24 – Selamanya (3)

Comments 11 Standar

KEDUA PASANGAN itu berjalan beriringan dengan wajah kikuk. Yang perempuan jauh lebih kikuk daripada yang laki-laki. Yang laki-laki tidak berhasil menyembunyikan kegugupannya yang sangat kentara. Tidak ada seorang pun yang tidak tahu kalau saat ini ritme napas anak laki-laki ini semakin tidak beraturan.

Sekarang Kelas Sebelas, hari pertama masuk sekolah. Di tahun ajaran yang baru ini, Julie tidak hanya datang tepat waktu, tapi juga sibuk diganggu oleh teman-temannya yang tak henti-hentinya bertanya kenapa ia tidak mau dijemput Richard saat berangkat sekolah tadi pagi.

Tapi yang berbeda tahun ini tidak hanya soal ketidakterlambatannya di hari pertama sekolah atau ketidakbersediaannya dijemput oleh Richard tadi pagi. Yang membuat segalanya lebih buruk adalah kelasnya yang kedua. Kelas pertama—Geometri, sekelas lagi dengan Jessie.

Kelas yang kedua.. Kelas Prancis.

Dia—akhirnya, sekelas dengan Richard.

Berita ini langsung membuat The Lady Witches langsung heboh dan bising seperti sirene pemadam kebakaran.

“KENAPA KAU TIDAK INGIN DIJEMPUT RICHARD TADI PAGI, JULIE??” teriak Cathy.

“Dia sangat bodoh,” kata Cassandra sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aku ingin sekali sekelas lagi dengan Richard tahun ini,” kata Lucy, “tapi sepertinya Julie lebih beruntung.”

“Ini akan jadi tahun yang seru di kafetaria,” Kayla ikut menimpali.

“Pegang tangannya, Richard!” seru Nick dari samping.

“PEGANG!!!”

Jessie, di sisi yang bersebrangan dengan Nick, langsung mendorong tubuh Julie tanpa pikir panjang ke arah Richard, sampai-sampai Julie hampir terjungkal, kalau saja tidak ditangkap Richard.

Julie mengamuk seperti naga.

“Kubunuh kau, Jess!”

Gadis-gadis itu cekikikan dan langsung berlari berhamburan menuju kelas mereka masing-masing. Cathy memberikan sebuah kode jempol mengisyaratkan semoga berhasil pada Julie.

“Sinting!” umpat Julie. Richard tersenyum simpul.

Julie tak sengaja menatap mata biru Richard yang sedang memandang ke arahnya, otot paru-parunya langsung kram. Siluet wajah itu, kulit putih porselen yang sama seperti yang pernah dilihatnya dulu saat mengantri di belakang Richard di kafetaria, setahun lalu. Mata biru khas milik Richard. Dan senyuman gulalinya yang menggiurkan.

Julie mendelik. Otot tubuhnya mulai berkontraksi lagi.

Selama satu setengah bulan ia menghabiskan waktu dengan The Lady Witches, Nick, dan Richard, dengan status barunya–sebagai kekasih Richard–tapi tetap saja ia tidak pernah terbiasa dengan kehadiran anak laki-laki itu. Richard, Nick, dan The Lady Witches memang selalu menemaninya di rumah sakit dan mengajarinya sepulang sekolah untuk mengatasi ketertinggalan pelajarannya di tahun ajaran yang lalu. Bahkan Richard dan Lucy sering mengunjungi rumahnya untuk mengajarinya dan memberikan setumpuk buku catatan selama ujian susulan di rumah Julie, tapi Julie dan Richard tidak pernah punya waktu khusus untuk berdua saja.

Mereka selalu saja kikuk satu sama lain.

Hal ini diperburuk lagi ketika Richard harus ke Islandia selama liburan kenaikan kelas. Julie tidak bertemu dengan Richard selama sebulan penuh. Perasaan yang ganjil seperti yang dulu dirasakannya ketika pertama kali mengenal Richard, akhirnya muncul lagi saat Richard menemuinya tadi malam.

Ia tidak bisa berlama-lama di dekat Richard. Ia ingin menghindarinya lagi.

Dan celakanya…… Di sekolah, di tahun ajaran baru ini, intensitas pertemuannya dengan anak laki-laki itu tidak akan bisa diakali lagi lagi.

Tidak bisa.

Julie tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Kepalanya mulai miring ke kiri, berlawanan dengan arah di mana tubuh Richard berada. Bola matanya juga memutar ke kiri. Tubuhnya mulai menjauh dari Richard, tiba-tiba terdorong sendiri, seolah-olah ada medan magnet aneh yang menghasilkan gaya tolak-menolak di antara mereka berdua.

Julie hampir saja menabrak tiang pintu kelas, kalau saja tidak segera ditarik oleh Richard.

“Hati-hati,” kata Richard lembut.

Julie panik.

Lampu merah di dada Ultramannya sudah berkedip-kedip mengirimkan sinyal darurat. Keringat dingin bercucuran di balik seragam sekolah. Kejadian yang dulu terulang lagi. Ia ingin kabur ke Planet Saturnus.

