24 – Selamanya (2)

Comments 35 Standar

Butuh waktu dua setengah bulan bagi Julie untuk melakukan recovery, sampai akhirnya ia benar-benar diizinkan bersekolah oleh kedua orangtuanya. Lily Light, sebenarnya tidak bermasalah jika anak perempuannya itu langsung bersekolah setelah keluar dari rumah sakit, tapi Mr.Light menolak.

Tidak banyak momen yang membuat Ethan yang biasanya permisif dan baik hati ini akhirnya berubah menjadi laki-laki luar biasa keras kepala. Tapi Julie memang anak perempuan satu-satunya, anak kesayangannya. Ethan bahkan hampir saja menyuruh Julie cuti sekolah selama setahun, kalau saja Julie tidak ngambek dan mogok makan selama setengah hari—belajar trik ngambek Cathy. Dua setengah bulan adalah waktu yang paling cepat yang bisa Julie negosiasikan, dengan argumen bahwa ia ingin mengikuti ujian kenaikan kelas. Seluruh ketinggalan pelajarannya bisa ia susul berkat bantuan Lucy Si Pintar, yang selalu mengajari hampir setiap pulang sekolah, bergantian dengan anggota The Lady Witches lain ketika Lucy sedang berhalangan.

Lucy mendapatkan predikat honorable mention atas esai internasionalnya, dia pergi ke Jenewa selama beberapa hari untuk menerima penghargaan. Tidak ada yang lebih bahagia atas momen itu selain Jessie yang sumringah dengan air liur menetes, karena setelah pulang dari Jenewa, Lucy mentraktir mereka semua dengan steak termahal di kedai Steak~Steak.

Well, tidak semuanya. Minus Julie. Gadis itu tidak mendapat jatah steak—bahkan juga tidak kebagian take away—karena yang The Lady Witches lakukan justru memamerkan foto makan besar mereka pada Julie yang masih terbaring di rumah sakit, sambil memanas-manasi betapa lezatnya rasa steak termahal dengan saus barbeque siram spagheti jamur yang al dente. Cathy Sang Aktris bahkan memperagakan setiap detil kunyahan di mulutnya dengan sedramatis mungkin. Mereka berusaha agar Julie menderita dan tidak betah berlama-lama terbaring di rumah sakit, supaya gadis itu cepat sembuh berkat provokasi-provokasi mereka tentang betapa nikmatnya kehidupan di luar sana.

Yang gadis-gadis itu tidak tahu adalah—Richard diam-diam membelikan steak itu untuk Julie dan memberikannya pada Mrs.Light. Plus sebungkus cheese stick kesukaan Julie dan selembar kertas bercoret tulisan tangan cakar kucing dengan isi tulisan:

Julie.. Jangan bilang siapa-siapa.

Richard.

Kadang Richard memberikan coklat—yang langsung disita oleh Lily Light dalam sekejap—kadang Richard hanya diam saja dan memandangi Julie, tidak melakukan apa pun. Kedua sejoli yang telah saling menyatakan cinta ini, sama kikuknya seperti dua ekor ayam yang baru berkenalan.

Kehidupan di Nimberland langsung berubah setelah kabar jadiannya Julie-Richard terdengar di seluruh penjuru sekolah. Kabar itu menyebar dengan kecepatan cahaya, bahkan lebih cepat daripada penyebaran bakteri Yersinia pestis yang menyebabkan wabah hitam di Eropa pada abad 14. Bedanya, jika wabah hitam menyebabkan kematian dua pertiga penduduk Eropa pada masa itu, maka berita jadiannya Julie-Richard ini justru menyebabkan kematian dua pertiga penduduk Nimberland High School. Mati karena patah hati.

“Kau harus dengar ini,” kata seseorang, “Richard dan Julie adalah pasangan yang paling sempurna yang pernah ada. Mereka harus tetap bersama SELAMANYA.”

“Aku tak rela.”

“Tak ada yang bisa kita lakukan. Julie itu penyihir,” tambah yang lain. “Richard itu Harry Potter.”

