[PEMESANAN] Novel Eternal Flame – Naya Corath

Leave a comment Standar

Halo semua! 😀

Pre-order untuk novel terbaruku sudah dibuka, ya. Pre-order sudah dibuka sejak seminggu yang lalu sampai tanggal 26 November 2015 (HARI INI TERAKHIR), kalian bisa memesan novel ini dengan harga diskon 10% dari harga toko buku.

Harga pre-order: Rp49.000 (excl. ongkos kirim)
Harga normal di toko buku: Rp54.800

Keuntungan lain PRE-ORDER:

  1. Buku dikirim ke alamat rumah, gak perlu keluar2 tenaga kalo kalian mager ke toko buku.
  2. Konsultasi langsung denganku, kalau mau sharing-sharing tentang proses di balik pembuatan buku sampai bisa diterbitkan (boleh ngobrol via PM)
  3. Boleh spesial request mau minta ditulisin sesuatu, atau digambarin sesuatu di buku 😀
  4. Tanda tangan penulis 😀
    Boleh request merchandise yang lainnya, hehe kalo kalian pinter ngerayu aku. Kadang-kadang suka kuselipin bonus kejutan. 😛
  5. Novel ETERNAL FLAME ini adalah novel kolaborasi 5 penulis Elex Media: Kristina Yovita, Dheean Rheaan, Nurisya Febrianti, dan Susi Lestari. Novel ini diterbitkan oleh penerbit Elex Media dan akan tersedia di seluruh toko buku di Gramedia, mulai tanggal 30 NOVEMBER 2015. (akhir bulan ini)

Novel ETERNAL FLAME menjadi pemenang outline novel terbaik pada acara “Berbagi Cerita Lewat Kata” yang diadakan oleh Elex Media pada Februari 2015 yang lalu. Ditulis bersama-sama dengan plot yang sama (bukan kumcer, tapi satu novel), berisi kisah perjalanan dan perjuangan cinta keenam insan muda yang dipertemukan oleh sebuah benang merah yang sama. Gaya menulisku juga cukup beda dibandingkan yang biasanya kutulis di Friday’s Spot. Di sini, aku menulis dengan style yang lebih romantis. Gimana isinya? Gimana jadinya hasil kolaborasi 5 kepala dengan gaya menulis yang saling berbeda ini? 😀

Eternal Flame fix

Sedikit Behind The Scene tentang pembuatan novel ini pernah kutulis di blogku:

https://nayacorath.com/…/behind-the-scene-novel-eternal-fla…/

Ke depannya, aku akan lebih banyak lagi sharing pada kalian, apa saja proses yang kulalui bersama dengan keempat teman-teman penulis yang lain saat mengerjakan novel ini. Mulai dari proses mengenal editor, brainstorming ide, kolaborasi yang penuh warna karena kelima penulis ini tinggal di lima kota yang berbeda, sampai akhirnya menjadi sebuah buku yang bisa dibaca oleh banyak orang.

Tapi sebelum itu, silakan pre-order novel ini yaa supaya kalian nanti bisa mengerti apa yang kuceritakan tentang kisah di balik penulisan buku ini dan proses penerbitan hingga di toko buku. Tenang aja.. Aku orangnya gak pelit ilmu kok.. Hehehe..

Yang mau pesan, boleh komen langsung, atau hubungi aku melalui e-mail nayacorath@gmail.com. Oh ya, penawaran pre-order ini hanya dibuka sampai tanggal 26 November 2015. ( HARI INI TERAKHIR ) Setelah tanggal 26 November, penawaran ini aku tutup.

Terima kasih… ^_^

‪#‎EternalFlame ‬‪#‎OpenPO‬‪ #‎Launching30November‬‪ #‎ClosePO26November‬‪ #‎Novel ‬‪#‎Elex‬

 

PS: Jika kalian terlambat baca pesan ini (lewat dari masa pre-order), coba hubungi aku langsung ya. Biasanya aku suka punya stok berlebih.

[BLOGTOUR] Buku “19 Jurus Mabuk Penulis Sukstres” + GIVEAWAY (Hadiah Buku Gratis untuk Kalian)

Comments 33 Standar

Hai semua.

Jangan lupa, ikuti kuis yang kuadakan di sini, cukup dengan balas comment dan jawab pertanyaan saja.

Kalian bisa dapat buku ini GRATIS. Ya GRATIS! (BATAS WAKTU SAMPAI: 3 NOVEMBER)

Aku suka yang gratis-gratis!

Ini pertama kalinya aku mengikuti sebuah BLOGTOUR, so don’t be too hard on me yah..?. Ulasanku mungkin tidak akan terlalu bagus, juga tidak sejago teman-teman lain yang sudah sering mengadakan BLOGTOUR di blog mereka, but I’m doing my best. Hal yang tidak bisa kucegah adalah kecenderunganku untuk menulis sesuatu dengan gaya seekspresif mungkin, tapi akan kucoba untuk mengurangi intensitas kelebayannya.

*insya Allah yah..* *nutup muka* xD

11254312_10153306539732872_2035989503207588699_n

Keinginanku yang terbesar sejak membuat blog ini adalah berbagi dengan banyak orang, dan itulah yang akan kulakukan sekarang. Apapun yang akan kubahas, aku ingin memberikan manfaat sebanyak mungkin untuk kalian semua. Dan tentu saja, ini ulasan jujur! 😀

So, let us begin!

 

KESAN PERTAMA

Judul                          : 19 Jurus Mabuk Penulis Sukstres
Penulis                       : Mayoko Aiko, Ceko Spy, dkk.
Editor                         : Monica Anggen dan Eva Sri Rahayu
Penerbit                     : Universal Nikko
Tahun Terbit             : Cetakan I, Agustus 2015
Jumlah Halaman      : 285
ISBN                           :  978-602-9458-21-3

Saat launching buku ini diumumkan di internet, ya ampun.. aku suka banget sama covernya! SUKA B.A.N.G.E.T. Kalau aku ada di lautan buku baru dan disuruh beli salah satu, aku pasti akan langsung tunjuk, “INI! INI! Buku ini harus ada di koleksiku!! Nggak peduli gimana caranya!!”

12165894_10153306539517872_1786737221_n

Ya. Kalau ditanya apa hal yang paling kusuka dari buku ini, jawabannya adalah COVERNYA! Bahkan sejujurnya aku nggak pasang ekspektasi apa-apa terhadap isi buku ini (bagus atau jelek kualitas isinya tidak berpengaruh apa-apa terhadapku)….. yang aku inginkan hanyalah ingin punya buku ini.

Kenapa?

Entah kenapa… Aneh memang. Gambar di cover buku ini begitu menyugesti otakku, seolah-olah aku akan siap bertempur jadi PENULIS MABUK YANG SUPER COOL DAN KEREN ABIS, dan judul bukunya pun tidak kalah menyihir MOOD SIAPAPUN menjadi super bersemangat.

Dan setelah buku itu sampai di tanganku, ternyata benar, kan..? Haha. Perwujudan buku ini saja sudah bikin aku sangat semangat! Ini rasanya seperti mimpi jadi kenyataan!

20151028_083130 (Copy)

Sampai sekarang, kapan pun aku merasa ingin menaikkan mood menulisku (yang selalu empot-empotan itu haha), aku langsung ambil buku ini dari rak dan mengagumi keindahan cover bukunya. Aku akan memperkosa gambarnya yang begitu menggugah itu dengan mata kepalaku sendiri, dan menyentuh permukaan covernya yang sempurna dengan jari-jemariku. Tak lama kemudian, aku akan memainkan lembaran-lembaran halaman bukunya untuk menghirup aroma buku itu, yang membuatku mabuk kepayang.

Aaahh. Seperti di surga.

 

KESAN SETELAH BACA

Berangkat dari zero expetation (berhubung yang bikin aku tergila-gila adalah cover dan judul bukunya), aku cukup puas dengan isi buku ini.

Maksudku, dengan 19 penulis yang memiliki latar belakang berbeda (dan kualitas tulisan berbeda), kita tidak mungkin berharap selera menulis yang sama kan? Kalau aku ingat lagi, sensasi membaca buku ini rasanya sama seperti sensasi saat menggali tanah di sebuah pulau terpencil bekas peninggalan kaum perompak. Deg-degan. Sabar. Penasaran. Antusias. Kecewa. Puas. Penasaran lagi. Kecewa lagi. Senang lagi. Puas. Penasaran. Sabar. Begitu terus berulang-ulang.

Kadang-kadang, aku tidak mendapat apa-apa yang kusukai, hanya rasa lelah setelah membaca.. Tapi hei, justru ketika aku tidak menduga-duganya, J.A.C.K.P.O.T. Sekopku menabrak sebuah peti emas berisi harta karun yang nilainya luar biasa.

Aku kebetulan seorang penulis yang menyukai gaya komedi. Ulasan Ceko Spy tentang “Jurus Rahasia Menulis Komedi” benar-benar helpful untukku. Aku suka gaya menulisnya yang kocak dan penjelasan yang to the point.

Penasaran?

Ini aku kasih bocorannya.

BAGAIMANA CARA MENGAKTIFKAN OTAK SARAP: (di buku isinya lebih detail dan dilengkapi banyak contoh)

  1. JURUS 1 – Kata-kata lucu
    Yang jago bikin pantun pasti terbiasa bikin kata-kata yang bermain dengan rima dan irama. Tapi ingat, yang bikin lucu bukan hanya rimanya, melainkan rangkaian kata atau kalimatnya!
    Contoh:
    Norma adalah seorang sekretaris narsis, lumayan manis, tapi kadang sinis, mungkin cita-citanya emang pengin jadi penulis, tapi malah jadi penulis.
    Meski tak wajib, tapi bagi saya main plesetan hukumnya sunat muakad.
    Contoh:
    “Sedia payung sebelum hujan” jadi “Sedia dayung sebelum banjir”; atau “Ringan sama dijinjing berat sama dipikul” jadi “Ringan sama dijinjing berat sama difficult!”
    Singkat-singkatan mungkin humor tingkat dasar. Tapi cukup ampuh untuk membuat pembaca tersenyum atau tertawa.
    Contoh:
    CURANMOR = Lucu romantis humoris
    PENJAHAT = Penulis pujaan hati
  2. JURUS 2 – Tokoh lucu
    Saya mengklasifikasi ada tiga kategori tokoh yang sering dipakai dalam cerita-cerita komedi.
    Buatlah:
    – Tokoh usil (misalnya seperti Lupus)
    – Tokoh polos (misalnya seperti Spongebob)
    – Tokoh lebay (misalnya seperti Jim Carrey)
  3. JURUS 3 – Cerita lucu
    Ada pembahasan tentang contoh ending yang mengejutkan…
    Ada pembahasan tentang contoh permainan kata atau kalimat jenius…
    Ada pembahasan tentang contoh konflik yang unik…
    Ada pembahasan tentang contoh perilaku absurd/abnormal…

Contoh tulisan lain yang kusukai adalah tulisan milik Pilo Poly yang membahas tentang “Jurus Memilih Tulisan.” Benar-benar to the point dan praktis langsung tepat sasaran. Tips seperti ini sering ditanyakan di kalangan teman-teman sesama penulis.

Berikut ini cuplikan tulisannya (baru cuplikan doang lho..).

JURUS MEMILIH JUDUL TULISAN: (di buku isinya lebih detail dan dilengkapi banyak contoh)

  1. Pilih judul yang punya unsur provokatif.
    Contoh:
    Negeri Para Bedebah
    Harimau! Harimau!
  2. Judul yang menimbulkan tanda tanya besar ketika kita lihat di rak buku.
    Contoh:
    Jangan Main-main dengan Kelaminmu
    Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur
    Kaya Tanpa Bekerja
  3. Judul buku sensasional, yang membuat kita ingin memilikinya, terlepas seperti apa bukunya.
    Contoh:
    Supernova
    Surat Kecil untuk Tuhan
    Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur
  4. Judul yang memiliki nilai-nilai tersembunyi.
    Contoh:
    Jakarta Undercover
    Libri di Luca
    Orang-orang Proyek
  5. Judul pemberi solusi.
    Contoh:
    Bagaimana Memikat Gadis dan Berkencan Efektif
    Resep Cespeng Berwirausaha
    Agar Menjual Bisa Gampang

Tidak hanya dua tulisan itu saja kok.. Dari 19 penulis buku “19 Jurus Mabuk Penulis Sukstres” ini, banyak juga tulisan lain yang menarik perhatianku. Dan tips-tips lain yang lumayan bermanfaat on the spot, meskipun gaya tulisannya sulit kucerna (karena beda selera tulisan).

Tentu saja.. nggak bakal kutulis semuanya di sini dong, karena kalo kutulis semua nanti isi blognya kepanjangaaan kayak kereta api…….. Beli dan baca sendiri yah hehehe…

*atau kalau kalian mau yang gratis, langsung comment di blogku sesuai petunjuk di bagian paling bawah, supaya kalian bisa menang kuis GIVEAWAY*

 

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

Hal yang paling kusukai dari buku ini adalah cover. Sudah tahu kan? Hehe. Di samping itu, layout isi dalam buku yang dirancang sangat full ilustrasi latar bisa menjadi pisau bermata dua. Ketika dilakukan dengan baik, sangat menggugah minat baca. Ketika terlalu berlebihan dan gagal mempertimbangkan kontras dengan font tulisan, bisa membuat mata lelah dan malas membaca. Kondisi seperti ini tersebar merata di sepanjang halaman.

Aku sangat suka layout yang seperti ini. Sangat suka.

20151028_083223 (Copy)

On contrary, ada juga halaman-halaman yang gambar latarnya terlalu berlebihan, tabrakan dengan tulisan, sehingga membuatku jadi pengen cepat-cepat skip halaman ini. Terlalu ramai, pusing bacanya.

20151028_083723 (Copy)

Kualitas tinta percetakannya juga tidak terlalu bold. Maksudnya, kurang mantep. Selain itu, hal yang menegangkan dari membuat konsep latar penuh gambar yang dicetak di atas tinta hitam putih adalah… ide awal desain ilustrasi kita bisa jadi sangat outstanding di layar komputer ilustrator, tapi ketika dicetak jadi hitam-putih… jadinya gambarnya hitam semua. Alhasil jadi kelihatan tidak rapi sama sekali.

Ini foto siapa?? Mukanya mana..? 😥

20151028_084047 (Copy)

Berbicara tentang tulisan mana yang kusuka dan tidak kusuka, sebenarnya ini hanya masalah selera dan kebutuhan kita sebagai penulis. Buku “19 Jurus Mabuk Penulis Sukstres” adalah buku yang ditulis dengan tujuan untuk meng-cover semua kebutuhan penulis-penulis dari berbagai genre dan tingkat keahlian. Dengan kata lain, unsur heterogenitas adalah KELEBIHAN sekaligus KEKURANGAN buku ini.

Kelebihannya, kalian pasti akan menemukan minimal satu harta karun tips menulis yang berharga yang belum pernah kalian dengar sebelumnya. Dan tentunya, yang sesuai dengan minat genre tulisan kalian. Minimal SATU. Tapi kurasa pasti kalian akan ketemu banyak. Soalnya, banyak banget ilmu baru dari beragam genre yang berseliweran di sini. Kadang-kadang, yang kita pikir gak ada hubungannya dengan genre kita, ternyata bisa jadi sangat bermanfaat dan menambah skill menulis kita. Apalagi buku ini juga penuh dengan contoh-contoh yang memudahkan.

