[PEMESANAN] Novel Eternal Flame – Naya Corath

Leave a comment Standar

Halo semua! 😀

Pre-order untuk novel terbaruku sudah dibuka, ya. Pre-order sudah dibuka sejak seminggu yang lalu sampai tanggal 26 November 2015 (HARI INI TERAKHIR), kalian bisa memesan novel ini dengan harga diskon 10% dari harga toko buku.

Harga pre-order: Rp49.000 (excl. ongkos kirim)
Harga normal di toko buku: Rp54.800

Keuntungan lain PRE-ORDER:

  1. Buku dikirim ke alamat rumah, gak perlu keluar2 tenaga kalo kalian mager ke toko buku.
  2. Konsultasi langsung denganku, kalau mau sharing-sharing tentang proses di balik pembuatan buku sampai bisa diterbitkan (boleh ngobrol via PM)
  3. Boleh spesial request mau minta ditulisin sesuatu, atau digambarin sesuatu di buku 😀
  4. Tanda tangan penulis 😀
    Boleh request merchandise yang lainnya, hehe kalo kalian pinter ngerayu aku. Kadang-kadang suka kuselipin bonus kejutan. 😛
  5. Novel ETERNAL FLAME ini adalah novel kolaborasi 5 penulis Elex Media: Kristina Yovita, Dheean Rheaan, Nurisya Febrianti, dan Susi Lestari. Novel ini diterbitkan oleh penerbit Elex Media dan akan tersedia di seluruh toko buku di Gramedia, mulai tanggal 30 NOVEMBER 2015. (akhir bulan ini)

Novel ETERNAL FLAME menjadi pemenang outline novel terbaik pada acara “Berbagi Cerita Lewat Kata” yang diadakan oleh Elex Media pada Februari 2015 yang lalu. Ditulis bersama-sama dengan plot yang sama (bukan kumcer, tapi satu novel), berisi kisah perjalanan dan perjuangan cinta keenam insan muda yang dipertemukan oleh sebuah benang merah yang sama. Gaya menulisku juga cukup beda dibandingkan yang biasanya kutulis di Friday’s Spot. Di sini, aku menulis dengan style yang lebih romantis. Gimana isinya? Gimana jadinya hasil kolaborasi 5 kepala dengan gaya menulis yang saling berbeda ini? 😀

Eternal Flame fix

Sedikit Behind The Scene tentang pembuatan novel ini pernah kutulis di blogku:

https://nayacorath.com/…/behind-the-scene-novel-eternal-fla…/

Ke depannya, aku akan lebih banyak lagi sharing pada kalian, apa saja proses yang kulalui bersama dengan keempat teman-teman penulis yang lain saat mengerjakan novel ini. Mulai dari proses mengenal editor, brainstorming ide, kolaborasi yang penuh warna karena kelima penulis ini tinggal di lima kota yang berbeda, sampai akhirnya menjadi sebuah buku yang bisa dibaca oleh banyak orang.

Tapi sebelum itu, silakan pre-order novel ini yaa supaya kalian nanti bisa mengerti apa yang kuceritakan tentang kisah di balik penulisan buku ini dan proses penerbitan hingga di toko buku. Tenang aja.. Aku orangnya gak pelit ilmu kok.. Hehehe..

Yang mau pesan, boleh komen langsung, atau hubungi aku melalui e-mail nayacorath@gmail.com. Oh ya, penawaran pre-order ini hanya dibuka sampai tanggal 26 November 2015. ( HARI INI TERAKHIR ) Setelah tanggal 26 November, penawaran ini aku tutup.

Terima kasih… ^_^

‪#‎EternalFlame ‬‪#‎OpenPO‬‪ #‎Launching30November‬‪ #‎ClosePO26November‬‪ #‎Novel ‬‪#‎Elex‬

 

PS: Jika kalian terlambat baca pesan ini (lewat dari masa pre-order), coba hubungi aku langsung ya. Biasanya aku suka punya stok berlebih.

Iklan

CATATAN DARI PENULIS (80)

Comments 209 Standar

Halo teman-teman! 😀

Part terakhir dari novel blog seri : FRIDAY’S SPOT – JULIE LIGHT DAN KELAS PRANCIS !

Bab Selamanya – Part 3

…..akhirnya bisa dibaca. 😀

Ngomong-ngomong, aku berubah pikiran. Seri Friday’s Spot tadinya mau kuhentikan dari blog ini. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, aku masih ingin menulis cerita Julie dan Richard di sini. Mulai tahun depan, setiap update Friday’s Spot yang baru, aku akan menulis cerita lepas tentang Julie, Richard, dan kawan-kawan di sini. (Setelah Julie Light dan Kelas Prancis)

Ditunggu ya! 😉

 

BACA DARI AWAL (DAFTAR ISI)

 

 

UPDATE TERBARU >>

Novel ETERNAL FLAME sudah terbit di Gramedia! Yang mau pesan novel Eternal Flame bertandatangan Naya Corath, hubungi aku melalui e-mail nayacorath@gmail.com. 😀

20151201_195606[1]

20151129_150305[1]

Eternal Flame fix

 

UPDATE TERBARU >>

Aku membagikan e-book gratis untuk teman-teman pembaca blogku, silakan klik di postingan “Bagi-bagi E-Book Motivasi #NayaQuote GRATIS!”

11751468_1618653588375757_4799274557439409812_n

 

>> UPDATE TERBARU >>

Video #NayaTalk pertama-ku, tentang perubahan format novel blog Naya Corath.

 

23 – Pengakuan (2)

Comments 37 Standar

Cathy menunggu di depan pintu ruang operasi. Matanya memerah dan membengkak. Beberapa siswa yang menemani mengantar Julie ke rumah sakit duduk di deretan kursi yang lain, tak berani mengganggunya. Gadis itu terus-menerus menangis saat mereka baru tiba di rumah sakit. Tapi sekarang dia hanya duduk diam saja, menunduk.

Lily Light pun telah tiba sejak sepuluh menit sebelumnya. Ia duduk di kursi yang berada tak jauh dari Cathy. Wanita itu duduk gelisah sambil meneteskan air mata, dan dihibur oleh siswa-siswa yang lain.

Nick, Kayla, Jessie, dan Lucy datang. Mereka berlari dengan panik, seperti orang yang kebakaran jenggot, dan segera menghampiri Lily. Wanita itu menyambut mereka dengan raut wajah sangat sedih.

“Kayla,” kata Lily sambil merangkul Kayla yang menyambar pelukannya dengan cepat.

“Apa yang terjadi, Mrs.Light?” tanya Kayla kemudian.

“Teman-teman kalian bilang, Julie telah menolong Ms.Pierre dari kecelakaan di sekolah,” kata Lily. Wanita itu menghela napas. Ia mencoba tersenyum, tapi ia tidak bisa menahan air mata yang tumpah di pipi kirinya. “Julie mendorongnya agar tidak tertabrak mobil, namun ia justru menjadi korban. Niatnya baik–anak itu,” Lily tertawa pahit. “Tapi selalu saja ceroboh. Aku yakin dia tersandung kakinya sendiri saat melakukan itu.”

Jessie melihat Cathy di ujung sana. Ia melotot marah. “KAU!” Ia berlari dan menyambar gadis itu dengan wajah sangat murka. Suasana berubah menjadi sangat kacau saat Jessie menarik kerah baju Cathy dengan kasar. Cathy yang tadinya dalam posisi duduk, sekarang terseret berdiri oleh tangan Jessie, yang sudah tidak peduli lagi pada kondisi tubuh gadis itu.

Cathy terkejut. Ia terjatuh.

“Apa yang kau lakukan pada Julie! Kurang ajar!” bentak Jessie, berusaha mengangkat tubuh Cathy dan memukulnya. Kayla tercengang, langsung bertindak melepaskan tangan kiri Jessie yang sudah setengah jalan hampir membuat kancing baju Cathy putus. Cathy terpekik.

“Jessie!” teriak Kayla.

Semua orang di sana tampak kaget dengan insiden itu. Nick dan beberapa siswa lain yang baru menyadari apa yang terjadi segera membantu Kayla menangkap Jessie. Jessie sempat memukul Cathy beberapa kali, sebelum akhirnya mereka berhasil memisahkan kedua orang itu, tapi Jessie berteriak tidak puas penuh sumpah serapah.

“Tidak tahu malu! Teman macam apa kau, IBLIS??! Bisa-bisanya Julie mau bersahabat dengan orang jahat seperti kau, Cathy! Gadis jahat!! GADIS JAHAT!!”

Cathy segera duduk kembali, menunduk, dan menangis. Ia menutup mukanya sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun dari mereka bisa melihat wajahnya, namun telapak tangannya itu tidak bisa menyembunyikan suara tangis kencangnya yang memilukan. Rasa sakit di wajahnya setelah ditampar Jessie barusan, tidak lebih sakit daripada rasa sakit di hatinya setelah mendengar kata-kata Jessie.

“IBLIS!!” runtut Jessie sekali lagi. “Mau sampai kapan kau menyakiti Julie?? SAMPAI JULIE MATI?? HAH??? BELUM PUAS KALAU JULIE BELUM MATI??? AKU BENCI KAU SETENGAH MATI!!!! PERGILAH KE NERAKA!!”

Lucy bergidik ngeri.

“JESSIE! TENANG!” Kayla mendengking. “Kau tidak malu apa? Di sini ada Mrs.Light. Kau bisa membuatnya tambah sedih. Diamlah!”

Jessie meringis dan menggeram tanpa henti. Dadanya naik-turun karena napasnya sangat pendek, menahan air mata kekesalan yang tidak henti-hentinya diuji oleh degupan jantungnya. “Si Sapi bodoh itu.. Julie bodoh.. Bodoh…”

“Tenanglah, Jessie,” kata Kayla dengan suara lebih lembut. Ia mengusap punggung Jessie dan menggenggam tangannya dengan erat. “Tenanglah. Dinginkan kepalamu.”

Walaupun tampak lebih tenang daripada Jessie, Kayla pun sedang susah payah mengendalikan dirinya sendiri. Julie adalah sahabat terbaiknya sejak bertahun-tahun lamanya, dan kekecewaannya terhadap Cathy sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Untuk kali ini, ia tidak tertarik untuk bersikap lebih ramah terhadap Cathy. Ia juga marah.

