19 – Perang Dingin (4)

Comments 25 Standar

对峙两个的女孩-34746689

Julie keluar dari kelasnya dan disambut oleh Kayla dan Jessie di perjalanan. Mereka saling merangkul pundak dan berjalan beriringan. Julie berada di bagian tengah.

“Jadi, hanya kita bertiga saja, nih?” kata Jessie dengan wajah skeptis. “Baguslah. Ini seperti kita waktu dulu, saat kita masih di Springbutter.”

Jessie mengayunkan tangannya ke belakang, bermaksud untuk menambah bobot tas sekolah Julie, sehingga gadis itu hampir terjungkal. Julie mengamuk dan menarik kuncir rambutnya dengan keras, yang membuat gadis itu berteriak.

Kayla tersenyum.

“Kalian ingat pelajaran terakhirku hari ini? Biologi,” kata Kayla. “Aku sekelas dengan Lucy, Cathy, dan Cassandra.”

Julie dan Jessie terperangah.

“Benar juga! Kalian berempat sekelas!” sontak Jessie. Dia dan Julie saling bertatapan. “Lalu, apa yang terjadi?”

“Apa yang kau harapkan, Jess?” kata Kayla sambil terkikih. “Keajaiban?”

Kedua gadis itu mengangguk, lalu mendengarkan dengan sangat penasaran. Tidak ada yang salah dengan sedikit harapan kalau Cathy dan Cassandra tiba-tiba berubah pikiran. Kayla hanya mengangkat pundaknya dengan malas.

“Seperti biasa, Cathy dan Cassandra memilih duduk menjauhiku. Mereka tidak mau berbicara sama sekali. Tidak menanggapi ucapanku sedikit pun,” kata Kayla, menggeleng pelan. “Hanya Lucy yang masih mau berbicara denganku.”

Julie melihat sekeliling, menyadari sesuatu.

“Di mana Lucy sekarang? Apakah dia masih sibuk dengan paper-nya?” tanya Julie.

“Dia dipanggil Mrs.Tamara Lautner di ruang kepala sekolah. Kurasa ada hubungannya dengan lomba-lomba,” jelas Kayla.

Jessie mengembalikan topik pembicaraan mereka kembali ke jalur semula. Ia berbicara dengan gaya menyindir.

“Dan pasangan Cathy-Cassandra itu—aku yakin mereka mengasingkan diri seolah-olah mereka adalah dua ratu dengan layanan yang eksklusif,” kata Jessie sambil memainkan intonasinya. Ia tertawa pahit. “Aku masih tak percaya semua ini.”

Kayla menarik sudut mulutnya, menghela napas. “Yah.”

“Menurutmu sampai kapan mereka berdua akan menjauhi kita?” tanya Julie.

“Entahlah,” kata Kayla, mengangkat pundak. “Ini baru hari pertama, Julie. Kita tak tahu apa yang akan terjadi besok dan besok lusa. Mudah-mudahan nanti suasana hatinya akan jadi lebih baik.”

Jessie mendongkol.

“Kau tahu? Kenapa Ratu Drama itu bersikap terlalu kekanak-kanakan? Aku benar-benar muak melihatnya,” kata Jessie. “Apa masalahnya? Ayolah! Hanya karena pacarnya suka pada Julie, bukan berarti dia harus memusuhi SEMUA ORANG.”

Julie tersenyum menggelap.

“Apa dia memusuhi kalian karena kalian masih berteman denganku?” tanya Julie.

Jessie menjawab dengan gaya menantang.

“Kalau pun iya, lalu kenapa? Apakah semua orang harus membencimu, padahal ini bukan salahmu sama sekali? Coba pikir, Julie. Memangnya salahmu kalau akhirnya Richard ternyata lebih menyukaimu?” kata Jessie. “Kalau aku jadi Richard, aku juga pasti akan memilihmu daripada dia, Julie. Dia memang cantik, tapi dia itu keras kepala, manja, egois, cengeng, payah, kekanak-kanakan, pengecut–”

“Hentikan, Jess. Kenapa kau harus menjelek-jelekkan dia?” tanya Julie.

Jessie pura-pura tidak mendengarkan.

“–tukang ngambek, posesif, Ratu Drama, selalu mau menang sendiri, arogan, angkuh. Semua yang jelek-jelek. Intinya, dia seharusnya yang jadi orang yang lebih dewasa!” kata Jessie mendumel. “Titik.”

“Aku sudah memikirkannya baik-baik,” kata Kayla. “Kurasa ini saatnya kita bertiga menemuinya dan menyelesaikan masalah ini dengan segera.”

“Apa maksudmu?” tanya Jessie.

“Iya, kupikir yang dikatakan Julie tadi siang itu benar, Jess. Kita harus menemuinya dan tidak membiarkan masalah ini berlarut-larut,” kata Kayla. “Kali ini, kita akan memaksa untuk menemuinya. Kita akan terus memaksa meskipun ia nanti akan bersikeras untuk menghindar.”

Ide ini terdengar dramatis. Dari sekarang saja Julie sudah bisa membayangkan bagaimana mendebar-debarkannya rencana itu.

“Aku melihatnya dan Cassandra dengan Pinky Winky di sisi selatan lapangan sekolah tadi. Mereka sedang membicarakan tentang baju seragam untuk anggota baru geng mereka,” kata Kayla. “Sekarang kita akan ke sana untuk menemuinya. Apa pun yang terjadi.”

Mereka bertiga pun berjalan menuju lapangan sekolah. Jessie tidak sepenuhnya setuju dengan ide ini–ia sudah terlanjur sakit hati dengan perlakuan Cathy yang sengaja menghindarinya di kafetaria tadi siang. Tapi demi penyelesaian masalah, akhirnya mereka memutuskan untuk tetap menemuinya sekarang.

Mereka menemukan Cathy dan Cassandra sedang bercengkrama dengan teman-teman barunya. Kedua gadis itu terlonjak kaget saat melihat teman-teman lamanya berada di dekat mereka.

“Bagaimana teman-teman barumu, Cathy? Cassandra? Apakah mereka menyenangkan?” sindir Jessie dengan nada sinis. “Tidak seheboh The Lady Witches, huh? Ah, tentu saja. Itu pasti. Tapi setidaknya tidak ada gadis lain yang menyaingi kepopuleranmu di sini. Mereka semua payah.”

“Jessie.” Kayla mendesis.

“Baiklah, sebelum aku mulai merusak suasana, sebaiknya aku serahkan urusan negosiasi ini pada ahlinya,” kata Jessie sopan, melambaikan tangannya pada Kayla. 

“Silakan.”

Cathy bersiap-siap pergi. Ia menarik tangan Cassandra dan mengajak teman-temannya yang lain juga untuk segera menghindar.

“Cath, jangan pergi!” kata Kayla.

Cathy dan Cassandra menyingkir dengan cepat. Jessie berlari sangat cepat untuk menyusul mereka dan ia langsung menghadang Cathy, tepat di depan wajahnya. Gadis itu melonjak.