Kekurangannya, karena saking bervariasinya, tidak semua tulisan sesuai dengan kebutuhan kita. Dan bisa jadi level informasinya berbeda dengan level pengetahuan yang sudah kita miliki. Misalnya, “Jurus Menulis Novel Romance” milik Ari Keling mungkin akan sangat berguna untuk teman-teman yang baru memulai pengetahuan mereka tentang dunia tulis-menulis, tapi untukku pribadi, ulasannya tentang definisi tokoh, setting, dialog, plot, perasaan, judul, pilihan kata-kata, ide cerita, dan ending cerita itu terlalu basic. Benar-benar untuk pemula. Bukan berarti itu hal yang buruk. Hanya saja, ya seperti yang kubilang tadi, tidak sesuai dengan kebutuhanku. Untungnya, tulisan ini diletakkan di bab paling pertama, jadi kurasa masih sesuai sebagai bentuk perkenalan.

Kalian bisa lihat daftar jurus yang disajikan dalam buku ini dan pilih sesuai dengan kebutuhan kalian. Aku pun begitu. Saat mendapat buku ini, aku langsung baca tips yang paling menarik untukku. Setelah selesai, aku lalu membaca tips-tips lain yang bukan bidang minatku, sebagai hiburan di waktu senggang. 😀

DAFTAR JURUS DI BUKU INI:

FIKSI
Jurus Menulis Novel Romance – Ari Keling
Jurus Menulis Teenlit Berisi – Vivie Hardika
Jurus Menulis Horror Mistis – Lonyenk Rap
Jurus Rahasia Menulis Komedi – Ceko Spy
Jurus Dasar Menulis Novel – Cem Acem
Jurus Menulis Fan Fiction yang Sexy – Ocuz Wina
Jurus Menulis Flash Fiction – Ayu Marpaung
Jurus Menulis Puisi Tanpa Teori – Arniyati Shaleh

NONFIKSI
Jurus Menulis Personal Literature – Eva Sri Rahayu
Jurus Menulis Memoar – Astuti Parengkuh
Jurus Menulis Go Blog yang Cerdas – Hadi Kurniawan
Jurus Menulis Nonfiksi yang Dilirik Penerbit – Monica Anggen
Jurus Menggali Ide Menulis Buku Motivasi Diri – Sorayya Usman

TIPS DAN TRIK
Jurus Memilih Judul Tulisan  – Pilo Poly
Jurus Mudah Tembus Media – Zya Verani
Jurus Manis Menang Lomba Menulis  – Richa Miskiyya
Jurus Menghadang Seribu Alasan Gagal Menulis – Arista Devi

BONUS
Jurus Para Leluhur Iklan: Membuat Iklan Televisi – Mayoko Aiko

Buku ini cukup tebal dan isinya padat, apalagi yang sasarannya ditujukan untuk penulis pemula yang ingin tahu lebih banyak seluk-beluk dunia penulisan. Berbekal dari latar belakang penulisan buku ini sendiri yaitu untuk memfasilitasi pertanyaan teman-teman yang ingin menjadi penulis, maka bisa dibilang buku ini RECOMMENDED READ. Apa yang kalian butuhkan? Tips tembus penerbit? Daftar alamat penerbit? Cara memotivasi diri supaya berani menulis dan mengirimkan karya? Tips meningkatkan kualitas tulisan dari berbagai macam genre? Voila! Semua ada. Tinggal beli buku ini, nikmati keindahan cover bukunya, dan siap-siap berselancar di antara 19 jenis pembahasan untuk menemukan jawaban yang kalian cari-cari selama ini.

INI TRAILER BUKUNYA.

 

GIVEAWAY

Aku cuma dikasih jatah 1 BUKU GRATIS, jadi aku akan bikin kuis dan kalian balas jawabannya di kolom komentar ya. Jawaban terbaik akan aku hadiahkan BUKU “19 JURUS MABUK PENULIS SUKSTRES”

Ketentuan kuis:

  1. Harus sudah follow blog Nayacorath.com *
  2. Harus sudah like Fan Page Facebook.com/nayacorath *
  3. Harus sudah follow akun Twitter.com/nayacorath *
  4. Jawab pertanyaan ini di bagian kolom komentar di blog ini.
    “MENURUT KALIAN, MEMANGNYA APA KERENNYA SIH JADI SEORANG PENULIS?”
    Format jawaban:
    Nama
    Nama akun Twitter
    Nama akun Facebook
    Jawaban (boleh sepanjang-panjangnya)
  5. Share alamat artikel blogtour ini ke Facebook dan Twitter kalian. Jangan lupa mention Fan Page Naya Corath dan Twitter @nayacorath dan @UNIVERSALNIKKO hashtag #Giveaway
    Copy paste aja status ini biar gampang:

    Wow! #Giveaway #Buku #Gratis 19 Jurus Mabuk Penulis Sukstres http://wp.me/p8ezI-1dg @NayaCorath @UNIVERSALNIKKO

* baru follow juga gak papa kok

Gampang kan? Hehehe. Giveaway ini hanya aku buka dari tanggal 28 Oktober 2015 – 3 November 2015.

Seminggu aja.

Jadi jangan sampe ketinggalan. Lumayan lho, harga buku aslinya 55 ribu.. hehehe. Pengumuman pemenang tanggal 4 November 2015. Minggu depan, giveaway ini sudah aku tutup. Yuk! Langsung balas di kolom komentar.

Selamat mencoba! 😉

 

Creative Writing Workshop #SafetyFirst oleh Bernard Batubara (10 Oktober 2015)

Comments 18 Standar

Hari Sabtu kemarin, tanggal 10 Oktober 2015, aku mengikuti Creative Writing Workshop yang diisi oleh novelis Bernard Batubara, bertempat di Comic Cafe Tebet, Jakarta Selatan. Acara ini adalah bagian dari pengumuman kompetisi menulis cerita pendek bertema #SafetyFirst, disponsori oleh Nulisbuku.com, GagasMedia, dan Yayasan Astra Honda Motor.

12088159_401887293340796_8977166203837879803_n

Kebetulan, acara itu dekat dengan rumahku. Jadi aku menyempatkan waktu untuk mengikutinya, ditambah lagi dengan rasa penasaran dengan kelas menulis Bernard Batubara yang belum pernah kuikuti sebelumnya. Bara hanya mendapat slot waktu berbicara 1 jam saja (sayangnya), tapi menurutku isi presentasi Bara hari itu sangat bermanfaat. Cara penyampaiannya pun excellent.

Kualitas microphone saat itu tidak bagus (gema ruangannya terlalu parah, hampir sepanjang waktu terdengar seperti orang bergumam), tapi Bara berhasil membuat orang-orang terkesan. Sesulit apa pun kami mendengar, kami masih berusaha untuk bisa menyimak pelajaran penting yang disampaikannya. Slide presentasinya juga sangat menarik.

Bad news is, AKU DUDUK DI BARISAN PALING BELAKANG.

Jadi tidak akan ada foto-foto kelas yang memanjakan mata kalian pada ulasan kali ini. Daya tangkap auditoriku pun sudah kuamplifikasi, belum maksimal seperti biasanya, tapi inilah takdir tak terelakkan dari Tuhan. Yang berhasil kucatat hanya segini, hahaha. Tadinya bahkan aku tidak berniat mengabadikannya ke dalam bentuk ulasan (saking desperate-nya dengan kualitas pendengaranku, aku harus banyak mengimprovisasi penjelasannya), tapi setelah kupikir-pikir, kontennya memang terlalu menarik untuk dilewatkan.

Selamat menyimak!


 

HOW TO KEEP THE READERS READING
(Bagaimana Cara Membuat Para Pembaca Tetap Terus Membaca Tulisan Kita)

oleh Bernard Batubara

  1. BEGIN WITH A CHAOS
    Mulailah ceritamu dengan kekacauan. Dengan begitu, pembaca langsung tertarik dan perhatian mereka langsung terebut, begitu membaca paragraf pertama.
  2. THEN SLOW IT DOWN
    Setelah adegan pertama yang kacau, langkah berikutnya, hilangkan chaos-nya. Temponya dipelankan. Misalnya, bagian ini bisa kita isi dengan flashback, untuk merunut perlahan-lahan kenapa kekacauan yang muncul di adegan pertama bisa sampai terjadi.
  3. GIVE BACKGROUND
    Cerita yang baik adalah cerita yang berlapis-lapis. Berikan background terhadap adegan-adegan dan kepribadian para tokoh, yaitu cerita latar belakang kenapa mereka bisa memiliki sifat seperti itu, atau memutuskan melakukan hal tersebut. Berikan alasan, berikan cerita pendukung yang menjelaskan.
  4. RAISE THE TENSION
    Setelah tadi temponya relatif santai, sekarang naikkan lagi tensinya. Munculkan lagi ketegangan di tengah-tengah cerita. Di situlah letak seni bercerita, yaitu kita harus pintar-pintar mengatur tempo, yang membuat pembaca merasa TEGANG – RILEKS – TEGANG – RILEKS. Jangan tegang terus, atau jangan lambat terus, supaya pembaca tidak cepat bosan.
  5. MAKE IT WORSE
    Ketika kita memberi masalah terhadap tokoh kita, jangan langsung diselesaikan. Buatlah agar masalahnya menjadi semakin buruk, keadaannya menjadi tambah sulit, benar-benar terpojok, sampai-sampai tokoh itu putus asa, dan tidak tahu harus melakukan apa untuk menyelesaikan masalahnya. Buat seburuk mungkin, supaya karakter/kepribadian asli dia bisa keluar. Jangan tanggung-tanggung memberi konflik di sini. Buatlah kondisinya sesulit mungkin.
  6. REVEAL A SECRET
    Manusia seperti apa pun, pasti punya rahasia. Introvert, atau extrovert sekali pun, pasti punya rahasia yang tidak pernah mereka katakan pada siapa pun. Di bagian ini, keluarkan sebuah rahasia yang terdalam yang dimiliki oleh tokoh kita.
  7. BRING IT TO THE END (Make it STACATTO)
    Maksudnya stacatto di sini adalah, temponya harus dibuat sangat cepat. Tek, tek, tek, tek. Lakukan narasi dengan cepat, supaya pembaca semakin tegang.
  8. FINISH IT BEAUTIFULY
    Akhiri dengan cantik. Bayangkan seolah-olah seperti kita sedang menutup sebuah acara MAGIC SHOW, kita harus menutupnya dengan megah dan spektakuler. Kalau mau sedih, sedih sekalian, kalau mau dibuat senang, dibuat senang sekalian. Jangan tanggung-tanggung. Jangan ragu juga untuk mengakhirinya dengan tiba-tiba (maksudnya, tiba-tiba selesai/tutup), karena banyak penulis yang berhasil melakukan ini, dan ini justru membuat tulisan kita semakin berkesan. Tapi pastikan juga kalau kita berhasil menulisnya dengan bagus, sebelum memutuskan untuk mengakhiri tiba-tiba seperti ini. (kalau ceritanya jelek, menutup tiba-tiba justru bikin pembaca makin jengkel)

TIPS MENULIS LAGI:

  • Simpilicity
    Kalau kita bisa mengungkapkan sesuatu dengan cara yang sederhana, tidak perlu menggunakan kata-kata rumit yang sulit dimengerti. Pertajam gagasan ceritanya, tanpa harus merumitkan kata-kata hanya untuk menutupi kekurangan kualitas isi cerita kita. Be clean and direct.
    (Ini sama persis seperti yang pernah disarankan oleh Raditya Dika –> baca ulasannya di sini)
  • Freedom
    Dengarkan tips saya dan lupakan. Akhirnya teman-teman harus menemukan gaya menulis yang cocok dengan kalian masing-masing. Pelajari dasar-dasarnya, berlatihlah terus-menerus, bend the rules dan berinovasi, bereksperimen dengan tulisan kalian, sesuai dengan gaya kalian.
  • Personalize Your Narrator
    Buatlah ciri khas tulisan kalian sendiri. Saking khasnya, sampai-sampai jika pembaca melihat potongan tulisan kalian, mereka langsung tahu siapa penulisnya. Kita harus menciptakan voice, voice ini yang nanti akan membuat pembaca mengenali karakter tulisan kita.
  • Inwardness
    Masuk sangat dalam ke isi hati tokoh, benar-benar dalam. Apa yang ia takuti? Apa yang ia rasakan? Masuklah ke lapisan paling dalam dan munculkan itu, tarik narasinya.
    (Ini mirip seperti Circle of Life yang pernah dijelaskan oleh Raditya Dika  –> baca ulasannya di sini)
  • Artisty
    Ambillah pelajaran dari cabang seni yang lainnya. Musik, film.. Dari film, kita bisa belajar bagaimana menulis cerita yang tidak bertele-tele, karena di film, semua elemen cerita yang paling penting harus bisa diringkas dalam durasi 2 jam. Dari musik, kita bisa belajar menempatkan tempo, misalnya seperti kapan menempatkan intro, bridge, reff.
  • Observasi
    Ini sangat penting. Sebagai penulis, kita harus belajar melatih kemampuan observasi kita terhadap lingkungan di sekitar, sehingga mampu memunculkan perspektif baru dalam tulisan kita.

Okey. Nggak banyak yang bisa kutulis, tapi ini sudah lebih dari cukup untuk memberikan panduan pada kita tentang trik-trik yang menarik dan bermanfaat di dunia kepenulisan.

Last but not the least… Foto narsis. Hehehe. 😛

12072580_10204880485068118_5618137409945065763_n

Aku pernah bertemu dengan Bara di ASEAN LITERARY FESTIVAL awal tahun ini. The good news, ternyata dia masih mengenaliku. The bad news is, aku diingat sebagai orang yang bicaranya panjang lebar. Hahaha. Memangnya aku sepanjang lebar itu ya? 😛

Sekian dan terima kasih. Semoga bermanfaat! 😉

 

CATATAN AKHIR NAYA: Gimana? Kalian suka nggak tulisanku ini? Bermanfaat nggak? Ada yang kurang jelas? Ada yang kalian banget? Aku minta komentarnya yaaa, supaya aku makin semangat menulis buat kalian. Terima kasiiihh….! 😉

Bengkel Menulis Kreatif RADITYA DIKA (Part 2)

Comments 13 Standar

Minggu kemarin, tanggal 25 September 2015, aku mengikuti Kelas Menulis Raditya Dika (alias yang hari Jumat), dengan tajuk “Bengkel Menulis Kreatif,” yang bertempat di Conclave Auditorium, Jalan Wijaya 1, Jakarta Selatan.

Aku menulis ulasan kelasnya dalam bentuk 2 part artikel. Ini adalah artikel PART 2.

12047133_10153236011932983_5609061778765597014_n

 

< < BELUM BACA ULASAN DI PART 1 ? KLIK DI SINI

Penanya #7: “Kalau nulis ‘berkata dalam hati’, itu cara nulisnya gimana? Dimiringin atau gimana?

Raditya Dika:

“Kalo gue sih nggak pernah namanya nulis ‘berkata dalam hati.’ Tapi iya, kalau di penerbit Gramedia biasanya dimiringin. Kalau di Gagas justru nggak. Tapi terserah, itu gaya selingkung. Gaya masing-masing penulis.”