“Nick,” kata Kayla pada Nick. Nick mengangguk. Ia memeluk Jessie dan berusaha menenangkan gadis itu dengan kata-kata lembut.

“Hey, sudahlah, Dolphin,” kata Nick sambil mengusap kepala Jessie.

Cassandra datang tak lama kemudian. Sungguh pemandangan yang aneh, saat Jessie dan Kayla berdiri tepat di seberang Cathy dengan wajah tidak bersahabat, Lucy berdiri pucat dalam posisi serba salah, Nick berusaha menenangkan Jessie namun tidak seorang pun yang melakukan hal yang sama terhadap Cathy. Gadis itu dibiarkan sendirian, entah karena kebencian terhadapnya, atau karena takut padanya.

Beberapa siswa yang tadi ikut membantu memisahkan Jessie sudah bergerak mundur, memberikan ruang pada mereka untuk menenangkan diri. Lily Light pun hanya menyaksikan pemandangan itu dengan berdiam saja–dari gelagat Julie yang aneh akhir-akhir ini, ia sudah yakin kalau Julie dan teman-temannya pasti sedang bermasalah. Kejadian hari ini membuktikan dugaannya benar.

Cassandra terlihat bingung. Ia berjalan dengan ragu-ragu ke arah Lily, Jessie, Nick, Lucy, dan Kayla, namun langsung mengurungkan niatnya mendekati mereka saat mata Jessie berkilat kejam menghakiminya. Ia pun bergerak mendekati Cathy.

“Cathy,” kata Cassandra ragu-ragu. Alisnya berkerut resah.

Cathy tidak menjawab. Suara tangisan Cathy mengecil, namun ia masih menutup mukanya dan menunduk di atas kursinya. Cassandra memanggil Cathy sekali lagi, menyentuh pundaknya. Gadis itu dengan cepat membuang tangan Cassandra dari bahunya dan menutup mukanya kembali.

Jessie masih memandang Cathy dan Cassandra dengan tatapan kebencian yang dipeliharanya sampai ubun-ubun. Ia benar-benar benci kedua gadis itu. Julie adalah satu-satunya alasan yang menyatukan mereka semua. Dan tanpa Julie, tidak ada lagi yang bisa membuatnya mentoleransi kehadiran mereka di dalam hidupnya. Ia benar-benar muak.

“Kenapa ada mereka di sini? Mereka bukan sahabat Julie, mereka orang asing,” kata Jessie dingin.

Cassandra mematung.

Lucy tak dapat menahan rasa ibanya pada mereka. Ia menatap Cassandra dengan lemah, sebagai satu-satunya orang yang mau bersimpati terhadap Cassandra sekarang, Lucy memberikan sedikit gerakan tangannya yang melambai untuk mengajak Cassandra mendekat, sambil mengangguk tipis–takut ketahuan Jessie dan Kayla. Ia tak dapat menjelaskan betapa sedih dan bimbangnya wajah Cassandra saat itu. Gadis itu seperti sebentar lagi akan menangis. Sementara itu, Cathy masih menutup mukanya.

Jessie mengepalkan tangannya dengan geram. Kalau saja mereka tidak melerainya, dia tadi sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menghajar Cathy sampai babak belur. Dia sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan gadis memuakkan itu. Dan Cassandra yang munafik. Mereka berdua adalah yang terburuk di antara yang terburuk, yang pernah ada di dunia ini.

“JANGAN PERNAH BERPIKIR AKU AKAN MENGIZINKAN KALIAN MENDEKATI JULIE LAGI. AKU TAK AKAN SEGAN-SEGAN MENAMP-,” kata Jessie.

Seorang perawat keluar dari ruangan operasi, membuat suara Jessie terhenti. Semua orang yang berada di sana langsung menghamburkan perhatian mereka pada perawat itu.

Perawat itu mengerutkan keningnya dan berkata dengan wajah kecut. “Saya minta kalian tenang. Kami membutuhkan ketenangan untuk operasi. Kalau Anda semua ingin membuat kegaduhan, harap lakukan di luar gedung rumah sakit. Mengerti? Terima kasih.” Perawat itu masuk kembali.

“Sudah kubilang, kan,” kata Kayla pada Jessie. Jessie cemberut.

Mereka berempat kembali menghampiri Lily dan berniat menghiburnya. Mereka sebenarnya sudah cukup tenang, sampai suatu ketika, salah seorang di antara siswa Nimber yang lain, Molly Alto, berinisiatif menceritakan lebih detail kejadian tadi dengan nada provokatif. “Sebelum kecelakaan, Cathy dan Julie bertengkar hebat. Mereka saling berteriak, berkejar-kejaran, Julie bahkan sampai menangis di depan Cathy. Mereka membicarakan Richard tanpa henti. Dan–ada luka bakar di tangan Julie tadi, sebesar ini,” Molly menunjukkan pergelangan tangannya.

“Apa?” Mereka terperanjat.

“Tunggu dulu, Julie menangis? Bagaimana mungkin?” kata Jessie meloncat kaget. Molly mengangguk mantap. Jessie terperangah, tidak dapat sedikit pun merasionalisasikan hal itu. Setahunya, Julie tidak pernah menangis seumur hidupnya. Jessie menggelegak lagi. Ia melempar pandangan bengis ke arah Cathy. “Ini keterlaluan.”

“Jess,” Kayla menahan tangan Jessie supaya anak itu tidak pergi ke mana-mana. Jessie mengamuk kesal.

“Dan–luka bakar?” tanya Lucy.

Molly mengangguk. “Sebesar telur. Lukanya benar-benar baru. Aku tak tahu apa yang dilakukan Cathy terhadap Julie sebelum kejadian tadi, tapi kurasa Cathy membakar tangan Julie demi membalas dendam karena Julie telah merebut Richard. Dia memang jahat–”

“Molly, Molly.. Ini bukan waktu yang tepat,” sanggah Kayla secepat kilat. “Kumohon jangan memperburuk keadaan. Mrs.Light, maafkan aku, karena kurasa ini tindakan yang paling tepat dilakukan. Aku juga ingin tahu lebih banyak, tapi saat ini kita semua berada pada situasi emosi yang tidak baik. Aku sendiri tidak tahu bagaimana reaksiku nanti.” Kayla menghela napas. “Untuk saat ini sebaiknya kita tidak membicarakan ini, setidaknya sampai Julie sadarkan diri. Maafkan aku, Mrs. Light. Hanya saja, Jessie.. dia–”

Lily mengangguk sambil tersenyum. “Aku mengerti.”

Permintaan barusan membuat mereka akhirnya memutuskan untuk hening cukup lama. Mereka hanya menunggu dalam rasa was-was yang tidak dapat mereka kendalikan. Tiga puluh lima menit berlalu namun lampu emergensi di rungan operasi itu masih tetap menyala. Belum ada kabar.

Gadis-gadis tersebut mencoba menguatkan Lily. Entah bagaimana caranya, kehadiran mereka telah membuat nuansa optimisme akan kesembuhan Julie meningkat tajam. Lily pun sudah cukup tegar dan tidak menangis lagi. Ia tersenyum lebar saat Kayla berkata bahwa semua akan baik-baik saja.

Kayla sekarang memperhatikan sekelilingnya. Beberapa siswa yang tadi datang sudah meminta izin pada Lily untuk pulang sebentar–sebagian dari mereka berjanji akan kembali lagi. Nick masih menghibur Jessie yang sudah mulai reda, beberapa kali mencoba bercanda, tapi hanya berhasil membuat Jessie mencubitnya, karena lawakannya yang tidak lucu. Lucy terus-menerus melihat ke seberang mereka, tempat Cathy dan Cassandra berada.

Posisi mereka tidak berubah sama sekali.

Cassandra masih berdiri di sana, bahkan meskipun banyak kursi kosong di tempat itu. Ia melihat ke arah mereka dengan bibir yang bergetar. Dan saat mata Kayla dan Cassandra bertemu, Cassandra meneteskan air mata.

Lucy sudah tidak bisa lagi melihat situasi seperti ini. Ia menoleh ke arah Kayla, memohon persetujuan. Kayla diam sebentar. Dalam pikiran singkat dan kejernihan otak yang pulih, ia mengangguk.

Lucy terkejut menerima jawaban yang tidak diduga-duga itu. Tanpa berlama-lama lagi ia langsung berbalik dan membuka tangannya untuk mengajak Cassandra ke arah mereka. Cassandra juga tak kalah terkejutnya. Ia segera berlari secepat kilat menyambut pelukan Lucy. Mereka berpelukan erat sekali.

“Apa yang kalian lakukan??” omel Jessie.

Cassandra menangis sesegukan dalam pelukan Lucy. Lucy tak kuasa terhanyut dalam situasi itu, menangis juga.

“Maafkan aku, maafkan aku–” Suara Cassandra tidak begitu jelas terdengar, namun jelas menyayat hati.

“Aku sangat rindu pada kalian.”

Jessie menyaksikan kejadian itu sambil mendengus skeptis. Matanya menyipit curiga. Dikatupkannya rahangnya rapat-rapat, seolah tidak ingin merasakan apa pun yang bisa mengubah pendiriannya.

Bibirnya mengerucut panjang saat Lucy menyelipkan jari-jemarinya di antara rambut keriting Cassandra. Pemandangan mengingatkannya pada kejadian di Ava Shopping Avenue, saat dia dan Julie berebutan jepit rambut yang dipakai Cassandra, sampai rambut Cassandra rontok sebagian di tangan Julie dan mereka tertawa. Bayangan kebersamaan mereka di masa lalu benar-benar membuat hatinya sakit.

Jessie terdiam, lalu melihat ke arah Kayla. Kayla balas menatapnya. Mereka berpandang-pandangan cukup lama, seolah-olah dapat membaca pikiran satu sama lain.

Setelah gerakan isyarat itu, ia menjauh dari Nick dan kini bergerak memeluk Lucy dan Cassandra tanpa antisipasi dari mereka.

“Kau tahu, Cassandra. Ini kulakukan untuk Julie,” kata Jessie tanpa basa-basi lagi. Ia memeluk kedua sahabatnya itu dengan sama eratnya. Ia dan Kayla telah sepakat ingin mengakhiri pertikaian ini.

