20 – Renungan (4)

Comments 13 Standar

friends

Setelah menghabiskan waktu terlalu lama bersenang-senang, kelompok itu menghentikan obrolan mereka karena langit telah mulai menggelap. Mereka lalu berpamitan dengan Julie dan Mrs.Light, dan ketika mereka tiba di ujung pintu, Jessie memberikan kejutan untuk Mrs.Light. Sebatang coklat Cadbury Dairy Milk kesukaan Lily. Wanita itu girang bukan main. Tentu saja, coklat itu hanya sebatang. Julie tidak kebagian jatah sedikit pun.

Dua jam berikutnya, Julie tertangkap basah sedang mengendap-endap di ruang makan untuk menjemput makan malamnya secara diam-diam. Julie meloncat kaget saat melihat Lily menyempil di sela-sela sofa. Suara Lily mengagetkannya seperti hantu.

“Kenapa tidak makan di sini?” kata Lily sambil menikmati potongan coklatnya dengan santai. “Kau ingin makan di kamarmu lagi, huh?”

“Umm,” kata Julie.

Lily terkikih penuh arti. “Kenapa? Apa kau menyembunyikan sesuatu?”

Julie tidak tahu bagaimana cara Lily melakukan itu, tapi tebakan Lily memang benar. Itulah alasan kenapa ia sengaja tidak ingin bertatap muka dengan Lily hari ini. Insting wanita ini sangat tajam.

“Umm,” Julie berdengung lebih panjang.

“Kau tidak ingin aku membahas sesuatu, kan Julie? Apa itu ada hubungannya dengan Cathy? Karena aku memang baru saja akan menanyakannya.” Lily menjilat sisa coklat yang masih menempel di jarinya. Ia menjorok untuk mengambil tisu. “Oh. Apa itu berarti ada hubungannya dengan Richard juga?”

Julie menelan ludahnya. Tepat pada sasaran.

Lily adalah satu-satunya orang di dunia ini yang mengetahui seperti apa perasaan Julie yang sebenarnya pada Richard. Kalau saja bukan karena demam yang dialaminya beberapa waktu lalu, mungkin ia tidak pernah menceritakannya pada siapapun. Apa lagi Lily. Wanita itu akan selalu mem-bully-nya setiap ada kesempatan.

“Ummm, tidak,” kata Julie akhirnya.

Julie bisa saja menceritakan permasalahan yang sedang dialaminya sekarang pada Lily dan berharap semoga ibunya bisa menenangkan hatinya, seperti ibu-ibu normal pada umumnya. Tapi Lily bukanlah ibu yang senormal itu.

Lily tertawa.

“Tidak apa-apa. Aku tahu. Kurasa ada pasti hubungannya dengan Richard,” kata Lily dengan intonasi yang aneh. “Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan?”

Lily tidak bisa berhenti menggoda gadis itu–dengan dua kata yang sama yang selalu diulang-ulang yang membuat Julie hampir muntah. Julie segera mendaki tangga menuju kamarnya dengan kecepatan halilintar dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat.

“Sudah kuduga,” kata Julie. Ia menghela napas lega.

Julie membawa piringnya ke atas kasur dan menikmati makanannya pelan-pelan. Sisa makan siangnya tadi masih terasa sangat enak. Masakan Lily—dan kedatangan teman-temannya hari ini—adalah dua hal yang telah membuat mood-nya membaik. Lily selalu mampu menyenangkan hatinya dengan makanan-makanan enak, walaupun itu berarti ia harus bersiap-siap dengan kejutan gila yang kadang-kadang disisipkan Lily untuknya. Dan teman-temannya—adalah hal terbaik yang pernah dimilikinya dalam hidupnya. Julie tidak bisa mengharapkan apa pun lebih dari ini.

Julie telah menghabiskan makan malamnya. Ia meletakkan piringnya di atas meja belajar, sambil melihat ke arah jendela yang masih terbuka. Ia memandang lurus ke pemandangan luar, mengamati burung-burung gereja yang terbang rendah dari balik jendelanya yang masih terbuka. Sesaat kemudian, ia memutuskan untuk menyeret kursi meja belajar itu dan duduk di atasnya.

Ia terdiam selama beberapa menit.

Julie menghela napas, merasakan sesak di dadanya sendiri. Renungan ini membuatnya berpikir terlalu keras, menyeretnya ke dalam kesedihan yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya. Meskipun kedatangan teman-temannya tadi sangat menyenangkan, sesuatu yang sangat penting telah menghilang.

Tidak ada lagi Ratu Drama. Ia telah pergi.

Tidak ada lagi aksi menggebrak meja, mencakar muka, atau teriakan histeris seperti yang biasanya mereka lakukan. Atau gaya aktingnya yang menarik perhatian. Dan intonasi suara berlebih-lebihan yang selalu dimainkannya yang membuat mereka tertawa. Julie tersenyum lemah, mengingat betapa ia merindukan suara sahabatnya yang dramatis itu. Ciri khas yang biasanya selalu mewarnai setiap keriuhan dan menghidupkan suasana The Lady Witches selama ini.

Nick benar.

Tanpa Cathy, semuanya terasa berbeda.

