi percakapan ini. Entah kenapa, ia tidak pernah bisa mengerti, gadis itu selalu saja bersikap berbeda dari harapannya. Ini sudah berada di luar batas kesabarannya. Ia pergi meninggalkan Julie tanpa melihat ke belakang lagi, segera berlalu dalam keadaan marah dan terluka.

Sementara itu, Julie hanya termenung di tempat, menyadari kebodohan apa yang baru saja ia lakukan.

BACA SELANJUTNYA >>

21 – Keberanian (2)

Comments 24 Standar

smirking-girl-illustration-smiling-43576960

Cathy menghindari Jessie dan Julie di Kelas Sejarah Dunia tadi. Walaupun gadis itu sekarang hanya duduk sendirian—tanpa teman-teman barunya, tidak banyak yang bisa mereka lakukan untuk mengubah keadaan itu. Jessie sama sekali tidak berminat menanggapi gadis itu dan berpura-pura bersikap seolah-olah gadis itu tidak pernah ada. Sedangkan Julie–Julie sempat mendekati Cathy sebentar, hanya untuk mendapatkan tatapan mengerikan yang menciutkan nyalinya.

Ia mundur perlahan-lahan.

Dan siang ini, kafetaria kembali sepi. Hanya ada Jessie, Kayla, dan Julie di meja mereka. Bertiga saja, seperti hari-hari sebelumnya.

Julie melihat sekeliling. Pinky Winky belum datang, ia tidak bisa menemukan Cathy dan Cassandra di mana pun. Nick tak pernah duduk bergabung dengan mereka lagi, sejak Richard memutuskan untuk menghindar dari mereka. Richard pun tak pernah muncul di kafetaria, entah kenapa. Gosip-gosip masih terus bermunculan dan mengerubunginya, tapi Julie tidak mau ambil pusing soal itu. Menurutnya ada hal yang lebih penting untuk dipikirkan, sebuah penyelesaian, namun nasib tak memberinya petunjuk sama sekali apa yang harus ia lakukan. Kayla dan Jessie malah tidak mau membahas soal Cathy lagi, seolah-olah ingin melupakannya.

“Hari ini makanannya enak,” kata Kayla suatu ketika.

Julie tersenyum. Tidak ada yang spesial dengan menu hari ini, tapi koki baru di kafetaria Nimber sepertinya lebih tahu bagaimana caranya memanjakan lidah. Ia mengangguk. “Iya—”

Tiba-tiba segerombolan gadis kelas Dua Belas menghampiri meja di sebelah mereka. Rambut-rambut mereka tertata dengan sangat baik—dengan style potongan terbaru, aksesori pakaian berkualitas tinggi, disertai dandanan make-up minimalis yang terlihat sangat elegan, menarik perhatian. Wangi parfum mahal dengan segera semerbak menyengat hidung semua orang. Salah seorang dari gadis itu terlihat mencolok dibandingkan yang lain.

Emma Huygen!

Jessie, Julie, dan Kayla saling menatap dengan wajah tegang.

Dalam sekejap, suasana hening membosankan yang tadinya menemani makan siang mereka berubah menjadi sebentuk olahraga jantung yang tidak disangka-sangka. Perut Julie mengejang, bergejolak seperti letusan gunung Vesuvius, napasnya tercekat seperti dicekik zombie. Kedatangan grup Emma di sebelah meja mereka bukanlah hal yang biasanya terjadi. Bukan hanya karena Emma adalah seorang legenda–lebih dari itu. Mereka tidak pernah berurusan dengan Emma karena selama ini Cathy tidak pernah mau membahas mantan pacar Jake itu. Dan sekarang, gadis dominan itu justru duduk tepat di sebelah mereka.

Untuk pertama kalinya.

Julie menyeruput es tehnya dengan gaya kaku. Jessie memberikan kode-kode dengan bola matanya yang berputar ke kiri dan ke kanan. Kayla mengangguk tipis untuk memberikan tanda paham. Meski tidak berbicara satu sama lain, mereka bertiga mengetahui persis bahwa mereka sedang memanggil kembali ingatan mereka akan percakapan tentang Emma yang dulu pernah mereka lakukan secara diam-diam.

Percakapan terlarang tanpa sepengetahuan Cathy.

Kayla pernah bertemu Emma dulu saat ia berkunjung ke kelas Steve. Menurutnya, Emma  adalah seorang gadis yang sangat cerdas dan cantik. Penampilannya yang anggun dan berkelas secara eksplisit menunjukkan kualitas di dalam dirinya. Ia memiliki kharisma yang mampu menyihir orang-orang di sekelilingnya untuk mengaguminya. Untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan, dengan instingnya yang tajam, entah kenapa Kayla pun meyakini kalau Emma memiliki aura jahat yang tidak bersahabat.

Beberapa waktu yang lalu, Jessie pun pernah bertemu dengan Emma di Klub Renang. Saat itu Emma berada di sana hanya untuk berbicara dengan Mr.Howard, pelatih renang mereka yang menjadi guru olahraga di kelas Emma. Menurut Jessie, gadis itu terlihat baik, sopan, dan benar-benar menyenangkan. Siapa pun yang melihatnya akan merasa ingin menghormatinya. Kebaikan yang terpancar di wajahnya akan membuat siapa pun sangat sungkan untuk berpikiran buruk tentangnya.

Ini benar-benar penjelasan yang membingungkan. Tapi entah kenapa ini adalah penjelasan yang paling benar tentang seorang Emma. Dua wajah yang berbeda. Lucy membenarkan hal tersebut.

