22 – Teman (2)

Comments 30 Standar

Nick bersedekap.

Julie belum datang juga. Padahal Mr.Kennedy sudah berada di ruang Kelas Musik hari ini–dan Nick yang hampa ini, tidak bisa membayangkan sehari pun dunianya di Kelas Musik tanpa kehadiran Julie.

Ia menyisir rambut hitam belah tengahnya dengan jari-jemarinya yang panjang.

“Jadi, hari ini kita akan membawakan parodi. Pilih anggota kelompokmu berisi 4-5 orang, pilih lagu kalian, dan hibur aku hari ini, anak-anak,” kata Mr.Kennedy dengan suaranya yang menyala.

“Parodi LAGI??” Respon beberapa siswa yang mengeluh panjang.

“Ya, PARODI LAGI,” tukas Mr.Kennedy dengan gaya dibuat-buat. “Apa Anda keberatan, Tuan-tuan dan Nyonya-Nyonya? Anda bisa melaporkan surat keberatan Anda pada guru Musik yang bertugas hari ini–yang mana aku yakin dia memiliki kewenangan tak terbatas untuk menentukan apa pun topik pelajaran yang dia mau, ini nomornya 03822211..”

Mr.Kennedy menepuk dahinya sendiri.

“.. Tunggu, tunggu dulu. Itu nomorku. Kenapa nomorku bisa ada di sana? Wah! Ternyata guru Musik itu aku! See?”

Dengan gayanya yang khas, kedua tangan Mr.Kennedy menari-nari dan melambai setiap kali ia berbicara, seperti kebiasaan seorang konduktor orkestra yang terbawa dari lahir.

“Di mana Julie?”

Mr.Kennedy mendelik ke arah Nick, kemudian menyapu pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Julie tidak ditemukan di mana pun.

Semua orang kini ikut-ikutan memandang ke arah Nick–seolah-olah dia pacarnya Julie atau semacamnya. Entah kenapa. Padahal gadis itu, melihat bulu hidungnya yang legendaris saja sudah menahan muntah.

“Aku juga menanyakan pertanyaan yang sama, Sir,” tukas Nick dengan napas pendek. “Kurasa dia terlambat lagi.”

Julie adalah murid kesayangan Mr.Kennedy sejak awal semester. Walaupun suaranya pas-pasan dan hampir selalu keluar tempo, tapi penampilan Julie selalu memukau guru Musik mereka, tak peduli betapa pun anehnya hal apa pun yang dinyanyikan oleh gadis itu.

Kalimat yang sepele yang diucapkan orang normal dengan normal pun, entah kenapa bisa terdengar luar biasa menggelikan jika Julie yang mengucapkannya.

“Ya sudahlah,” kata Mr.Kennedy, tampak kecewa.

Mr.Kennedy lalu bertepuk tangan dengan keras untuk memberikan isyarat pada seluruh siswa untuk memulai tugas mereka.

“Tiga puluh menit dari sekarang! Durasi pendek saja, tidak usah panjang, Gentlemen! Ingat apa yang aku ajarkan minggu lalu? Praktik! Kalo tidak ada elemen-elemen yang pernah kuajarkan, tidak ada nilai A, mengerti? Aku sangat baik hati hari ini, maka izinkanlah aku memberi nilai A untuk kalian semua. Please? Mulai!”

Dalam sekejap, kelas menjadi rusuh karena para siswa mulai mencari partner kelompok Musik mereka.

“Nick, apa kau akan sekelompok dengan Julie lagi jika dia datang?” tanya Clara suatu ketika. Nick mengangguk. Clara menarik garis bibir dengan masam.

“Ada masalah?” kata Nick.

Clara menggeleng.

“Tidak–hanya saja, kupikir sebaiknya kau mencari teman baru, Nick. Aku hanya kasihan dengan Jessie, kalau sampai ternyata antara kau dan Julie juga–” Clara tidak melanjutkan kata-katanya.

Nick tahu apa maksudnya. Pasti ini soal Richard dan Cathy.

“Jadi kau mau sekelompok Musik denganku atau tidak?” kata Nick tanpa menghiraukan pernyataan Clara tadi.

“Mau, tapi–”

“Kalau mau, aku ingin ada Julie di kelompokku. Aku tidak menerima negosiasi. Dan satu lagi. Julie, tidak seburuk yang Anda bayangkan, Nona.”

Nick meniru gaya santai yang dilakukan Mr.Kennedy tadi dan bersikap cuek seperti tidak terjadi apa-apa. Ia memanggil Rom dan Daniel, yang membalas lambaian tangannya dengan seringai lebar.

“Aku sudah dapat dua personel untuk kelompokku,” kata Nick pada Clara. “Nah, hanya tinggal satu kursi lagi yang tersisa. Kalau kau mau, ini kesempatan terakhirmu. Kalau tidak juga tidak apa-apa. Dengan Julie, kelompok kami pas berempat.”

Clara menggigit bibirnya. “Tapi Julie kan belum datang–”

Nick memotong cepat, memanggil dari kejauhan.

“Hey, Felton, kau mau ikut kelompokku?” Kata Nick sambil melambai. Clara menarik tangan anak laki-laki itu dengan wajah panik. “Oke, oke! Nick! Aku masuk.”

Dua menit kemudian, mereka sudah duduk melingkar di atas bangku yang mereka susun. Clara sudah menyiapkan kertas dan pulpen, menyerahkannya pada Nick.

“Kenapa kau menyerahkannya padaku?” tanya Nick.

“Karena kau ketua kelompok, Nick,” sambut Daniel dan Rom sambil tertawa. Clara tersenyum-senyum sendiri.

“Sejak kapan aku jadi ketua kelompok?” celetuk Nick.

Ketiga anak itu tak mendengarkan keluhannya, sehingga Nick terpaksa meraih kertas dan pulpen itu. Nick mendesah panjang. Panjang sekali. Selama beberapa puluh detik berikutnya, ia hanya menatap kertas itu dalam kesunyian. Dan ia mendesah sekali lagi. Ini bagian yang paling sulit.

“Rom, tolong beri aku ide.”

Rom menggaruk-garuk kepalanya, memberikan usulan agar kelompok mereka membawakan Metallica. Clara menolak mentah-mentah, sementara Daniel menyarankan untuk memparodikan Linkin Park. Clara semakin mengamuk, tapi Daniel bilang dia hanya mau memainkan melodinya saja, liriknya urusan Clara.

“Ha–ah, kalian ini menyedihkan,” keluh Nick sambil mengusap panjang wajahnya. Otaknya berputar-putar mencari ide, tapi untuk sebuah pertunjukan spektakuler yang biasanya ia mainkan, ia butuh satu personel lagi yang paling berbakat di antara mereka semua.

Sepertinya Nick tak perlu menunggu terlalu lama untuk frustasi, karena tak berapa lama kemudian, terdengar ketukan pelan dari pintu kelas mereka. Setelah gagang pintu ditarik ke bawah, sebuah kepala bulat berambut pirang panjang menjulur aneh di celah pintu.

“Siang,” kata Julie.

Nick mendongak gembira, seperti anak anjing yang menyambut pulang majikannya. Ia mengayunkan tangan kanannya dengan gerakan memutar, untuk menarik perhatian Julie ke arah tempat kelompok mereka duduk.

“Ms.Light. Masuk,” kata Mr.Kennedy. “Segera pilih kelompokmu. Ya, hari ini parodi lagi. Penampilan kesukaanku. Kau tentunya ingin bergabung dengan Mr.White, kan?”

Nick melihat sekeliling. Entah kenapa, tidak ada yang terlalu peduli akan kedatangan Julie. Julie tak terlalu mendapat banyak perhatian saat berada di Kelas Musik hari ini. Biasanya mereka selalu antusias setiap melihat Julie di dalam kelas, tapi sejak kejadian minggu lalu tampaknya hanya beberapa orang saja yang tertarik padanya.

Bahkan Rom dan Daniel pun tak seantusias biasanya.

“Hai Julie,” kata mereka datar.

Julie tersenyum hanya tipis saja.

Nick mengetahui dari Jessie kalau Julie sedang bersedih karena masalah yang menimpa mereka. Ia memikirkan sesuatu untuk membuat gadis itu bersemangat kembali.

“Jadi, Julie—” seringai Nick. “Lagu apa yang akan kita bawakan hari ini?”

“Entahlah,” kata Julie malas. “Terserah kau saja.”

Nick berpikir sejenak. Ada tiga orang lain di tim mereka—Daniel, Rom, dan Clara. Daniel dan Rom spesialis melodi dan perkusi. Clara penyanyi Sopran yang piawai, salah satu yang terbaik di klub Paduan Suara Nimber. Mereka adalah musisi yang handal di kelas, kombinasi yang paling menarik, namun ada lagi yang lebih menarik. Nick menoleh ke arah Julie dengan senyum terbuka.

Nick merasa ini adalah kesempatan emas untuk memulihkan kepercayaan orang-orang pada gadis yang sedang bersedih itu. Gadis itu pantas mendapatkannya.

“Buatkan aku sebuah lirik,” kata Nick kemudian. “Ini parodi lagi. Aku akan membuatkan komposisi musiknya. Seperti biasa.”

“Apa yang harus kutulis?” tanya Julie.

“Terserah,” kata Nick sambil bersenandung.

“Tentang apa?”

Nick mengangkat bahunya sambil tersenyum miring.

Julie menanyakan pertanyaan yang sama pada ketiga orang lainnya, tapi mereka tak terlalu bergairah menjawab. Clara bahkan tak henti-hentinya menengok ke arah kelompok lain.

Gadis itu akhirnya menghela napas.

“Baiklah, baiklah. Tapi jangan salahkan aku kalau aku menghancurkan mood kalian,” kata Julie dengan pasrah. “Kurasa aku sangat berbakat menghancurkan segalanya akhir-akhir ini.”

Ia mengambil secarik kertas dan menulis sembarangan.

“Sudah selesai,” kata Julie. Ia mendorong kertas itu dan pulpennya ke arah mereka.

Do You Wanna Build A Snowman. FROZEN.”

Nick mendengar judul lagu itu dengan antusias. Ia mengambil kertas yang tadi ditulisi Julie dan membacanya.

Ia tertawa keras-keras.

Ketiga orang lain memandangnya dengan penasaran, ingin tahu apa yang ditulis Julie di kertas itu. Daniel, Rom, dan Clara mengambil kertas itu dari tangan Nick dan membacanya.

Mereka tertawa meledak.

“Kau hebat, Julie.” Clara menyunggingkan senyumnya.

Nick sudah menduga ini akan terjadi. Tak peduli seberapa pun siswa-siswa Nimber kehilangan gairah mereka akan Julie, gadis itu pasti akan kembali menarik perhatian mereka dengan pesonanya.

Mereka membawakannya di depan kelas. Awalnya, tidak ada yang bereaksi saat tim mereka memperkenalkan diri. Tapi saat Nick memulai parodinya dengan petikan gitarnya yang profesional, mereka mulai tersihir.

Terutama saat Julie mulai membuka suaranya.

JULIE: [1]
Do you wanna eat potato?
Better than tomato
Potato chips is the best, in toaster it is fresh
tomato melts away

I’m so hungry I could die
I can’t think or sing
I’m dumb and I don’t know why 

Seisi kelas langsung riuh seperti petasan. Kata-kata yang diucapkan Julie begitu tidak masuk akal, hingga akhirnya ingatan akan penampilan-penampilan aneh Julie minggu-minggu sebelumnya segera meluncur cepat ke kepala mereka.

Nick berusaha mati-matian berkonsentrasi pada permainan gitarnya.

Do you wanna eat potato?
It’s really better than tomato..

okay, bye

Beberapa orang mulai menahan merah di muka mereka saat Julie mengakhiri nyanyiannya. Ekspresi Julie masih sama lugunya ketika menatap Clara dengan wajah polos.

“Itu bukan lagunya, Julie,” kata Clara sambil berakting. “Biar kuajarkan lagu yang sebenarnya.”

Nick, Rom, dan Daniel mulai berimprovisasi lagi.

CLARA:[2]
Do you wanna school in Nimber?
It’s the real song we have to sing
You will learn many things in this place, education is the best
Now get out of your nest

Come on let’s go in hurry
‘Cause I know you’re not
Or you could lose brighter sky..

Suara Clara terdengar merdu. Semua yang mendengarkan mereka sangat terpukau. Sampai akhirnya Julie menjawab percakapannya.

JULIE: [3]
Do you wanna eat potato? (no!)

It’s our lunch in Nimber’s cafetaria 
(not like that, Julie!)
Okay, bye 

Julie kemudian menyanyikan kelanjutannya sebagai pemeran utama menggantikan Clara, dengan suaranya yang pas-pasan dan tempo berlarian. Tidak ada yang peduli kecuali pada apa yang dinyanyikannya, ekspresinya dan gaya bicaranya.

JULIE: [4]

Alright, it’s about Nimber
Well, I don’t think so, I don’t know..
You’re right many things in this place, education is the best
With one cardiac arrest

M.Wandolf is scary
He asks me to French
His bald head will shine so bright..

Anak-anak tertawa lagi. Julie menghentikan lagunya sesaat dengan penuh penghayatan. Bahkan Mr.Kennedy tak kuasa membayangkan kilap di kepala guru Kelas Prancis itu, yang memang berkilau-kilau di ruang guru.

Tak lama kemudian, Julie dan Clara berduet, Clara mengisi suara dua. Nick menaikkan nada dasarnya, mempercepat tempo permainannya. Rom dan Daniel mengiringi dengan sangat cekatan.

JULIE & CLARA: [5]

Mr.Kennedy in Music Class
He never let you make a mess
He asks weird questions to you in flash, breaks your brain in a crash
He won’t care for the rest (never care for the rest)

Julie bernyanyi sendirian.

JULIE: [6]

If we can live in Hawaii
And release birds’ poo
We can have a better sky (WHAT?)

Clara menatap Julie sambil berkacak pinggang.

Wait, wait.. Julie
Birds’ p-poo? 

Julie menyengir.