“Apa masalahmu!” kata Cathy gusar.

“Apa masalahmu!” balas Jessie tak kalah sengit. “Kaulah yang bermasalah, Cath! Kaulah yang menghindari kami! Kaulah yang bersikap aneh! Apa kau pikir tindakanmu ini tidak konyol dan kekanak-kanakan!? Hah?!”

“Aku tidak ingin melihat muka kalian,” desis Cathy. Kemarahan membakar seluruh urat nadinya.

Cassandra hanya terdiam membatu, memandang kejadian itu dengan wajah yang pucat pasi. Cathy segera menarik tangan Cassandra lagi. Ia bergerak cepat ke arah yang berlawanan, membuang mukanya dengan ekspresi muak, disusul cepat oleh teman-teman barunya.

“Cathy! Dengarkan kami dulu!” teriak Kayla.

Sonia Edmund menghalangi Kayla, menahan bahu Kayla dengan kedua tangannya. “Kau tidak dengar? Tadi dia bilang tidak mau melihat mukamu. Apa kau perlu kuucapkan sekali lagi?”

Jessie menghentakkan kakinya ke kaki Sonia. Gadis itu terpekik.

“Bukan urusanmu, Jalang,” runtut Jessie. “Pergilah, Cath! Pergilah sejauh-jauhnya karena aku pun sudah muak melihat kelakuanmu!” Jessie berteriak. “Dan Cassandra—selamat karena kau telah memilih untuk meninggalkan sahabat-sahabat terbaikmu. Hebat!”

Kejadian itu berlangsung sangat cepat, Julie hanya mampu menyaksikan kejadian itu dengan mulut yang terkatup rapat. Jantungnya berdebar-debar seperti akan meledak. Teman-temannya saling berteriak satu sama lain, bekejar-kejaran dengan emosi, dan saling mengumpat marah.

Ini bukan pemandangan yang disukainya.

“ENYAH!” Cathy masih berusaha menghindari mereka. Jessie sudah berhenti mengejar, ia melipat kedua tangannya dengan gondok. Kayla menaikkan intonasi suaranya tiga kali lipat daripada biasanya.

“Ada cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah ini, yaitu dengan membicarakannya baik-baik. Aku tahu kau bisa melakukannya,” kata Kayla tidak sabar. “Cathy! Kau harus mengontrol emosimu, seperti yang selalu aku katakan selama ini. Emosi hanya akan memperbesar masalah, kau tahu itu!”

Cathy tetap saja tidak berhenti berlari. Teman-teman barunya di Pinky Winky bahkan berusaha susah payah menyamakan posisi mereka.

“Cathy, kumohon pikirkanlah sekali lagi!” kata Kayla, terengah-engah. “Kemarin kau sudah berjanji padaku untuk menanggapi ini dengan kepala dingin. Kau ingat?”

Cathy dan Cassandra semakin menjauh dari pandangannya. Kayla berhenti mengikuti mereka. Ia memutuskan untuk membiarkan saja kedua gadis itu pergi. Usahanya tidak membuahkan hasil.

“Jadi, sudah kubilang kan?” kata Jessie. “PER-CU-MA. Kau saja yang tidak percaya padaku.”

Setelah pengejaran itu, mereka bertiga sekarang kembali berjalan ke gerbang sekolah, dengan langkah lunglai. 

Julie melihat ke arah kedua sahabatnya. Ia masih bisa mendengar tarikan napas Kayla yang tersengal. Titik-titik keringat yang membasahi dahi gadis itu, ia mengelapnya dengan punggung tangannya. Sementara itu, Jessie merapikan kembali kuncir rambutnya yang berantakan.

Julie menunduk kecewa. Ia merasa benar-benar tidak berguna.

“Terima kasih atas usaha kalian, teman-teman. Aku sangat menghargai itu,” kata Julie. “Aku tak tahu kenapa aku tak bisa mengatakan apa-apa tadi. Rasanya lidahku kelu dan aku tak bisa berkata apa-apa sama sekali. Dan Cathy terlihat sangat–” 

Julie terbata-bata.

“Sudahlah, Julie. Tidak apa-apa,” kata Kayla sambil tersenyum. Ia menepuk pundak Julie dengan hangat. “Kita akan menyelesaikan masalah ini, cepat atau lambat. Jangan khawatir.”

Yeah. Tidak apa,” kata Jessie. “Aku hanya ingin mencabik-cabik mukanya sesekali.”

Kayla berdehem. “Jessie.”

Mereka telah tiba di ujung gerbang, saat Mr.Bouncer menyapa Julie dengan kumis mungilnya. Tidak lama kemudian, Jessie dan Kayla berpamitan dengan Julie, karena mereka akan mengambil bus dari seberang jalan, sedangkan Julie akan berjalan kaki ke arah sebaliknya.

“Jadi, Julie. Besok sudah weekend,” kata Kayla sebelum mereka pergi. “Apa rencanamu untuk besok?”

Julie menggeleng.

“Entahlah,” kata Julie, tersenyum tipis. “Kurasa aku ingin di rumah saja. Mengganggu Mom.”

Julie mengucapkannya dengan nada monoton. 

“Kau yakin tidak ingin ke mana-mana? Aku bisa mengajakmu berjalan-jalan, nonton film di bioskop, atau–” Jessie langsung terdiam. “Yah. Kau benar. Lupakan saja ide bodoh itu.”

Julie tersenyum pahit. “Yeah.”

 

BACA SELANJUTNYA >>

19 – Perang Dingin (2)

Comments 37 Standar

0511-0708-2917-4850_school_girl_with_lunch_tray_clipart_image1

Julie tidak menyangka kalau masalah ini akhirnya menjadi sesulit ini. Sepanjang jam makan siang tadi, mereka bertiga sibuk membicarakan tentang Cathy yang berubah, gadis itu bergabung dengan geng lain, dan kali ini Cassandra ternyata juga ikut mengikuti jejaknya. Mereka berdua tidak pernah menoleh ke arah teman-teman lamanya lagi.

Jessie menjadi sangat gusar dan hampir saja akan menghardik kedua orang itu, kalau saja tidak ada Kayla yang menahannya. Jessie memutuskan untuk menunggu sampai geng itu menyelesaikan makan siang, tapi saat Jessie bergerak menghampiri mereka, Cathy, Cassandra, dan teman-teman barunya sudah bergerak terlalu jauh meninggalkan mereka bertiga.

Julie benar-benar tidak mengerti kenapa mereka berdua harus bersikap seperti itu. Cathy mungkin masih sangat marah padanya karena Richard menyukainya, tapi Julie tidak mengerti kenapa Cassandra juga merasa ingin ikut menjauhinya. Kemarin sore gadis itu tidak menunjukkan reaksi apa-apa saat ia menghabiskan waktu bersama dengan mereka dan Nick di depan rumah Cathy. Jessie bilang Cassandra adalah pengkhianat, tapi Julie sama sekali tidak setuju dengan istilah itu.