Lucy bertemu dengannya di awal-awal keikutsertaannya dengan tim akademis sekolah. Pada awalnya, Lucy melihat kesan yang baik dari kepribadian Emma Huygen. Emma adalah senior yang sangat pintar, menginspirasi, dan disukai para guru. Tapi suatu ketika, Lucy menyadari kalau Emma hanya bersikap baik pada orang yang diinginkannya. Hanya pada orang yang diinginkannya. Ketika tidak ada seorang guru pun yang melihatnya, Emma bisa berubah menjadi seorang penindas yang merendahkan siapa pun dengan cara yang tidak berkeprimanusiaan.

Emma dapat menekan murid-murid perempuan yang berperilaku tidak sesuai kemauannya, berkata jahat, dan membuat seseorang merasa benar-benar tidak berarti. Kesempurnaan telah memberinya ruang untuk bersikap sewenang-wenang pada orang-orang yang tidak disukainya. Sifat egoisnya, entah bagaimana mengingatkan mereka pada sifat Cathy. Namun Julie, Jessie, dan Kayla menyadari kalau ada satu perbedaan besar di antara mereka berdua.

Cathy hanya seorang egois pasif. Pasif. Itu saja. Dari dulu selalu begitu. Seburuk apa pun sikapnya, Cathy tidak pernah berani menghadapi seseorang  langsung, atau mengkonfrontasi secara  spontan. Ia hanya merajuk, menghindar, dan mengungkapkan ketidaksukaannya lewat ekspresi verbal yang tidak berbahaya.

Sebaliknya, Emma Huygen memiliki keegoisan yang agresif, dominan, dan mengancam. Seperti sebuah rahasia gelap yang tidak terucapkan. Dan aura mengerikan itu, sekarang tepat berada di sebelah mereka. Sensasi yang mengintimidasi ini, dengan ajaib membuat mereka segera kehilangan nafsu makan.

“Koran sekolah!”

Julie memutar kepalanya.

Seorang anak laki-laki dari klub koran sekolah membawa setumpuk koran sekolah. Ia menghampiri meja mereka, meletakkan koran sekolah itu di atas meja, sambil tersenyum pahit penuh simpati.

“Maafkan aku, Julie,” kata anak laki-laki itu. Ia menarik ujung bibirnya dengan masam.

Julie meraih koran itu dengan dada yang berdebar. Ia penasaran artikel seperti apa yang akan ditulis Jerry tentangnya. Ia sudah memastikan bahwa tidak ada satu pun dari Jessie, Kayla, Nick, atau Lucy yang mengatakan apa pun pada jurnalis koran sekolah–namun cepat atau lambat para wartawan itu pasti akan berusaha mengendus berita dari segala arah. Cathy dan Cassandra mungkin berkata sesuatu–atau mungkin tidak–tapi Julie sangat berharap semoga saja berita di koran sekolah hari ini tidak seburuk yang ia pikirkan.

Ada tiga artikel yang membahas kejadian minggu lalu. Jeremiah Hunt, Natalie Hortner, dan Claire McGuire–ketiganya mencoba membahas kejadian itu dari sudut pandang yang berbeda.

Artikel Jerry secara khusus membahas Richard. Ia dalam hal ini memposisikan Richard Soulwind sebagai seorang playboy kelas kakap yang gemar berburu wanita. Jerry menggarisbawahi peringatan pada para gadis agar lebih berhati-hati lagi dalam memilih pasangan. Dunia ini dipenuhi oleh tipu muslihat yang tidak terlihat, sehingga kita harus ekstra berhati-hati. Jangan terlalu gampang jatuh cinta dan terpedaya, karena yang orang yang kita cintai bisa jadi justru berbalik menjadi orang menyakiti kita. Contohnya saja Julie serta Cathy yang terkenal telah menjadi korban permainannya.

Isi artikel itu sama persis seperti yang Jerry ucapkan pada Julie minggu kemarin, dengan sentuhan sentimentil yang dramatis. Tak lupa, ia menambahkan akhir penutup artikelnya dengan khas Jerry yang penuh dengan nasehat-nasehat tentang pentingnya masa depan. Benar-benar khas Jerry.

Tulisan Natalie secara intensif membahas Cathy. Natalie memang tidak suka Cathy dari dulu. Lima belas paragraf panjang didedikasikan Natalie untuk menjelaskan bahwa Cathy Pierre adalah gadis egois manja yang tega meninggalkan sahabat-sahabatnya hanya karena seorang anak laki-laki. Kecantikan telah membuat Cathy menjadi gadis sombong yang lupa daratan, sehingga sangat wajar jika akhirnya karma Tuhan datang dan Richard memilih Julie yang berhati mulia dibandingkan dirinya. Ini lebih mirip artikel balas dendam ketimbang artikel yang bernada berita faktual.

Artikel dari Claire lebih fokus untuk mengisahkan Julie sebagai gadis jahat. Claire bercerita bahwa untuk mempertahankan julukan “The Unbeatable” yang terkenal, Julie Light telah berubah menjadi orang yang tega menusuk temannya dari belakang, merusak kisah cinta antara Cathy dan Richard. Julie selama ini hanya berpura-pura baik, bahkan bisa jadi berpura-pura bodoh, padahal ia sendiri merencanakan kejahatan jangka panjang itu hanya untuk menunjukkan betapa berharganya  dia di Nimberland.

Julie tersenyum. Ini jelas-jelas bukanlah presentasi berita ideal yang diinginkan oleh Jerry. Ini lebih mirip cerita gosip murahan dari opera sabun hari Minggu pagi yang sering ditonton Lily.