Penanya #8: “Tadi ada tanda tiga bintang. *** itu kan buat nutup, break, abis itu dimulai tulisan baru. Itu gue bingung mulainya lagi gimana. Apa harus berhubungan sama part sebelumnya atau harus ide baru? Harus berkesinambungan atau boleh nggak berhubungan sama sekali dari bagian sebelumnya?”

Raditya Dika:

“Tujuannya dulu apa lo bikin break itu. Bikin tanda bintang itu. Nggak pake juga papa. Ada penulis yang pake, ada yang nggak, langsung paragraf aja. Makanya, jangan sampai lupa tujuan lo nulis bagian itu, untuk menceritakan tentang apa. Itu aja patokannya. Ide baru bisa, nyambung sama sebelumnya juga bisa. Tapi biasanya sih kalo lo bikin jeda gitu berarti lo mau nyeritain hal yang berbeda daripada adegan sebelumnya.”


Penanya #9: “Gue punya beberapa pertanyaan. Pertama, boleh nggak kita di tengah-tengah ngubah trait-nya si karakter? Kedua, gimana cara membuat konsistensi karakter? Ketiga, gaya penulisan yang baik menurut Raditya Dika seperti apa? Keempat, gimana cara mengkritisi tulisan kita sendiri?”

Raditya Dika:

1. Boleh, asal ADA ALASAN KENAPA DIA BERUBAH.

Dan sesuai dengan alur yang kita buat di awal. Misalnya, dari jorok berubah jadi bersih, kejadian apa yang bikin dia berubah? Kenapa kita mengubah trait-nya? Semua harus ada alasan.”

Penanya #9: “Boleh nggak kalo di tengah-tengah kita ngubah trait-nya, nggak sesuai alur, trus alurnya biar menyesuaikan aja?”

Raditya Dika:

“Nggak bisa. Harus sesuai alur. Kalau kita ngubah trait, trus malah jadi ngubah cerita kita, nggak bisa. Kalau ternyata ide perubahan trait ini bagus banget, BAGUS BANGET, ya udah gak papa, tapi jangan pakai alur yang lama. Bikin alur baru. Ubah alurnya. Ulang lagi proses pembuatan alurnya dari awal.

2. Kenali karakter.

Dia orangnya kayak apa? Batman, kalau pergi ke ATM trus mesin ATM-nya rusak, pasti beda reaksinya dibandingkan kalau Superman yang pergi ke ATM. Bayangin. Bayangin dia reaksinya kayak apa. Bikin karakter matriks.

Gini. Bikin tulisan lima halaman, yang isinya, kalau lo dan karakter lo itu sama-sama terjebak di lift… apa yang bakal lo obrolin sama dia? Apa yang kalian bicarain? Ada juga penulis yang mencoba cara yaitu dengan menginterview karakternya. Dia bikin kayak semacam tanya-jawab gitu ke tokoh-tokohnya, seperti wartawan.

Kalau serial TV, biasanya dia cuma punya 1 trait, lalu langsung dieksekusi. Kenapa di serial TV biasanya kepribadian tokoh-tokohnya itu cuman 1 dimensi? Karena durasinya pendek. Nggak cukup untuk pengembangan karakter. Beda dengan film yang durasinya lebih panjang.

Gimana metode bikin supaya karakter lo kuat? Gue punya tips dari Bagus, namanya CIRCLE OF BEING -> seorang karakter dalam hidupnya mengalami perputaran. Kenapa dia kayak gitu? Di masa lalunya terjadi apa? Titik pengalaman apa di dalam hidupnya yang bikin dia jadi kayak gini? Nggak semua yang kita tahu soal karakter ini harus masuk ke dalam cerita. Termasuk soal Circle of Being. Gue waktu bikin cerita ngobrol sama temen-temen gue, biasanya ngalor-ngidul gitu panjang banget ngomongin segala macem, nggak semuanya kepake. Tapi, kalau nanti gue mau bikin adegan, jadinya gampang banget. Ini yang namanya karakter nulis ceritanya sendiri. Apa dia mau belok ke kiri atau ke kanan, dia bisa belok sendiri. Karena kita udah kenal siapa dia.

Nah, gunanya ALUR adalah buat ngejagain supaya pas nulisnya nggak ngalor-ngidul juga.

Ada sih, penulis Prancis, yang bisa nulis nggak pakai alur sama sekali. Penulis Nausea. Eksperimental, malah dianggap sebagai buku terbaik. Tapi ya susah juga. Itu anomali, lah.

3. Jangan cari gaya penulisan yang diterima, tapi cari gaya penulisan yang LO SUKA.

Gue suka komedi, Lupus, dkk, kalo udah suka, gue bedah isinya. Kenapa gue suka ini? Apa yang bikin gue ketawa? Kenapa gue sampe sekarang masih ingat adegannya? Setelah memilih, biasakan membedah tulisan yang kita suka. CURI ilmunya, jangan pinjam. Kalau pinjam itu masih milik dia. CURI, supaya jadi milik kita, tapi dengan sidik jari kita sendiri. CURI, jangan pinjam karena pinjam itu maksudnya plagiat.

4. Taruh seminggu di laci, lalu baca. 

Baca dengan mata yang baru, undang orang untuk mencaci maki tulisan lo. Buka hati untuk dikatain orang bahwa tulisan kita jelek. Karena tulisan kita EMANG JELEK. (Sambil terpingkal-pingkal).

Jadi izinkan dirimu untuk DIKRITIK.”


Penanya #10: “Premis gue. Seorang gadis yang lugu ingin mendapatkan cintanya tapi sudah memiliki pendamping. Ini beranjak dari kisah nyata.”

Raditya Dika:

“Masih abstrak. Mendapatkan cinta kembali gimana caranya? Adegannya apa? Pelajaran apa yang dia ambil dari pengalaman ini? Kata kuncinya, kejadian itu harus bikin karakter itu tumbuh. Karakter gak dapet apa yang diinginkan, tapi dapet yang dia butuhkan. Perihal nanti pembaca nangis atau nggak nangis pas bacanya itu pinter-pinternya kita bikin adegan.”


Penanya #10: “Ini tulisan gue. Tolong dibedah ya.”

20150925_205559 (Copy)

Raditya Dika:

“Menarik. Bikin penasaran. Cuman nggak ada adegan dan deskripsi, menurut gue baiknya langsung dibikin dialog aja. Ini kayak rangkuman novel, bukan isi ceritanya, soalnya telling semua. Gambarin adegannya. Padahal awalnya sih udah asyik nih. Gue suka nih. Tuan mata meninggal dalam kesunyian. Titik. Ini bikin penasaran banget.

Selanjutnya, lo terusin adegannya. Langsung aja bikin adegan. Dia keringetan nggak? Kalimat apa yang dia ucapin untuk ngabarin berita itu?

Banyak penulis yang bingung komposisinya, antara dialog dengan deskripsi. Tapi menurut gue, kalo tulisannya udah sebanyak ini, lo harus bikin adegannya. Misalnya,

‘Aku masih ingat ulang tahun dia, 70 tahun lalu..’ –> adegannya keluar, kalo di film, informasi-informasi kayak umur gini dimasukin ke dialog.

Jadi menurut gue, alurnya ini udah bagus. Cuma kurang dialog. Beda sama tulisan yang tadi (yang tentang Arina), yang mana alurnya ada yang bisa diperbaiki, tapi masuknya udah pas. Kalimatnya jelas, ada adegannya, dan to the point.”


Penanya #11: “Tentang WANT sama NEED. Boleh nggak kalo karakternya dapet dua-duanya?”

Raditya Dika:

“Boleh, dapet dua-duanya bisa. Tapi menurut gue paling bagus kalau dia nggak dapet apa yang dia mau, tapi dapat NEED-nya. Lebih bagus. Lebih dalem.

Misalnya film Ada Apa Dengan Cinta. Si Cinta WANT-nya apa? Jadian dengan Rangga. Tapi jadian nggak? Nggak. Yang dia dapat itu NEED, yaitu dia sebenarnya butuhnya untuk menyatakan rasa cintanya ke Rangga.

Film Inside Out. WANT-nya apa? Dia pengen Riley bahagia terus. NEED-nya apa? Supaya dia percaya sama temen-temennya, nggak selalu jadi pemimpin, percaya kalau orang lain juga bisa bantuin lo.

Kenapa gue suka banget sama film-film PIXAR? Soalnya PIXAR itu pakai 3 BABAK LITERASI MODERN INI. Ada ACT1, ACT2, ACT3, Midpoint. Juga pesannya dapet banget.

Misalnya How To Train Your Dragon, itu gue suka banget. WANT-nya apa? Dia ingin keliatan keren di depan orang-orang di desanya. NEED-nya apa? Ternyata dia hanya ingin diterima apa adanya. Ini digambarkan dengan adegan terakhir, di mana kakinya buntung, tapi semua orang tetap menyukainya. Ini ironi kan? Kakinya malah jadi buntung. Tapi feel-nya dapet banget.


Penanya #12: “Ini naskah gue. Tolong dibedah ya.”

20150925_211046 (Copy)

Raditya Dika:

“Ini gue-nya redundant. Dicoret aja. Batas, ambang, terakhir, juga redundant, kan artinya sama, dipilih aja salah satu. Kalimat kita harus ekonomis, usahakan lebih sedikit kata, tapi maksudnya tetap sama.

HUARR!! Ini nih… Gue biasanya hindarin yang huarr-huaar gini. Bunyi-bunyian apa gitu, tok tok.. (trus Radit niruin jenis bunyi-bunyian lain yang bikin kita semua ketawa), mendingan diganti aja jadi: Aku tersadar dari lamunanku sendiri. Atau dia tiba-tiba dipanggil seseorang, Pak.. Udah Pak.. Ini lagi ngelamun kan, ya? Iya, kayak gitu aja.. Dibikin adegan. Daripada huarr huarr.

Ni gue-nya kebanyakan, coret aja. Gue sudah sangat tidak sabar.. nah ini kan tadi udah ditulis ‘nggak juga’ berarti ini artinya udah menggambarkan gak sabar, redundant jadinya, artinya sama aja, mendingan diganti aja. Kalo artinya sama, lebih baik dihilangkan. Trus ini dikasih titik. Dikasih jeda supaya pacingnya enak. Misalnya gue ganti jadi

Nggak juga, gue tinggal 1 detik lagi menyembur anak ini dengan kobaran api.

Kata guru lain, jadi guru… Ini dua kali gurunya. Ganti aja, misalnya ganti jadi profesi ini.

Jadi ini namanya kalimatnya jernih. Jernih kan? Bersih. Emang ini nih yang mau gue omongin. Padat. Biasain nulis kalimat itu yang jernih dan padat.”

20150925_211658 (Copy)

Catatan Naya: Aku noted banget catatannya Radit soal efisiensi ini. Menyaksikan langsung Raditya Dika memangkas kata per kata yang redundant membuatku lebih menghayati pentingnya kalimat-kalimat yang padat dan tepat sasaran di tulisanku. Selama ini, cara menulisku kuakui memang masih sering redundant / boros seperti ini.


Penanya #13: “Kan tadi katanya nggak boleh nulis matahari, bulan, bintang. Gimana kalo misalnya gue emang tetep mau bikin? Masa gak boleh sih?”

Raditya Dika:

“Yaa, boleh aja sih, asal matahari itu adalah bagian dari ceritanya. Ada hubungannya sama ceritanya. Misalnya lo mau bikin matahari yang kayak gimana?

Biasanya orang nih nulisnya gini, siang itu matahari terik, aku merasa kepanasan di dalam angkot…. dst (aku lupa detailnya si Raditya ngomong apa lagi)

Itu gak ada hubungannya sama cerita lo. Misalnya lo pengamen gitu kan ya..? Nah, apanya yang di matahari yang ada hubungan langsung sama kisah kehidupannya? Apakah karena terik matahari dia jadi dapat duit lebih banyak? (actually yang ini aku ngarang sih, haha.. habis aku lupa si Radit ngomong apa, yaa intinya gitu lah, kalo mau nulis matahari bulan bintang gitu harus ada hubungannya sama cerita).

Suasana matahari sore terasa panas menyinari bumi -> Ini gak penting banget.

Kalo emang mau make ini, hubungin sama karakter lo. Misalnya lo nulis suara klakson mobil di mana-mana. Ya gak usah. Aku adalah salah satu pengamen jalanan di Jakarta. Langsung aja ke karakternya. Tujuannya itu kan?

Tulis aja, apa aja kesusahan dia hidup jadi pengamen? Misalnya ditolak orang. Diludahin. Didorong dari bis.

Bis masih melaju kencang tapi gitarku tertinggal di bagian belakang. Duitku tidak cukup dan matahari terasa terik di tubuhku. (kurang lebih Si Radit ngomongnya ini) Nah, itu lo masukin matahari gak papa, ada hubungannya sama cerita.

SEMAKIN SEDIKIT KATA yang lo tulis untuk menggambarkan sesuatu, SEMAKIN BAGUS.”


Penanya #14: “Gue bikin novel. Tadinya nggak bikin prolog, trus disuruh bikin prolog sama editor gue. Eh setelah bikin prolog, malah jadi nggak bagus. Bagusnya jadi ilang. Ini tulisan gue.”

Intinya, novel si penanya ini, di bagian prolognya dia nulis semacam argumen dan esai panjang gitu tentang opini dia tentang kehidupan kampus dan arti skripsi di mata dia. Nggak ada dialog-dialognya sama sekali.

Raditya Dika:

(Panjang ngomongnya.. hehehe intinya sebagai berikut)

“Kenapa nulisnya kayak gini? Tujuan bikin prolog apa? Bisa nggak semua informasi yang lo taruh ini masuk melalui cerita melalui mulut KARAKTER. Gue tau nih apa yang terjadi. Ini pasti menggebu di pikiran lo kan, makanya lo mau nulis itu di tulisan lo? Lo bisa masukin pikiran lo itu ke salah satu karakter, lewat mulut karakter yang idealis. Lo kasih liat dia bisa nggak survive dengan idealisme dia itu. IDEALNYA, NARATOR ITU TIDAK BEROPINI. Kecuali kalau dia adalah tokoh AKU-nya. Orang ketiga tidak akan beropini, jadi lo gak bisa masukin esai-esai lo itu.”

Lihat videonya aja yahh hahaha. Aku pegel nyatetnya.


Penanya #15: “Ini gue ada naskah skenario. Tolong diperiksain dong.”

20150925_213329 (Copy)

Raditya Dika:

“Nah. Ini menarik nih. Harusnya kita hari ini cuma ngebahas soal menulis cerita biasa aja, nulis novel. Tapi boleh nih, kita bahas sedikit soal skenario.

Bedanya skenario sama buku.. Kalau skenario semua harus jelas, pendek. Banyakin putih-putihnya. Kalau di buku itu haram. Tapi kalo di skenario itu wajib. To the point. Jelas. Lo gak boleh nulis mendayu-dayu di skenario.

Ini gue suka ni skenarionya. Lo bikinnya bagus. Paling yang bagian bawah aja nih yang perlu dicoret. Nggak usah, nggak penting soalnya. Penonton nggak bisa lihat ini.