JULIE & CLARA: [7]

Yeah.. It’s brilliant idea, right? A new invention, you like it? (NO!)
I like it (I DON’T)
What a better sky than a smelly jelly white and grey one? (EVERY NORMAL SKY, JULIE)
Or.. Maybe we can really make clouds from chicken’s poo. (DON’T DISTURB THE SONG)
Okay, I will change the song

Nick’s nose hair is overdue, and it is smelly, too
I wanna go away (JULIE!!)

Saat Julie membawakan bagian percakapan reff yang terakhir, seisi kelas kembali tertawa.

Gerakan kikuk Julie dan rasa jijiknya saat melihat bulu hidung Nick yang saat itu memang sedang berkibar-kibar membuat semua orang sakit perut kegelian. Mereka bertepuk tangan penuh semangat, teringat kembali pada lagu “Bulu Hidung Nick Bukanlah Kacang Panjang” yang pernah menjadi hits di Kelas Musik mereka beberapa bulan yang lalu.

Setelah beberapa bait selanjutnya yang semakin mengundang tawa, Julie melanjutkan lirik berikutnya, yang tidak ia tulis di kertas tadi. Tidak ada yang menyangka bahwa lagu itu masih berlanjut, bahkan Nick sendiri.

Gadis itu mengulangi lirik asli dari lagu tersebut, tanpa iringan musik, menyanyikannya dengan sangat pelan.

JULIE: [8]

Do you wanna build a snowman
Come on let’s go and play
I never see them anymore, come out the door
It’s like they’re gone away

We used to be best buddies
And now we’re not
What am I gonna do?

Seisi kelas terdiam. Mereka tahu benar, Julie sedang membicarakan siapa.

Nick tak bisa menggambarkan betapa sunyinya ruang kelas itu. Ia tak pernah melihat Julie seperti ini.

Tak lama kemudian, Julie tersenyum dan memberikan isyarat pada teman-teman sekelompoknya. Nick mengangguk. Mereka bernyanyi dan bermain musik lagi, seperti ending yang sudah mereka rencanakan tadi.

JULIE & CLARA: [9]

We make fun of our teachers
We’re gonna get absolute A plus 

Thank you, byee~

Kelas itu akhirnya bertepuk tangan sangat meriah.

Kepiawaian Nick, Daniel, dan Rom dalam bermain instrumen membuat penampilan kocak mereka menjadi semakin mengagumkan. Julie dan Clara berpegangan tangan lalu membungkuk dengan hormat, mengakhiri pertunjukan mereka dengan salam.

Pertunjukan mereka benar-benar disukai oleh semua orang.

“Kerja yang bagus, Julie!” kata Clara sambil mengajak high five setelah kelompok mereka selesai tampil. “Maafkan aku karena sikapku yang buruk padamu sebelumnya. Kuharap kita bisa tetap menjadi teman.”

Julie menyengir. “Memang kita teman, kan?”

“Sudah kuduga, kau akan melakukannya, Julie,” kata Nick. “Kau seorang natural. Kau membuat semua orang sakit perut tanpa perlu kau rencanakan. Itu sudah tercetak di cetakan darahmu.”

Julie menatapnya. “Berbakat badut sirkus, maksudmu?”

Nick terkikih.

 

***

[1]

Apa kau mau makan kentang?
Lebih enak daripada tomat
Kripik kentang itu enak, di pemanggang roti rasanya segar
Sementara tomat meleleh

Aku sangat lapar hampir mati
Tidak bisa berpikir atau bernyanyi
Aku bodoh dan aku tak tahu kenapa

[2]

Apa kau mau sekolah di Nimber?
Itu lagu yang seharusnya kita nyanyikan
Kau bisa belajar banyak hal di tempat ini, pendidikan di sini yang terbaik
Sekarang keluarlah dari sarangmu

Ayo cepat kita ke sana
Karena aku tahu kamu selalu terlambat
Kalau tidak kamu bisa kehilangan langit yang lebih cerah

[3]

Apa kau mau makan kentang? (tidak!)

Itu menu makan siang kita di kafetaria Nimber 
(bukan seperti itu liriknya, Julie!)
Oke, dagh

[4]

Baiklah, ini tentang Nimber
Well, kayaknya sih, aku tak tahulah..
Kau benar banyak hal di tempat ini, pendidikan yang terbaik
Dengan bonus serangan jantung

M.Wandolf mengerikan
Dia menyuruhku berbahasa Prancis
Kepala botaknya bersinar sangat terang..

[5]

Mr.Kennedy di Kelas Musik
Dia tidak bakal membiarkan kalian berbuat kekacauan
Dia suka bertanya pertanyaan aneh tiba-tiba, merusak otakmu dalam kecelakaan maut
Dia tidak peduli hal yang lainnya (tidak peduli hal yang lainnya)

[6]

Kalau kita bisa tinggal di Hawai
Dan melepaskan kotoran-kotoran burung di sana
Kita bisa punya langit yang lebih indah (APA?)

[7]

Yeah.. Itu ide brilian, kan? Penemuan terbaru, kau suka? (TIDAK!)
Aku suka (AKU TIDAK)
Langit apa yang lebih indah daripada langit putih abu-abu berbau kenyal-kenyal yang kuciptakan tadi? (LANGIT NORMAL, JULIE)
Atau.. Mungkin kita memang bisa bikin awan dari tai ayam. (JANGAN RUSAK LAGUNYA, JULIE)
Oke, aku akan mengganti lagunya

Bulu hidung Nick sangat panjang, dan bau juga

Aku ingin pergi menghindarinya (JULIE!!)

[8]

Apa kau ingin membuat boneka salju?
Ayo kita keluar dan bermain bersama
Aku tidak pernah melihat mereka lagi, keluar dari pintu itu
Rasanya seperti mereka menghilang dari hidupku

Kami dulu adalah sahabat terbaik
Dan sekarang tidak lagi
Apa yang harus kulakukan?

[9]

Kita membuat lelucon tentang guru-guru kita
Kita bakal mendapat nilai absolut A plus

Terima kasih, daagh~

***

 

 BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

21 – Keberanian

Comments 27 Standar

images (7)

Sudah empat hari berlalu sejak hari Kamis sore yang tragis itu, sejak Cathy menampar Julie dengan marah. Hari di mana Richard akhirnya mengakui rasa sukanya pada Julie. Dan tiga hari sejak Cathy dan Cassandra memutuskan untuk berpisah dari geng mereka. Tidak banyak yang berubah siang itu. Julie, Jessie, dan Kayla masih duduk bertiga saja di meja mereka. Nick tidak bisa ikut bergabung, Lucy masih sibuk dengan kompetisinya. Sementara itu Cathy dan Cassandra—mereka berdua memilih duduk di tempat yang sangat jauh di ujung sana.

Mereka tampak asyik dengan teman-teman baru mereka.

Semua orang di Nimber benar-benar sibuk membicarakan perpecahan yang terjadi di dalam internal geng The Lady Witches. Bahkan di kafetaria sekalipun, orang-orang dari meja di sebelah Jessie, Julie, dan Kayla menanyakan apa yang terjadi pada geng mereka. Kayla berusaha menjawab dengan jawaban yang baik, Jessie tidak peduli sama sekali, sedangkan Julie hanya diam saja.

Siapa pun tahu kalau ada yang tidak beres yang terjadi di antara mereka.

Orang-orang mulai membuat spekulasi-spekulasi yang memanaskan telinga, menciptakan gosip-gosip baru tentang hubungan segitiga antara Cathy, Julie, dan Richard. Topik itu adalah topik terpanas di Nimber saat ini. Cerita tentang Richard yang berselingkuh diam-diam, Julie yang mempermainkan perasaan sahabatnya, atau Cathy yang mendapat karma atas perbuatannya—gosip-gosip semacam itu berlalu-lalang seperti burung merpati. Beberapa orang membuat teori baru tentang siapa anak laki-laki berikutnya yang akan ditaklukkan oleh Julie, siapa yang akan jadi pelampiasan Cathy, dan bagaimana Richard akan menghadapi penggemarnya yang patah hati. Simpang siurnya kejelasan tentang gosip ini disebabkan karena tidak ada konfirmasi sama sekali baik dari pihak Julie, Cathy, maupun Richard. Mereka bertiga tidak tertarik untuk memberikan penjelasan apa-apa, bersikap dingin dan membungkam mulutnya, bahkan Cathy pun tampaknya tak bicara terlalu banyak pada geng barunya tentang perselisihan itu.

Julie akhirnya memutuskan untuk mengikuti permintaan Jerry untuk membantunya di klub koran sekolah. Sikap Jerry yang ditunjukkannya minggu lalu memang mengesalkan—dan biasanya selalu begitu. Tapi Julie menyadari kalau akan lebih bijaksana jika ia terlibat di dalam tim. Insiden puisi Richard yang dulu pernah terjadi tidak boleh sampai terulang lagi. Ia harus mengawasi apa pun yang ditulis Jerry nanti tentang ia dan teman-temannya di koran sekolah minggu ini.

Julie benar-benar lupa kalau keputusannya itu justru adalah sebuah kebodohan besar. Sekarang, ia justru harus lebih banyak menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang yang paling haus akan sumber berita.

Para jurnalis klub koran sekolah.

Di ruangan klub koran sekolah sore itu, gadis-gadis anggota klub yang biasanya jarang menampakkan diri akhirnya mulai memadati ruangan klub mereka. Tidak hanya dari kelas sepuluh, bahkan ada yang dari kelas sebelas, dan sesepuh kelas dua belas. Motivasi utama mereka hanya satu—mereka ingin tahu apa yang terjadi dengan Cathy, Richard, dan Julie. Mereka tak henti-hentinya menanyakan Julie pertanyaan-pertanyaan mengganggu yang membuat telinganya sangat kebas.

“Kenapa kau tega merebut Richard dari Cathy, Julie?” tanya seseorang.

Sebagian besar dari mereka adalah gadis-gadis yang tidak senang dengan kenyataan bahwa Richard menyukai Julie. Mereka lebih bisa menerima ketika Cathy berpacaran dengan Richard, karena gadis itu sangat cantik. Tapi Julie–bagi mereka  adalah pengecualian yang tidak masuk akal.

Pada awalnya, mereka memang memulai dengan pertanyaan yang cukup sopan. Pertanyaan-pertanyaan berikutnya lebih memojokkan, bahkan ada yang dengan terus terang menyatakan ketidaksukaannya.

“Apa yang kau lakukan sehingga Richard menyukaimu? Apakah kau memasang guna-guna atau semacamnya?”

“Aku tak tahu kalau ada yang bisa mengalahkan wajah cantik, yaitu kebodohan.”

“Kau tidak pantas dengan Richard,” kata seseorang yang lain.

Meskipun telah berusaha untuk tidak menghiraukannya, kata-kata itu sedikit banyak membuat Julie terluka. Ia tahu, mereka tidak pernah bermaksud jahat–hanya cemburu saja. Beberapa menyampaikan keberatan mereka dengan gaya setengah bercanda, beberapa sedikit lebih sinis, ada juga yang hanya diam saja, tapi jelas-jelas api kecemburuan yang menggelora telah membakar wajah mereka. Dalam hal ini, Julie sendiri tidak menyangkal tuduhan-tuduhan itu. Ia merasa layak untuk dipersalahkan. Ia memang tidak pantas untuk anak laki-laki sebaik Richard.

Julie hampir saja menyesali keputusannya untuk menghabiskan waktu di ruangan klub koran sekolah, kalau saja tidak ada Jerry yang kemudian datang dan memarahi gadis-gadis itu. Selama hampir setengah jam anak laki-laki itu mengomeli mereka semua, karena komitmen mereka yang sulit diandalkan.

Jerry memberikan kesempatan pada mereka untuk meliput berita itu dengan cara yang lebih elegan.

“Jika kalian ingin tahu lebih banyak tentang peristiwa menghebohkan itu, lakukanlah dengan cara terhormat. Sebagai seorang reporter profesional,” kata Jerry. “Aku tak butuh gosip berkepanjangan yang tidak tercetak di atas kertas.”

Mereka terdiam dan tidak terlalu bersemangat memberikan jawaban. Semua orang tahu bahwa Jerry adalah seorang perfeksionis, jadi para anggota yang biasanya jarang datang memilih untuk menghindar dari tanggung jawab tambahan.

“Tidak ada yang berani?” kata Jerry.

Natalie mengacungkan tangan, dengan syarat Julie bersedia menjadi narasumbernya. Julie mendelik dan mengurutkan kening. Ini bukan bagian dari kesepakatannya dengan Jerry waktu itu.

“Tidak akan,” kata Julie, menyatakan keberatannya. “Seperti perintahmu, Jerry. Aku ke sini untuk membantumu mengedit tulisan. Bukan untuk wawancara.”

“Ayolah,” kata Jerry. “Demi klub koran sekolah.”

Julie tetap bergeming.

Jerry memegang dagunya untuk memikirkan pancingan seperti apa yang akan membuat Julie berubah pikiran.

“Aku butuh sudut pandangmu, Julie. Tidak pernah ada yang tahu kebenarannya, kecuali kalau salah satu dari kalian bercerita,” kata Jerry.

“Kau bisa membela diri. Atau kau bisa menyalahkan seseorang. Bayangkan itu? Selama ini orang-orang hanya bisa menebak-nebak. Tidak tahu siapa yang jahat–kau, Cathy, atau Richard. Mungkin Richard yang jahat. Kau dan Cathy hanya korban permainannya.”

“Apa?” tanya Julie.

“Kita butuh peran di sini. Pencitraan,” kata Jerry. “Kau pasti tahu. Tulisan yang menarik butuh peran tokoh yang tertindas dan yang jahat. Kalau kau setuju menjadi narasumberku, kau bisa memilih tokoh jahat mana yang kau inginkan. Berhubung Cathy adalah sahabatmu, kurasa Richard-lah yang bisa kita persalahkan untuk perpecahan kalian berdua.”

“Tidak!” Julie mulai terlihat jengkel. “Tidak ada yang jahat. Kenapa kau ini?”