Artikel-artikel ini memang berlebihan, cenderung spekulatif, berlandaskan pada gosip–bukan tipikal Jerry sama sekali. Anak laki-laki itu pasti berharap bumbu-bumbu cerita yang lebih sensasional, tapi bisa jadi putus asa kekurangan bahan dan dikejar deadline.

Di akhir halaman, mereka membuat semacam gagasan polling baru untuk menentukan siapa pihak yang sebenarnya bersalah versi para pembaca.  Opini publik sementara minggu ini tidak ditampilkan, mungkin karena kurangnya bahan, kurangnya waktu, atau kurangnya sumber daya manusia–meskipun itu agak aneh.

Julie mendesah lega. Tidak seburuk yang ia pikirkan.

Walaupun ketiga tulisan itu cukup brutal, setidak-tidaknya ketiga artikel tersebut sama-sama memojokkan Julie, Cathy, dan Richard dengan kadar yang seimbang. Baginya itu yang paling penting. Dan Jerry cukup baik hati dan santai untuk membiarkan hal itu terjadi.

Julie menyerahkan koran sekolah itu pada Kayla dan Jessie yang dari tadi sudah sangat penasaran. Berbeda dengan reaksi Julie, Jessie justru mendumel saat melihat kata-kata buruk tentang Julie yang dituliskan oleh Claire di artikel itu. 

“Kudengar,” kata Emma tiba-tiba, mengagetkan semua orang dengan suaranya yang berwibawa. “Ada seorang gadis yang merasa dirinya sangat cantik, sehingga ia dapat menaklukkan semua laki-laki tampan di sekolah ini.”

Emma tersenyum miring, terlihat sangat percaya diri. Emma mengambil gelas jus jeruk yang ada di hadapannya, menyeruputnya dengan santai, seolah-olah sengaja ingin membuat semua orang memusatkan seluruh perhatian padanya.

Gadis itu melanjutkan pernyataannya dengan sarkasme pelan yang jahat.

“Dan ternyata dia keliru. Rupanya dia tidak secantik yang dia kira.”

Ketiga gadis itu langsung terdiam membisu. Kayla menatap Jessie, memberi kode dengan kedua matanya. Jessie menyenggol tangannya ke lengan Julie, yang juga menyadari sandi yang sedang dikirimkan oleh mereka berdua. Julie tidak bisa memberikan sinyal balasan, karena jantungnya sedang berlarian dan ototnya sangat kaku, tidak bisa digerakkan. Suara itu terdengar begitu menakutkan.

Emma mengelap bibirnya dengan anggun.

“Aku percaya, kesombongan dan keangkuhan akan dibalas secara langsung pada orang yang melakukannya, bahkan tanpa perlu aku turun tangan. Bukankah begitu, teman-teman?” kata Emma, masih berpura-pura sedang berbicara dengan teman-temannya. “Tidakkah aku selama ini sungguh berbaik hati karena kemurahanku? Atau perlukah aku MENGINJAK orang yang telah menusukku, di titik terendah orang tersebut? Itu akan jadi pembalasan yang sangat manis.”

Ia tersenyum jahat.

“Dan mungkin di sini ada seseorang yang setuju denganku. Tidak, tidak, tiga orang,” kata Emma. 

“Apakah aku benar, Ladies?”

Emma tiba-tiba memutar tubuhnya ke arah Julie, mengamati Julie dengan mata elangnya sambil tersenyum sinis.

Julie menatap kaku seperti robot. Sekujur otot dan tulangnya tegang, seperti disuntik air es yang sangat dingin, yang membekukan pernapasannya. Ia tidak bisa bergerak sama sekali.

Kayla menelan ludahnya. Sekarang Kayla bangkit dari kursi, mengajak Julie dan Jessie untuk ikut pergi meninggalkan meja itu. Julie terpaksa mengikuti tarikan tangan Kayla, padahal otot-otot tubuhnya masih menolak untuk bergerak dari tadi. Mereka pergi tergesa-gesa, Julie hampir saja tersandung.

Dari kejauhan terdengar suara tawa gerombolan Emma yang terdengar seperti jeritan gagak yang memekik di tengah malam.

“Mengerikan,” kata Jessie, saat mereka keluar dari kafetaria.

Julie baru bisa bernapas dengan normal karena dari tadi jantungnya berdegup sangat kencang dan pipa paru-parunya menyempit. Ia tak begitu mengerti apa yang Emma katakan tadi, tapi cara gadis itu mengucapkannya benar-benar membuat merinding.

“Aku hampir mati,” kata Julie.

“Dia membicarakan Cathy,” kata Kayla menjelaskan dengan wajah was-was. “Jelas, ia ingin melakukan sesuatu terhadap Cathy. Dan mengetahui bahwa kita juga sedang bermasalah dengan Cathy, ia sedang menawarkan diri pada kita untuk membalas dendam.”

“Balas dendam?” tanya Julie.

“Iya. Balas dendam,” kata Kayla. “Kurasa ada kaitannya dengan Jake Williams yang dulu direbut Cathy dari Emma.” Kayla menelan ludah, kerongkongannya terasa kering.

“Sekarang aku mengerti bahwa Emma sedang menyusun rencana,” kata Kayla. “Ia telah mengatakan bahwa ia sengaja menunggu momen pembalasan yang paling menyakitkan untuk Cathy. Momen ketika Cathy berada pada titih terbawahnya.” Kayla bergidik.

“Mengerikan. Gadis itu benar-benar mengerikan.” Julie merasakan bulu kuduknya meremang.