Topik penyihir sedang hangat-hangatnya dibicarakan, mengingat Julie juga berasal dari geng penyihir ‘The Lady Witches’ dan Cathy pun sama, dan kedua gadis ini akhinya jatuh cinta pada orang yang sama. Tidak ada logika yang bisa menghubungkan kenapa Richard ujung-ujungnya malah disamakan dengan Harry Potter, tapi begitulah orang-orang Nimberland. Mereka semua bisa move on dengan cara yang mengesankan.

Well, tidak semua.

Setidaknya sebagian besar.

Anak laki-laki penggemar Julie, mereka move on secepat kilat. Begitu tahu bahwa The Unbeatable akhirnya benar-benar berhasil ditaklukkan hatinya oleh Sang Pangeran Yang Bercahaya, tidak perlu ada pertanyaan lagi. Semua mengangkat topi, menaruh hormat pada Richard. Seluruh sisa kepercayaan diri mereka berguguran. Richard adalah sosok ideal jenius dan tampan yang tak mungkin bisa dikalahkan.

Mereka akhirnya hanya bisa berharap semoga pasangan Richard-Julie awet selama-lamanya. Doa ini mereka panjatkan secara sungguh-sungguh, semata-mata agar Richard tidak merebut gadis-gadis lain lagi di Nimberland yang sudah menjadi prospek mereka sejak berbulan-bulan. Kalau Richard sudah turun tangan, tak ada yang bisa mereka lakukan selain pasrah terhadap nasib. Mereka sadar, hanya masalah waktu saja sampai akhirnya semua gadis impian di sekolah direbut oleh rival terberat yang pernah ada sepanjang hidup mereka ini. Lebih baik menerima kenyataan bahwa Richard sekarang sudah diamankan, di tangan Julie.

Penerimaan yang tersendat-sendat justru datang dari kubu fans Richard. Banyak gadis yang sungguh-sungguh patah hati dan menjadi gila—epidemi ini sudah dimulai sejak mereka mendengar Richard menyatakan cinta pada Julie waktu itu. Apalagi sejak mendengar Julie-Richard resmi jadian di rumah sakit. Mereka benar-benar memasukkan kejadian itu dalam hati.

Mayoritas dari mereka yang tidak terima, membentuk gerakan BJR : Bubarkan Julie-Richard, sebuah komunitas gelap dengan misi mengumpulkan semua orang yang tidak suka dengan jadiannya Julie-Richard. Aktivitas mereka adalah menjelek-jelekkan Julie, dengan segala macam cara yang mungkin dijalankan. Topik soal Julie yang jelek standar dan bodoh selalu jadi bahan favorit mereka.

Tahukah siapa orang yang paling pertama menentang keberadaan komunitas ini?

CATHY.

Komunitas ini langsung bubar dalam sekejap saat Cathy datang melabrak dan mengobrak-abrik ruangan mereka.

Sejak kecelakaan Julie, Cathy yang dramatis itu, berubah jadi jauh semakin protektif dan agresif terhadap siapa pun yang menyerang sahabat-sahabatnya. Dia langsung membantai siapa saja yang menjelek-jelekkan Julie, tanpa ampun, termasuk orang-orang yang mulai mengait-ngaitkan jadiannya Julie-Richard dengan putusnya Cathy-Richard di hubungannya yang terdahulu. Gigi taringnya akan menancap erat di leher orang-orang yang menentang apa pun yang dikatakannya. Teriakannya menggelegar bagaikan auman singa marah yang mengamuk di tengah-tengah halilintar.

Si Ratu Drama yang manja ini langsung berubah wujud menjadi monster Yeti dengan kilatan mata ganas yang langsung menerkam tanpa ampun siapa pun yang mengganggu hubungan Julie dan Richard. Dengan akting dramatis berkualitas nomor satu, Cathy dengan sangat cemerlang memerankan seperti apa kelihatannya anak hasil perkawinan silang antara Voldemort dengan Helena Markos.

Akhirnya Cathy menggunakan suara menggelegar khas iblisnya itu pada kesempatan yang tepat. Teriakan marahnya yang melengking amat mengerikan itu—adalah mimpi buruk semua orang.

“COBA LAGI!” kata Cathy suatu ketika, membentak seorang teman sekelasnya yang mengatai Julie jelek. “COBA LAGI KAU UCAPKAN ITU DI DEPAN KUPINGKU!”