 

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

20 – Renungan (3)

Comments 5 Standar

stock-photo-broken-toy-25151990

Julie harus mengakui, kunjungan teman-temannya telah membuat perasaannya hari ini menjadi lebih baik. Walaupun Lily terus-menerus menceritakan aib yang membuat mukanya memerah seperti tomat, tapi memiliki teman-teman yang tertawa bersamanya sangat menyenangkan.

Atau lebih tepatnya, menertawakannya.

Setelah Lily pergi, mereka tidak lagi membicarakan Cathy, Cassandra, atau Richard. Percakapan dengan Lily membuat mereka menjadi tertarik untuk tahu lebih banyak tentang kehidupan Julie, Kayla, dan Jessie di Springbutter. Jessie mengatakan kalau ia telah mengenal Julie di kelas Tujuh, sejak semester pertama. Sementara itu, Kayla baru sekelas dengannya di kelas Delapan.

“Jadi,” kata Nick kemudian, “Julie benar-benar terkenal di sekolah lamanya, ya? Kenapa kalian tidak pernah membicarakan hal itu?”

Cerita Lily tadi tentang kehidupan Julie di Springbutter membuat Nick menjadi sangat penasaran. Kehidupan Julie, Kayla, dan Jessie di sekolah lama mereka memang tidak terlalu banyak dibicarakan.

“Tidak ada yang spesial—kenakalan standar,” kata Julie ringan. “Hanya beberapa kenakalan standar.”

“Kenakalan standar?” Jesssie tertawa. “Teman-teman, kalian tidak punya ide sama sekali betapa gilanya Julie dulu.”

Jessie memutar telunjuknya di dekat pelipis untuk menggambarkan kekonyolan yang pernah dilakukan Julie di masa lalu. Jessie baru menyadari betapa sedikitnya hal yang pernah diceritakannya pada Nick tentang masa lalu mereka.

“Lebih dari yang pernah kami ceritakan.”

“Maksudmu, ada lagi selain soal feromon dan Kelas Prancis?” tanya Lucy kemudian.

Jessie mengangguk.

“Banyak.”

“Salah satunya Hukuman Toilet—” Jessie sesak napas saat Julie langsung menyergap mulutnya, sambil berusaha sekuat tenaga melepaskan diri. “—dan—umph—” Jessie meronta-ronta. “Julie!”

Nick menggangguk.

“Aku pernah dengar tentang Hukuman Toilet,” kata Nick. “Soal Julie yang tidak bisa bahasa Prancis kan? Untuk menyelamatkan nilainya saat itu, Julie akhirnya dihukum membersihkan toilet sekolah selama setahun. Supaya bisa naik kelas. Benar, kan? Cerita itu cukup terkenal kok, kami sering mendengarnya setiap kali anak-anak laki-laki membahas Julie.”

“Kita juga sering membahasnya,” Lucy menambahkan.

Jessie tampak sangat senang saat Nick dan Lucy mengangkat kenangan yang sudah lama terkubur dari ingatannya itu.

“Dan jadi Selebriti Toilet,” lanjut Jessie. “Begini teman-teman. Ada beberapa insiden penting yang tampaknya lupa kami ceritakan tentang masa lalu Julie. Kita sering membahasnya secara garis besar, tapi mendetail?”

Jessie berdehem singkat.

“Berbagai hal konyol terjadi di toilet sekolah. Hal-hal yang pasti akan membekas dalam ingatannya.” Jessie terdiam sejenak. Keningnya berkerut sebentar, merenungkan apa yang baru saja diucapkannya. Tak lama kemudian, senyumnya melebar seperti baru saja mendapat pencerahan. “Ah! Aku mengerti sekarang! Pantas saja! Kalian tahu kan kalau Julie sangat bodoh? Aku selalu heran kenapa dia berubah jadi seperti ini. Dulu sebenarnya dia lebih bodoh lagi.”

Julie melemparinya bantal. Mereka tertawa.

“Kalian tahu? Julie telah memperkenalkan padaku kekonyolan dan keabsurdan yang paling absurd yang pernah ada di muka bumi ini.” Jessie bermain-main dengan bantalnya. “Sepertinya dia sudah dikutuk oleh takdir. Bodoh. Ceroboh. Sapi–”

Julie menarik kuncir rambutnya dengan gemas.

“Hanya saja kadar kecerobohannya sudah berkurang drastis sejak bersekolah di Nimber. Kalian harus tahu kalau Julie Light di Springbutter dulu jauh lebih parah daripada apa yang kalian lihat hari ini,” kata Jessie pada Nick dan Lucy. “Julie yang sekarang memang tolol. Julie yang dulu lebih tolol lagi. Seratus kali lipat. Kalian pikir memangnya kenapa aku memanggilnya Sapi?”

“Ceritakan padaku!” pinta Nick dengan sungguh-sungguh. Lucy pun tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

Jessie memulai bercerita tentang kecerobohan Julie yang hampir membakar lab Biologi saat percobaan memasak reagen fehling dengan kompor bunsen yang menyala. Seluruh penghuni Springbutter menjadi luar biasa heboh, kecelakaan itu menyalakan alarm kebakaran yang membuat siswa-siswa panik, dan sampai-sampai kepala sekolah Springbutter mengundang petugas pemadam kebakaran ke sekolah khusus untuk memarahinya.