Kayla berkata kalau Cassandra memang dari dulu sangat menyukai Richard. Cassandra juga sangat dekat dengan Cathy—barangkali lebih daripada siapa pun di geng The Lady Witches mereka. Mereka berdua jauh lebih sering sekelas dibandingkan yang lain, dan mereka berdua berada di klub yang sama, Klub Drama. Bisa jadi gadis itu lebih merasa bersimpati pada Cathy dan memilih untuk berpihak padanya.

Kayla menambahkan, selama ini Cassandra juga selalu menginginkan Julie dengan Jerry. Bisa jadi, kenyataan bahwa Richard menyukai Julie tidak hanya membuatnya terpukul sebagai penggemar Richard dan Cathy, tapi juga ia merasa Julie telah merusak harapannya dengan Jerry. Di antara semua pertimbangan itu, barangkali memang baru siang ini gadis itu akhirnya menetapkan pilihannya untuk membela Cathy.

Mereka bertiga tak menghabiskan waktu terlalu lama di kafetaria. Setelah Cathy dan Cassandra berlalu, mereka pun memutuskan untuk kembali ke kelas mereka masing-masing. Julie meregangkan tangannya dengan malas saat mereka berpisah di koridor.

“Julie!” panggil Jerry dari arah belakang.

Julie menoleh. Anak laki-laki itu mendekatinya sambil tersenyum, sengaja berlagak gagah agar terlihat menarik. Jerry tampak lebih cerah hari ini ketimbang saat Julie terakhir melihatnya kemarin.

“Aku mencarimu,” kata Jerry. “Aku butuh bantuanmu untuk mengedit beberapa tulisan sore ini. Apa kau baik-baik saja?”

Jerry memperhatikan wajah Julie yang terlihat sedikit pucat.

Yeah,” kata Julie. “Hanya sedikit tidak enak badan. Kau butuh apa? Aku tidak dengar tadi.”

“Mengedit. Dengar Julie, aku tahu mungkin aku akan terdengar seperti ikut campur, tapi aku turut bersimpati pada apa yang menimpamu kemarin,” kata Jerry dengan tidak sabar. “Yeah, aku sudah mendengar ceritanya dari orang-orang. Mereka bilang Cathy menamparmu. Aku hanya ingin tahu apakah kau baik-baik saja. Apakah pipimu masih terasa sakit?”

Julie memutar balik tubuhnya dan menutup pipinya dengan rambut.

“Tidak.”

“Jam berapa persisnya kejadian itu? Apakah tepat setelah kita pulang sekolah?” tanya Jerry menyelidik.

“Ya.”

“Apakah ada yang ingin kau ceritakan padaku tentang kejadian itu?” tanya Jerry.

“Tidak,” kata Julie frustasi.

Jerry mulai terdengar menjengkelkan karena pertanyataan-pertanyaannya yang menodong dan kaku seperti gaya interograsi khas seorang wartawan. Ia harus melakukan sesuatu. “Jerry. Bisakah kau tinggalkan aku sebentar? Aku butuh bernapas sekarang. Lagipula seingatku, kemarin kau masih marah padaku gara-gara aku pergi ke perayaan kemenangannya Lucy.”

Jerry tergelak. “Tidak. Kenapa juga aku harus marah? Aku butuh bantuanmu hari ini, makanya aku mencarimu. Bagaimana? Kau bisa membantuku, kan?”

Julie menghela napas.

“Aku tidak merasa bersemangat hari ini, Jerry. Tidak bisakah kau meminta tolong pada anggota-anggota yang lain? Mungkin Timmy bisa melakuka—”

Julie terdiam membeku.

Richard.

Anak laki-laki itu berada beberapa puluh kaki di arah jam dua. Rasanya sudah lama sekali Julie tidak melihat wajahnya.

Richard sedang mengobrol dengan seorang gadis, Julie tidak mengenalnya. Richard menoleh seketika ketika menyadari keberadaan Julie, ia menatapnya dengan matanya yang biru.

Jantung Julie berdegup sangat kencang.

“Julie?”

Jerry melihat ke arah Richard, yang sudah membuang mukanya lebih dulu.

Richard kembali melanjutkan obrolannya dengan sang gadis, tak sedikit pun mempedulikan kehadiran Julie ataupun Jerry di sekitarnya. Ia sesekali tersenyum dan kemudian menyodorkan secarik kertas pada gadis itu. Gadis itu tampak sangat senang. Mereka saling berlambaian tangan saat berpisah.

“Wow,” kata Jerry.

Anak laki-laki itu berdecak kagum. Ia menoleh kembali ke arah Julie.

“Kau mau tahu gadis itu siapa? Luna Hartwright. Kelas dua belas. Teman sekelas Mitch.” Jerry menggeronyotkan senyumnya. “Ini sangat menarik, Julie. Jadi, segera setelah diputuskan oleh Cathy dan patah hati denganmu, Richard mencari calon pacar yang baru. Gadis yang lebih tua.”

Julie terdiam. Perasaan dingin dan beku menjalari setiap tulang-belulangnya, seolah-olah akan mencengkramnya dengan erat.

“Luar biasa. Kau tahu, Julie. Kejadian ini adalah berita yang paling menghebohkan di Nimber abad ini. Aku sangat senang menulisnya untuk berita di koran sekolah minggu depan,” kata Jerry. “Sangat banyak orang yang menunggu-nunggu mendengar detail dari berita itu. Termasuk aku. Aku hanya mengingatkanmu soal kemungkinan itu.”

Jerry mengangkat tangannya dengan bebas.

“Kecuali—kalau kau membantuku mengedit sore ini. Aku mungkin akan mempertimbangkannya lagi. Richard dan Cathy memang topik yang selalu menarik untuk dihidangkan, tapi jika kau setuju untuk bekerja sama, aku mungkin tidak akan menulis terlalu banyak tentangmu.”

Julie menatap Jerry dengan tidak percaya.

“Apa?”

Pernyataan Jerry barusan membuat Julie sadar akan fakta bahwa masyarakat sekolah Nimber sangat suka dengan berita-berita terbaru, bahkan gosip-gosip murahan sekalipun. Berita tentang hubungannya yang memburuk dengan Cathy, Cassandra, dan Richard tentu saja akan menjadi santapan yang sangat lezat untuk mereka. Ini benar-benar bukan sesuatu yang diharapkannya.

“Kau tidak akan menulis apa pun, Jerry,” kata Julie.

Jerry menggeleng santai.

“Aku seorang wartawan, Julie. Tugasku adalah meliput berita. Kau tidak bisa mencegahku melakukan itu,” jawab Jerry. “Kau juga seorang wartawan. Jangan lupa. Aku sudah bilang, kau harus mengutamakan logikamu di atas perasaanmu. Profesionalismemu untuk masa depan. Masalah hanya akan menunggu orang-orang yang membuang waktu dan masa muda mereka.”

Julie berhenti berjalan. Ia mendesah berat. Anak laki-laki ini memang selalu menjengkelkan. Ia tak tahu apa maunya Jerry, tapi jika perhatian yang penuh bisa membuat Jerry berhenti mengganggunya, Julie bersedia untuk menyediakan waktu menanggapinya dengan lebih serius.