(Bonus video lagiii tentang naskah skenario. Kalian bisa liat sendiri gimana kocaknya Raditya Dika di kelas)

Tommy berniat ingin marah tapi mulutnya hanya menganga. Hanya menganga. (trus mempraktekkan orang menganga)

Mendingan lo tulis aja, dia kesal. Udah. Titik. Nggak perlu ditulis sampai dia menganga. Kalau aktor baca ini, dia jadi di otaknya itu harus menganga. (praktek orang menganga lagi, seisi kelas tertawa)

Nggak usah. Biarkan aktornya menginterpretasikan seperti apa kesel itu. Buat gue, kita sebagai penulis, jangan men-direct aktor. Kenapa nganga? Kalo misalnya nganganya itu PENTING, kita harus tulis. Misalnya, Tommy menganga lalu lalat masuk ke mulutnya.

Tapi kalo nggak penting, ya lo tulis aja dia kesal.

Gue juga suka nih skenario ini, soalnya nggak ada direct untuk arah kameranya. Biasanya kan suka ada tuh, skenario yang ada arah kameranya dari mana, harus dari mana. Sutradara biasanya nggak suka yang kayak gini. Biarkan gue berkreasi sendiri, biarkan aktor bekerja sendiri. Karena film itu pekerjaan kolektif. Banyak kepala. Biarkan mereka, tim lo bebas berkreasi. Nanti kalo misalnya buku lo diangkat jadi film, lo nggak bisa ngatur-ngatur oh jangan nih, kameranya harus gini, ini gue gak suka nih harusnya aktingnya kayak gini, masuknya kayak gini. Jangan. Kalau udah jadi film, film itu udah milik sutradara. Itu haknya sutradara mau bikin filmnya kayak gimana.

Oh ya. Tau nggak? Akting itu adalah di mata. Jadi gini nih. Gue biasanya kalau liat artis-artis baru gitu, biasanya kalau akting tangannya suka berlebihan. (memperagakan akting marah pakai gerakan tangan berlebihan, kita pada ketawa)

Kalau aktornya udah profesional, biasanya tangannya diam aja. Jadi kalau akting marah, matanya yang main. Mata itu yang berbicara. Di film, biasanya di-shoot matanya, keliatan aktingnya bagusnya di sana.

Jadi gitu ya. Menjadi menulis dan menjadi aktor itu adalah menemukan kebenaran dalam karakter. Ketika tulisan itu udah jadi film, maka itu udah jadi haknya sutradara, itu adalah visinya dia mau bikin apa film itu nanti.”


Penanya #16: “Kalau buku kita mau dibuat film, kita nulis lagi skenarionya atau nggak?”

Raditya Dika:

“Nggak. Biasanya dikasih ke penulis script, soalnya teknik nulis buku dengan skenario itu beda. Kalau lo mau belajar dan pede, boleh, lo bisa minta supaya jadi penulis skenarionya juga.”


20150925_215148 (Copy)

OKE. DONE.

Sekarang waktunya aku ngasih pertanyaan titipan dari teman-teman grup penulis yang kuikuti.

Pertanyaan dari Hanna Yastinika: Gimana cara nulis bagian cooling down setelah konflik supaya endingnya nggak terburu-buru?

Raditya Dika:

(aku lupa jawabannya, hahahaa.. intinya kalo gak salah, bikin alur dulu di awal, ACT1 ACT2 ACT3, kayak yang dia ajarin. Lo harus tau tujuannya lo bikin tulisan itu)

Pertanyaan dari Sandra Setiawan: Gimana cara bikin sub konflik yang digantung, supaya endingnya gak terkesan terburu-buru, soalnya mau bikin novel seri?

Raditya Dika:

Nggak harus digantung.. Problem boleh selesai. Lo bisa bikin konflik baru lagi di seri berikutnya. Atau kalau memang mau digantung juga gak papa. Tapi pastiin ada masalah yang diselesaikan di buku pertama. Jadikan ada pertanyaan yang mau dijawab di buku kedua, tapi tipis aja.

Pertanyaan dari Farah Sach: Kapan launching buku di Makasar? Pengen meet and greet?

Raditya Dika:

(ketawa) Belum.. Gue belum launching buku lagi.

Pertanyaan dari Dwi Lestari: Gimana cara menjaga kestabilan mood?

Raditya Dika:

“MOOD ITU GAK ADA. Yang ada itu alasan untuk gak menulis. Kalo nggak niat, paksa aja. Kalo jadinya jelek, biarin aja. Hahaha, gue jadi ada tips nih, salah satu skill yang lo butuhin jadi penulis, gimana caranya boongin saat ditagih naskah sama editor. Kemaren udah kakeknya meninggal, hari ini kakek mana lagi yang meninggal? (sambil ketawa)

Nggak lah. Becanda aja gue. Ya itu… Nggak ada yang namanya mood. Gue nggak percaya sama mood nulis.”

Pertanyaan dari Kristina Yovita: Gimana caranya supaya lo mau, sempat komen hasil tulisan gue? Tulisan gue genre komedi juga.

Raditya Dika:

(ketawa lagi) Gue ini sebenarnya orangnya paling males baca tulisan dari e-mail. Jadi kalo lo mau.. lo nemuin aja gue, bawa tulisan lo ke gue, trus kita langsung bahas bareng-bareng. Iya kayak sekarang ini.


Last but not the least, foto narsis di setiap ujung liputan…. Wkwkwk. 😛

20150925_215503 (Copy)

Kesimpulanku dari hasil belajar di Kelas Menulis ini:

  1. Raditya Dika itu orangnya ramah banget. Santai. Trus dia juga tipikal orang personal, maksudnya selalu nanya nama kita dan manggil kita pakai nama kita. Kalo lucu sih udah pasti yah, hahaha.
  2. Pelajaran utama yang ditekankan Raditya Dika di sepanjang kelas ini adalah: Membuat PREMIS (diulang berkali-kali); Bikin ACT1, ACT2, ACT3, Midpoint (ini juga sering diulang-ulang); Memahami karakter, bayangkan kepribadiannya sedetil mungkin; Memangkas tulisan, harus bikin sepadat mungkin.
  3. Satu pelajaran lagi yang kutangkap. Radit tipikal orang yang suka baca dialog. Pokoknya tiap kali bedah tulisan, pasti gatel gitu matanya kalo liat storytelling yang kepanjangan. Dia pengennya, langsung dialog aja. Bagian awal cerita pun pengennya langsung dialog aja. Pasti sarannya yang paling dominan, “Ini mendingan dibikin jadi adegan aja. Bayangin jadi adegan, itu adegannya kayak gimana.”
  4. Seperti yang kutulis di Twitter-ku @NayaCorath, aku bilang kalau Raditya Dika ini kayaknya berbakat jadi PSIKOLOG. Hahaha. Soalnya dia kalau membahas soal kepribadian tokoh itu detiiiil banget… Kayak psikolog/psikiater yang lagi membedah pasiennya dan pengen nyembuhin masa lalu si pasien. Jawabannya juga suprisingly bijaksana. Jarang bercanda kalau lagi ngebahas soal kepribadian dan masa lalu tokoh, seolah-olah kayak menghayati banget. Dia pasti tipikal sahabat yang sering dicurhatin sama temen-temannya nih.. Wkwkwk.
  5. Apa lagi yah… Segitu dulu. Nanti kurevisi lagi kalau ada yang kuinget. Liputanku udah ditagih mulu nih dari minggu kemarin… Hehehehe. Harus publish cepet-cepet biar gak pada jamuran nungguinnya.

Sekian dulu dan terima kasih. Nanti halaman ini masih akan aku update lagi, salah satunya profil teman-teman sesama penulis yang sama-sama ikut di Kelas Menulis Raditya Dika ini. Aku sebut namanya dulu yaa hahaha

  • Falen
  • Dian
  • Irene
  • Js Khairen
  • Fiana
  • Mili
  • Qiqi
  • Ruth
  • Wibowo
  • Wignya
  • Zain

Nanti ku-update lagi yaaaa. Ini kutulis sedetail mungkin, selengkaaap mungkin….. walaupun kayaknya masih ada juga beberapa pertanyaan yang kelewat dan nggak sempat kucatat. Tapi, mudah-mudahan liputanku ini bisa membantu kalian membayangkan pelajaran-pelajaran berharga yang aku catat baik-baik di kepalaku dari Kelas Menulis Raditya Dika ini, ya? Hehehe. Beri tahu aku kalau kalian suka tulisanku.

Terima kasiiiih, semoga menginspirasi! 😉

 

CATATAN AKHIR NAYA: Gimana? Kalian suka nggak tulisanku ini? Bermanfaat nggak? Ada yang kurang jelas? Ada yang kalian banget? Aku minta komentarnya yaaa, supaya aku makin semangat menulis buat kalian. Terima kasiiihh….! 😉

Bengkel Menulis Kreatif RADITYA DIKA (Part 1)

Comments 28 Standar

Minggu kemarin, tanggal 25 September 2015, aku mengikuti Kelas Menulis Raditya Dika (alias yang hari Jumat), dengan tajuk “Bengkel Menulis Kreatif,” yang bertempat di Conclave Auditorium, Jalan Wijaya 1, Jakarta Selatan.

Aku menulis ulasan kelasnya dalam bentuk 2 part artikel. Ini adalah artikel PART 1.

12047133_10153236011932983_5609061778765597014_n

Sejujurnya, kelas yang pengen aku ikuti itu 2 kelas–“Kesalahan Penulis Pemula” dan “Bengkel Menulis Kreatif.” Tapi sayangnya kelas yang kusebutkan pertama kali itu hari Kamis, tepat di hari raya Idul Adha. Gak bisa datang. 😦

Tebak aku yang manaa?

Tebak aku yang manaa?

PERSIAPAN

Aku duduk di bangku paling depan, sendirian, tak mengerti kenapa orang-orang lainnya memilih duduk mulai di baris kedua. Hahaha. Tapi bukan aku namanya kalo gak pede berlebihan, apalagi aku butuh sudut yang bagus untuk merekam isi pelajaran dari Raditya Dika dan memotret apa pun yang bisa dipotret. Dan luaaaass……! Satu deret bangku untukku semua. Wkwkwk. 😛

20150925_194259 (Copy)

REKAP

Raditya Dika memulai kelas dengan membahas bau duren yang ada di hadapannya. Hahaha. Belakangan baru disadari ternyata bau duren itu berasal dari bingkisan plastik yang diberikan oleh salah satu peserta, yang tadinya diletakkan di atas mejanya. Karena nggak kuat iman, akhirnya Radit memindahkan bungkusan duren itu jauh-jauh ke pinggir belakangnya, dan seisi kelas pun tertawa.

Yang di bungkusan plastik putih itu isinya duren. :P

Yang di bungkusan plastik putih itu isinya duren. 😛

Oke. Itu gak penting, haha. Seharusnya kita bahas isi kelas menulisnya, ya? 😛

Sejujurnya aku tak tahan menulis banyak celetukan Radit yang bikin seisi kelas tertawa terpingkal-pingkal–tapi demi isi liputan kelas menulis yang fokus, tajam, dan terpercaya, aku berjanji akan berusaha mengurangi hasrat menulis hal-hal yang tidak relevan.

Kita mulai lagi. Sekarang pasang muka serius.

Radit membuka kelas dengan merekap kembali isi pelajaran sejak hari pertama sampai hari keempat. Isi rekapnya adalah sebagai berikut:

  1. Hari pertama -> IDE.
    Ide harus berasal dari kegelisahan kita sebagai penulis. Jangan menulis hanya karena pengen kaya, pengen pamer, tapi harus ada kegelisahan di dalam hati ini yang meminta untuk dijawab.
  2. Hari kedua -> ALUR.
    Ada 3 babak tulisan, masing-masing punya beat cerita sendiri. Babak satu porsinya 25%, babak dua porsinya 50%, dan babak tiga porsinya 25%.
  3. Hari ketiga -> KARAKTER.
    Kita harus memiliki karakter matriks. Isinya–nama, umur, apa yang dia mau, apa yang dia sukai, kapan dia jatuh cinta, kelemahan, kekuatan, dan seterusnya. Cocokin matriks ini dengan matriks milik karakter lawannya di cerita tersebut.
  4. Hari keempat -> KESALAHAN PENULIS PEMULA.
    Dialog salah, pembuka salah, dialog yang nggak asik, dst..

Setelah aku diskusi dengan peserta-peserta lain yang udah ikut kelas-kelas sebelumnya, ternyata kelas Hari Keempat ini yang paling bermanfaat. Aaaaaaah……. T_ 😥 *nangis bombay*

Ya sudahlah. Menurutku pribadi, Kelas Hari Kelima yang kuikuti kali ini juga padat ilmu dan sangat bermanfaat. Hari terakhir, hari kesimpulan. Meskipun aku gak tau mendetail soal teori-teori apa saja yang sudah dijelaskan Radit di kelas sebelumnya, tapi di hari terakhir ini, Radit mengulas kembali teori-teori tersebut, langsung dalam bentuk PRAKTEK.

Cara terbaik untuk belajar. PRAKTEK! 😀

Yup. Di hari terakhir ini, Radit tidak memberikan materi presentasi, tapi para pesertalah yang diminta untuk menyerahkan tulisan-tulisan milik mereka, yang di-copy ke laptop Radit, lalu dipajang dan dipertontonkan bersama-sama ke layar proyektor di depan kelas. Taraaaaa……

Tulisan kita dibahas kata per kata, kalimat per kalimat, lalu dibahas premisnya, konfliknya, halangannya, kelebihannya, kekurangannya, dan banyaaak banget tips on the spot yang diberikan Radit, berbekal pengalamannya bertahun-tahun sebagai seorang penulis, komedian, aktor, dan sutradara.

Selain itu, kita juga bebas bertanya dengan Radit kapan pun, bahkan di tengah-tengah penjelasannya. Jadi, sejujurnya banyak banget ilmu dan pertanyaan yang berseliweran di sepanjang kelas menulis itu. Terlalu banyak! Kecepatan menulisku di atas papan menulis kayu dengan modal lima lembar kertas HVS kosong yang diberikan pihak panitia rasanya tidak bisa menyaingi membludaknya ilmu menulis yang disampaikan oleh Raditya Dika, selama dua jam nyolong tambahan waktu 30 menit itu (harusnya dua jam, tapi saking serunya jadi di-extend setengah jam sama Raditya Dika).

Aku akan coba tulis di sini sebanyak yang aku ingat dan catat. Dan aku usahakan semirip mungkin dengan percakapan aslinya, sesuai dengan aliran obrolan yang terjadi di kelas saat itu, dari awal sampai akhir. Jadi, liputanku kali ini tidak terstruktur yaaa.. Lebih berupa insidental dan tanya-jawab aja.

Mudah-mudahan masih bisa dipahami intinya.

Kalo ada yang kelewatan, kasih tau yaa… 😀

 

TANYA-JAWAB  (disimplifikasi oleh Naya)


Penanya #1: “Saya sudah nulis 24 halaman. Mau coba diperbaikin, pengen ditambahin isi tulisannya, tapi bingung mau nulis apa lagi.”

Raditya Dika:

“Sembilan puluh persen orang stuck menulis gara-gara alur cerita. Karena dia nggak tau alurnya mau dibawa ke mana. Ibaratnya kayak kita bawa mobil nih, kita tau mau ke mana… Mau ke Puncak misalnya. Tapi kita gak tau mau lewat mana nih mobilnya. Premisnya apa?”

Penanya #1: “Nggak bikin.”

Raditya Dika:

“Nah itu. Penulis yang nggak bikin premis, pasti pas nulis halaman 40 dia sudah mabok duluan.”