Cerita berlanjut dengan pembalasan dendam Julie pada anak perempuan yang bernama Donita, karena anak perempuan itu mengadukan Julie pada Miss Hellen–guru Kelas Prancis yang sangat dibencinya. Kayla ikut menambahkan dengan beberapa detil yang terlewat oleh Jessie, salah satunya rencana Julie untuk mengelem kursinya. Adegan itu berakhir dengan insiden Julie tertangkap basah oleh guru Kelas Prancis mereka itu karena rambutnya tersangkut di resleting tas Donita, saat Julie mencoba menyelundupkan kodok ke dalam tas anak itu.

“Aku tidak pernah mendengar cerita itu,” tukas Lucy.

Nick tertawa.

“Kenapa kalian tidak menceritakannya dari dulu? Sepertinya masa muda kalian sangat menyenangkan.” Nick terlihat antusias. “Aku sangat ingin sekali bisa hidup dan bergabung di masa itu.”

Julie mendengus.

Yeah,” kata Julie datar. “Bisakah kalian menghentikan ini? Aku hanya berusaha untuk menjadi orang normal sekarang.”

“Itu benar,” kata Kayla sambil tertawa. “Kau sudah cukup berubah sejak di Nimber, Julie. Aku juga heran kenapa kau tidak pernah dihukum lagi seperti di Springbutter dulu. Padahal Hukuman Toilet menjadikanmu sangat terkenal. Kurasa mereka perlu tahu tentang rincian ceritanya.”

“Tidak, tidak,” pinta Julie panik. “Kayla.”

“Hukuman Toilet?” tanya Nick sambil menyeringai. Jessie mengedikkan kepalanya, tersenyum lebar.

“Kayla.”

“Ya. Termasuk Loncatan Tai yang diceritakan Mrs.Light tadi,” kata Kayla sambil terkikih. “Jadi, semuanya berawal saat Julie hendak membawakan—”

Ini yang paling Julie takutkan. Selama bersekolah di Nimber, ia sudah mengerahkan seluruh kemampuannya yang terbaik untuk mengalihkan perhatian semua orang supaya tidak ada lagi yang membahas masa lalunya yang satu itu. Sekarang, hanya dalam sebuah kunjungan singkat, semua aibnya yang disembunyikannya selama ini benar-benar akan terbongkar.

Dan semua ini gara-gara ibunya.

***

BACA SELANJUTNYA >>

20 – Renungan (2)

Comments 25 Standar

0511-1007-1217-4411_Cartoon_of_a_Little_Boy_and_Girl_Waving_Hello_clipart_image

Julie baru saja menyelesaikan makan siangnya dan sedang berjalan menaiki tangga saat ia mendengar suara yang sangat gaduh dari arah ruang tamu.

“Kejutan!”

Jessie melesat seperti anak panah dan menghampirinya sambil meloncat menaiki anak tangga. “Kau tidak akan menduga kami datang, kan!?”

Julie melihat Kayla beberapa detik kemudian. Ia menyeringai senang saat melihat Nick dan Lucy menyusulnya dari belakang. Rasanya sudah seabad ia tidak melihat mereka berdua.

“Nick! Lucy!”

Julie menyambut keempat temannya itu dengan sumringah. Ia mempersilakan mereka untuk masuk ke kamarnya, dan ia sangat luar biasa bersyukur pada Tuhan karena tadi siang ia telah membereskan ruangan itu dengan baik.

“Berani taruhan,” kata Jessie. “Kau pasti belum mandi.”

Julie meringis. Ia menyemprotkan pewangi ke tumpukan kain kotor di atas keranjang laundry yang tadi belum dicucinya. “Bukan urusanmu.”

Jessie tergelak. “Sudah kuduga. Sapi sepertimu pasti tidak akan pernah mandi jika tidak diharuskan.”

Julie melempar sarung bantalnya ke muka Jessie.

“Senang melihatmu, Julie,” kata Nick. “Bagaimana keadaanmu? Apakah kau tiba-tiba insaf atau semacamnya? Terakhir aku ke sini, kamarmu tidak serapi ini.”

Julie menatap Nick dengan muka datar.

“Heh.”

Julie mendengar pintu kamarnya yang diketuk dengan sopan. Suara Lily terdengar setengah berbisik dari luar, meminta izin untuk masuk, membuat Julie harus menahan pandangan skeptisnya mengingat selama ini ibunya selalu masuk ke kamarnya tanpa mengetuk atau bahkan bisikan pemberitahuan. Biasanya adalah teriakan bar-bar.

“Permisi,” kata Lily dengan suara yang sangat lembut, seperti dibuat-buat. “Ada berapa orang dari kalian? Mau kubuatkan sesuatu? Es teh? Jus jeruk?”

“Jus jeruk boleh, Mrs.Light. Jika tidak merepotkan,” kata Nick. Gadis-gadis yang lain mengangguk setuju.

“Oh. Kau lagi ya, anak tampan. Nicholas. Benar, kan?” kata Lily genit. “Aku ingat sekarang. Kau yang waktu itu juga pernah datang ke sini untuk berkencan dengan Julie. Apa kau mau kubuatkan lagi sepiring pancake spesial bernada cinta dari Mrs.Light untukmu?”