“Jadi, apa maumu?” tanya Julie, menatap Jerry dengan sungguh-sungguh sambil melipat tangannya. “Kau sangat mengesalkan.”

Jerry mengangkat bahunya.

“Aku hanya ingin kau membantuku sore ini,” kata Jerry. “Sesederhana itu.”

Julie merengut. Bukan hanya karena ia benar-benar tidak mood melakukan apa pun hari ini, tapi juga ada hal lain yang membuatnya sangat malas. Di tengah-tengah permasalahan yang mengganggu pikirannya sekarang, hal terakhir yang diinginkannya adalah menghabiskan waktu dengan Jerry yang menjengkelkan. Kecuali jika ada alasan spesial yang bisa membuatnya berubah pikiran.

“Apakah kalau aku membantumu sore ini, masa depanku akan berubah?” kata Julie.

“Tentu.” Jerry tertawa.

“Apakah kalau aku membantumu sore ini, kau bisa membuat Cathy dan Richard berpacaran lagi? Dan teman-temanku akan kembali berbaikan lagi seperti semula?” tanya Julie.

“Tidak.”

“Apakah kalau aku membantumu sore ini, kau akan membatalkan rencanamu menulis tentang teman-temanku?” kata Julie.

“Ng—tidak.”

Julie menanggapi dengan cuek. “Kalau begitu, aku tidak akan datang.”

Gadis itu mungkin terdengar galak, namun ekspresi wajahnya menunjukkan hal sebaliknya. Ia berusaha sebaik mungkin menurunkan sebuah pandangan garang, namun gerakan tubuhnya yang kikuk itu tidak pernah meninggalkannya.

Jerry tergelak.

“Baiklah, kalau itu memang maumu,” kata Jerry. “Aku hanya bercanda, Julie. Sebenarnya aku hanya ingin memastikan keadaanmu hari ini. Tapi setelah kulihat-lihat, sepertinya kau memang baik-baik saja. Aku akan memberikan waktu untukmu beristirahat sampai akhir minggu ini, menyelesaikan urusanmu dengan teman-temanmu. Aku tunggu kehadiranmu hari Senin besok di ruangan kantorku, seperti biasa.”

Julie merengut lagi. “Aku tidak akan datang.”

Jerry tersenyum miring.

“Aku tahu.”

Jerry baru saja akan bersiap-siap meninggalkannya saat gadis itu mengalihkan perhatiannya ke tempat lain. Namun anak laki-laki itu tiba-tiba berubah pikiran, memutuskan untuk menanyakan satu pertanyaan terakhir sebelum ia pergi.

“Satu lagi,” kata Jerry. “Apakah kau menyukai Richard?”

Julie memicingkan matanya.

“Pergi.”

***

BACA SELANJUTNYA >>

19 – Perang Dingin

Comments 31 Standar

images (4)

Kejadian sore itu telah mengubah segalanya dalam hidup mereka. Cathy tak pernah lagi bisa dihubungi. Gadis itu tak pernah mengangkat teleponnya. Richard menghilang.

Kayla akhirnya menceritakan semuanya pada Julie, Jessie, Nick, dan Cassandra. Berita itu benar-benar mengejutkan, sampai-sampai tak seorang pun dari mereka yang bisa memberikan ekspresi yang lebih pantas. Bahkan Julie hampir tak berbicara apa-apa sepanjang sore itu.

Mereka berusaha menghubungi Cathy untuk menjernihkan masalah ini, tapi Cathy bahkan sengaja tak mengaktifkan ponselnya. Nick menyarankan untuk mereka langsung menghampiri rumah Cathy—yang benar-benar mereka lakukan—tapi Cathy tak ada di rumah. Mereka menunggu cukup lama di luar rumah sampai akhirnya mereka mengetahui bahwa Cathy sebenarnya sudah ada di rumah sejak mereka datang dan menolak untuk menerima mereka masuk ke dalam.

Hal itu membuat Julie dan teman-temannya merasa terpukul.

Mereka berlima pun akhirnya pulang dengan tangan hampa. Tak ada yang bisa mereka lakukan lagi selain memutuskan untuk membiarkan hari itu berlalu. Julie juga berharap semoga keesokan harinya mereka dapat menyelesaikan masalah itu di sekolah. Cathy akan bisa menjadi tenang kembali dan Richard juga dapat hadir untuk memberikan penyelesaian yang baik bagi hubungan mereka berdua.

Julie tak akan pernah menyangka kalau masalah ini tidak akan berakhir dengan indah seperti biasanya. Ini lebih pelik daripada yang ia bayangkan.

Keesokan harinya, gosip menyebar dengan sangat cepat. Apa pun yang terjadi kemarin sore telah membakar rasa ingin tahu semua orang, seperti minyak panas yang memercik di atas api. Orang-orang bergosip. Mereka membicarakan tentang Sang Pangeran. Mereka membicarakan tentang kemenangan Sang Tak Tertaklukkan. Mereka membicarakan tentang The Mesmerizer yang terluka. Kemarahan, rasa senang, ekspresi tidak percaya, kekaguman, kebencian, mewarnai setiap wajah di koridor-koridor dan ruang-ruang kelas di Nimberland pada setiap percakapan. Mereka tak semuanya memiliki pendapat yang sama. Tapi satu hal yang jelas terlihat.

Richard menyukai Julie. Mereka semua membenci kenyataan itu.

Dan siang ini Jessie, Kayla, dan Julie telah duduk di tempat mereka di kafetaria, menanti rekan-rekan mereka yang lain.

Siapa pun tahu, ada yang tidak biasa hari ini.

Suasana di kafetaria begitu tegang mencekam, seperti tidak pernah terjadi sebelumnya. Setiap pasang mata menatap tajam, menghujam mereka dengan kilatan-kilatan rasa penasaran dan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Semua orang telah mendengar apa yang telah terjadi. Dan mereka sangat ingin tahu apa yang akan terjadi setelah kejadian ini, kelanjutan dari drama pertemanan mereka, saat mereka melihat seorang gadis cantik yang memasuki pintu kafetaria. Dia yang telah ditunggu-tunggu.

Gadis itu telah datang.

Cathy.

Gadis itu melihat sekilas ke arah mereka, secepat kilat membuang pandangan dalam seringai kebencian. Tak berselang lama kemudian, empat orang gadis kelas sepuluh lain ikut menyusul di belakangnya.

Cathy tak menoleh ke teman-teman lamanya lagi.

Setelah menghabiskan waktu cukup lama untuk mencari tempat duduk yang sesuai, Cathy dan teman-teman barunya memilih sebuah meja yang letaknya sangat jauh dari tempat di mana Jessie, Kayla, dan Julie berada.

Cathy Pierre telah memutuskan untuk bergabung dengan geng lain.

“Apa-apaan dia?” omel Jessie terbelalak. “Pinky Winky! Kenapa dia duduk dengan mereka?”

