21 – Keberanian (3)

Comments 29 Standar

1049204-royalty-free-rf-clip-art-illustration-of-a-valentine-cartoon-boy-crushing-over-a-school-girl

Hari keenam.

Julie sudah tidak tahan lagi. Ia selama ini tidak pernah menyimpan masalah terlalu lama. Apalagi yang berkaitan dengan sahabat-sahabatnya.

Masalah ini terus-menerus mengganggu pikirannya.

Sejak koran sekolah terbit kemarin, jumlah orang yang menanyainya semakin bertambah banyak. Mereka memburu Julie dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjepit, penasaran, seringkali memojokkan. Lebih dari itu, sebenarnya yang paling menyakitkan bagi Julie adalah tatapan kebencian sahabatnya yang menghantui pikirannya setiap kali mereka menanyakan soal Cathy. Ia benar-benar ingin semuanya kembali seperti semula, berbaikan lagi dengan sahabat-sahabatnya, namun sejauh ini belum ada tanda-tanda sedikit pun bahwa semuanya akan membaik. Dan di kafetaria siang ini, lagi-lagi mereka hanya duduk bertiga.

Jessie, Julie, dan Kayla.

Ini adalah mimpi buruk baginya.

Julie juga kehilangan kesibukan yang biasanya ia lakukan di klub koran sekolah. Sekarang ia hanya menghabiskan detik-detik yang hampa di setiap pergantian jam pelajaran kelas. Setelah ia bersitegang dengan Jerry karena masalah permintaan jadi narasumber berita yang telah ditolaknya mentah-mentah di ruangan klub koran sekolah dua hari yang lalu, Julie tidak pernah menghampiri ruangan itu lagi. Ia berpapasan dengan Jerry sesekali—dan beberapa anggota klub koran sekolah lainnya—hanya untuk tersenyum sesaat dan melewati mereka begitu saja. Ini seperti bukan dirinya sendiri. Semua yang terjadi dalam hidup Julie sekarang terasa ganjil dan terasa tidak menyenangkan.

Julie benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan.

Selama hidupnya, Julie selalu lebih terlatih untuk menghindari masalah, bukan untuk menghadapinya. Setiap kali ia memiliki masalah, ia memang selalu memilih untuk melupakan atau mengalihkan perhatiannya pada hal-hal lain yang lebih menyenangkan. Rasa cueknya telah menyelamatkannya dari begitu banyak hal, seperti halnya masalah kelas Prancis atau masalah lain yang selalu mengganggunya. Tapi kali ini, untuk pertama kali dalam hidupnya, Julie merasa tidak mampu melakukan hal itu lagi.

Hatinya terjebak dalam konflik pertemanan ini.

Kayla belum memberi petunjuk apa-apa, Jessie malah selalu mengamuk kalau mereka mulai membahasnya lagi. Nick sangat jarang ditemuinya. Apalagi Lucy—Julie sama sekali tak ingin merepotkan gadis itu di saat-saat pentingnya. 

Julie tidak berani menemui Cathy seorang diri. Gadis itu selalu membuang muka, berlari menghindar, atau justru menatapnya dengan sorot mata mengerikan yang membuat bulu kuduknya meremang. Sementara itu, Cassandra selalu menempel dengan Cathy, tidak pernah mengeluarkan sepatah kata pun tanpa kehadiran gadis itu di sampingnya. Dan yang semakin membuat semuanya menjadi sangat sulit adalah mereka berdua sekarang selalu berjalan bersama dengan Pinky Winky, tanpa sedetik pun memberikan Julie kesempatan untuk memiliki waktu yang cukup berbicara dengan mereka.
Julie harus berpikir keras. Ia lalu memikirkan orang itu—satu-satunya orang yang ingin ditemuinya namun juga sangat tidak ingin ditemuinya. Kemudian Julie menyadari masalah pertemanan ini lebih membebaninya daripada apa pun.

Ia telah memutuskan untuk menemui anak laki-laki itu.

RICHARD.

Julie melihat Richard di belakang sekolah. Anak laki-laki itu sedang menatap ponselnya sambil mengetikkan sesuatu, begitu asyiknya sampai-sampai anak laki-laki itu tidak menyadari saat Julie secara diam-diam berjalan mendekat ke arahnya. Julie menahan napas, membiarkan tubuhnya bergerak sendiri, menggunakan kesempatan untuk melakukan hal yang seharusnya sudah ia lakukan dari dulu. Entah kenapa, saat itu keberaniannya muncul secara tiba-tiba.