Julie bisa melihat puluhan pasang mata sedang menatap ke arah mereka sejak tadi. Ini membuat Julie semakin salah tingkah. Sebagian orang memandang iri, sebagiannya lagi cengar-cengir menggoda mereka–dua sejoli terkenal yang baru saja mereka lihat akhirnya pertama kali berduaan di sekolah.

Pemandangan pertama di sekolah.

Richard hanya bisa mengamati saja dalam diam, berusaha memberikan Julie waktu. Gadis itu semakin membuang muka darinya. Ia masuk ke dalam ruangan kelas lebih dahulu, lalu melihat dua bangku kosong di barisan paling depan, kolom kedua sebelah kanan, dekat dengan meja guru. Anak laki-laki itu memberi isyarat pada Julie untuk mengikutinya duduk di depan untuk mengisi dua bangku kosong itu. Tapi di luar dugaan, setelah Richard duduk, Julie tetap saja menyelonong ke arah belakang kelas.

Ia memilih duduk sendirian. Satu-satunya kursi kosong di pojok kanan belakang, menjadi pilihan tempat duduknya. Mereka sekarang duduk berjauhan sekali.

“Julie dan Richard. Julie dan Kelas Prancis!!”

Natalie Hortner, teman seklub Julie di Klub Koran Sekolah, tiba-tiba menyapanya. Gadis itu sedang duduk satu meja di sebelah Julie, kini berpangku tangan sambil keheranan. “Tapi…. Kenapa kau di sini??”

Julie menyengir seperti kuda.

“Oi. Ini sempurna. Kalau begini, aku tidak akan pernah kehabisan berita untuk ditulis di koran sekolah setiap minggu. Tapi–tunggu dulu. Kenapa kau duduk di sini, Julie?? Apa kau sedang bertengkar dengan Richard?”

Natalie memang dari dulu sangat menyukai Julie dan Richard. Bahkan di saat-saat Julie bermasalah dengan Cathy waktu itu, Natalie adalah yang pertama mendukung Julie. Tapi tidak berarti Julie menginginkan gadis ini jadi mata-mata dalam kehidupannya, apalagi sekarang ada Richard di dekatnya.

“Bukan urusanmu,” kata Julie.

“Urusanku.”

“Awas saja kalau kau tulis macam-macam di koran sekolah,” ancam Julie. “Mati kau.”

Gadis itu tertawa.

“Menurutmu sebaiknya apa yang harus kutulis untuk koran sekolah minggu depan? Sebaiknya tentang kisah cinta Julie-Richard di rumah sakit.. atau kisah cinta Julie-Richard di Kelas Prancis?”  tanya Natalie pada gadis yang tampak sedang menginginkan ketenangan hidup itu. Tapi Natalie tidak bisa mengenyahkan pikiran yang tadi.

“Kenapa kau duduk di sini??”

Julie mendongkol.

“Berisik.”

“Bagaimana rasanya pacaran dengan Richard?” tanya Natalie lagi dengan nada interogasi. Julie hanya mengorek hidungnya.

“Apa Richard sering main ke—”

“SHHHH!” Julie mendesis. “SHHHHH.”

Natalie melenguh.

“Kau narasumber yang membosankan, Julie.” Natalie memainkan penanya di sela-sela giginya. “Dari dulu sampai sekarang.”

“Aku tidak peduli,” Julie menjawab datar.

Natalie mendengus.

“Tapi tenang saja… Cepat atau lambat aku akan tahu jawabannya,” kata Natalie tanpa menyerah. Natalie akhirnya membuka obrolan baru. “Bagaimana kabarmu, Julie? Tubuhmu,” Natalie melengkapi pertanyaannya. “Sudah berfungsi semua? Tulang-tulangmu ? Sudah pulih semua?”

Julie memutar bola matanya.

“Baik-baik saja, tapi otakku ketinggalan di rumah sakit. Aku sudah mencarinya kemana-mana, tapi sepertinya ketinggalan di kamar mandi rumah sakit.”

“Apa?”

“Aku sedang mencucinya dengan odol di atas bath tub, di tengah siraman air hangat dari shower kamar mandi rumah sakit. Kata dokter, mencuci otak dengan odol bisa meningkatkan IQ-ku jadi yaa kulakukan saja. Tapi tiba-tiba Mom memanggilku, aku terburu-buru, jadi kuletakkan begitu saja otakku di atas bath tub. Aku lupa mengambilnya lagi. Kurasa dia sedang kedinginan, tergenang di antara air hangat yang sudah mendingin.”

Natalie berusaha mencerna penjelasan Julie barusan. Percakapan itu membuat dua orang murid yang berada di dekat mereka terpancing untuk menanggapi.

“Apa yang kedinginan?” tukas Emilia keheranan.

Gardner menyela sambil tertawa.

“Jangan dipikirkan, Em. Dia hanya asal sebut saja. Kau tidak akan pernah bisa serius dengan Julie,” kata Gardner mengingatkan. “Kau bisa jadi gila kalau menganggap serius semua omongannya.”