Pemandangan ini cukup ganjil.

Pinky Winky adalah salah satu geng gadis kelas sepuluh yang cukup populer di Nimber. Geng ini hampir sama populernya dengan The Lady Witches, saingan mereka yang cukup berat di sekolah. Dari dulu, Cathy selalu berkata akan bergabung dengan geng ini jika seandainya saja tidak ada The Lady Witches di sekolah. Gadis itu selalu tampak serius dengan ekspresi super dramatisnya.

Dan mereka pikir gadis itu hanya bercanda.

“Dia benar-benar pergi,” kata Julie murung. Ia menatap Kayla dan Jessie dengan muram. “Ini semua salahku. Benar, kan?”

Kayla sebenarnya mencoba menghindari percakapan yang tidak perlu, berharap semoga Cathy akan kembali membaik siang itu sebelum mereka harus membicarakannya. Tapi keadaannya ternyata lebih buruk daripada yang ia harapkan.

“Tidak, Julie. Kupikir akulah penyebabnya,” kata Kayla akhirnya.

Kayla mendesah berat, menyiratkan sedikit nada sesal dalam perkataannya. Ia memang sudah merasakannya sejak kemarin. “Ini tidak akan terjadi kalau saja aku tidak memaksa Richard untuk berterusterang pada Cathy.”

Kayla menarik napasnya, berpikir panjang, berharap semoga ia tidak salah mengambil keputusan kemarin. Ia tidak bisa memungkiri bahwa terkadang ia pun meragukan keputusan dirinya sendiri. Meskipun begitu, ia berusaha untuk mempertimbangkan kejadian ini sekali lagi, dan ia tetap berakhir pada kesimpulan yang sama. Kejujuran memang pilihan yang menyakitkan, tapi ini adalah pilihan yang harus dilakukan.

“Tapi ini harus dilakukan,” sambung gadis itu tegas. “Aku tidak ingin anak laki-laki itu menyakiti siapa pun lebih lama lagi.”

Richard.

Julie menggigit bibirnya, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa tidur semalam, dengan alasan selain karena menonton film atau membaca novel. Ia memikirkan apa yang Richard ucapkan.

Julie menatap kosong di kejauhan. Richard belum datang.

Di manakah ia sekarang?

Julie tidak melihatnya lagi sejak kemarin. Anak laki-laki itu menghilang begitu saja, lenyap seperti ditelan angin, tidak pernah muncul lagi di hadapannya. Bahkan Richard tidak terlihat di koridor sekolah.

“Julie. Aku ingin kau mengatakan dengan jujur,” tanya Kayla suatu ketika. “Apa kau menyukai Richard?”

Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Julie.

“Tidak,” jawab Julie cepat.

Mereka kemarin sempat membahas hal itu. Jessie dan Nick sempat mengungkitnya sekali-sekali. Mereka ingin tahu apa yang Julie pikirkan tentang Richard. Tapi seperti biasa, gadis itu selalu mengalihkan topiknya. Ia tidak pernah mau menjawabnya.

“Kalian berdua suka membuat segalanya menjadi sulit, Julie. Kau dan Richard,” sergah Kayla frustasi. “Ini semua tidak akan terjadi seandainya kalian saling berterusterang satu sama lain.”

Julie menyengir masam. Ia tak mengerti kenapa ia tetap tak pernah bisa mengungkapkan hal itu. Ia memang menyukai Richard. Bahkan kejadian kemarin semakin menguatkannya.

Sebuah kenyataan yang tidak ingin ia rasakan.

“Kau harus jujur padaku, Julie,” kata Kayla. “Aku akan bertanya sekali lagi dan aku tidak akan bertanya lagi. Apakah kau menyukai Richard?”

“Tidak.” Julie mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya. “Aku tidak menyukainya.”

Kayla memicingkan mata.

“Baiklah. Kalau memang begitu,” kata Kayla, hampir kehabisan akal. Ia mencoba pendekatan lain. “Setidaknya katakan padaku, apa yang kau rasakan saat Richard mengakui rasa sukanya padamu?”

Julie membayangkan anak laki-laki itu lagi. Suaranya yang lembut itu telah membuatnya bersikap tidak normal dan kesulitan bernapas. Suara yang sama yang mengatakan rasa sukanya pada  Julie. Suara yang sama yang menanyakan perasaan Julie pada dirinya.

Apakah kau menyukaiku, Julie?

Ia tidak ingin menjawabnya.

“Entahlah. Aku tak ingin memikirkannya,” jawab Julie cepat. Ia mengalihkan pertanyaan itu dengan sebuah pertanyaan baru. “Ngomong-ngomong, di mana Nick?”

Jessie mengangkat pundaknya.

“Kurasa Nick sedang bersama dengan Richard sekarang,” kata Jessie. “Kemarin dia meminta izin padaku untuk menghabiskan waktu lebih banyak bersama Richard, karena—yeah—suasana hatinya sedang sangat kacau dan dia butuh seorang teman yang menemaninya.”

Gadis itu menengadah, menatap Julie lekat-lekat di balik kulit wajahnya yang berbintik-bintik dengan maksud usil.

“Dan itu semua karenamu, Julie. Sang. Penakluk. Pangeran.”

Julie meringis. Ia tahu Jessie hanya bercanda, tapi julukan itu benar-benar tidak terdengar menyenangkan hatinya. Ia tidak menanggapi godaan dari Jessie.

“Dan Lucy?”

“Lucy sudah meminta izin padaku,” kata Kayla. “Dia harus berada di perpustakaan karena mengerjakan paper-nya. Aku belum bercerita banyak padanya, tapi sepertinya Lucy sudah tahu dari rumor-rumor yang beredar tentang kejadian kemarin sore. Ia meminta maaf karena tidak bisa berada di sini bersama dengan kita, tapi aku sudah mengatakan padanya untuk tidak perlu khawatir.”

Julie mengangguk.

“Oh, ya,” tambah Jessie, baru saja mengingatnya. “Aku juga berpapasan dengan Cassandra tadi. Dia bilang dia ingin ke toilet sebentar. Aku tak tahu apa yang ia lakukan di toilet sampai selama ini.”

Mereka bertiga pun melanjutkan makan siang dengan kehampaan. Rasanya sangat sepi. Biasanya di jam-jam segini akan selalu ada salah seorang dari mereka yang akan menceritakan pengalaman-pengalaman yang lucu saat mengikuti pelajaran di kelas pertama—apalagi hari ini ada Kelas Prancis. Mereka akan menertawakan kelakuan Julie yang kikuk. Dan keramaian di meja makan mereka akan mengundang perhatian orang-orang di sekeliling karena mereka terlalu berisik.

Tapi kali ini, mereka bertiga hanya fokus saja pada makanan di atas piring mereka. Tanpa percakapan aneh. Tanpa akting drama Cathy. Tanpa kehebohan apa pun.

Rasanya ada sesuatu yang hilang.

