22 – Teman (6)

Comments 27 Standar

Julie berusaha menormalkan pernapasannya. Ia tidak tahu dari mana keberanian itu datang, tapi yang jelas keberanian itu datang di saat yang tepat.

Ia kemudian menatap Cathy. “Kau tidak apa-apa?”

Cathy tidak menjawab. Gadis itu terdiam membatu seperti patung. Ia memaku pandangannya pada ponsel Julie yang berserakan di tanah.

Julie berjongkok meraih ponselnya, mencoba mengumpulkan potongan logam itu di telapak tangannya. Ia tersenyum senang. “Ternyata Emma memang tidak sepintar yang kita pikirkan, Cath. Siapa sangka mereka dengan mudah bisa tertipu bualanku. Jessie pasti terkejut.”

Cathy tidak menjawab apa-apa. Ia hanya memperhatikan Julie memasukkan sisa-sisa kepingan ponselnya ke dalam tasnya dalam diam, sesekali menatap bekas luka bakar di tangan Julie.

“Richard yang mengirimkan video itu padaku. Baru saja. Itu sebabnya aku langsung ke sini. Kau pasti tidak percaya,” kata Julie. “Aku tak tahu bagaimana ia mendapatkannya, tapi kuharap ia masih menyimpan salinannya. Dia sangat khawatir padamu, Cath. Kami semua sangat khawatir padamu. Kenapa kau tidak pernah menceritakan pada kami tentang Emma? Apa saja yang dilakukan Emma padamu? Apakah dia menyakitimu?”

Cathy berkerut masam. Ia menjawab ketus. “Bukan urusanmu.”

Mendengar nama Richard yang disinggung Julie membuat Cathy merengut kesal, ia meraih tas sekolahnya dengan cepat, dan memakainya dengan gegabah. Kejadian hari ini bukan hal yang disukainya, kehadiran Julie lebih-lebih membuatnya merasa semakin dipermalukan. Ia segera menyingkir dari tempat itu tanpa mempedulikan gadis itu lagi.

“Tidak—” kata Julie. “Hey. Tunggu!”

Julie terpaksa mengejar Cathy dengan susah payah. Langkahnya tertatih-tatih namun ia memaksanya untuk tetap berjalan. Kakinya masih sakit karena ditendang Emma tadi, tapi ia berusaha untuk tidak menggubrisnya.

“Kenapa kau tak pernah bilang pada kami kalau kau masih diganggu Emma?”

Julie mengejar sambil meringis menahan nyeri. Tangannya pun mulai berkedut-kedut perih lagi. “Kau tahu kami bisa membantumu. Kami sahabatmu.”

“Kau bukan sahabatku,” desis Cathy.

“Kenapa kau bersikap seperti ini? Aku tidak ingin kita seperti ini. Cathy!” kata Julie.

Cathy berjalan tanpa henti, Julie tetap mengikutinya dari belakang. Cathy tidak menghentikan langkahnya sama sekali. Ia terus menghindar dan menghindar, bahkan meskipun itu berarti harus menghadang ilalang tajam yang hampir mengiris kulitnya.

“Cathy!”

Cathy malah mempercepat langkahnya.

“Kenapa kau terus-menerus mengikutiku? ENYAH!” Ia memandang garang. “PERGI!”

“Kenapa kau tidak mau berhenti dan menyelesaikan masalah ini? Aku akan terus mengikutimu sampai kita menyelesaikan urusan antara kau dan aku.” Julie mendengus kesal.

Cathy berjalan cepat lagi menghindari Julie, menuju trotoar di belakang sekolah, menyeberangi jalan raya lebar.

“Kenapa?” runtut Julie, mencoba berkomunikasi dengan Cathy lagi. “Kenapa kau begitu membenciku? Aku tak mengerti. Selama ini kita adalah teman baik, kan? Kupikir persahabatan kita lebih berarti daripada segalanya. Kenapa kita harus jadi seperti ini?”

“Aku tidak ingin bersahabat denganmu,” kata Cathy. “Enyah!”

“Jadi apa yang kau inginkan?” kata Julie. “Berhentilah, Cathy! Ayo kita bicarakan ini baik-baik. Katakan apa yang kau inginkan agar kau memaafkanku. Aku akan melakukannya untukmu.”

Mereka masih saja bekejar-kejaran seperti anak kecil. Situasi seperti ini lama-kelamaan membuat Julie menjadi sangat dongkol. Julie mulai kehilangan kesabaran. Ia akhirnya mengeluarkan sisa tenaganya demi berteriak sangat keras.

“CATHY! KUBILANG BERHENTI!”

Gadis itu akhirnya berhenti juga.

Napas Julie sekarang terengah-engah. Seluruh energinya hampir habis untuk berlari dan berteriak. Ia menunggu respon Cathy, yang saat ini sengaja membiarkan suasana di antara mereka sunyi selama beberapa puluh detik, sebelum memberikan reaksi berikutnya. Ia memutar tubuhnya perlahan ke arah Julie.

“Kau ingin tahu apa yang kuinginkan? Kau yakin kau bisa memenuhinya, Julie?” desis Cathy. Julie mengangguk. Cathy balas menatap Julie dengan tatapan bengis. Nada bicara yang ia gunakan sengaja dimaksudkan untuk mengiris perasaan siapa pun yang mendengarnya.

“Aku ingin kau mati.”

Julie terdiam.

Kata-kata Cathy barusan benar-benar menyakiti hatinya. Kebencian Cathy padanya benar-benar dalam, sampai gadis itu tega mengucapkan hal seperti itu padanya. Langkahnya mulai melambat, seakan menyerap setiap kata kasar yang telah dilontarkan Cathy barusan. Matanya panas dan perih. Ia sudah tidak tahan lagi. Ketika darah panas surut dari wajahnya, air mata marah merebak.

“Kau benar-benar keterlaluan, Cathy.”

Julie menahan rahangnya yang gemetar. Suaranya yang bergetar tidak dapat dikontrolnya lagi. Ini adalah momen yang paling dihindarinya selama ini.

“Kenapa hanya aku yang tidak boleh menyukai Richard? Kenapa?” Julie mencecar dengan pertanyaan membakar. “Kenapa hanya kau yang boleh menyukainya? Kenapa!?”

Cathy memalingkan muka. Ia sekarang menatap Julie dengan senyuman sinis. “Jadi kau menyukainya?”

Julie menatap Cathy dengan pandangan menantang. Kalimat itu akhirnya keluar juga dari mulutnya. Dadanya panas. Urat-urat kepalanya tegang dan tertekan. Mereka berpandang-pandangan dengan dingin seperti saling bermusuhan.

“Iya. Aku menyukai Richard,” Julie menjawab tegas, tanpa sedikit pun keraguan.

“Pengkhianat.”

Julie merasa wajahnya semakin mengeras.

“Aku memang menyukainya! Tapi aku tak pernah sekali pun ingin merebut Richard darimu. Tidakkah kau melihatnya? Aku selalu mengalah untukmu! Kenapa kau sangat egois??”

Cathy menatap tajam. Amarah mengguncang tubuhnya seperti cambuk.

“EGOIS?” Cathy tertawa. “Ya, aku memang egois, Julie. Manusia teregois di dunia ini. Puas? Supaya kau semakin puas lagi, akan kuceritakan apa yang kupikirkan tentangmu. Aku akan menunjukkan padamu betapa egoisnya aku.” Cathy menarik rambutnya dengan frustrasi.

“Kau tahu apa yang kupikirkan sekarang, Julie? Kau tahu?? Aku muak. Aku muak padamu. Aku benci dan cemburu dengan semua yang kau dapatkan. Bagaimana rasanya sekarang? Menjadi THE UNBEATABLE! Sang Tak Tertaklukkan!” Suara Cathy menggelegar, memperagakan setiap kalimatnya dengan intonasi menyindir. “Kau selalu mendapatkan apa pun yang kau mau. RICHARD. Bahkan sekarang kau berhasil mengalahkan Emma. Wow! Kau memang sangat sempurna, Julie! Semua orang pasti jatuh cinta padamu!”

“Apa? Apa maksudmu? Aku tidak—” Kening Julie berkerut.

“Aku tak pernah habis pikir kenapa semua anak laki-laki menyukaimu. Kenapa? Maksudku, lihatlah dirimu. Kau tidak cantik. KAU BODOH. Apa yang menarik dari gadis biasa sepertimu?” kata Cathy tanpa mempedulikan ucapan Julie sama sekali.

“Aku sudah cukup bersabar selama ini. Kau boleh menaklukkan siapa pun, Julie. Aku tak peduli pada mereka, para anak laki-laki bodoh itu. Aku tak peduli jika seluruh orang di dunia ini jatuh cinta padamu tanpa alasan yang jelas. Tapi sekarang—Richard? Kenapa Richard menyukaimu? Apa yang dia lihat!? Apa dia buta?”

Julie menatap kecewa. Dadanya sakit sekali.

“Jadi, itu yang kau pikirkan tentangku selama ini?”

“Di antara semua orang di dunia ini, kenapa harus kau yang disukainya? Kenapa?” kata Cathy penuh emosi. “Di sekolah kita, kenapa hanya kau yang bisa membuat Richard jatuh cinta padamu? Kenapa? BAGUS! SEMPURNA. Kau memang adalah segalanya di dunia ini, Julie. Yang Tak Tertaklukkan! Dan siapa aku?”

Air mata kesedihan bergulir kencang di pipi Cathy. Gadis itu berusaha susah payah menahannya, menyeka setiap tetes yang keluar dari matanya, seolah ingin memungkiri kesedihan itu.

“Siapa aku di mata orang-orang?” isaknya. Nada suaranya berubah menjadi rendah. “Aku bukan siapa-siapa, aku sama rendahnya seperti sampah yang tidak berharga. Aku tidak berharga. Aku–”

Cathy tampak sangat terpukul dan rapuh. Kepedihan membuat wajahnya terpilin. Kelopak matanya turun dan suaranya terdengar letih. Air mata yang mengalir semakin deras di pipi Cathy sekarang mulai melunakkan hati Julie.

“Cathy,” kata Julie.