Julie menambahkan lagi, “Otakku kedinginan sekarang. Aku lupa meninggalkan handuk di rumah sakit. Dia pasti kedinginan mencari handuk saat ini.”

Mereka tertawa.

Beberapa belas menit berikutnya, rombongan yang saling mengobrol itu kini bertambah ramai. Tidak hanya Natalie, Emilia, dan Gardner, Judas dan Clara pun ikut bergabung. Julie sedapat mungkin menghindari topik yang membicarakan soal hubungannya dengan Richard, walaupun sedari tadi sangat jelas sekali kalau hanya itulah sebenarnya bahan obrolan yang sangat ingin mereka dengar.

“Bagaimana rasanya berpacaran dengan Richard?” tanya Gardner, kembali mengangkat topik yang lama. “Kudengar liburan kenaikan kelas kemarin Richard pergi ke Islandia. Apa perasaanmu? Kau tidak merindukannya?”

“Aku merindukan Pokemon,” jawab Julie asal-asalan. “Dan Powerpuff Girls. Kadang-kadang si kucing Garfield menemani–kau tahu kan, Garfield. Tapi Power Rangers bilang mereka tidak ingin dilupakan. Aku menonton mereka sekali-sekali–tapi Cathy bilang aku seharusnya bertambah dewasa dan menonton Gossip Girl saja.”

“Kenapa kau tidak duduk di dekat Rich–”

Julie langsung memotong cepat. “NGOMONG-NGOMONG. Aku dengar gosip baru. Natalie, kau suka dengan Jerry, ya!” Julie menyeringai puas, lebar sekali.

Natalie terkejut.

“Tidak,” kilah Natalie sengit.

Tapi muka yang merona merah itu tidak bisa menipu para Nimber yang seluruh sensor mereka sangat peka terhadap gosip terbaru. Dalam sekejap, mereka langsung menginterogasi gadis itu dengan membabi buta. Sepuluh menit penuh mereka mengorek-ngorek hal itu, berujung pada pengakuan Natalie tentang perasaan yang sesungguhnya pada Jerry.

“Ya. Aku menyukainya,” kata Natalie pasrah.

Julie bersorak penuh kemenangan.

“Tunggu saja sampai The Lady Witches tahu konfirmasi berita ini.”

“Tidak, tidak! Julie—jangan! Aku tak ingin Jerry tahu,” kata Natalie.

Julie sibuk mengambil ponsel barunya dan mengetikkan pesan singkat untuk seluruh anggota geng The Lady Witches. “JULIE!!” teriak Natalie histeris sambil merebut ponsel Julie.

Mereka masih berebutan ponsel Julie sampai beberapa puluh detik lamanya.

“Di mana M.Stuart??” keluh Natalie. “Alih-alih membicarakan soal perasaanku dengan Jerry, atau membuat gosip baru tentangku, seharusnya kita sedang belajar bahasa Prancis sekarang.”

Sudah lebih dari separuh jam pelajaran berlalu, tapi M.Stuart, guru Kelas Prancis mereka yang baru di tahun ajaran Kelas Sebelas, belum datang juga. Dari tadi tidak ada tanda-tanda guru pengganti, seolah-olah seluruh pendidik Nimberland lupa pada keberadaan mereka di kelas ini. Miss Tamara Lautner juga tidak datang sama sekali untuk memberikan konfirmasi.

Julie mulai menikmati topik yang baru ini.

“Seperti apa Mr.Stuart ini?” tanya Julie.

Natalie menimpali dengan semangat.

“Perfeksionis. Sangat menyiapkan bahan ajarnya dengan baik. Ia seperti ensiklopedia berjalan, sangat tahu segala hal tentang seluk-beluk negara Prancis, bahkan kadang-kadang dia membantu murid mengerjakan peer Sejarah Dunia tentang Revolusi Prancis. Kudengar banyak siswa pintar Kelas Sebelas tahun ajaran kemarin yang suka dengan gaya mengajarnya.”

Julie sudah pernah dengar soal itu. Menurut kabar burung yang beredar, laki-laki ini adalah lulusan terbaik jurusan bahasa Prancis dari Eropa, yang sengaja didatangkan khusus oleh walikota Eastcult untuk menjadi perwakilan guru pengajar bahasa Prancis di Nimberland.

“Oh ya?” Julie tampak sangsi.

“Tapi banyak juga yang menderita,” lanjut Emilia. “Materi yang diajarkannya terlalu sulit untuk sebagian anak, bahasa yang dipergunakan sukar dicerna. Standarnya juga terlalu tinggi. Hampir separuh murid Kelas Sebelas mendapat nilai di bawah rata-rata saat ujian kenaikan kelas kemarin, sampai-sampai mereka harus mengadakan ujian ulangan. Itu pun masih banyak yang gagal, baru bisa lulus bersyarat. Orang-orang bodoh seperti kita tidak akan bisa selamat.”

Tidak lulus kelas Prancis?