Ia ingin menyelesaikan ini sekarang.

“Richard,” kata Julie.

Anak laki-laki itu terkejut. Ia hampir saja menjatuhkan ponselnya, kalau saja ia tidak langsung menangkap ponsel itu dengan cepat. Anak laki-laki itu menatap Julie dengan mata birunya yang menggeletar terbuka, terbelalak.

“Julie,” suaranya terkesiap.

Mereka berdua terdiam selama beberapa detik, menyingkapkan keganjilan yang selama ini hanya mereka hindari. Julie mengontrol pernapasannya. Jantungnya membeku, namun segera mencair dan melunak saat melihat satu kedipan mata biru yang khas, yang telah lama tidak dilihatnya. Wajah itu selembut beledu, memancarkan kehangatan.

“Ke mana saja kau?” kata Julie dengan suara serak aneh, seperti orang yang baru saja kena batuk berdahak. Ia berdehem singkat untuk melancarkan suaranya yang mendadak parau, yang entah kenapa kali ini begitu sulit untuk dikeluarkan.

Julie mengumpulkan keberanian yang lain.

“Semua orang mencarimu.”

Richard terdiam mematung, menahan luka. Ia sudah berupaya sedemikian rupa untuk tidak melukai hatinya sendiri sekarang, tapi tampaknya hari ini ia terpaksa harus menghadapi sakit hati itu lagi. Ia segera menunduk, seperti tidak dapat bertahan menatap Julie lebih lama.

“Tidak kemana-mana,” kata Richard pelan. “Apa yang kau inginkan?”

Julie menelan ludahnya. Ini lebih sulit dari yang ia duga.

“Aku ingin kau kembali dengan Cathy.”

Julie tidak mengerti kenapa ia mengucapkan itu. Ia bahkan sebenarnya tidak tahu apa yang seharusnya ia bicarakan dengan Richard. Entah bagaimana caranya, ia hanya memikirkan kondisi di mana semuanya benar-benar kembali seperti semula. Ia tidak bisa memikirkan ide yang lebih pintar.

Richard mengerjap. “Tidak akan pernah terjadi.”

Julie menaikkan alisnya.

“Kenapa?” Julie menuntut.

Richard tertawa dengan suara rendah. “Kau sudah tahu jawabannya.”

Senyuman anak laki-laki itu memudar. Ia tak lagi menatap Julie. Rambut emasnya yang terpapar sinar matahari berkilau cemerlang, seperti mencoba menutupi bayang-bayang kesedihan yang berkelabat di balik wajahnya. Richard memutar tubuhnya dan berjalan menjauh.

Reaksi yang tiba-tiba itu membuat Julie terkejut.

“Tidak, Richard. Tunggu!”

Julie mengejar Richard yang semakin jauh, dengan gayanya yang kikuk, tapi sebenarnya anak laki-laki itu tidak pernah benar-benar berniat pergi. Richard akhirnya berhenti berjalan. Ia menarik napas panjang. Giginya terkatup rapat karena menahan emosinya.

“Kenapa, Julie?” gumam Richard tiba-tiba. “Kenapa kau melakukan ini padaku?”

Julie terperangah.

Richard menengadah, memperlihatkan kelopak matanya yang terbuka lebih lebar. Tidak ada yang bisa menjelaskan betapa ganjilnya pemandangan itu, selain rasa aneh yang mencekik di leher Julie. Siluet wajah itu sekarang terlihat begitu jelas, sama mengagumkannya seperti saat Julie pertama kali melihatnya.

“Bukankah aku sudah menyebutkannya waktu itu?” kata Richard.  “Aku menyukaimu. Aku tidak pernah menyukai Cathy,” kata Richard dengan suara lebih lantang. “Dan sangat bodoh jika aku kembali lagi padanya. Aku menyukaimu. Kau ingin aku mengucapkannya sekali lagi? Itukah yang kau inginkan?”

Julie menelan ludahnya. “Tidak.”