Si anak yang dimarahi, tidak masuk sekolah keesokan harinya. Wajah jutek ditekuk Cathy—yang dulu biasanya hanya dinikmati gadis-gadis The Lady Witches saat Cathy ngambek—sekarang jadi konsumsi umum bagi orang-orang di Nimberland yang berkata-kata jahat—bahkan lebih parah, Cathy mulai bisa memberikan tatapan sinis yang menyakitkan. Tidak ada seorang pun lagi yang berani mengatakan hal buruk apa pun tentang Julie di depan Cathy sejak saat itu.

Perubahan sifat Cathy yang luar biasa ini, menjadi awal yang baru dari hubungan persahabatan di kelompok mereka. Cathy masih menjadi gadis yang manja, histeris, dan menyebalkan seperti biasanya, tapi rasa sayangnya pada teman-temannya meningkat beratus-ratus kali lipat daripada sebelumnya. Ia tidak mengambek sesering dulu, lebih terlihat dewasa, dan sifat overprotektifnya itu sudah ditempatkan pada posisi yang tepat. Sekarang, geng The Lady Witches seperti punya tukang pukul pribadi. Julie bahkan menjodoh-jodohkan Cathy dengan Mr.Bouncer, yang ditolak mentah-mentah oleh Cathy pada kesempatan apa pun.

Berita buruknya, Kayla putus dari Steve.

Tepat seperti perkiraan Cathy, Steve ternyata memang tidak pernah menginginkan hubungan yang serius. Setelah digantung selama berbulan-bulan, Kayla akhirnya menemui Steve dan minta kejelasan—berdasarkan saran dari Cathy. Orangtuanya menyuruhnya untuk lebih tekun belajar untuk persiapan SAT, dan setelah ujian kelulusan berakhir, Steve mengatakan pada Kayla kalau ia akan kuliah di luar kota. Seluruh keluarganya juga akan pindah, tidak akan kembali lagi ke kota Eastcult.

Mereka akhirnya putus, bahkan sebelum dimulai sama sekali.

Tidak ada yang menginginkan akhir kisah cinta yang tragis seperti ini. Tapi setelah ditambah bumbu penyedap dan aksi-aksi dramatis oleh Cathy Pierre di setiap jam makan siang The Lady Witches yang ramai, Kayla tidak lagi bisa menangis. Suasana obrolannya tidak pernah melankolis, justru membuat kesal.

Dan saat Kayla menceritakan kisahnya ini pada Julie di rumah sakit, gadis bermata hijau itu berkata, “Sepuluh tahun lagi.”

“Apa?” tanya Kayla.

“Jodohmu baru lahir sepuluh tahun lagi, Kay.”

Baru kali itu Kayla melempari Julie dengan brutal, walaupun gadis itu berteriak kesakitan di atas ranjang rumah sakit, sampai-sampai Jessie harus turun tangan menghentikannya.

Pasangan Nick dan Jessie masih berpacaran. Malah mereka semakin kompak daripada sebelumnya. Sejak tidak ada Julie di kelompok mereka, Nick mulai menjadi pengganti Julie. Berdua dengan Jessie, mereka makin sering membuat Cathy ngamuk-ngamuk di jam makan siang kafetaria. Serangan bulu hidung selalu jadi andalan Nick, walaupun sekarang dia mencoba belajar trik-trik lain juga, misalnya seperti campuran tomat dan mayonaise. Jessie yang mengajarkannya. Tapi semua orang setuju, untuk tingkah-tingkah konyol yang orisinal, Nick masih harus banyak belajar pada Julie. Gadis itu terlahir dengan bakat alami menjadi orang konyol, sepanjang hidupnya.

Terinspirasi dari Lucy yang berprestasi, Cassandra mulai membuat sketsa-sketsa pertamanya dan mengirimkannya ke majalah fashion, namun hasilnya ternyata tak begitu memuaskan, karena ternyata dia sendiri sebenarnya tidak begitu jago menggambar. Cassandra sangat pintar memadumadankan pakaian, tapi kegagalannya dalam kompetisi desain fashion ini lantas membuatnya berpikir ulang apakah ia memang bisa menjadi seorang fashion designer. Gadis-gadis The Lady Witches terus mendukungnya untuk mencoba lagi, tapi tidak seperti Lucy yang gigih, ternyata Cassandra langsung menyerah. Ia pun beralih ke klub Drama, menghabiskan waktunya dengan sungguh-sungguh berlatih di Klub Drama lagi.