Cathy menceracau seperti orang yang kehilangan harapan.

“Ya, aku cuma sampah, Julie! Aku cuma sampah! Emma benar. Tidak ada yang menginginkanku di dunia ini, Julie. Tidak ada! Semua orang akan meninggalkanku, karena mereka tidak pernah sayang padaku. Mereka akan melukai hatiku dan lagi dan lagi, seperti yang Dad selalu lakukan padaku selama ini. Dia tak pernah peduli padaku! Dia jahat! Semua orang meninggalkanku. Semua orang membuangku seperti sampah! Bahkan Richard. Bahkan Richard meninggalkanku. Dia menyadari kalau aku tidak pernah berharga untuknya.”

Luapan hati Cathy yang baru saja diucapkannya sekarang, tidak pernah Julie lihat sebelumnya. Gadis yang selalu pura-pura kuat itu, yang tidak pernah sekali pun ingin terlihat menangis di depan mereka, kini menangis sesegukan di depan Julie.

Ini seperti bukan Cathy.

“Cathy, apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Julie dengan ekspresi terkejut.

Seorang gadis yang terluka dan disakiti, tengah berdiri di hadapannya, seperti orang berbeda yang pernah dikenalnya. Momen ini akhirnya membuat Julie sadar sebenarnya betapa rapuhnya jiwa sahabatnya itu. Cathy telah menutup dirinya dalam tembok yang amat tinggi tanpa seorang pun yang mengetahuinya, sambil bersembunyi di balik keegoisannya selama ini.

Cathy tidak menjawab. Ia menghapus air matanya dengan wajah marah. Mulutnya terkunci seperti ada rahasia yang benar-benar tidak ingin disampaikan.

“Jika kau menginginkannya,” kata Julie kemudian, “aku akan menghilangkan perasaanku ini untukmu, Cath. Aku berjanji. Aku juga akan membantumu mendapatkan Richard kembali. Bukankah itu yang selama ini kulakukan untukmu?”

Cathy meradang. Kecemburuan yang sangat kentara menyelubungi isi hatinya.

“Tapi dia tidak menginginkanku? Dia mencintaimu, Julie. Dia mencintaimu! Dan aku hanyalah seorang gadis menyedihkan penampung semua bekas mainanmu. Itu kan yang mau kau bilang?”

“Ti-tidak, bukan,” Julie terbata-bata. Ia menghela napas. “Jangan salah paham dulu, Cath. Bukan begitu maksudku. Aku—”

Sekarang Julie merasakan sebuah firasat buruk. Ia melihat sekeliling. Ini tidak akan berakhir baik. Pertengkaran ini harus dihentikan, karena ia mulai menyadari, ada hal lebih genting yang harus mereka lakukan sesegera mungkin. Sekarang juga.

“Cathy, dengarkan–”

“TIDAK! Aku tidak mau mendengarmu!”

“Begini. Sebaiknya kita pindah ke tempat lain, Cath—”

Cathy masih mencecar tanpa henti. Ia berpikir kesempatan yang bagus ini akhirnya memberikan peluang untuk mengungkapkan semua kemarahannya pada Julie.

“Ketika kupikir aku telah menemukan orang yang kucintai dan menyayangiku dengan tulus, dia malah melakukan hal yang sama dengan yang selalu kutakutkan. Richard adalah jawabanku, Julie! Tapi kau merebutnya! Kau merebutnya! Kau tahu kenapa aku membencimu? Karena kau merebutnya, kau merebut orang yang kusayangi, sama seperti saat wanita jahat itu merebut ayahku—”

“Cathy! Ini berbahaya,” kata Julie sambil melihat sekelilingnya. Mereka berada tepat di tengah-tengah jalan raya. Ia berusaha meraih tangan Cathy untuk menyingkir. “Kita harus pergi dari sini.”

“JANGAN SENTUH AKU!”

Gadis itu tidak mau mendengar penjelasannya. Gadis itu tidak berhenti berbicara.

Julie mulai panik karena ia melihat sebuah truk besar datang ke arah mereka.

“Cathy, ayolah!”

Cathy menoleh. Gadis itu akhirnya mendengar suara klakson besar menghujaninya tanpa henti. Ia sudah sangat dekat dengan truk yang akan menabraknya.

“Tidak, tidak—” kata Julie cemas. “CATHY!”

Julie mendorongnya dengan cepat, dan membiarkan tubuhnya sendiri terhempas oleh truk besar itu.

Cathy terperanjat.

 

 BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

22 – Teman (5)

Comments 38 Standar

“Kau tahu, sudah berapa kali aku sengaja membiarkanmu menginjak-injak harga diriku?” kata Emma. “Tidakkah kau mendapat pelajaran dari beberapa kali pertemuan pribadi kita dulu?”

Emma mendongak dan tersenyum.

“Aku sengaja membiarkanmu menghisap darahku seperti seekor lintah selama beberapa bulan belakangan. Dan aku tidak sempat mencabut hisapanmu itu. Kau tahu? Kau sudah sangat gemuk sekarang. Tidakkah kau merasa senang, Mesmerizer?”

Emma menyurukkan jari-jarinya di sela-sela rambut Cathy yang berantakan. Matanya berkilat kejam. Auranya mencekam, ketakutan menyelimuti wajah Cathy yang pucat pasi.

“Aku tidak takut padamu,” geram Cathy di sela-sela giginya yang terkatup. Suaranya jelas bergetar.

“Aku akan melaporkanmu. Aku pasti akan melaporkan semua perbuatanmu ini. Kau dan anak-anak buahmu itu akan dikeluarkan dari sekolah, Emma.”

Gadis itu tertawa membahana.

“Ingin mengancamku, Pecundang? Sungguh?” Gadis itu mendengus. “Tidakkah kau sadar akan posisimu sekarang, Cathy? Menurutmu apa yang bisa membuat kepala sekolah percaya padamu, hah? Wajahmu? Kecantikanmu? Ya. Tentu saja hanya itu yang bisa kau andalkan—”

Emma mendorong tubuh Cathy dengan keras. “—sebab otakmu saja tak lebih besar dari otak udang.

Cathy berusaha memberontak. Teman-teman Emma menahan kedua tangannya, menarik rambutnya dengan kasar.

“Kecoa sepertimu benar-benar merepotkan,” kata Emma. “Aku terlalu sibuk untuk sempat mengurusi kau, Cath. TERLALU SIBUK! Bagaimana rasanya menikamku dari belakang, hah? KECOA!” Gadis itu membentak tinggi. “Aku tahu Jake memacarimu karena kau cantik. Tapi kini dia kembali padaku, Cathy, setelah Jake menyadari aku lebih berderajat dan berkelas dibandingkan dirimu. Seandainya saja aku tidak sibuk mengurusi urusan beasiswaku, pasti dari kemarin aku sudah menginjakmu sampai mati.”

“Tapi pembalasan tidak akan manis jika tidak dilakukan saat kau sudah terinjak-injak, kan?” kata Emma sambil tersenyum lembut. Ia mengayunkan tangannya dengan ringan, “Aku tahu, aku tahu. Dari dulu aku sudah tahu, kok. Pada saatnya kau pasti akan jatuh, dengan tabiat menjijikanmu itu. Gadis dengan kualitas kepribadian serendah sampah seperti kau, Cathy sayang, aku tahu suatu saat kau pasti yang menghancurkan dirimu sendiri. Semua orang akan meninggalkanmu, Honeydew. Cepat atau lambat. Dan tepat seperti dugaanku, kan? Puff! Semua yang kau cintai menghilang.”

Bibir Emma mencibir saat mengucapkannya. Kalimat berikutnya keluar dengan ekspresi muak.

“Kelakuanmu menjijikkan. Kesombonganmu menjijikkan. Semua hal tentangmu palsu. Apa yang kau sombongkan, Cath? Lihat isi kepalamu. Kosong. Nihil. Kau tak punya apa pun yang bisa kau banggakan.

“Bahkan Sunshine sekarang mencampakkanmu. Oh? Orang itu, orang yang kau gila-gilai? Lihat? Dia membuangmu demi perempuan lain. Kau sudah bisa melihat nilai dirimu yang sebenarnya, kan? Kau itu—TIDAK BERHARGA. Apakah kau sudah sadar sekarang? Tidak ada yang menginginkanmu. Kau sadar betapa jauhnya perbedaan kita?”

“Kau pengecut,” desis Cathy.

Emma menamparnya dengan sangat keras. Cathy berusaha berteriak minta tolong tapi teman-teman Emma langsung menutup mulutnya, mengunci kedua tangannya. Cathy menendang-nendang sekuat tenaga, tapi Emma menamparnya lagi. Emma menarik rambutnya dengan kasar, tidak mempedulikan tangisan Cathy.

“Kau memang tidak  pernah belajar dari pengalaman,” kata Emma. Ia memberi aba-aba pada teman-temannya. “Mungkin aku perlu memberimu pelajaran lagi.”

Dua orang gadis anak buah Emma segera mengeluarkan buku-buku sekolah Cathy, melemparnya ke atas tanah. Tanpa ragu-ragu, mereka menginjak-injak buku-buku itu dengan sepatu mereka yang kotor. Mereka mengambil buku-buku itu lagi dan memasukkannya kembali ke dalam tas.

“Oh? Kau tampak lapar,” Emma berbicara iba. “Beri dia makanan yang pantas untuk derajatnya.”

Beberapa gadis yang menggunakan sarung tangan plastik meraup segenggam tanah di permukaan rumput dan memasukkannya dengan paksa ke dalam mulut Cathy. Gadis itu meraung-raung memberontak tapi kedua tangannya dipegang dengan sangat erat oleh teman-teman Emma.

Cathy berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya.

“HENTIKAN!” Julie berteriak keras.

Julie tersandung dan tersungkur di rerumputan. Gadis-gadis itu terperangah melihat kedatangannya, lalu tertawa keras.

Well, well. Lihat siapa yang datang,” kata Emma. “Oh? The Unbeatable.