Sekali lagi, setelah percakapan itu, mereka berdua terdiam. Mereka hanya berpandang-pandangan, lebih sering saling membuang muka, menyembunyikan perasaan tertekan. Angin yang berhembus gemericik di rerumputan di sekitar mereka telah mengabarkan cuaca mendung yang akan segera datang. Angin yang lebih kencang meniup tubuh mereka lagi, seolah-olah mengetahui bagaimana cara mengisi kesunyian yang ganjil yang terjadi saat itu.

Richard menghela napas, menenangkan diri. Ia menyadari kembali betapa gadis ini benar-benar berbeda dari gadis lain yang pernah ditemuinya, betapa ganjil perasaan yang selalu Julie berikan padanya, dan betapa ia kesulitan mengontrol perasaan itu. Kali ini, ia tidak dapat menyimpan perasaannya lagi. Ia akan mengatakannya sekarang, tepat di depan gadis ini.

“Aku menyukaimu sejak lama, jauh sebelum kau memintaku untuk bertemu di kedai Steak~Stack waktu itu. Tapi aku tak pernah berani mengatakannya padamu,” kata Richard lirih. “Aku sangat menyukaimu.”

Jantung Julie berpacu cepat. Setiap kali Richard mengatakan bahwa ia menyukainya, kakinya bergetar. Pengakuan Richard minggu lalu terdengar seperti mimpi samar-samar, namun hari ini Richard mengulanginya lagi dengan begitu jelas, seolah-olah meyakinkan Julie bahwa semua ini terasa semakin nyata. Ini benar-benar terjadi.

“Lalu kenapa kau berpacaran dengan Cathy?”

Julie hampir tidak menyadari ia mengucapkan kalimat ini. Ia mengucapkannya begitu saja. Lehernya kaku dan tegang.

“Kenapa kau mendekati Cathy dan sekarang menyakiti hatinya? Kau berbuat kekacauan ini lalu menghilang begitu saja, Richard. Kenapa kau melakukan ini? Kenapa?” runtut Julie, mulutnya bergerak sendiri tanpa diperintahkan. “Kau menempatkanku di posisi yang sulit, kau tahu? Sahabat-sahabatku sekarang menghindariku. Mereka membenciku. The Lady Witches kini tercerai-berai. Itu semua karena ulahmu.”

Julie berusaha keras menahan panas yang akan membuncah dari dadanya. Ia akhirnya mengungkapkan perasaan kesal yang selama ini hanya ditahannya. Napasnya memburu, ia berbicara dengan nada suara asing yang biasanya tidak pernah ia lakukan.

Ia menuntut dengan nada mendesak. “Dan sekarang aku gantian bertanya padamu, Richard. Kenapa kau melakukan semua ini padaku?”

Richard hanya bergeming. Ia tidak senang mendengarnya, sudut-sudut mulutnya tertekuk ke bawah. Wajahnya membuang pandangan, mata birunya menghampiri Zinnia yang tumbuh liar tanpa disengaja di atas permukaan tanah. Ia belum siap menghadapi situasi seperti ini.

Ia tidak menjawab.

“Kenapa kau diam saja? Katakan sesuatu,” desis Julie kesal.

“Kau tidak mengerti, Julie—”

Richard menarik napas panjang. Rasanya sangat berat. Butuh waktu lama baginya untuk bisa menyampaikan perasaannya pada gadis itu. Jika bukan karena gadis itu yang memintanya hari ini, ia tidak akan pernah berani mengungkapkan jawaban ini. Ia tampak murung karena terikat dengan rasa bersalah yang terus menghantuinya.

Ia menatap Julie dengan tajam.

“Aku adalah pemain logika yang bisa diandalkan. Aku selalu menempatkan logikaku di atas segalanya. Namun ketika berurusan denganmu, aku kehilangan semua akalku. Tidakkah kau menyadarinya?” jelas Richard.

Secercah nada pedih terdengar pada getaran suaranya.

“Puisiku–” Richard menarik napasnya, “–puisiku adalah ungkapan hatiku yang ingin kusampaikan untukmu. Tapi kau tak mengerti. Kau malah merobek-robeknya seperti sampah. Tidakkah kau tahu betapa marahnya aku padamu? Semua tentangmu Julie, semuanya menyiksaku. Aku mencoba melupakanmu, tapi aku malah terjebak dalam kebodohan yang merusak semua akal sehatku. Aku tak dapat mengendalikan diriku sendiri, Julie. Kau adalah satu-satunya orang yang membuatku merasa sebodoh ini dalam hidupku.”