Cathy juga. Sejak pelatih mereka diganti dengan pelatih yang baru—karena pelatih yang lama sudah pensiun, kedua gadis itu tiba-tiba jadi sangat rajin datang ke kegiatan klub, tidak lagi menjalani klub itu setengah-setengah. Apalagi pelatih baru Klub Drama mereka lumayan tampan, seorang mahasiswa magang berusia dua puluhan, berambut hitam bermata biru dan berjambul keriting ala Superman. Kata Cassandra, tipikal cowok idamannya. Kata Cathy, mirip Elvis Presley campur Richard sedikit.

Kesibukan Cathy dan Cassandra dalam mendekati pelatih Klub Drama tampan itu pun menjadi topik pembicaraan favorit mereka sepanjang jam makan siang di kafetaria. Kesibukan ini sedikit banyak mengobati kerinduan mereka mengobrol tentang ketampanan Richard, seperti yang mereka lakukan dulu, hanya saja dalam hal ini yang mereka bicarakan sekarang bukan Richard lagi, melainkan orang lain yang mirip Richard. Mirip sedikit. Nick bilang malah pelatih Klub Drama baru itu tidak ada mirip-miripnya dengan Richard sama sekali. Julie tidak memberi komentar apa-apa tentang itu.

Sejak Julie sakit, Richard selalu datang ke rumah sakit, hampir setiap sore setelah pulang sekolah. Mereka tak banyak berbicara, hanya saling menatap satu sama lain dan tersenyum. Kebanyakan isi percakapan didominasi oleh Lily yang sering meledek mereka berdua. Atau The Lady Witches yang kebetulan berkunjung, Richard hanya tersenyum mendengarkan mereka dan Julie. Atau menanggapi sesekali. Richard justru lebih dekat dengan Ethan, ayah Julie, yang beberapa kali sempat bertemu dengannya di rumah sakit, saat Ethan kebetulan tidak sedang bertugas di luar kota. Mereka memiliki beberapa kesamaan yang cukup signifikan, misalnya sifat ramah, lembut, dan penyabar, serta cara bicara yang cenderung lebih tertata—walaupun Richard sangat irit bicara.

Lily sampai menjuluki Richard sebagai “Anakmu Yang Hilang,” setiap kali Ethan bertanya tentang kabar Richard.

Gaya berpacarannya Julie dan Richard, selalu menjadi misteri bagi teman-temannya. Richard yang pendiam, dan Julie yang luar biasa cuek,  kadang-kadang teman-teman mereka berpikir kalau kedua sejoli ini hanya berbicara dengan menggunakan bahasa telepati. Mereka jarang sekali hanya berdua saja. Richard tidak pernah nyaman memulai percakapan jika ada orang lain di dekatnya dengan Julie. Apalagi Julie. Gadis itu masih merasakan serangan jantung kalau gadis-gadis The Lady Witches mulai menggodanya dengan Richard. Bibirnya langsung membeku seperti es, kalau akhirnya mereka benar-benar sengaja ditinggal berdua saja, supaya saling mengobrol satu sama lain.

Kata Kayla, ini hanya masalah waktu saja. Setelah Julie masuk sekolah lagi, Richard dan Julie nanti juga akan mulai terbiasa dengan status berpacaran mereka, yang selama ini selalu membuat mereka berdua salah tingkah.

Mereka akan memulai babak baru dalam hidup mereka, yang tidak akan disangka-sangka seperti apa bentuknya.

 

***

24 – Selamanya

Comments 39 Standar

Hal yang menarik setelah kepergian sementara Julie dari Nimber adalah bagaimana cara Richard menangani masalah Emma dengan sangat baik. Richard tidak banyak berbicara pada siapa pun tentang rencana-rencananya menaklukkan Emma—bahkan tidak pada Nick sekali pun—namun perlahan dan pasti, kejeniusan anak laki-laki itu mulai menunjukkan hasil yang membuat mulut menganga.

Siapa yang menyangka kalau geng Emma segera runtuh setelah Richard mulai menurunkan pion-pion pertamanya?

