Bagi-bagi E-Book Motivasi #NayaQuote GRATIS!

Comments 13 Standar

Halo teman-teman! 😀

Seperti yang pernah kujanjikan di video perkenalanku di YouTube, mulai dari sekarang blog-ku tidak hanya akan kuisi dengan novel blog saja, tapi juga konten-konten menarik lainnya, seperti artikel-artikel, berita-berita, event-event yang kukunjungi, guest post, kuis, serta bagi-bagi E-BOOK GRATIS.

Kali ini, aku akan membagikan e-book gratis pertamaku yang berjudul,

“#NayaQuote – Kumpulan Tweet Motivasi @NayaCorath on Twitter”

11751468_1618653588375757_4799274557439409812_n

 

 

Download di Dropbox,

“#NayaQuote – Kumpulan Tweet Motivasi @NayaCorath on Twitter” – Dropbox

Atau di 4Shared.com

“#NayaQuote – Kumpulan Tweet Motivasi @NayaCorath on Twitter” – 4Shared

 

Aku sangat senang jika kalian berkenan meninggalkan komentar untuk e-book buatanku ini. Apakah kalian menyukainya? Beritahu aku, ya? 😀

Selamat membaca! 😉

Iklan

01. Franchophobia

Comments 40 Standar

Lily menghela napas. Ia melirik kembali jam dinding di koridor, memastikan kalau ia tidak salah lihat. Tepat seperti perkiraan.

Ini benar-benar menjengkelkan, pikirnya.

Lily mengangkat kakinya yang berat itu dengan sisa tenaga dan harapan. Ia semakin mendekati kamar itu, membuka gagang pintu yang tampak mencolok dengan stiker Garfield kuning raksasa yang menempel di daun pintunya. Ia melihat sesosok manusia yang meringkuk di atas kasur.

“Julie.”

Tidak ada respon.

“Julie!”

Lily agak mengeraskan suaranya. Lagi-lagi tidak ada respon.

Lily berjalan mendekat. Ia menghela napas panjang. Lily berdehem singkat. Ia mengoptimalisasi suara seriosa.

“JULIEEEEEEEEEEEE!!!”

Lily bisa merasakan kaca jendela kamar sedikit bergetar. Apa boleh buat. Bukannya Lily tidak peduli kalau teriakannya itu akan membangunkan tetangga, tapi ia memang tidak pernah punya pilihan lain. Lagipula, para tetangganya sudah maklum dengan aktivitas mereka setiap pagi.

“BANGUN!”

Gadis itu menggeliat.

Untuk sekali ini saja Lily berharap itu adalah pertanda kalau gadis itu akan segera beranjak dari ranjangnya. Tapi itu hanyalah harapan semu. Gadis itu menggeliat untuk mencari posisi kasur yang lebih empuk.

“JULIE,” geramnya.

Perlu kesabaran tingkat tinggi untuk bisa menghadapi permasalahan kehidupan ini, sampai-sampai Lily ingin bermeditasi. Masalahnya, ia tidak punya waktu untuk melakukannya. Sekarang yang paling ia inginkan adalah kembali ke dapurnya yang tercinta untuk melanjutkan eksperimen pai apelnya yang luar biasa. Dan ini tidak bisa dilakukan selama gadis ini masih terkapar di sana.

Padahal Lily sudah yakin teriakannya tadi memekakkan telinga.

“JUL—”

Tenggorokannya terasa kering dan gatal, terutama akibat kebanyakan mencicipi bahan-bahan kue di dapur tadi. Ia berubah pikiran. Suaranya yang indah itu terlalu berharga. Terpaksa, ia tidak punya pilihan lain.

Ia meloncat ke atas tubuh gadis itu.

Gadis itu berteriak terkejut. “Mooom!!”

Lily menyeringai jahat. Dengan tindihan berat badannya yang naik 5 kilo pagi itu, gadis itu pasti akan terbangun dalam sekejap. “Kalau kamu masih mau tidur, sih, boleh-boleh saja. Aku senang di sini.”

Gadis itu meronta-ronta. Di dalam setengah tidurnya itu ia bermimpi sedang tertimpa king kong.

“Mau bangun, tidak?” goda Lily.

Julie meronta-ronta lagi tanpa hasil. Kali ini ia benar-benar tidak berdaya.

“Masih mau tidur juga, Missy?” ujar Lily dengan nada nakal. Ia mengguling-gulingkan tubuhnya, berpura-pura seakan-akan sedang menggiling sebuah adonan kue yang sangat besar.

Gadis itu tampaknya tidak akan menyerah. Ia masih berusaha untuk melawan, tapi tubuh Lily terlalu besar dan berat untuk gadis sekecil dia. Dengan segala daya upaya ia berusaha untuk terbebas dari tindihan itu, tapi semakin keras dia berusaha, ia semakin kehabisan napas.