Perkataan Jerry barusan benar-benar keterlaluan. Julie mulai kehilangan kesabaran.

“Kalian boleh menulis apapun, tapi aku tidak akan pernah berkata hal-hal buruk tentang teman-temanku,” kata Julie dengan ketus.

“Aku butuh berita, Julie.”

Julie menggeleng tegas.

“Kau tidak akan mendapatkannya dariku. Paham?”

“Hanya sedikit saja, ayolah. Kau bahkan tidak perlu–”

“Tidak!” kata Julie tegas. “Tidak, tidak, tidak.”

Jerry tiba-tiba berubah ekspresi.

“Lalu kenapa kau di sini? Kau seorang reporter,” kata Jerry kesal, meninggikan suaranya. “Ingat?”

Julie naik pitam.

“Karena kau yang menyuruhku ke sini. Untuk MEREVISI.” Julie membalas kesal. “Ingat?”

Percekcokan mereka berdua begitu sengit, sehingga anggota-anggota klub koran sekolah lainnya hanya menonton dan membiarkan. Sadar sedang diperhatikan, Julie menahan emosinya dan mengalihkan pandangannya.

Julie keluar dari ruangan itu untuk menyegarkan kepala dan dadanya yang panas. Napasnya menderu cepat, seolah berkejar-kejaran. Baru kali ini ia merasa sangat marah, untuk hal yang benar-benar sepele. Biasanya ia dengan mudah tidak menghiraukan tingkah Jerry yang menjengkelkan, tapi entah kenapa hari ini ia tidak bisa menahan dirinya. Akhir-akhir ini, perasaannya memang jadi sangat sensitif.

Julie tahu, Jerry tidak pernah bermaksud untuk membuatnya marah. Ia hanya menjalankan tugasnya, seperti yang biasanya ia lakukan. Mungkin Julie merespon terlalu berlebihan.

Atau mungkin justru sebaliknya. Barangkali anak laki-laki itu memang sudah merencanakan itu selama ini. Julie sekarang mulai curiga, jangan-jangan tawaran membuat revisi itu sebenarnya hanya jebakan dari Jerry, untuk memaksanya masuk ke dalam perangkap ini. Sejak awal, Jerry memang ingin menjadikannya sebagai bahan berita untuk koran sekolahnya.

Julie merengut. Ini benar-benar membuat kesal.

Julie masuk kembali ke dalam ruangan itu, membuat semua orang menatapnya dengan kaku.

“Aku butuh libur,” kata Julie. “Aku tidak akan datang ke ruangan ini dalam beberapa hari ke depan. Lagipula, kau sudah tidak butuh aku lagi, kan?” Julie memandang sekeliling. “Pasukan reportermu sudah banyak sekali. Kau pasti sangat senang.”

“Kau yakin?” tukas Jerry dingin. “Aku akan menulis apa pun yang aku inginkan.”

“Terserah,” kata Julie.

Julie keluar dari ruangan itu sekali lagi, tanpa mempedulikan reaksi dari orang-orang. Ia ingin meninggalkan tempat itu sesegera mungkin, mendinginkan hatinya yang sedang panas. Saat berjalan menuruni tangga di lantai dua, Julie terhenyak. Seseorang yang bercahaya dari kejauhan menarik sudut matanya.

Ia melihat Richard.

Anak laki-laki itu sedang berbincang dengan seorang anak perempuan. Gadis berambut pirang yang berbeda. Julie tak mengenalnya. Dan entah kenapa, mereka terlihat sangat akrab.

Sekarang kepala Julie benar-benar pusing.

***

BACA SELANJUTNYA >>

20 – Renungan

Comments 21 Standar

jgirlcellphone

Julie bangkit dari tempat tidurnya, mengusap kedua matanya dengan malas, melihat jam weker yang tergeletak di atas meja belajar.

Jam 11.30 siang.

Julie selalu suka dengan akhir minggu. Hari Sabtu dan Minggu, keduanya adalah hari favorit yang selalu ia nanti-nantikan setiap pekan, setelah lima hari waktu sekolah yang melelahkan. Lebih dari segalanya, Julie bisa memanfaatkan waktunya untuk menonton DVD apa pun sepuasnya sebanyak yang ia inginkan di dua malam yang spesial itu tanpa perlu takut kesiangan atau dimarahi Lily karena bangun kesiangan. Satu-satunya yang akan membuatnya dimarahi hanyalah kebiasaannya meninggalkan sarapan di akhir minggu. Kadang-kadang Lily membiarkannya. Kadang-kadang Lily tetap membangunkannya. Tergantung mood wanita itu. Tapi pagi ini Lily tidak membangunkannya untuk sarapan, dan Julie sangat bersyukur untuk itu.

Kadang-kadang ia dan The Lady Witches menghabiskan hari Sabtu mereka untuk menonton film di bioskop Evergreen, tempat menonton favorit mereka. Tapi hari ini Julie tahu kalau itu tidak akan terjadi. Tanpa Cathy dan Cassandra, kegiatan menonton mereka akan menjadi sangat membosankan, terutama karena Cathy selalu yang membuat suasana menjadi heboh dan Cassandra adalah pemberi daya tarik yang luar biasa di dunia perbelanjaan—setelah atau sebelum mereka selesai menonton. Bahkan sejujurnya, sebelum mengenal mereka berdua, Julie, Jessie, dan Kayla hampir tidak pernah menghabiskan waktu mereka untuk menonton bioskop. Mereka biasanya menghabiskan waktu untuk saling berkunjung di rumah masing-masing. Atau bahkan tidak ada acara apa pun, yang memberikan waktu kosong yang panjang untuk Julie bangun kesiangan, dan tidur siang lagi sampai sore.

Itulah sebabnya Julie ingin di rumah saja hari ini.

Julie membuka pintu kamarnya dan baru saja akan turun tangga saat ia terhentak kaget melihat ibunya di depan mukanya.

“Hari ini kau tidak kemana-mana?” tanya wanita itu.

“Tidak,” jawab Julie malas.

“Aku lupa membuatkanmu sarapan,” kata Lily sambil cekikikan. “Aku terlalu asyik berguling-guling di kasur sampai-sampai aku lupa membangunkanmu dan membuatkan sarapan untukmu. Oke baiklah. Sebenarnya aku kesiangan juga.”

Lily menyodorkan sepiring sandwich yang jelas dibuat secara gegabah, menilik dari betapa banyak saus kacangnya yang belepotan di sisi piring dan kedua tangannya. “Masih tertarik untuk sarapan?”

Julie mengambil piring itu. Perutnya memang terasa lapar.

Yeah,” kata Julie. “Mom, bisakah kau membuatkan lagi sedikit lebih banyak? Aku sangat lapar sekarang. Kurasa aku bisa makan dua atau tiga lemari.”

Wanita itu tertawa.

“Aku memang rencananya akan sekalian membuatkan makan siang untukmu, Julie,” kata Lily. “Tapi butuh waktu agak sedikit lama. Aku sedang mempraktekkan resep baru di dapur. Agak sedikit—” Lily memainkan jari-jarinya sambil menggigit bibirnya, “—yeah, berantakan.”

Julie terkikih. “Apa Dad ada di rumah hari ini?”

Lily menggeleng.

“Dia sudah berangkat ke Westcult tadi pagi-pagi sekali. Dan dia tidak membangunkanku!” keluh Lily. “Oh. Mungkin sudah. Tapi aku tertidur lagi. Entahlah.”

Lily menuruni tangga dan menoleh ke arah Julie sambil menggoyangkan telunjuknya. “Habiskan sarapanmu, Julie. Dan bereskan kamarmu. Kau tidak mau kan kalau nanti monster kacang keluar dari rotimu dan melumuri seluruh barang-barang yang berantakan di lantai kamarmu dengan remah-rem—”

Julie mendesah cepat. “Iya, Mom.”

Julie menutup pintunya. Ia menghabiskan sandwich-nya dalam sekejap, karena ia memang benar-benar sedang lapar. Ia menerawang ke seluruh isi kamarnya. Memang sangat berantakan, seperti kapal pecah. Entah apa yang dia lakukan tadi malam sampai-sampai ruangan itu menjadi sekacau ini. Seperti diinvasi sekerumunan Godzilla.

Julie mengambil potongan-potongan seragam sekolah yang kemarin ia biarkan tercecer di lantai. Ia memasukkannya ke keranjang laundry. Ia merapikan beberapa barang yang tadinya tergeletak di sembarang tempat, meletakkannya lagi di posisi yang sebenarnya. Ia mengambil laptopnya yang masih terbuka dalam keadaan mati di atas kasurnya. Ia menutup laptop itu, teringat kalau Lily selalu mengomel dan memperingatkan Julie kalau suatu saat nanti laptop itu akan tertendang oleh kakinya yang tertidur atau patah tersenggol oleh pantatnya sendiri dan ia takkan mau membelikan yang baru.

Julie meletakkan laptop itu di atas meja belajar. Ia lalu menarik kursi meja belajarnya dan duduk di atasnya, tertarik untuk menonton DVD lagi. Ia menghembuskan napasnya dengan berat karena mengetahui itu bukan keputusan yang pintar. Julie tahu, saat menonton DVD, ia akan lupa segalanya. Termasuk kewajibannya membereskan kamarnya. Ia harus menyelesaikan tugas ini selagi kewarasannya masih berfungsi normal, sebelum kemalasannya berjingkrak lagi.

Julie beranjak menuju tempat tidurnya dan menarik spreinya dengan enggan. Ia mengendusi sarung bantal yang bau lalu mengendusi sprei yang ternyata juga bau lalu menyadari kalau selimutnya juga bau. Ia melenguh panjang. Ia melepas semua kain-kain bau itu dari tempat tidurnya, menggulung mereka semua menjadi sebuah bola kain besar, lalu melemparnya dengan sekuat tenaga ke arah keranjang laundry.

Meleset. Kain-kain itu berhamburan di mana-mana.

Dengan kemalasan yang luar biasa, Julie menghampiri kain-kain itu dan mencoba merapikannya lagi. Ia mendorongnya ke arah keranjang laundry, memasukkan sebanyak yang ia bisa, dan menyadari kalau mereka terlalu banyak, sama sekali tidak muat dimasukkan ke dalam keranjang. Semua pakaian dan kain kotor itu harus dicuci sekarang.

“Mom,” teriak Julie. Lily menyahut dengan keras dari lantai bawah. “Maukah kau mencuci sprei dan selimutku?”

Lily tidak menjawab lagi. Julie sudah tahu alasannya. Ia akan mencuci sendiri kain-kain itu, tapi ia tidak akan melakukannya sekarang. Mungkin nanti sore. Mungkin nanti malam. Mungkin besok. Mungkin nanti kalau alien dari Saturnus datang dan tiba-tiba memberikannya ilham.

Julie menghela napas panjang. Sekarang ia harus mengambil sprei, sarung bantal, dan selimut baru, yang disimpan ibunya di lantai bawah. Rasanya sangat malas. Sangat, sangat, sangat malas. Ia memutuskan untuk menunda itu dan lagi-lagi menarik kursi meja belajarnya untuk duduk di atasnya. Ia terdiam cukup lama, menatap ke jalanan di balik jendela, tidak melakukan apa-apa.

Entah apa yang merasuki pikirannya saat itu. Ia menarik laci paling bawah dari meja belajarnya, tempat ia menyimpan koran sekolah yang memuat puisi Richard untuknya. Ia membuka halaman demi halaman, untuk menemukan bagian yang ingin dibacanya.

Ia melihat foto Richard. Sangat manis dengan senyum tipisnya yang polos. Ini foto Richard beberapa bulan yang lalu. Saat itu ia masih merasakan Richard sebagai momok menakutkan. Sebelum ia mengenal Richard sampai sejauh ini. Sebelum ia merasakan perasaan nyaman yang asing saat berada dekat dengan anak laki-laki itu. Sebelum ia menyadari perasaannya sendiri. Sebelum ia mengetahui bahwa Richard ternyata juga—menyukainya.

Julie menahan napasnya.

Julie telah berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikan semua yang terjadi dalam dua hari terakhir. Ia biasanya dapat dengan mudah melakukannya. Tapi entah kenapa, kali ini terasa begitu sulit.

Ia mencoba mengabaikan pernyataan Richard padanya dan berpura-pura tidak merasakan apa-apa. Ia mencoba untuk tidak membahasnya, mengalihkan topik atau mencari perhatian pada hal yang lain. Ia mencoba untuk lebih menfokuskan kekhawatirannya pada Cathy dan Cassandra yang menjauhinya.

Tapi ada satu kepingan di dalam dadanya yang menginginkan untuk membahas hal itu. Kepingan yang membuatnya merasa sangat egois dan ia berusaha untuk menekannya agar perasaan itu segera menghilang.

Julie bertanya dalam hati.

Benarkah Richard juga menyukainya?

Sungguh kah?

Julie menghela napas sekali lagi. Rasanya ia terlalu banyak menghela napas hari ini. Ia tidak terbiasa dengan situasi seperti ini. Ia tidak pernah menghadapinya sebelumnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia bahkan tidak bisa menentukan apakah sikap yang diambilnya benar atau salah.

Ia ingin menghampiri Richard dan mengucapkan sesuatu, namun ia tidak tahu ingin mengucapkan apa. Apakah ia akan mengakui perasaannya? Apakah ia akan bertanya pada Richard sekali lagi?

Benarkah Richard telah menyukainya?

Julie merenung panjang, berusaha memahami apa yang ia inginkan, apa yang sebaiknya ia lakukan. Tapi semakin ia berpikir, ia semakin pusing. Ia tidak mengerti kenapa ia harus merasakan perasaan yang kacau seperti ini. Memikirkan dan berusaha tidak memikirkan, dua-duanya sama-sama melelahkan.

Julie mengambil ponselnya. Ia membuka pesan masuk dan menelusuri daftar pesan untuk mencari satu pesan yang dikirim padanya dua hari yang lalu.

 

Aku sangat khawatir padamu.

Apakah kau baik-baik saja?

 

Richard.