Teman-teman Emma datang menghampiri untuk menangkap Julie, tapi Emma melarangnya. “Tidak, tidak. Jangan tangkap dia. Biarkan saja, tapi tutup jalan keluarnya. Aku ingin tahu ke mana arah permainan ini. Ini sangat menarik.”

Emma menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Pemandangan ini telah memberinya ide untuk menciptakan sebuah pertunjukan baru. Ia lalu memberi aba-aba pada teman-temannya yang mengunci tangan Cathy. “Lepaskan dia.”

Segera setelah teman-teman Emma melepaskan Cathy, gadis itu menghapus air matanya dan membersihkan mulutnya yang kotor. Julie menghampiri Cathy, menawarkan bantuan.

“Pergi sana! Aku tak butuh bantuanmu!”

Cathy menyentakkan lengannya, berteriak marah. Julie tersentak kaget. Ia menghentikan gerakannya, terpaku diam saat menyadari Cathy menatapnya dengan tatapan kebencian.

“Siapa nama aslinya? Julie? Julie Light?” tanya Emma pada teman-temannya. “Menarik sekali, Julie, karena aku dan Cathy tadi sempat membicarakan tentang kisahmu dan Sunshine. Bagaimana kabar kekasih bermata birumu hari ini, Julie?”

Julie meringis.

“Oh? Kuharap dia baik-baik saja,” sambung Emma tanpa menunggu, “karena di sini ada seorang gadis yang sangat mengharapkan kehadirannya. Seorang gadis sombong yang suka bermain api denganku.

“Tidakkah dia pernah menceritakannya padamu, Sayang? Dan geng norak kalian itu? Tentang petualangan-petualangan kecil kami?” tanya Emma dengan gerakan halus dan sangat anggun. “Oh? Tentu saja dia tidak menceritakannya pada kalian. Aku lupa kalau kalian adalah teman-teman palsu. Maafkan aku.”

Julie menatap ke arah Cathy. Gadis itu masih membersihkan mulutnya dengan mata yang basah dan penuh kemarahan. Tidak sekali pun Cathy melihat ke arahnya kembali. Dadanya naik turun dengan cepat, namun kepalanya selalu memilih menunduk dan menghindar dari pandangan Julie.

“Seharusnya sejak beberapa peringatan yang aku berikan padanya dulu, dia sudah menyadari betapa beresikonya kalau dia bermain-main dengan kekasihku. Itu kalau dia pintar! Dan kau tahu? Saat aku sedang lengah, DIA MALAH BERPACARAN DENGAN JAKE-KU DAN MENCAMPAKKANNYA! KAU BISA LIHAT KURANG AJARNYA DIA?”

“Kenapa kau tidak mencegahnya melakukan kebodohan itu, Julie? KENAPA?” tanya Emma dengan nada kasar. Sekejap kemudian, ia terlihat lebih tenang dan terkendali.

“Ah, iya. Aku lupa lagi. The Mesmerizer tidak mungkin menceritakan apa pun pada teman-teman palsu seperti kalian. Apalagi mempercayaimu.” Gadis itu terkekeh, tawanya rendah dan panjang. Teman-temannya mengikuti dengan tawa merendahkan yang sama.

Julie merasa terpukul. Rasa kebas yang menjengkelkan kini mencengkram perutnya. Ini persis seperti yang pernah dikatakan Jessie padanya waktu itu. Tentang rahasia Cathy. Pada kenyataannya, selama ini ternyata Cathy memang tidak pernah mengucapkan apa pun pada mereka. Tidak satu pun. Julie memandang dingin ke arah Cathy.

“Kenapa kau tidak pernah menceritakannya pada kami, Cath?” tanya Julie dengan perasaan kecewa.

“Bukan urusanmu!” jawab Cathy ketus.

Emma tertawa.

“Tidakkah dia gadis yang menyebalkan, Julie?” kata Emma, setengah berbisik. “Kau membelanya mati-matian dan dia malah membentakmu. Teman macam apa itu? Mari kita balas pelacur ini hari ini dengan beberapa kejutan yang menyenangkan.”

“JANGAN MENGHINA SAHABATKU!”

Julie terlihat benar-benar marah. “Dia lebih baik daripada kalian semua!”

Emma mendengus.

“Heh.”

Ucapan Julie barusan membuatnya merasa tertantang.

Gadis itu mengayunkan tangannya lagi dengan gemulai, segera menyuruh para anak buahnya untuk menangkap dan mengunci tangan Julie dan Cathy. Kedua gadis itu berusaha memberontak tanpa hasil.

“Baiklah, Julie. The Unbeatable. Karena kau sudah memintanya dengan sopan, mari kita membahas mengenai dirimu hari ini.”

Emma memulai presentasinya dengan gaya formal dan sangat anggun. Pengendalian kualitas suaranya benar-benar terlatih dengan baik, postur tubuhnya tegak sempurna, dengan jelas menggambarkan pengalamannya yang luas dalam kompetisi berkelas internasional selama ini.

“Aku akan memperkenalkanmu pada teman-temanku. Saudari-saudariku, perkenalkan. Ini adalah Julie Light. Gadis kelas Sepuluh, Nimberland High School. Siapa kau, Julie? Julie Light. Oh. Hanya seorang idiot yang tidak bisa berbahasa Prancis. Meme un escargot ne est pas aussi stide que son. Kau pasti tidak mengerti apa yang kukatakan, kan?”

Gadis-gadis itu tertawa.

“Prestasi? Nihil. Kesibukanmu? Hanya reporter bodoh penulis artikel tidak penting di klub koran sekolah. Kualitas tulisanmu di bawah standar. Rongsokan seperti itu pasti langsung dijadikan pembungkus kotoran anjing di meja juri lomba-lomba yang sudah kumenangkan. Kecerdasanmu jelas di bawah rata-rata,” kata Emma dengan berwibawa. “Tapi kau manis juga, Julie. Pantas saja Cathy sangat cemburu padamu.”

Emma membelai rambut Julie dengan sangat lembut, jari-jari Emma menelisik lincah di kulit kepalanya. Mata Emma yang mengerikan kini menatapnya tepat di depan hidungnya. Julie berusaha keras menyembunyikan napasnya yang berantakan. Jantungnya berdegup tidak karu-karuan.

“Apa yang membuatmu berpikir bisa melawanku, Julie? Kenapa kau merasa sederajat denganku? Jenis hukuman apa yang pantas? The Unbeatable pasti butuh tantangan yang tidak biasa, kan?” tanya Emma dengan senyum jahat. Ia mundur beberapa langkah untuk menikmati pemandangan mangsanya.

“Baiklah. Aku akan memberikan hadiah yang tidak bisa kau lupakan, Julie. Apakah kau punya permintaan khusus?” tanya Emma sekali lagi.

Julie masih berusaha menarik tangannya yang dipegang kuat oleh teman-teman Emma, namun tidak membuahkan hasil apa-apa. Semakin ia berusaha melawan, tangannya semakin ngilu dan kram karena ditahan sekuat tenaga oleh lawannya.

Emma mengeluarkan sebotol kecil cairan berwarna kuning muda dari tasnya. Ia mengaduk-aduk botol itu, tampak bimbang dengan keputusannya kali ini.

“Kau tahu ini apa? Ini urinku. Air seniku sendiri. Hadiah spesial yang kusiapkan untuk penggemar-penggemarku. Tadi aku menyiapkannya untuk diminum Cathy. Tapi aku sekarang ragu apakah aku ingin menghadiahkannya untukmu. Rasanya hukuman seperti ini terlalu standar, tapi aku tak tega jika terlalu jahat padamu, Julie. Karena sebenarnya kau gadis yang manis. Kesalahanmu hanyalah berteman dengan pelacur ini,” kata Emma. “Bagaimana sebaiknya?”

Emma meletakkan botol itu kembali ke dalam tasnya. Ia berubah pikiran setelah berpikir sejenak. Sebagai gantinya, ia mengambil sebuah pemantik api dari saku samping tas sekolahnya.

“Baiklah. Sudah kuputuskan. Hukumanmu. Aku akan membakar tanganmu,” kata Emma.

“Apa?”

Julie terkejut. Ia hampir mengira kalau tadi ia hanya salah dengar, atau mungkin hanya bercanda, tapi reaksi penolakan yang keras langsung muncul dari orang-orang di sekelilingnya membuatnya meyakini kalau Emma memang benar-benar berniat membakar tangannya. Terdengar suara gemuruh dari teman-teman Emma yang juga ternyata tidak setuju dengan ide gila ini.

“Emma, apa yang kau lakukan? Kita tidak pernah melakukan ini sebelumnya.”

Emma tersenyum miring.

“Tenanglah. Aku hanya akan membakar sebuah fragmen kecil di kulit tangan kirinya. Dia tidak kidal, kan? Sebuah luka bakar kecil di pergelangan tangannya pasti memberinya kenangan tak terlupakan. Dia pasti akan mengingatku seumur hidupnya. Aku merasa terhormat, The Unbeatable, mematahkan julukan tidak terkalahkanmu itu. Buktinya, aku akan mengalahkanmu, sekarang. I beat you.

Emma menyalakan pemantik apinya.

“TIDAK!”

Julie meronta-ronta untuk melepaskan diri. Kedua anak buah Emma yang sedang memeganginya pun mulai terlihat panik dan tidak yakin.

“Jangan sampai kalian melepaskannya! Kalau kalian mengkhianati kepercayaanku, kalian yang akan jadi korbanku berikutnya!”

“Tapi, Emma—ini berbahaya.”

“Turuti apa kata-kataku maka semuanya akan baik-baik saja. Aku hanya akan membakarnya sedikit. Selama ini juga kita tidak pernah ketahuan, kan? Kalian meragukan kemampuanku?” Emma membentak. “Aku tahu apa yang kulakukan. Tahan tangan kirinya, jangan sampai dia bergerak, kalau tidak nanti api ini juga bisa membakar baju kalian. Dan tutup mulutnya.”

Julie berteriak dan meronta sekuat tenaga, tapi kini anak buah Emma yang membekuknya bertambah jadi empat orang. Mereka memegangi kaki Julie, tangan Julie, membekap mulutnya, berusaha menghentikan perlawanan tubuhnya dengan segala cara, sampai tubuh Julie jatuh tersungkur di atas tanah. Mereka langsung menduduki punggungnya, menahannya dengan kaki, lalu berusaha sekuat tenaga menghentikan semua gerakan apa pun dari lengan kirinya.