Julie memundurkan kursinya untuk meregangkan otot. Berkebalikan dari yang dikhawatirkan gadis ini, ia sama sekali tidak peduli soal itu. Tidak lulus Kelas Prancis memang sudah menjadi menu makanan sehari-harinya dari dulu. Ia tidak ambil pusing.

“Tak apalah. Asal bukan M.Wandolf.” Ia tertawa lepas.

Julie tidak bercanda. Dari seluruh guru Kelas Prancis yang pernah mengejarinya selama ini, M.Wandolf adalah yang paling membuatnya sengsara.  Laki-laki itu memang tidak sejahat Mlle.Hellen juga tidak seabsurd guru-guru kelas Prancisnya dulu di Springbutter dengan hukuman tanpa henti karena kebodohannya di Kelas Prancis. Laki-laki itu–lebih mengerikan lagi.

Ia memberikan Julie… Kepercayaan.

Trik psikologis, atau apa pun itu, yang dulu pernah dijelaskan Richard padanya.

“Apa yang salah denganmu? M.Wandolf itu menyenangkan. Aku suka,” protes Natalie. “Kenapa kau tidak menyukainya?”

“Dia satu-satunya guru Kelas Prancis yang membuatku mengerjakan tugas membuat cerpen bahasa Prancis, Natalie,” kata Julie dengan sungguh-sungguh. “Cerpen?? Bayangkan. C.E.R.P.E.N. Siapa di antara kalian yang pernah membuat cerpen dalam bahasa Prancis? Tunjuk tangan?”

Mereka menggeleng dan cekikikan.

“M.Wandolf adalah satu-satunya orang yang selalu menyuruhku menjadi asistennya di Kelas Prancis, a.k.a badut di depan kelas. Ke mana pun aku pergi, dia selalu mencariku. Hal pertama yang dia ucapkan di dalam kelas adalah namaku.”

Judas, yang pernah sekelas dengan Julie di tahun ajaran kelas Sepuluh, mencoba menirukan suara M.Wandolf saat memanggil Julie. “Seperti ini–Mademoiselle Julie…. Mademoiselle…. Mademoiselle Julie.”

Mereka tertawa. Julie merasa bersyukur akhirnya ada yang memahami perasaannya.

“Kapan pun membaca buku teks, namaku akan selalu muncul menjadi model peragaannya. Aku tak pernah mengerti kenapa dia begitu terobsesi padaku.”

“Karena feromon?” kata Natalie sambil tertawa.

Istilah itu sekarang jadi istilah yang populer di Nimberland, sejak Kayla selalu mengumandangkannya kemana-mana setiap kali mereka membicarakan soal daya tarik Julie yang tidak bisa dijelaskan.

Julie hanya mendengus saja.

“Bagaimana jika M.Wandolf mengajar lagi di sini? Aku dengar kabarnya kemarin laki-laki itu ingin sekali pindah mengajar ke kelas Sebelas, semata-mata untuk bisa mengajar di kelasmu,” kata Judas.

“Tidak.” Julie menjawab cepat. “Tidak akan. Kalau itu terjadi, maka aku–”

Julie tak sempat menyelesaikan kata-katanya. Ia terdiam saat anak laki-laki berkulit seputih pualam yang tadi tidak digubrisnya itu, tiba-tiba bangkit dari bangku depan, dan menghampirinya di belakang dengan wajah cemas dan marah.

“Julie,” kata Richard dengan dingin dan perlahan. “Aku ingin bicara sebentar. Di luar.”

Kemunculan Richard yang tidak terduga di tengah-tengah mereka, serta-merta membuat rombongan geng gosip itu terkejut.

“Ummm–bagaimana kalau di sini saja?” kata Julie.

“Kumohon,” kata Richard dengan nada putus asa.

Oh my God,” teman-teman Julie yang lain mulai berbisik-bisik satu sama lain. Mereka bersikut-sikutan, memberi isyarat tentang drama yang sedang terjadi di depan mereka saat ini. Tidak pernah terjadi mereka dengar sebelumnya, percakapan di antara Julie dan Richard, dan melihat dari ekspresi Richard yang benar-benar berbeda, kali ini tampaknya akan sangat serius.

“Julie.” Richard memanggil namanya sekali lagi. Gadis itu akhirnya mengangguk pelan.

Mereka yang menonton, tercenung kaku.

Julie bangkit dan mengikuti Richard yang berjalan ke luar kelas. Ia menoleh sebentar ke arah teman-temannya, yang bersorak, melambai-lambai, dan memberikan semangat tanpa suara kepadanya.

Saat Richard membuka pintu kelas, leher putih dan rambut keemasan Richard yang mempesona, tanpa sengaja menarik perhatian. Sisi rahangnya yang lancip bertemu dengan kedua telinga Richard, seolah menjadi bingkai yang sempurna bagi bibir tipis Richard yang merah mengeriting.

Ujung bibir itu melekuk ke bawah. Tidak tersenyum lagi.

