08. Perubahan (3)

Comments 14 Standar

lifestyle-clipart-of-a-woman-worker-being-scolded-for-dropping-papers-on-the-floor-by-ron-leishman-371

Seumur-umur, Julie tidak pernah berharap bahwa ia akan dipanggil menghadap ke ruangan M.Wandolf. Tidak sekalipun.

Dan seharusnya ia sudah tahu kalau akhirnya akan jadi seperti ini. Ia sendiri sudah mulai mempersiapkan diri sejak terakhir kali ia memutuskan untuk melakukan tindakan memalukan tersebut. Tapi—kalau dipikir-pikir lagi sekarang dengan isi kepala yang lebih rasional—tindakan yang diambilnya saat itu memang sangat tolol.

Sudah terlambat untuk menyesalinya. Hukuman membersihkan toilet sekolah sudah siap untuk menghantuinya lagi.

“Selamat sore, Mademoiselle,” sapa M.Wandolf.

Wajah laki-laki ini terlihat masam. Kepala setengah botaknya yang licin dan sisa rambut yang terurai panjang berantakan ke belakang itu membuatnya terlihat sangat kusut dan menyeramkan, apalagi ditambah dengan postur tubuh besar M.Wandolf yang bersembunyi di balik jas coklatnya yang tua dan lusuh. Meskipun demikian, M.Wandolf masih sempat menyunggingkan seiris senyuman tipis saat Julie datang. Senyuman tipis ini telah menggetarkan lutut Julie. Julie bahkan merasa bulu kakinya ikut gemetaran.

“Se—” lidah Julie terasa kelu. Ia menegak ludahnya. “Selamat sore, Monsieur.”

Julie bisa merasakan alien tengah merangkak di balik punggungnya yang mungil itu dan menembaknya dengan laser pengecil yang berwarna hijau keemasan. Sinar laser itu sekonyong-konyong mengubah seluruh bagian tubuhnya menjadi kurcaci. Tubuhnya pun semakin menciut—dan menciut—dan mungkin sekarang sudah seukuran kuman.

Julie—entah bagaimana caranya—melihat paramecium sedang bergelantungan di kedua tangannya.

“Silakan duduk,” ujar guru Prancis itu. “Ada yang mau kubicarakan denganmu.”

Dengan susah payah Julie menggapai kursi raksasa yang ada di hadapannya itu. Ia berusaha menggerakkan kaki-kaki semunya yang bergelayut dan berlendir, dan perlahan-lahan meletakkan inti selnya di atas kursi.

M.Wandolf membuka laci dari meja kerjanya yang dipenuhi dengan buku-buku literatur Prancis yang tersusun berantakan. Ia mengambil sehelai kertas yang terlihat sangat familiar di mata Julie, selembar kertas tugas dengan tiga bekas lipatan yang khas, yang diwarnai dengan tinta hitam bocor yang menghiasi setiap sisi kertasnya dengan cap jari yang tidak rapi, dan tulisan ayam terburu-buru yang sangat dikenalnya itu.

Julie menahan napasnya.

Tugas Esai Prancis.

“Aku sudah memeriksa tugas esaimu, Mademoiselle,” ujar M.Wandolf perlahan. Ia pun mengamati kertas itu sekali lagi, seolah-olah masih berharap akan menemukan kenyataan yang berbeda saat melihatnya untuk yang terakhir kali.

“Dan, kulihat ada beberapa kemiripan antara esaimu dengan esai yang dibuat oleh Nona Walter,” ungkapnya. “Kemiripannya, bisa dibilang—”

M.Wandolf menahan ucapannya. Suaranya terdengar pelan dan lemah, menyiratkan kekecewaan yang begitu mendalam. Meski tak mengharapkan ini, Julie tahu persis apa yang akan diucapkan M.Wandolf saat itu. Sebuah fakta yang memalukan, sehingga wajar saja jika M.Wandolf memperlihatkan raut wajahnya yang keras dan kaku, yang jarang dilihat Julie dari pria tua itu kapanpun seumur hidupnya, bagaikan seorang kepala sipir yang sedang mengintimidasi narapidana penjara bawah tanah.

“Persis di setiap kata.”

Julie merasa isi perutnya seakan keluar semua.

“Apa penjelasanmu tentang hal ini, Mademoiselle?”

Julie menggigit bibirnya.

Hanya dua kata—Kelas Prancis. Tak penjelasan yang lebih masuk akal lagi, sebagaimana tak ada hal yang mematikan kreativitas dan kecerdasan otaknya lebih buruk daripada hal yang sangat menurunkan kualitas otaknya seperti ini. IQ-nya yang jongkok pasti langsung tiarap tiap kali berurusan dengan segala hal yang berbau tentang kelas Prancis.