Cathy memandangi semua itu dengan wajah ketakutan.

“Bagus,” kata Emma. Ia menyalakan pemantik apinya lagi, lalu meletakkannya tepat si kulit lengan kiri Julie. “Sekarang, Mlle.Light. SELAMAT DATANG DI NERAKA.”

Emma meletakkan nyala api itu tepat di bagian dalam pergelangan tangan kiri Julie. Ia membuat gerakan memutar untuk bersenang-senang, lalu mulai memusatkannya lagi di satu titik yang sama.

Julie menjerit tanpa suara, luar biasa kesakitan. Api itu membuat kulitnya melepuh perlahan-lahan. Air matanya mengalir tanpa dapat dikendalikannya. Rasa dingin yang disusul cepat oleh perih dan panas dari api pemantik itu membuatnya kehilangan kontrol atas tubuhnya sendiri.

Emma tertawa. Ia menghentikan siksaannya setelah melihat Julie cukup terluka. Dengan aba-aba dari gerakan tangannya, ia memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan Julie dari cengkraman.

Julie berusaha bangun dengan susah payah. Seluruh sendi tubuhnya sakit, tulangnya sakit, punggungnya sakit, dan tangan kirinya lebih sakit lagi. Rasanya api itu masih membakar kulitnya. Ia melihat kulitnya yang melepuh, membentuk keriput basah putih berdiameter satu inci.

“Bagaimana, Julie? Kau suka dengan salam perkenalanku?” tanya Emma. “Tanda tangan itu yang nanti akan jadi pengingatmu kapan pun kau berpikir untuk bermain-main api lagi denganku. Oh? Kenapa aku melakukan ini padamu? Seharusnya aku melakukan ini pada Cathy, bukan padamu. Benar juga. Aku menyesal. Maafkan aku. Tapi tidak apa-apa, yang penting Cathy sudah menyaksikannya. Benar kan, Cathy?”

Julie melihat ke arah Cathy. Kali ini, gadis itu juga melihatnya, dengan ekspresi wajah yang tidak pernah Julie lihat sebelumnya—rasa bersalah, iba, sedih, dan benci yang bercampur menjadi satu. Rasa sakit di pergelangan tangannya kali ini membuatnya tersadar bahwa sesuatu di dalam hatinya juga sedang merasakan rasa sakit yang sama. Ia terluka oleh penolakan sahabatnya. Ia sangat menginginkan semua kekacauan di pikirannya ini cepat berakhir.

Tiba-tiba suara yang lembut seperti piano bergema di telinga Julie. Suara yang sama yang tadi berbisik padanya saat ia membaca pesan dari telepon selularnya. Suara Richard!

“Jangan berpikir kau udah menang,” kata Julie dengan mantap dan tegas. Sekarang ia teringat lagi alasan kenapa dia bisa berada di tempat ini sejak awal. Ia menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan diri untuk serangan berikutnya.

Emma mengedikkan kepalanya. “Kau ingin tambahan hukuman lagi?”

“Aku punya bukti video yang bisa membatalkan beasiswa ke luar negerimu, Emma,” kata Julie tajam.

Emma menegakkan alisnya. “Video?”

Julie menelan ludahnya.

Yeah, sebuah video penyiksaan yang kau lakukan di tempat ini. Persis seperti yang kau lakukan padaku dan Cathy sekarang. Kami merekamnya dengan sangat baik, yang sebentar lagi akan mengakhiri masa depanmu. Semua reputasi akademis yang susah payah kau bangun selama ini, Emma. Semua akan runtuh saat video ini kami sebarkan ke semua orang.”

Julie mencoba maju selangkah meski dengan kaki goyah dan gemetaran. Ia menarik napas panjang. Bayangan tentang Richard tadi telah memberinya keberanian dan senjata untuk melawan Emma. Ia sudah tidak merasa takut lagi.

Emma tertawa.

“Cih. Kau pikir aku bodoh,” kata Emma. “Gertakanmu tidak akan berpengaruh apa-apa padaku, Julie. Aku selalu memastikan setiap tindakanku bersih dan bebas dari kecurigaan. Kau pikir aku tidak mempersiapkan semua ini dengan cerdas? Kau lupa sedang berhadapan dengan siapa?”

“Lalu menurutmu apa yang ada di kantongku sekarang, Emma?” jawab Julie dengan menantang. Ia merogoh sakunya memperlihatkan telepon selulernya. “Video aksi yang kau lakukan di tempat ini.”

“Ambil ponsel itu!” perintah Emma pada anak buahnya.

Gadis-gadis itu menggeledah Julie dengan kasar. Mereka merebut ponsel Julie, memastikan tidak ada ponsel lain di pakaiannya, lalu menyerahkannya pada Emma. Emma memeriksa ponsel itu, meyakinkan kalau tidak ada aplikasi perekam yang sedang diaktifkan. Ia kemudian memeriksa galeri, menemukan sebuah file yang tidak ingin dilihatnya.

“Apa ini?” kata Emma dengan marah. “Kenapa video ini bisa ada di sini!?”

“Video apa?” tanya teman Emma.

“Siapa yang merekam ini!?”

Emma berlari mencengkram kerah Julie, berteriak dengan intonasi yang mengerikan. “KENAPA VIDEO INI BISA ADA DI SINI!!!”

“Video apa, Emma?” tanya yang lain.

“SIAPA YANG MEREKAM INI!?”

Emma menunjukkan video pada ponsel itu satu persatu pada teman-temannya.

“Kupikir kau bilang kau sudah memastikan semuanya aman dan terkendali, Glade!” kata Emma dengan bergemuruh marah pada salah seorang sahabatnya. “Kenapa aku selalu dikelilingi para idiot!”

Julie menjawab pertanyaan itu dengan ekspresi menantang. “Apa hal itu menakutkanmu?”

Emma menyambar Julie. “Dari mana kau mendapatkan ini!”

“Dari teman-teman yang menyayangi Cathy,” kata Julie. “Dan orang-orang yang peduli padanya. Dan kami masih punya banyak lagi.”

Mereka mulai semakin riuh saat ponsel Julie diperebutkan dan diperdebatkan satu sama lain. Emma menarik ponsel itu dengan paksa dari mereka, lalu mulai menyalahkan orang-orang kepercayaannya. Mereka bertengkar dan bersilat lidah, sedapat mungkin melepaskan diri sendiri dari tuduhan dengan cara mengkambinghitamkan anggota geng yang lainnya. Emma mendapat kecaman yang paling berat karena dia mulai mengancam akan membeberkan keburukan semua orang.

“Aku tahu kau sangat pintar, Emma, tapi kau tidak dikelilingi sahabat-sahabat seperti Cathy. Tidakkah kau lihat sendiri di sekelilingmu, apakah teman-temanmu akan menyukaimu di saat kau sedang terpuruk?” kata Julie. “Kami bukan teman-teman palsu Cathy, Emma. Kami adalah sahabatnya. Dan kami akan melakukan apa pun untuk membantunya.”

Julie terlihat lebih berani daripada Julie yang biasanya. Ia seperti orang yang berbeda.

“Aku dan teman-temanku punya banyak video seperti itu, dan kau tahu? Kami lebih pintar daripada yang kau duga.” Julie meringis. “Kau tidak ingin video itu sampai di tangan kepala sekolah, kan? Atau kau ingin aku buatkan artikel khusus di koran sekolah untuk membahas perbuatanmu? Aku tidak akan ragu-ragu melakukannya, karena aku sudah punya bukti yang kuat.”

“Kau ingin tahu bagaimana kelanjutan nasib beasiswa luar negerimu? Dan nasib semua orang yang ada di sini? Semua orang yang menuruti kemauanmu untuk mem-bully orang lain?” lanjut Julie. “Kuharap berakhir indah, karena itu semua adalah keputusanmu. Pikirkanlah baik-baik.”

Emma menelan ludahnya dengan penuh amarah. Ia sangat yakin dengan kehati-hatiannya selama ini. “Kenapa video itu bisa ada!”

Emma menyambar kerah baju seragam sekolah Julie dengan kasar. “Bagaimana kau melakukannya!?”

“Mungkin kau harus berpikir lagi tentang definisi pintar, Emma,” kata Julie sambil menyeringai. “Kalau kau berpikir kau sangat pintar, bisa jadi karena selama ini karena kami mengalah dan mengasihanimu. Atau kalau kau mulai menyadari kenyataannya, kau tidak sepintar yang kau kira.

Emma benar-benar kehilangan kendali emosinya. Ia melepas satu persatu partisi ponsel Julie, mematahkannya, mencabut memori card-nya dengan marah dan merusaknya, lalu menginjak ponsel itu hingga hancur.

“Hancurkan saja. Aku masih punya banyak yang lain,” kata Julie sambil menyengir.

Emma menampar Julie, gadis itu tersungkur. Ia menendang tungkai kaki kanan Julie dengan keras, membuat gadis itu kesakitan. “Bagaimana kalau aku menghancurkan kakimu? Kau masih punya banyak yang lain?”

Julie meringis dan bangkit.

“Kau yakin mau meneruskan ini, Emma?” kata Julie, melayangkan pandangan sengit pada gadis itu. “Pertimbangkanlah tawaranku baik-baik, Emma. Dan teman-temanmu juga. Mereka akan dikeluarkan dari sekolah karena membantumu.”

Emma menggeram.

“Kau tidak akan menyerahkan video itu pada siapa-siapa,” bentak Emma. “Karena kau akan tamat hari ini, Julie.”

“Kau pikir memangnya kenapa aku berani datang ke tempat ini seorang diri? Apakah karena aku yang bodoh atau kau yang bodoh?” balas Julie dengan nada sama tinggi. “Silakan lanjutkan jika kau ingin menambah koleksi videoku untuk diserahkan ke kepala sekolah. Sekarang teman-temanku sedang merekam kejadian ini dari suatu tempat. Kalau kau bersikap lebih kasar lagi padaku, aku akan menyuruh mereka memanggil semua orang ke tempat ini sekarang juga.”