Maka suara tangisan itu semakin kencang.

Kayla, yang tidak bergabung dengan mereka, menoleh ke arah Cathy. Gadis itu masih menutup mukanya, namun tubuhnya terhentak beberapa kali. Kayla pun bangkit menemui gadis itu. Ia memilih duduk di sebelah Cathy. Dengan kebijaksanaannya yang telah kembali, ia pun memeluk punggung sahabatnya yang menelungkup itu.

Tubuh Cathy berguncang hebat.

“Kayla.” Suara serak itu muncul juga, saat ia merasakan dekapan hangat Kayla. Nadanya benar-benar sedih memilukan hati. Kehadiran Kayla di sisinya saat ini jelas-jelas mempengaruhi emosionalnya.

“Seharusnya aku saja yang mati.”

Cathy akhirnya mengangkat wajahnya. Wajahnya sudah benar-benar bengkak dan merah, air mata membanjiri pipinya. Ia menatap Kayla lekat-lekat. “Dia menolongku dari Emma, Kay. Julie menyelamatkanku.”

Kayla terdiam. Sejujurnya mereka tidak pernah melihat Cathy seperti ini. Gadis itu terlihat begitu lemah dan rapuh. Image yang sangat berbeda dari Cathy yang dulu pernah dikenalnya, seperti orang yang berbeda. Sepanjang pertemanan mereka, Cathy selalu terlihat paling kuat, tak pernah sedikitpun memperlihatkan kesedihan atau masalahnya pada teman-temannya. Dan kini, gadis itu memperlihatkan sisi gelap yang selalu disembunyikannya selama ini dari mereka.

Kayla memilih untuk mendengarkan dengan seksama.

“Sepanjang hidupku, tak ada orang benar-benar yang menyayangi aku. Tak pernah ada, Kay. Mereka membuangku. Tidak ada orang yang melakukan apa yang Julie lakukan untukku,” kata Cathy terisak-isak. “Dan aku malah menyia-nyiakannya. Aku tadi menginginkannya mati! KENAPA?? KENAPA AKU JAHAT! AKU TAK INGIN JULIE MATI.”

“Teman macam apa aku ini? Aku egois. Aku jahat. Jessie benar, aku memang tak pantas jadi sahabatnya. Aku selalu jahat dan iri padanya. Dan sekarang, dia malah mengorbankan nyawanya untukku. Apa lagi yang kuinginkan darinya? Apa lagi yang harus kurebut dari Julie? Kenapa aku seperti ini!”

“Aku—” Cathy meneteskan air matanya. “—memang jahat. Kalian benar. Aku sangat jahat dan egois. Seharusnya memang aku saja yang mati. Seharusnya aku.”

“Jangan berkata seperti itu,” kata Jessie tiba-tiba. Dia, Lucy, dan Cassandra kini sudah berada di hadapannya. “Kalau kau mati, aku juga pasti menangisi kepergianmu. Aku tak mau menangis untukmu, karena aku benci kau, Cath, jadi jangan sampai kau membuatku menangis karena merindukanmu.”

Cathy menatap Jessie dengan air mata menggenang. “Jessie.”

“Tenang saja, aku tidak akan memukulmu lagi. Aku juga tidak akan minta maaf, karena kau memang pantas mendapatkannya. Aku sudah ingin melakukannya dari dulu,” tukas Jessie datar. “Julie adalah sahabatku. Dia adalah orang yang paling baik yang pernah kukenal, dia selalu mendahulukan teman-temannya lebih daripada apa pun. Itu adalah kelemahan sekaligus kelebihannya. Dan aku sangat benci jika kau memperlakukan Julie dengan buruk, sementara Si Bodoh itu terus-menerus ingin bersahabat denganmu. Aku tak suka kau memanfaatkan kebaikan hatinya untuk memuaskan egoismemu. Iya, kau egois. Manja. Memuakkan. Hanya memikirkan dirimu sendiri.”

“Iya, kau benar,” kata Cathy lemah. Sudut mulutnya tertekuk ke bawah. “Selama ini aku memang egois. Aku minta maaf.”

“Berjanjilah kau tidak akan menyakiti Julie lagi. Berjanjilah sebanyak yang kau bisa, baru aku akan memaafkanmu,” kata Jessie, menandaskan ketegasan.

Cathy mengangguk pelan dan berbicara dengan suara isakan yang tertahan. “Aku berjanji tidak akan pernah melakukannya. Aku berjanji tidak akan pernah menyakitinya lagi, sampai kapan pun. Aku berjanji akan menjaga perasaannya seperti menjaga perasaanku sendiri. Aku berjanji akan memperlakukannya seperti saudara kandungku sendiri. Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan kebaikannya lagi. Aku berjanji–”

“Itu sudah cukup, Cath,” kata Kayla.

Cathy mulai menyeka air matanya. Rambutnya yang semrawut tidak dipedulikannya sama sekali. Kayla tersenyum.

“Rambutmu,” kata Kayla. “Kalau Julie lihat, dia pasti akan mengomentarinya. Apa yang biasanya diucapkannya, ya?”

“Rambut singa,” jawab Lucy dan Cassandra berbarengan.

“KEMOCENG BULU NAGA,” kata Jessie. “Kemarin anak bodoh itu mengucapkan kata-kata aneh itu saat menertawai rambut palsu Ms.Watson.”

Mereka tertawa meledak.

“Kuharap Julie baik-baik saja,” kata Cassandra. Lucy dan Kayla mengangguk. Jessie menjawab dengan keyakinan penuh.

“Jangan khawatir. Si Bodoh itu tahan banting. Dia tidak akan kenapa-napa.”

Cathy hanya tersenyum saja. Kesedihan masih terpancar jelas di matanya. Kayla memperhatikan itu dan mencoba menghiburnya.

“Aku tahu, kalau Julie ada di sini, dia pasti juga ingin memelukmu, Cath,” kata Kayla kemudian. “Atas nama Julie-peluklah kami, Cath. Kau harus tahu kalau kami selalu menyayangimu.”

Mereka berlima sekarang saling berpelukan.

Nick, yang sedari tadi hanya bisa menjadi pengamat yang baik, tersenyum lega saat melihat kelompok yang disukainya ini akhirnya berbaikan kembali. Kejadian yang menimpa Julie memang benar-benar tragis, tapi pada akhirnya gadis itulah yang menyatukan mereka. Sejak dulu sampai sekarang, gadis itu dengan pesona anehnya selalu dapat memukaunya dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.

Nick baru ingat, ponselnya bergetar terus dari tadi. Sebelum ia sempat menelepon balik orang yang menghubunginya tanpa henti itu, ternyata orang itu sudah tiba di sana. Orang itu segera menarik perhatian sekelilingnya dalam sekejap, meskipun dengan napas yang terengah-engah dan wajah pucat yang sangat khawatir.

Seorang anak laki-laki berkulit pualam, kini memandangi Nick dengan mata birunya yang khas.

***

BACA SELANJUTNYA >>

[BLOGTOUR] Buku “19 Jurus Mabuk Penulis Sukstres” + GIVEAWAY (Hadiah Buku Gratis untuk Kalian)

Comments 33 Standar

Hai semua.

Jangan lupa, ikuti kuis yang kuadakan di sini, cukup dengan balas comment dan jawab pertanyaan saja.

Kalian bisa dapat buku ini GRATIS. Ya GRATIS! (BATAS WAKTU SAMPAI: 3 NOVEMBER)

Aku suka yang gratis-gratis!

Ini pertama kalinya aku mengikuti sebuah BLOGTOUR, so don’t be too hard on me yah..?. Ulasanku mungkin tidak akan terlalu bagus, juga tidak sejago teman-teman lain yang sudah sering mengadakan BLOGTOUR di blog mereka, but I’m doing my best. Hal yang tidak bisa kucegah adalah kecenderunganku untuk menulis sesuatu dengan gaya seekspresif mungkin, tapi akan kucoba untuk mengurangi intensitas kelebayannya.

*insya Allah yah..* *nutup muka* xD

11254312_10153306539732872_2035989503207588699_n

Keinginanku yang terbesar sejak membuat blog ini adalah berbagi dengan banyak orang, dan itulah yang akan kulakukan sekarang. Apapun yang akan kubahas, aku ingin memberikan manfaat sebanyak mungkin untuk kalian semua. Dan tentu saja, ini ulasan jujur! 😀

So, let us begin!

 

KESAN PERTAMA

Judul                          : 19 Jurus Mabuk Penulis Sukstres
Penulis                       : Mayoko Aiko, Ceko Spy, dkk.
Editor                         : Monica Anggen dan Eva Sri Rahayu
Penerbit                     : Universal Nikko
Tahun Terbit             : Cetakan I, Agustus 2015
Jumlah Halaman      : 285
ISBN                           :  978-602-9458-21-3

Saat launching buku ini diumumkan di internet, ya ampun.. aku suka banget sama covernya! SUKA B.A.N.G.E.T. Kalau aku ada di lautan buku baru dan disuruh beli salah satu, aku pasti akan langsung tunjuk, “INI! INI! Buku ini harus ada di koleksiku!! Nggak peduli gimana caranya!!”

12165894_10153306539517872_1786737221_n

Ya. Kalau ditanya apa hal yang paling kusuka dari buku ini, jawabannya adalah COVERNYA! Bahkan sejujurnya aku nggak pasang ekspektasi apa-apa terhadap isi buku ini (bagus atau jelek kualitas isinya tidak berpengaruh apa-apa terhadapku)….. yang aku inginkan hanyalah ingin punya buku ini.

Kenapa?

Entah kenapa… Aneh memang. Gambar di cover buku ini begitu menyugesti otakku, seolah-olah aku akan siap bertempur jadi PENULIS MABUK YANG SUPER COOL DAN KEREN ABIS, dan judul bukunya pun tidak kalah menyihir MOOD SIAPAPUN menjadi super bersemangat.

Dan setelah buku itu sampai di tanganku, ternyata benar, kan..? Haha. Perwujudan buku ini saja sudah bikin aku sangat semangat! Ini rasanya seperti mimpi jadi kenyataan!