Julie tak mengerti, tapi baginya ini sama sekali bukan sebuah pilihan. Ini adalah ketentuan. Takdir. Dorongan tenaga alam semesta yang bergerak liar dan buas, yang tidak mampu dikendalikannya. Ia menyadari kalau dirinya memang bodoh—seperti yang sering diungkapkan oleh Jessie—tapi semua orang tahu, mencontek bukanlah jalan yang biasa dipilihnya. Apalagi menjiplak. Jika saja ini bukan kelas Prancis, ia pasti tidak akan pernah melakukannya.

“Aku—“ ucap Julie terbata-bata. Ia tahu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kali ini. “Aku minta maaf, Monsieur. Aku tidak punya penjelasan yang bagus kecuali  bahwa—”

Well,” gumam Julie. “Memang aku menjiplak tugas Jessie. Tanpa sepengetahuannya.”

Julie sangat berhati-hati saat mengucapkan kalimatnya ini. Ia berusaha untuk meminimalisir efek buruk yang mungkin akan terjadi saat M.Wandolf mendengar ucapannya. Namun demikian, ia tak bisa menghindari gurat kekecewaan yang terukir jelas di wajah laki-laki itu.

“Aku benar-benar kecewa padamu, Mademoiselle,” kata M.Wandolf. Ia menghela napasnya pelan saat melihat Julie menunduk sedari tadi. “Aku berharap kau bisa melakukan hal yang lebih baik daripada ini.”

Julie sebenarnya juga memiliki harapan yang sama. Sungguh ironis, seandainya saja M.Wandolf tahu bahwa sebenarnya kesalahan ini  justru berawal dari niat yang baik dari Julie untuk mengerjakan tugasnya sendiri.

Entah apa yang merasuki otaknya saat itu, minggu lalu Julie meminjam salinan tugas esai Prancis milik Jessie, yang kebetulan sudah diselesaikannya di sekolah, sebagai satu-satunya syarat dari Julie ketika ia berjanji pada Jessie untuk mengerjakan tugas Prancisnya sendiri kali ini, tanpa bantuan Jessie. Julie berkata bahwa ia mungkin akan membutuhkan setidaknya sedikit inspirasi dan referensi, dan ia merasa bantuan dari tugas esai Prancis Jessie akan sangat berguna. Jessie—tentu saja—girang luar biasa saat mendengar niat yang sangat suci ini.

Sayangnya, ketika Julie memulai perjuangannya di akhir pekan, ia hanya bisa mengisi lembar tulisan esainya dengan sebuah titik saja. Hanya titik, tidak lebih. Ia sudah berjuang selama lima jam lebih—menurut pengakuannya—sambil menonton rekaman video animasi si kucing gendut Garfield dan makan sandwich cinta buatan ibunya, namun tetap saja tidak ada satu patah kata pun yang berhasil dituliskannya.

Lagipula ia juga tidak tahu harus menulis apa.

Julie tak sempat mempraktekkan kepiawaiannya mengarang bebas—yang biasanya selalu berhasil ia praktekkan di pelajaran lain, misalnya saat ia mengarang soal kisah cinta jaring-jaring kromatid di pelajaran Biologi—tapi ia tak pernah bisa mengarang apapun dalam bahasa Prancis. Kreativitasnya langsung mengering dan hampa.

Tak bisa dipungkiri, hasilnya perjuangannya sepanjang hari itu pun tak lebih berupa sebuah tanda titik yang bahkan telah menguras seluruh kekuatan imajinasinya. Dan akhirnya, Julie pun memutuskan untuk menyerah. Ia mengobati depresinya hari itu dengan cara berkonsentrasi menonton seluruh serial Garfield sepanjang sisa akhir minggu itu.

Julie baru teringat kembali pada tugas esai Prancisnya pada keesokan harinya. Tepat pada saat ia baru bangun tidur dan pada saat di mana ia seharusnya sudah berangkat ke sekolah. Menyadari bahwa kelas Prancis adalah jam pertama di hari itu, Julie panik dan secara spontan mengisi kertas esainya secepat kilat dengan kata-kata yang diimpor langsung dari kertas esai Jessie, dalam waktu sepuluh menit yang darurat, atau ia akan terlambat datang ke sekolah lagi.

Niat-Mengerjakan-Tugas-Sendirinya pun gagal total.

“Aku pernah melakukan yang lebih buruk lagi, M.Wandolf,” kata Julie. “Aku ‘kan sudah pernah bilang, aku selalu gagal di kelas Prancis. Tidak hanya sekarang, tapi memang dari dulu, dan mungkin akan begitu terus untuk selamanya. Aku sudah berusaha untuk bisa memahaminya, tetapi semakin aku berusaha, aku semakin tidak mengerti.”