Pemandangan itu tiba-tiba memberikan sensasi yang aneh dalam diri Julie. Ia berusaha ingin bisa bersikap santai dari tadi, mempertahankan kewarasannya selama berada di dekat Richard. Tapi kali ini–jantung gadis itu berdegup dengan sangat cepat, mengikuti ritme langkah kaki mereka.

 

***

Richard akhirnya berhenti di koridor yang cukup sepi. Saat itu, Julie sedang berusaha menemukan objek-objek lain di sekitar dinding polos yang bisa menarik perhatiannya. Sialnya tak satu pun semut yang hinggap di mana pun. Bahkan lalat pun tidak.

“Lihat aku, Julie.” Richard tampak sangat serius. Dadanya naik-turun tidak beraturan, berusaha benar mengontrol emosinya.

Julie terpaksa menatap mata biru Richard. “Apa?”

“Kenapa kau menghindariku?”

Julie tak langsung menjawab. Kakinya kini sedingin es. Lidahnya tiba-tiba kaku. Otaknya tidak berfungsi dengan benar, mungkin menghilang.

“Tidak.”

Itu saja yang diucapkannya.

Pancaran lemah dan kecewa memancar dari mata Richard yang sungguh-sungguh berharap Julie dapat menjelaskan lebih baik daripada ini.

Richard bermuram. Setelah perjalanan panjang sampai ke titik sekarang ini, Julie masih saja terasa sangat jauh darinya. Sudah cukup lama ia bersabar, tapi kali ini ia sudah tidak tahan lagi. Hubungannya dengan Julie tidak ada bedanya dengan dulu, ketika mereka masih sama-sama tidak saling mengenal.

Mereka tetap saja menjadi orang asing yang saling menjauh.

“Aku harus bagaimana, Julie?” kata Richard begitu dalam. “Bahkan setelah mendapatkan hatimu saja, kau masih menjauhiku. Apa yang harus kulakukan?”

Julie menggigit bibirnya.

Pembicaraan ini mirip seperti pembicaraan di belakang sekolah waktu itu, saat Richard justru semakin marah padanya ketika mereka berdua akhirnya benar-benar berbicara untuk menyelesaikan masalah mereka dengan Cathy. Bagi Julie, Richard selalu memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Julie tidak tahu apa yang harus dilakukan. Semua yang dialaminya selama setahun ini–semua yang dirasakannya pada Richard–adalah perasaan yang benar-benar baru untuknya.

Ia pun tidak mengerti.

“Apa yang kau inginkan, Julie?” tanya Richard. “Apa yang kau ingin AKU LAKUKAN?”

“Berhenti jadi drakula,” seloroh Julie tanpa disadarinya.

Richard terkejut. “Apa?”

“Kau putih, kerempeng, dan dingin. Seperti drakula.”

“Drakula?” Temperamen Richard mulai menurun, karena kebingungan.

“Drakula cacing,” kata Julie lagi.

Rasa emosi campur aduk kini bergejolak dalam diri Richard. Ia tidak tahu harus bersikap apa. Ia ingin tertawa. Tapi ia masih ingin menunjukkan keseriusannya pada Julie.

“Aku serius, Julie.”

Julie, tiba-tiba ingin menembak dirinya sendiri dengan pistol. Kalimat-kalimat itu, lagi-lagi keluar begitu saja tanpa permisi. Julie ingin bisa menjelaskan panjang lebar tentang perasaan dingin, aneh, dan kejang yang ia rasakan tiap kali berdekatan dengan Richard, seolah-olah anak laki-laki itu menyedot seluruh aura hidupnya.

Tapi bukan DRAKULA CACING.

“Kau yang membuatku seperti ini,” kata Julie akhirnya setelah mencubit pahanya sekuat tenaga, supaya mulutnya bisa sinkron dengan otaknya.

“Apa maksudmu?” tanya Richard.

“Aku tak pernah bersikap seperti ini pada orang lain. Hanya padamu saja.” Julie menjelaskan.

“Kenapa?” tanya Richard lagi.

“KENAPA? Justru aku yang seharusnya bertanya, kenapa kau membuatku jadi aneh seperti ini?” Julie tertawa kecil. Mereka berdiam-diaman selama beberapa puluh detik. Richard semakin bingung apa maksudnya. Ia tidak bisa menebak apa yang dipikirkan gadis ini.

“Kau ingin aku menjawabnya?” tanya Richard.

Julie mengangguk.

“Aku.. tak tahu?” kata Richard. “Kau yang bersikap aneh padaku. Kau yang menjauhiku. Aku tak mengerti.”

“Sama. Aku juga tak mengerti,” jawab Julie. “Kenapa?”

Mereka berdiam-diaman lagi.

“Karena aku.. Drakula Cacing?” tanya Richard ragu-ragu. Kata-kata Richard barusan membuat perut Julie bergejolak. Julie terpaksa membuang mukanya untuk menyembunyikan gelinya. Tak lama kemudian, mereka bertatapan lagi. Kali ini, mereka saling menahan tawa.

Richard merasa amarahnya mulai mereda.