20151028_083130 (Copy)

Sampai sekarang, kapan pun aku merasa ingin menaikkan mood menulisku (yang selalu empot-empotan itu haha), aku langsung ambil buku ini dari rak dan mengagumi keindahan cover bukunya. Aku akan memperkosa gambarnya yang begitu menggugah itu dengan mata kepalaku sendiri, dan menyentuh permukaan covernya yang sempurna dengan jari-jemariku. Tak lama kemudian, aku akan memainkan lembaran-lembaran halaman bukunya untuk menghirup aroma buku itu, yang membuatku mabuk kepayang.

Aaahh. Seperti di surga.

 

KESAN SETELAH BACA

Berangkat dari zero expetation (berhubung yang bikin aku tergila-gila adalah cover dan judul bukunya), aku cukup puas dengan isi buku ini.

Maksudku, dengan 19 penulis yang memiliki latar belakang berbeda (dan kualitas tulisan berbeda), kita tidak mungkin berharap selera menulis yang sama kan? Kalau aku ingat lagi, sensasi membaca buku ini rasanya sama seperti sensasi saat menggali tanah di sebuah pulau terpencil bekas peninggalan kaum perompak. Deg-degan. Sabar. Penasaran. Antusias. Kecewa. Puas. Penasaran lagi. Kecewa lagi. Senang lagi. Puas. Penasaran. Sabar. Begitu terus berulang-ulang.

Kadang-kadang, aku tidak mendapat apa-apa yang kusukai, hanya rasa lelah setelah membaca.. Tapi hei, justru ketika aku tidak menduga-duganya, J.A.C.K.P.O.T. Sekopku menabrak sebuah peti emas berisi harta karun yang nilainya luar biasa.

Aku kebetulan seorang penulis yang menyukai gaya komedi. Ulasan Ceko Spy tentang “Jurus Rahasia Menulis Komedi” benar-benar helpful untukku. Aku suka gaya menulisnya yang kocak dan penjelasan yang to the point.

Penasaran?

Ini aku kasih bocorannya.

BAGAIMANA CARA MENGAKTIFKAN OTAK SARAP: (di buku isinya lebih detail dan dilengkapi banyak contoh)

  1. JURUS 1 – Kata-kata lucu
    Yang jago bikin pantun pasti terbiasa bikin kata-kata yang bermain dengan rima dan irama. Tapi ingat, yang bikin lucu bukan hanya rimanya, melainkan rangkaian kata atau kalimatnya!
    Contoh:
    Norma adalah seorang sekretaris narsis, lumayan manis, tapi kadang sinis, mungkin cita-citanya emang pengin jadi penulis, tapi malah jadi penulis.
    Meski tak wajib, tapi bagi saya main plesetan hukumnya sunat muakad.
    Contoh:
    “Sedia payung sebelum hujan” jadi “Sedia dayung sebelum banjir”; atau “Ringan sama dijinjing berat sama dipikul” jadi “Ringan sama dijinjing berat sama difficult!”
    Singkat-singkatan mungkin humor tingkat dasar. Tapi cukup ampuh untuk membuat pembaca tersenyum atau tertawa.
    Contoh:
    CURANMOR = Lucu romantis humoris
    PENJAHAT = Penulis pujaan hati
  2. JURUS 2 – Tokoh lucu
    Saya mengklasifikasi ada tiga kategori tokoh yang sering dipakai dalam cerita-cerita komedi.
    Buatlah:
    – Tokoh usil (misalnya seperti Lupus)
    – Tokoh polos (misalnya seperti Spongebob)
    – Tokoh lebay (misalnya seperti Jim Carrey)
  3. JURUS 3 – Cerita lucu
    Ada pembahasan tentang contoh ending yang mengejutkan…
    Ada pembahasan tentang contoh permainan kata atau kalimat jenius…
    Ada pembahasan tentang contoh konflik yang unik…
    Ada pembahasan tentang contoh perilaku absurd/abnormal…

Contoh tulisan lain yang kusukai adalah tulisan milik Pilo Poly yang membahas tentang “Jurus Memilih Tulisan.” Benar-benar to the point dan praktis langsung tepat sasaran. Tips seperti ini sering ditanyakan di kalangan teman-teman sesama penulis.

Berikut ini cuplikan tulisannya (baru cuplikan doang lho..).

JURUS MEMILIH JUDUL TULISAN: (di buku isinya lebih detail dan dilengkapi banyak contoh)

  1. Pilih judul yang punya unsur provokatif.
    Contoh:
    Negeri Para Bedebah
    Harimau! Harimau!
  2. Judul yang menimbulkan tanda tanya besar ketika kita lihat di rak buku.
    Contoh:
    Jangan Main-main dengan Kelaminmu
    Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur
    Kaya Tanpa Bekerja
  3. Judul buku sensasional, yang membuat kita ingin memilikinya, terlepas seperti apa bukunya.
    Contoh:
    Supernova
    Surat Kecil untuk Tuhan
    Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur
  4. Judul yang memiliki nilai-nilai tersembunyi.
    Contoh:
    Jakarta Undercover
    Libri di Luca
    Orang-orang Proyek
  5. Judul pemberi solusi.
    Contoh:
    Bagaimana Memikat Gadis dan Berkencan Efektif
    Resep Cespeng Berwirausaha
    Agar Menjual Bisa Gampang

Tidak hanya dua tulisan itu saja kok.. Dari 19 penulis buku “19 Jurus Mabuk Penulis Sukstres” ini, banyak juga tulisan lain yang menarik perhatianku. Dan tips-tips lain yang lumayan bermanfaat on the spot, meskipun gaya tulisannya sulit kucerna (karena beda selera tulisan).

Tentu saja.. nggak bakal kutulis semuanya di sini dong, karena kalo kutulis semua nanti isi blognya kepanjangaaan kayak kereta api…….. Beli dan baca sendiri yah hehehe…

*atau kalau kalian mau yang gratis, langsung comment di blogku sesuai petunjuk di bagian paling bawah, supaya kalian bisa menang kuis GIVEAWAY*

 

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

Hal yang paling kusukai dari buku ini adalah cover. Sudah tahu kan? Hehe. Di samping itu, layout isi dalam buku yang dirancang sangat full ilustrasi latar bisa menjadi pisau bermata dua. Ketika dilakukan dengan baik, sangat menggugah minat baca. Ketika terlalu berlebihan dan gagal mempertimbangkan kontras dengan font tulisan, bisa membuat mata lelah dan malas membaca. Kondisi seperti ini tersebar merata di sepanjang halaman.

Aku sangat suka layout yang seperti ini. Sangat suka.

20151028_083223 (Copy)

On contrary, ada juga halaman-halaman yang gambar latarnya terlalu berlebihan, tabrakan dengan tulisan, sehingga membuatku jadi pengen cepat-cepat skip halaman ini. Terlalu ramai, pusing bacanya.

20151028_083723 (Copy)

Kualitas tinta percetakannya juga tidak terlalu bold. Maksudnya, kurang mantep. Selain itu, hal yang menegangkan dari membuat konsep latar penuh gambar yang dicetak di atas tinta hitam putih adalah… ide awal desain ilustrasi kita bisa jadi sangat outstanding di layar komputer ilustrator, tapi ketika dicetak jadi hitam-putih… jadinya gambarnya hitam semua. Alhasil jadi kelihatan tidak rapi sama sekali.

Ini foto siapa?? Mukanya mana..? 😥

20151028_084047 (Copy)

Berbicara tentang tulisan mana yang kusuka dan tidak kusuka, sebenarnya ini hanya masalah selera dan kebutuhan kita sebagai penulis. Buku “19 Jurus Mabuk Penulis Sukstres” adalah buku yang ditulis dengan tujuan untuk meng-cover semua kebutuhan penulis-penulis dari berbagai genre dan tingkat keahlian. Dengan kata lain, unsur heterogenitas adalah KELEBIHAN sekaligus KEKURANGAN buku ini.

Kelebihannya, kalian pasti akan menemukan minimal satu harta karun tips menulis yang berharga yang belum pernah kalian dengar sebelumnya. Dan tentunya, yang sesuai dengan minat genre tulisan kalian. Minimal SATU. Tapi kurasa pasti kalian akan ketemu banyak. Soalnya, banyak banget ilmu baru dari beragam genre yang berseliweran di sini. Kadang-kadang, yang kita pikir gak ada hubungannya dengan genre kita, ternyata bisa jadi sangat bermanfaat dan menambah skill menulis kita. Apalagi buku ini juga penuh dengan contoh-contoh yang memudahkan.

Kekurangannya, karena saking bervariasinya, tidak semua tulisan sesuai dengan kebutuhan kita. Dan bisa jadi level informasinya berbeda dengan level pengetahuan yang sudah kita miliki. Misalnya, “Jurus Menulis Novel Romance” milik Ari Keling mungkin akan sangat berguna untuk teman-teman yang baru memulai pengetahuan mereka tentang dunia tulis-menulis, tapi untukku pribadi, ulasannya tentang definisi tokoh, setting, dialog, plot, perasaan, judul, pilihan kata-kata, ide cerita, dan ending cerita itu terlalu basic. Benar-benar untuk pemula. Bukan berarti itu hal yang buruk. Hanya saja, ya seperti yang kubilang tadi, tidak sesuai dengan kebutuhanku. Untungnya, tulisan ini diletakkan di bab paling pertama, jadi kurasa masih sesuai sebagai bentuk perkenalan.