“Tidak bergeming juga? Serius?” Wanita itu sekarang berjingkrak-jingrak.

Mooooooom!” jerit Julie histeris.

Terdengar bunyi berderit-derit dari spring bed yang dinaiki oleh mereka berdua. Lily tidak peduli, kalaupun kasur itu harus jebol atau roboh. Anak ini tetap harus diberi pelajaran sekali-sekali.

Moom!! Aku tidak bisa bernapas—”

Gadis itu menggelinjang seperti cacing. Lily sama sekali tidak berniat untuk berhenti begitu saja sampai anak itu benar-benar terbangun dari tidurnya. Ia tahu benar kalau anak itu sebentar lagi akan menyerah.

“Oke, oke,” ujar Julie sesak napas. “Aku bangun, aku bangun.”

Lily tersenyum menang. Gadis itu akhirnya bangkit dari tempat tidurnya—segera setelah Lily membebaskannya dari tindihan. Dengan napas yang masih terengah-engah, gadis itu terbatuk-batuk sebentar. Ia mengusap kedua bola matanya sambil menguap panjang.

“Jam berapa sekarang, Mom?” tanya Julie.

Lily menarik selimut tebal yang tergeletak di lantai, melipatnya dengan rapi, dan meletakkannya kembali ke atas ranjang.

“Hampir jam sembilan,” jawab Lily santai.

“Apa!??”

Gadis itu berlari kencang seperti dikejar hantu. Ia hampir tersandung oleh kakinya sendiri. Dalam sekejap, ia meraih jam weker di atas meja belajar dengan panik. Lily benar. Delapan lima puluh lima.

“Sial!” umpatnya, menggerutu. “Aku terlambat!” Gadis itu segera mengemas peralatan sekolahnya.

Lily berdecak.

Lily sering heran, kenapa anak itu tidak mewarisi sifat-sifat ayahnya saja. Salah satu alasan Lily menikahi Ethan adalah dengan harapan garis keturunan Ethan yang baik dapat memperbaiki sifat-sifat keturunannya yang terancam pemalas, ceroboh, dan susah diatur. Ethan jelas-jelas lebih baik darinya—dia seorang pria yang disiplin dan bertanggungjawab. Di luar harapan, Julie—anak satu-satunya mereka, sekarang malah tumbuh persis sekali seperti Lily saat masih muda. Benar-benar mengkhawatirkan.

Ia tiba-tiba teringat dengan satu hal penting.

“Jangan sekali-sekali berpikir untuk tidak mandi, Julie,” ancam Lily. “Kau tahu kan apa yang bisa kulakukan?”

Gadis itu melenguh.

“Aaah, Moom—” keluh Julie. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia bergerak malas ke kamar mandi, tapi sebelumnya menghampiri cermin panjang yang berdiri di dekat kamar mandinya. Ia terkesiap melihat wajahnya sendiri. Rambutnya kusut seperti sapu ijuk dan matanya bengkak seperti balon. Julie berbalik ke arah Lily. Saat mereka bertatap mata, ia tertawa cengengesan.

“Aku seperti monster.”

“Cepat mandi,” perintah Lily tegas. “Aku sudah menyiapkan sandwich untukmu sejak berjam-jam yang lalu. Sekarang pasti sudah dingin dan keras seperti batu. Lagipula—bukannya kau tadi sudah bangun, ya?”

Julie ingat. Tadi pagi ia sebenarnya memang sudah terbangun—hanya untuk mematikan suara ayam dari jam wekernya. Sangat berisik. Rasanya seperti tinggal di perkampungan ayam.

“Umm—yeah,” gumam Julie tanpa ekspresi. Gadis masuk ke kemar mandi secepat kilat, menutup pintu kamar mandi dan menyalakan shower-nya sambil bernyanyi.

“Cepat,” kata Lily. “Sebentar lagi jam sembilan.”

Lily menghela napas panjang. Ia sebenarnya tidak ingin terlalu ikut campur lagi dalam urusan pendisiplinan Julie. Lima belas tahun—gadis itu sudah jadi gadis yang dewasa sekarang. Tadinya Lily percaya bahwa dengan penambahan umur, gadis itu akan mulai berubah jadi gadis lebih mandiri. Tapi pada kenyataannya jauh dari harapan. Gadis itu masih sama membuat frustrasinya, ia tidak akan bergerak jika tidak diperintah. Mau tidak mau, kali ini Lily tetap harus berbuat sesuatu.

“Kalau sudah selesai, jangan lupa ambil sandwich-mu,” kata Lily. Gadis itu tidak menjawab. Lily akhirnya memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur Julie dan berjalan keluar kamar.

Tugas hariannya telah selesai. Sekarang ia bergegas kembali ke dapur—melanjutkan eksperimen besarnya yang tertunda.

***

BACA SELANJUTNYA >>