 

Julie belum menyimpan nomor ponsel itu ke dalam daftar kontaknya. Ia bahkan tidak pernah membuka pesan itu lagi sejak hari itu.

Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.

***

BACA SELANJUTNYA >>

19 – Perang Dingin (2)

Comments 37 Standar

0511-0708-2917-4850_school_girl_with_lunch_tray_clipart_image1

Julie tidak menyangka kalau masalah ini akhirnya menjadi sesulit ini. Sepanjang jam makan siang tadi, mereka bertiga sibuk membicarakan tentang Cathy yang berubah, gadis itu bergabung dengan geng lain, dan kali ini Cassandra ternyata juga ikut mengikuti jejaknya. Mereka berdua tidak pernah menoleh ke arah teman-teman lamanya lagi.

Jessie menjadi sangat gusar dan hampir saja akan menghardik kedua orang itu, kalau saja tidak ada Kayla yang menahannya. Jessie memutuskan untuk menunggu sampai geng itu menyelesaikan makan siang, tapi saat Jessie bergerak menghampiri mereka, Cathy, Cassandra, dan teman-teman barunya sudah bergerak terlalu jauh meninggalkan mereka bertiga.

Julie benar-benar tidak mengerti kenapa mereka berdua harus bersikap seperti itu. Cathy mungkin masih sangat marah padanya karena Richard menyukainya, tapi Julie tidak mengerti kenapa Cassandra juga merasa ingin ikut menjauhinya. Kemarin sore gadis itu tidak menunjukkan reaksi apa-apa saat ia menghabiskan waktu bersama dengan mereka dan Nick di depan rumah Cathy. Jessie bilang Cassandra adalah pengkhianat, tapi Julie sama sekali tidak setuju dengan istilah itu.

Kayla berkata kalau Cassandra memang dari dulu sangat menyukai Richard. Cassandra juga sangat dekat dengan Cathy—barangkali lebih daripada siapa pun di geng The Lady Witches mereka. Mereka berdua jauh lebih sering sekelas dibandingkan yang lain, dan mereka berdua berada di klub yang sama, Klub Drama. Bisa jadi gadis itu lebih merasa bersimpati pada Cathy dan memilih untuk berpihak padanya.

Kayla menambahkan, selama ini Cassandra juga selalu menginginkan Julie dengan Jerry. Bisa jadi, kenyataan bahwa Richard menyukai Julie tidak hanya membuatnya terpukul sebagai penggemar Richard dan Cathy, tapi juga ia merasa Julie telah merusak harapannya dengan Jerry. Di antara semua pertimbangan itu, barangkali memang baru siang ini gadis itu akhirnya menetapkan pilihannya untuk membela Cathy.

Mereka bertiga tak menghabiskan waktu terlalu lama di kafetaria. Setelah Cathy dan Cassandra berlalu, mereka pun memutuskan untuk kembali ke kelas mereka masing-masing. Julie meregangkan tangannya dengan malas saat mereka berpisah di koridor.

“Julie!” panggil Jerry dari arah belakang.

Julie menoleh. Anak laki-laki itu mendekatinya sambil tersenyum, sengaja berlagak gagah agar terlihat menarik. Jerry tampak lebih cerah hari ini ketimbang saat Julie terakhir melihatnya kemarin.

“Aku mencarimu,” kata Jerry. “Aku butuh bantuanmu untuk mengedit beberapa tulisan sore ini. Apa kau baik-baik saja?”

Jerry memperhatikan wajah Julie yang terlihat sedikit pucat.

Yeah,” kata Julie. “Hanya sedikit tidak enak badan. Kau butuh apa? Aku tidak dengar tadi.”

“Mengedit. Dengar Julie, aku tahu mungkin aku akan terdengar seperti ikut campur, tapi aku turut bersimpati pada apa yang menimpamu kemarin,” kata Jerry dengan tidak sabar. “Yeah, aku sudah mendengar ceritanya dari orang-orang. Mereka bilang Cathy menamparmu. Aku hanya ingin tahu apakah kau baik-baik saja. Apakah pipimu masih terasa sakit?”

Julie memutar balik tubuhnya dan menutup pipinya dengan rambut.

“Tidak.”

“Jam berapa persisnya kejadian itu? Apakah tepat setelah kita pulang sekolah?” tanya Jerry menyelidik.

“Ya.”

“Apakah ada yang ingin kau ceritakan padaku tentang kejadian itu?” tanya Jerry.

“Tidak,” kata Julie frustasi.

Jerry mulai terdengar menjengkelkan karena pertanyataan-pertanyaannya yang menodong dan kaku seperti gaya interograsi khas seorang wartawan. Ia harus melakukan sesuatu. “Jerry. Bisakah kau tinggalkan aku sebentar? Aku butuh bernapas sekarang. Lagipula seingatku, kemarin kau masih marah padaku gara-gara aku pergi ke perayaan kemenangannya Lucy.”

Jerry tergelak. “Tidak. Kenapa juga aku harus marah? Aku butuh bantuanmu hari ini, makanya aku mencarimu. Bagaimana? Kau bisa membantuku, kan?”

Julie menghela napas.

“Aku tidak merasa bersemangat hari ini, Jerry. Tidak bisakah kau meminta tolong pada anggota-anggota yang lain? Mungkin Timmy bisa melakuka—”

Julie terdiam membeku.

Richard.

Anak laki-laki itu berada beberapa puluh kaki di arah jam dua. Rasanya sudah lama sekali Julie tidak melihat wajahnya.

Richard sedang mengobrol dengan seorang gadis, Julie tidak mengenalnya. Richard menoleh seketika ketika menyadari keberadaan Julie, ia menatapnya dengan matanya yang biru.

Jantung Julie berdegup sangat kencang.

“Julie?”

Jerry melihat ke arah Richard, yang sudah membuang mukanya lebih dulu.

Richard kembali melanjutkan obrolannya dengan sang gadis, tak sedikit pun mempedulikan kehadiran Julie ataupun Jerry di sekitarnya. Ia sesekali tersenyum dan kemudian menyodorkan secarik kertas pada gadis itu. Gadis itu tampak sangat senang. Mereka saling berlambaian tangan saat berpisah.

“Wow,” kata Jerry.

Anak laki-laki itu berdecak kagum. Ia menoleh kembali ke arah Julie.

“Kau mau tahu gadis itu siapa? Luna Hartwright. Kelas dua belas. Teman sekelas Mitch.” Jerry menggeronyotkan senyumnya. “Ini sangat menarik, Julie. Jadi, segera setelah diputuskan oleh Cathy dan patah hati denganmu, Richard mencari calon pacar yang baru. Gadis yang lebih tua.”

Julie terdiam. Perasaan dingin dan beku menjalari setiap tulang-belulangnya, seolah-olah akan mencengkramnya dengan erat.

“Luar biasa. Kau tahu, Julie. Kejadian ini adalah berita yang paling menghebohkan di Nimber abad ini. Aku sangat senang menulisnya untuk berita di koran sekolah minggu depan,” kata Jerry. “Sangat banyak orang yang menunggu-nunggu mendengar detail dari berita itu. Termasuk aku. Aku hanya mengingatkanmu soal kemungkinan itu.”

Jerry mengangkat tangannya dengan bebas.

“Kecuali—kalau kau membantuku mengedit sore ini. Aku mungkin akan mempertimbangkannya lagi. Richard dan Cathy memang topik yang selalu menarik untuk dihidangkan, tapi jika kau setuju untuk bekerja sama, aku mungkin tidak akan menulis terlalu banyak tentangmu.”

Julie menatap Jerry dengan tidak percaya.

“Apa?”

Pernyataan Jerry barusan membuat Julie sadar akan fakta bahwa masyarakat sekolah Nimber sangat suka dengan berita-berita terbaru, bahkan gosip-gosip murahan sekalipun. Berita tentang hubungannya yang memburuk dengan Cathy, Cassandra, dan Richard tentu saja akan menjadi santapan yang sangat lezat untuk mereka. Ini benar-benar bukan sesuatu yang diharapkannya.

“Kau tidak akan menulis apa pun, Jerry,” kata Julie.

Jerry menggeleng santai.

“Aku seorang wartawan, Julie. Tugasku adalah meliput berita. Kau tidak bisa mencegahku melakukan itu,” jawab Jerry. “Kau juga seorang wartawan. Jangan lupa. Aku sudah bilang, kau harus mengutamakan logikamu di atas perasaanmu. Profesionalismemu untuk masa depan. Masalah hanya akan menunggu orang-orang yang membuang waktu dan masa muda mereka.”

Julie berhenti berjalan. Ia mendesah berat. Anak laki-laki ini memang selalu menjengkelkan. Ia tak tahu apa maunya Jerry, tapi jika perhatian yang penuh bisa membuat Jerry berhenti mengganggunya, Julie bersedia untuk menyediakan waktu menanggapinya dengan lebih serius.

“Jadi, apa maumu?” tanya Julie, menatap Jerry dengan sungguh-sungguh sambil melipat tangannya. “Kau sangat mengesalkan.”

Jerry mengangkat bahunya.

“Aku hanya ingin kau membantuku sore ini,” kata Jerry. “Sesederhana itu.”

Julie merengut. Bukan hanya karena ia benar-benar tidak mood melakukan apa pun hari ini, tapi juga ada hal lain yang membuatnya sangat malas. Di tengah-tengah permasalahan yang mengganggu pikirannya sekarang, hal terakhir yang diinginkannya adalah menghabiskan waktu dengan Jerry yang menjengkelkan. Kecuali jika ada alasan spesial yang bisa membuatnya berubah pikiran.

“Apakah kalau aku membantumu sore ini, masa depanku akan berubah?” kata Julie.

“Tentu.” Jerry tertawa.

“Apakah kalau aku membantumu sore ini, kau bisa membuat Cathy dan Richard berpacaran lagi? Dan teman-temanku akan kembali berbaikan lagi seperti semula?” tanya Julie.

“Tidak.”

“Apakah kalau aku membantumu sore ini, kau akan membatalkan rencanamu menulis tentang teman-temanku?” kata Julie.

“Ng—tidak.”

Julie menanggapi dengan cuek. “Kalau begitu, aku tidak akan datang.”

Gadis itu mungkin terdengar galak, namun ekspresi wajahnya menunjukkan hal sebaliknya. Ia berusaha sebaik mungkin menurunkan sebuah pandangan garang, namun gerakan tubuhnya yang kikuk itu tidak pernah meninggalkannya.

Jerry tergelak.

“Baiklah, kalau itu memang maumu,” kata Jerry. “Aku hanya bercanda, Julie. Sebenarnya aku hanya ingin memastikan keadaanmu hari ini. Tapi setelah kulihat-lihat, sepertinya kau memang baik-baik saja. Aku akan memberikan waktu untukmu beristirahat sampai akhir minggu ini, menyelesaikan urusanmu dengan teman-temanmu. Aku tunggu kehadiranmu hari Senin besok di ruangan kantorku, seperti biasa.”

Julie merengut lagi. “Aku tidak akan datang.”

Jerry tersenyum miring.

“Aku tahu.”

Jerry baru saja akan bersiap-siap meninggalkannya saat gadis itu mengalihkan perhatiannya ke tempat lain. Namun anak laki-laki itu tiba-tiba berubah pikiran, memutuskan untuk menanyakan satu pertanyaan terakhir sebelum ia pergi.

“Satu lagi,” kata Jerry. “Apakah kau menyukai Richard?”

Julie memicingkan matanya.

“Pergi.”

***

BACA SELANJUTNYA >>

19 – Perang Dingin

Comments 31 Standar

images (4)

Kejadian sore itu telah mengubah segalanya dalam hidup mereka. Cathy tak pernah lagi bisa dihubungi. Gadis itu tak pernah mengangkat teleponnya. Richard menghilang.

Kayla akhirnya menceritakan semuanya pada Julie, Jessie, Nick, dan Cassandra. Berita itu benar-benar mengejutkan, sampai-sampai tak seorang pun dari mereka yang bisa memberikan ekspresi yang lebih pantas. Bahkan Julie hampir tak berbicara apa-apa sepanjang sore itu.

Mereka berusaha menghubungi Cathy untuk menjernihkan masalah ini, tapi Cathy bahkan sengaja tak mengaktifkan ponselnya. Nick menyarankan untuk mereka langsung menghampiri rumah Cathy—yang benar-benar mereka lakukan—tapi Cathy tak ada di rumah. Mereka menunggu cukup lama di luar rumah sampai akhirnya mereka mengetahui bahwa Cathy sebenarnya sudah ada di rumah sejak mereka datang dan menolak untuk menerima mereka masuk ke dalam.

Hal itu membuat Julie dan teman-temannya merasa terpukul.

Mereka berlima pun akhirnya pulang dengan tangan hampa. Tak ada yang bisa mereka lakukan lagi selain memutuskan untuk membiarkan hari itu berlalu. Julie juga berharap semoga keesokan harinya mereka dapat menyelesaikan masalah itu di sekolah. Cathy akan bisa menjadi tenang kembali dan Richard juga dapat hadir untuk memberikan penyelesaian yang baik bagi hubungan mereka berdua.

Julie tak akan pernah menyangka kalau masalah ini tidak akan berakhir dengan indah seperti biasanya. Ini lebih pelik daripada yang ia bayangkan.

Keesokan harinya, gosip menyebar dengan sangat cepat. Apa pun yang terjadi kemarin sore telah membakar rasa ingin tahu semua orang, seperti minyak panas yang memercik di atas api. Orang-orang bergosip. Mereka membicarakan tentang Sang Pangeran. Mereka membicarakan tentang kemenangan Sang Tak Tertaklukkan. Mereka membicarakan tentang The Mesmerizer yang terluka. Kemarahan, rasa senang, ekspresi tidak percaya, kekaguman, kebencian, mewarnai setiap wajah di koridor-koridor dan ruang-ruang kelas di Nimberland pada setiap percakapan. Mereka tak semuanya memiliki pendapat yang sama. Tapi satu hal yang jelas terlihat.

Richard menyukai Julie. Mereka semua membenci kenyataan itu.