“Omong kosong!” kata Emma. Ia tertawa mencibir. “Teman-temanmu? Kau tidak bisa menggertakku dengan omong kosong itu. Tidak ada siapa-siapa di sini.”

Teman-teman Emma mulai terlihat gelisah. “Emma, sudahlah. Ayo kita pergi dari sini.”

“Dia berbohong!” kata Emma.

“Lalu bagaimana caranya ia mendapatkan video itu?” tanya yang lain dengan keras. “Wajahku juga terekam di sana. Aku tidak mau terlibat lebih jauh lagi.”

“Salah seorang dari kalian berkhianat padaku,” kata Emma. “Katakan! Siapa yang merekam ini!”

“Bukan aku yang merekamnya—”

“Kau juga ada di sana waktu itu! Mukamu tidak ada di sini. Jangan-jangan kau yang berkhianat padaku—”

“HEY! KAU PIKIR KAU SEKARANG DALAM POSISI TAWAR??” bentak Julie. “Pecahkan teka-teki itu di tempat lain! Pergi dari sini sebelum aku kehilangan kesabaran!”

“Jalang!”

Setelah berdebat dan berargumen tidak henti-hentinya, Emma tidak bisa mengalahkan desakan teman-temannya yang sudah sangat ketakutan kalau video itu akan tersebar. Gadis itu dan teman-temannya akhirnya pergi meninggalkan Julie dan Cathy, sambil tetap saling menyalahkan satu sama lain dan berbantah-bantahan. Emma mendengking marah dari kejauhan.

***

 BACA SELANJUTNYA >>

22 – Teman (4)

Comments 25 Standar

Julie baru saja tiba di lantai tiga saat ia mendengar sebuah pesan masuk yang berdering dari ponselnya. Ia mengambil ponsel dari saku bajunya, melihat nomor tak dikenal yang cukup familiar di matanya. Ia menahan napasnya.

Pesan dari Richard.

Jantung Julie berdegup kencang.

Ia berhenti berjalan. Tubuhnya merapat di dinding, di sudut koridor, setengah bersembunyi seperti memastikan tidak ada orang yang melihat keberadaannya di situ.

 

Julie.

Segera hapus pesan ini setelah kau membacanya. Tapi jangan lupa mengunduh file video di lampiran pesan ini terlebih dahulu sebelum kau melakukannya. Simpan di dalam direktori ponselmu, atau perbanyak untuk rangkap pribadimu. File asli ada padaku. Aku mendapatkannya dari seorang teman yang dapat dipercaya. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi.

Aku sudah membicarakannya dengan Jerry. Dia setuju untuk membantu menulis artikel yang mengancam Emma. Mungkin dia akan menghubungimu lagi hari ini untuk membahas tentang rencanaku padanya.

Aku memenuhi janjiku padamu, Julie. Kuharap ini juga dapat memperbaiki hubunganmu dengan Cathy.

Aku minta maaf karena sudah merusak persahabatan kalian.

 

Richard.

 

Ia membaca pesan itu sekali lagi. Tangannya gemetar karena panik, tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan jari-jemarinya.

Kata-kata pada tulisan itu ditulis dengan rapi dan sopan, seperti ciri khasnya Richard yang membuat Julie begitu terkacaukan. Suara Richard yang lembut seperti berbisik pelan di telinganya. Ia tidak bisa berkonsentrasi. Dadanya getir sekali saat Richard mengucapkan kata maaf.

Setelah berkali-kali menarik napas, Julie berusaha mencerna kata-kata yang ditulis oleh Richard barusan. Sekarang ia mencoba meng-klik sebuah ikon bergambar video. Ia meng-klik tombol “Play” pada pesan multimedia tersebut.

Julie melihat gambar video rekaman Emma dan teman-temannya sedang memukul seorang siswi kelas Sepuluh di belakang gedung sekolah.

Ia terperanjat.

Gadis yang ada di video itu adalah Tania Lawless, gadis kelas Sepuluh yang dikabarkan berhenti sekolah sejak dilabrak geng Emma beberapa bulan yang lalu. Namun tidak pernah ada seorang pun pihak otoritas di sekolah yang mempercayainya karena Emma selalu dapat menutupi kejahatannya dengan baik. Gosip itu akhirnya hanya menjadi satu dari jutaan gosip-gosip yang berlalu di Nimber, tanpa ada penanganan khusus, dan menghilang begitu saja tanpa penjelasan.

Dari sudut pengambilan gambar yang tidak mulus dan bergoyang serampangan, jelas terlihat bahwa rekaman ini diambil diam-diam oleh seseorang di suatu tempat tanpa sepengetahuan Emma dan teman-temannya. Beberapa kali terlihat jari-jemari pengambil gambar tampak menghalangi layar kamera, setiap kali Emma dan teman-temannya menatap ke arah sana, seperti berusaha menutupi agar aktivitasnya tidak ketahuan.

Julie langsung mematikannya saat video itu menampilkan adegan sadis di pertengahan menit pertama. Dengan hati-hati, ia menyimpan video itu di galeri ponselnya, lalu menghapus pesan tadi, sesuai perintah Richard. Ia merenung lagi, memikirkan arti dari semua ini. Ia kemudian teringat perkataan Nick padanya di Kelas Musik tadi, tentang Richard yang membuat sebuah rencana untuknya. Apakah video ini adalah bagian dari rencananya? Mengapa Richard mengirimkan ini?

Puluhan pertanyaan tiba-tiba muncul di kepalanya secara bertubi-tubi. Julie tidak tahu apa persisnya yang direncanakan Richard, tapi Richard berkata kalau ini ada hubungannya dengan Jerry. Kenapa Richard menemui Jerry? Apa saja yang mereka bicarakan? Apakah pesan Jerry menyuruhnya ke ruangan klub koran sekolah sore ini adalah untuk membahas ini? Apakah nanti Richard juga akan ada di sana? Apakah mereka berencana merusak nama baik Emma di koran sekolah dengan video ini? Kenapa? Apakah itu tindakan yang bijaksana? Artikel seperti apa yang ditulis Richard dan Jerry yang bisa menyelamatkan Cathy nanti?

Dari mana Richard mendapatkan video ini?

Semakin lama Julie memikirkannya, semakin semuanya menjadi lebih jelas sekarang. Video ini dapat menjadi alat bukti kejahatan Emma yang selama ini tidak tersentuh, mereka bisa menjadikannya kartu As kapan pun Emma mengganggu Cathy. Richard benar, Julie bisa menggunakan video ini untuk memperbaiki hubungannya dengan Cathy.

Julie memutuskan untuk menonton video itu sekali lagi, kali ini hingga durasi video empat menit dua puluh detik itu selesai dimainkan. Ia mengecilkan volume ponselnya dan mengerling sesekali ke sekelilingnya dengan hati-hati, jangan sampai kepergok geng Emma yang menangkap basah tiba-tiba dari belakang. Beberapa adegan awal tidak terlalu jelas kelihatan karena posisi kamera yang sering bergoyang, tapi menuju pertengahan video terlihat lebih stabil. Wajah Emma terlihat jelas, begitu mengerikan, sedang mem-bully Tania dengan ancaman tamparannya yang sengaja mengintimidasi.

Tak lama kemudian, video itu berlanjut ke adegan penyiksaan yang lebih menakutkan. Emma menarik rambut Tania dan melumuri wajahnya dengan semangkuk cacing tanah yang masih hidup dan menggeliat. Ia memasukkan sisanya ke dalam saku seragam sekolah Tania, lalu menjahit mulut saku itu agar cacing-cacing itu tidak dapat keluar. Sebagian yang berjatuhan dimasukkan ke dalam kaus kaki Tania, sambil teman-teman Emma membungkam mulutnya agar tidak berteriak.

Julie menelan ludahnya. Bayangan tentang Cathy yang diperlakukan seperti itu membuatnya ngeri.

Ia ingat sekarang. Dulu saat ia memergoki Cathy menangis, gadis itu juga datang dari arah tempat yang sama. Ia tiba-tiba mengurungkan niatnya menemui Jerry. Ada hal lain yang lebih mengganggu pikirannya—lebih daripada apa pun. Firasat buruk dan naluri jurnalismenya menyuruhnya untuk segera mengunjungi lokasi penyiksaan itu sekarang.

Julie berlari secepat kilat menuruni tangga menuju tempat itu. Tidak ada yang pernah peduli pada bagian belakang bangunan tua bekas gudang. Tempat itu terlalu angker dan tidak menarik untuk dikunjungi. Semak-semak yang tumbuh liar dan tinggi di sekelilingnya membuat tempat itu tak terjamah oleh banyak orang, dan sudut mati yang sempit mungkin tak menarik perhatian tukang kebun sekalipun. Pantas saja Emma selama ini selalu dapat menutupi kejahatannya.

Setelah semakin dekat dengan bangunan tua itu, Julie mendengar bunyi tawa yang berdentum dari kejauhan, kelebat bayangan beberapa orang di sela-sela semak dari tempat yang ia tuju. Ia memperlambat langkahnya, lalu berjalan mengendap-endap untuk menyelinap.

Dugaannya benar. Gerombolan Emma sedang ada di sana, menyakiti seseorang lagi. Dengan napas yang ditahan, Julie merangkak mendekati tempat itu dengan sangat hati-hati, bersembunyi di balik pilar dan semak-semak tinggi dengan posisi setengah berjongkok. Ia mengamati kalau ada sepuluh orang senior kelas atas—Kelas Sebelas dan Dua Belas, berjaga berkeliling di sekitar area itu untuk memastikan tidak ada yang menyusup dan mengetahui aktivitas mereka. Di lingkaran tengah, Emma dan tiga sahabat utamanya berdiri melingkar menghadap tembok.

Ketika ia sudah sangat dekat, ia melihat sosok berambut coklat bergelombang yang sangat dikenalnya.

Cathy!