Sangat penting bagi Richard untuk membatasi jumlah orang yang mengetahui apa yang sedang ia lakukan. Satu-satunya orang kepercayaannya adalah Jeremiah Hunt, sang ketua klub koran sekolah—partner in crime Richard dalam rencana kejahatan menjatuhkan Emma, khususnya karena ia juga tidak punya banyak pilihan. Posisi Jerry yang vital di media massa sekolah adalah kunci dari strategi serangan terhadap Emma Huygen.

Selama enam minggu setelah kecelakaan Julie, Richard dan Jerry mulai menjalankan aksi yang hanya diketahui mereka berdua. Richard menyiapkan plot yang kemudian ditulis oleh Jerry dalam bentuk fiksi. Sesuai pengarahan Richard, cerita ini selanjutnya terbit sebagai serial bersambung mingguan di koran sekolah.

Cerita fiksi tentang seorang detektif yang melakukan penyelidikan hilangnya seorang gadis di gudang belakang sekolah—adalah ide yang brilian. Dengan permainan kata yang pintar, Richard dan Jerry mengarahkan para pembaca untuk memecahkan sendiri kasus itu. Penyelidikan demi penyelidikan yang dilakukan perlahan-lahan mulai membuka misteri di balik menghilangnya gadis itu, tentang penyiksaan di gudang belakang sekolah, dengan detail yang hampir sama seperti yang pernah diceritakan Ruth pada Richard tentang kejahatan Emma terhadap para junior kelas sepuluh dan sebelas.

Cerita fiksi karangan anonim ini dengan segera melejit seperti roket setelah diterbitkan di minggu pertama. Popularitas koran sekolah langsung meningkat drastis, bahkan membuat orang yang jarang membaca koran sekolah berubah menjadi hippie penggila cerita misteri. Begitu banyaknya kesamaan antara Nimberland dengan sekolah fiktif yang ada di cerita ini membuat semua orang di Nimber tergila-gila setengah mati pada cerita ini. Tidak hanya dari kalangan murid, para guru pun saling membicarakan cerita fiktif ini dan beberapa guru yang nyentrik ikut membahas pemecahan misterinya di dalam kelas.

Lebih dari itu, ada satu sentuhan lagi yang selalu menjadi signature bagi penulis cerita fiksi ini di setiap minggunya. Maksud tersembunyi yang sebenarnya.

Sebuah gambar ilustrasi cerita. Foto blur yang diambil dari screenshot video penyiksaan Tania Lawless dari Ruth. Foto itu langsung populer dalam sekejap.

Orang-orang awalnya mengira kalau itu adalah gambar peragaan, karena diambil tepat pada bingkai waktu yang sempurna, saat wajah semua orang membelakangi kamera. Mereka mulai ramai mendatangi lokasi tempat penyiksaan yang biasanya digunakan Emma dan teman-temannya—gudang belakang sekolah Nimberland—yang detailnya sangat mirip dengan cerita fiksi di koran sekolah itu. Beberapa orang mulai merekonstruksi kejadian di cerita fiksi itu, seolah-olah memang benar-benar terjadi penyiksaan murid Nimberland di gudang belakang sekolah. Mereka menerka-nerka siapa saja yang ada di foto itu.

Jackpot!

Sesuai perkiraan Richard, kelompok pengikut Emma langsung kebakaran jenggot. Emma apalagi. Pelan-pelan, power Emma yang dulu membuat pengikut-pengikutnya tunduk, dikalahkan oleh teror takut dikeluarkan dari sekolah. Takut ketahuan. Takut dianggap terlibat dengan Emma.

Cerita misteri yang ditulis Richard dan Jerry di minggu berikutnya mulai mengarahkan pembaca untuk mencurigai bintang sekolah sebagai tersangka, dengan deskripsi yang sama seperti Emma. Timing yang tepat untuk membuat orang-orang berspekulasi apakah cerita fiksi ini benar-benar terjadi di dunia nyata, di sekolah mereka. Orang-orang Nimber yang senang bergosip mulai membuat spekulasi-spekulasi. Gosip-gosip lama tentang kejahatan Emma mulai bangkit lagi.