Kalian bisa lihat daftar jurus yang disajikan dalam buku ini dan pilih sesuai dengan kebutuhan kalian. Aku pun begitu. Saat mendapat buku ini, aku langsung baca tips yang paling menarik untukku. Setelah selesai, aku lalu membaca tips-tips lain yang bukan bidang minatku, sebagai hiburan di waktu senggang. 😀

DAFTAR JURUS DI BUKU INI:

FIKSI
Jurus Menulis Novel Romance – Ari Keling
Jurus Menulis Teenlit Berisi – Vivie Hardika
Jurus Menulis Horror Mistis – Lonyenk Rap
Jurus Rahasia Menulis Komedi – Ceko Spy
Jurus Dasar Menulis Novel – Cem Acem
Jurus Menulis Fan Fiction yang Sexy – Ocuz Wina
Jurus Menulis Flash Fiction – Ayu Marpaung
Jurus Menulis Puisi Tanpa Teori – Arniyati Shaleh

NONFIKSI
Jurus Menulis Personal Literature – Eva Sri Rahayu
Jurus Menulis Memoar – Astuti Parengkuh
Jurus Menulis Go Blog yang Cerdas – Hadi Kurniawan
Jurus Menulis Nonfiksi yang Dilirik Penerbit – Monica Anggen
Jurus Menggali Ide Menulis Buku Motivasi Diri – Sorayya Usman

TIPS DAN TRIK
Jurus Memilih Judul Tulisan  – Pilo Poly
Jurus Mudah Tembus Media – Zya Verani
Jurus Manis Menang Lomba Menulis  – Richa Miskiyya
Jurus Menghadang Seribu Alasan Gagal Menulis – Arista Devi

BONUS
Jurus Para Leluhur Iklan: Membuat Iklan Televisi – Mayoko Aiko

Buku ini cukup tebal dan isinya padat, apalagi yang sasarannya ditujukan untuk penulis pemula yang ingin tahu lebih banyak seluk-beluk dunia penulisan. Berbekal dari latar belakang penulisan buku ini sendiri yaitu untuk memfasilitasi pertanyaan teman-teman yang ingin menjadi penulis, maka bisa dibilang buku ini RECOMMENDED READ. Apa yang kalian butuhkan? Tips tembus penerbit? Daftar alamat penerbit? Cara memotivasi diri supaya berani menulis dan mengirimkan karya? Tips meningkatkan kualitas tulisan dari berbagai macam genre? Voila! Semua ada. Tinggal beli buku ini, nikmati keindahan cover bukunya, dan siap-siap berselancar di antara 19 jenis pembahasan untuk menemukan jawaban yang kalian cari-cari selama ini.

INI TRAILER BUKUNYA.

 

GIVEAWAY

Aku cuma dikasih jatah 1 BUKU GRATIS, jadi aku akan bikin kuis dan kalian balas jawabannya di kolom komentar ya. Jawaban terbaik akan aku hadiahkan BUKU “19 JURUS MABUK PENULIS SUKSTRES”

Ketentuan kuis:

  1. Harus sudah follow blog Nayacorath.com *
  2. Harus sudah like Fan Page Facebook.com/nayacorath *
  3. Harus sudah follow akun Twitter.com/nayacorath *
  4. Jawab pertanyaan ini di bagian kolom komentar di blog ini.
    “MENURUT KALIAN, MEMANGNYA APA KERENNYA SIH JADI SEORANG PENULIS?”
    Format jawaban:
    Nama
    Nama akun Twitter
    Nama akun Facebook
    Jawaban (boleh sepanjang-panjangnya)
  5. Share alamat artikel blogtour ini ke Facebook dan Twitter kalian. Jangan lupa mention Fan Page Naya Corath dan Twitter @nayacorath dan @UNIVERSALNIKKO hashtag #Giveaway
    Copy paste aja status ini biar gampang:

    Wow! #Giveaway #Buku #Gratis 19 Jurus Mabuk Penulis Sukstres http://wp.me/p8ezI-1dg @NayaCorath @UNIVERSALNIKKO

* baru follow juga gak papa kok

Gampang kan? Hehehe. Giveaway ini hanya aku buka dari tanggal 28 Oktober 2015 – 3 November 2015.

Seminggu aja.

Jadi jangan sampe ketinggalan. Lumayan lho, harga buku aslinya 55 ribu.. hehehe. Pengumuman pemenang tanggal 4 November 2015. Minggu depan, giveaway ini sudah aku tutup. Yuk! Langsung balas di kolom komentar.

Selamat mencoba! 😉

 

23 – Pengakuan

Comments 30 Standar

Cathy gemetar hebat, tubuhnya kejang karena shock. Di hadapannya kini berceceran darah sahabatnya, yang terbujur diam di atas aspal hitam. Ia berjalan mendekati Julie, menggoncang tubuh itu sekali lagi, terkejut saat darah menetes lebih banyak dari kepala gadis itu.

Ia melihat ke arah  truk tadi, yang menghilang dengan cepat seperti angin.

“Julie,” katanya lirih. Sekarang air matanya menggenang, membanjiri kelopak bawah matanya.

“JULIE!”

Cathy berteriak minta tolong. Beberapa orang yang berada di sekitar tempat kejadian langsung menghampiri mereka. Suasana di sana semakin ramai saat Cathy melihat Mr.Bouncer yang bertubuh besar berlari dengan wajah pucat, sama pucatnya seperti wajah orang-orang yang ikut berlari di sekelilingnya.

“Apa yang terjadi?” tanya Mr.Bouncer dengan tidak sabar. Laki-laki itu menghampiri tubuh Julie dan memeriksakan denyut nadinya. Wajahnya cemas dan sangat khawatir.

Cathy menatap Mr.Bouncer sambil menangis. Ia berusaha menjelaskan, tapi hanya suara gumaman dan gemuruh kacau yang terdengar dari mulutnya.

“Panggil ambulans,” kata Mr.Bouncer pada salah seorang murid.

Cathy masih memanggil nama Julie berkali-kali, namun gadis itu tidak menjawab. Ia masih tidak percaya ini benar-benar terjadi. Gadis yang tadi terus-menerus mengejarnya itu kini tidak bersuara lagi.

Orang-orang mulai mengerumuni dan membantu Mr.Bouncer menghentikan pendarahan Julie. Cathy merasakan perih di lutut dan sikunya, luka gores yang baru ia sadari akibat terjatuh tadi, tapi matanya tidak pernah lepas dari pemandangan mengerikan yang ada di hadapannya sekarang.

“Tidak, tidak—”

Wajah Cathy mendadak kosong. Ia menyaksikan tubuh Julie yang tidak bergerak lagi, seperti terkulai begitu saja saat Mr.Bouncer menggendongnya. Jantung Cathy mendetakkan kengerian yang menghebat. Ucapannya tadi tidak boleh menjadi kenyataan. Tidak! Dia tidak ingin Julie mati!

Cathy menangis lagi.

Beberapa menit kemudian mobil ambulans datang. Dua orang petugas medis turun dari mobil itu dan memberikan bantuan pertama pada Julie. Salah seorang petugas lain menghampiri Cathy dan memintanya untuk ikut masuk ke dalam ambulans. Di mobil yang sama, Cathy melihat mereka mengangkat tubuh Julie yang lunglai dengan hati-hati.

Semuanya terjadi begitu cepat. Mereka membawa Julie ke ruang gawat darurat segera setelah mobil ambulans itu tiba di rumah sakit. Salah seorang perawat menghampiri Cathy dan menawarkan diri untuk mengobati luka-lukanya, namun Cathy tak membiarkannya—ia hanya ingin menemani Julie. Cathy melihat orang-orang itu membawa Julie kembali ke ruang operasi. Mereka menutup pintunya rapat-rapat, tidak mengizinkannya ikut masuk ke dalam.

Cathy jatuh terduduk di atas kursi. Ia tidak pernah menyangka kalau keegoisannya akan berakibat sampai sejauh ini. Dia sangat takut jika yang terburuk benar-benar terjadi.

“Kenapa,” kata Cathy lemas. Ia menutup mukanya, “Kenapa jadi seperti ini?”

Beberapa siswa yang tadi ada di tempat kecelakaan telah menyusul ke rumah sakit. Semuanya menghampiri Cathy. Gadis itu tidak merespon mereka sama sekali. Sampai akhirnya salah seorang dari mereka menepuk pundaknya, ia melompat marah. Mereka bergidik ketakutan dan segera menjauh.

“Pergi! PERGI!!” teriak Cathy frustasi.

Lubang itu kembali menganga, berdenyut-denyut nyeri, mengingatkannya lagi dengan rangkaian peristiwa dalam hidupnya di masa lalu, yang telah mengakibatkan ini semua. Sebuah rahasia yang tidak pernah diceritakannya pada siapa pun.

Seorang anak laki-laki yang tampan dan menawan telah memenjarakan hatinya. Ia belum pernah melihat anak laki-laki seperti itu sebelumnya. Anak laki-laki yang diyakininya dapat mengubah semua kemarahannya pada masa lalunya.

Richard Soulwind.

Cathy ingat pertama kali bertemu dengan Richard. Anak laki-laki itu begitu sopan dan terpuji. Ketampanan Richard menyengatnya dengan lekukan wajahnya yang begitu sempurna. Tapi di atas itu semua, sikap misterius namun lembut anak laki-laki ini terhadapnya telah menyihirnya dalam sebuah fantasi yang tidak masuk akal.

Cathy memang tipikal gadis yang gampang jatuh cinta. Ia mudah tertarik cowok-cowok tampan, memperlakukan kehidupan romantikanya seperti sebuah permainan. Mark McGollen dan Jake Williams hanyalah salah satu cerita yang mewarnai sejarah panjang petualangannya. Cathy bahkan tak segan-segan memacari Mark di hari pertamanya berkenalan dengan anak laki-laki itu.

Yang tidak pernah diketahui siapa pun adalah—sifatnya ini merupakan ungkapan alam bawah sadar Cathy terhadap kondisi keluarganya sendiri. Ayahnya seorang playboy yang berselingkuh, sementara ibunya menjadi pecandu minuman keras yang selalu memungkiri kenyataan. Cathy menyalahkan ibunya yang naif dan bodoh karena membiarkan ayahnya berbuat sesukanya dan pergi meninggalkan mereka. Itulah sebabnya Cathy tumbuh menjadi gadis yang sangat egois—cara yang ia pilih untuk melindungi hatinya dari kekecewaan. Kemarahan pada kedua orangtuanya ia ekspresikan  dengan cara berpacaran dengan sebanyak mungkin anak laki-laki dan mencampakkan mereka. Baginya, tidak akan ada orang yang bisa menyakiti hatinya dan meninggalkannya jika ia yang melakukan hal itu lebih dulu. Kemarahan pada ayahnya membuatnya berpikir bahwa semua anak laki-laki memang pantas diperlakukan demikian, sebelum mereka melakukan itu padanya, sebagaimana yang pernah dilakukan ayahnya pada ibunya.

Di antara semua orang yang pernah ditemuinya, Richard Soulwind ternyata benar-benar lain. Ketertarikan awal Cathy pertama kali memang karena penampilan fisik Richard yang luar biasa, namun persepsi itu segera berubah dengan cara yang aneh setelah Cathy mengenal Richard lebih lama. Ia seperti menemukan harapan yang tidak mungkin. Ia tak pernah melihat anak laki-laki yang begitu tampan seumur hidupnya, namun lebih dari itu—ada sesuatu di dalam diri Richard yang membuatnya nyaman dan bahagia.