Jessie pada awalnya juga merasakan sensasi horor yang sama yang dirasakan teman-temannya. Namun tak lama kemudian ia mengubah raut mukanya.

“Biarkan saja,” kata Jessie.

Julie dan Kayla mengerutkan kening mereka. “Apa?”

Jessie sengaja berpura-pura menguap dan menjawab skeptis.

“Kalau ia memang ingin melakukan sesuatu pada Cathy, seharusnya ia lakukan itu dari dulu,” kata Jessie. “Aku tak peduli dengan rencana apa pun yang dia lakukan. Kalau dia memang ingin memberi pelajaran pada Cathy–kalian tahu kan–ITU SEHARUSNYA DARI DULU.”

Julie merengut tidak setuju. “Apa maksudmu?”

Jessie sambil memutar bolanya.

“Baiklah. Kalau sekarang juga tidak apa-apa. Aku bahkan bersedia membantu.”

Julie terlihat tidak senang.

“Jessie. Dia itu masih sahabat kita,” kata Julie dengan nada ketus. “Kenapa kau ini?”

“Benarkah?” tanya Jessie retoris. “Definisi yang menarik dari sahabat. Aku tidak peduli padanya sama sekali.”

“Kau tidak boleh begitu,” protes Julie.

Jessie mulai kesal. “Aku sedang membelamu, kau malah membelanya. Kau membuatku terlihat seperti orang jahat. Kau ingin menyalahkanku sekarang?”

Jessie mendelik dan memandang sengit. Julie mengerutkan alis dan wajahnya  mengeras.

“Hey. Sudah, sudah,” kata Kayla. “Sekarang tinggal kita bertiga, mengerti? Tidak ada gunanya kita bertengkar. Kalian tidak ingin kita bertiga akhirnya terpisah juga, kan? Kalian mau kita semua berhenti bersahabat?”

Jessie dan Julie menggeleng lemah.

“Tidak.”

“Maka kita harus lebih kokoh daripada sebelumnya. Jangan bertengkar lagi. Jika Lucy dan Nick sudah bisa bergabung dengan kita lagi, kita akan memecahkan masalah ini bersam-sama. Kita akan menemukan caranya. Kita akan membuat Cathy dan  Cassandra kembali.”

Julie menatap pesimis.

“Bagaimana jika Cathy dan Cassandra tidak ingin kembali?” tanya Julie.

“Bagus,” kata Jessie.

Kayla mendesah. “Jess.”

Jessie menghela napas panjang. Pembicaraan semacam ini selalu membuat perasaannya memburuk. Tak lama kemudian, ia berusaha untuk menampilkan wajah lebih cerah.

“Oke, oke. Kuakui mood-ku sangat jelek hari ini. Maafkan aku,” kata Jessie. “Bagaimana kalau kita menghampiri Lucy di perpustakaan saja? Barangkali ada yang bisa kita bantu. Setidaknya kita tidak perlu membicarakan hal yang menyebalkan ini lagi.”

Julie mengangguk setuju.

***

BACA SELANJUTNYA >>

21 – Keberanian

Comments 27 Standar

images (7)

Sudah empat hari berlalu sejak hari Kamis sore yang tragis itu, sejak Cathy menampar Julie dengan marah. Hari di mana Richard akhirnya mengakui rasa sukanya pada Julie. Dan tiga hari sejak Cathy dan Cassandra memutuskan untuk berpisah dari geng mereka. Tidak banyak yang berubah siang itu. Julie, Jessie, dan Kayla masih duduk bertiga saja di meja mereka. Nick tidak bisa ikut bergabung, Lucy masih sibuk dengan kompetisinya. Sementara itu Cathy dan Cassandra—mereka berdua memilih duduk di tempat yang sangat jauh di ujung sana.

Mereka tampak asyik dengan teman-teman baru mereka.

Semua orang di Nimber benar-benar sibuk membicarakan perpecahan yang terjadi di dalam internal geng The Lady Witches. Bahkan di kafetaria sekalipun, orang-orang dari meja di sebelah Jessie, Julie, dan Kayla menanyakan apa yang terjadi pada geng mereka. Kayla berusaha menjawab dengan jawaban yang baik, Jessie tidak peduli sama sekali, sedangkan Julie hanya diam saja.

Siapa pun tahu kalau ada yang tidak beres yang terjadi di antara mereka.

Orang-orang mulai membuat spekulasi-spekulasi yang memanaskan telinga, menciptakan gosip-gosip baru tentang hubungan segitiga antara Cathy, Julie, dan Richard. Topik itu adalah topik terpanas di Nimber saat ini. Cerita tentang Richard yang berselingkuh diam-diam, Julie yang mempermainkan perasaan sahabatnya, atau Cathy yang mendapat karma atas perbuatannya—gosip-gosip semacam itu berlalu-lalang seperti burung merpati. Beberapa orang membuat teori baru tentang siapa anak laki-laki berikutnya yang akan ditaklukkan oleh Julie, siapa yang akan jadi pelampiasan Cathy, dan bagaimana Richard akan menghadapi penggemarnya yang patah hati. Simpang siurnya kejelasan tentang gosip ini disebabkan karena tidak ada konfirmasi sama sekali baik dari pihak Julie, Cathy, maupun Richard. Mereka bertiga tidak tertarik untuk memberikan penjelasan apa-apa, bersikap dingin dan membungkam mulutnya, bahkan Cathy pun tampaknya tak bicara terlalu banyak pada geng barunya tentang perselisihan itu.