Tujuh atau delapan kali, Emma melakukan serangan balasan. Ia sempat menyerang Jerry—sebagai ghostwriter dari cerita fiksi tersebut, tapi tak berhasil mendapatkan apa-apa, tak pernah tahu video itu berasal dari mana, bahkan tidak tahu tentang peran Richard di sana. Itu karena Richard telah menyiapkan petunjuk-petunjuk palsu dengan sangat rapi. Richard selalu menekankan pada Jerry saat mereka berdiskusi, serangan ini harus sangat halus dan tidak terdeteksi. Seperti yang dikatakan Richard pada Cathy di rumah sakit waktu itu, ini adalah permainan strategi untuk menunjukkan siapa yang paling pintar. Dan anak laki-laki ini berkata pada dirinya sendiri, bahwa demi janjinya pada Julie, ia harus lebih pintar daripada Emma.

Langkah terakhir, Richard mengirimkan video penyiksaan yang dimilikinya dari Ruth ke e-mail masing-masing pengikut Emma, dari alamat pengiriman yang tidak bisa dilacak—ia sudah meminta tolong sepupunya dari Harvard untuk memastikan hal ini. Sedikit ancaman untuk mempertegas posisinya sebagai orang yang bisa kapan pun melaporkan mereka ke kepala sekolah. Selanjutnya, anak laki-laki itu tinggal membiarkan teror psikologis memainkan efek domino dalam strategi yang telah diaturnya.

Dalam waktu empat minggu, Emma kehilangan seluruh pengikut setianya. Semuanya ketakutan setengah mati.

Rencana Richard berjalan lancar.

Emma tidak bisa lagi bertindak terlalu agresif. Dia menjadi lebih tenang dan tidak terdeteksi daripada sebelumnya. Dia sempat mengganggu Cathy dan teman-temannya, tapi apa yang bisa dia lakukan di bawah pengawasan ketat seluruh penghuni Nimberland? Dia harus menghindari spekulasi—memang sebaiknya begitu. Dalam keadaan genting seperti sekarang, dengan kecurigaan mengarah kepada dirinya, dan tanpa bantuan army sama sekali, ia terpaksa berhenti mencari jawaban. Akhirnya sang Ratu Sekolah itu menyerah, lebih berfokus pada pendidikannya daripada menantang sang anonim yang mengancam keberadaannya di sekolah ini. Beasiswanya pasti terlalu berharga untuk dipertaruhkan.

Dengan menghilangnya Emma dari peredaran, Richard pikir sudah tidak lagi perlu meneruskan serangan ini. Chapter terakhir dari cerita misteri yang akan dipublikasikan di koran sekolah diserahkannya pada Jerry hari ini untuk diselesaikan minggu depan.

“Jadi, ini adalah akhirnya,” kata Jerry pada anak laki-laki bermata biru yang berada di hadapannya. “Akhir dari perjuangan kita?”

Richard mengangguk.

“Siapa pelakunya?” Jerry meracau.

“Sang korban sendiri. Dia memanipulasi kejahatan atas dirinya sendiri,” jawab Richard. “Mungkin kau bisa menebaknya sejak cerita sebelumnya. Nanti kuharap kau bisa menambahkan sedikit drama untuk motifnya, karena—kau tahu—aku tak bisa mengarang drama.”

“Sang korban?”

Jerry menelan ludah, karena tebakannya salah, tapi tidak akan membiarkan Richard tahu soal itu. Ia membuka dua helai kertas yang berisi kerangka tulisan dan ide-ide Richard tentang akhir dari cerita misteri itu. Ia membacanya sekilas, tertegun pada beberapa poin yang menarik, lalu tertawa tidak percaya.

Ia terlihat sangat puas dengan apa yang baru dibacanya.

“Ms.Taylor sangat suka tulisanmu ini. Berkali-kali dia membahasnya di pertemuan mingguan dengan ketua klub ekstrakurikuler,” kata Jerry.

“Kau yang menulisnya, Jerry. Dan kau melakukannya dengan sangat baik,” kata Richard sopan.

Jerry mendecak.

“Memang tulisanku, tapi ini kan ceritamu. Hanya kita berdua yang tahu,” kata Jerry. “Kau sangat berbakat dalam hal ini. Tidakkah kau tertarik untuk membuat versi sekuelnya? Atau membuat cerita misteri lain untuk koran sekolah? Aku dengan senang hati akan membantu. Kau membuat klub koran sekolah mendapat sorotan besar selama hampir dua bulan terakhir ini. Aku berhutang banyak padamu. Guru-guru bahkan menerima proposal Majalah Sekolahku.”