Julie tidak bohong. Ia memang sering sekali berusaha mencoba untuk mempelajari bahasa Prancis dengan sungguh-sungguh. Tapi kemudian matanya selalu berkunang-kunang dan kepalanya menjadi pusing. Apalagi kalau membayangkan ceracauan Prancis M.Wandolf setiap hari Senin dan Jumat. Otot perutnya langsung berkontraksi.

“Dan kurasa aku memang dilahirkan untuk tidak bisa berbahasa Prancis sedikit pun,” sambung Julie. “Ini sudah seperti, bakat alam, Anda tahu? Seperti halnya orang yang memang ditakdirkan tidak bisa menggambar, yang tidak akan bisa menggambar. Atau sebaliknya, ada juga orang yang tidak pernah belajar menggambar sama sekali, namun bisa menggambar dengan indah hanya hanya dengan sekali coba. Seorang jenius.”

Julie menatap M.Wandolf dengan bersungguh-sungguh.

“Kurasa, aku kebalikannya. Aku mungkin kontra-jenius, atau apapun namanya itu,” sambungnya lagi. “Dan itu memang kelemahanku, Monsieur. Mau dipaksakan seperti apa juga tetap tidak bisa. Kuharap kau bisa mengerti.”

Argumen yang cukup hebat, pikir Julie. Ia tak menyangka bisa mengeluarkan kata-kata sedashyat itu, karena biasanya ia cuma bisa melenguh seperti sapi. Ia hampir saja terpikir untuk menutup pidato itu dengan senyuman malaikatnya—yang tentu saja tidak nyambung sama sekali.

Untung saja tidak jadi.

Sementara itu, M.Wandolf justru terdiam. Ia hanya memandangi kertas esai itu selama beberapa saat, lalu menopangkan telapak tangan kirinya di atas dagu, seperti sedang berpikir. Julie sempat mengira kalau ucapannya tadi telah berhasil membuat hati M.Wandolf terpana dalam sehingga ia kehilangan kata-katanya. Ternyata perkiraannya itu salah.

“Aku sangat mengerti, Mademoiselle,” kata M.Wandolf kemudian. Ia menatap mata Julie lekat-lekat, seolah-olah itu adalah tatapannya yang terakhir. Ia memberikan intonasi yang luar biasa mendalam pada nada suaranya.

“Untuk itulah aku mengharapkan yang terbaik darimu.”

Pelan dan dalam.

“Dan aku akan lebih menghargai jika kau menuliskan karanganmu sendiri—seburuk apapun itu,” kata M.Wandolf lagi, dengan nada suara yang menggetarkan, “daripada kau menyalin pekerjaan temanmu.”

Julie menelan ludahnya.

M.Wandolf tidak mengucapkan kata-kata lebih banyak, namun Julie merasa luar biasa bersalah saat mendengarnya. Bulu kuduknya bergidik dan lututnya lemas luar biasa. Beliau sepertinya benar-benar berbakat jadi guru yang baik dan bijaksana—andai saja bukan guru kelas Prancis. Julie tidak bisa membayangkan nasihat yang lebih mengena lagi daripada kata-kata M.Wandolf barusan.

“Baiklah. Aku—,” ujar Julie perlahan. Ia menundukkan kepalanya lagi, berusaha merenungkan perbuatannya. Sekarang ia sangat menyesali tindakannya yang kekanak-kanakan itu. Ia menarik napas dalam-dalam.

“Aku minta maaf, Monsieur. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”

Julie tidak bisa berharap lebih banyak. Ia sekarang sudah siap menerima bentuk hukuman apapun yang akan diterimanya nanti. Bahkan jika akan berkaitan dengan WC sekalipun, ia benar-benar pasrah. Untungnya, entah mengapa, M.Wandolf  sekali lagi bermurah hati untuk memberikan kesempatan bagi Julie untuk memperbaiki kesalahannya.

Mungkin guru itu memang benar-benar baik.

“Kali ini kau kumaafkan, Mademoiselle. Tapi dengan satu syarat,” ujar M.Wandolf dengan lembut. Ia menggulung kertas esai milik Julie dan membuangnya ke tempat sampah.

“Aku ingin kau mengumpulkan lagi tugas itu di kelas hari Jumat besok. Dan aku hanya mau menerima tulisanmu sendiri. Tidak ada jiplakan lagi.”

Julie terhenyak. “H-aah?”

Tugas esai lagi??