“Mom!” teriak Julie. “Dia pacarnya Jessie. Harus berapa kali kubilang padamu?”

Julie melenguh depresi.

“Lihat. Di sini juga ada Jessie, sebagai saksi mata, kalau kau tidak percaya. Nick adalah pacarnya Jessie, bukan pacarku. Kenapa kau selalu seperti ini?” kata Julie dengan jengkel. “Kau benar-benar membuatku stress, Mom.”

Lucy tertawa sambil menunduk.

“Baiklah, baiklah. Aku kan hanya bercanda, Cantik,” kata Lily. Ia menghitung sambil mengeja nama-nama mereka. “Jessie. Kayla. Nicholas. Daan—” Lily tersendat sebentar sampai Julie membantu menyebutkan nama orang yang terakhir, “Umm. Lucy. Ya, Lucy. Lucy Stone, benar bukan?”

Lucy mengangguk.

“Oh! Di mana gadis berwajah Latin?” tanya Lily. “Ms.Pierre. Benar kan? Umm—dan gadis yang satu lagi, dengan pita-pita di rambutnya—emm, aku lupa namanya. Ah! Cassandra. Ya. Cassandra, benar kan? Di mana mereka?”

Kayla menjawab sambil tersenyum.

“Cathy dan Cassandra sedang ada keperluan mendadak, Mrs.Light,” kata Kayla. “Mereka berhalangan hadir hari ini. Mudah-mudahan lain kali mereka bisa ikut mampir dan berkunjung lagi ke sini.”

Lily mengangguk penuh arti. “Apa dia sedang berkencan dengan Richard?”

Julie terbelalak.

“Mom!” kata Julie.

Julie mendorong ibunya ke luar kamar, sebelum wanita itu mengeluarkan kalimat yang aneh-aneh lagi. Lily tertawa cekikikan. Wanita itu melambai ke arah mereka sambil berkata, “Baiklah. Lima gelas jus jeruk. Segera datang!”

Nick terkikih geli.

“Ibumu benar-benar lucu, Julie,” kata Nick. “Apa dia selalu bersikap seperti itu atau ini hanya perasaanku saja?”

“Dia memang seperti itu,” jawab Julie. Ia menghela napasnya lagi. “Selalu membuat stress. Oh ya, kenapa kalian ke sini?”

Jessie menghamburkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia melempar bantal-bantal dari ranjang ke arah teman-temannya. Nick dan Kayla menangkapnya. Lucy mengambil sendiri sebuah guling dengan malu-malu.

“Tentu saja untuk mengganggu tidur siangmu,” kata Jessie, menggosok-gosok hidungnya yang gatal. “Aku tahu, ini jadwal kau tidur siang, kan? Mau sampai kapan kau tidur terus, Sapi? Aku heran padamu. Selalu saja tidur kapan pun ada kesempatan.”

Julie memicingkan matanya dengan kesal. Ia bergerak perlahan ke arah ranjang, lalu menyambar gadis itu dengan gegabah. Mereka bergulat dengan seru, dengan bantuan bantal.

“Lucy berkata ia ingin sekali bertemu denganmu, karena selama seharian kemarin ia tidak bisa menemani kita,” kata Kayla.

Julie menghentikan perkelahiannya. Lucy tersenyum.

“Aku sudah mendengar tentang kejadian dua hari yang lalu, Julie,” kata Lucy. Ia menunduk penuh simpati. “Aku minta maaf karena tidak bisa berada di sana untukmu.”

Julie menyengir santai. Keberadaan Lucy hari ini saja sudah sangat menyenangkan untuknya.

“Tidak apa-apa, Lucy. Oh, ya. Bagaimana dengan paper-mu? Apa kau sudah menyelesaikannya?” tanya Julie. “Aku sangat senang kau bisa mendapatkan posisi itu. Aku tahu kau pasti akan memenangkannya. Kau sangat pintar. Lebih pintar dari kita semua. Yang jelas dan pasti, kau lebih pintar dari Jessie.”

“Baru selesai sebagian,” kata Lucy. “Riset dan membaca buku membutuhkan banyak waktu. Aku sengaja menyempatkan waktuku hari ini untuk berkunjung ke rumahmu, karena aku khawatir aku mungkin tidak bisa sering menemui kalian lagi dalam beberapa hari ke depan. Kuharap kalian bisa mengerti, teman-teman.”

Kayla menyusul ke arah ranjang. Ia memilih duduk di sebelah Lucy, yang sedang duduk di salah satu sisi sambil memeluk guling. Ia meletakkan kembali bantalnya.

“Tidak apa-apa, Lucy,” kata Kayla. “Kami sangat mengerti kesibukanmu. Lebih dari itu, kami mendukungmu dan selalu mendukungmu untuk setiap prestasi yang akan kau torehkan untuk sekolah kita. Dan kau tahu, kau sangat membanggakan kami semua.”

Lucy tersenyum. Mereka berempat berpelukan—minus Nick. Anak laki-laki itu menatap mereka dengan seringai iri.