Richard menggeleng pelan. “Tidak. Kau tahu alasanku, Jerry. Dan sebenarnya aku yang berutang padamu.”

Jerry mengerti apa maksudnya.

“Baiklah! Akhir dari kerajaan besar Emma Huygen yang diagung-agungkan. Seandainya saja mereka tahu apa yang kau lakukan. Kau—orang yang mengerikan, Richard. Kau menghancurkan orang yang paling kuat di Nimber dalam hitungan minggu. Sekarang dia benar-benar berusaha tidak menarik perhatian. Dia hanya bisa menunggu waktu sampai akhir masa pendidikannya di Nimber, mungkin untuk keluar dari kecurigaan atas kegiatan ilegalnya di sekolah. Dan kau melakukannya bahkan tanpa menunjukkannya sama sekali pada orang-orang. Aku benci mengatakan ini, tapi kau brilian!”

“Aku selalu merasa beruntung menemukan Ruth,” kata Richard pada Jerry. “Tanpa gadis itu, tanpa video ini, rencana ini tidak akan pernah ada.”

“Dan hanya orang sepertimu saja yang bisa melakukan rencana ini, Richard. Barang bukti seperti apa pun tidak akan pernah berguna. Tidak ada yang bisa melawan Emma. Kau memang gila.” Jerry menggelengkan kepalanya sambil tersenyum simpatik. “Dan aku—sangat senang terlibat dalam kegilaan ini. Kau adalah narasumber favoritku. Boleh aku bertanya sesuatu?”

Richard tersenyum tipis.

“Silakan.”

“Bagaimana caramu menemukan Ruth? Tanpa ketahuan?”

“Hanya bertanya,” kata Richard.

“Bagaimana caramu menyusun semua skenario ini, membuat semuanya berjalan sendiri yang bahkan kau sendiri tidak perlu turun tangan?”

“Seperti bermain catur,” kata Richard. “Kau hanya perlu memprediksi gerakan lawanmu.”

“Sok keren,” kata Jerry.

Richard membalas sindiran itu.

“Sekarang boleh aku yang bertanya padamu?” kata Richard. Jerry mengangguk cepat, tak mencurigai apa-apa. “Kenapa kau mau membantuku, Jerry? Kenapa kau mempercayaiku? Kau bisa saja kehilangan jabatanmu jika rencanaku gagal dan Emma berhasil mengalahkan kita.”

“Mungkin karena kau adalah rekan kerja paling mengagumkan di dunia ini? Narasumber favoritku?” kata Jerry dengan nada politis.

“Ini ironis, sebab kau tidak suka denganku saat pertama kali kita bertemu,” kata Richard, “—karena aku tahu kau menyukai Julie.”

Senyuman Jerry langsung berubah masam. Serangan itu tepat kena ke jantungnya.

“Apa?”

“Dan aku tahu kalau kau tidak bisa mengatakan itu padanya, Jerry.” Richard menajamkan intonasi suaranya. “Tapi tidak berarti aku akan membiarkan Julie jatuh ke tanganmu.”

Jerry tersenyum. “Tidak masalah, tidak masalah.” Ia mengayunkan tangannya. “Asalkan kau mau menulis cerita-cerita fiksi berikutnya denganku untuk proyek Majalah Sekolah, aku akan merelakan Julie untukmu.”

Richard bergeming.

“Kau tahu, Richard?” kata Jerry sekali lagi. “Kenapa kau tidak bergabung saja dengan klub koran sekolah? Aku akan langsung mengangkatmu jadi wakilku. Masa depan karirmu akan sangat gemilang. Bersama-sama Julie, kita bisa membawa klub sekolah ke puncak kejayaan di Nimberland. Kita akan menjadi klub ekstrakurikuler terbaik di kota Eastcult. Demi masa depan kita semua. Bagaimana?”

Richard tidak menjawab. Ia tersenyum saja. Ia tahu anak laki-laki ini tidak akan berhenti mengganggunya dengan penawaran itu. Tapi setidaknya ia telah menyelesaikan tanggung jawabnya dengan Julie dan Cathy.

“Terima kasih, Jerry. Sampai bertemu lagi.”