“Kau selalu membuatku bingung, Julie. Selalu.”

Tiba-tiba, kilap kepala seorang pria gemuk berkepala setengah botak mengacaukan konsentrasi mereka. M.Wandolf. Lengkap dengan buku tebal kelas Prancis dan jas coklat butut kesayangannya.

Bonjour, M.Soulwind!” sapa laki-laki itu dengan gairah yang luar biasa dan bersemangat sekali. “Qu’êtes-vous en train de faire en ce moment? [1]

Julie langsung gelagapan. Ia menutup wajahnya di balik tubuh Richard.

Richard tersenyum sopan.

Bonjour, Monsieur,” jawab Richard ramah, sambil mengamati Julie yang masih berkelut di belakang punggungnya. “Aku sedang berbicara dengan Julie, meluruskan beberapa hal.”

Ah oui, je vois [2],” kata laki-laki itu. “Tidakkah kalian sedang ada kelas saat ini?”

Si, Monsieur. Cours de français [3],” jawab Richard. “Tapi M.Stuart belum datang. Dan kebetulan aku dan Julie sedang punya masalah yang harus diselesaikan sekarang. Kami akan masuk ke kelas setelah masalah ini selesai.”

Laki-laki itu termanggut-manggut.

Bien passe une bonne journée! [4]” M.Wandolf mengeraskan suaranya untuk menyapa Julie yang masih bersembunyi. “Mademoiselle!

Julie melenguh keras. “Nguuh.”

Laki-laki itu tersenyum simpatik, seperti merindukan reaksi yang unik itu dari murid lama kesayangannya. Ia pun berlalu meninggalkan mereka berdua yang kembali melanjutkan percakapan. Setelah M.Wandolf pergi, Julie segera menyingkir dari punggung Richard.

“Sampai di mana kita tadi?” tanya Richard.

Julie hanya berdegung saja seperti lebah. Matanya menari ke sana-ke mari. Richard mendesah. Hal seperti ini terjadi lagi. Ia mencengkram lengan kiri Julie sebentar, untuk mendapatkan perhatian gadis itu lagi, lalu langsung ia lepaskan. Ia mendesah sangat panjang.

“Julie. Aku tidak bisa begini lagi,” kata Richard.

“Begini apa?” tanya Julie.

Richard semakin gemas. Ia sesungguhnya bukan tipe anak laki-laki yang suka berbicara banyak–ia seorang pendiam. Tapi kini ia sadar, ia harus lebih tegas menyampaikan apa yang ia inginkan pada Julie, karena gadis ini benar-benar tidak mengerti apa yang sudah ia perbuat terhadap hidupnya. Betapa pusingnya dia akibat sikap membingungkan gadis ini.

“Ini. I. N .I.” Richard berusaha menjelaskan lebih sabar. “Tadi baru saja kita saling menahan tawa, tapi sekarang kita menjadi seperti orang asing lagi. Aku tidak bisa begini.”

“Aku tidak mengerti.” Julie menggumam.

“Aku juga tidak mengerti,” kata Richard frustasi.

“Jadi?”

“Jadi—jangan bersikap seperti ini padaku,” terang Richard. “Aku tak tahu lagi bagaimana cara menjelaskannya padamu. Kau selalu bersikap seperti memusuhiku. Seolah-olah aku ini tidak pernah ada.”

“Tidak. Aku tidak seperti itu,” kilah Julie. “Aku tidak memusuhimu.”

“Lalu kenapa kau selalu menghindariku? Kau selalu menghindari berbicara denganku. Jangan bilang karena aku drakula cacing lagi. Itu sudah tidak lucu.”

Julie ingin cemberut. “Memang tidak lucu.”

Mereka berdua saling berpandangan. Entah apa yang ada pada wajah gadis ini, sehingga mimiknya bertolak belakang dengan apa yang baru saja diucapkannya.

Julie–melihat seutas tipis senyum Richard yang manis tapi berusaha ditahan–tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak menggoda anak laki-laki itu dengan kalimat berikutnya.

“Kalau tidak lucu, jangan senyum-senyum.”

Wajah Richard memerah. Percakapan dengan gadis ini menyiksanya. Ia tidak bisa terus berpikir logis kalau Julie bereaksi seperti ini.

“Baiklah. Kau menang,” kata Richard. “Aku akan tersenyum sepuasnya sekarang.”

Sekarang ia menunjukkan senyum gulalinya tanpa ditahan lagi. Mereka berdua akhirnya tertawa lepas.

“Apa kau sedang menstruasi?” tanya Julie. Richard menarik garis senyumnya.

“Iya. Aku butuh jus cranberry.”

Mereka cekikikan.

Aneh memang, Richard pun tidak mengerti kenapa pembicaraan serius yang ingin dibawanya tadi malah jadi berakhir seperti ini. Berminggu-minggu lamanya ia menahan kekesalan karena selalu dijauhi oleh Julie–bahkan pagi ini, ketika Julie bahkan tidak mau duduk sebangku dengannya, dan tidak menggubrisnya sama sekali, padahal mereka berada di kelas yang sama.