Julie akhirnya memutuskan untuk mengikuti permintaan Jerry untuk membantunya di klub koran sekolah. Sikap Jerry yang ditunjukkannya minggu lalu memang mengesalkan—dan biasanya selalu begitu. Tapi Julie menyadari kalau akan lebih bijaksana jika ia terlibat di dalam tim. Insiden puisi Richard yang dulu pernah terjadi tidak boleh sampai terulang lagi. Ia harus mengawasi apa pun yang ditulis Jerry nanti tentang ia dan teman-temannya di koran sekolah minggu ini.

Julie benar-benar lupa kalau keputusannya itu justru adalah sebuah kebodohan besar. Sekarang, ia justru harus lebih banyak menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang yang paling haus akan sumber berita.

Para jurnalis klub koran sekolah.

Di ruangan klub koran sekolah sore itu, gadis-gadis anggota klub yang biasanya jarang menampakkan diri akhirnya mulai memadati ruangan klub mereka. Tidak hanya dari kelas sepuluh, bahkan ada yang dari kelas sebelas, dan sesepuh kelas dua belas. Motivasi utama mereka hanya satu—mereka ingin tahu apa yang terjadi dengan Cathy, Richard, dan Julie. Mereka tak henti-hentinya menanyakan Julie pertanyaan-pertanyaan mengganggu yang membuat telinganya sangat kebas.

“Kenapa kau tega merebut Richard dari Cathy, Julie?” tanya seseorang.

Sebagian besar dari mereka adalah gadis-gadis yang tidak senang dengan kenyataan bahwa Richard menyukai Julie. Mereka lebih bisa menerima ketika Cathy berpacaran dengan Richard, karena gadis itu sangat cantik. Tapi Julie–bagi mereka  adalah pengecualian yang tidak masuk akal.

Pada awalnya, mereka memang memulai dengan pertanyaan yang cukup sopan. Pertanyaan-pertanyaan berikutnya lebih memojokkan, bahkan ada yang dengan terus terang menyatakan ketidaksukaannya.

“Apa yang kau lakukan sehingga Richard menyukaimu? Apakah kau memasang guna-guna atau semacamnya?”

“Aku tak tahu kalau ada yang bisa mengalahkan wajah cantik, yaitu kebodohan.”

“Kau tidak pantas dengan Richard,” kata seseorang yang lain.

Meskipun telah berusaha untuk tidak menghiraukannya, kata-kata itu sedikit banyak membuat Julie terluka. Ia tahu, mereka tidak pernah bermaksud jahat–hanya cemburu saja. Beberapa menyampaikan keberatan mereka dengan gaya setengah bercanda, beberapa sedikit lebih sinis, ada juga yang hanya diam saja, tapi jelas-jelas api kecemburuan yang menggelora telah membakar wajah mereka. Dalam hal ini, Julie sendiri tidak menyangkal tuduhan-tuduhan itu. Ia merasa layak untuk dipersalahkan. Ia memang tidak pantas untuk anak laki-laki sebaik Richard.

Julie hampir saja menyesali keputusannya untuk menghabiskan waktu di ruangan klub koran sekolah, kalau saja tidak ada Jerry yang kemudian datang dan memarahi gadis-gadis itu. Selama hampir setengah jam anak laki-laki itu mengomeli mereka semua, karena komitmen mereka yang sulit diandalkan.

Jerry memberikan kesempatan pada mereka untuk meliput berita itu dengan cara yang lebih elegan.

“Jika kalian ingin tahu lebih banyak tentang peristiwa menghebohkan itu, lakukanlah dengan cara terhormat. Sebagai seorang reporter profesional,” kata Jerry. “Aku tak butuh gosip berkepanjangan yang tidak tercetak di atas kertas.”

Mereka terdiam dan tidak terlalu bersemangat memberikan jawaban. Semua orang tahu bahwa Jerry adalah seorang perfeksionis, jadi para anggota yang biasanya jarang datang memilih untuk menghindar dari tanggung jawab tambahan.

“Tidak ada yang berani?” kata Jerry.

Natalie mengacungkan tangan, dengan syarat Julie bersedia menjadi narasumbernya. Julie mendelik dan mengurutkan kening. Ini bukan bagian dari kesepakatannya dengan Jerry waktu itu.

“Tidak akan,” kata Julie, menyatakan keberatannya. “Seperti perintahmu, Jerry. Aku ke sini untuk membantumu mengedit tulisan. Bukan untuk wawancara.”

“Ayolah,” kata Jerry. “Demi klub koran sekolah.”

Julie tetap bergeming.

Jerry memegang dagunya untuk memikirkan pancingan seperti apa yang akan membuat Julie berubah pikiran.

“Aku butuh sudut pandangmu, Julie. Tidak pernah ada yang tahu kebenarannya, kecuali kalau salah satu dari kalian bercerita,” kata Jerry.

“Kau bisa membela diri. Atau kau bisa menyalahkan seseorang. Bayangkan itu? Selama ini orang-orang hanya bisa menebak-nebak. Tidak tahu siapa yang jahat–kau, Cathy, atau Richard. Mungkin Richard yang jahat. Kau dan Cathy hanya korban permainannya.”

“Apa?” tanya Julie.

“Kita butuh peran di sini. Pencitraan,” kata Jerry. “Kau pasti tahu. Tulisan yang menarik butuh peran tokoh yang tertindas dan yang jahat. Kalau kau setuju menjadi narasumberku, kau bisa memilih tokoh jahat mana yang kau inginkan. Berhubung Cathy adalah sahabatmu, kurasa Richard-lah yang bisa kita persalahkan untuk perpecahan kalian berdua.”