M.Wandolf mengernyitkan wajahnya. “KEBERATAN?”

Julie berubah pikiran. Mungkin lebih baik ia menerima tawaran ini.

“Um. Tidak. Well,” Julie mendesah, berusaha mengumpulkan sisa-sisa semangatnya untuk menerima bentuk hukuman ini. Ia memang tidak punya pilihan lain. “Baiklah, Monsieur. Dua hari lagi akan kukumpulkan lagi tugasku yang baru.”

Julie melangkah keluar dari ruangan M.Wandolf dengan langkah loyo.

Ia tidak tahu bagaimana caranya mengerjakan tugas itu sekarang. Hukuman ini mungkin bisa terbilang ringan, tapi tidak demikian halnya bagi Julie. Satu tugas esai Prancis saja sudah membuatnya cukup menderita, apalagi kalau harus membuatnya sekali lagi. Sendirian. Kalau ia tidak meminta bantuan, bisa-bisa tugas esainya nanti berakhir dengan titik lagi. Ia harus menemukan seorang penyelamat.

Secepatnya.

Yang jelas, ia tidak mungkin bisa minta tolong pada The Lady Witches—apalagi Jessie—hal yang teramat sangat mustahil. Kalau sampai perbuatan menconteknya itu ketahuan, bisa-bisa dia dicincang sampai mati.

Julie lalu terpikir sebuah gagasan konyol yang sama sekali tidak pernah ia duga akan terlintas di pikirannya sebelumnya. Entah mengapa, tiba-tiba ia memikirkan orang itu. Orang yang tadi siang dengan senang hati menawarkan diri untuk menolongnya mengerjakan tugas wawancaranya. Ia berharap semoga orang itu mau menolongnya lagi kali ini.

Richard.

 

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

08. Perubahan (2)

Comments 18 Standar

Kejadian tadi siang membuat Julie dicap sebagai Tante Genit Perusak Mood Jam Makan Siang Para Gadis Cantik Jelita dengan Mitos Palsu Hubungan Cinta yang Sudah Pasti Bohong oleh gadis-gadis The Lady Witches.

Julukan terpanjang yang pernah dimilikinya. Seumur hidupnya.

Julie sendiri tidak mengerti apa yang salah dengan ide yang menggelikan itu—meskipun tentu saja ia pun tidak benar-benar serius—tetapi membayangkan lagi betapa paniknya gadis-gadis itu tadi ketika ia mengatakan kalau ia sangat mencintai Richard itu benar-benar sangat lucu.

Seperti membayangkan ayam yang kebakaran jenggot.

Itu saja sudah membuat perutnya sangat geli.

Secara umum, acara makan siang di kafetaria tadi cukup menyenangkan. Cathy mungkin sempat ngambek beberapa lama gara-gara Julie menggoda soal Richard tadi, tapi ketika Jessie mengumumkan bahwa ia akhirnya jadian dengan Nick, semua orang langsung bersuka cita. Mereka melupakan kalau tadi mereka hampir saja kehilangan nafsu makan gara-gara ulah Julie Light, dan akhirnya mereka lebih berfokus pada cerita jadiannya Jessica Walter dan Nicholas White.

Nick memang sudah lama tampak sangat menyukai Jessie, dan terlebih lagi kedua orang itu pun memang sudah terlihat sangat serasi gilanya—ya, menurut Julie dua-duanya sama-sama sakit jiwa. Berita bahagia tentang hubungan resmi di antara mereka berdua, tentu saja sudah menjadi berita yang sangat dinanti-nantikan oleh geng mereka.

Jessie berkata kalau ia nanti akan mulai sering mengajak Nick makan siang dengan mereka berenam. Dengan kehadiran Nick, segalanya tentu akan menjadi sangat berbeda. Sialnya, Julie mungkin harus bersiap-siap juga dengan serangan mental dari bulu hidung Nick yang berkibar-kibar itu. Julie tak habis pikir, mengapa hidupnya tidak bisa lebih mudah. Di saat Julie sudah tidak lagi bermasalah dengan kehadiran Richard sekarang, entah kenapa kali ini ia justru akan menghadapi tantangan batin jenis baru lagi, dengan hadirnya Nick Si Bulu Hidung Panjang—tidak hanya di kelas Musik saja, tapi bisa jadi hampir setiap jam makan siang di kafetaria.

Umh. Julie tidak sedang ingin memikirkannya sekarang.