Richard sekarang memandang Julie dengan matanya yang biru.

“Dan di antara semua orang yang pernah kutemui dalam hidupku, kau adalah orang yang paling membingungkan. Aku tidak pernah bisa memahami jalan pikiranmu. Sekarang kau ingin tahu kenapa aku melakukan semua kebodohan ini?”

Richard tidak dapat menahan emosinya lagi.

“Itu karena aku adalah seorang pengecut,” kata Richard tegas. “Aku seorang pengecut yang bodoh. Pengecut yang jatuh cinta padamu.”

Julie merasakan gejolak hebat di perutnya.

“Kalau kau ingin berbicara denganku sekarang, setidaknya katakanlah sesuatu yang bisa membuatku merasa lebih tenang. Aku butuh berpikir lebih logis, namun aku tidak bisa melakukannya ketika aku bersamamu.”

Pernyataan ini mengguncang Julie, membuat gigi-giginya gemelutukan karena panik. Ia tidak bisa memberikan respon yang normal, bahkan terhadap perasaannya sendiri pada anak laki-laki itu. Saat ini hanya satu hal yang mampu dipikirkannya. Alasan pertama kenapa ia akhirnya memutuskan untuk menemui anak laki-laki itu.

“Kembalilah pada Cathy.”

Richard menatap kosong. Kekecewaan dan sakit hati menyaput garis-garis wajahnya yang sempurna. Ia mendesah, tertawa tanpa suara. “Sudah kuduga. Kau benar-benar mustahil.”

Ia akhirnya memutuskan untuk menyudahi percakapan ini. Entah kenapa, ia tidak pernah bisa mengerti, gadis itu selalu saja bersikap berbeda dari harapannya. Ini sudah berada di luar batas kesabarannya. Ia pergi meninggalkan Julie tanpa melihat ke belakang lagi, segera berlalu dalam keadaan marah dan terluka.

Sementara itu, Julie hanya termenung di tempat, menyadari kebodohan apa yang baru saja ia lakukan.

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

21 – Keberanian (2)

Comments 24 Standar

smirking-girl-illustration-smiling-43576960

Cathy menghindari Jessie dan Julie di Kelas Sejarah Dunia tadi. Walaupun gadis itu sekarang hanya duduk sendirian—tanpa teman-teman barunya, tidak banyak yang bisa mereka lakukan untuk mengubah keadaan itu. Jessie sama sekali tidak berminat menanggapi gadis itu dan berpura-pura bersikap seolah-olah gadis itu tidak pernah ada. Sedangkan Julie–Julie sempat mendekati Cathy sebentar, hanya untuk mendapatkan tatapan mengerikan yang menciutkan nyalinya.

Ia mundur perlahan-lahan.

Dan siang ini, kafetaria kembali sepi. Hanya ada Jessie, Kayla, dan Julie di meja mereka. Bertiga saja, seperti hari-hari sebelumnya.

Julie melihat sekeliling. Pinky Winky belum datang, ia tidak bisa menemukan Cathy dan Cassandra di mana pun. Nick tak pernah duduk bergabung dengan mereka lagi, sejak Richard memutuskan untuk menghindar dari mereka. Richard pun tak pernah muncul di kafetaria, entah kenapa. Gosip-gosip masih terus bermunculan dan mengerubunginya, tapi Julie tidak mau ambil pusing soal itu. Menurutnya ada hal yang lebih penting untuk dipikirkan, sebuah penyelesaian, namun nasib tak memberinya petunjuk sama sekali apa yang harus ia lakukan. Kayla dan Jessie malah tidak mau membahas soal Cathy lagi, seolah-olah ingin melupakannya.

“Hari ini makanannya enak,” kata Kayla suatu ketika.

Julie tersenyum. Tidak ada yang spesial dengan menu hari ini, tapi koki baru di kafetaria Nimber sepertinya lebih tahu bagaimana caranya memanjakan lidah. Ia mengangguk. “Iya—”

Tiba-tiba segerombolan gadis kelas Dua Belas menghampiri meja di sebelah mereka. Rambut-rambut mereka tertata dengan sangat baik—dengan style potongan terbaru, aksesori pakaian berkualitas tinggi, disertai dandanan make-up minimalis yang terlihat sangat elegan, menarik perhatian. Wangi parfum mahal dengan segera semerbak menyengat hidung semua orang. Salah seorang dari gadis itu terlihat mencolok dibandingkan yang lain.