Dan siang ini Jessie, Kayla, dan Julie telah duduk di tempat mereka di kafetaria, menanti rekan-rekan mereka yang lain.

Siapa pun tahu, ada yang tidak biasa hari ini.

Suasana di kafetaria begitu tegang mencekam, seperti tidak pernah terjadi sebelumnya. Setiap pasang mata menatap tajam, menghujam mereka dengan kilatan-kilatan rasa penasaran dan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Semua orang telah mendengar apa yang telah terjadi. Dan mereka sangat ingin tahu apa yang akan terjadi setelah kejadian ini, kelanjutan dari drama pertemanan mereka, saat mereka melihat seorang gadis cantik yang memasuki pintu kafetaria. Dia yang telah ditunggu-tunggu.

Gadis itu telah datang.

Cathy.

Gadis itu melihat sekilas ke arah mereka, secepat kilat membuang pandangan dalam seringai kebencian. Tak berselang lama kemudian, empat orang gadis kelas sepuluh lain ikut menyusul di belakangnya.

Cathy tak menoleh ke teman-teman lamanya lagi.

Setelah menghabiskan waktu cukup lama untuk mencari tempat duduk yang sesuai, Cathy dan teman-teman barunya memilih sebuah meja yang letaknya sangat jauh dari tempat di mana Jessie, Kayla, dan Julie berada.

Cathy Pierre telah memutuskan untuk bergabung dengan geng lain.

“Apa-apaan dia?” omel Jessie terbelalak. “Pinky Winky! Kenapa dia duduk dengan mereka?”

Pemandangan ini cukup ganjil.

Pinky Winky adalah salah satu geng gadis kelas sepuluh yang cukup populer di Nimber. Geng ini hampir sama populernya dengan The Lady Witches, saingan mereka yang cukup berat di sekolah. Dari dulu, Cathy selalu berkata akan bergabung dengan geng ini jika seandainya saja tidak ada The Lady Witches di sekolah. Gadis itu selalu tampak serius dengan ekspresi super dramatisnya.

Dan mereka pikir gadis itu hanya bercanda.

“Dia benar-benar pergi,” kata Julie murung. Ia menatap Kayla dan Jessie dengan muram. “Ini semua salahku. Benar, kan?”

Kayla sebenarnya mencoba menghindari percakapan yang tidak perlu, berharap semoga Cathy akan kembali membaik siang itu sebelum mereka harus membicarakannya. Tapi keadaannya ternyata lebih buruk daripada yang ia harapkan.

“Tidak, Julie. Kupikir akulah penyebabnya,” kata Kayla akhirnya.

Kayla mendesah berat, menyiratkan sedikit nada sesal dalam perkataannya. Ia memang sudah merasakannya sejak kemarin. “Ini tidak akan terjadi kalau saja aku tidak memaksa Richard untuk berterusterang pada Cathy.”

Kayla menarik napasnya, berpikir panjang, berharap semoga ia tidak salah mengambil keputusan kemarin. Ia tidak bisa memungkiri bahwa terkadang ia pun meragukan keputusan dirinya sendiri. Meskipun begitu, ia berusaha untuk mempertimbangkan kejadian ini sekali lagi, dan ia tetap berakhir pada kesimpulan yang sama. Kejujuran memang pilihan yang menyakitkan, tapi ini adalah pilihan yang harus dilakukan.

“Tapi ini harus dilakukan,” sambung gadis itu tegas. “Aku tidak ingin anak laki-laki itu menyakiti siapa pun lebih lama lagi.”

Richard.

Julie menggigit bibirnya, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa tidur semalam, dengan alasan selain karena menonton film atau membaca novel. Ia memikirkan apa yang Richard ucapkan.

Julie menatap kosong di kejauhan. Richard belum datang.

Di manakah ia sekarang?

Julie tidak melihatnya lagi sejak kemarin. Anak laki-laki itu menghilang begitu saja, lenyap seperti ditelan angin, tidak pernah muncul lagi di hadapannya. Bahkan Richard tidak terlihat di koridor sekolah.

“Julie. Aku ingin kau mengatakan dengan jujur,” tanya Kayla suatu ketika. “Apa kau menyukai Richard?”

Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Julie.

“Tidak,” jawab Julie cepat.

Mereka kemarin sempat membahas hal itu. Jessie dan Nick sempat mengungkitnya sekali-sekali. Mereka ingin tahu apa yang Julie pikirkan tentang Richard. Tapi seperti biasa, gadis itu selalu mengalihkan topiknya. Ia tidak pernah mau menjawabnya.

“Kalian berdua suka membuat segalanya menjadi sulit, Julie. Kau dan Richard,” sergah Kayla frustasi. “Ini semua tidak akan terjadi seandainya kalian saling berterusterang satu sama lain.”

Julie menyengir masam. Ia tak mengerti kenapa ia tetap tak pernah bisa mengungkapkan hal itu. Ia memang menyukai Richard. Bahkan kejadian kemarin semakin menguatkannya.

Sebuah kenyataan yang tidak ingin ia rasakan.

“Kau harus jujur padaku, Julie,” kata Kayla. “Aku akan bertanya sekali lagi dan aku tidak akan bertanya lagi. Apakah kau menyukai Richard?”

“Tidak.” Julie mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya. “Aku tidak menyukainya.”

Kayla memicingkan mata.

“Baiklah. Kalau memang begitu,” kata Kayla, hampir kehabisan akal. Ia mencoba pendekatan lain. “Setidaknya katakan padaku, apa yang kau rasakan saat Richard mengakui rasa sukanya padamu?”

Julie membayangkan anak laki-laki itu lagi. Suaranya yang lembut itu telah membuatnya bersikap tidak normal dan kesulitan bernapas. Suara yang sama yang mengatakan rasa sukanya pada  Julie. Suara yang sama yang menanyakan perasaan Julie pada dirinya.

Apakah kau menyukaiku, Julie?

Ia tidak ingin menjawabnya.

“Entahlah. Aku tak ingin memikirkannya,” jawab Julie cepat. Ia mengalihkan pertanyaan itu dengan sebuah pertanyaan baru. “Ngomong-ngomong, di mana Nick?”

Jessie mengangkat pundaknya.

“Kurasa Nick sedang bersama dengan Richard sekarang,” kata Jessie. “Kemarin dia meminta izin padaku untuk menghabiskan waktu lebih banyak bersama Richard, karena—yeah—suasana hatinya sedang sangat kacau dan dia butuh seorang teman yang menemaninya.”

Gadis itu menengadah, menatap Julie lekat-lekat di balik kulit wajahnya yang berbintik-bintik dengan maksud usil.

“Dan itu semua karenamu, Julie. Sang. Penakluk. Pangeran.”

Julie meringis. Ia tahu Jessie hanya bercanda, tapi julukan itu benar-benar tidak terdengar menyenangkan hatinya. Ia tidak menanggapi godaan dari Jessie.

“Dan Lucy?”

“Lucy sudah meminta izin padaku,” kata Kayla. “Dia harus berada di perpustakaan karena mengerjakan paper-nya. Aku belum bercerita banyak padanya, tapi sepertinya Lucy sudah tahu dari rumor-rumor yang beredar tentang kejadian kemarin sore. Ia meminta maaf karena tidak bisa berada di sini bersama dengan kita, tapi aku sudah mengatakan padanya untuk tidak perlu khawatir.”

Julie mengangguk.

“Oh, ya,” tambah Jessie, baru saja mengingatnya. “Aku juga berpapasan dengan Cassandra tadi. Dia bilang dia ingin ke toilet sebentar. Aku tak tahu apa yang ia lakukan di toilet sampai selama ini.”

Mereka bertiga pun melanjutkan makan siang dengan kehampaan. Rasanya sangat sepi. Biasanya di jam-jam segini akan selalu ada salah seorang dari mereka yang akan menceritakan pengalaman-pengalaman yang lucu saat mengikuti pelajaran di kelas pertama—apalagi hari ini ada Kelas Prancis. Mereka akan menertawakan kelakuan Julie yang kikuk. Dan keramaian di meja makan mereka akan mengundang perhatian orang-orang di sekeliling karena mereka terlalu berisik.

Tapi kali ini, mereka bertiga hanya fokus saja pada makanan di atas piring mereka. Tanpa percakapan aneh. Tanpa akting drama Cathy. Tanpa kehebohan apa pun.

Rasanya ada sesuatu yang hilang.

Julie memandang Cathy dari kejauhan. Gadis itu benar-benar terasa jauh dari mereka. Cathy tak sedikit pun melihat ke arah mereka, ia tampak seperti orang yang benar-benar berbeda dari yang pernah mereka kenal. Ia sekarang sedang bertukar kursi dengan Sonia Edmund, sambil menertawakan sesuatu yang terlalu menggelitik perutnya. Entah apa yang mereka bicarakan.

“Ini terasa aneh,” kata Julie.

“Apa?” tanya Jessie.

Yeah, situasi ini. Kita bertiga di sini, dan Cathy di sana,” kata Julie. “Aku merasa seperti kehilangan sesuatu siang ini. The Lady Witches tanpa Cathy. Dan Cathy tanpa The Lady Witches. Ini rasanya bukan kita.”

Kayla mengangguk pelan.

“Kau benar,” kata Kayla. “Aku sudah mencoba menemui Cathy sejak tadi pagi, Julie, tapi gadis itu selalu menghindariku. Dia benar-benar menghindariku. Aku tidak bisa mendekatinya sama sekali. Dia tidak lagi mematikan ponselnya, tapi dia tidak pernah mau mengangkat telepon dariku atau membalas pesan. Dia menyingkir saat melihatku di sekitarnya. Dan sekarang, dengan keberadaannya di geng Pinky Winky, kurasa Cathy secara tidak langsung telah mengumumkan kalau ia ingin keluar dari kelompok kita.”

Julie menghela napas.

“Apa tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membujuknya?” tanya Julie.

“Entahlah,” kata Kayla. “Aku sedang memikirkannya, Julie. Kau tahu, gadis itu sangat mudah mengamuk jika kita melakukan hal-hal yang bodoh. Aku harus lebih berhati-hati lagi kali ini.”

Situasi seperti ini benar-benar bukan situasi yang Julie sukai. Selama ini ia tak pernah sedikit pun menyukai hal-hal yang mengundang permasalahan. Ia selalu dapat memilih untuk bersikap lebih santai dan cuek, biasanya ia tak memang pernah ambil pusing memikirkan hal-hal yang terjadi di sekelilingnya. Namun kali ini Julie harus mengakui, hari ini ia tidak dapat lagi merasakan ketenangan itu. Perselisihan dengan Cathy ini terus-menerus mengganggu pikirannya, meskipun ia berkali-kali mencoba untuk tidak mengabaikannya. Ia merasa tidak bisa lagi terlalu lama berdiam diri dan berharap semuanya akan berubah baik-baik saja.

Ia harus melakukan sesuatu.

“Kita bisa menghampirinya di meja itu sekarang, selagi Cathy masih ada di sana,” kata Julie, memberi gagasan. “Aku akan meminta maaf, atau melakukan apa pun yang ia mau, asal ia mau kembali dengan kita. Bagaimana menurutmu?”

Jessie melompat marah.

“TIDAK.” Jessie mendadak mengeluarkan kemarahannya, yang ternyata telah berusaha ia tahan sejak lama. Ia mengerutkan keningnya dan mengepalkan tinjunya, kentara sekali terlihat sangat jengkel.

“Dia akan menamparmu lagi, Bodoh! Dan sekarang dia akan melakukannya di depan teman-teman barunya! Kau bodoh!” kata Jessie. Ia menggeram kesal. “Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.”

Kening Jessie berkerut masam. Alisnya bertaut. Ia memandang garang pada Cathy yang tampak dari kejauhan.

“Kau tahu? Aku sangat kesal padanya tiap kali mengingat kejadian itu. Aku tidak pernah bisa terima perlakuannya padamu. Dia seperti orang lain, dia bukan sahabatku,” kata Jessie, meletup-letup. “Dan jangan sampai aku meninjunya karena mencoba memukulmu lagi.”

Julie bergidik. Jessie tak biasanya bersikap seperti ini.

“Kurasa Jessie benar, Julie. Ada baiknya kalau kita memberi Cathy waktu untuk menenangkan diri,” kata Kayla, memberikan pengertian. “Untuk saat ini kita biarkan saja dulu seperti itu. Nanti kalau ia sudah sedikit lebih tenang, aku akan mencoba untuk membujuknya lagi, Julie. Pada saatnya, ia akan kembali lagi pada kita nanti. Ia pasti akan memaafkanmu. Bersabarlah. Kita harus memberinya sedikit waktu untuk berpikir jernih.”

“Tidak, tidak, Kay. Kali ini aku tidak setuju,” kata Jessie, memotong cepat-cepat. “Memberi dia waktu? Sampai kapan? Kupikir selama ini kita sudah cukup berbaik hati padanya. Di tengah segala keegoisannya selama ini, sudah berapa kali kita memaafkannya, mengalah, dan akhirnya tingkahnya justru semakin menjadi-jadi?”

Kayla bergumam. “Jess—”

“Tahu tidak? Kupikir kalau dia memang tidak mau diajak bicara dan menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik, biarkan saja dia dengan geng Pinky Winky itu. Aku tidak peduli,” kata Jessie. “Sejujurnya aku sudah muak dengan sifat manjanya yang sudah sangat keterlaluan. Dan saat kemarin dia menamparmu, Julie, itu adalah batas kesabaranku. Aku bahkan tidak peduli kalau dia tidak menjadi teman kita lagi. Biarkan saja dia seperti itu! Suatu saat, orang-orang di Pinky Winky juga akan muak dengan kelakuannya, aku jamin. Maksudku—siapa yang selama ini tahan dengan sifatnya? Hanya kita, kan? Hanya kita.”

Jessie terus-menerus menggerutu. “Hanya kita yang sanggup meladeni dan bersabar menjadi sahabatnya. Dan apa yang dia lakukan? Dia meninggalkan kita hanya karena Richard menyukai Julie! Teman macam apa itu? KONYOL.”