Oh! So sweet, ladies,” kata Nick. “Tidak adakah ruang lebih untukku? Aku ingin berpelukan juga.”

Nick bergerak mendekat, merentangkan kedua tangannya seperti burung. Jessie melempar bantal ke mukanya, sehingga anak laki-laki itu mengaduh.

Mereka mengobrol sebentar tentang perjalanan mereka sebelum berangkat ke rumah Julie. Mereka bertemu dengan seorang kakek-kakek tua nyentrik, yang memakai setelan jeans gombrong, kacamata ray band, dan sebuah kalung rantai besar di lehernya. Kakek itu lalu mengajak mereka berempat untuk high-five dengannya. Setiap tepukan tangan, ia lalu memamerkan gigi depannya yang ompong. Mereka tertawa cekikikan.

Saat gadis-gadis itu bercerita, Nick melihat sekeliling.

Ia mengambil kursi dari meja belajar dan menyeretnya ke arah ranjang. Ia membalik arah kursi itu, lalu duduk di atasnya, sambil melingkarkan tangannya di sandaran kursi.

“Kalian tahu? Sejujurnya aku merindukan Cathy di dalam kelompok kecil kita,” kata Nick tiba-tiba. “Dan Cassandra. Aku juga sudah dengar tentang Cassandra. Uh–itu tidak berarti kita berlima itu grup yang membosankan lho, ladies, tapi–yeah–harus kuakui rasanya kali ini sangat berbeda tanpa kehadiran Cathy.”

Jessie menatap Nick dengan kesal.

“Kenapa kita selalu membahas soal Cathy?” runtut Jessie.

“Hanya pendapat,” kata Nick sambil menyengir cantik.

“Tidak bisakah kau menerima kalau kelompok kita sekarang adalah lima orang keren yang super baik, tulus, setia kawan, dan menyenangkan? Kita justru harus bersyukur karena terbebas dari Nenek Sihir Ratu Drama itu,” kata Jessie. “Aku ingin mengusulkan pergantian nama.”

Mereka terkejut. “Apa?”

The Lady Witches adalah nama geng payah dengan Cathy dan Cassandra. Kita seharusnya kembali ke keputusan kita yang dulu, nama geng kita yang sebenarnya, yang dulu sempat dicetuskan oleh Kayla. Kita pernah memakai nama itu selama sehari, sampai akhirnya si Nenek Sihir itu ngambek dan memaksa kita untuk berganti nama,” kata Jessie. “Kalian masih ingat?”

Lucy menimpali. “Fame Us.

“Tepat! FAME US,” kata Jessie. “Bagaimana, Nick? Keren kan?”

Nick menyeringai aneh, antara menerima atau tidak menerima pendapat itu. Ia berdengung panjang. “Hmm. Entahlah. Kurasa lebih keren–ehm–The Lady Witches.”

Jessie mencubit Nick sampai anak laki-laki itu berteriak kesakitan.

“Aku tidak ingin kita berganti nama,” kata Julie. “Kita masih dalam geng yang sama. Cathy dan Cassandra adalah sahabat kita. Aku tidak ingin itu berubah.”

Jessie mendesah.

“Bodoh,” kata Jessie. “Jangan bodoh, Bodoh. Mereka takkan kembali pada kita. Mereka terlalu egois dan kekanak-kanakan untuk bisa berpikir seperti orang dewasa. Situasi ini tidak akan pernah berubah, mau berapa kali pun kita mencobanya. Kalian ingat kan betapa kita tidak pernah sekali pun menang melawan keegoisan Cathy? Ujung-ujungnya, kita selalu mengalah karena dia ngambek dan mogok bicara. Ingat? Pernahkah kita berhasil membuatnya berubah? Tidak?”

Perkataan Jessie sebenarnya memang benar. Mereka tidak pernah sekalipun benar-benar berhasil mengubah pendirian Cathy ketika gadis itu benar-benar menginginkan sesuatu. Bahkan Kayla sekalipun, hanya bisa membujuknya untuk berhenti ngambek, tapi tidak berhasil membuatnya berubah pikiran. Mereka akhirnya akan mengalah untuk membuat Cathy lebih senang dan berhenti marah, sesuatu yang baru mereka sadari sekarang ternyata bukan keputusan yang bijaksana.

“Kenapa diam saja? Jadi kalian setuju kan dengan pendapatku barusan? Tidak ada gunanya kita menghabiskan tenaga untuk Drama Queen itu. Semuanya akan sia-sia saja, seperti yang sudah kukatakan padamu kemarin, Kayla,” kata Jessie. “Kita berusaha mendekatinya, dia menghindar. Kita mengejarnya, dia berlari lebih kencang lagi. Apakah ada tindakan yang lebih kekanak-kanakan lagi daripada itu?”

Kayla meluruskan punggungnya, mendesah panjang, merasa bersalah karena tidak bisa berbuat lebih banyak akan hal ini. Terlebih lagi, ia harus mengakui kalau yang dikatakan Jessie barusan memang benar. Gadis itu terlalu keras kepala untuk bisa dibujuk melawan kemauannya.

“Bagaimana dengan Richard?” tanya Kayla pada Nick. “Apakah dia mengatakan sesuatu padamu?”