Emma Huygen!

Jessie, Julie, dan Kayla saling menatap dengan wajah tegang.

Dalam sekejap, suasana hening membosankan yang tadinya menemani makan siang mereka berubah menjadi sebentuk olahraga jantung yang tidak disangka-sangka. Perut Julie mengejang, bergejolak seperti letusan gunung Vesuvius, napasnya tercekat seperti dicekik zombie. Kedatangan grup Emma di sebelah meja mereka bukanlah hal yang biasanya terjadi. Bukan hanya karena Emma adalah seorang legenda–lebih dari itu. Mereka tidak pernah berurusan dengan Emma karena selama ini Cathy tidak pernah mau membahas mantan pacar Jake itu. Dan sekarang, gadis dominan itu justru duduk tepat di sebelah mereka.

Untuk pertama kalinya.

Julie menyeruput es tehnya dengan gaya kaku. Jessie memberikan kode-kode dengan bola matanya yang berputar ke kiri dan ke kanan. Kayla mengangguk tipis untuk memberikan tanda paham. Meski tidak berbicara satu sama lain, mereka bertiga mengetahui persis bahwa mereka sedang memanggil kembali ingatan mereka akan percakapan tentang Emma yang dulu pernah mereka lakukan secara diam-diam.

Percakapan terlarang tanpa sepengetahuan Cathy.

Kayla pernah bertemu Emma dulu saat ia berkunjung ke kelas Steve. Menurutnya, Emma  adalah seorang gadis yang sangat cerdas dan cantik. Penampilannya yang anggun dan berkelas secara eksplisit menunjukkan kualitas di dalam dirinya. Ia memiliki kharisma yang mampu menyihir orang-orang di sekelilingnya untuk mengaguminya. Untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan, dengan instingnya yang tajam, entah kenapa Kayla pun meyakini kalau Emma memiliki aura jahat yang tidak bersahabat.

Beberapa waktu yang lalu, Jessie pun pernah bertemu dengan Emma di Klub Renang. Saat itu Emma berada di sana hanya untuk berbicara dengan Mr.Howard, pelatih renang mereka yang menjadi guru olahraga di kelas Emma. Menurut Jessie, gadis itu terlihat baik, sopan, dan benar-benar menyenangkan. Siapa pun yang melihatnya akan merasa ingin menghormatinya. Kebaikan yang terpancar di wajahnya akan membuat siapa pun sangat sungkan untuk berpikiran buruk tentangnya.

Ini benar-benar penjelasan yang membingungkan. Tapi entah kenapa ini adalah penjelasan yang paling benar tentang seorang Emma. Dua wajah yang berbeda. Lucy membenarkan hal tersebut.

Lucy bertemu dengannya di awal-awal keikutsertaannya dengan tim akademis sekolah. Pada awalnya, Lucy melihat kesan yang baik dari kepribadian Emma Huygen. Emma adalah senior yang sangat pintar, menginspirasi, dan disukai para guru. Tapi suatu ketika, Lucy menyadari kalau Emma hanya bersikap baik pada orang yang diinginkannya. Hanya pada orang yang diinginkannya. Ketika tidak ada seorang guru pun yang melihatnya, Emma bisa berubah menjadi seorang penindas yang merendahkan siapa pun dengan cara yang tidak berkeprimanusiaan.

Emma dapat menekan murid-murid perempuan yang berperilaku tidak sesuai kemauannya, berkata jahat, dan membuat seseorang merasa benar-benar tidak berarti. Kesempurnaan telah memberinya ruang untuk bersikap sewenang-wenang pada orang-orang yang tidak disukainya. Sifat egoisnya, entah bagaimana mengingatkan mereka pada sifat Cathy. Namun Julie, Jessie, dan Kayla menyadari kalau ada satu perbedaan besar di antara mereka berdua.

Cathy hanya seorang egois pasif. Pasif. Itu saja. Dari dulu selalu begitu. Seburuk apa pun sikapnya, Cathy tidak pernah berani menghadapi seseorang  langsung, atau mengkonfrontasi secara  spontan. Ia hanya merajuk, menghindar, dan mengungkapkan ketidaksukaannya lewat ekspresi verbal yang tidak berbahaya.