Kayla mencoba menenangkan.

“Jess, tenanglah. Aku tahu saat ini kau sedang kesal dengan Cathy. Kita—sedang kesal dengannya. Aku juga sebenarnya kesal,” kata Kayla. “Tapi tidak berarti kita—”

“Tidak, tidak, Kay! Aku tidak mau mendengar nasehat bijakmu kali ini,” bantah Jessie cepat-cepat. “Coba renungkan baik-baik. Berapa kali kita berkorban perasaan untuknya, memikirkan kepentingannya, mengalah untuknya, dan dia selalu bersikap semena-mena terhadap kita? Kau harus akui, Kay. Kau harus akui ini. Kali ini memang sudah saatnya kita memberi dia pelajaran.”

Setelah percakapan itu, mereka bertiga kembali melanjutkan makan siang mereka dalam keheningan. Jessie terlihat cukup keras kepala dan bertahan dengan pendapatnya. Kayla lebih berhati-hati mengeluarkan kata-katanya. Sementara itu, Julie merasa cukup pusing karena ia sangat tidak ingin menambah masalah lagi. Mereka bertiga terdiam cukup lama.

“Kau tahu, Julie? Sejujurnya—” kata Jessie suatu ketika, memecah keheningan dengan nada panjang yang menarik perhatian, “—saat aku mendengar bahwa Richard menyukaimu, aku tidak percaya itu.”

Jessie lalu mengusap hidungnya yang tidak gatal, menandaskan keseriusan yang ingin diteruskan. “Nick beberapa kali sempat mencetuskan kemungkinan itu. Gosip-gosip juga sudah berspekulasi dari dulu, aku tak mempedulikannya. Tapi, semua keyakinanku berubah saat aku mendengar kalimat itu sendiri dari Richard. Aku tidak bisa memungkiri itu sekarang. Richard menyukaimu, Julie. Orang yang kami gila-gilai dari dulu ternyata memilih menyukaimu. Dan itu bukanlah hal yang mudah untuk diterima. Well, yeah, untuk sebagian orang.”

Jessie mengangkat bahunya.

“Aku tidak bisa bilang kalau aku tidak cemburu. Tapi tidak seperti Cathy, aku tidak marah padamu.”

Jessie sekarang merendahkan suaranya. Wajahnya lebih kaku. Ia berbicara sangat lambat, seolah-olah secara langsung ingin menggarisbawahi bahwa kali ini ia ingin ditanggapi dengan lebih serius.

“Julie, kalau ada yang ingin kau katakan—katakan saja. Kau tidak berpikir kami akan bereaksi histeris seperti gadis itu, kan? Kupikir kami berdua sudah cukup dewasa untuk mendengarkan dengan baik.”

Gadis itu kini tak terlihat seperti gadis jahil yang biasanya Julie kenal. Ia berubah menjadi gadis simpatik yang sama yang dulu sempat mengkhawatirkan Cathy, yang berusaha menganalisis situasi yang terjadi. Pancaran kepedulian yang hangat memancar dari sikap Jessie yang memperhatikan.

Julie terdiam sebentar, memikirkan kemungkinan itu. Ia menggeliat, mengendurkan otot-ototnya di atas kursi.

“Baiklah. Ini hanya perumpamaan. Kalau seandainya aku mengatakan pada kalian bahwa aku menyukai Richard—apakah,” kata Julie ragu-ragu. “Apakah kalian juga akan pergi meninggalkanku?”

Julie menghentikan pertanyaannya. Dengan perasaan was-was, ia mengamati reaksi dari teman-temannya, berharap tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaan itu di luar harapannya.

Jessie memang tidak menjawab. Ia terdiam selama beberapa detik, seperti memikirkan sesuatu dengan amat serius, lalu kemudian membuka mulutnya.

“Tentu. Aku akan meninggalkanmu dan segera bergabung dengan kelompok Pinky Winky, karena mereka adalah geng kelas sepuluh yang paling keren di Nimberland, dan aku akan membuat mereka semua jatuh cinta padaku, dan aku akan menjadi ketua di sana—”

Julie mengerut bingung. Kayla berdehem. “Jess.”

Jessie kini tertawa lebar, sama lebarnya seperti ikat rambut besar yang sekarang ia pakai di rambutnya. “—lalu aku akan memaksa Cathy untuk meminta maaf padamu.”

Ekspresi Jessie langsung berubah seratus delapan puluh derajat, kehilangan mimik bijaksana yang menghiasi wajahnya tadi.

Ia merangkul Julie dengan gegabah, mencubit pipinya sehingga Julie berteriak kesakitan. Julie berusaha membebaskan diri dari rangkulan yang mulai mencekik lehernya itu, Jessie malah mencium pipinya dengan bibirnya yang basah penuh dengan air liur, yang membuat Julie berteriak jijik.

“Aku tidak mungkin meninggalkanmu, Julie. Kau sahabatku yang paling baik,” kata Jessie dengan optimistik, mencoba mencium Julie sekali lagi. “Kau kembaranku.”

“Air liurmu bau,” gerutu Julie sambil mendorong muka Jessie. Ia mengelap pipinya walaupun sebenarnya di dalam hatinya ia sangat menikmati perhatian yang diberikan sahabatnya. Tapi tetap saja, ia tampak sangat jengkel.

Air liur Jessie benar-benar bau.

“Julie sayang.”

Kayla tersenyum, menatap Julie dengan mata hitamnya yang lembut. Kehangatan yang terpancar dari sorot mata yang sangat keibuan itu. Ekspresi lembut menggayuti wajahnya.

“Kalau Bumi terbelah dua dan langit akan runtuh sekalipun, aku akan tetap menjadi sahabatmu,” kata Kayla sambil memegang tangan Julie dengan hangat, memancarkan ketenangan. “Jangan pernah lupakan itu, Julie.”

Jessie memotong cepat.

“Kau yakin, Kay? Kalau Bumi terbelah dua dan langit akan runtuh, alien berwajah sapi dari Planet Mars akan menculik Julie dan mengadopsinya lalu mengoperasi plastik mukanya karena mukanya terlalu mirip sapi, sehingga—“ Jessie berteriak saat Julie menarik poninya dengan kasar. “—aak!”

Mereka berkelahi lagi seperti anak kecil.

Kali ini, Kayla tidak melerai pertengkaran mereka. Ia membiarkan kedua anak kecil itu saling berkelahi. Kayla tahu saat ini itulah yang dibutuhkan oleh Julie. Gadis itu mungkin tidak pernah mengungkapkan perasaannya, tapi Kayla tahu bahwa jauh di dalam hatinya, gadis itu sedang berusaha menahan kesedihan.

Julie dan Jessie telah berkelahi cukup lama sampai akhirnya mereka sendiri kelelahan. Jessie menyeruput sedotan terakhirnya, sementara itu Julie menghabiskan saladnya sambil memandang kejauhan, ke arah Cathy berada.

“Jika ada yang bisa kulakukan untuk memperbaiki hub—” kata Julie.

“Tidak!” potong Jessie cepat-cepat. Ia sudah bisa menebak apa yang akan Julie katakan. Ia terlihat dingin dan ketus. “Tidak. Tidak ada yang perlu kita lakukan. Sudah kubilang, TIDAK ADA.”

“Tapi—” Julie terbata-bata.

“Tidak.”

“Mungkin aku harus—” kata Julie.

“TIDAK.”

“Ayolah.”

Jessie bergemuruh gerah.

“Kalau ingin membahas soal Cathy lagi, Julie, aku tidak ingin berteman denganmu hari ini,” hardik Jessie. “Tidak hanya gadis manja itu, aku juga bisa marah dan merajuk. Dan aku akan terlihat sangat mengerikan saat aku melakukannya. Kau ingin melihat aku merajuk?”

Jessie berusaha keras menampilkan wajah datar terbaiknya.

“Ya,” goda Julie.

Sekarang Julie juga pura-pura memasang wajah datar tepat di depan muka Jessie. Kedua gadis itu saling berhadapan, sekuat tenaga menahan tawa. Jessie mencubit dirinya sendiri agar tidak terpedaya karena wajah tolol Julie yang mengaduk perutnya dengan hebat. Permainan mereka harus terhenti sejenak saat Kayla melihat Cassandra di pintu kafetaria.

“Itu dia Cassandra,” kata Kayla.

Jessie dan Julie menoleh kompak ke arah yang ditunjukkan Kayla. Dengan bersemangat, mereka akan melambaikan tangan untuk menyambut sahabat baik mereka yang telah ditunggu-tunggu itu. Tapi, keanehan terjadi karena Cassandra tidak berjalan ke arah mereka.

Sesuatu yang tidak mereka bayangkan. Cassandra kini memilih bergabung dengan meja Pinky Winky, bersama Cathy.

Mereka terkejut.

“Oh, kau pasti bercanda!” sontak Jessie. “Dia juga!?”

***

BACA SELANJUTNYA >>

18 – Bayangan

Comments 27 Standar

144914707

Richard merasa kalut. Pikirannya menerawang kemana-mana. Selama semalaman, ia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali.

Gadis itulah yang telah mengganggu pikirannya. Gadis yang pertama kali dilihatnya di pinggir jalan. Gadis itulah yang selalu menari-nari di pikirannya, hingga saat ini.

Dan gadis yang satu lagi. Gadis yang amat cantik. Gadis yang menjadi pujaan seluruh pria di sekolahnya.

Cathy.

Richard tidak bisa bilang bahwa ia tidak beruntung telah memiliki Cathy. Gadis itu secantik bidadari. Dari semua gadis yang pernah dilihatnya, ia rasa Cathylah yang paling cantik. Semua laki-laki menginginkannya. Semua.

Tapi bukan dirinya.

Gadis itulah yang paling ia inginkan.

Richard mengingat pertemuan pertamanya dengan gadis itu. Dalam perjalanannya menuju ke sekolah, ia melihat gadis itu dari kaca samping mobil ayahnya. Seorang gadis yang mengenakan seragam dari sekolah yang sama dengannya. Seorang gadis muda yang cukup menarik perhatiannya.

Gadis itu tampak begitu riang. Gadis itu tersenyum. Bukan tersenyum padanya. Gadis itu hanya tersenyum pada kucing jalanan berbulu hitam yang hampir saja membuat kakinya tersandung. Richard memandangi gadis itu sekali lagi dari kaca jendela belakang ketika mobilnya sudah bergerak semakin menjauh dari gadis itu, hingga akhirnya gadis itu menghilang di balik tikungan. Ia memang tidak bisa memandangnya lama, tapi hanya butuh waktu sepintas baginya untuk mengingat wajah itu.

Richard menemukan gadis itu lagi di ujung koridor sekolah. Gadis itu sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang anak laki-laki, yang secara bergantian menghampirinya dan menyita perhatiannya. Dan tak hanya mereka saja, masih ada beberapa orang lagi yang menunggu giliran untuk mengobrol dengan gadis itu. Semua orang membicarakannya. Mereka membicarakan kehidupannya di sekolahnya yang dulu. Mereka membicarakan tingkahnya yang konyol di kelas pertamanya. Semua menyukainya.

Selama di sekolah, Richard seringkali mencuri pandang ke arah gadis itu, setengah berharap bahwa gadis itu tidak akan melihat balik ke arahnya, meskipun pada kenyataannya gadis itu memang hampir tidak pernah melakukan itu. Mereka tidak pernah berkesempatan untuk berkenalan secara wajar. Takdir selalu membuat mereka berjauhan, entah kenapa. Mereka tidak pernah bisa bertemu. Richard juga tidak berani melakukan inisiatif pertama.

Ia terlalu pengecut.

Dalam suatu kebetulan yang disukainya, Richard akhirnya dapat bertemu dengan gadis itu lagi, seperti sebuah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan. Ia dapat menjadi dekat dengan gadis itu. Berinteraksi dengannya. Berkomunikasi dengannya. Richard menyukai saat gadis itu berbicara dengan suaranya yang lucu dan tawanya yang renyah. Richard menyukai gelagatnya yang unik dan selalu membuatnya penasaran. Richard menyukai saat ia dapat memandangi wajah gadis itu dari jarak dekat. Richard menikmati setiap pesona yang menyihirnya secara ganjil.

Tapi itu tidak dalam waktu yang lama. Gadis itu segera pergi lagi, meninggalkan dirinya yang dipenuhi oleh tanda tanya. Gadis itu membuatnya kecewa. Gadis itu tak memahami perasaannya.

Gadis itu menyakiti perasaannya.

Richard tak mengerti. Richard tak berani untuk mengutarakan. Richard tak berani untuk mendekat. Richard bahkan tak tahu bagaimana cara mendapatkan hati gadis itu. Richard hanya berpikir kalau gadis itu mungkin tak akan pernah menyukainya. Richard kemudian memilih untuk belajar mengubur perasaannya. Ia berharap semoga perasaan itu semakin redup bersamaan dengan berjalannya waktu. Tapi dugaan Richard sangat keliru.

Gadis itu sangat sulit untuk dilupakan.

Semakin Richard berusaha untuk melupakannya, semakin kuat keinginannya untuk mengingatnya kembali. Tingkah lakunya yang jenaka selalu berhasil membuat Richard mengenyahkan keinginan itu, melupakan itu jauh-jauh dari pikirannya. Jika gadis itu di dekatnya, rasanya segala kesedihan dan beban hidupnya telah terangkat. Keberadaannya membuat aura kehidupannya kembali bergelora. Gadis itu adalah magnet bagi keceriaannya. Tapi satu hal yang pasti—gadis itu tidak pernah tergapai.

Seluruh perasaan ini sangat menyiksanya. Selama berbulan-bulan Richard mencoba meyakinkan perasaannya sendiri. Menyiksa diri dengan impian-impian dan terlarut dalam angan-angan yang diciptakannya sendiri. Ingin sekali ia menenggelamkan dirinya di tengah lautan, membekukan hatinya, semata-mata hanya untuk menghilangkan perasaan itu dari dirinya.