Di sini akhirnya Raditya Dika mengulang lagi pelajaran tentang PREMIS, yang mana merupakan poin pelajaran di Kelas Hari Pertama.

RUMUS PREMIS: 
PREMIS = Karakter + Tujuan + Halangan

“Coba dibikin premisnya sekarang.”

Penanya #1: Seorang perempuan ingin kembali mengejar cinta lamanya, tapi orang yang ia kejar terus menjauhinya.

Raditya Dika:

“Yang…..? Perempuan yang apa? KARAKTER-nya seperti apa si perempuan ini?” (lalu mengusulkan contoh–pantang menyerah)

PREMIS SEMENTARA:

SEORANG PEREMPUAN YANG PANTANG MENYERAH INGIN KEMBALI MENGEJAR CINTA LAMANYA, TAPI ORANG YANG IA KEJAR TERUS MENJAUHINYA.

“Problemnya apa? Kenapa problem yang di premis ini kurang oke? Ada yang bisa jawab nggak?”

Peserta lain: “Terlalu abstrak.”

Raditya Dika: 

“Bener. Terlalu abstrak masalahnya. Orang tidak bisa lihat. Tidak bisa sentuh. Tidak bisa disaksikan. Caranya gimana? Apa tujuan yang dia mau? Wakilkan masalah ini dalam bentuk suatu adegan. Misalnya:

  • Sangat ingin dicium
  • Sangat ingin ditembak
  • Sangat ingin mantannya bilang ke ibunya dia bahwa mereka sudah balikan
  • Sangat ingin diberi bunga warna putih waktu wisuda

Makin konkrit ini, maka cerita lo jadi makin unik. Makin jelas. Punya ciri khas.

Oh ya, gue ada tips nih buat teman-teman. Usahakan selalu menulis kalimat aktif. Misalnya, DIA MEMUKULI WANITA ITU. Bukan WANITA ITU DIPUKULI DIA. Kenapa? Karena pembaca akan memvisualisasikannya dengan gampang. Kalau pakai kalimat pasif, pembaca harus menejermahkan dahulu kalimat itu dalam bentuk aktif, dan itu bikin dia susah memvisualisasikannya.

Terus, coba ditambahkan lagi kata sifat di premis ini. Seperti apa sifat si cewek ini? Gigih? (Jangan). Gigih itu adalah kata sifat yang BAIK. Idealnya, karakter kita punya kelemahan, supaya harapannya sifatnya akan berkembang di akhir cerita, sehingga dia punya sesuatu yang bisa diperbaiki.

Misalnya kita bikin sifatnya jadi -> seorang perempuan yang keras kepala, naif, jorok, cuek gak mau mendengarkan orang yang dia sayang, dst…… (ini bisa jadi bahan untuk mengembangkan karakter dia).

Lalu, apa kata TAPI-nya di PREMIS ini?

Misalnya, tanyakan ini untuk bikin TAPI-nya:

  • Kenapa mantannya terus menjauhi dia? Karena mantannya tidak yakin dia berubah (contohnya).

Apa yang membuat TUJUAN ini (yang ada di PREMIS, yaitu ingin balikan dengan mantannya) sulit terwujud? Itulah HALANGAN. Makin konkrit kita nulis HALANGAN-nya, makin gak abstrak, maka nulisnya jadi makin gampang.

20150925_191016

Lo maunya nulisnya jadi apa? Cerpen atau novel?”

Penanya #1: “Novel.”

Di titik ini, Raditya Dika pun langsung meminta tolong panitia untuk memindahkan koneksi proyektor ke handphone-nya. Ia menggambar sebuah garis dengan aplikasi Sketch Note, tentang 3 babak tulisan, yang merupakan materi pelajaran di Kelas Hari Kedua.

Raditya Dika:

ACT 1, itu isinya pengenalan tokoh. ACT 2, ini nih isinya seru-seruan, lucu-lucuan, senang-senang. Buat dia sebahagia mungkin di ACT 2, dan MIDPOINT itu bagiannya yang dia paaaaaling seneng. Misalnya, di midpoint kita tulis kemungkinan dia mau jadian lagi. Nah, ACT 3, di sinilah kita tulis jatuhnya dia. Setelah seneng-seneng nih di ACT 2, kita bikin dia jatuh karena suatu hal. Lalu bikin konklusinya, dia bisa balik apa nggak? Need VS Want. Dia ingin apa… tapi yang dia butuhin sebenarnya apa.

20150925_193940 (Copy)

Misalnya, dia inginnya kan balikan sama mantannya? Ternyata yang dia butuhin itu bukan itu. Yang dia butuhin justru jujur sama diri sendiri. Yang dia butuhin itu bisa move on, misalnya. Jadi, nggak harus dia dapetin apa yang dia mau di awal cerita. Tapi kita kasih konklusi alternatif, yaitu dia dapetin apa yang dia butuhin.

Boleh nggak di akhir cerita dia dapet WANT aja? Boleh sih. Misalnya, dia akhirnya balikan sama mantannya. Tapi kalo gue sih lebih suka dia gak dapet WANT tapi dapet NEED, lebih berasa feel-nya. Lebih ngenes, tapi dia dapetin apa yang sebenarnya emang dia butuhin, yaitu perkembangan kepribadiannya dia, jadi lebih baik. Makin menderita makin bagus. Jadi ironi gitu, tapi membekas di hati pembaca.

Boleh nggak kalau misalnya tokoh ini dapet WANT dan dapet NEED sekaligus? Yaa, boleh juga sih. Misalnya dia bisa balikan sama mantannya, tapi kepribadiannya juga berkembang. Tapi kalau gue sih lebih suka kalau dia nggak dapet WANT melainkan dapetnya NEED, lebih berasa aja gitu. Tapi yaa itu terserah kalian mau prefer-nya yang kayak gimana.

Kalau target novel lo misalnya 120 halaman, tiga babak ini–ACT 1, ACT 2, ACT 3. ACT 1 lo berarti nulis pengantarnya di sini sampai halaman 24. Dua puluh halaman itu isinya itu aja, tentang ACT 1. Bangun perkenalannya di sana. Kalau udah nulis, trus kurang gimana? Kembangkan. Bikin backstory. Bikin tujuannya yang jelas. Kenapa? Karena kalau lo tahu tujuan kamu bikin 20 halaman itu untuk apa, maka lo gak bakal kehabisan ide.

Midpoint lo nanti pas di halaman 60, nah ini pas tokoh utama lo lagi bahagia-bahagianya, nih… ACT 3 itu lo tulis sampai halaman 90. Kalau ternyata lo nulisnya kurang dari itu, berarti penjabarannya lo kurang banyak. Atau masalahnya kurang.

Gitu ya. Ada lagi yang mau nanya?”


Penanya #2: “Gimana caranya supaya bikin perjuangan tokoh kita itu greget? Maksudnya, gue kan udah bikin konflik nih, tapi kok penyelesaiannya membosankan, jalan ceritanya kayak biasa banget, gitu, kayak kurang ada gregetnya.”

Raditya Dika: 

“Premisnya apa?”

Penanya #2: “Seorang anak perempuan ingin menanam jagung, tapi jagungnya ada di dunia lain.”

Seisi kelas tertawa, karena bengong mendengar isi premisnya yang unik. Raditya Dika juga tertawa.

Raditya Dika:

“Gimana? Gimana? Tujuannya apa? Masalahnya apa?”

Penanya #2: “Jadi gini.. Dia kan pengen banget nanam jagung, tapi jagungnya ada di dunia lain… Sementara dia (blablabla)…. Tapi dia .. (blablabla) Terus dia itu…. (dst dst)” (bercerita panjang lebar)

Raditya Dika:

“Premis itu harus satu kalimat yang utuh. Jadi kalau lo mau bilang premis lo, lo nggak boleh cerita kayak gini. Lo mesti rangkum itu semua dalam satu kalimat utuh yang bagus. Yang bikin orang-orang mau GARUK karena gatel liat premisnya. Gatel gitu, pengen garuk!

Gue ingetin ya. Jangan berani-berani nulis dulu sebelum bikin premis! Sebelum lo bikin premis yang lo tunjukin orang-orang sampe mereka bilang, GILA! GILA BANGET INI PREMIS LO! GATEL GUE! PENGEN GARUK!!

Coba lo perbaikin lagi premisnya.

Kenapa dia mau menanam jagung? Apa yang bikin dia merasa ingin menanam jagung? Kalo nggak nanam jagung emangnya kenapa? Orangtuanya collapse? Bangkrut? Atau jadi gila ortunya?”

Setelah berdiskusi selama beberapa menit, akhirnya Raditya Dika membantu menyimpulkan contoh premisnya menjadi seperti ini:

PREMIS:

SEORANG ANAK PEREMPUAN YANG MENCINTAI KELUARGANYA, INGIN MENANAM JAGUNG SUPAYA KELUARGANYA TIDAK GILA, TAPI TERNYATA JAGUNGNYA ADA DI DUNIA LAIN.

“Nah… Sekarang, HALANGAN-nya apa?”

Penanya #2: “Ternyata ada makhluk lain yang juga ingin menanam jagung di dunia itu. Jadi dia harus bersaing dengan makhluk itu.”

Raditya Dika:

“Oke. Sekarang kita bahas, gimana caranya supaya bikin cerita ini bisa jadi lebih greget. Ada beberapa cara, misalnya:

  1. Pakai STAKE/greget. (aku lupa penjelasannya, intinya bikin hal urgent yang harus dikerjakan segera , kalau nggak nanti terjadi sesuatu gitu, misalnya dia harus berhasil menanam jagung sampai batas apa, kalau nggak nanti seluruh keluarganya jadi gila)
  2. Kasih motivasi sang ANTAGONIS. Kenapa? Karena seburuk-buruknya lawannya, kasih alasan kenapa dia bisa jahat, yang bisa jadi malah bikin kita yang baca jadi pengen mendukung dia, jadi simpati sama dia. Apa yang terjadi dalam hidup dia yang bikin dia ngelakuin hal-hal jahat itu?
    Lo juga bisa kasih konflik siapa aja yang nggak setuju sama si tokoh aku ini, nggak setuju dia menanam jagung atau pergi ke dunia lain. Elemen cerita yang bagus itu punya konflik yang KUAT. Konflik itu tipis aja, nggak harus mendayu-dayu, yang penting kuat. Setiap adegan harus pnya karakter yang konfliknya tabrakan. Misalnya pas lagi ngomongin nikahan, karakter yang satu pengennya makanannya nasi goreng, karakter yang satu lagi pengennya nggak mau ada nasi goreng. Gitu aja udah bisa jadi konflik.
    Atau misalnya, bikin adegan mau putus di kafe. Lagi nangis-nangis nih, tapi konfliknya apa bentroknya? Oh, ternyata pas mereka berantem, ternyata kafenya itu udah mau tutup. Trus pas ceweknya nangis, yang punya kafe nyamperin dan bilang, “Mbak, mbak… Nangisnya boleh nggak, agak minggiran dikit?”
    (seisi kelas tertawa)
    Ini bisa diterusin jadi cerita komedi kan, misalnya kalau mau. Ini kan contoh aja. 😛
  3. KARAKTER. Nah ini.. Ini juga bisa dimainin. Makin unik karakter lo, makin greget ceritanya. Misalnya, ada koleksi foto-foto tempel apa aja dia di dinding kamarnya, apa rahasia yang dia sembunyikan yang orang lain nggak boleh tau, apa yang ada di kamarnya. Kenapa kamar itu penting? Karena kamar itu mencerminkan karakternya dia.
    Lo tau gak? Kalo bikin film nih ya, hal pertama yang harus dibuat benar itu adalah kamarnya. Bentuk kamarnya tuh harus pas sama kayak kepribadian dia. Apa aja yang dia pajang? Kayak apa warna kamarnya? Perintilan-perintilan itu yang susah… Tapi dengan begitu kita bisa mudah membayangkan seperti apa sifatnya dia.”

Raditya Dika pun menampilkan lagi garis ACT1, ACT2, dan ACT3 di layar proyektor.

20150925_192210 (Copy)

Ngintip Catatan Temen di Kelas Hari Kedua

Di ACT1 ini isiannya apa aja? Ini namanya story beat. Kita perkenalkan kenapa dia butuh jagung di babak pertama ini. Dari halaman 1-30.

Mulai dari halaman 30, ini masuk ACT2. Di sini nih nanti dia mulai masuk ke dunia lainnya. Di sini mulai petualangannya. Kalo di film Spiderman, ini pas Peter Parkernya baru mulai jadi superhero. Kalo di film UP, ini pas rumahnya naik. Dunia baru tuh nulisnya di sini. Yang penting, kalian harus bikin pembabakan ini duluan, sebelum menuliskan kata pertama di laptop.

Memang sih.. Ada penulis yang bilang… ‘oh, kalo gue sih lebih suka cerita gue mengalir, biar tokoh gue yang menjalankan ceritanya sendiri’ (alias nulisnya nggak pake perencanaan), tapi penulis yang nulis kayak gini biasanya ceritanya nggak rapi.

Halaman 30-60, itu tokohnya dibikin happy dulu. Bikin dia seneng dulu. Ceritain petualangan dia. Nanti dia paling happy itu di MIDPOINT, di halaman 60. Mulai dari halaman 60-90, dia mulai kehilangan segalanya. Situasinya lebih harus buruk daripada kehidupan dia dulu sewaktu kita memulai cerita.”

Peserta lain: “Harus lebih buruk, ya?”

Raditya Dika:

“Oh iya. Harus. WAJIB ITU. Lo harus bikin dia JAUH, JAUH lebih buruk daripada waktu pertama kali, pokoknya JAUH LEBIH BURUK!”


Penanya #3: “Ini premis gue. Seorang gadis yang merindukan sifat ayahnya yang dulu sehingga ayahnya berubah.”

Raditya Dika:

“Halangannya apa? Masalahnya apa?”

Penanya #3: “Jadi ayahnya itu sifatnya berubah, dan dia ingin ayahnya kembali seperti dulu, sembuh dari masalahnya.”

Sampai di sini, sebenarnya aku tidak begitu mengerti isi premisnya. Penanya pun mencoba menyampaikan ulang premis yang direvisi beberapa kali, tapi aku masih belum bisa menyimak intinya.

Raditya Dika pun membantu gadis itu merumuskan premis yang diinginkannya pelan-pelan. Seperti seorang guru yang sangat sabar dan piawai menuntun muridnya, Raditya Dika begitu telaten membimbing sang penanya dengan gaya khasnya yang selalu ramah, senyumnya lucu, dan aura kebapakan yang memancar deras.

*Ehm.. Maaf, mulai ngaco nih liputannya, hahaha..* *cuci muka* 

Raditya Dika:

“Ini rumus bikin PREMIS.

Seorang _________________ sangat ingin _________________ tetapi harus ______________.

Seorang (KARAKTER), sangat ingin (TUJUAN), tetapi harus (HALANGAN). Pakai rumus itu untuk bikin premis.

Kalo udah jadi, tes ke semua orang. Lo tunjukin ke semua orang premis lo, udah bagus nggak? Nggak papa jelek, karena tulisan lo memang pasti jelek (sambil ketawa). Gak papa, karena makin kita sering kita ngomong, ntar premisnya bakal berkembang sendiri. Karena lo jadi latihan terus. Pas lo ngasih tau orang lain, tiba-tiba lo dapat ide buat ngembangin premis lo, dari hasil ngomong dan diskusi sama orang lain.