Kelembutan Richard adalah sesuatu yang tidak pernah dilihatnya selama ini. Untuk pertama kalinya, sisi rapuh Cathy yang sedang bersembunyi di balik sikap egoisnya mulai menginginkan kehadiran Richard yang akan menenangkan hatinya. Ia percaya bahwa Richard adalah orang yang telah dicarinya selama ini. Orang yang akan melindungi hatinya yang terluka dan menjaganya dengan hati-hati. Orang yang terpilih untuk menjadi pendamping hidupnya selamanya.

Sang Pangeran.

Sejak perkenalannya dengan Richard, Cathy selalu menyimpan perasaan khusus pada anak laki-laki itu. Ia pun tak segan-segan mengungkapkannya pada semua orang, dan apa pun yang pernah ia lakukan untuk pria-pria tampan lain, Cathy selalu memberikan Richard perlakuan lebih spesial. Richard anggun, manis, tampan, dan sopan. Ia benar-benar tergila-gila pada anak laki-laki ini, mengubah seluruh pandangannya tentang cinta, dan sangat serius mengharapkan kisah cintanya yang satu ini.

Cathy merasakan kebahagiaan yang besar ketika Richard menyatakan cinta. Banyak hal yang berubah dari dalam dirinya. Sifat Richard yang tenang dan melindungi telah membuatnya menjadi gadis manja yang lebih membuka diri dan menerima kerapuhannya sendiri. Sang Pangeran yang selalu melindungi hatinya, membuat kabut yang berbekas sejak kepergian ayahnya dulu, perlahan-lahan menghilang.

Cathy tidak pernah menyangka bahwa Sang Pangeran yang memberi harapan itu justru tega menghancurkan hatinya. Saat Richard menyatakan bahwa ia menyukai Julie, luka di hatinya terbuka lagi.

Sejak dulu ia selalu takut ditinggalkan dan tidak diinginkan. Adanya pihak ketiga yang harus disalahkan adalah jawaban atas krisis kepribadian yang dialaminya. Ia tidak ingin merasa tidak diharapkan. Sebagaimana kemarahan saat ayahnya menelantarkannya demi perempuan lain, maka dengan cara yang sama, ia kali ini memilih percaya bahwa kepergian Richard adalah kesalahan orang ketiga. Pengingkaran atas rasa percaya dirinya yang begitu rendah membuatnya memilih menyalahkan Julie.

Ini semua salah Julie.

Cathy sudah merasakan keresahan sejak Julie mulai terkenal dengan julukannya sebagai “The Unbeatable.” Sejak anak laki-laki berbondong-bondong mendekati Julie dengan alasan yang tidak masuk akal, orang-orang di Nimber berspekulasi kalau Richard suatu saat nanti pasti bertekuk lutut pada Julie. Ide itu begitu menakutkan, seperti penghancur semua harapannya yang mulai tumbuh. Sialnya, meskipun Cathy terus berdoa semoga Richard tidak akan pernah melakukannya, akhirnya mimpi buruknya malah jadi kenyataan.

Richard memang mencintai Julie. Richard tak pernah mencintainya sama sekali.

Cathy merasa dikhianati, sakit hati yang terulang lagi dan kesedihan yang selalu dihindarinya dari dulu itu membuatnya begitu terguncang. Ia memutuskan meninggalkan mereka, orang-orang yang ia percaya akan menghancurkan hatinya lagi. Hanya Cassandra yang masih bisa ia percaya. Seperti yang pernah terlintas di pikirannya dulu, ia pun bergabung dengan Pinky Winky. Sebuah pelarian yang tidak benar-benar diinginkannya.

Cathy harus mengakui kalau sesungguhnya ia merindukan teman-temannya. Cassandra benar, tanpa The Lady Witches semuanya tak pernah sama, gadis itu selalu menasehatinya. Tak peduli sekeras apa pun Cathy memungkiri kenyataan ini, bahkan meskipun Pinky Winky terlihat menarik dari luar kelompok, tak ada yang bisa menggantikan Kayla, Jessie, Julie, Cassandra, dan Lucy dari hatinya. Ia merindukan kebersamaannya dengan mereka, gadis-gadis heboh yang berlebih-lebihan, dramatis, gila, baik hati, dan selalu menyenangkan.

Juga Julie.

Cathy menelan ludahnya. Sekarang ia baru sadar, ternyata justru Julielah yang dulu menarik perhatiannya untuk menjadi bagian dari The Lady Witches. Pertemuan pertamanya dengan pasangan Julie-Jessie pada hari kedua di Nimber waktu itu, merupakan awal dari segalanya. Ada daya tarik aneh yang ganjil yang membuatnya ingin mendekati mereka berdua. Daya tarik yang ia pikir tak mampu dilihatnya dan hanya menarik perhatian para anak laki-laki buta yang mengejar-ngejar Julie—Cathy baru sadar ternyata ia sendiri selama ini justru telah terpikat oleh sihir itu. Sejak pertama mereka bertemu.

Pesona Julie Light.

Cathy mengingat bagaimana keunikan kepribadian Julie telah membuatnya tergoda ingin bergabung dengan teman-temannya lamanya dari Springbutter—Kayla dan Jessie—bahkan meskipun ia baru saja mengenal mereka. Gadis itu memang menarik. Dengan alasan yang tidak bisa dijelaskan, gadis itu memang pantas disukai. Bukan kecantikan atau kecerdasan, namun ada sesuatu dalam diri Julie yang memancarkan feromon itu. Ketulusan hati seseorang yang kikuk dan bodoh yang selalu tertawa dengan orang-orang di sekelilingnya, dengan kehangatan pertemanan yang selalu terbuka untuk siapa saja. Sesuatu yang selalu Cathy pungkiri selama ini, namun sekarang ia dapat melihatnya dengan sangat jelas.

Sesuatu yang membuat Richard pantas mencintainya.

Cathy menelan ludahnya. Kebaikan hati Julie bahkan membuatnya semakin merasa dirinya terlalu jahat. Ia menghabiskan hampir seluruh waktunya di masa lalu untuk mengkhawatirkan jika Julie akan merebut kekasihnya dan membenci Julie karena ketakutannya itu menjadi kenyataan, namun hari ini sahabatnya telah mengorbankan dirinya sendiri demi menyelamatkannya. Cathy tak mengerti kenapa ia selama ini begitu buta oleh rasa cemburu dan kemarahan, namun ia melampiaskannya pada orang-orang yang salah. Sahabat-sahabatnya bukanlah penyebab perceraian kedua orangtuanya. Mereka adalah penyembuh lukanya, penjaga hatinya, yang selama ini ia pikir akan ia temukan dari seorang pangeran, namun Cathy lupa bahwa ada yang lebih meneduhkan daripada kehadiran pria impian pengganti ayahnya yang telah pergi meninggalkannya.

The Lady Witches. Geng bodoh yang selalu membuatnya tertawa.

Sahabat-sahabatnya.

Dan sekarang Cathy sadar, ia telah menghancurkan segalanya. Julie yang begitu baik dan ia benci selama ini, sekarang meregang nyawa karena keegoisannya yang jahat.

Cathy menunduk dan menangis lagi.

***

BACA SELANJUTNYA >>

Creative Writing Workshop #SafetyFirst oleh Bernard Batubara (10 Oktober 2015)

Comments 18 Standar

Hari Sabtu kemarin, tanggal 10 Oktober 2015, aku mengikuti Creative Writing Workshop yang diisi oleh novelis Bernard Batubara, bertempat di Comic Cafe Tebet, Jakarta Selatan. Acara ini adalah bagian dari pengumuman kompetisi menulis cerita pendek bertema #SafetyFirst, disponsori oleh Nulisbuku.com, GagasMedia, dan Yayasan Astra Honda Motor.

12088159_401887293340796_8977166203837879803_n

Kebetulan, acara itu dekat dengan rumahku. Jadi aku menyempatkan waktu untuk mengikutinya, ditambah lagi dengan rasa penasaran dengan kelas menulis Bernard Batubara yang belum pernah kuikuti sebelumnya. Bara hanya mendapat slot waktu berbicara 1 jam saja (sayangnya), tapi menurutku isi presentasi Bara hari itu sangat bermanfaat. Cara penyampaiannya pun excellent.

Kualitas microphone saat itu tidak bagus (gema ruangannya terlalu parah, hampir sepanjang waktu terdengar seperti orang bergumam), tapi Bara berhasil membuat orang-orang terkesan. Sesulit apa pun kami mendengar, kami masih berusaha untuk bisa menyimak pelajaran penting yang disampaikannya. Slide presentasinya juga sangat menarik.

Bad news is, AKU DUDUK DI BARISAN PALING BELAKANG.

Jadi tidak akan ada foto-foto kelas yang memanjakan mata kalian pada ulasan kali ini. Daya tangkap auditoriku pun sudah kuamplifikasi, belum maksimal seperti biasanya, tapi inilah takdir tak terelakkan dari Tuhan. Yang berhasil kucatat hanya segini, hahaha. Tadinya bahkan aku tidak berniat mengabadikannya ke dalam bentuk ulasan (saking desperate-nya dengan kualitas pendengaranku, aku harus banyak mengimprovisasi penjelasannya), tapi setelah kupikir-pikir, kontennya memang terlalu menarik untuk dilewatkan.

Selamat menyimak!