Julie memandang Cathy dari kejauhan. Gadis itu benar-benar terasa jauh dari mereka. Cathy tak sedikit pun melihat ke arah mereka, ia tampak seperti orang yang benar-benar berbeda dari yang pernah mereka kenal. Ia sekarang sedang bertukar kursi dengan Sonia Edmund, sambil menertawakan sesuatu yang terlalu menggelitik perutnya. Entah apa yang mereka bicarakan.

“Ini terasa aneh,” kata Julie.

“Apa?” tanya Jessie.

Yeah, situasi ini. Kita bertiga di sini, dan Cathy di sana,” kata Julie. “Aku merasa seperti kehilangan sesuatu siang ini. The Lady Witches tanpa Cathy. Dan Cathy tanpa The Lady Witches. Ini rasanya bukan kita.”

Kayla mengangguk pelan.

“Kau benar,” kata Kayla. “Aku sudah mencoba menemui Cathy sejak tadi pagi, Julie, tapi gadis itu selalu menghindariku. Dia benar-benar menghindariku. Aku tidak bisa mendekatinya sama sekali. Dia tidak lagi mematikan ponselnya, tapi dia tidak pernah mau mengangkat telepon dariku atau membalas pesan. Dia menyingkir saat melihatku di sekitarnya. Dan sekarang, dengan keberadaannya di geng Pinky Winky, kurasa Cathy secara tidak langsung telah mengumumkan kalau ia ingin keluar dari kelompok kita.”

Julie menghela napas.

“Apa tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membujuknya?” tanya Julie.

“Entahlah,” kata Kayla. “Aku sedang memikirkannya, Julie. Kau tahu, gadis itu sangat mudah mengamuk jika kita melakukan hal-hal yang bodoh. Aku harus lebih berhati-hati lagi kali ini.”

Situasi seperti ini benar-benar bukan situasi yang Julie sukai. Selama ini ia tak pernah sedikit pun menyukai hal-hal yang mengundang permasalahan. Ia selalu dapat memilih untuk bersikap lebih santai dan cuek, biasanya ia tak memang pernah ambil pusing memikirkan hal-hal yang terjadi di sekelilingnya. Namun kali ini Julie harus mengakui, hari ini ia tidak dapat lagi merasakan ketenangan itu. Perselisihan dengan Cathy ini terus-menerus mengganggu pikirannya, meskipun ia berkali-kali mencoba untuk tidak mengabaikannya. Ia merasa tidak bisa lagi terlalu lama berdiam diri dan berharap semuanya akan berubah baik-baik saja.

Ia harus melakukan sesuatu.

“Kita bisa menghampirinya di meja itu sekarang, selagi Cathy masih ada di sana,” kata Julie, memberi gagasan. “Aku akan meminta maaf, atau melakukan apa pun yang ia mau, asal ia mau kembali dengan kita. Bagaimana menurutmu?”

Jessie melompat marah.

“TIDAK.” Jessie mendadak mengeluarkan kemarahannya, yang ternyata telah berusaha ia tahan sejak lama. Ia mengerutkan keningnya dan mengepalkan tinjunya, kentara sekali terlihat sangat jengkel.

“Dia akan menamparmu lagi, Bodoh! Dan sekarang dia akan melakukannya di depan teman-teman barunya! Kau bodoh!” kata Jessie. Ia menggeram kesal. “Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.”

Kening Jessie berkerut masam. Alisnya bertaut. Ia memandang garang pada Cathy yang tampak dari kejauhan.

“Kau tahu? Aku sangat kesal padanya tiap kali mengingat kejadian itu. Aku tidak pernah bisa terima perlakuannya padamu. Dia seperti orang lain, dia bukan sahabatku,” kata Jessie, meletup-letup. “Dan jangan sampai aku meninjunya karena mencoba memukulmu lagi.”

Julie bergidik. Jessie tak biasanya bersikap seperti ini.

“Kurasa Jessie benar, Julie. Ada baiknya kalau kita memberi Cathy waktu untuk menenangkan diri,” kata Kayla, memberikan pengertian. “Untuk saat ini kita biarkan saja dulu seperti itu. Nanti kalau ia sudah sedikit lebih tenang, aku akan mencoba untuk membujuknya lagi, Julie. Pada saatnya, ia akan kembali lagi pada kita nanti. Ia pasti akan memaafkanmu. Bersabarlah. Kita harus memberinya sedikit waktu untuk berpikir jernih.”

“Tidak, tidak, Kay. Kali ini aku tidak setuju,” kata Jessie, memotong cepat-cepat. “Memberi dia waktu? Sampai kapan? Kupikir selama ini kita sudah cukup berbaik hati padanya. Di tengah segala keegoisannya selama ini, sudah berapa kali kita memaafkannya, mengalah, dan akhirnya tingkahnya justru semakin menjadi-jadi?”

Kayla bergumam. “Jess—”

“Tahu tidak? Kupikir kalau dia memang tidak mau diajak bicara dan menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik, biarkan saja dia dengan geng Pinky Winky itu. Aku tidak peduli,” kata Jessie. “Sejujurnya aku sudah muak dengan sifat manjanya yang sudah sangat keterlaluan. Dan saat kemarin dia menamparmu, Julie, itu adalah batas kesabaranku. Aku bahkan tidak peduli kalau dia tidak menjadi teman kita lagi. Biarkan saja dia seperti itu! Suatu saat, orang-orang di Pinky Winky juga akan muak dengan kelakuannya, aku jamin. Maksudku—siapa yang selama ini tahan dengan sifatnya? Hanya kita, kan? Hanya kita.”

Jessie terus-menerus menggerutu. “Hanya kita yang sanggup meladeni dan bersabar menjadi sahabatnya. Dan apa yang dia lakukan? Dia meninggalkan kita hanya karena Richard menyukai Julie! Teman macam apa itu? KONYOL.”

Kayla mencoba menenangkan.

“Jess, tenanglah. Aku tahu saat ini kau sedang kesal dengan Cathy. Kita—sedang kesal dengannya. Aku juga sebenarnya kesal,” kata Kayla. “Tapi tidak berarti kita—”

“Tidak, tidak, Kay! Aku tidak mau mendengar nasehat bijakmu kali ini,” bantah Jessie cepat-cepat. “Coba renungkan baik-baik. Berapa kali kita berkorban perasaan untuknya, memikirkan kepentingannya, mengalah untuknya, dan dia selalu bersikap semena-mena terhadap kita? Kau harus akui, Kay. Kau harus akui ini. Kali ini memang sudah saatnya kita memberi dia pelajaran.”

Setelah percakapan itu, mereka bertiga kembali melanjutkan makan siang mereka dalam keheningan. Jessie terlihat cukup keras kepala dan bertahan dengan pendapatnya. Kayla lebih berhati-hati mengeluarkan kata-katanya. Sementara itu, Julie merasa cukup pusing karena ia sangat tidak ingin menambah masalah lagi. Mereka bertiga terdiam cukup lama.

“Kau tahu, Julie? Sejujurnya—” kata Jessie suatu ketika, memecah keheningan dengan nada panjang yang menarik perhatian, “—saat aku mendengar bahwa Richard menyukaimu, aku tidak percaya itu.”