Sebaliknya, Emma Huygen memiliki keegoisan yang agresif, dominan, dan mengancam. Seperti sebuah rahasia gelap yang tidak terucapkan. Dan aura mengerikan itu, sekarang tepat berada di sebelah mereka. Sensasi yang mengintimidasi ini, dengan ajaib membuat mereka segera kehilangan nafsu makan.

“Koran sekolah!”

Julie memutar kepalanya.

Seorang anak laki-laki dari klub koran sekolah membawa setumpuk koran sekolah. Ia menghampiri meja mereka, meletakkan koran sekolah itu di atas meja, sambil tersenyum pahit penuh simpati.

“Maafkan aku, Julie,” kata anak laki-laki itu. Ia menarik ujung bibirnya dengan masam.

Julie meraih koran itu dengan dada yang berdebar. Ia penasaran artikel seperti apa yang akan ditulis Jerry tentangnya. Ia sudah memastikan bahwa tidak ada satu pun dari Jessie, Kayla, Nick, atau Lucy yang mengatakan apa pun pada jurnalis koran sekolah–namun cepat atau lambat para wartawan itu pasti akan berusaha mengendus berita dari segala arah. Cathy dan Cassandra mungkin berkata sesuatu–atau mungkin tidak–tapi Julie sangat berharap semoga saja berita di koran sekolah hari ini tidak seburuk yang ia pikirkan.

Ada tiga artikel yang membahas kejadian minggu lalu. Jeremiah Hunt, Natalie Hortner, dan Claire McGuire–ketiganya mencoba membahas kejadian itu dari sudut pandang yang berbeda.

Artikel Jerry secara khusus membahas Richard. Ia dalam hal ini memposisikan Richard Soulwind sebagai seorang playboy kelas kakap yang gemar berburu wanita. Jerry menggarisbawahi peringatan pada para gadis agar lebih berhati-hati lagi dalam memilih pasangan. Dunia ini dipenuhi oleh tipu muslihat yang tidak terlihat, sehingga kita harus ekstra berhati-hati. Jangan terlalu gampang jatuh cinta dan terpedaya, karena yang orang yang kita cintai bisa jadi justru berbalik menjadi orang menyakiti kita. Contohnya saja Julie serta Cathy yang terkenal telah menjadi korban permainannya.

Isi artikel itu sama persis seperti yang Jerry ucapkan pada Julie minggu kemarin, dengan sentuhan sentimentil yang dramatis. Tak lupa, ia menambahkan akhir penutup artikelnya dengan khas Jerry yang penuh dengan nasehat-nasehat tentang pentingnya masa depan. Benar-benar khas Jerry.

Tulisan Natalie secara intensif membahas Cathy. Natalie memang tidak suka Cathy dari dulu. Lima belas paragraf panjang didedikasikan Natalie untuk menjelaskan bahwa Cathy Pierre adalah gadis egois manja yang tega meninggalkan sahabat-sahabatnya hanya karena seorang anak laki-laki. Kecantikan telah membuat Cathy menjadi gadis sombong yang lupa daratan, sehingga sangat wajar jika akhirnya karma Tuhan datang dan Richard memilih Julie yang berhati mulia dibandingkan dirinya. Ini lebih mirip artikel balas dendam ketimbang artikel yang bernada berita faktual.

Artikel dari Claire lebih fokus untuk mengisahkan Julie sebagai gadis jahat. Claire bercerita bahwa untuk mempertahankan julukan “The Unbeatable” yang terkenal, Julie Light telah berubah menjadi orang yang tega menusuk temannya dari belakang, merusak kisah cinta antara Cathy dan Richard. Julie selama ini hanya berpura-pura baik, bahkan bisa jadi berpura-pura bodoh, padahal ia sendiri merencanakan kejahatan jangka panjang itu hanya untuk menunjukkan betapa berharganya  dia di Nimberland.

Julie tersenyum. Ini jelas-jelas bukanlah presentasi berita ideal yang diinginkan oleh Jerry. Ini lebih mirip cerita gosip murahan dari opera sabun hari Minggu pagi yang sering ditonton Lily.