***

 BACA SELANJUTNYA >>

22 – Teman (3)

Comments 3 Standar

Setelah penampilan mereka berakhir, mereka menghabiskan sisa jam Kelas Musik itu dengan perasaan lebih cerah. Nick diam-diam merasa bangga pada dirinya sendiri, ia telah berhasil membuat Julie tertawa kembali. Gadis itu terlihat lebih riang sekarang, kekonyolannya yang dulu akhirnya sudah mulai kembali seperti semula.

Beberapa siswa tertawa lepas saat Mr.Kennedy mengatakan akan memberikan A+ pada kelompok Julie dan kawan-kawan, Julie malah meminta program subsidi silang untuk mendongkrak nilai Kelas Prancisnya. Mereka benar-benar menyukainya, seolah telah lupa dengan ketidaksukaan mereka pada gadis itu beberapa waktu yang lalu.

Nick yakin, Jessie dan Kayla pasti akan senang mendengar kabar ini.

Dengan optimisme yang sama, Nick memutuskan untuk mengajak Julie pergi ke Kalle Expo sore itu, setelah Kelas Musik berakhir. Ayahnya menyelenggarakan pameran patung selama beberapa hari terakhir ini, yang Nick pikir mungkin akan menyegarkan pikiran gadis-gadis itu setelah melewati minggu yang melelahkan.

“Tidak bisa, Nick,” tolak Julie. “Kau saja pergi dengan Jessie dan Kayla. Aku harus menemui Jerry.”

“Kau yakin?” tanya Nick. “Di antara semua gadis, justru kau-lah harusnya mendapat liburan, Julie. Melihat patung Michael Angelo tiruan atau seni patung tak berbentuk mungkin bisa membuat pikiranmu lebih rileks lagi. Ayolah. Jerry bisa menunggu.”

Julie menggeleng.

“Aku sudah berjanji,” kata Julie. “Kau tahu, Nick. Aku sudah memperburuk semuanya. Aku tidak ingin semakin memperburuknya lagi. Kalau ada kesempatan bagiku untuk mengembalikan semuanya lagi seperti semula, aku akan melakukannya demi itu.”

Nick mengkerut masam.

“Kau menyukai Jerry, ya?”

Julie menjawab cepat. “Jangan macam-macam.”

Nick mencibir. Ia memang tidak berkata apa-apa, tapi alis matanya yang tegak naik-turun jelas-jelas menunjukkan kalau ia meragukan pernyataan itu. Julie melotot.

“Tidak,” kata Julie, mempertegas jawabannya. “Aku tidak pernah menyukainya.”

“Memang kuharap tidak.”

Nick menyengir penuh arti. Tuhan tahu benar siapa yang ia harapkan untuk disukai Julie dan itu selalu diusahakannya diam-diam. Termasuk menyugesti dan mensabotase isi pikiran Jessie selama ini agar merestui hubungan dua orang itu—Richard dan Julie. Siapa pun harusnya tahu Richard tidak pernah cocok dengan Cathy.

“Baiklah kalau begitu. Good luck,” Nick menyemangati. “Aku tahu kau bisa melakukannya dengan baik, Julie. Semua akan baik-baik saja.”

Julie balas tersenyum. Tapi dalam sekejap senyuman itu langsung menghilang, digantikan oleh seringai jijik yang berfokus pada satu titik di wajah anak laki-laki itu. Seuntai bulu hidung Nick menjuntai dari lubang hidungnya yang besar.

“Errgh. Sinting.” Julie menggeram rendah.

Nick tertawa. Ia mengorek hidungnya tepat di depan gadis itu, dan menunjukkan salah satu bulu hidungnya. Gadis itu menendangnya dengan kesal. Nick mengaduh.

“Nick,” kata Julie ragu-ragu. “Hari ini kau tidak menemani—orang itu?”

Nick tersenyum.

“RICHARD?” kata Nick, langsung menyebutkan nama itu tanpa berbasa-basi. Julie menyengir terpaksa. Nick menggeleng pelan. “Tidak. Sore ini Richard mengunjungi pamannya. Lagipula, aku tidak mungkin bisa mengajak dia berjalan beriringan bersama kalian, kan?”

Gadis itu menyengir pahit.

Yeah.

“Julie, sebelum kau pergi,” kata Nick suatu ketika. Wajahnya terlihat lebih serius daripada biasanya. “Aku tahu Jessie sangat membenci Richard sekarang. Kayla juga. Cathy, Cassandra, Lucy—hmph, mungkin semua orang sekarang membencinya. Bahkan kau adalah yang paling punya alasan untuk marah padanya saat ini.”

Nick menatap lekat.

“Aku ingin kau tahu kalau Richard tidak seburuk itu. Dia orang yang baik, dia sedang melakukan sesuatu untuk kalian. Meskipun yaah, dia juga punya kekurangan dan kebodohan. Tapi–yaah, itulah. Dia manusia biasa, Julie. Aku harap kau mau memaafkannya.”

Julie menelan ludahnya dengan kaku. Sampai akhirnya ia membuka suara dengan pelan dan serak. “Yeah.”

Mereka akhirnya berpisah di ujung tangga, sementara Nick turun dan Julie naik ke lantai atas menuju ruang klub koran sekolah.

***

 BACA SELANJUTNYA >>

22 – Teman (2)

Comments 30 Standar

Nick bersedekap.

Julie belum datang juga. Padahal Mr.Kennedy sudah berada di ruang Kelas Musik hari ini–dan Nick yang hampa ini, tidak bisa membayangkan sehari pun dunianya di Kelas Musik tanpa kehadiran Julie.

Ia menyisir rambut hitam belah tengahnya dengan jari-jemarinya yang panjang.

“Jadi, hari ini kita akan membawakan parodi. Pilih anggota kelompokmu berisi 4-5 orang, pilih lagu kalian, dan hibur aku hari ini, anak-anak,” kata Mr.Kennedy dengan suaranya yang menyala.

“Parodi LAGI??” Respon beberapa siswa yang mengeluh panjang.

“Ya, PARODI LAGI,” tukas Mr.Kennedy dengan gaya dibuat-buat. “Apa Anda keberatan, Tuan-tuan dan Nyonya-Nyonya? Anda bisa melaporkan surat keberatan Anda pada guru Musik yang bertugas hari ini–yang mana aku yakin dia memiliki kewenangan tak terbatas untuk menentukan apa pun topik pelajaran yang dia mau, ini nomornya 03822211..”

Mr.Kennedy menepuk dahinya sendiri.

“.. Tunggu, tunggu dulu. Itu nomorku. Kenapa nomorku bisa ada di sana? Wah! Ternyata guru Musik itu aku! See?”

Dengan gayanya yang khas, kedua tangan Mr.Kennedy menari-nari dan melambai setiap kali ia berbicara, seperti kebiasaan seorang konduktor orkestra yang terbawa dari lahir.

“Di mana Julie?”

Mr.Kennedy mendelik ke arah Nick, kemudian menyapu pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Julie tidak ditemukan di mana pun.

Semua orang kini ikut-ikutan memandang ke arah Nick–seolah-olah dia pacarnya Julie atau semacamnya. Entah kenapa. Padahal gadis itu, melihat bulu hidungnya yang legendaris saja sudah menahan muntah.

“Aku juga menanyakan pertanyaan yang sama, Sir,” tukas Nick dengan napas pendek. “Kurasa dia terlambat lagi.”

Julie adalah murid kesayangan Mr.Kennedy sejak awal semester. Walaupun suaranya pas-pasan dan hampir selalu keluar tempo, tapi penampilan Julie selalu memukau guru Musik mereka, tak peduli betapa pun anehnya hal apa pun yang dinyanyikan oleh gadis itu.

Kalimat yang sepele yang diucapkan orang normal dengan normal pun, entah kenapa bisa terdengar luar biasa menggelikan jika Julie yang mengucapkannya.

“Ya sudahlah,” kata Mr.Kennedy, tampak kecewa.

Mr.Kennedy lalu bertepuk tangan dengan keras untuk memberikan isyarat pada seluruh siswa untuk memulai tugas mereka.

“Tiga puluh menit dari sekarang! Durasi pendek saja, tidak usah panjang, Gentlemen! Ingat apa yang aku ajarkan minggu lalu? Praktik! Kalo tidak ada elemen-elemen yang pernah kuajarkan, tidak ada nilai A, mengerti? Aku sangat baik hati hari ini, maka izinkanlah aku memberi nilai A untuk kalian semua. Please? Mulai!”

Dalam sekejap, kelas menjadi rusuh karena para siswa mulai mencari partner kelompok Musik mereka.

“Nick, apa kau akan sekelompok dengan Julie lagi jika dia datang?” tanya Clara suatu ketika. Nick mengangguk. Clara menarik garis bibir dengan masam.

“Ada masalah?” kata Nick.

Clara menggeleng.

“Tidak–hanya saja, kupikir sebaiknya kau mencari teman baru, Nick. Aku hanya kasihan dengan Jessie, kalau sampai ternyata antara kau dan Julie juga–” Clara tidak melanjutkan kata-katanya.

Nick tahu apa maksudnya. Pasti ini soal Richard dan Cathy.

“Jadi kau mau sekelompok Musik denganku atau tidak?” kata Nick tanpa menghiraukan pernyataan Clara tadi.

“Mau, tapi–”

“Kalau mau, aku ingin ada Julie di kelompokku. Aku tidak menerima negosiasi. Dan satu lagi. Julie, tidak seburuk yang Anda bayangkan, Nona.”

Nick meniru gaya santai yang dilakukan Mr.Kennedy tadi dan bersikap cuek seperti tidak terjadi apa-apa. Ia memanggil Rom dan Daniel, yang membalas lambaian tangannya dengan seringai lebar.

“Aku sudah dapat dua personel untuk kelompokku,” kata Nick pada Clara. “Nah, hanya tinggal satu kursi lagi yang tersisa. Kalau kau mau, ini kesempatan terakhirmu. Kalau tidak juga tidak apa-apa. Dengan Julie, kelompok kami pas berempat.”

Clara menggigit bibirnya. “Tapi Julie kan belum datang–”

Nick memotong cepat, memanggil dari kejauhan.