Jessie lalu mengusap hidungnya yang tidak gatal, menandaskan keseriusan yang ingin diteruskan. “Nick beberapa kali sempat mencetuskan kemungkinan itu. Gosip-gosip juga sudah berspekulasi dari dulu, aku tak mempedulikannya. Tapi, semua keyakinanku berubah saat aku mendengar kalimat itu sendiri dari Richard. Aku tidak bisa memungkiri itu sekarang. Richard menyukaimu, Julie. Orang yang kami gila-gilai dari dulu ternyata memilih menyukaimu. Dan itu bukanlah hal yang mudah untuk diterima. Well, yeah, untuk sebagian orang.”

Jessie mengangkat bahunya.

“Aku tidak bisa bilang kalau aku tidak cemburu. Tapi tidak seperti Cathy, aku tidak marah padamu.”

Jessie sekarang merendahkan suaranya. Wajahnya lebih kaku. Ia berbicara sangat lambat, seolah-olah secara langsung ingin menggarisbawahi bahwa kali ini ia ingin ditanggapi dengan lebih serius.

“Julie, kalau ada yang ingin kau katakan—katakan saja. Kau tidak berpikir kami akan bereaksi histeris seperti gadis itu, kan? Kupikir kami berdua sudah cukup dewasa untuk mendengarkan dengan baik.”

Gadis itu kini tak terlihat seperti gadis jahil yang biasanya Julie kenal. Ia berubah menjadi gadis simpatik yang sama yang dulu sempat mengkhawatirkan Cathy, yang berusaha menganalisis situasi yang terjadi. Pancaran kepedulian yang hangat memancar dari sikap Jessie yang memperhatikan.

Julie terdiam sebentar, memikirkan kemungkinan itu. Ia menggeliat, mengendurkan otot-ototnya di atas kursi.

“Baiklah. Ini hanya perumpamaan. Kalau seandainya aku mengatakan pada kalian bahwa aku menyukai Richard—apakah,” kata Julie ragu-ragu. “Apakah kalian juga akan pergi meninggalkanku?”

Julie menghentikan pertanyaannya. Dengan perasaan was-was, ia mengamati reaksi dari teman-temannya, berharap tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaan itu di luar harapannya.

Jessie memang tidak menjawab. Ia terdiam selama beberapa detik, seperti memikirkan sesuatu dengan amat serius, lalu kemudian membuka mulutnya.

“Tentu. Aku akan meninggalkanmu dan segera bergabung dengan kelompok Pinky Winky, karena mereka adalah geng kelas sepuluh yang paling keren di Nimberland, dan aku akan membuat mereka semua jatuh cinta padaku, dan aku akan menjadi ketua di sana—”

Julie mengerut bingung. Kayla berdehem. “Jess.”

Jessie kini tertawa lebar, sama lebarnya seperti ikat rambut besar yang sekarang ia pakai di rambutnya. “—lalu aku akan memaksa Cathy untuk meminta maaf padamu.”

Ekspresi Jessie langsung berubah seratus delapan puluh derajat, kehilangan mimik bijaksana yang menghiasi wajahnya tadi.

Ia merangkul Julie dengan gegabah, mencubit pipinya sehingga Julie berteriak kesakitan. Julie berusaha membebaskan diri dari rangkulan yang mulai mencekik lehernya itu, Jessie malah mencium pipinya dengan bibirnya yang basah penuh dengan air liur, yang membuat Julie berteriak jijik.

“Aku tidak mungkin meninggalkanmu, Julie. Kau sahabatku yang paling baik,” kata Jessie dengan optimistik, mencoba mencium Julie sekali lagi. “Kau kembaranku.”

“Air liurmu bau,” gerutu Julie sambil mendorong muka Jessie. Ia mengelap pipinya walaupun sebenarnya di dalam hatinya ia sangat menikmati perhatian yang diberikan sahabatnya. Tapi tetap saja, ia tampak sangat jengkel.

Air liur Jessie benar-benar bau.

“Julie sayang.”

Kayla tersenyum, menatap Julie dengan mata hitamnya yang lembut. Kehangatan yang terpancar dari sorot mata yang sangat keibuan itu. Ekspresi lembut menggayuti wajahnya.

“Kalau Bumi terbelah dua dan langit akan runtuh sekalipun, aku akan tetap menjadi sahabatmu,” kata Kayla sambil memegang tangan Julie dengan hangat, memancarkan ketenangan. “Jangan pernah lupakan itu, Julie.”

Jessie memotong cepat.

“Kau yakin, Kay? Kalau Bumi terbelah dua dan langit akan runtuh, alien berwajah sapi dari Planet Mars akan menculik Julie dan mengadopsinya lalu mengoperasi plastik mukanya karena mukanya terlalu mirip sapi, sehingga—“ Jessie berteriak saat Julie menarik poninya dengan kasar. “—aak!”

Mereka berkelahi lagi seperti anak kecil.

Kali ini, Kayla tidak melerai pertengkaran mereka. Ia membiarkan kedua anak kecil itu saling berkelahi. Kayla tahu saat ini itulah yang dibutuhkan oleh Julie. Gadis itu mungkin tidak pernah mengungkapkan perasaannya, tapi Kayla tahu bahwa jauh di dalam hatinya, gadis itu sedang berusaha menahan kesedihan.

Julie dan Jessie telah berkelahi cukup lama sampai akhirnya mereka sendiri kelelahan. Jessie menyeruput sedotan terakhirnya, sementara itu Julie menghabiskan saladnya sambil memandang kejauhan, ke arah Cathy berada.

“Jika ada yang bisa kulakukan untuk memperbaiki hub—” kata Julie.

“Tidak!” potong Jessie cepat-cepat. Ia sudah bisa menebak apa yang akan Julie katakan. Ia terlihat dingin dan ketus. “Tidak. Tidak ada yang perlu kita lakukan. Sudah kubilang, TIDAK ADA.”

“Tapi—” Julie terbata-bata.

“Tidak.”

“Mungkin aku harus—” kata Julie.

“TIDAK.”

“Ayolah.”

Jessie bergemuruh gerah.

“Kalau ingin membahas soal Cathy lagi, Julie, aku tidak ingin berteman denganmu hari ini,” hardik Jessie. “Tidak hanya gadis manja itu, aku juga bisa marah dan merajuk. Dan aku akan terlihat sangat mengerikan saat aku melakukannya. Kau ingin melihat aku merajuk?”

Jessie berusaha keras menampilkan wajah datar terbaiknya.

“Ya,” goda Julie.

Sekarang Julie juga pura-pura memasang wajah datar tepat di depan muka Jessie. Kedua gadis itu saling berhadapan, sekuat tenaga menahan tawa. Jessie mencubit dirinya sendiri agar tidak terpedaya karena wajah tolol Julie yang mengaduk perutnya dengan hebat. Permainan mereka harus terhenti sejenak saat Kayla melihat Cassandra di pintu kafetaria.