Jangan takut dicuri. ‘Gimana dong ntar ide gue dicuri??’ Gak papa, jangan takut dicuri. Kan itu idenya tetap lo yang punya. Lagipula yang lo kasih lihat itu kan hanya premis. Eksekusinya kan itu ada di kepala lo. Kalau orang lain curi, biarin aja, toh dia nggak mungkin bisa ngembangin seperti yang ada di pikiran lo. Punya lo tetap ide lo lebih bagus.

Keuntungan yang didapat dari nunjukin premis ke semua orang ini, keuntungan yang lo dapat dari ngembangin premis berkat saran-saran dari orang lain, perkembangan kemampuan lo, itu keuntungannya JAUH LEBIH BESAR daripada kerugian lo kalau misalnya pun ide lo dicuri orang lain.


Penanya #4: “Kalau di tengah-tengah, kita mau bikin flashback, itu gimana? Masuknya ke mana?”

Raditya Dika:

Flashback itu terserah aja, mau ditulis di mana, kan tujuannya udah ditulis di ACT. Fungsi flashback itu nanti sebagai bagian dari adegan. Boleh ditaruh di ACT1, boleh di ACT2, boleh di ACT3. Flashback itu memperkuat tujuan kita, jadi nggak ngaruh harus ditaruh di mana, sesuai tujuan aja.”


Penanya #5: “Kalau di Drama Korea gitu kan kita sering liat banyak tokoh cowok yang too good to be true.. di novel-novel juga banyak yang kayak gitu. Itu gimana? Misalnya, gue mau bikin tokoh cowok yang perfect tapi playboy, dan pengen ketemuin dia sama satu cewek yang bikin dia insyaf. Tipe cewek yang kayak gimana yang bisa bikin dia insyaf? Soalnya kan dia udah perfect gitu.”

Raditya Dika:

“Nah ini tentang KARAKTER nih. (pelajaran Kelas Hari Ketiga)

Menurut gue, karakter yang terlalu sempurna itu nggak ada asyik-asyiknya. Cari kelemahannya. Superman aja punya kelemahan, dia lemah sama Kryptonite.

Kenapa dia playboy? Oh, mungkin karena dulu pernah disakiti orang lain, jadi dia segera pindah sebelum disakiti orang lain.”

CATATAN NAYA: ^kalimat bijaksana di atas langsung menginspirasi Radit buat menulis status inspiratif ini di Facebook Page-nya, KEESOKAN HARINYA. Wkwkwkwk……..

Picture7]

“Dia punya kebutuhan untuk sembuh dari masa lalu. Perempuan ini yang dia butuh, perempuan yang bisa menyembuhkan dia. Memperkenalkannya dengan cara apa? Misalnya, dia masuk ke Dufan, trus ceweknya petugas Bianglala, dia naklukin cewek itu supaya bisa naklukin Bianglala.”

Sampai di sini, aku sebenarnya gak mudeng sih apa maksud omongan si Radit barusan. Ceweknya petugas Bianglala? Naklukin bianglala? Hahaha. Tapi yaa, intinya itulah. Intinya bikin sosok cewek yang bisa nyembuhin dia dari trauma masa lalu dia.

“Gue kasih contoh, Miko misalnya. (Tokoh rekaan Raditya Dika di serial Malam Minggu Miko)

Miko takut ngomong sama orang lain. Karena dia nggak pernah ngerasa accepted / diterima. Ryan masuk dan ngasih tau Miko, bahwa dia tuh sebenarnya bisa. Kenapa Ryan ngasih tau Miko? Karena Ryan sendiri orangnya nggak pedean, makanya dia sotoy suka ngasih-ngasih tau orang aja beraninya.

Nah jadi gregetnya cerita lo yang tadi itu adalah gimana caranya bikin dia ketemu pacarnya itu, gimana prosesnya, dll, bisa nggak cewek itu bikin dia insyaf.”

Catatan Naya lagi: Maafkan hasil liputanku yang bagian ini, agak loncat-loncat, soalnya Radit ngomongnya cepet dan banyak banget.


Penanya #6: “Ini naskah gue. Tolong dibedah ya.”

20150925_195639 (Copy)

Raditya Dika:

“Ini terlalu banyak deskripsi nih (di satu kalimat yang mana), merunduk, menangis, bersandar. Merunduknya gimana? Menangis gimana? Bersandar gimana? Dijabarkan.

Ini premisnya apa?”

Penanya #6: (aku lupa detailnya, tapi intinya dia bilang ujung-ujungnya nanti bakal ketahuan kalau si Arina itu mencuri karena selalu di-bully sama teman-temannya di sekolah. Dia dipaksa harus selalu traktir teman-temannya.)

Raditya Dika:

“Kenapa dia nggak pernah ngasih tau ibunya kalau dia di-bully di sekolah?”

Penanya #6: “Karena dia pemalu.”

Raditya Dika:

“Kenapa dia pemalu? Apa yang terjadi dengan masa lalu dia? Dia dididik dengan cara apa di keluarganya? Dia punya kakak, nggak? Dia sering dibandingin nggak sama kakaknya? Cari apa yang bikin dia minder. Cari solusinya sehingga dia nggak perlu lagi traktir teman-temannya. Cari alasannya, baru perbaiki.”

Oke.

Break sebentar.

Sampai di sini, saat menulis paragraf di atas, sekarang aku baru nyadar kalau Radit punya bakat sebagai seorang psikolog. Honestly, nggak semua orang bisa mikir kayak gitu lho. Mendalami masa lalu seseorang, memahami orang lain, memahami kenapa dia bisa melakukan hal itu, memahami latar belakang keluarganya, latar belakang masa lalunya… Bahkan walaupun ini tokoh fiksi sekalipun, kemampuan analisa dan observasi psikologis macam ini, biasanya cuma ada pada orang-orang yang berbakat jadi psikolog, yang suka mengamati orang lain. Some gifted people. Hahaha. 😛

Lanjuts yak…

Raditya Dika:

“Kalimat pertama dimulai dari tengah. (maksudnya, kalimat pertama dari sebuah tulisan, itu sebaiknya langsung saja menceritakan pertengahan adegan, supaya langsung menarik perhatian pembaca dan seru)

Ini udah bagus masuknya nih. Mulainya udah di tengah. Tiba-tiba dia ketahuan sama ibunya mencuri uang. Problem gue cuma satu. Ini sinetron banget.

‘MAU JADI APA KAMU?? Ha?? MAU JADI APA KAMU….’ (Radit menirukan gaya lebay ibu tiri di sinetron-sinetron Indonesia, seisi kelas terbahak-bahak)

Kan nggak mesti ditulis begini, ini kayak sinetron nih. Kalau sinetron sih gapapa kayak gini.

Problemnya apa? Ibunya nggak suka perilaku anaknya, kan? Jangan dibikin hitam putih… Ibunya marah-marah terus. Coba kalau ibunya diem. Diem aja. Trus anaknya ngeliatin ibunya, ‘Ibu.. ngomong dong..’ trus ngeliatin ibunya nangis. Ibunya bilang begini sama anaknya, ‘Kenapa kamu kayak gini? Ini sudah ketiga kalinya minggu ini… Almarhum papa kamu pasti kecewa.’ Ini ditulis di bagian paling awal. Beeuhhh. Dalem nggak tuh?

Daripada ‘MAU JADI APA KAMU??  HAA? MAU JADI APA KAMUU’ (Kelas tertawa lagi)

Jadi, gitu ya.. Kita bikin lebih khusyuk. Kalau awalnya udah marah-marah kayaknya gimana gitu.

Ketika kita merekonstruksikan suatu adegan, kita bayangkan dulu apa yang mau diceritakan. Lalu cari cara terbaik menggambarkannya. Kalau ditulis dengan marah-marah, itu hanya sekali duduk. Cepet selesai. Tapi nggak bagus. Cerita yang bagus itu, kayak yang gue bilang kemarin, tiga kali duduk. Bisa nggak bikin adegannya lebih asyik? Kalo ibunya nggak marah, gimana? Kalau ibunya kita bikin menangis, gimana? Apa efeknya buat karakter utamanya?

Lebih kompleks jadinya kepribadiannya.”

Setelah menjelaskan hal tersebut, Radit kemudian men-scroll lagi tulisan itu lalu mengomentari soal pemakaian tanda baca. Misalnya seperti tanda titik-titik yang digunakan penulis, tanda seru, dan tanda baca lain, yang kayaknya kurang sreg di mata Radit.

“Ini namanya SELINGKUNG, gaya seorang penulis membuat tulisannya sendiri. Kalo gue sih, tanda serunya satu aja. Titik-titik gini biasanya gue bikinnya koma.

Oh iya. Jangan bikin tiga paragraf yang bercerita tentang adegan yang sama. Bikin ESKALASI. Bikin ada sesuatu yang baru terjadi. Misalnya, setelahibunya  bangkit, di paragraf berikutnya ibunya buka kasurnya ‘Jangan-jangan di sini juga ada duitnya!’, kemudian Arina langsung berteriak, ‘JANGAN, BU!’ terus ternyata di balik kasur itu banyak uangnya yang dia sembunyikan.

Hal-hal kecil gini yang bikin lebih berwarna.

20150925_200703 (Copy)

Jangan bikin jam. Jam menunjukkan pukul 7.45 pagi. Kenapa nulis gini? Sama nih kayak yang pernah gue jelasin kemarin. Hilangkan kebiasaan menulis jam di bagian awal cerita. Juga menulis soal matahari, bulan, bintang… yang kayak gitu nggak usah. Hari ini matahari panas terik, awan-awan putih di langit biru……… Bulan…. Bintang……. Hindari itu ya.

Bikin tulisan yang lebih asyik. Caranya?

Lo balik lagi, tujuannya lo bikin adegan itu untuk apa? Misalnya di tulisan ini nih, tentang Arina di sekolah. Lo jelasin, di sekolah itu kayak apa? Ada apa aja di sekolahnya? Gimana suasana di sekolahnya? Ada anak-anak yang tergesa-gesakah? Arinanya lagi apa saat itu?

Show the situation, show the time, bukannya nggak boleh sama sekali.. Boleh. Cerita soal matahari, bulan, bintang, boleh.. Pakai jam juga boleh-boleh aja. Tapi di luar sana, ratusan penulis lain juga yang menulis model begini. Lo nggak ada ciri khasnya. Sama aja gitu sama yang lain.

‘Arina, prmu udah dikerjain semua? Pinjem dong!’

Ini kan habit. Si Arinanya udah sering kan minjemin PR? Udah pasti ngerjain PR juga kan? Ngapain nanya lagi? Mendingan langsung dibikin aja.

‘Rin. Mana?’ 

Nah. Kalo gini, ada dominasi. Antara Putri terhadap Arina. Gambarin relationship-nya. Ini temannya Arina. Kalau si Putri itu dominan, nggak mungkin kalimat minjem PR-nya kayak yang lo tulis gini. Pasti lebih nyelekit kalimatnya.

Penulis itu kayak pelukis. Kalau pelukis, dia punya kuas, punya warna-warna yang bisa dia pilih untuk lukisannya. Kalau kita sebagai penulis, kita punya kata-kata. Gimana cara kita merangkai kata-kata itu, untuk menggambarkan kejadiannya Arina di-bully oleh teman-temannya. Itu kita yang harus pintar memainkan kuasnya kita. Pilih warna yang pas.”


BERSAMBUNG…

INGIN BACA ULASAN PART2 ? KLIK DI SINI > >

 

Mini Gathering Penulis Elex Media #GathNovel (22 Agustus 2015)

Comments 26 Standar

20150822_131115 (Copy)

Kali ini aku akan sharing pada kalian tentang acara Mini Gathering Penulis Elex yang kuikuti tanggal 22 Agustus 2015 kemarin.

Sempat jadi trending topic di Twitter lho! Coba cek yaa live tweet-nya dengan hashtag #GathNovel

Acara ini adalah semacam temu jumpa antara para penulis novel Elex (yang selama ini hanya kenal di dunia maya atau hanya baca bukunya aja) dengan editor-editor mereka, juga dengan kru lainnya dari Penerbit Elex Media.

Tidak hanya itu. Di acara ini, aku juga disuguhi pencerahan tentang berbagai hal menarik dari kacamata retail dan industri penerbitan; online bookstore sebagai partner para penulis dan pembaca (pengenalan Gramedia.com); serta hubungan kerjasama antara novelis, komunitas, retail dan publisher (melalui portal baru milik Elex Media yakni Elexmedia.id).

undangan gathering novel EMK

Sebagian konten seminarnya pernah kutulis di akun Twitter-ku @NayaCorath dalam #NayaKultwit hari Sabtu, tanggal 22 Agustus 2015 (oh ya, aku mengadakan #NayaKultwit dengan berbagai topik menarik setiap jam 8 malam lhoo.. makanya jangan lupa follow Twitterku ya!).

Isi dari kultwit itu sebagai berikut:

  1. Hari ini aku ikut #GathNovel di kantor @elexmedia, semacam mini gathering u 30 penulis #Elex. #NayaKultwit

  2. Selain temu jumpa antara penulis & editor #Elex, di #GathNovel ini kita dpt pencerahan ttg dunia retail buku dan penerbitan. #NayaKultwit

  3. Tahukah kamu? Buku yg bru dtg ditaruh di bagian “New Arrival” selama rentang display 1 bulan. #GathNovel #Elex #NayaKultwit

  4. Tahukah kamu? Buku2 yg ditaruh di bagian “Best Seller” juga punya waktu display satu bulan. #GathNovel #Elex #NayaKultwit

  5. Buku “Recommended” -> Penulisnya terkenal / Judul2 bukunya si penulis udh banyak / lagi Trending Topic. #GathNovel #Elex #NayaKultwit

  6. Buku2 lain dipajang di rak biasa maks 3 atau 4-6 bulan. Kalo gak laku, buku bakal di-retur ke penerbit. #GathNovel #Elex #NayaKultwit

  7. Jadi, 3 bulan pertama adl masa2 penting utk promosi. Kalo ga laku, setelah 3 bln ga ada lagi di toko buku. #NayaKultwit #GathNovel #Elex

  8. Teman2 mau beli buku, jgn terlalu lama dr waktu launching, u/ support penulis spy bukunya tdk di-retur. #GathNovel #Elex #NayaKultwit

  9. Toko buku selalu kedatangan ratusan judul baru tiap bulannya, mknya masa display buku sbelumnya cuma 3 bln. #GathNovel #Elex #NayaKultwit

  10. Lebih dr 3 bln, buku ditaruh di gudang. Klo kita cari di toko buku, out of stock. Pdahal ada tpi di-retur. #GathNovel #Elex #NayaKultwit

  11. Dan di gudang besarnya, ada banyak banget buku, yg nilainya turun drastis dan bisa2 dibakar. Hiks. 😭 #GathNovel #Elex #NayaKultwit

  12. Alternatif selling di toko buku, ada active selling, program sale khusus, talkshow. U/ningkatin penjualan. #GathNovel #Elex #NayaKultwit

  13. Active selling itu.. yg biasanya mba2 kasir suka nawarin buku, “Mau beli buku yg ini juga ngga mas?” #GathNovel #Elex #NayaKultwit

  14. Program display khusus, misalnya ky klo ada event2, Valentine, atau bundling tema2 tertentu. #GathNovel #Elex #NayaKultwit

  15. Talkshow dg penulis di toko buku jg sering diadain utk ningkatin penjualan. Mis talkshow @radityadika #GathNovel #Elex #NayaKultwit

  16. Selain lewat chanel distribusi Gramedia, buku2 #Elex juga didistribusikan di toko buku retail lain. #GathNovel #NayaKultwit

  17. Kontribusi sales di chanel lain ini juga cukup besar.. kira2 bisa 30% dr total penjualan. #GathNovel #Elex #NayaKultwit

  18. Selain itu, skrg juga sudah ada toko buku online yg bisa mewadahi penjualan buku2 lama. #GathNovel #Elex #NayaKultwit

  19. Jadi, buku2 yg di-retur tadi ada harapan utk bs dijual lgi, walau sudah tdk bs dipanjang di rak toko buku. #GathNovel #Elex #NayaKultwit

  20. Jadi teman-teman.. support penulis kalian ya dg cara lsgs beli buku2nya setelah launching! Okey? 😉 #GathNovel #Elex #NayaKultwit

Nah.. Mulai dari sini, aku akan tulis penjelasannya sebanyak yang aku ingat, alright? Kalau ada bagian yang ketinggalan atau ada yang tidak kalian mengerti, langsung balas aja di bagian comment blog di bawah ini, yaa..? Nanti bisa langsung aku jawab dengan penjelasan yang lebih panjang.. 😀

Here we go!