“Tidak!” Julie mulai terlihat jengkel. “Tidak ada yang jahat. Kenapa kau ini?”

Perkataan Jerry barusan benar-benar keterlaluan. Julie mulai kehilangan kesabaran.

“Kalian boleh menulis apapun, tapi aku tidak akan pernah berkata hal-hal buruk tentang teman-temanku,” kata Julie dengan ketus.

“Aku butuh berita, Julie.”

Julie menggeleng tegas.

“Kau tidak akan mendapatkannya dariku. Paham?”

“Hanya sedikit saja, ayolah. Kau bahkan tidak perlu–”

“Tidak!” kata Julie tegas. “Tidak, tidak, tidak.”

Jerry tiba-tiba berubah ekspresi.

“Lalu kenapa kau di sini? Kau seorang reporter,” kata Jerry kesal, meninggikan suaranya. “Ingat?”

Julie naik pitam.

“Karena kau yang menyuruhku ke sini. Untuk MEREVISI.” Julie membalas kesal. “Ingat?”

Percekcokan mereka berdua begitu sengit, sehingga anggota-anggota klub koran sekolah lainnya hanya menonton dan membiarkan. Sadar sedang diperhatikan, Julie menahan emosinya dan mengalihkan pandangannya.

Julie keluar dari ruangan itu untuk menyegarkan kepala dan dadanya yang panas. Napasnya menderu cepat, seolah berkejar-kejaran. Baru kali ini ia merasa sangat marah, untuk hal yang benar-benar sepele. Biasanya ia dengan mudah tidak menghiraukan tingkah Jerry yang menjengkelkan, tapi entah kenapa hari ini ia tidak bisa menahan dirinya. Akhir-akhir ini, perasaannya memang jadi sangat sensitif.

Julie tahu, Jerry tidak pernah bermaksud untuk membuatnya marah. Ia hanya menjalankan tugasnya, seperti yang biasanya ia lakukan. Mungkin Julie merespon terlalu berlebihan.

Atau mungkin justru sebaliknya. Barangkali anak laki-laki itu memang sudah merencanakan itu selama ini. Julie sekarang mulai curiga, jangan-jangan tawaran membuat revisi itu sebenarnya hanya jebakan dari Jerry, untuk memaksanya masuk ke dalam perangkap ini. Sejak awal, Jerry memang ingin menjadikannya sebagai bahan berita untuk koran sekolahnya.

Julie merengut. Ini benar-benar membuat kesal.

Julie masuk kembali ke dalam ruangan itu, membuat semua orang menatapnya dengan kaku.

“Aku butuh libur,” kata Julie. “Aku tidak akan datang ke ruangan ini dalam beberapa hari ke depan. Lagipula, kau sudah tidak butuh aku lagi, kan?” Julie memandang sekeliling. “Pasukan reportermu sudah banyak sekali. Kau pasti sangat senang.”

“Kau yakin?” tukas Jerry dingin. “Aku akan menulis apa pun yang aku inginkan.”

“Terserah,” kata Julie.

Julie keluar dari ruangan itu sekali lagi, tanpa mempedulikan reaksi dari orang-orang. Ia ingin meninggalkan tempat itu sesegera mungkin, mendinginkan hatinya yang sedang panas. Saat berjalan menuruni tangga di lantai dua, Julie terhenyak. Seseorang yang bercahaya dari kejauhan menarik sudut matanya.

Ia melihat Richard.

Anak laki-laki itu sedang berbincang dengan seorang anak perempuan. Gadis berambut pirang yang berbeda. Julie tak mengenalnya. Dan entah kenapa, mereka terlihat sangat akrab.

Sekarang kepala Julie benar-benar pusing.

***

BACA SELANJUTNYA >>

20 – Renungan (4)

Comments 13 Standar

friends

Setelah menghabiskan waktu terlalu lama bersenang-senang, kelompok itu menghentikan obrolan mereka karena langit telah mulai menggelap. Mereka lalu berpamitan dengan Julie dan Mrs.Light, dan ketika mereka tiba di ujung pintu, Jessie memberikan kejutan untuk Mrs.Light. Sebatang coklat Cadbury Dairy Milk kesukaan Lily. Wanita itu girang bukan main. Tentu saja, coklat itu hanya sebatang. Julie tidak kebagian jatah sedikit pun.

Dua jam berikutnya, Julie tertangkap basah sedang mengendap-endap di ruang makan untuk menjemput makan malamnya secara diam-diam. Julie meloncat kaget saat melihat Lily menyempil di sela-sela sofa. Suara Lily mengagetkannya seperti hantu.

“Kenapa tidak makan di sini?” kata Lily sambil menikmati potongan coklatnya dengan santai. “Kau ingin makan di kamarmu lagi, huh?”

“Umm,” kata Julie.

Lily terkikih penuh arti. “Kenapa? Apa kau menyembunyikan sesuatu?”

Julie tidak tahu bagaimana cara Lily melakukan itu, tapi tebakan Lily memang benar. Itulah alasan kenapa ia sengaja tidak ingin bertatap muka dengan Lily hari ini. Insting wanita ini sangat tajam.

“Umm,” Julie berdengung lebih panjang.

“Kau tidak ingin aku membahas sesuatu, kan Julie? Apa itu ada hubungannya dengan Cathy? Karena aku memang baru saja akan menanyakannya.” Lily menjilat sisa coklat yang masih menempel di jarinya. Ia menjorok untuk mengambil tisu. “Oh. Apa itu berarti ada hubungannya dengan Richard juga?”