Lucy pun membawa berita baik. Dengan prestasinya sebagai salah satu murid kelas 10 dengan nilai terbaik di Nimber, ia berhasil terpilih sebagai kandidat penerus Emma Huygen di kompetisi akademis antar sekolah. Dan dari sini akhirnya terkuak juga penyebab mengapa Emma Huygen tidak pernah mengganggu hubungan Cathy dan Jake. Emma ternyata benar-benar mendapatkan beasiswa ke luar negeri, dan baru akan kembali beberapa bulan ke depan. Dan pengikut-pengikut Emma yang dulu pernah ikut melabrak Cathy itu pun ternyata tidak ada apa-apanya dibanding ketika mereka berlindung di balik ketiak Emma. Mereka sekarang tidak pernah muncul lagi, bersikap normal seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

Cathy terlihat benar-benar senang mendengar berita ini.

Julie sendiri, turut bahagia saat mendengar kabar-kabar yang menggembirakan dari sahabat-sahabatnya itu. Tak ada yang lebih menyenangkan lagi baginya selain hidup yang penuh optimistik dan tanpa masalah, dan terlebih lagi ia sendiri pun akan menyambut kenaikan jabatannya di klub koran sekolah sebagai editor junior—jabatan yang dijanjikan oleh Jerry padanya beberapa hari yang lalu.

Hidupnya benar-benar terasa menyenangkan akhir-akhir ini.

Sayangnya, kesenangan Julie tidak berlangsung lama, karena Miranda Alonski—ketua kelas Prancis di kelas Julie—datang membawa kabar buruk yang akan mengubah kebahagiaannya hari itu menjadi berubah seratus delapan puluh derajat. Saat Julie baru saja keluar dari toilet perempuan dan sedang berjalan kembali menuju ke ruang kelasnya di akhir jam sekolah sore itu, Miranda memandangnya dari kejauhan dan mulai berjalan ke arahnya.

“Kau dipanggil M.Wandolf ke ruangannya,” kata Miranda.

Garis wajah Miranda yang keras dan tegas itu memang sangat khas, namun entah mengapa kali ini justru menambahkan kesan angker dari pesan yang dibawanya itu. Dan yang paling Julie takutkan, hal ini pasti menyangkut kesalahan yang telah ia lakukan di kelas Prancis beberapa waktu yang lalu. Julie merasakan firasat yang sangat buruk.

Julie menelan ludahnya.

“Sekarang.”

***

BACA SELANJUTNYA >>

08. Perubahan

Comments 24 Standar

12493228-cute-boy-and-girl-sketch-background-illustration-Stock-Vector-family-cartoon-boy

 

Suasana di sekolah menjadi terasa begitu berbeda sejak kejadian sore itu. Titik bercahaya dari kejauhan di koridor sekolah tak lagi terasa mengganggu bagi Julie, bahkan sekarang semuanya tak lagi menjadi masalah saat titik cahaya itu justru semakin mendekat dan akhirnya menjelma menjadi seorang anak laki-laki seputih pualam. Anak laki-laki itu pun tersenyum pada Julie, dan Julie membalas senyumannya. Suasana yang aneh dan ganjil itu telah berlalu. Entah mengapa, kali ini hatinya menjadi lebih tentram.

Betul juga. Dunia memang terasa begitu berbeda begitu kau mengubah sudut pandangmu, pikir Julie. Di luar dugaannya, ternyata Richard adalah laki-laki yang menyenangkan. Sama sekali jauh dari kesan angkuh yang selama ini selalu Julie imajinasikan dalam bayangannya tentang si Anak Laki-Laki dari Neraka.

Bahkan suasana di kafetaria pun terasa berbeda. Julie tak lagi merasa punya alasan untuk berepot-repot ria mencari tempat duduk yang paling “strategis”—ia bisa duduk di mana saja sekarang. Tanpa siksaan batin, tanpa tekanan mental.

Ia bahkan bisa begitu riangnya tersenyum ramah dan menyapa Richard ketika mereka berpapasan di kafetaria, bahkan tanpa ragu memilih untuk mengantri bersebelahan. Ini sudah yang kedua kalinya ia mengantri bersama dengan anak laki-laki itu. Tentunya dengan suasana yang jauh berbeda daripada pertemuan sebelumnya.

Julie tak malah mengerti mengapa dulu ia selalu merinding dan ketakutan setiap kali berdekatan dengan anak laki-laki itu. Firasat buruk yang horor dan menyeramkan itu telah beralih seratus delapan puluh derajat menjadi nuansa pertemanan yang menyenangkan. Sekarang rasanya sungguh menyenangkan jika bertemu dengan laki-laki itu lagi. Ia sangat ramah dan lucu.

Atau lebih tepatnya, lugu.

“Bagaimana hasil wawancaranya, Julie? Kapan mulai dipublikasikan?” tanya Richard saat mengambilkan Julie piring dari meja kafetaria. Ia terlihat antusias dengan perkembangan hasil wawancara kemarin sore itu.