Acara sharing session ini dibagi menjadi tiga topik (bisa dilihat di gambar undangan di atas), yaitu:

  1. Retail & Publishing Industry Insight
  2. Online bookstore as author’s partner
  3. Let’s syncronize!

 

Retail & Publishing Industry Insight

Sesi ini adalah sesi sharing dari pihak toko buku Gramedia tentang apa yang mereka lihat dari penjualan sebuah buku dan bagaimana harapan mereka terhadap para penulis dalam industri penerbitan buku. (Pembicara: Mbak Indri dari Tb.Gramedia Pondok Gede dan Mas Yoyok dari Tb.Gramedia AEON)

Kultwit yang kutulis di atas..? Yup, kultwit itu membahas isi sesi ini.

20150822_100718 (Copy)

Mbak Indri mengawali dengan menampilkan Top 10 Books–Daftar Sepuluh Buku Terlaris di toko buku Gramedia pada bulan Juli 2015. Bisa lihat yah daftarnya? Yeaay! Nomer #1 nya Detective Conan. Favoritku! Hihihi. *jingkrak2

Lalu, mbak Indri melanjutkan dengan penjelasan.. apa sih yang disebut dengan NOVEL BESTSELLER itu? Gimana caranya supaya novel kita bisa bestseller?

20150822_101046 (Copy)

Kalau dilihat dari trend-nya, ternyata novel-novel bestseller itu rata-rata punya minimal salah satu dari lima elemen yang disebutkan berikut ini:

  1. Penulisnya sudah punya komunitas sendiri, atau memiliki banyak follower dan basis penggemar di sosial media, seperti Twitter, Instagram, dll;
  2. Buku yang diadaptasi jadi film atau sinetron juga biasanya langsung meledak jadi buku bestseller; (contohnya novel-novel Asma Nadia, Habiburahman El-Shirazy, Dee Dewi Lestari, dan buku biografinya mbak Alberthiene Endah)
  3. Penulisnya sudah pernah terkenal sebelumnya (biasanya memang dicari-cari penggemar yang sebelumnya) atau pernah bestseller dulu minimal sekali;
  4. Novel dari penulis yang karyanya sudah banyak; (contohnya Tere Liye)
  5. Novel yang ceritanya memang bagus;

Untuk yang poin nomor #5, ternyata tidak semua novel yang bagus itu laku di pasaran. Biasanya ini dialami oleh kebanyakan novel penulis pemula, padahal isinya bisa jadi sangat bagus. Oleh karena itu, berhubung faktor laku tidaknya buku di pasaran itu tidak cuma ditentukan oleh isinya saja, para penulis pun dihimbau untuk aktif mempromosikan karya-karyanya dan memiliki komunitas yang potensial untuk menjual karya-karyanya, karena itu akan meningkatkan peluang buku yang ditulis masuk ke dalam jajaran Best Seller di toko buku.

Lalu, apa sih definisi Best Seller bagi pihak toko buku Gramedia? 20150822_101332 (Copy)

Buku-buku bestseller yang ditata rapi di rak-rak “BESTSELLER” yang biasanya kita lihat di toko buku Gramedia itu, definisinya menurut pihak toko buku adalah buku-buku yang memiliki penjualan tertinggi berdasarkan value atau rupiah. Dengan kata lain, total akumulasi rupiah yang masuk ke kasir toko buku (bukan berapa jumlah bukunya).

Sebagai contoh, kalau buku A terjual sebanyak 100 eksemplar dan bernilai total Rp3.000.000, sedangkan buku B terjual sebanyak 50 eksemplar dan bernilai total Rp5.000.000, maka bagi toko buku, buku B-lah yang value-nya lebih tinggi daripada A dan lebih berpeluang masuk rak bestseller ketimbang buku A–walaupun A terjual lebih banyak.

Catatan Naya: Kalo gitu, nanti novelku kujual seharga 1 juta per buku aja kali yah..? Biar kejual lima tapi langsung masuk bestseller..Wkwkwk *tapi siapa yang mau beli xD

Pembahasan berikutnya yang tidak kalah menarik adalah tentang siklus buku di toko buku Gramedia.

20150822_101609 (Copy)

Buku-buku yang baru datang akan dipajang di rak “NEW ARRIVAL” dengan waktu display maksimal 1 bulan. Kalau ada di antara buku-buku ini yang ternyata memenuhi syarat BEST SELLER, maka buku yang beruntung tersebut akan di-naik-tahta-kan ke rak “BEST SELLER”, seperti pada gambar berikut.

20150822_101838 (Copy)

Di rak best seller ini, biasanya berisi 30-60 judul buku per floor display, dan waktu evaluasi displaynya juga sama, yaitu 1 bulan. Kalo 1 bulan berikutnya buku itu memenuhi syarat best seller lagi, dia akan terus nongkrong di sana. Kalau bulan berikutnya udah nggak best seller, maka buku itu akan dipindahkan ke rak biasa.

20150822_102148 (Copy)

Selain rak “BEST SELLER”, ada juga yang namanya rak “RECOMMENDED” (biasanya yang ada di display sisi samping rak sepanjang koridor utama, yang pertama kali kita liat pas lagi jalan-jalan nyari-nyari buku). Buku-buku yang dipanjang di rak ini biasanya dipertimbangkan berdasarkan tiga poin berikut:

  1. Penulisnya terkenal.
  2. Penulis yang judulnya sudah banyak.
  3. Buku yang lagi trending topic. (alias lagi hot dibahas)

Waktu display untuk rak “RECOMMENDED” ini adalah 1-3 bulan.

Lalu, bagaimana dengan buku-buku yang ada di rak-rak biasa?

20150822_102259 (Copy)

Pasca NEW ARRIVAL dan BEST SELLER, buku-buku yang nggak nongkrong di rak “NEW ARRIVAL” dan “BEST SELLER” lagi akan dipindahkan ke rak biasa. Waktu display untuk buku-buku ini adalah 3 sampai 4 atau 6 bulan.

Lalu, apa yang terjadi setelah 6 bulan? Dipindahkan ke mana lagi? Gudang.

Nah.. Di sinilah cerita sedihnya. Hiks. *air mata bombay*

Lewat dari 6 bulan, buku-buku yang tidak/kurang laku akan dikembalikan lagi ke pihak penerbit. Dengan kata lain, waktu maksimal kalian bisa melihat buku penulis idola kalian di nongkrong buku adalah hanya 6 BULAN saja setelah waktu launching buku pertama kali. Jadi, lebih dari 6 bulan, buku itu tidak akan ada lagi di toko buku.

Buku tersebut di-retur ke pihak penerbit dan ditaruh di gudang penerbit. Harga jualnya langsung jatuh dan lebih sulit didapatkan kembali/diakses oleh penulis maupun pembaca. Buat penulis yang tidak beruntung, bisa jadi ini adalah akhir dari masa hidup bukunya di dunia yang fana ini…. :'((

20150822_102803 (Copy)

Buku-buku yang menumpuk di gudang ini, somehow dibuatkan program-program penjualan khusus untuk menghabiskan stoknya, misalnya seperti program DISKON 50% atau CUCI GUDANG yang biasanya kalian lihat di mall-mall atau di pameran-pameran buku. Dan royalti untuk penulisnya juga tetap diambil dari 10-15% dari harga CUCI GUDANG ini (bukan dari harga buku awal), alias… kalau harga bukunya 40rb, harga cuci gudang 50%*40rb=20rb, maka royalti penulis cuma 10%*20rb=2 ribu perak per buku…. *kasihanilah hamba ya Tuhan :'((

Belum lagi harus dipotong pajak penghasilan 15% jadi 85%*2ribu perak = 1700 perak per buku. 

Huwaaa.. tegakah kalian membayar penulis yang kalian sayangi ini hanya 1700 perak untuk bukunya… :'(( *sakitnya tuh di sini, Mama.. *duitnya langsung habis buat beli tisu

Oh ya, hitung-hitungan royalti di atas tsb nggak ada dibahas di Mini Gathering Penulis Elex Media, itu catatanku dan curcolku aja hahaha.. Kalau kalian penasaran, pembahasan lebih lengkap tentang kecilnya apresiasi terhadap penulis di Indonesia bisa kalian baca di blognya mbak Triani Retno di TRIANIRETNO.COM.

Anyway, lanjut yang tadi..

Ada yang lebih sedih lagi daripada buku yang dijual di diskonan cuci gudang. Yaitu, buku yang nggak terjual (kira-kira dalam waktu evaluasi 1 tahun), ada kemungkinan akan dibakar.

*langsung meratap di pojokan*

*sunyi… senyap

(pingsan)

Okeh.. Sebelum aku tambah frustasi (wkwk), aku lanjutin dengan slide berikutnya ya. Ketika masih dalam masa aktif pajang buku di toko buku, ada beberapa cara lain yang dilakukan oleh pihak toko buku untuk meningkatkan penjualan buku-bukunya.

20150822_103000 (Copy)

Alternatif teknik penjualan tersebut antara lain:

  1. Active selling; (biasanya kayak pas mbak-mbak kasir suka nawarin, “Mas, mau beli buku yang ini juga nggak?” mbak kasirnya dapat insentif lho untuk setiap buku yang terjual lewat active selling..)
  2. Program display khusus (misalnya tema-tema tertentu, kayak Valentine, Ramadhan, dst..)
  3. Talkshow dengan penulis (misalnya talkshow dengan Andrea Hirata atau Raditya Dika di toko buku, dst..)

Bagaimana dengan trend penjualan buku-buku berjenis novel di toko buku Gramedia? Good news! Ternyata dari tahun ke tahun, trend-nya Nenaik terus! 😀

20150822_104909 (Copy)

Begitu pula dengan trend penjualan novel dari Penerbit Elex Media.

20150822_104950 (Copy)

Selanjutnya, aku permisi ke toilet dan nyangkut di sana agak lama, karena keasyikan ngobrol sama salah satu penulis, mbak Erin – RENI ERINA, tentang komunitas penulis CK yang didirikannya. Ini adalah komunitas penulis dan belajar menulis yang sudah memiliki basis lebih dari 15.000 penulis tersebar di seluruh Nusantara. *eh bener kan ya mbak?

Ketika aku balik lagi ke ruangan, editor (Mbak Afrianti) dan prolis/marketing (Mbak Intan) Elex Media sekarang yang menjadi pembicara di depan. Aku kayaknya ketinggalan cukup banyak, tapi intinya mereka menganjurkan para penulis untuk aktif berkomunikasi dengan para pembaca mereka, disertai dengan tips-tips melakukan interaksi via sosial media.

20150822_113141 (Copy)

20150822_113213 (Copy)

20150822_113334 (Copy)

 

Online Bookstore As Author’s Partner

Sesi sharing yang kedua ini diisi oleh pihak Gramedia.com (Pembicara: Mas Lemon), yang membahas tentang kerjasama antara toko buku online dengan para penulis dalam hal penjualan buku-buku di dunia online.

Di sini dibahas tentang trend pasar pembeli online di Indonesia, yang semakin lama semakin menunjukkan potensi yang sangat besar.

20150822_114438 (Copy)

Catatan Naya: Emang bener sih.. Di Indonesia, dewasa ini masyarakat udah semakin terbiasa belanja online, dan udah mulai trust sama yang namanya belanja online. Kalau dulu kan kita masih banyak yang takut-takut.. Nah. Kalian sendiri gimana? Pernah belanja online, kan? Gimana rasanya? Mudah, kan? 😀 Bahkan menjamurnya aplikasi GoJek aja udah menunjukkan trend masyarakat mulai percaya dan bergantung pada kemajuan teknologi dan internet. 😀

20150822_114526 (Copy)

Dalam lima tahun ke depan, online shop di Indonesia akan bertumbuh minimal 10 kali lipat daripada yang sekarang! WOWWW.

20150822_114617 (Copy)

Hasil riset online menunjukkan kalau 46% pembeli online cenderung akan membeli online lagi dalam 12 bulan ke depan. Di riset ini juga ditemukan bahwa 77% penjual online beralasan memilih menjual online karena ada sangat banyak orang yang membeli online. Bahkan, 46% orang Indonesia yang nggak pernah beli barang online seumur hidup aja, minimal bilang kalau mereka punya rencana pengen bisa beli barang online dalam 12 bulan ke depan.

Berikut ini contoh-contoh pemain toko online di Indonesia. Pasti sudah banyak yang kalian kenal, kan?

20150822_114624 (Copy)

Selanjutnya… Kita akan membahas toko buku online dari toko buku kesayangan kita. GRAMEDIA.COM

20150822_114651 (Copy2)

Ada beberapa slide yang menjelaskan tentang visi misi Gramedia.com ke depannya, karena sambil ngobrol sama tetangga, aku cuma sempat foto beberapa ini. Tapi cukup menjelaskan, kan? 😀

20150822_114656 (Copy)

Gramedia.com memiliki target untuk menjadi toko buku online terbesar di Asia Tenggara, dengan jumlah koleksi barang yang dijual sebanyak lebih dari 100.000 item, dan lebih dari satu juta pengunjung setiap bulan. *mari kita doakan, aamiin ya Rabb 😀

20150822_114751 (Copy)

Gramedia.com juga sedang menyiapkan warehouse/gudang sendiri. Mirip kayak Amazon.com yang juga punya gudang sendiri untuk barang-barang yang dijual online di website mereka. Serta ke depannya juga akan ada Call Center.

20150822_114917 (Copy)

Kalian bisa beli buku online di Gramedia.com ini. Banyak diskon, kadang-kadang di waktu-waktu tertentu juga ada potongan harga khusus.

20150822_115920 (Copy)

*btw.. ini kenapa aku jadi promosi terus yak..? Hehehe. Saya nggak dibayar untuk promosi kok, kak… :3

Intinya, rekan-rekan penulis bisa bekerjasama dengan toko buku online (khususnya Gramedia.com) untuk menyediakan buku-buku mereka agar bisa diakses oleh para pembacanya, dari seluruh penjuru Indonesia. Jadi, kalau misalnya di toko buku sudah tidak ada, atau males ke toko buku ribet pengen klak-klik langsung anter, kita bisa merekomendasikan buku kita untuk dibeli via e-bookstore/toko buku online.