“Hey, Felton, kau mau ikut kelompokku?” Kata Nick sambil melambai. Clara menarik tangan anak laki-laki itu dengan wajah panik. “Oke, oke! Nick! Aku masuk.”

Dua menit kemudian, mereka sudah duduk melingkar di atas bangku yang mereka susun. Clara sudah menyiapkan kertas dan pulpen, menyerahkannya pada Nick.

“Kenapa kau menyerahkannya padaku?” tanya Nick.

“Karena kau ketua kelompok, Nick,” sambut Daniel dan Rom sambil tertawa. Clara tersenyum-senyum sendiri.

“Sejak kapan aku jadi ketua kelompok?” celetuk Nick.

Ketiga anak itu tak mendengarkan keluhannya, sehingga Nick terpaksa meraih kertas dan pulpen itu. Nick mendesah panjang. Panjang sekali. Selama beberapa puluh detik berikutnya, ia hanya menatap kertas itu dalam kesunyian. Dan ia mendesah sekali lagi. Ini bagian yang paling sulit.

“Rom, tolong beri aku ide.”

Rom menggaruk-garuk kepalanya, memberikan usulan agar kelompok mereka membawakan Metallica. Clara menolak mentah-mentah, sementara Daniel menyarankan untuk memparodikan Linkin Park. Clara semakin mengamuk, tapi Daniel bilang dia hanya mau memainkan melodinya saja, liriknya urusan Clara.

“Ha–ah, kalian ini menyedihkan,” keluh Nick sambil mengusap panjang wajahnya. Otaknya berputar-putar mencari ide, tapi untuk sebuah pertunjukan spektakuler yang biasanya ia mainkan, ia butuh satu personel lagi yang paling berbakat di antara mereka semua.

Sepertinya Nick tak perlu menunggu terlalu lama untuk frustasi, karena tak berapa lama kemudian, terdengar ketukan pelan dari pintu kelas mereka. Setelah gagang pintu ditarik ke bawah, sebuah kepala bulat berambut pirang panjang menjulur aneh di celah pintu.

“Siang,” kata Julie.

Nick mendongak gembira, seperti anak anjing yang menyambut pulang majikannya. Ia mengayunkan tangan kanannya dengan gerakan memutar, untuk menarik perhatian Julie ke arah tempat kelompok mereka duduk.

“Ms.Light. Masuk,” kata Mr.Kennedy. “Segera pilih kelompokmu. Ya, hari ini parodi lagi. Penampilan kesukaanku. Kau tentunya ingin bergabung dengan Mr.White, kan?”

Nick melihat sekeliling. Entah kenapa, tidak ada yang terlalu peduli akan kedatangan Julie. Julie tak terlalu mendapat banyak perhatian saat berada di Kelas Musik hari ini. Biasanya mereka selalu antusias setiap melihat Julie di dalam kelas, tapi sejak kejadian minggu lalu tampaknya hanya beberapa orang saja yang tertarik padanya.

Bahkan Rom dan Daniel pun tak seantusias biasanya.

“Hai Julie,” kata mereka datar.

Julie tersenyum hanya tipis saja.

Nick mengetahui dari Jessie kalau Julie sedang bersedih karena masalah yang menimpa mereka. Ia memikirkan sesuatu untuk membuat gadis itu bersemangat kembali.

“Jadi, Julie—” seringai Nick. “Lagu apa yang akan kita bawakan hari ini?”

“Entahlah,” kata Julie malas. “Terserah kau saja.”

Nick berpikir sejenak. Ada tiga orang lain di tim mereka—Daniel, Rom, dan Clara. Daniel dan Rom spesialis melodi dan perkusi. Clara penyanyi Sopran yang piawai, salah satu yang terbaik di klub Paduan Suara Nimber. Mereka adalah musisi yang handal di kelas, kombinasi yang paling menarik, namun ada lagi yang lebih menarik. Nick menoleh ke arah Julie dengan senyum terbuka.

Nick merasa ini adalah kesempatan emas untuk memulihkan kepercayaan orang-orang pada gadis yang sedang bersedih itu. Gadis itu pantas mendapatkannya.

“Buatkan aku sebuah lirik,” kata Nick kemudian. “Ini parodi lagi. Aku akan membuatkan komposisi musiknya. Seperti biasa.”

“Apa yang harus kutulis?” tanya Julie.

“Terserah,” kata Nick sambil bersenandung.

“Tentang apa?”

Nick mengangkat bahunya sambil tersenyum miring.

Julie menanyakan pertanyaan yang sama pada ketiga orang lainnya, tapi mereka tak terlalu bergairah menjawab. Clara bahkan tak henti-hentinya menengok ke arah kelompok lain.

Gadis itu akhirnya menghela napas.

“Baiklah, baiklah. Tapi jangan salahkan aku kalau aku menghancurkan mood kalian,” kata Julie dengan pasrah. “Kurasa aku sangat berbakat menghancurkan segalanya akhir-akhir ini.”

Ia mengambil secarik kertas dan menulis sembarangan.

“Sudah selesai,” kata Julie. Ia mendorong kertas itu dan pulpennya ke arah mereka.

Do You Wanna Build A Snowman. FROZEN.”

Nick mendengar judul lagu itu dengan antusias. Ia mengambil kertas yang tadi ditulisi Julie dan membacanya.

Ia tertawa keras-keras.

Ketiga orang lain memandangnya dengan penasaran, ingin tahu apa yang ditulis Julie di kertas itu. Daniel, Rom, dan Clara mengambil kertas itu dari tangan Nick dan membacanya.

Mereka tertawa meledak.

“Kau hebat, Julie.” Clara menyunggingkan senyumnya.

Nick sudah menduga ini akan terjadi. Tak peduli seberapa pun siswa-siswa Nimber kehilangan gairah mereka akan Julie, gadis itu pasti akan kembali menarik perhatian mereka dengan pesonanya.

Mereka membawakannya di depan kelas. Awalnya, tidak ada yang bereaksi saat tim mereka memperkenalkan diri. Tapi saat Nick memulai parodinya dengan petikan gitarnya yang profesional, mereka mulai tersihir.

Terutama saat Julie mulai membuka suaranya.

JULIE: [1]
Do you wanna eat potato?
Better than tomato
Potato chips is the best, in toaster it is fresh
tomato melts away

I’m so hungry I could die
I can’t think or sing
I’m dumb and I don’t know why 

Seisi kelas langsung riuh seperti petasan. Kata-kata yang diucapkan Julie begitu tidak masuk akal, hingga akhirnya ingatan akan penampilan-penampilan aneh Julie minggu-minggu sebelumnya segera meluncur cepat ke kepala mereka.

Nick berusaha mati-matian berkonsentrasi pada permainan gitarnya.

Do you wanna eat potato?
It’s really better than tomato..

okay, bye

Beberapa orang mulai menahan merah di muka mereka saat Julie mengakhiri nyanyiannya. Ekspresi Julie masih sama lugunya ketika menatap Clara dengan wajah polos.

“Itu bukan lagunya, Julie,” kata Clara sambil berakting. “Biar kuajarkan lagu yang sebenarnya.”

Nick, Rom, dan Daniel mulai berimprovisasi lagi.

CLARA:[2]
Do you wanna school in Nimber?
It’s the real song we have to sing
You will learn many things in this place, education is the best
Now get out of your nest

Come on let’s go in hurry
‘Cause I know you’re not
Or you could lose brighter sky..

Suara Clara terdengar merdu. Semua yang mendengarkan mereka sangat terpukau. Sampai akhirnya Julie menjawab percakapannya.

JULIE: [3]
Do you wanna eat potato? (no!)

It’s our lunch in Nimber’s cafetaria 
(not like that, Julie!)
Okay, bye 

Julie kemudian menyanyikan kelanjutannya sebagai pemeran utama menggantikan Clara, dengan suaranya yang pas-pasan dan tempo berlarian. Tidak ada yang peduli kecuali pada apa yang dinyanyikannya, ekspresinya dan gaya bicaranya.

JULIE: [4]

Alright, it’s about Nimber
Well, I don’t think so, I don’t know..
You’re right many things in this place, education is the best
With one cardiac arrest

M.Wandolf is scary
He asks me to French
His bald head will shine so bright..

Anak-anak tertawa lagi. Julie menghentikan lagunya sesaat dengan penuh penghayatan. Bahkan Mr.Kennedy tak kuasa membayangkan kilap di kepala guru Kelas Prancis itu, yang memang berkilau-kilau di ruang guru.

Tak lama kemudian, Julie dan Clara berduet, Clara mengisi suara dua. Nick menaikkan nada dasarnya, mempercepat tempo permainannya. Rom dan Daniel mengiringi dengan sangat cekatan.

JULIE & CLARA: [5]

Mr.Kennedy in Music Class
He never let you make a mess
He asks weird questions to you in flash, breaks your brain in a crash
He won’t care for the rest (never care for the rest)

Julie bernyanyi sendirian.

JULIE: [6]

If we can live in Hawaii
And release birds’ poo
We can have a better sky (WHAT?)

Clara menatap Julie sambil berkacak pinggang.

Wait, wait.. Julie
Birds’ p-poo? 

Julie menyengir.

JULIE & CLARA: [7]

Yeah.. It’s brilliant idea, right? A new invention, you like it? (NO!)
I like it (I DON’T)
What a better sky than a smelly jelly white and grey one? (EVERY NORMAL SKY, JULIE)
Or.. Maybe we can really make clouds from chicken’s poo. (DON’T DISTURB THE SONG)
Okay, I will change the song

Nick’s nose hair is overdue, and it is smelly, too
I wanna go away (JULIE!!)

Saat Julie membawakan bagian percakapan reff yang terakhir, seisi kelas kembali tertawa.

Gerakan kikuk Julie dan rasa jijiknya saat melihat bulu hidung Nick yang saat itu memang sedang berkibar-kibar membuat semua orang sakit perut kegelian. Mereka bertepuk tangan penuh semangat, teringat kembali pada lagu “Bulu Hidung Nick Bukanlah Kacang Panjang” yang pernah menjadi hits di Kelas Musik mereka beberapa bulan yang lalu.