Semua keinginan ini telah membuatnya melakukan kesalahan. Kehilangan logika yang menjadi kekuatannya. Melakukan sebuah kebodohan yang menyakiti dirinya sendiri. Melakukan kepura-puraan yang akhirnya menyakiti hati orang lain, gadis lain yang mencintainya. Dan sekarang, ia menyadari ternyata selama ini ia hanya memimpikan harapan semu. Harapan semu yang telah membuatnya kehilangan segalanya.

Sebuah kebodohan yang dimulai dari rasa takut untuk kehilangan.

Richard mengambil sehelai kertas dan ballpoint hitam milik ayahnya yang berada di laci. Richard sebenarnya tidak cukup tertarik pada sastra, tapi entah mengapa menurutnya saat ini lebih mudah untuk melarikan diri dari segala kepenatan ini dengan menyatakannya dalam sebuah puisi.

Sebuah puisi lagi—puisi kerinduan.

 

I wish I was in fairy tale

Lived myself in a happy ending story

Caught her fascinating smile

without feeling any guilty

 

Sekarang, semuanya telah berakhir.

 

BACA SELANJUTNYA >>

16. Sesi Kejujuran (2)

Comments 32 Standar

27311174-sad-girl-with-broken-heart-on-her-shirt-and-tear

Julie membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa berat dan pusing. Samar-samar ia melihat Lily sedang mondar-mandir di dalam kamarnya, memindahkan barang-barangnya dari tempatnya.

“Butuh waktu setahun untuk membersihkan kamarmu, Julie,” kata Lily ketika menyadari gadis itu telah terbangun dari tidurnya. “Dan kenapa kau masih menyimpan potongan donat di bawah meja? Itu menjijikkan.”

Julie berkerut saat menyadari ada selembar fever patch yang menempel di dahinya.

“Mom,” kata Julie. “Apa yang kau lakukan?”

“Membersihkan kamarmu. Memangnya apa lagi?” tukas Lily. “Kau tahu? Aku ingin menari hula-hula di depanmu. Tapi aku harus membersihkan rongsokan ini terlebih dahulu. Sudah berapa lama aku menyuruhmu merapikan lemarimu, Julie? Sekarang kecoa-kecoa sudah berkembang biak dan membangun sebuah negara di sana.”

Lily menceracau tanpa henti.

“Dan kau tahu? Ponselmu bergetar terus,” kata Lily. “Aku mencoba mengangkatnya sekali, setelah itu dia meminta nomor PIN padaku. Kau harus berhenti mencurigai aku, Julie.”

Julie mengambil ponselnya. Lima puluh lima panggilan tidak terjawab. Satu dari Cathy. Dua dari Cassandra. Tiga dari Lucy. Lima dari Kayla. Dan harusnya Julie tidak terkejut dengan kenyataan ini. Empat puluh empat–dari Jessie. Dan sebelas pesan masuk dari teman-temannya. Semuanya menanyakan di mana keberadaan Julie.

Ada satu lagi pesan dari nomor tidak dikenal. Julie tidak pernah menyimpan nomor ini sebelumnya, tapi entah kenapa terasa familiar. Napas Julie terhenti saat mengetahui siapa yang mengirimkannya.

Aku sangat khawatir padamu.
Apakah kau baik-baik saja?

Richard.

Jantung Julie berdegup kencang. Tangannya menggigil dan tanpa sengaja ia melepas ponsel itu dari tangannya.

“Jadi, katakan padaku,” kata Lily. “Siapa anak laki-laki itu?”

Julie mengernyit.

“Apa?”

Lily tersenyum miring. “Yang membuatmu sakit.”

Julie merasa pertanyaan ibunya sangat konyol, ia tidak tertarik untuk menjawab.

“Ayolah,” kata Lily. Ia tergelak. “Kau tidak pernah sakit, Julie. Terakhir kali kau sakit, dan itu delapan tahun yang lalu–” Lily memanggil kembali memori masa lalunya, “–saat kau berumur tujuh tahun.”

Lily melipat baju terakhir yang tergantung di tangannya dan memasukkannya ke dalam drawer.

“Siapa namanya?”

Julie terdiam sebentar. Tapi bayangan anak laki-laki itu terus-menerus membuatnya gelisah. Entah kenapa, kini ia tidak dapat menahannya lagi.

“Richard,” katanya pelan.

Julie menyingkirkan ponselnya dari jangkauannya. Ia meletakkannya di belakang bantal.

“Richard?” tanya Lily.

Lily mengambil koran sekolah dan memperlihatkan halaman yang berisikan foto seorang anak laki-laki di sana, yang tadi dilihatnya saat merapikan tempat tidur Julie.

“Maksudmu, anak laki-laki tampan ini?” kata Lily.

Wajah Lily tiba-tiba merekah. Ia membentuk senyuman yang lebar. Ia memperhatikan foto itu dengan lekat-lekat, seolah-olah matanya tak dapat lepas dari setiap detail wajah yang mempesona itu.

“Mom, aku tak ingin membicarakannya,” kata Julie. Ia memalingkan wajahnya.

“Dari dulu seleramu selalu bagus, Julie,” kata Lily sambil mengangguk, tidak menghiraukan perkataan Julie. “Sangat tampan, benar-benar sangat tampan. Anak ini–Richard Soulwind? Apa kau menyukainya?”

Julie menjawab cepat. “Tidak.”

Lily tersenyum menggoda.

“Ayolah.”

“Kau tidak mendengarku, Mom?” jawab Julie. “Aku tidak ingin membicarakannya lagi. Jadi, berhentilah menggangguku.”

“Kau suka padanya.”

“Tidak.”

“Suka.”

“Tidak.”

“Iya.”

“Mom,” protes Julie. “Kau membuat kepalaku semakin sakit.”

Lily mengangkat tangan tanda menyerah.

“Baiklah, baiklah,” kata Lily akhirnya. “Kalau kau tak mau cerita, tidak apa-apa. Sekarang aku akan ke bawah, menyiapkan makan siang, dan membawakan obat untukmu. Apakah kau ingin kubawakan sesuatu?”

“Tidak,” kata Julie.

Lily meletakkan koran sekolah itu di atas ranjang, bersiap-siap pergi. Julie memperhatikan ibunya dengan seksama. Ia merasakan ada yang aneh dengan keberadaan ibunya. Ia tiba-tiba menyadari sesuatu. “Mom? Bukankah hari ini kau harus bertemu dengan klienmu?”

Lily tidak langsung menjawab.

“Hah?” tanya Lily, pura-pura tolol. Ia lalu terkikik. “Oh ya. Benar.”

Julie benar-benar bingung karena Lily menutup pintu kamarnya begitu saja dan menghilang tanpa penjelasan. Sekarang ia sendirian di dalam kamar. Julie memutuskan untuk mengambil kembali ponselnya dan memperhatikan lagi pesan dari Richard. Pesan itu dikirimkan kemarin pukul tujuh malam, ketika ia sudah tertidur.

Ia membayangkan suara Richard yang merdu mengucapkan kalimat itu padanya dengan wajahnya yang khawatir.

“Apa yang kupikirkan?” gumam Julie. Ia tidak mengerti. Dadanya sangat sakit.

Ia melihat koran sekolah di samping tempat tidurnya. Ia melihat puisi Richard yang terpampang di halaman paling atas. Ia teringat lagi dengan gagasan bodohnya tadi malam. Gagasan yang sangat bodoh.

Tidak mungkin.

“Bodoh,” umpat Julie. Ia berguling-guling untuk mengenyahkan gagasan itu dari pikirannya, sesegera mungkin.

Ia mulai berpikir apakah ia memang menyukai Richard. Tapi ia tak mengerti apakah rasanya memang seperti ini. Richard selalu membuat organ-organ tubuhnya berbuat hal-hal aneh yang tidak ia inginkan, dan anak laki-laki itu selalu membuatnya ingin melarikan diri. Ia ingin sekali menjauh dari anak laki-laki itu. Tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang mengatakan bahwa itu tidak benar.

Sesuatu yang asing.

Sekelebat bayangan Richard mengenakan baju Hawaii biru mengusik benak Julie lagi. Wajahnya sangat tampan seperti malaikat, dan mata birunya bersinar cemerlang. Ia tersenyum dengan bibirnya yang manis seperti gulali, dan suara tawanya yang merdu terdengar meneduhkan. Entah mengapa, sekarang ia ingin sekali mendengar suara itu lagi.

Ia benar-benar pusing.

Terdengar bunyi berderak-derak dari gagang pintu yang bergetar karena Lily berusaha membuka pintu dengan sikunya. Dua tangannya sedang sibuk mengangkat baki yang berisikan semangkuk sup dan segelas air putih yang dibawanya secara hati-hati dan penuh keseimbangan, sementara itu sikunya dengan lihai memainkan peranan barunya yang signifikan. Ia lalu berjingkat pelan dan mendorong pintu itu dengan punggungnya saat pintu itu mulai terbuka.

“Makanan datang!” kata Lily dengan antusias.

Julie mencoba bangkit dari tidurnya dan bersandar di papan ranjang dalam posisi setengah duduk. Lily mulai menyuapinya seperti bayi, dan Julie menyambut dengan lemah. Ia sesungguhnya tidak berselera makan sama sekali, tapi ia justru melahap suapan sup dari ibunya dengan sangat cepat.

“Kelaparan ya, hah?” kata Lily sambil terkikih. Ia melanjutkan suapan itu dengan wajah senang. “Tentu saja. Kau kan belum makan apa-apa sejak pagi. Dan lagi, kau makan malam terlalu cepat kemarin, ya kan Julie? Apa yang kau makan di kedai Steak~Stack–ngomong-ngomong?”

Julie menjawab tanpa semangat. “Kentang goreng.”

Mata Lily terbelalak.

“Kentang goreng??” jerit Lily, seolah-olah seluruh dunia akan runtuh menimpa kepalanya. “Badanmu sudah kering kerontang seperti gurun pasir, Julie! Tidakkah kau lihat itu!? Dan kau benar-benar kurang asupan gizi sekarang. Orang-orang akan berpikir kau adalah tongkat yang bisa berjalan.”

Julie selalu berpikir kalau Lily benar-benar mirip dengan Cathy saat ia berteriak dramatis, tapi kali ini ia merasakan perasaan yang berbeda saat ibunya tiba-tiba memandangnya dengan lembut dan menyentuh tangannya.

“Kau adalah orang yang paling penting dalam hidupku, Julie,” kata Lily dengan suara yang nyaris terdengar. “Dan kau tak pernah menyadarinya.”

Lily terdiam sejenak.

“Wajar saja kalau kau jadi sakit sekarang dan menyusahkanku–”

Lily berdehem nakal. “–kalau bukan karena Richard.”

“Mom!”

Julie langsung menyesali kenapa ia mengatakan soal Richard pada ibunya. Itu adalah keputusan yang sangat bodoh. Normalnya, ia tidak akan pernah mengatakan apa pun pada ibunya. Apalagi soal Richard. Ia bahkan tidak pernah mengatakannya pada siapa pun. Demamnya hari ini malah membuatnya semakin tidak cerdas.

“Mom,” gumam Julie, mencoba mengungkit lagi topik yang tadi ingin diketahuinya. “Bagaimana dengan meeting-mu? Kau tidak membatalkannya karena aku, kan?”

Julie ingat benar kalau ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh ibunya. Lily sudah mempersiapkan ini sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Mereka bahkan telah mempersiapkan jadwal piket hari ini untuk Julie menggantikan tugas Lily di rumah. Julie tidak ingin percaya kalau ia membatalkan semuanya begitu saja.

Lily mengangkat bahunya.

“Apa yang bisa kulakukan?” kata Lily, mencoba menambahkan pernyataan itu dengan nada humor. “Aku sudah menelepon Mr.Thompson untuk menegosiasikan pertemuan pengganti, tapi sepertinya ia tidak begitu senang. Kurasa aku harus mengikhlaskannya saja. Masih banyak ikan di laut, kan?”

Wanita itu tersenyum, tapi siapa pun bisa melihat semburat kekecewaan di balik wajahnya. Bahkan Julie mampu mengenali gurat kesedihan yang sangat jarang ia lihat dari ibunya.

“Pertemuan ini adalah salah satu mimpiku,” kata Lily. “Tapi kalau Tuhan mengatakan belum saatnya, berarti memang belum saatnya. Yah, anggap saja ini bukan hari keberuntunganku.”

Wanita itu membereskan peralatan makan yang sudah selesai dan mengambil obat dari bakinya.

Julie merasa tidak enak. “Mom, aku minta maaf. Seandainya saja aku tidak sakit hari ini, aku–”

“JULIE–” potong Lily. “Sudah berakhir. Tidak perlu dibahas lagi. Dan yang terpenting–” Lily tersenyum menuntut. “–kau harus bertanggung jawab sekarang. Ceritakan padaku tentang Richard.”

“Kau seharusnya tetap pergi ke meeting itu, Mom. Aku bisa mengurus diriku sendiri,” kata Julie.

Lily tertawa. “Jangan bercanda.”

Ia mencoba menyuapi Julie dengan sebutir paracetamol, meskipun mulut gadis itu malah sibuk dengan argumentasi-argumentasi konyol yang akan membuatnya menyesal dengan keputusannya hari ini. Gadis itu baru terdiam saat Lily memaksanya menelan obat.

“Aku belajar dari pengalamanku, Julie,” kata Lily kemudian. Ia teringat dengan kepergian janin pertamanya, alasan utama kenapa ia tak bisa meninggalkan Julie hari ini. “Ada hal-hal yang harus mendapat perhatian lebih dibandingkan dengan hal-hal lainnya. Hidup ini tidak selalu mudah, kau tahu? Itulah sebabnya kau harus menceritakan padaku soal Richard.”

“Mom,” protes Julie.

Lily tertawa kecil, menatap tidak percaya.

“Julie–setelah pengorbananku hari ini, kau masih ingin merahasiakannya dariku?” kata Lily. “Serius? Kau tidak kasihan padaku?”

Julie mendesah panjang. Ia harus memikirkan masak-masak keputusannya kali ini. Hanya saja, pikirannya terlalu kalut untuk dapat berpikir dengan jernih. Dan ibunya saat ini mungkin hanya satu-satunya orang yang dapat ia percaya. Ia tidak punya pilihan lain.