Julie menelan ludahnya. Tepat pada sasaran.

Lily adalah satu-satunya orang di dunia ini yang mengetahui seperti apa perasaan Julie yang sebenarnya pada Richard. Kalau saja bukan karena demam yang dialaminya beberapa waktu lalu, mungkin ia tidak pernah menceritakannya pada siapapun. Apa lagi Lily. Wanita itu akan selalu mem-bully-nya setiap ada kesempatan.

“Ummm, tidak,” kata Julie akhirnya.

Julie bisa saja menceritakan permasalahan yang sedang dialaminya sekarang pada Lily dan berharap semoga ibunya bisa menenangkan hatinya, seperti ibu-ibu normal pada umumnya. Tapi Lily bukanlah ibu yang senormal itu.

Lily tertawa.

“Tidak apa-apa. Aku tahu. Kurasa ada pasti hubungannya dengan Richard,” kata Lily dengan intonasi yang aneh. “Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan?”

Lily tidak bisa berhenti menggoda gadis itu–dengan dua kata yang sama yang selalu diulang-ulang yang membuat Julie hampir muntah. Julie segera mendaki tangga menuju kamarnya dengan kecepatan halilintar dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat.

“Sudah kuduga,” kata Julie. Ia menghela napas lega.

Julie membawa piringnya ke atas kasur dan menikmati makanannya pelan-pelan. Sisa makan siangnya tadi masih terasa sangat enak. Masakan Lily—dan kedatangan teman-temannya hari ini—adalah dua hal yang telah membuat mood-nya membaik. Lily selalu mampu menyenangkan hatinya dengan makanan-makanan enak, walaupun itu berarti ia harus bersiap-siap dengan kejutan gila yang kadang-kadang disisipkan Lily untuknya. Dan teman-temannya—adalah hal terbaik yang pernah dimilikinya dalam hidupnya. Julie tidak bisa mengharapkan apa pun lebih dari ini.

Julie telah menghabiskan makan malamnya. Ia meletakkan piringnya di atas meja belajar, sambil melihat ke arah jendela yang masih terbuka. Ia memandang lurus ke pemandangan luar, mengamati burung-burung gereja yang terbang rendah dari balik jendelanya yang masih terbuka. Sesaat kemudian, ia memutuskan untuk menyeret kursi meja belajar itu dan duduk di atasnya.

Ia terdiam selama beberapa menit.

Julie menghela napas, merasakan sesak di dadanya sendiri. Renungan ini membuatnya berpikir terlalu keras, menyeretnya ke dalam kesedihan yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya. Meskipun kedatangan teman-temannya tadi sangat menyenangkan, sesuatu yang sangat penting telah menghilang.

Tidak ada lagi Ratu Drama. Ia telah pergi.

Tidak ada lagi aksi menggebrak meja, mencakar muka, atau teriakan histeris seperti yang biasanya mereka lakukan. Atau gaya aktingnya yang menarik perhatian. Dan intonasi suara berlebih-lebihan yang selalu dimainkannya yang membuat mereka tertawa. Julie tersenyum lemah, mengingat betapa ia merindukan suara sahabatnya yang dramatis itu. Ciri khas yang biasanya selalu mewarnai setiap keriuhan dan menghidupkan suasana The Lady Witches selama ini.

Nick benar.

Tanpa Cathy, semuanya terasa berbeda.

 

BACA SELANJUTNYA >>

20 – Renungan (3)

Comments 5 Standar

stock-photo-broken-toy-25151990

Julie harus mengakui, kunjungan teman-temannya telah membuat perasaannya hari ini menjadi lebih baik. Walaupun Lily terus-menerus menceritakan aib yang membuat mukanya memerah seperti tomat, tapi memiliki teman-teman yang tertawa bersamanya sangat menyenangkan.

Atau lebih tepatnya, menertawakannya.

Setelah Lily pergi, mereka tidak lagi membicarakan Cathy, Cassandra, atau Richard. Percakapan dengan Lily membuat mereka menjadi tertarik untuk tahu lebih banyak tentang kehidupan Julie, Kayla, dan Jessie di Springbutter. Jessie mengatakan kalau ia telah mengenal Julie di kelas Tujuh, sejak semester pertama. Sementara itu, Kayla baru sekelas dengannya di kelas Delapan.

“Jadi,” kata Nick kemudian, “Julie benar-benar terkenal di sekolah lamanya, ya? Kenapa kalian tidak pernah membicarakan hal itu?”

Cerita Lily tadi tentang kehidupan Julie di Springbutter membuat Nick menjadi sangat penasaran. Kehidupan Julie, Kayla, dan Jessie di sekolah lama mereka memang tidak terlalu banyak dibicarakan.

“Tidak ada yang spesial—kenakalan standar,” kata Julie ringan. “Hanya beberapa kenakalan standar.”

“Kenakalan standar?” Jesssie tertawa. “Teman-teman, kalian tidak punya ide sama sekali betapa gilanya Julie dulu.”

Jessie memutar telunjuknya di dekat pelipis untuk menggambarkan kekonyolan yang pernah dilakukan Julie di masa lalu. Jessie baru menyadari betapa sedikitnya hal yang pernah diceritakannya pada Nick tentang masa lalu mereka.

“Lebih dari yang pernah kami ceritakan.”

“Maksudmu, ada lagi selain soal feromon dan Kelas Prancis?” tanya Lucy kemudian.

Jessie mengangguk.

“Banyak.”