 

HOW TO KEEP THE READERS READING
(Bagaimana Cara Membuat Para Pembaca Tetap Terus Membaca Tulisan Kita)

oleh Bernard Batubara

  1. BEGIN WITH A CHAOS
    Mulailah ceritamu dengan kekacauan. Dengan begitu, pembaca langsung tertarik dan perhatian mereka langsung terebut, begitu membaca paragraf pertama.
  2. THEN SLOW IT DOWN
    Setelah adegan pertama yang kacau, langkah berikutnya, hilangkan chaos-nya. Temponya dipelankan. Misalnya, bagian ini bisa kita isi dengan flashback, untuk merunut perlahan-lahan kenapa kekacauan yang muncul di adegan pertama bisa sampai terjadi.
  3. GIVE BACKGROUND
    Cerita yang baik adalah cerita yang berlapis-lapis. Berikan background terhadap adegan-adegan dan kepribadian para tokoh, yaitu cerita latar belakang kenapa mereka bisa memiliki sifat seperti itu, atau memutuskan melakukan hal tersebut. Berikan alasan, berikan cerita pendukung yang menjelaskan.
  4. RAISE THE TENSION
    Setelah tadi temponya relatif santai, sekarang naikkan lagi tensinya. Munculkan lagi ketegangan di tengah-tengah cerita. Di situlah letak seni bercerita, yaitu kita harus pintar-pintar mengatur tempo, yang membuat pembaca merasa TEGANG – RILEKS – TEGANG – RILEKS. Jangan tegang terus, atau jangan lambat terus, supaya pembaca tidak cepat bosan.
  5. MAKE IT WORSE
    Ketika kita memberi masalah terhadap tokoh kita, jangan langsung diselesaikan. Buatlah agar masalahnya menjadi semakin buruk, keadaannya menjadi tambah sulit, benar-benar terpojok, sampai-sampai tokoh itu putus asa, dan tidak tahu harus melakukan apa untuk menyelesaikan masalahnya. Buat seburuk mungkin, supaya karakter/kepribadian asli dia bisa keluar. Jangan tanggung-tanggung memberi konflik di sini. Buatlah kondisinya sesulit mungkin.
  6. REVEAL A SECRET
    Manusia seperti apa pun, pasti punya rahasia. Introvert, atau extrovert sekali pun, pasti punya rahasia yang tidak pernah mereka katakan pada siapa pun. Di bagian ini, keluarkan sebuah rahasia yang terdalam yang dimiliki oleh tokoh kita.
  7. BRING IT TO THE END (Make it STACATTO)
    Maksudnya stacatto di sini adalah, temponya harus dibuat sangat cepat. Tek, tek, tek, tek. Lakukan narasi dengan cepat, supaya pembaca semakin tegang.
  8. FINISH IT BEAUTIFULY
    Akhiri dengan cantik. Bayangkan seolah-olah seperti kita sedang menutup sebuah acara MAGIC SHOW, kita harus menutupnya dengan megah dan spektakuler. Kalau mau sedih, sedih sekalian, kalau mau dibuat senang, dibuat senang sekalian. Jangan tanggung-tanggung. Jangan ragu juga untuk mengakhirinya dengan tiba-tiba (maksudnya, tiba-tiba selesai/tutup), karena banyak penulis yang berhasil melakukan ini, dan ini justru membuat tulisan kita semakin berkesan. Tapi pastikan juga kalau kita berhasil menulisnya dengan bagus, sebelum memutuskan untuk mengakhiri tiba-tiba seperti ini. (kalau ceritanya jelek, menutup tiba-tiba justru bikin pembaca makin jengkel)

TIPS MENULIS LAGI:

  • Simpilicity
    Kalau kita bisa mengungkapkan sesuatu dengan cara yang sederhana, tidak perlu menggunakan kata-kata rumit yang sulit dimengerti. Pertajam gagasan ceritanya, tanpa harus merumitkan kata-kata hanya untuk menutupi kekurangan kualitas isi cerita kita. Be clean and direct.
    (Ini sama persis seperti yang pernah disarankan oleh Raditya Dika –> baca ulasannya di sini)
  • Freedom
    Dengarkan tips saya dan lupakan. Akhirnya teman-teman harus menemukan gaya menulis yang cocok dengan kalian masing-masing. Pelajari dasar-dasarnya, berlatihlah terus-menerus, bend the rules dan berinovasi, bereksperimen dengan tulisan kalian, sesuai dengan gaya kalian.
  • Personalize Your Narrator
    Buatlah ciri khas tulisan kalian sendiri. Saking khasnya, sampai-sampai jika pembaca melihat potongan tulisan kalian, mereka langsung tahu siapa penulisnya. Kita harus menciptakan voice, voice ini yang nanti akan membuat pembaca mengenali karakter tulisan kita.
  • Inwardness
    Masuk sangat dalam ke isi hati tokoh, benar-benar dalam. Apa yang ia takuti? Apa yang ia rasakan? Masuklah ke lapisan paling dalam dan munculkan itu, tarik narasinya.
    (Ini mirip seperti Circle of Life yang pernah dijelaskan oleh Raditya Dika  –> baca ulasannya di sini)
  • Artisty
    Ambillah pelajaran dari cabang seni yang lainnya. Musik, film.. Dari film, kita bisa belajar bagaimana menulis cerita yang tidak bertele-tele, karena di film, semua elemen cerita yang paling penting harus bisa diringkas dalam durasi 2 jam. Dari musik, kita bisa belajar menempatkan tempo, misalnya seperti kapan menempatkan intro, bridge, reff.
  • Observasi
    Ini sangat penting. Sebagai penulis, kita harus belajar melatih kemampuan observasi kita terhadap lingkungan di sekitar, sehingga mampu memunculkan perspektif baru dalam tulisan kita.

Okey. Nggak banyak yang bisa kutulis, tapi ini sudah lebih dari cukup untuk memberikan panduan pada kita tentang trik-trik yang menarik dan bermanfaat di dunia kepenulisan.

Last but not the least… Foto narsis. Hehehe. 😛

12072580_10204880485068118_5618137409945065763_n

Aku pernah bertemu dengan Bara di ASEAN LITERARY FESTIVAL awal tahun ini. The good news, ternyata dia masih mengenaliku. The bad news is, aku diingat sebagai orang yang bicaranya panjang lebar. Hahaha. Memangnya aku sepanjang lebar itu ya? 😛

Sekian dan terima kasih. Semoga bermanfaat! 😉

 

CATATAN AKHIR NAYA: Gimana? Kalian suka nggak tulisanku ini? Bermanfaat nggak? Ada yang kurang jelas? Ada yang kalian banget? Aku minta komentarnya yaaa, supaya aku makin semangat menulis buat kalian. Terima kasiiihh….! 😉

22 – Teman (6)

Comments 27 Standar

Julie berusaha menormalkan pernapasannya. Ia tidak tahu dari mana keberanian itu datang, tapi yang jelas keberanian itu datang di saat yang tepat.

Ia kemudian menatap Cathy. “Kau tidak apa-apa?”

Cathy tidak menjawab. Gadis itu terdiam membatu seperti patung. Ia memaku pandangannya pada ponsel Julie yang berserakan di tanah.

Julie berjongkok meraih ponselnya, mencoba mengumpulkan potongan logam itu di telapak tangannya. Ia tersenyum senang. “Ternyata Emma memang tidak sepintar yang kita pikirkan, Cath. Siapa sangka mereka dengan mudah bisa tertipu bualanku. Jessie pasti terkejut.”

Cathy tidak menjawab apa-apa. Ia hanya memperhatikan Julie memasukkan sisa-sisa kepingan ponselnya ke dalam tasnya dalam diam, sesekali menatap bekas luka bakar di tangan Julie.

“Richard yang mengirimkan video itu padaku. Baru saja. Itu sebabnya aku langsung ke sini. Kau pasti tidak percaya,” kata Julie. “Aku tak tahu bagaimana ia mendapatkannya, tapi kuharap ia masih menyimpan salinannya. Dia sangat khawatir padamu, Cath. Kami semua sangat khawatir padamu. Kenapa kau tidak pernah menceritakan pada kami tentang Emma? Apa saja yang dilakukan Emma padamu? Apakah dia menyakitimu?”

Cathy berkerut masam. Ia menjawab ketus. “Bukan urusanmu.”

Mendengar nama Richard yang disinggung Julie membuat Cathy merengut kesal, ia meraih tas sekolahnya dengan cepat, dan memakainya dengan gegabah. Kejadian hari ini bukan hal yang disukainya, kehadiran Julie lebih-lebih membuatnya merasa semakin dipermalukan. Ia segera menyingkir dari tempat itu tanpa mempedulikan gadis itu lagi.

“Tidak—” kata Julie. “Hey. Tunggu!”

Julie terpaksa mengejar Cathy dengan susah payah. Langkahnya tertatih-tatih namun ia memaksanya untuk tetap berjalan. Kakinya masih sakit karena ditendang Emma tadi, tapi ia berusaha untuk tidak menggubrisnya.

“Kenapa kau tak pernah bilang pada kami kalau kau masih diganggu Emma?”

Julie mengejar sambil meringis menahan nyeri. Tangannya pun mulai berkedut-kedut perih lagi. “Kau tahu kami bisa membantumu. Kami sahabatmu.”

“Kau bukan sahabatku,” desis Cathy.

“Kenapa kau bersikap seperti ini? Aku tidak ingin kita seperti ini. Cathy!” kata Julie.

Cathy berjalan tanpa henti, Julie tetap mengikutinya dari belakang. Cathy tidak menghentikan langkahnya sama sekali. Ia terus menghindar dan menghindar, bahkan meskipun itu berarti harus menghadang ilalang tajam yang hampir mengiris kulitnya.

“Cathy!”

Cathy malah mempercepat langkahnya.

“Kenapa kau terus-menerus mengikutiku? ENYAH!” Ia memandang garang. “PERGI!”

“Kenapa kau tidak mau berhenti dan menyelesaikan masalah ini? Aku akan terus mengikutimu sampai kita menyelesaikan urusan antara kau dan aku.” Julie mendengus kesal.

Cathy berjalan cepat lagi menghindari Julie, menuju trotoar di belakang sekolah, menyeberangi jalan raya lebar.

“Kenapa?” runtut Julie, mencoba berkomunikasi dengan Cathy lagi. “Kenapa kau begitu membenciku? Aku tak mengerti. Selama ini kita adalah teman baik, kan? Kupikir persahabatan kita lebih berarti daripada segalanya. Kenapa kita harus jadi seperti ini?”

“Aku tidak ingin bersahabat denganmu,” kata Cathy. “Enyah!”

“Jadi apa yang kau inginkan?” kata Julie. “Berhentilah, Cathy! Ayo kita bicarakan ini baik-baik. Katakan apa yang kau inginkan agar kau memaafkanku. Aku akan melakukannya untukmu.”