“Baiklah,” kata Julie. “Hanya saja–kumohon jangan beritahukan siapa-siapa. Jangan pernah! Kau harus berjanji, Mom.”

Lily mengangguk mantap, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tidak akan senang kalau kata-katanya nanti malah membuat gadis ini berubah pikiran.

Julie menarik napas panjang. Sangat panjang.

“Anak laki-laki ini–Richard–adalah temanku di sekolah. Aku tak pernah sekelas dengannya,” kata Julie. ” Tidak sekali pun.”

“Kami hampir tak pernah bertemu sampai pertengahan semester. Aku bahkan selalu menghindarinya. Tapi semua orang membicarakannya, Mom. Semua gadis. Dia seperti magnet bagi para gadis di sekolah,” kata Julie. “Teman-temanku selalu membicarakannya. Sepanjang waktu. Setiap hari. Kapan pun. Di mana pun. Sampai-sampai aku mau muntah setiap kali aku mendengar namanya.”

Julie mengulum senyumnya dengan jenaka, mengingat betapa konyolnya kejadian itu. Matanya menerawang jauh. Rasanya seperti sudah terjadi sangat jauh di masa lalu.

“Dan kemudian, datanglah kesempatan itu. Aku dipaksa ketua klub koran sekolahku untuk mewawancarainya, dan akhirnya kami berkenalan,” ungkapnya. “Aku tak pernah bisa mengerti kenapa sejak dulu setiap kali berada di sekitarnya, aku tidak pernah merasa nyaman. Lututku selalu mencair, dan napasku tercekat, seolah-olah ia akan menghisap darahku seperti drakula. Aku tak tahu kenapa, tapi buatku, dia seperti Anak Laki-Laki dari Neraka. Orang yang kupikir tidak ingin aku temui sampai kapan pun dalam hidupku.”

Ia menegaskan itu seolah-olah hal yang sangat penting.

“Tapi sejak pertemuan wawancara itu, aku akhirnya tahu, Richard adalah anak laki-laki yang baik dan menyenangkan. Tidak seburuk yang kukira,” kata Julie. Ia tersenyum. “Kami akhirnya berteman untuk beberapa lama. Dia bahkan membantuku mengerjakan tugas Kelas Prancis.”

Lily mengangkat alisnya. Cerita ini terdengar sangat menarik.

“Richard ini, seperti apakah orangnya?” tanya Lily penasaran.

“Dia tampan. Dia sangat sopan dan cerdas. Dia selalu berkata lembut kapan pun ia mengeluarkan suara,” ungkapnya. “Ia sangat jarang berbicara, Mom. Tapi kau tidak akan melupakan suaranya yang merdu dan ramah. Dia bahkan berhasil membuatku menyukai bahasa Prancis.” Julie tiba-tiba menyadari ucapannya yang terdengar ganjil saat ibunya mendelik. “Yeah, yeah. HANYA JIKA dia yang mengucapkannya. Mom, kau tahu kalau aku sangat membenci kelas Prancis.”

Lily tertawa. “Lalu, apa yang terjadi?”

“Karena suatu kesalahpahaman, puisi yang ia buatkan untukku–aku sempat memintanya secara iseng saat wawancara–malah tercetak di koran sekolah dan membuat teman-temanku marah.” Julie mendesah. “Itu adalah awal dari segalanya.”

“Puisi?” tanya Lily.

“Ya, sebuah puisi. Hanya puisi biasa, Mom. Aku memintanya saat wawancara karena kudengar ia sangat piawai dalam merangkai kata-kata. Aku hanya penasaran saja. Dan memang sangat bagus,” kata Julie. “Tapi orang-orang akan menganggapnya lain. Itulah sebabnya aku merobeknya. Aku tidak ingin siapa pun melihatnya. Dan dia melihatku merobeknya. Kurasa dia tersinggung atau marah. Hubungan kami memburuk sejak saat itu.”

“Kenapa kau merobeknya, Julie?” tanya Lily, menggugah perhatian Julie.

“Aku tak tahu,” keluh Julie. “Aku hanya tak ingin siapa pun melihatnya. Mereka akan salah paham. Apalagi Cathy.”

“Cathy?” tanya Lily, mencoba mengingat-ingat. “Oh. Gadis Latin yang sangat cantik itu, kan?”

Julie mengangguk.

“Cathy sangat menyukai Richard. Dia pasti sangat marah jika mengetahui Richard membuatkan puisi untukku. Dan dia memang marah,” kata Julie. “Perlu waktu yang lama untuk berbaikan dengannya. Setidaknya–kalau saja Richard tidak memintanya menjadi pacarnya, akan lebih sulit bagiku untuk membuatnya percaya lagi padaku.”

“Richard apa?” tanya Lily setengah bingung.

“Richard sekarang berpacaran dengan Cathy, Mom,” kata Julie. “Dan hubungan kami mulai membaik lagi. Aku dan Cathy. Aku dan Richard. Semua sudah kembali seperti semula,” kata Julie. “Bahkan Richard membantuku lagi mengerjakan tugas Prancis kemarin sore. Cerpen Prancis.”

“Jadi, apa masalahnya?”

“Entahlah. Aku tak tahu.”

Julie sejujurnya memang tidak mengerti apa yang menjadi masalah dalam hidupnya saat ini. Hanya saja, entah kenapa ia merasa sangat sedih. Ia ingin memperbaiki keadaan yang bahkan ia tidak mengerti sama sekali. Ia benar-benar bingung.

“Aku tak pernah menceritakan ini pada siapa pun. Aku selalu merahasiakan pertemuanku dengan Richard dari teman-temanku,” kata Julie. “Aku tidak ingin mereka berpikir yang tidak-tidak. Mereka benar-benar menggila-gilai Richard. Sementara itu, mereka tahu kalau aku tidak pernah peduli pada anak laki-laki itu. Mereka akan membenciku jika mengetahui bahwa aku menemui Richard beberapa kali. Cathy akan membenciku.”

“Jadi, apa kau menyukainya?” tanya Lily.

“Tidak, aku–” potong Julie cepat. Ia terhenti sejenak. Ia mendesah panjang. “Tidak.”

Lily mengambil koran sekolah yang tergeletak di sampingnya. Ia mengamati wajah Richard sekali lagi, mencoba membayangkan seperti apakah wajah anak laki-laki itu dalam bentuk 3-dimensi. Wajah itu tidak membosankan untuk dipandang, seolah-olah menyita seluruh waktu mengagumi keindahannya.

Lily baru menyadari kalau ada sebuah puisi di halaman yang sama, di pojok kanan bawah. Melihat judul tulisan dan sub judul di bawahnya, sangat jelas bahwa ini adalah puisi yang dimaksudkan oleh Julie tadi.

“Puisi ini sangat manis,” kata Lily. “Dan anak ini sangat rupawan. Kalau aku jadi kau, aku pasti jatuh cinta padanya.” Lily mengamati puisi itu sekali lagi dan berteriak, “July! Julie. The summer of love. Kalau aku tidak mendengar ceritamu, aku pasti berpikir kalau dia menyukaimu, Julie. Puisi ini indah sekali.”

Julie tahu persis kalau kenyataannya adalah sebaliknya. Richard menyukai Cathy. Richard selalu menyukai Cathy. Dan tak ada yang salah dengan hal ini.

Tidak ada.

“Dia memang jenius. Dia juga membuatnya untuk Cathy Pierre, Mom. Gadis tercantik, sahabatku–”

Bibir Julie bergetar.

“–dan dia sangat mencintai gadis itu. Kekasihnya.”

“Kau cemburu?” tanya Lily. Ia menatap Julie dalam-dalam. “Akuilah Julie. Kau juga menyukainya, kan?”

Julie menggeleng lemah. “Tidak. Aku hanya–” Napasnya tersengal. Tanpa disadarinya, air matanya telah menggenang membasahi pipinya. “Kepalaku sakit, Mom. Demam.”

“Oh, Sayang,” kata Lily. Ia memeluk Julie dengan erat. Tubuh Julie sangat panas dan lemah, ia bisa merasakan air mata Julie mengalir di bahunya.

Ini pertama kalinya ia melihat Julie menangis, setelah bertahun-tahun lamanya ia tidak pernah merasakan kesedihan dari wajah gadis kecilnya itu.

“Sekarang, maukah kau mengakui padaku kalau kau juga menyukainya?” pinta Lily. Ia membelai rambut Julie dengan lembut. “Kau menyukainya, Julie.”

Julie tak bisa menahan matanya yang semakin panas.

“Katakan,” tukas Lily.

Julie hanya terdiam, namun ia merasakan pedih yang menyengat di dadanya.

“Katakan, Julie!”

“Aku–menyukainya.” Bibirnya terasa kelu.

“Lihat? Betapa mudahnya mengakui perasaanmu?” kata Lily. “Kau tidak akan bisa menghilangkannya jika kau terus-menerus menyangkalnya. Kenapa kau begitu sulit mengakui kalau kau mencintai dia?”

Napas Julie sesak hanya karena memikirkan hal itu. “Kenapa ini terasa menyakitkan? Aku tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya,” kata Julie. “Aku tidak ingin merasakannya lagi, Mom.”

Lily terkikih. “Tidak sesederhana itu.”

“Apa yang harus kulakukan?” tanya Julie.

“Katakan yang sebenarnya pada teman-temanmu. Katakan yang sebenarnya pada Richard. Katakan kalau kau menyukainya,” kata Lily. “Memulainya dengan mengatakan kebenaran akan memberikanmu petunjuk bagaimana cara menyelesaikan masalah ini. Jangan sembunyikan lagi perasaanmu.”

Julie tercengang. Baginya, itu sama sekali bukan pilihan.

“Aku tak bisa,” tukas Julie. “Aku tak bisa melakukannya, Mom. Aku bisa kehilangan teman-temanku.”

Lily berkata dengan sabar.

“Aku tahu ini tak mudah. Tapi, kejujuran adalah hal yang tepat untuk dilakukan, sweetheart. Dan menunda masalah bukan jawabanmu. Kau tetap harus menghadapinya–cepat atau lambat,” kata Lily sekali lagi, berusaha meyakinkan putrinya. “Jika mereka memang teman-temanmu, mereka tidak akan pergi meninggalkanmu. Percayalah itu, Sayang.”

Julie hanya menunduk. Ia menggigit bibirnya dan berpikir panjang.

“Aku tak bisa. Ini akan menyakiti Cathy,” kata Julie. “Maafkan aku, Mom. Aku tak bisa.”

Lily tersenyum. Anak ini benar-benar persis seperti ayahnya–rapuh, mengalah, dan selalu mementingkan orang lain. Julie mungkin mendapatkan sifat cuek dan sembrono itu darinya, tapi jiwa tulus yang selalu rela berkorban demi teman-temannya adalah sesuatu yang ia warisi dari Ethan Light.

Lily sempat terpikir untuk mempengaruhi Julie sekali lagi, namun ia akhirnya mengurungkan niatnya. Gadis itu tampaknya cukup keras dengan pendiriannya untuk tidak mengatakan apa pun pada teman-temannya.

“Baiklah, jika menurutmu itu lebih baik,” kata Lily. “Lalu apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan bisa menerima kenyataan bahwa Richard sekarang bersama dengan Cathy dan mencintai gadis itu? Apa kau akan berkorban untuknya?”

Julie mengangguk. “Ya.”

Lily tersenyum. Meskipun ia meyakini kalau menjadi asertif dan menyelesaikan masalah dengan kejujuran adalah solusi yang lebih baik, ia menghormati pilihan putrinya itu. Biar bagaimana pun, solidaritas yang tinggi dan kebaikan hati Ethan adalah sesuatu yang ia kagumi dari dirinya sejak dulu.

Ia memeluk putrinya dengan hangat, membelai punggungnya dengan lembut. “Apa kau sudah merasa baikan?”

Julie mengangguk lagi. Wajahnya sudah terlihat lebih segar daripada sebelumnya, walaupun masih tampak lemah. “Terima kasih, Mom,” katanya. “Aku sayang padamu.”

Lily tersenyum dan memberikan sebuah kecupan di kening Julie.

“Aku akan ke bawah membawa baki ini dan membiarkanmu beristirahat dengan tenang,” kata Lily sambil membawa baki yang terasa cukup ringan. “Kau tahu? Ada cucian yang menunggu kasih sayangku di bawah.”

Lily tertawa kecil. Ia tahu pasti, ia tidak menyesali keputusannya hari ini. Kedekatannya dengan putrinya adalah hadiah yang jauh lebih berharga dibandingkan kenaikan karier apa pun.

Ia memutar gagang pintu dan setengah terhenti saat Julie memanggilnya. “Mom, bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Lily mengangguk, mendengarkan dengan seksama.

“Apakah ketika aku sakit, aku akan selalu melihatmu seperti ini?” tanya Julie polos. Kening Lily berkerut. “Normal, baik hati–dan penuh kasih sayang seperti ibu-ibu lainnya?”

Lily tersedak. Pertanyaan itu membuat Lily terdengar seperti seorang maniak yang tidak waras yang selalu membuat keonaran dengannya. Melihat Julie mengucapkan kalimat itu dengan tubuhnya yang lemah dan wajahnya yang lugu, ia memilih untuk menjawabnya sambil tertawa.

“Ya,” kata Lily. “Aku akan jadi normal seperti ibu-ibu lainnya.”

Julie tersenyum.

“Tapi jika kau berpikir untuk sering-sering sakit, aku perlu memberitahumu kalau aku senang mengetahui hari ini kalau ternyata aku perlu membelikan bra ukuran baru untukmu. Survei lapangan. Kau tahu apa maksudku?” tambah Lily. Ia menyeringai cengengesan.

Matanya mengedip genit. “Cup B.”

Julie terperanjat, merasa ternodai. Ia tahu apa artinya itu. Ibunya telah meraba-raba dadanya.

“MOM!!!”

 

BACA SELANJUTNYA >>