Artikel-artikel ini memang berlebihan, cenderung spekulatif, berlandaskan pada gosip–bukan tipikal Jerry sama sekali. Anak laki-laki itu pasti berharap bumbu-bumbu cerita yang lebih sensasional, tapi bisa jadi putus asa kekurangan bahan dan dikejar deadline.

Di akhir halaman, mereka membuat semacam gagasan polling baru untuk menentukan siapa pihak yang sebenarnya bersalah versi para pembaca.  Opini publik sementara minggu ini tidak ditampilkan, mungkin karena kurangnya bahan, kurangnya waktu, atau kurangnya sumber daya manusia–meskipun itu agak aneh.

Julie mendesah lega. Tidak seburuk yang ia pikirkan.

Walaupun ketiga tulisan itu cukup brutal, setidak-tidaknya ketiga artikel tersebut sama-sama memojokkan Julie, Cathy, dan Richard dengan kadar yang seimbang. Baginya itu yang paling penting. Dan Jerry cukup baik hati dan santai untuk membiarkan hal itu terjadi.

Julie menyerahkan koran sekolah itu pada Kayla dan Jessie yang dari tadi sudah sangat penasaran. Berbeda dengan reaksi Julie, Jessie justru mendumel saat melihat kata-kata buruk tentang Julie yang dituliskan oleh Claire di artikel itu. 

“Kudengar,” kata Emma tiba-tiba, mengagetkan semua orang dengan suaranya yang berwibawa. “Ada seorang gadis yang merasa dirinya sangat cantik, sehingga ia dapat menaklukkan semua laki-laki tampan di sekolah ini.”

Emma tersenyum miring, terlihat sangat percaya diri. Emma mengambil gelas jus jeruk yang ada di hadapannya, menyeruputnya dengan santai, seolah-olah sengaja ingin membuat semua orang memusatkan seluruh perhatian padanya.

Gadis itu melanjutkan pernyataannya dengan sarkasme pelan yang jahat.

“Dan ternyata dia keliru. Rupanya dia tidak secantik yang dia kira.”

Ketiga gadis itu langsung terdiam membisu. Kayla menatap Jessie, memberi kode dengan kedua matanya. Jessie menyenggol tangannya ke lengan Julie, yang juga menyadari sandi yang sedang dikirimkan oleh mereka berdua. Julie tidak bisa memberikan sinyal balasan, karena jantungnya sedang berlarian dan ototnya sangat kaku, tidak bisa digerakkan. Suara itu terdengar begitu menakutkan.

Emma mengelap bibirnya dengan anggun.

“Aku percaya, kesombongan dan keangkuhan akan dibalas secara langsung pada orang yang melakukannya, bahkan tanpa perlu aku turun tangan. Bukankah begitu, teman-teman?” kata Emma, masih berpura-pura sedang berbicara dengan teman-temannya. “Tidakkah aku selama ini sungguh berbaik hati karena kemurahanku? Atau perlukah aku MENGINJAK orang yang telah menusukku, di titik terendah orang tersebut? Itu akan jadi pembalasan yang sangat manis.”

Ia tersenyum jahat.

“Dan mungkin di sini ada seseorang yang setuju denganku. Tidak, tidak, tiga orang,” kata Emma. 

“Apakah aku benar, Ladies?”

Emma tiba-tiba memutar tubuhnya ke arah Julie, mengamati Julie dengan mata elangnya sambil tersenyum sinis.

Julie menatap kaku seperti robot. Sekujur otot dan tulangnya tegang, seperti disuntik air es yang sangat dingin, yang membekukan pernapasannya. Ia tidak bisa bergerak sama sekali.

Kayla menelan ludahnya. Sekarang Kayla bangkit dari kursi, mengajak Julie dan Jessie untuk ikut pergi meninggalkan meja itu. Julie terpaksa mengikuti tarikan tangan Kayla, padahal otot-otot tubuhnya masih menolak untuk bergerak dari tadi. Mereka pergi tergesa-gesa, Julie hampir saja tersandung.

Dari kejauhan terdengar suara tawa gerombolan Emma yang terdengar seperti jeritan gagak yang memekik di tengah malam.

“Mengerikan,” kata Jessie, saat mereka keluar dari kafetaria.