Mereka masih saja bekejar-kejaran seperti anak kecil. Situasi seperti ini lama-kelamaan membuat Julie menjadi sangat dongkol. Julie mulai kehilangan kesabaran. Ia akhirnya mengeluarkan sisa tenaganya demi berteriak sangat keras.

“CATHY! KUBILANG BERHENTI!”

Gadis itu akhirnya berhenti juga.

Napas Julie sekarang terengah-engah. Seluruh energinya hampir habis untuk berlari dan berteriak. Ia menunggu respon Cathy, yang saat ini sengaja membiarkan suasana di antara mereka sunyi selama beberapa puluh detik, sebelum memberikan reaksi berikutnya. Ia memutar tubuhnya perlahan ke arah Julie.

“Kau ingin tahu apa yang kuinginkan? Kau yakin kau bisa memenuhinya, Julie?” desis Cathy. Julie mengangguk. Cathy balas menatap Julie dengan tatapan bengis. Nada bicara yang ia gunakan sengaja dimaksudkan untuk mengiris perasaan siapa pun yang mendengarnya.

“Aku ingin kau mati.”

Julie terdiam.

Kata-kata Cathy barusan benar-benar menyakiti hatinya. Kebencian Cathy padanya benar-benar dalam, sampai gadis itu tega mengucapkan hal seperti itu padanya. Langkahnya mulai melambat, seakan menyerap setiap kata kasar yang telah dilontarkan Cathy barusan. Matanya panas dan perih. Ia sudah tidak tahan lagi. Ketika darah panas surut dari wajahnya, air mata marah merebak.

“Kau benar-benar keterlaluan, Cathy.”

Julie menahan rahangnya yang gemetar. Suaranya yang bergetar tidak dapat dikontrolnya lagi. Ini adalah momen yang paling dihindarinya selama ini.

“Kenapa hanya aku yang tidak boleh menyukai Richard? Kenapa?” Julie mencecar dengan pertanyaan membakar. “Kenapa hanya kau yang boleh menyukainya? Kenapa!?”

Cathy memalingkan muka. Ia sekarang menatap Julie dengan senyuman sinis. “Jadi kau menyukainya?”

Julie menatap Cathy dengan pandangan menantang. Kalimat itu akhirnya keluar juga dari mulutnya. Dadanya panas. Urat-urat kepalanya tegang dan tertekan. Mereka berpandang-pandangan dengan dingin seperti saling bermusuhan.

“Iya. Aku menyukai Richard,” Julie menjawab tegas, tanpa sedikit pun keraguan.

“Pengkhianat.”

Julie merasa wajahnya semakin mengeras.

“Aku memang menyukainya! Tapi aku tak pernah sekali pun ingin merebut Richard darimu. Tidakkah kau melihatnya? Aku selalu mengalah untukmu! Kenapa kau sangat egois??”

Cathy menatap tajam. Amarah mengguncang tubuhnya seperti cambuk.

“EGOIS?” Cathy tertawa. “Ya, aku memang egois, Julie. Manusia teregois di dunia ini. Puas? Supaya kau semakin puas lagi, akan kuceritakan apa yang kupikirkan tentangmu. Aku akan menunjukkan padamu betapa egoisnya aku.” Cathy menarik rambutnya dengan frustrasi.

“Kau tahu apa yang kupikirkan sekarang, Julie? Kau tahu?? Aku muak. Aku muak padamu. Aku benci dan cemburu dengan semua yang kau dapatkan. Bagaimana rasanya sekarang? Menjadi THE UNBEATABLE! Sang Tak Tertaklukkan!” Suara Cathy menggelegar, memperagakan setiap kalimatnya dengan intonasi menyindir. “Kau selalu mendapatkan apa pun yang kau mau. RICHARD. Bahkan sekarang kau berhasil mengalahkan Emma. Wow! Kau memang sangat sempurna, Julie! Semua orang pasti jatuh cinta padamu!”

“Apa? Apa maksudmu? Aku tidak—” Kening Julie berkerut.

“Aku tak pernah habis pikir kenapa semua anak laki-laki menyukaimu. Kenapa? Maksudku, lihatlah dirimu. Kau tidak cantik. KAU BODOH. Apa yang menarik dari gadis biasa sepertimu?” kata Cathy tanpa mempedulikan ucapan Julie sama sekali.

“Aku sudah cukup bersabar selama ini. Kau boleh menaklukkan siapa pun, Julie. Aku tak peduli pada mereka, para anak laki-laki bodoh itu. Aku tak peduli jika seluruh orang di dunia ini jatuh cinta padamu tanpa alasan yang jelas. Tapi sekarang—Richard? Kenapa Richard menyukaimu? Apa yang dia lihat!? Apa dia buta?”

Julie menatap kecewa. Dadanya sakit sekali.

“Jadi, itu yang kau pikirkan tentangku selama ini?”

“Di antara semua orang di dunia ini, kenapa harus kau yang disukainya? Kenapa?” kata Cathy penuh emosi. “Di sekolah kita, kenapa hanya kau yang bisa membuat Richard jatuh cinta padamu? Kenapa? BAGUS! SEMPURNA. Kau memang adalah segalanya di dunia ini, Julie. Yang Tak Tertaklukkan! Dan siapa aku?”

Air mata kesedihan bergulir kencang di pipi Cathy. Gadis itu berusaha susah payah menahannya, menyeka setiap tetes yang keluar dari matanya, seolah ingin memungkiri kesedihan itu.

“Siapa aku di mata orang-orang?” isaknya. Nada suaranya berubah menjadi rendah. “Aku bukan siapa-siapa, aku sama rendahnya seperti sampah yang tidak berharga. Aku tidak berharga. Aku–”

Cathy tampak sangat terpukul dan rapuh. Kepedihan membuat wajahnya terpilin. Kelopak matanya turun dan suaranya terdengar letih. Air mata yang mengalir semakin deras di pipi Cathy sekarang mulai melunakkan hati Julie.

“Cathy,” kata Julie.

Cathy menceracau seperti orang yang kehilangan harapan.

“Ya, aku cuma sampah, Julie! Aku cuma sampah! Emma benar. Tidak ada yang menginginkanku di dunia ini, Julie. Tidak ada! Semua orang akan meninggalkanku, karena mereka tidak pernah sayang padaku. Mereka akan melukai hatiku dan lagi dan lagi, seperti yang Dad selalu lakukan padaku selama ini. Dia tak pernah peduli padaku! Dia jahat! Semua orang meninggalkanku. Semua orang membuangku seperti sampah! Bahkan Richard. Bahkan Richard meninggalkanku. Dia menyadari kalau aku tidak pernah berharga untuknya.”

Luapan hati Cathy yang baru saja diucapkannya sekarang, tidak pernah Julie lihat sebelumnya. Gadis yang selalu pura-pura kuat itu, yang tidak pernah sekali pun ingin terlihat menangis di depan mereka, kini menangis sesegukan di depan Julie.

Ini seperti bukan Cathy.

“Cathy, apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Julie dengan ekspresi terkejut.

Seorang gadis yang terluka dan disakiti, tengah berdiri di hadapannya, seperti orang berbeda yang pernah dikenalnya. Momen ini akhirnya membuat Julie sadar sebenarnya betapa rapuhnya jiwa sahabatnya itu. Cathy telah menutup dirinya dalam tembok yang amat tinggi tanpa seorang pun yang mengetahuinya, sambil bersembunyi di balik keegoisannya selama ini.

Cathy tidak menjawab. Ia menghapus air matanya dengan wajah marah. Mulutnya terkunci seperti ada rahasia yang benar-benar tidak ingin disampaikan.

“Jika kau menginginkannya,” kata Julie kemudian, “aku akan menghilangkan perasaanku ini untukmu, Cath. Aku berjanji. Aku juga akan membantumu mendapatkan Richard kembali. Bukankah itu yang selama ini kulakukan untukmu?”

Cathy meradang. Kecemburuan yang sangat kentara menyelubungi isi hatinya.

“Tapi dia tidak menginginkanku? Dia mencintaimu, Julie. Dia mencintaimu! Dan aku hanyalah seorang gadis menyedihkan penampung semua bekas mainanmu. Itu kan yang mau kau bilang?”

“Ti-tidak, bukan,” Julie terbata-bata. Ia menghela napas. “Jangan salah paham dulu, Cath. Bukan begitu maksudku. Aku—”

Sekarang Julie merasakan sebuah firasat buruk. Ia melihat sekeliling. Ini tidak akan berakhir baik. Pertengkaran ini harus dihentikan, karena ia mulai menyadari, ada hal lebih genting yang harus mereka lakukan sesegera mungkin. Sekarang juga.

“Cathy, dengarkan–”

“TIDAK! Aku tidak mau mendengarmu!”

“Begini. Sebaiknya kita pindah ke tempat lain, Cath—”

Cathy masih mencecar tanpa henti. Ia berpikir kesempatan yang bagus ini akhirnya memberikan peluang untuk mengungkapkan semua kemarahannya pada Julie.

“Ketika kupikir aku telah menemukan orang yang kucintai dan menyayangiku dengan tulus, dia malah melakukan hal yang sama dengan yang selalu kutakutkan. Richard adalah jawabanku, Julie! Tapi kau merebutnya! Kau merebutnya! Kau tahu kenapa aku membencimu? Karena kau merebutnya, kau merebut orang yang kusayangi, sama seperti saat wanita jahat itu merebut ayahku—”

“Cathy! Ini berbahaya,” kata Julie sambil melihat sekelilingnya. Mereka berada tepat di tengah-tengah jalan raya. Ia berusaha meraih tangan Cathy untuk menyingkir. “Kita harus pergi dari sini.”

“JANGAN SENTUH AKU!”

Gadis itu tidak mau mendengar penjelasannya. Gadis itu tidak berhenti berbicara.

Julie mulai panik karena ia melihat sebuah truk besar datang ke arah mereka.

“Cathy, ayolah!”

Cathy menoleh. Gadis itu akhirnya mendengar suara klakson besar menghujaninya tanpa henti. Ia sudah sangat dekat dengan truk yang akan menabraknya.

“Tidak, tidak—” kata Julie cemas. “CATHY!”

Julie mendorongnya dengan cepat, dan membiarkan tubuhnya sendiri terhempas oleh truk besar itu.

Cathy terperanjat.

 

 BACA SELANJUTNYA >>