“Kau sudah tidak marah lagi?” kata Julie dengan perasaan membaik.

Richard menggeleng. Tapi ia masih tidak puas dengan kesimpulan percakapan ini. Dalam sekejap, gadis ini mungkin akan pura-pura tidak mengenalnya lagi. Dan ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya ke Julie.

“Jadi, apa yang kau inginkan, Julie? Apa yang harus kulakukan agar kau bisa seperti ini lagi padaku?” tanya Richard dengan lembut dan sopan.

“Seperti ini apa?” Julie menggaruk lehernya.

Richard kelelahan.

“Seperti INI. Bersikap baik kepadaku. Berbicara padaku dengan menjadi dirimu sendiri, Julie yang menyenangkan. Julie yang tidak menganggapku seperti angin yang tidak kelihatan.”

“Aku selalu bersikap baik padamu.”

Tetap saja tidak ada kesimpulan. Richard sudah tidak sabar lagi. Ia melontarkan nada protes. “Kenapa sulit sekali berbicara denganmu?”

Julie mengangkat pundaknya.

“Baiklah,” kata Richard. Ia mulai mengangguk paham. “Kalau begitu, begini saja. Akulah yang akan membuat permintaan. Kau selalu sengaja menghindariku. Benar? Jangan hindari aku lagi. Oke? Jangan hindari aku.”

“Aku tidak sengaja menghindarimu. Aku terlahir seperti ini,” kata Julie.

“Jangan hindari aku.”

Anak laki-laki itu menegaskan kalimatnya sekali lagi.

“Kau seharusnya sudah tahu. The Lady Witches selalu membicarakannya. Si Julie yang Bodoh. Aku saja tidak pernah mengerti kenapa aku begini. Apa pun yang kulakukan, itu di luar kendaliku.”

Richard langsung memotong,”Jangan–”

“–hindari aku,” sambung Julie. Ia menyengir lebar.

Yeah, yeah. Aku akan berusaha sekuat tenaga, Richard. Janji,” kata Julie. “Tapi aku tidak jamin bisa berperilaku normal ketika aku kesulitan berbicara dengan organ-organ tubuhku sendiri. Dan kau harus tahu, Richard. Itu sering terjadi ketika aku berada di dekatmu. Aku jadi orang yang berbeda. Aku juga tak mengerti. Kau adalah kasus khusus dalam hidupku.”

Kau adalah kasus khusus dalam hidupku. Apa itu pujian?” tanya Richard.

Julie tersenyum. “Ya.”

⁠⁠⁠Mereka berdua terlarut dalam rona senyum satu sama lain. Seperti orang yang baru saja jatuh cinta.

“Aku tidak bisa janji tidak menjauhimu. Itu insting laba-labaku,” lanjut Julie. “Tapi aku akan berusaha keras kalau sedang waras. Aku akan berusaha–menjadi kekasih yang normal.”

Lidah Julie rasanya tersangkut di kata ‘kekasih’. Ia berdehem sebentar.

Richard memilin senyumnya. “Baiklah.”

Kekakuan dan sikap kikuk di antara mereka mulai mencair dan menghilang, walaupun sedikit sisanya masih tetap ada. Sang anak laki-laki–tetap saja takut menggengam tangan si anak perempuan. Dan si anak perempuan, masih belum bisa berlama-lama menatap mata biru menyilaukan Richard.

Tapi bagi Richard itu sudah tidak penting. Sekarang, melihat tawa Julie saat bersama dengannya saja sudah lebih dari cukup membuat hatinya membuncah bahagia.

“Mari kita kembali ke kelas,” Richard menyudahi percakapan ini dengan hati yang lebih tenang. Julie mengangguk. “Tapi jangan perlakukan aku seperti tadi. Duduklah di dekatku. Aku akan mengajarimu Kelas Prancis.”

Sinar bahagia yang dipancarkan Richard mulai membuat Julie merasa nyaman. Hawa dingin yang tadi menjalari tubuhnya, mulai menghangat. Tubuh tinggi dan lengan panjang yang kini ada di hadapannya, mendahuluinya di depan saat mereka berjalan kembali ke kelas. Mereka tidak berpegangan tangan. Tidak ada satu pun yang berani memulai duluan.

Julie ingat bagaimana Cathy dulu merangkul lengan itu di sampingnya. Ia mulai membayangkan jika itu terjadi juga padanya dan Richard–Julie merangkul Richard, sebuah ide yang luar biasa–tapi sengatan listrik kecil yang tiba-tiba menyetrum jantungnya, dalam sekejap membuat Julie langsung menampik jauh-jauh bayangan itu.

Richard membuatnya nyaman. Tapi juga membuatnya tidak nyaman. Dia adalah kontroversi yang mewarnai hidup Julie, yang akan selalu berbekas selamanya.


[1] Apa yang kalian lakukan saat ini?

[2] Ah begitu!

[3] Iya, Pak. Kelas Prancis.

[4] Baiklah. Semoga harimu menyenangkan.