Nick mengangkat pundaknya.

“Beberapa hal,” kata Nick. “Sayangnya aku tidak bisa mengatakannya pada kalian. Rahasia anak laki-laki. Tapi yang jelas aku bisa memastikan kalau Richard akan menghindar dari kalian selama beberapa hari ini.”

Julie mendesah. Ia teringat lagi saat ia melihat Richard berbincang-bincang akrab dengan gadis kelas dua belas kemarin, penasaran apakah itu juga bagian dari rahasia yang ia sembunyikan dengan Nick sebagai sesama anak laki-laki. Apakah Richard telah menyukai gadis lain di sekolahnya? Gadis itu? Siapa gadis itu?

Apakah Richard sengaja melakukan ini untuk membalas dendam padanya?

“Menghindar lagi, menghindar lagi,” omel Jessie. “Aku tidak mengerti dengan isi otak mereka.”

“Apakah aku bisa melakukan sesuatu untuk membantu menyelesaikan masalah ini?” tanya Lucy.

Jessie menyambar dengan cepat.

“Tidak, Lucy! Tidak,” tukas Jessie. Ia mengibaskan jari telunjuknya dengan sangat gemas. “Jangan membuatku mengulangi apa yang aku ucapkan pada Julie kemarin.”

“Memangnya kau mengucapkan apa?” tanya Julie.

Jessie mendelik. “Kau tidak ingat apa yang aku ucapkan?”

“Tidak,” kata Julie sambil memutar bola matanya. “Tidak ingat. Sepertinya tidak penting. Oh. Mungkin. Apakah ada yang penting?”

Jessie melotot. “Ya.”

Julie memekik karena Jessie akhirnya langsung mencengkram kepalanya dan menggulung rambutnya dengan sungguh-sungguh. Perkelahian mereka terhenti saat Julie mendengar suara yang mengetuk aneh di balik pintu.

Lily meminta izin sopan, dan mengetuk pintu sekali lagi, meminta tolong untuk dibukakan pintu karena dari tadi ia mengetuk dengan menggunakan kakinya. Lucy tersenyum geli dan bangkit untuk membukakan pintu.

“Sangat seru sekali sepertinya,” kata Lily, sambil meletakkan gelas di depan masing-masing orang. “Apa yang sedang kalian bicarakan?”

Jessie tersenyum aneh, terpikir sebuah ide cemerlang.

“Mrs.Light,” kata Jessie. “Apa kau sudah menceritakan pada Nick tentang kisah Julie yang dihukum membersihkan toilet di Springbutter? Soal LONCATAN TAI?”

Kayla langsung tertawa kencang.

“Loncatan tai?” tanya Nick.

Julie menjadi panik.

“Belum,” kata Lily. “Kukira kalian sudah mengetahuinya.”

“Tidak terjadi apa pun,” kata Julie cepat. “Mom. Cepat pergi dari sini sebelum kau menyesalinya.”

“Ah. Jadi kau merahasiakannya ya, Julie?” kata Lily dengan wajah licik.

Julie mendorong ibunya keluar pintu.

“Aku mengerti sekarang. Kau sengaja merahasiakan ini dari teman-temanmu di Nimber, ya? Untuk memulai hidup yang baru?” kata Lily dengan nada menggoda. “Bukankah mereka teman-temanmu, Julie? Mereka harus tahu semua masa lalumu.”

Jessie mengangguk antusias. Sementara itu, Kayla tidak bisa berhenti tertawa. Nick dan Lucy mendengarkan dengan penasaran.

“Dengar anak-anak,” kata Lily perlahan-lahan.

Ia mendorong balik tubuh Julie yang kurus dengan begitu mudahnya, lalu mendudukkannya di atas ranjang seperti bayi.

“Dua tahun yang lalu, saat Julie masih bersekolah di Springbutter Junior High School, dia dihukum membersihkan toilet sekolah setiap hari karena ia tak pernah bisa lulus kelas Prancis. Dan suatu hari, ia pulang dengan baju basah kuyup yang berlumuran warna coklat dan kuning—”

Julie meloncat dan berusaha menutup mulut ibunya dengan sekuat tenaga.

“MOOM!”

Lily dengan cepat menyingkirkan tangan Julie yang tak berdaya dan melanjutkan ceritanya hingga remaja-remaja itu tertawa berguling-guling menahan sakit di perut mereka. Lily bahkan menambahkan dengan cerita memalukan di Taman Bermain Wonderland saat Julie masih kecil, yang bahkan belum pernah Julie ceritakan pada Jessie dan Kayla.

Julie melolong depresi.

***

BACA SELANJUTNYA >>

20 – Renungan

Comments 21 Standar

jgirlcellphone

Julie bangkit dari tempat tidurnya, mengusap kedua matanya dengan malas, melihat jam weker yang tergeletak di atas meja belajar.

Jam 11.30 siang.