“Itu dia Cassandra,” kata Kayla.

Jessie dan Julie menoleh kompak ke arah yang ditunjukkan Kayla. Dengan bersemangat, mereka akan melambaikan tangan untuk menyambut sahabat baik mereka yang telah ditunggu-tunggu itu. Tapi, keanehan terjadi karena Cassandra tidak berjalan ke arah mereka.

Sesuatu yang tidak mereka bayangkan. Cassandra kini memilih bergabung dengan meja Pinky Winky, bersama Cathy.

Mereka terkejut.

“Oh, kau pasti bercanda!” sontak Jessie. “Dia juga!?”

***

BACA SELANJUTNYA >>

18 – Bayangan

Comments 27 Standar

144914707

Richard merasa kalut. Pikirannya menerawang kemana-mana. Selama semalaman, ia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali.

Gadis itulah yang telah mengganggu pikirannya. Gadis yang pertama kali dilihatnya di pinggir jalan. Gadis itulah yang selalu menari-nari di pikirannya, hingga saat ini.

Dan gadis yang satu lagi. Gadis yang amat cantik. Gadis yang menjadi pujaan seluruh pria di sekolahnya.

Cathy.

Richard tidak bisa bilang bahwa ia tidak beruntung telah memiliki Cathy. Gadis itu secantik bidadari. Dari semua gadis yang pernah dilihatnya, ia rasa Cathylah yang paling cantik. Semua laki-laki menginginkannya. Semua.

Tapi bukan dirinya.

Gadis itulah yang paling ia inginkan.

Richard mengingat pertemuan pertamanya dengan gadis itu. Dalam perjalanannya menuju ke sekolah, ia melihat gadis itu dari kaca samping mobil ayahnya. Seorang gadis yang mengenakan seragam dari sekolah yang sama dengannya. Seorang gadis muda yang cukup menarik perhatiannya.

Gadis itu tampak begitu riang. Gadis itu tersenyum. Bukan tersenyum padanya. Gadis itu hanya tersenyum pada kucing jalanan berbulu hitam yang hampir saja membuat kakinya tersandung. Richard memandangi gadis itu sekali lagi dari kaca jendela belakang ketika mobilnya sudah bergerak semakin menjauh dari gadis itu, hingga akhirnya gadis itu menghilang di balik tikungan. Ia memang tidak bisa memandangnya lama, tapi hanya butuh waktu sepintas baginya untuk mengingat wajah itu.

Richard menemukan gadis itu lagi di ujung koridor sekolah. Gadis itu sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang anak laki-laki, yang secara bergantian menghampirinya dan menyita perhatiannya. Dan tak hanya mereka saja, masih ada beberapa orang lagi yang menunggu giliran untuk mengobrol dengan gadis itu. Semua orang membicarakannya. Mereka membicarakan kehidupannya di sekolahnya yang dulu. Mereka membicarakan tingkahnya yang konyol di kelas pertamanya. Semua menyukainya.

Selama di sekolah, Richard seringkali mencuri pandang ke arah gadis itu, setengah berharap bahwa gadis itu tidak akan melihat balik ke arahnya, meskipun pada kenyataannya gadis itu memang hampir tidak pernah melakukan itu. Mereka tidak pernah berkesempatan untuk berkenalan secara wajar. Takdir selalu membuat mereka berjauhan, entah kenapa. Mereka tidak pernah bisa bertemu. Richard juga tidak berani melakukan inisiatif pertama.

Ia terlalu pengecut.

Dalam suatu kebetulan yang disukainya, Richard akhirnya dapat bertemu dengan gadis itu lagi, seperti sebuah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan. Ia dapat menjadi dekat dengan gadis itu. Berinteraksi dengannya. Berkomunikasi dengannya. Richard menyukai saat gadis itu berbicara dengan suaranya yang lucu dan tawanya yang renyah. Richard menyukai gelagatnya yang unik dan selalu membuatnya penasaran. Richard menyukai saat ia dapat memandangi wajah gadis itu dari jarak dekat. Richard menikmati setiap pesona yang menyihirnya secara ganjil.

Tapi itu tidak dalam waktu yang lama. Gadis itu segera pergi lagi, meninggalkan dirinya yang dipenuhi oleh tanda tanya. Gadis itu membuatnya kecewa. Gadis itu tak memahami perasaannya.

Gadis itu menyakiti perasaannya.

Richard tak mengerti. Richard tak berani untuk mengutarakan. Richard tak berani untuk mendekat. Richard bahkan tak tahu bagaimana cara mendapatkan hati gadis itu. Richard hanya berpikir kalau gadis itu mungkin tak akan pernah menyukainya. Richard kemudian memilih untuk belajar mengubur perasaannya. Ia berharap semoga perasaan itu semakin redup bersamaan dengan berjalannya waktu. Tapi dugaan Richard sangat keliru.

Gadis itu sangat sulit untuk dilupakan.

Semakin Richard berusaha untuk melupakannya, semakin kuat keinginannya untuk mengingatnya kembali. Tingkah lakunya yang jenaka selalu berhasil membuat Richard mengenyahkan keinginan itu, melupakan itu jauh-jauh dari pikirannya. Jika gadis itu di dekatnya, rasanya segala kesedihan dan beban hidupnya telah terangkat. Keberadaannya membuat aura kehidupannya kembali bergelora. Gadis itu adalah magnet bagi keceriaannya. Tapi satu hal yang pasti—gadis itu tidak pernah tergapai.

Seluruh perasaan ini sangat menyiksanya. Selama berbulan-bulan Richard mencoba meyakinkan perasaannya sendiri. Menyiksa diri dengan impian-impian dan terlarut dalam angan-angan yang diciptakannya sendiri. Ingin sekali ia menenggelamkan dirinya di tengah lautan, membekukan hatinya, semata-mata hanya untuk menghilangkan perasaan itu dari dirinya.

Semua keinginan ini telah membuatnya melakukan kesalahan. Kehilangan logika yang menjadi kekuatannya. Melakukan sebuah kebodohan yang menyakiti dirinya sendiri. Melakukan kepura-puraan yang akhirnya menyakiti hati orang lain, gadis lain yang mencintainya. Dan sekarang, ia menyadari ternyata selama ini ia hanya memimpikan harapan semu. Harapan semu yang telah membuatnya kehilangan segalanya.

Sebuah kebodohan yang dimulai dari rasa takut untuk kehilangan.

Richard mengambil sehelai kertas dan ballpoint hitam milik ayahnya yang berada di laci. Richard sebenarnya tidak cukup tertarik pada sastra, tapi entah mengapa menurutnya saat ini lebih mudah untuk melarikan diri dari segala kepenatan ini dengan menyatakannya dalam sebuah puisi.

Sebuah puisi lagi—puisi kerinduan.

 

I wish I was in fairy tale

Lived myself in a happy ending story

Caught her fascinating smile

without feeling any guilty

 

Sekarang, semuanya telah berakhir.

 

BACA SELANJUTNYA >>