“Salah satunya Hukuman Toilet—” Jessie sesak napas saat Julie langsung menyergap mulutnya, sambil berusaha sekuat tenaga melepaskan diri. “—dan—umph—” Jessie meronta-ronta. “Julie!”

Nick menggangguk.

“Aku pernah dengar tentang Hukuman Toilet,” kata Nick. “Soal Julie yang tidak bisa bahasa Prancis kan? Untuk menyelamatkan nilainya saat itu, Julie akhirnya dihukum membersihkan toilet sekolah selama setahun. Supaya bisa naik kelas. Benar, kan? Cerita itu cukup terkenal kok, kami sering mendengarnya setiap kali anak-anak laki-laki membahas Julie.”

“Kita juga sering membahasnya,” Lucy menambahkan.

Jessie tampak sangat senang saat Nick dan Lucy mengangkat kenangan yang sudah lama terkubur dari ingatannya itu.

“Dan jadi Selebriti Toilet,” lanjut Jessie. “Begini teman-teman. Ada beberapa insiden penting yang tampaknya lupa kami ceritakan tentang masa lalu Julie. Kita sering membahasnya secara garis besar, tapi mendetail?”

Jessie berdehem singkat.

“Berbagai hal konyol terjadi di toilet sekolah. Hal-hal yang pasti akan membekas dalam ingatannya.” Jessie terdiam sejenak. Keningnya berkerut sebentar, merenungkan apa yang baru saja diucapkannya. Tak lama kemudian, senyumnya melebar seperti baru saja mendapat pencerahan. “Ah! Aku mengerti sekarang! Pantas saja! Kalian tahu kan kalau Julie sangat bodoh? Aku selalu heran kenapa dia berubah jadi seperti ini. Dulu sebenarnya dia lebih bodoh lagi.”

Julie melemparinya bantal. Mereka tertawa.

“Kalian tahu? Julie telah memperkenalkan padaku kekonyolan dan keabsurdan yang paling absurd yang pernah ada di muka bumi ini.” Jessie bermain-main dengan bantalnya. “Sepertinya dia sudah dikutuk oleh takdir. Bodoh. Ceroboh. Sapi–”

Julie menarik kuncir rambutnya dengan gemas.

“Hanya saja kadar kecerobohannya sudah berkurang drastis sejak bersekolah di Nimber. Kalian harus tahu kalau Julie Light di Springbutter dulu jauh lebih parah daripada apa yang kalian lihat hari ini,” kata Jessie pada Nick dan Lucy. “Julie yang sekarang memang tolol. Julie yang dulu lebih tolol lagi. Seratus kali lipat. Kalian pikir memangnya kenapa aku memanggilnya Sapi?”

“Ceritakan padaku!” pinta Nick dengan sungguh-sungguh. Lucy pun tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

Jessie memulai bercerita tentang kecerobohan Julie yang hampir membakar lab Biologi saat percobaan memasak reagen fehling dengan kompor bunsen yang menyala. Seluruh penghuni Springbutter menjadi luar biasa heboh, kecelakaan itu menyalakan alarm kebakaran yang membuat siswa-siswa panik, dan sampai-sampai kepala sekolah Springbutter mengundang petugas pemadam kebakaran ke sekolah khusus untuk memarahinya.

Cerita berlanjut dengan pembalasan dendam Julie pada anak perempuan yang bernama Donita, karena anak perempuan itu mengadukan Julie pada Miss Hellen–guru Kelas Prancis yang sangat dibencinya. Kayla ikut menambahkan dengan beberapa detil yang terlewat oleh Jessie, salah satunya rencana Julie untuk mengelem kursinya. Adegan itu berakhir dengan insiden Julie tertangkap basah oleh guru Kelas Prancis mereka itu karena rambutnya tersangkut di resleting tas Donita, saat Julie mencoba menyelundupkan kodok ke dalam tas anak itu.

“Aku tidak pernah mendengar cerita itu,” tukas Lucy.

Nick tertawa.

“Kenapa kalian tidak menceritakannya dari dulu? Sepertinya masa muda kalian sangat menyenangkan.” Nick terlihat antusias. “Aku sangat ingin sekali bisa hidup dan bergabung di masa itu.”

Julie mendengus.

Yeah,” kata Julie datar. “Bisakah kalian menghentikan ini? Aku hanya berusaha untuk menjadi orang normal sekarang.”

“Itu benar,” kata Kayla sambil tertawa. “Kau sudah cukup berubah sejak di Nimber, Julie. Aku juga heran kenapa kau tidak pernah dihukum lagi seperti di Springbutter dulu. Padahal Hukuman Toilet menjadikanmu sangat terkenal. Kurasa mereka perlu tahu tentang rincian ceritanya.”

“Tidak, tidak,” pinta Julie panik. “Kayla.”

“Hukuman Toilet?” tanya Nick sambil menyeringai. Jessie mengedikkan kepalanya, tersenyum lebar.

“Kayla.”

“Ya. Termasuk Loncatan Tai yang diceritakan Mrs.Light tadi,” kata Kayla sambil terkikih. “Jadi, semuanya berawal saat Julie hendak membawakan—”

Ini yang paling Julie takutkan. Selama bersekolah di Nimber, ia sudah mengerahkan seluruh kemampuannya yang terbaik untuk mengalihkan perhatian semua orang supaya tidak ada lagi yang membahas masa lalunya yang satu itu. Sekarang, hanya dalam sebuah kunjungan singkat, semua aibnya yang disembunyikannya selama ini benar-benar akan terbongkar.

Dan semua ini gara-gara ibunya.

***

BACA SELANJUTNYA >>