“Belum kutulis. Belum sempat,” jawab Julie ringan. “Padahal deadline-nya tinggal dua hari lagi.”

Julie mengambil piring yang diberikan oleh Richard dan bersiap-siap mengincar makanan favoritnya dari etalase.

“Sebaiknya segera kau kerjakan begitu sempat,” saran Richard. “Semakin cepat diselesaikan, semakin baik. Jangan suka menunda pekerjaan.”

Nasihat itu terdengar familiar di telinga Julie. Ia pun menghela napas panjang.

Jangan suka menunda pekerjaan.

Nasihat itu nasihat yang sama seperti yang selalu dilontarkan oleh ibunya setiap kali Julie bermalas-malasan, yang biasanya malah membuatnya jadi semakin malas. Entah kenapa, meskipun Richard sekarang mengucapkan kalimat yang persis sama, tapi sensasi yang dirasakan Julie kali ini berbeda.

Do-re-mi.

Mungkin karena pita suara piano itu terasa begitu enak didengar. Halus dan berirama bagai simfoni. Ia merasa jadi lebih ingin patuh.

“Baiklah,” jawab Julie. Julie tertawa dalam hati, menertawakan kepatuhannya yang tidak beralasan pada perintah anak laki-laki yang baru diakrabinya ini.

“Kuharap, setelah tugas Sejarah Dunia ini aku bisa punya waktu untuk mengerjakannya. Itu pun kalau Mr. Rupert tidak menambahkan tugas Geometri lagi di kelas nanti siang,” ujar Julie.

Julie tersenyum nakal. “Atau,” kata Julie. “Kau mau menuliskannya untukku?”

Sebenarnya ia tidak benar-benar sibuk minggu ini. Tugas Sejarah Dunia yang ditugaskan Ms.Watson hanyalah membuat esai singkat tentang Renaissance. Setengah jam dikerjakan juga langsung selesai—Julie paling jago soal karang-mengarang ini—satu-satunya kemampuan yang bisa ia banggakan. Selain itu, Julie pun sebenarnya yakin kalau Mr. Rupert tidak akan memberikan mereka PR hari ini. Hal ini disebabkan karena akan ada kuis di kelas mereka setelah jam makan siang. Mr. Rupert tidak memberikan PR di hari yang sama saat ia mengadakan kuis.

Ia memang hanya ingin berkelakar.

“Boleh,” jawab Richard. “Besok sore kebetulan latihan catur diliburkan. Nanti bisa kubuatkan. Malamnya akan kukirim ke e-mailmu.”

Julie terperangah. Ia mengamati ekspresi Richard wajah yang begitu polos. Tidak ada tanda-tanda bahwa anak ini sedang bercanda.

“Serius?” tanya Julie. Ia mengambil satu sendok besar fettucini dan dua iris mini pizza dan meletakkannya ke piringnya. Ia melihat piring Richard yang masih kosong dan menawarkan fettucini yang ada di depannya.

“Kau mau?”

Richard menggeleng, “Tidak, aku mau mengambil sup yang di sana.” Ia menunjuk loyang makanan yang berada agak jauh di sebelah kiri. “Oh, ya. Tentu saja aku serius. Kalau kau mau, aku bisa membuatkannya.”

Richard memandang Julie dengan ragu-ragu.

“Apa kau keberatan?” tanya Richard lagi.

Tentu saja ia tidak merasa keberatan. Masalahnya justru dari letak kelogisan permintaannya tadi—yang tentu saja tidak logis. Mau tidak mau ia harus segera mengklarifikasi ucapannya, sebelum nantinya Richard menghampiri Jerry dan menyerahkan tulisan tentang dirinya sendiri.

Julie mencoba mencari alasan untuk membatalkan permintaan tololnya itu.  “Pasti,” tukas Julie. “Tulisanmu kan jelek, seperti tulisan kucing.”

Mereka berdua tertawa.

“Jangan khawatir. Aku akan menulisnya di komputer, Julie,” jawab Richard. “Seperti yang biasanya kulakukan. Aku tahu tulisanku memang jelek.”

Julie sekarang malah kebingungan.

“Dasar kau bodoh,” cela Julie. Ia masih sangat heran pada keluguan anak ini. Sepertinya Richard benar-benar mengira ia benar-benar minta tolong padanya. “Aku tadi cuma bercanda saja. Kan aku reportermu, masa kau yang menulis sendiri.”

Richard tersenyum.