Julie selalu suka dengan akhir minggu. Hari Sabtu dan Minggu, keduanya adalah hari favorit yang selalu ia nanti-nantikan setiap pekan, setelah lima hari waktu sekolah yang melelahkan. Lebih dari segalanya, Julie bisa memanfaatkan waktunya untuk menonton DVD apa pun sepuasnya sebanyak yang ia inginkan di dua malam yang spesial itu tanpa perlu takut kesiangan atau dimarahi Lily karena bangun kesiangan. Satu-satunya yang akan membuatnya dimarahi hanyalah kebiasaannya meninggalkan sarapan di akhir minggu. Kadang-kadang Lily membiarkannya. Kadang-kadang Lily tetap membangunkannya. Tergantung mood wanita itu. Tapi pagi ini Lily tidak membangunkannya untuk sarapan, dan Julie sangat bersyukur untuk itu.

Kadang-kadang ia dan The Lady Witches menghabiskan hari Sabtu mereka untuk menonton film di bioskop Evergreen, tempat menonton favorit mereka. Tapi hari ini Julie tahu kalau itu tidak akan terjadi. Tanpa Cathy dan Cassandra, kegiatan menonton mereka akan menjadi sangat membosankan, terutama karena Cathy selalu yang membuat suasana menjadi heboh dan Cassandra adalah pemberi daya tarik yang luar biasa di dunia perbelanjaan—setelah atau sebelum mereka selesai menonton. Bahkan sejujurnya, sebelum mengenal mereka berdua, Julie, Jessie, dan Kayla hampir tidak pernah menghabiskan waktu mereka untuk menonton bioskop. Mereka biasanya menghabiskan waktu untuk saling berkunjung di rumah masing-masing. Atau bahkan tidak ada acara apa pun, yang memberikan waktu kosong yang panjang untuk Julie bangun kesiangan, dan tidur siang lagi sampai sore.

Itulah sebabnya Julie ingin di rumah saja hari ini.

Julie membuka pintu kamarnya dan baru saja akan turun tangga saat ia terhentak kaget melihat ibunya di depan mukanya.

“Hari ini kau tidak kemana-mana?” tanya wanita itu.

“Tidak,” jawab Julie malas.

“Aku lupa membuatkanmu sarapan,” kata Lily sambil cekikikan. “Aku terlalu asyik berguling-guling di kasur sampai-sampai aku lupa membangunkanmu dan membuatkan sarapan untukmu. Oke baiklah. Sebenarnya aku kesiangan juga.”

Lily menyodorkan sepiring sandwich yang jelas dibuat secara gegabah, menilik dari betapa banyak saus kacangnya yang belepotan di sisi piring dan kedua tangannya. “Masih tertarik untuk sarapan?”

Julie mengambil piring itu. Perutnya memang terasa lapar.

Yeah,” kata Julie. “Mom, bisakah kau membuatkan lagi sedikit lebih banyak? Aku sangat lapar sekarang. Kurasa aku bisa makan dua atau tiga lemari.”

Wanita itu tertawa.

“Aku memang rencananya akan sekalian membuatkan makan siang untukmu, Julie,” kata Lily. “Tapi butuh waktu agak sedikit lama. Aku sedang mempraktekkan resep baru di dapur. Agak sedikit—” Lily memainkan jari-jarinya sambil menggigit bibirnya, “—yeah, berantakan.”

Julie terkikih. “Apa Dad ada di rumah hari ini?”

Lily menggeleng.

“Dia sudah berangkat ke Westcult tadi pagi-pagi sekali. Dan dia tidak membangunkanku!” keluh Lily. “Oh. Mungkin sudah. Tapi aku tertidur lagi. Entahlah.”

Lily menuruni tangga dan menoleh ke arah Julie sambil menggoyangkan telunjuknya. “Habiskan sarapanmu, Julie. Dan bereskan kamarmu. Kau tidak mau kan kalau nanti monster kacang keluar dari rotimu dan melumuri seluruh barang-barang yang berantakan di lantai kamarmu dengan remah-rem—”

Julie mendesah cepat. “Iya, Mom.”

Julie menutup pintunya. Ia menghabiskan sandwich-nya dalam sekejap, karena ia memang benar-benar sedang lapar. Ia menerawang ke seluruh isi kamarnya. Memang sangat berantakan, seperti kapal pecah. Entah apa yang dia lakukan tadi malam sampai-sampai ruangan itu menjadi sekacau ini. Seperti diinvasi sekerumunan Godzilla.

Julie mengambil potongan-potongan seragam sekolah yang kemarin ia biarkan tercecer di lantai. Ia memasukkannya ke keranjang laundry. Ia merapikan beberapa barang yang tadinya tergeletak di sembarang tempat, meletakkannya lagi di posisi yang sebenarnya. Ia mengambil laptopnya yang masih terbuka dalam keadaan mati di atas kasurnya. Ia menutup laptop itu, teringat kalau Lily selalu mengomel dan memperingatkan Julie kalau suatu saat nanti laptop itu akan tertendang oleh kakinya yang tertidur atau patah tersenggol oleh pantatnya sendiri dan ia takkan mau membelikan yang baru.

Julie meletakkan laptop itu di atas meja belajar. Ia lalu menarik kursi meja belajarnya dan duduk di atasnya, tertarik untuk menonton DVD lagi. Ia menghembuskan napasnya dengan berat karena mengetahui itu bukan keputusan yang pintar. Julie tahu, saat menonton DVD, ia akan lupa segalanya. Termasuk kewajibannya membereskan kamarnya. Ia harus menyelesaikan tugas ini selagi kewarasannya masih berfungsi normal, sebelum kemalasannya berjingkrak lagi.