Toko buku online ini juga adalah solusi bagi masalah yang tadi kita bahas di atas di sesi pertama, soal siklus hidup buku di toko buku fisik yang terlalu pendek (hanya 6 bulan). Jika buku dipajang di toko buku online, maka buku ini bisa diakses oleh pembeli dan pembaca selamanya (selama lagi ada stok), tidak lagi harus digusur oleh evolusi alam. :'((

Tidak ada lagi yang harus meratap di pojokan, atau jongkok cantik di samping lemari sambil nonton film Spongebob… :'((

Catatan Naya: Iya.. iya… ini lagi berusaha keras buat nulis serius. Ampun.

Oh ya, satu lagi. Ke depannya, Gramedia.com juga berencana untuk mengadakan program kerjasama dengan toko buku Gramedia. Jadi gini. Misalnya nih, kita lagi jalan-jalan di toko buku Gramedia, nyari novel ETERNAL FLAME karangan Naya Corath dkk, eh gak taunya dicari-cari gak ada… Nah, kita bisa request sama petugas toko buku Gramedia untuk pesan online, di situ, saat itu juga. Jadi, orang Gramedianya bakal buka aplikasi untuk mesan novel ETERNAL FLAME via Gramedia.com, kita bayar langsung ke kasir, dapet struk pembelian, nanti bukunya bisa kita ambil janjian misalnya mau diambil berapa hari lagi di situ. Atau bisa juga minta tolong diantar langsung ke rumah. Enak kan? Hehehe.

 

Let’s Synchronize!

Sesi ketiga ini diisi oleh tim teknis IT (Mas Yodha) dan marketing (Mas Edgar) dari Penerbit Elex Media, yang menjelaskan tenang pentingnya website Elexmedia.id bagi rekan-rekan pembaca dan penulis.

Tunggu dulu. Apa itu Elexmedia.id?

Picture1

Elexmedia.id adalah portal baru miliki Elex Media yang menyajikan daftar informasi terbaru tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Elex Media. Buku-buku terbaru? Komik keluaran terbaru? Penulis-penulis Elex? Forum-forum ngobrol dengan penulis-penulis Elex? Baca tulisannya penulis Elex? Kalian bisa lakukan itu semua di website ini.. Gratis! (malah ada hadiahnya, buat yang berhasil ngumpulin poin, bisa ditukar sama merchandise tertentu)

Secara umum, fitur-fitur di website ini adalah penggabungan dari kekuatan sosial media (iya, kalian bisa update status di sana, add friend, dkk) dan kekuatan forum dan komunitas (bisa ngobrol di thread, di grup-grup), juga kekuatan informasi (menampilkan berita-berita terbaru tentang dunia buku di penerbit Elex Media).

Jadi, jangan lupa daftar dan berpartisipasi di portal ini ya! Terbuka untuk umum, baik pembaca maupun penulis, gratis.. Ya, gratis. Mau ditulis berapa kali lagi soal gratis? Hehehe. 😛

Honestly, aku nggak banyak foto-foto layar presentasi di sesi ini, karena kebanyakan moto selfie sama moto-motoin orang-orang yang duduk di belakangku. (iya, aku duduk paling depan)

20150822_121801 (Copy)

Aku udah daftar lho! Kalian daftar juga yaa…. Jangan lupa add aku as friend kalian yaah, aku temannya baru 9 nih.. hiks….. 😥

Picture2

Buat teman-teman pembaca novel blog seri Friday’s Spot: JULIE LIGHT & KELAS PRANCIS, di portal ini aku juga mem-publish teaser dari novelku berikutnya….. Prekuel dari Friday’s Spot Julie Light dan Kelas Prancis.

Alias.. ini terjadi sebelum Julie bersekolah di Nimberland.. SEBELUM Julie ketemu sama The Lady Witches dan Richard!

Yup!

Ini novel yang setting-nya kubikin ketika Julie Light masih SMP, di Springbutter Middle School. Ada Jessie dan Kayla, tenang aja. Hehehe. Mereka kan sahabatan  dari SMP. Di novel ini aku juga akan lebih lepas menuliskan kebadungan-kebadungan Julie di masa SMP-nya, yang jelas-jelas lebih parah daripada jaman SMA di Nimberland. Penasaran? Penasaran? Coba intip di ElexMedia.id yaa.

Emm. Oh ya. Bahkan teaser itu nggak aku publish di blog ini lho. Cuman di website Elexmedia.id aja…. Kalian gak akan temukan di tempat lain. (kenapa yah? aku juga gak tau.)

Silakan baca di sini yah! FRIDAY’S SPOT: PENGACAU DI SPRINGBUTTER

Picture3

Prekuel dari dunia Friday’s Spot: Julie Light dan Kelas Prancis

Oke. Sekian dulu postinganku kali ini. Last but not the least, aku mau pamer foto bareng editorku dan tim penulis kesayanganku di novel ETERNAL FLAME.

20150822_131631 (Copy)

Dan pamer dapet buku “Wedding Rush” dari Elex Media, bukunya penulis novel bestseller Jenny Thalia Faurine, yang pas banget duduk di belakangku, trus langsung aku minta tanda tangan dan foto barengnya, hehehe..

20150822_140513 (Copy)

Kalian tahu kan aku tinggi? (eh, tau nggak ya? hehehe).. Ini pertama kalinya aku harus foto setengah jongkok sama Jenny untuk mengimbangi tinggi mereka berdua…

*oknum –> Kristina Yovita dan Nurisya Febrianti.

20150822_140641 (Copy)

Oh ya, ulasan tentang acara Mini Gathering Penulis Elex Media ini juga ditulis oleh Nurisya Febrianti di blognya, dengan perspektifnya yang pasti beda dari aku.. Hehehe.. Dia bakal membahas beberapa hal di belakang layar yang tidak aku bahas di blog ini. Yuk, klik dan baca tulisannya di sini! 

Review ini juga ditulis oleh penulis novel Arumi E. di blognya (duduk dua baris di belakangku di acara Mini Gathering ini).. Yuk, klik dan baca tulisannya di sini! 

Kesimpulan utama yang bisa kuambil dari mini gathering ini adalah sebagai berikut:

  1. Ternyata banyak banget rekan penulis yang bahkan belum pernah tatap muka sama editornya (baru kenal saat itu juga).
  2. Apalagi dengan sesama rekan penulis, lebih belum pernah lagi. Misalnya, aku kenal Pretty Wuisan cukup lama di dunia maya, tapi baru kali itu ketemu langsung dan akhirnya ngobrol panjang setelah sesi seminar berakhir.
  3. Teman-teman, kalau kalian sayang sama penulis kalian, mohon support mereka yaa dengan cara langsung membeli buku mereka yang baru launching, saat itu juga. Jangan tunggu besok, bulan depan, dua bulan lagi, apalagi tahun depan. Hiks. Tanpa dukungan kalian, buku itu akan langsung menghilang dari peredaran. Maksimal 6 bulan. Bisa jadi cuma 3 bulan bertahan di toko buku. Jadi, jangan ditunda-tunda yah.. :'((( *sedih
  4. Penulis harus aktif berkomunikasi dengan basis pembacanya dan membina hubungan baik. Penulis yang rajin berpromosi memiliki pengaruh yang sangat besar bagi penjualan buku-buku mereka di pasaran.
  5. Penulis, pembaca, pihak penerbit, toko buku, dan retail.. Kita semua bisa saling bekerjasama membangkitkan dunia buku dan dunia baca di Indonesia. Kita harus saling support, saling mendukung, gak boleh pelit, saling mempromosikan, saling ngobrol, sharing-sharing.. Pokoknya jangan pelit yaa.. Hehehe. Ini aja di blog-ku udah berapa oknum nih yang aku promosiin gratis.. Wkwkwk. xD
  6. Bersama-sama kita bisa berjuang mencapai Indonesia cerdas yang lebih bahagia. HIDUP MEMBACA!!! DAN MENULIS!!!!
  7. Overall, ini acara keren banget. Salut buat panitianyaa.. teman-teman dari Elex Media. Sangat bermanfaat banget, banget, banget dan super menyenangkan! *maaf saya agak alay ^^x.. Harapan dari kita semua, semoga acara keren ini bisa diadain sering-sering yaa… ^_^ *aamiiiinn

Sekian dan terima kasih.

 

CATATAN AKHIR NAYA: Teman-teman, aku mohon komentarnya yaa untuk setiap postingan yang kulakukan. Apakah kalian suka? Apakah bermanfaat? Apakah ada yang perlu diperbaiki dari tulisanku? Aku ingin tahu apa yang kalian pikirkan. 😀 Apakah ada pertanyaan? Apakah tulisanku terlalu panjang/terlalu pendek? Apakah terlalu banyak gambar? Biarkan aku tahu, supaya aku tambah semangat menulis lagi untuk kalian.. Okeyy? Hehehe. Terima kasih! ^_^

[BEHIND THE SCENE] Novel Eternal Flame

Comments 16 Standar

11742807_1615858625321920_8766650737236796461_n

Seperti yang aku pernah publikasikan di akun sosial media-ku Facebook Page – NAYACORATH dan Twitter – @NAYACORATH, dalam waktu dekat insya Allah kalau segalanya berjalan lancar, aku akan meluncurkan novel perdanaku yang berjudul “ETERNAL FLAME”

Yup. Bulan Agustus tahun ini. Bulan depan. 2015.


Tanya: “Kakak kan penulis blog novel? Apa ini artinya kakak gak nulis novel di blog lagi?
Jawab: Tenang… Masih kok. Selama NAYACORATH.COM masih ada, aku bakal selalu nulis cerita-cerita baru di blog-ku. Gratis? Iya, gratis. Jadi sering-sering main dan baca gratis ya ke sini. Hehehe..”

Tanya: “Lho.. Kok bukan novel Julie Light aja kak yang dibukuin..?”
Jawab: “Nggak.. Aku belum pengen.”

Tanya: “Kenapa belum pengen, kak?”
Jawab: “Kenapa yah..? Hehehe. Belum pengen aja..”


Novel ini adalah novel kolaborasiku dengan 4 orang penulis novel Elex Media Komputindo, dengan tema lagu dan cinta. Apakah ini novel antologi / kumpulan cerita? Bukan. Ini adalah novel dengan satu cerita besar, yang ditulis bersama-sama oleh 5 orang.

Dan uniknya.. Lima-limanya memiliki gaya penulisan berbeda! Ini yang buatku menarik dan sangat menantang. Kalian akan bisa melihat bagaimana kolaborasi 5 orang yang berbeda dapat menjadi satu kesatuan yang utuh membentuk beberapa kisah romantis yang mengguncang perasaan dalam satu benang biru yang sama.

Kalian tahu gaya tulisanku, kan? Hehehe. Dalam novel Eternal Flame ini, aku akan menulis dengan gaya yang lebih lokal dan dewasa. Aku sedapat mungkin tidak memasukkan celetukan-celetukan konyol Julie Light di sini, dan gaya tulisanku akan lebih romantis daripada biasanya. Kalian tahu benar kalau aku jarang memasukkan unsur romantis ke dalam novel blog Julie Light dan Kelas Prancis, iya kan? Hehehe… Kali ini aku mencoba untuk menambah kadar romantisme itu dalam nuansa novel lokal.

Pengen lihat gimana jadinya?

Tunggu bulan Agustus, ya! 😀


Aku bertemu dengan 4 orang penulis hebat ini dalam sebuah acara workshop dan gathering penulis novel Elex Media Komputindo beberapa bulan yang lalu. Siapa sajakah mereka?

Kristina Yovita (K.Y)

Penulis sekaligus koki jago masak yang sudah menerbitkan banyak novel dan cerita-cerita pendek. Penulis PortalNovel.com sekaligus editor, juga aktif sebagai penulis berbagai novel Google Play dari penerbit Buku Oryzaee. (Blog pribadi Kristina Yovita)

2015-07-27_08.06.10[1]

Lihat blog post Kristina Yovita di Nayacorath.com

Dian Novianti (Dheean Rheean)

Penulis sekaligus dosen yang sudah menerbitkan banyak novel dan cerpen remaja. Puluhan karyanya telah diterbitkan di majalah Anita Cemerlang, Ceria Remaja, Kawanku, dan GADIS. (Blog pribadi Dheean Rheean)

2015-07-27_08.05.21[1]

Lihat blog post Dian Novianti di Nayacorath.com -> minggu depan ya!

Nurisya Febrianti

Penulis antologi cerpen Buku Oryzaee dan saat ini menjalani aktivitas sebagai mahasiswa jurusan Informatika di Bina Sarana Informatika. (Blog pribadi Nurisya Febrianti)

2015-07-27_08.04.40[1]

Lihat blog post Nurisya Febrianti di Nayacorath.com

Susi Lestari

Aktivis kampus yang aktif di forum penulis kampus dan mahasiswa jurusan Politik dan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Semarang.

2015-07-27 08.07.15

Lihat blog post Susi Lestari di Nayacorath.com


Tanya: “Umm.. Kak. Eternal Flame itu novel tentang apa yah…?”

Ini salah satu cuplikan sinopsisnya:

“Arrendo Farid Al-Rizal adalah seorang guru musik berusia 26 tahun yang menutup diri setelah kematian kekasihnya, Sophia Dewi Anggraini. Bahkan hingga tiga tahun berlalu, Arrendo belum menemukan kerelaan untuk melepas Sophia. Hanya menghabiskan hari-harinya dengan bermain biola di Stasiun Bekasi, menunggu Sophia untuk datang kembali padanya.

Lalu, apa yang tersisa untuk Arrendo perjuangkan ketika hatinya bahkan tak lagi memiliki cinta?”

Tidak hanya itu, novel ini juga diramaikan oleh konflik hubungan Dimas-Clara dan kisah cinta segitiga antara Rena-Satria-Anisa. Penuh dengan gejolak emosi, kesedihan, kebahagiaan, dan tentunya kisah-kisah yang terpisah di antara mereka adalah kesatuan unik yang tidak terpisahkan dari cerita besar novel Eternal Flame itu sendiri, yang mana akan menari indah dalam melodi cinta yang tidak terduga-duga, dimainkan oleh Arrendo Farid Al-Rizal, Sang Violist.

Nanti tebak ya, aku nulis cerita yang mana..? Hehehe. 😛

Ini dia trailer-nya!


Tanya: “Umm.. Kak. Ini postingan behind the scene-nya mana yah..? Dari tadi promosi doang..”

Hehehe..

Ini dia behind the scene-nya!

d

Setelah buku ini launching, foto-foto kalian yang terpilih dari akun sosial media-ku Facebook Page – NAYACORATH dan Twitter – @NAYACORATH, bisa jadi akan aku pajang juga di blog NayaCorath.com ini. Aku senang berinteraksi dengan pembaca-pembacaku. Aku senang kalau kalian bisa memberikan masukan, komentar, atau pendapat tentang kegiatanku sebagai penulis. 😀

Ya. Nanti ada kuis dan giveaway juga kok, jadi kalian bisa dapat novel ini gratis, gratis, gratis. Ikuti terus update-nya di  Facebook Page – NAYACORATH dan Twitter – @NAYACORATH yaa….! Biasanya aku kasih hashtag #EternalFlame.

Nah.. Sampai bulan depan!

Ditunggu ya! 😀