Julie baru bisa bernapas dengan normal karena dari tadi jantungnya berdegup sangat kencang dan pipa paru-parunya menyempit. Ia tak begitu mengerti apa yang Emma katakan tadi, tapi cara gadis itu mengucapkannya benar-benar membuat merinding.

“Aku hampir mati,” kata Julie.

“Dia membicarakan Cathy,” kata Kayla menjelaskan dengan wajah was-was. “Jelas, ia ingin melakukan sesuatu terhadap Cathy. Dan mengetahui bahwa kita juga sedang bermasalah dengan Cathy, ia sedang menawarkan diri pada kita untuk membalas dendam.”

“Balas dendam?” tanya Julie.

“Iya. Balas dendam,” kata Kayla. “Kurasa ada kaitannya dengan Jake Williams yang dulu direbut Cathy dari Emma.” Kayla menelan ludah, kerongkongannya terasa kering.

“Sekarang aku mengerti bahwa Emma sedang menyusun rencana,” kata Kayla. “Ia telah mengatakan bahwa ia sengaja menunggu momen pembalasan yang paling menyakitkan untuk Cathy. Momen ketika Cathy berada pada titih terbawahnya.” Kayla bergidik.

“Mengerikan. Gadis itu benar-benar mengerikan.” Julie merasakan bulu kuduknya meremang.

Jessie pada awalnya juga merasakan sensasi horor yang sama yang dirasakan teman-temannya. Namun tak lama kemudian ia mengubah raut mukanya.

“Biarkan saja,” kata Jessie.

Julie dan Kayla mengerutkan kening mereka. “Apa?”

Jessie sengaja berpura-pura menguap dan menjawab skeptis.

“Kalau ia memang ingin melakukan sesuatu pada Cathy, seharusnya ia lakukan itu dari dulu,” kata Jessie. “Aku tak peduli dengan rencana apa pun yang dia lakukan. Kalau dia memang ingin memberi pelajaran pada Cathy–kalian tahu kan–ITU SEHARUSNYA DARI DULU.”

Julie merengut tidak setuju. “Apa maksudmu?”

Jessie sambil memutar bolanya.

“Baiklah. Kalau sekarang juga tidak apa-apa. Aku bahkan bersedia membantu.”

Julie terlihat tidak senang.

“Jessie. Dia itu masih sahabat kita,” kata Julie dengan nada ketus. “Kenapa kau ini?”

“Benarkah?” tanya Jessie retoris. “Definisi yang menarik dari sahabat. Aku tidak peduli padanya sama sekali.”

“Kau tidak boleh begitu,” protes Julie.

Jessie mulai kesal. “Aku sedang membelamu, kau malah membelanya. Kau membuatku terlihat seperti orang jahat. Kau ingin menyalahkanku sekarang?”

Jessie mendelik dan memandang sengit. Julie mengerutkan alis dan wajahnya  mengeras.

“Hey. Sudah, sudah,” kata Kayla. “Sekarang tinggal kita bertiga, mengerti? Tidak ada gunanya kita bertengkar. Kalian tidak ingin kita bertiga akhirnya terpisah juga, kan? Kalian mau kita semua berhenti bersahabat?”

Jessie dan Julie menggeleng lemah.

“Tidak.”

“Maka kita harus lebih kokoh daripada sebelumnya. Jangan bertengkar lagi. Jika Lucy dan Nick sudah bisa bergabung dengan kita lagi, kita akan memecahkan masalah ini bersam-sama. Kita akan menemukan caranya. Kita akan membuat Cathy dan  Cassandra kembali.”

Julie menatap pesimis.

“Bagaimana jika Cathy dan Cassandra tidak ingin kembali?” tanya Julie.

“Bagus,” kata Jessie.

Kayla mendesah. “Jess.”

Jessie menghela napas panjang. Pembicaraan semacam ini selalu membuat perasaannya memburuk. Tak lama kemudian, ia berusaha untuk menampilkan wajah lebih cerah.

“Oke, oke. Kuakui mood-ku sangat jelek hari ini. Maafkan aku,” kata Jessie. “Bagaimana kalau kita menghampiri Lucy di perpustakaan saja? Barangkali ada yang bisa kita bantu. Setidaknya kita tidak perlu membicarakan hal yang menyebalkan ini lagi.”

Julie mengangguk setuju.

***

BACA SELANJUTNYA >>