Julie beranjak menuju tempat tidurnya dan menarik spreinya dengan enggan. Ia mengendusi sarung bantal yang bau lalu mengendusi sprei yang ternyata juga bau lalu menyadari kalau selimutnya juga bau. Ia melenguh panjang. Ia melepas semua kain-kain bau itu dari tempat tidurnya, menggulung mereka semua menjadi sebuah bola kain besar, lalu melemparnya dengan sekuat tenaga ke arah keranjang laundry.

Meleset. Kain-kain itu berhamburan di mana-mana.

Dengan kemalasan yang luar biasa, Julie menghampiri kain-kain itu dan mencoba merapikannya lagi. Ia mendorongnya ke arah keranjang laundry, memasukkan sebanyak yang ia bisa, dan menyadari kalau mereka terlalu banyak, sama sekali tidak muat dimasukkan ke dalam keranjang. Semua pakaian dan kain kotor itu harus dicuci sekarang.

“Mom,” teriak Julie. Lily menyahut dengan keras dari lantai bawah. “Maukah kau mencuci sprei dan selimutku?”

Lily tidak menjawab lagi. Julie sudah tahu alasannya. Ia akan mencuci sendiri kain-kain itu, tapi ia tidak akan melakukannya sekarang. Mungkin nanti sore. Mungkin nanti malam. Mungkin besok. Mungkin nanti kalau alien dari Saturnus datang dan tiba-tiba memberikannya ilham.

Julie menghela napas panjang. Sekarang ia harus mengambil sprei, sarung bantal, dan selimut baru, yang disimpan ibunya di lantai bawah. Rasanya sangat malas. Sangat, sangat, sangat malas. Ia memutuskan untuk menunda itu dan lagi-lagi menarik kursi meja belajarnya untuk duduk di atasnya. Ia terdiam cukup lama, menatap ke jalanan di balik jendela, tidak melakukan apa-apa.

Entah apa yang merasuki pikirannya saat itu. Ia menarik laci paling bawah dari meja belajarnya, tempat ia menyimpan koran sekolah yang memuat puisi Richard untuknya. Ia membuka halaman demi halaman, untuk menemukan bagian yang ingin dibacanya.

Ia melihat foto Richard. Sangat manis dengan senyum tipisnya yang polos. Ini foto Richard beberapa bulan yang lalu. Saat itu ia masih merasakan Richard sebagai momok menakutkan. Sebelum ia mengenal Richard sampai sejauh ini. Sebelum ia merasakan perasaan nyaman yang asing saat berada dekat dengan anak laki-laki itu. Sebelum ia menyadari perasaannya sendiri. Sebelum ia mengetahui bahwa Richard ternyata juga—menyukainya.

Julie menahan napasnya.

Julie telah berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikan semua yang terjadi dalam dua hari terakhir. Ia biasanya dapat dengan mudah melakukannya. Tapi entah kenapa, kali ini terasa begitu sulit.

Ia mencoba mengabaikan pernyataan Richard padanya dan berpura-pura tidak merasakan apa-apa. Ia mencoba untuk tidak membahasnya, mengalihkan topik atau mencari perhatian pada hal yang lain. Ia mencoba untuk lebih menfokuskan kekhawatirannya pada Cathy dan Cassandra yang menjauhinya.

Tapi ada satu kepingan di dalam dadanya yang menginginkan untuk membahas hal itu. Kepingan yang membuatnya merasa sangat egois dan ia berusaha untuk menekannya agar perasaan itu segera menghilang.

Julie bertanya dalam hati.

Benarkah Richard juga menyukainya?

Sungguh kah?

Julie menghela napas sekali lagi. Rasanya ia terlalu banyak menghela napas hari ini. Ia tidak terbiasa dengan situasi seperti ini. Ia tidak pernah menghadapinya sebelumnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia bahkan tidak bisa menentukan apakah sikap yang diambilnya benar atau salah.

Ia ingin menghampiri Richard dan mengucapkan sesuatu, namun ia tidak tahu ingin mengucapkan apa. Apakah ia akan mengakui perasaannya? Apakah ia akan bertanya pada Richard sekali lagi?

Benarkah Richard telah menyukainya?

Julie merenung panjang, berusaha memahami apa yang ia inginkan, apa yang sebaiknya ia lakukan. Tapi semakin ia berpikir, ia semakin pusing. Ia tidak mengerti kenapa ia harus merasakan perasaan yang kacau seperti ini. Memikirkan dan berusaha tidak memikirkan, dua-duanya sama-sama melelahkan.

Julie mengambil ponselnya. Ia membuka pesan masuk dan menelusuri daftar pesan untuk mencari satu pesan yang dikirim padanya dua hari yang lalu.

 

Aku sangat khawatir padamu.

Apakah kau baik-baik saja?

 

Richard.

 

Julie belum menyimpan nomor ponsel itu ke dalam daftar kontaknya. Ia bahkan tidak pernah membuka pesan itu lagi sejak hari itu.

Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.

***

BACA SELANJUTNYA >>