Setelah beberapa bait selanjutnya yang semakin mengundang tawa, Julie melanjutkan lirik berikutnya, yang tidak ia tulis di kertas tadi. Tidak ada yang menyangka bahwa lagu itu masih berlanjut, bahkan Nick sendiri.

Gadis itu mengulangi lirik asli dari lagu tersebut, tanpa iringan musik, menyanyikannya dengan sangat pelan.

JULIE: [8]

Do you wanna build a snowman
Come on let’s go and play
I never see them anymore, come out the door
It’s like they’re gone away

We used to be best buddies
And now we’re not
What am I gonna do?

Seisi kelas terdiam. Mereka tahu benar, Julie sedang membicarakan siapa.

Nick tak bisa menggambarkan betapa sunyinya ruang kelas itu. Ia tak pernah melihat Julie seperti ini.

Tak lama kemudian, Julie tersenyum dan memberikan isyarat pada teman-teman sekelompoknya. Nick mengangguk. Mereka bernyanyi dan bermain musik lagi, seperti ending yang sudah mereka rencanakan tadi.

JULIE & CLARA: [9]

We make fun of our teachers
We’re gonna get absolute A plus 

Thank you, byee~

Kelas itu akhirnya bertepuk tangan sangat meriah.

Kepiawaian Nick, Daniel, dan Rom dalam bermain instrumen membuat penampilan kocak mereka menjadi semakin mengagumkan. Julie dan Clara berpegangan tangan lalu membungkuk dengan hormat, mengakhiri pertunjukan mereka dengan salam.

Pertunjukan mereka benar-benar disukai oleh semua orang.

“Kerja yang bagus, Julie!” kata Clara sambil mengajak high five setelah kelompok mereka selesai tampil. “Maafkan aku karena sikapku yang buruk padamu sebelumnya. Kuharap kita bisa tetap menjadi teman.”

Julie menyengir. “Memang kita teman, kan?”

“Sudah kuduga, kau akan melakukannya, Julie,” kata Nick. “Kau seorang natural. Kau membuat semua orang sakit perut tanpa perlu kau rencanakan. Itu sudah tercetak di cetakan darahmu.”

Julie menatapnya. “Berbakat badut sirkus, maksudmu?”

Nick terkikih.

 

***

[1]

Apa kau mau makan kentang?
Lebih enak daripada tomat
Kripik kentang itu enak, di pemanggang roti rasanya segar
Sementara tomat meleleh

Aku sangat lapar hampir mati
Tidak bisa berpikir atau bernyanyi
Aku bodoh dan aku tak tahu kenapa

[2]

Apa kau mau sekolah di Nimber?
Itu lagu yang seharusnya kita nyanyikan
Kau bisa belajar banyak hal di tempat ini, pendidikan di sini yang terbaik
Sekarang keluarlah dari sarangmu

Ayo cepat kita ke sana
Karena aku tahu kamu selalu terlambat
Kalau tidak kamu bisa kehilangan langit yang lebih cerah

[3]

Apa kau mau makan kentang? (tidak!)

Itu menu makan siang kita di kafetaria Nimber 
(bukan seperti itu liriknya, Julie!)
Oke, dagh

[4]

Baiklah, ini tentang Nimber
Well, kayaknya sih, aku tak tahulah..
Kau benar banyak hal di tempat ini, pendidikan yang terbaik
Dengan bonus serangan jantung

M.Wandolf mengerikan
Dia menyuruhku berbahasa Prancis
Kepala botaknya bersinar sangat terang..

[5]

Mr.Kennedy di Kelas Musik
Dia tidak bakal membiarkan kalian berbuat kekacauan
Dia suka bertanya pertanyaan aneh tiba-tiba, merusak otakmu dalam kecelakaan maut
Dia tidak peduli hal yang lainnya (tidak peduli hal yang lainnya)

[6]

Kalau kita bisa tinggal di Hawai
Dan melepaskan kotoran-kotoran burung di sana
Kita bisa punya langit yang lebih indah (APA?)

[7]

Yeah.. Itu ide brilian, kan? Penemuan terbaru, kau suka? (TIDAK!)
Aku suka (AKU TIDAK)
Langit apa yang lebih indah daripada langit putih abu-abu berbau kenyal-kenyal yang kuciptakan tadi? (LANGIT NORMAL, JULIE)
Atau.. Mungkin kita memang bisa bikin awan dari tai ayam. (JANGAN RUSAK LAGUNYA, JULIE)
Oke, aku akan mengganti lagunya

Bulu hidung Nick sangat panjang, dan bau juga

Aku ingin pergi menghindarinya (JULIE!!)

[8]

Apa kau ingin membuat boneka salju?
Ayo kita keluar dan bermain bersama
Aku tidak pernah melihat mereka lagi, keluar dari pintu itu
Rasanya seperti mereka menghilang dari hidupku

Kami dulu adalah sahabat terbaik
Dan sekarang tidak lagi
Apa yang harus kulakukan?

[9]

Kita membuat lelucon tentang guru-guru kita
Kita bakal mendapat nilai absolut A plus

Terima kasih, daagh~

***

 

 BACA SELANJUTNYA >>

22 – Teman

Comments 24 Standar

Julie menghabiskan makan siangnya dalam diam. Bahkan ketika Jessie mengajaknya bercanda soal rambut palsu Ms.Watson, ia hanya tersenyum sedikit.

Kayla merasakan perubahan yang kentara ini, tapi tak mampu berbuat banyak untuk mencerahkan perasaan Julie. Ia mengingatkan Julie untuk lebih sabar dan tenang–bahwa masalah ini akan segera berlalu, tapi gadis itu hanya termenung sambil memandang Cathy dan Cassandra dari kejauhan, bersama teman-teman baru mereka.

Dalam perjalanan menuju ke kelas, Julie akhirnya menceritakan tentang kejadian kemarin sore pada Jessie dan Kayla. Tentang pertemuannya dengan Richard.

“Kemarin aku menemui Richard,” kata Julie akhirnya.

Ini pertama kalinya ia berterusterang pada mereka terhadap peristiwa-peristiwa yang biasanya hanya ia rahasiakan.

Jessie dan Kayla terkejut, menghentikan langkah mereka.

“Apa?”

“Aku memintanya kembali pada Cathy, tapi dia menolak,” lanjutnya dengan suara parau. “Dia marah. Sangat marah. Dia meninggalkanku begitu saja. Kurasa aku semakin merusak semuanya.”

Julie terdiam, menghela napas.

“Kau meminta Richard kembali pada Cathy? Kenapa kau–” Jessie mengerang. “Argh! Kenapa kau sangat idiot?”

“Aku tahu,” Julie menunduk lemah. Ia tidak ingin mendebat Jessie lagi. Kali ini Jessie memang benar. Ia memang merasa sangat, sangat tolol.

Tak lama kemudian, ia juga menceritakan tentang Richard yang menemui beberapa gadis kelas dua belas selama beberapa hari terakhir. Dan soal pendapat Jerry tentang Richard.

“Aku juga melihatnya,” kata Kayla. “Aku tak tahu kenapa dia melakukan itu, tapi kurasa tindakanmu menemui Richard sudah benar, Julie. Aku sendiri tak pernah punya kesempatan mendekatinya. Dia selalu menghindariku. Sama seperti Cathy dan Cassandra.”

“Memang brengsek si Richard itu,” Jessie meradang. “Mentang-mentang dia tampan lalu seenaknya memperlakukanmu seperti ini. Dan–jangan sebut-sebut nama dua orang Ratu Drama itu lagi, Kay. Aku sudah sangat muak dengan kelakuan bodoh mereka.”

“Apa lagi yang kau bicarakan dengan Richard?”

“Tidak banyak,” kata Julie, memalingkan muka. “Hanya soal kenapa dia menyukaiku dan berbuat semua kebodohan ini. Sejujurnya, aku tak begitu mengerti apa yang ia ucapkan. Dia–” suaranya melemah, “Dia–sangat marah.”

Kayla menatap tajam.

“Apa kau menyukai Richard, Julie?”

Julie terdiam sejenak, lalu menggeleng. Gadis itu masih sama keras kepalanya seperti saat Kayla pertama kali mengenalnya.

“Julie.”

Julie menutup rahangnya rapat, seakan seluruh partikel tubuhnya berubah menjadi batu.

“Aku ingin kau mempercayai kami sebagai sahabatmu, Julie, bukan hanya sebagai teman bersenang-senang saja. Aku ingin kau jujur padaku.” Kayla menggenggam tangan Julie dengan erat.

Julie menggigit bibirnya. Satu-satunya yang masih belum bisa ia utarakan pada teman-temannya adalah soal perasaannya yang sebenarnya pada Richard. Ada satu bagian di ruang hatinya yang masih menolak kenyataan itu. Segala gejolak yang asing dan tidak wajar ini membuatnya merasa benar-benar tidak mengerti akan apa yang terjadi pada dirinya sendiri.

“Tidak,” kata Julie, menarik tangannya, menyangsikan kebenaran itu dengan wajah kaku.

Kayla mengangguk paham.

“Baiklah. Jika saatnya nanti kau sudah siap, katakanlah yang sejujurnya pada kami. Aku tidak akan memaksamu lagi. Aku tahu semua ini sangat baru untukmu, Julie. Semua kejadian ini. Tapi kita akan melaluinya bersama-sama. Kami akan selalu menemanimu.”

Kayla lalu menghiburnya dengan kata-kata yang menyenangkan, berusaha membuatnya merasa lebih baik dengan mata hitam Asianya yang menenangkan. Jessie akhirnya berhasil membuat Julie tertawa setelah menunjukkan jerawat gendut di balik poninya, mengingatkan Julie akan hari pertama mereka bersekolah di Nimberland. Mereka saling berangkulan lagi, tidak peduli betapa terlambatnya mereka masuk ke kelas siang itu.

Julie sangat jarang bersikap sentimentil, tapi kali itu ia menyatakan dengan haru bahwa ia merasa beruntung memiliki sahabat-sahabat yang sangat baik seperti mereka berdua. Percakapan mereka berakhir saat mereka berpencar memasuki kelas masing-masing.

***

 BACA SELANJUTNYA >>