Pada saat itu juga, Julie merasakan ada hawa panas yang meluap-meluap dari meja nomor 8. Beberapa pasang mata angker sedang yang melesat cepat ke arah mereka dan Julie tahu pasti apa yang sedang menunggunya di sana. Tapi Julie tak mau ambil pusing. Segera setelah mereka tiba di akhir antrian, Julie melepaskan senyumannya sekali lagi dan berpamitan dengan Richard.

“JULIEEEEEE!!!”

Tanpa perlu melihat pun, Julie sudah tahu teriakan itu teriakannya Jessie. Di dunia ini, cuma ada dua jenis suara yang paling cempreng yang pernah Julie kenal. Yang pertama, suara ibunya. Yang kedua—tentu saja—suara khas milik Jessica Walter.

“Kau ngobrol dengannya! GILA!”

Memang gila, pikir Julie. Tapi bukan kata “gila” dengan arti yang sama seperti yang didefinisikan oleh para The Lady Witches.

Walaupun memang tidak biasa, tetap saja baginya mengobrol dengan Richard bukanlah hal yang luar biasa menghebohkan. Rasanya sama saja seperti mengobrol dengan orang yang dulu kau pikir paling mengerikan di dunia ini, tapi ternyata ia cukup menyenangkan.

“Brengsek kau Julie,” ketus Cathy. “Kau bilang kau tak suka padanya, tapi kenapa kau malah curi-curi start?!”

“Ahh! Jangan-jangan kau sebenarnya suka juga sama Richard?? Hayoo mengaku..!” desak Cassandra.

“Jadi selama ini kau cuma pura-pura ya Julie?? Kau pura-pura tidak suka supaya tidak ada yang menyangka kau akan mendekati Richard. Curaang..!”

Meja mereka tiba-tiba riuh dengan suara-suara yang menuduh.

Julie menutup kupingnya dan bernyanyi-nyanyi sendiri. “La-la-la-la-la-la.”

Ia mencoba mengacuhkan perdebatan yang terjadi di depannya dengan meniru gaya Cathy Pierre yang selalu bersenandung tiap kali dinasehati oleh teman-temannya. Ternyata lumayan efektif.

“Sudah selesai?”

Julie mendongak dengan ekspresi yang menyebalkan. Jessie mulai menarik rambut Julie dengan beringas, yang membuat kedua saudara kembar ini pun berkelahi lagi. Julie balas menarik kuncir rambut Jessie, dan Jessie balas menarik rambutnya lagi, sehingga mereka saling tarik-menarik rambut, seperti dua anak kecil yang bodoh.

“Jadi, apa jawabanmu? Kau suka padanya?” tanya Kayla.

Julie menghentikan perhelatannya dengan Jessie dan mulai mencerna apa yang sedang dipermasalahkan oleh gadis-gadis ini. Konyol sekali, pikir Julie.

“Tidak.”

Di saat itu juga Julie mulai merasa tingkat kecerdasannya naik beberapa kali lipat. Para gadis ini memang konyol. Mereka sibuk meributkan hal-hal yang tidak penting. Hidup mereka akan lebih bermanfaat kalau saja waktu jam makan siang mereka habiskan dengan membicarakan efek pemanasan global.

Gadis-gadis itu mengamati dengan seksama perubahan ekspresi Julie. Selama beberapa saat, mereka mengharapkan ada tanda-tanda yang mencurigakan dari perubahan ekspresinya yang tampak seolah-olah tak merasa bersalah. Beberapa detik kemudian, suasana pun berubah menjadi riuh kembali.

“Bohoooong!!”

Julie benar-benar tidak mengerti apa maunya gadis-gadis ini.

“Dengar ya, gals,” tukas Julie. “Aku tidak punya perasaan apapun pada Richard, ok? Kalian tahu kan, aku ini reporter koran sekolah. Beberapa hari yang lalu Jerry menyuruhku untuk meliput laki-laki itu seputar kemenangannya di pertandingan catur tingkat kota minggu lalu. Makanya kemarin aku pergi mewawancarainya dan hari ini mengobrol dengannya.”

Sambil menikmati wajah melongo para gadis The Lady Witches yang menggelikan, Julie menghabiskan keju pizzanya yang masih tersisa di piring.

“Puas?”

Secara ajaib, setelah Julie mengucapkan kalimatnya yang terakhir itu, suasana di meja itu berubah menjadi sunyi. Siapa pun akan heran melihat para gadis The Lady Witches yang ramai tiba-tiba berubah menjadi kalem, seolah ada mukjizat dari Tuhan yang akhirnya berhasil menyembuhkan sel-sel syaraf otak mereka.

Tapi Julie tahu pasti ini cuma fatamorgana. Ia bersiap-siap menutup kupingnya untuk menghadapi serangan supersonik yang akan meluncur beberapa saat lagi.

“APAA!??”

“Kau pergi menemuinya????”

“Kau dan DIA.. BERDUA???”

“JULIEEE!!!!!!! KAU CURAAAAAANG!!!!!!!!!!”

Tepat seperti dugaan. Kegaduhan dimulai lagi, dan lagi-lagi Julie selalu menjadi tersangkanya, untuk topik yang selalu sama. Seperti biasa, Cathy selalu terdengar paling histeris, tapi yang lain pun tidak kalah histerisnya. Percuma saja mendebat mereka, satu lawan lima, perlawanan tanpa arti. Daripada meladeni mereka, Julie lebih memilih menyeruput habis es sodanya dengan santai.

Julie terkadang suka berkhayal, apa sebaiknya ia bersekutu saja dengan gadis-gadis gila ini? Selama ia masih berada di pihak yang kontra, aktivitas apapun yang ia lakukan yang berhubungan dengan Richard pasti akan membuahkan kehebohan—selalu. Ia bisa saja pura-pura ikut memuja Richard Soulwind—Sang Pangeran Tampan Bercahaya itu, kalau memang diperlukan. Atau setidaknya, ia bisa menghilangkan sikapnya yang terlalu skeptis. Minimal, Julie akan mengakui kalau Richard memang tampan.

Ya, lelaki itu memang sangat tampan. Sangat.

Lalu bagaimana dengan reputasinya yang terkenal, The Unbeatable? Jika Julie bersekutu dengan para The Lady Witches untuk mendukung Richard, ini sama artinya dengan ia mengakui bahwa ia bertekuk lutut karena ketampanan laki-laki itu. Dan ini sama saja artinya dengan merendahkan martabatnya sendiri, yang sudah dibangunnya susah payah selama ini.

Hanya ada satu cara untuk menyelesaikan ini semua.

“Baiklah,” kata Julie. “Aku mencintai Richard.”

“APA!?”

Ucapan Julie disambut dengan luar biasa heboh. Para gadis menjadi jauh lebih ramai daripada sebelumnya. Julie merasa seperti ada lima klakson mobil sedang berbunyi tepat di depan telinga, sampai-sampai telinganya memerah.

“KAU APA??” tanya Cathy dengan berapi-api.

Julie menyeringai.

“Ya, aku mencintainya, Cath,” jawab Julie dengan romantis. “Aku ingin memeluk tubuh Richard, merasakan detak jantungnya..”

Julie merasakan ada hawa-hawa aneh yang menyengat, yang datang dari setiap ujung meja. Suara-suara The Lady Witches yang lain tetap berisik seperti pasar, tapi ia sengaja mengeluarkan suara yang lebih keras lagi.

“Aku ingin menyentuhkan pipiku di pipinya, mencium bibirnya yang lembut..”

“Sial kau, Julie!” teriak yang lain. “Aku juga mau!”

Julie tak mempedulikan ucapan gadis-gadis itu.

“.. mencium lehernya, menghirup aroma tubuhnya yang wangi. Aku ingin melumat bibirnya yang manis, seperti gulali..,”

Para gadis itu terlihat ganas, seperti hendak menerkamnya, tapi Julie sendiri sedang asyik menikmati permainan ini.

“..menyentuh rambutnya, menyisirnya dengan jari-jemariku.. Membelainya..,” Julie memperagakan sentuhan itu dengan penghayatan tinggi.

“Hentikan itu, Julie! Hentikan!”

Para gadis tampaknya semakin panas. Terutama Cathy. Ia tidak bisa menyembunyikan hidungnya yang kembang-kempis.

“.. menatap matanya yang indah.. Menyentuh kulitnya yang halus.. Berbisik di telinganya..,”

“JULIE!!”

Julie semakin menjadi-jadi.

“… menikah dengannya.. Melahirkan anak-anaknya.. Membesarkan anak-anaknya.. Mendampingi anak-anaknya dalam altar pernikahan.. Menghabiskan waktu dengannya, bersama dengan cucu-cucu kami..,”

“JULIEEEEEEEEEE!!”

Cathy yang berinisiatif lebih dulu, menerkam Julie, dan mengacak-acak rambutnya. Cassandra menyusul dengan menahan tangan kanannya, sementara Lucy menahan tangan kirinya. Julie berusaha berteriak dan meronta-ronta, tapi Jessie segera membekap mulutnya, lalu Kayla langsung menggelitik gadis itu habis-habisan.

“TOL—Umphh!”

Julie menggeliat seperti cacing kepanasan.

***

BACA SELANJUTNYA >>