***

Saat Richard membuka pintu kelas, suara teriakan yang sangat kencang memekakkan telinga mereka.

Semua orang berdiri bersiul menyoraki kedatangan mereka. Di tengah-tengah kelas, seorang laki-laki gemuk tua berkepala separuh botak, menyambut dengan setengah menunduk dan satu lutut yang ditekuk.

Julie dan Richard saling berpandangan. Mereka mendelik.

Monsieur. MADEMOISELLE,” ucap M.Wandolf dengan nada mantap dan intonasi yang dipilih, seperti seorang pembawa acara. “Sekarang kita mulai pelajaran pertama kita di Kelas Prancis hari ini: Drama Napoleon dan Josephine di depan kelas!” Laki-laki itu bergumam. “Itu pelajaran semester dua, tapi tidak apa-apa. Aku ingin mempraktekkannya sekarang. Kita sudah punya Romeo dan Juliet kita! Berikan tepuk tangan yang meriah!”

M.Wandolf menyuruh dua orang anak memberikan buku pelajaran mereka pada Richard dan Julie. Richard tampak kebingungan. Julie–justru shock kenapa bisa ada M.Wandolf di kelas mereka.

“Buka halaman 158,” kata guru gemuk berkepala setengah botak itu. Kata-katanya merentet seperti kereta api. “CEPAT. CEPAT. CEPAT.”

Richard lebih kalem daripada Julie. Ia menurut saja.

Ia membuka halaman buku itu persis seperti yang diperintahkan dan membaca dialog yang pertama.

Je me réveille rempli de pensées de vous. Votre portrait et la soirée enivrante que nous avons passée hier ont laissé nos sens dans l’agitation [1],” kata Richard, dengan suara merdunya yang terdengar seperti dentingan piano. “Douce et incomparable Joséphine, quel effet étrange vous avez sur mon cœur!” [2]

Julie membelalak. Ia memberikan isyarat kode ke Richard dengan seluruh gerakan tubuhnya agar anak laki-laki itu tidak melakukan apa yang diperintahkan M.Wandolf padanya–mereka bahkan tidak tahu kenapa bisa ada guru ajaib itu di sini–tapi Richard tidak peduli. Dia sangat menikmati permainan ini.

“Richard!” bisik Julie setengah mati.

Anak laki-laki itu kini sudah berubah menjadi Napoleon Bonaparte, sang Jenderal Perang termashyur, dan Josephine harus segera menjawab dialognya dalam bahasa Prancis, karena sudah dua menit lamanya Josephine masih bergoyang-goyang tidak karuan di depan kelas.

Seisi kelas nyaring sekali meneriaki mereka berdua. Julie sesak napas.

Ini benar-benar bencana.


[1] Aku terbangun hanya memikirkanmu. Bayanganmu dan malam memabukkan yang kita habiskan bersama kemarin telah mengacaukan indera-indera kita.

[2] Sayangku yang tak ada tandingannya, Josephine, sungguh efek aneh apa yang telah kau berikan kepada diriku ini!

 

***

 

“APA YANG TERJADI DI KELAS PRANCIS TADI PAGII???” teriak Cathy dengan suara lantang.

Gadis-gadis yang lain ramai mengguncang tubuh Julie. Kehebohan mereka mulai menggema lagi di kafetaria, hampir-hampir beresonansi di seluruh langit-langit gedung Nimberland.

Julie tersenyum penuh arti. Kali ini, tidak ada seorang pun geng The Lady Witches yang sekelas dengannya di Kelas Prancis, dan itu artinya, kini–tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menceritakan apa pun yang terjadi di Kelas Prancisnya selama satu tahun ke depan. Tidak ada Jessie si Mulut Ember yang selalu menghancurkan imagenya sepanjang masa. Hanya ada Richard–anak laki-laki itu pun pasti tidak akan mungkin berbicara panjang lebar pada mereka.

Julie menutup mulutnya rapat-rapat.

Karena gadis itu mulai bersikap mengesalkan, Jessie mulai menyikutnya dengan serangan membabi buta. Julie menangkis serangan itu dengan kedua tangannya, tapi tulang rusuknya yang baru saja membaik itu tiba-tiba menjadi ngilu.

“Sakit, Bodoh!”

Jessie menghardik keras. “Kau harus menceritakan sesuatu, Anak Sapi!”

“Baiklah!” kata Julie. “Begini ceritanya–” Mereka mendengarkan dengan seksama. Gadis itu sengaja memberi jeda lewat tarikan napas yang amat panjang.

“Cicak di dinding melahirkan bayi iguana.”

“JULIEEEEEE!!!!”

Kedua saudara kembar itu kembali berkelahi.

 

 

 

– THE END –

Iklan

11 thoughts on “24 – Selamanya (3)

  1. Ping-balik: CATATAN DARI PENULIS (80) | Naya Corath

  2. huhuhuuuu 😥
    akhirnya tamat juga kak.
    tapi aku jadi sedih karna ceritanya tamat…
    kurang puas dengan kisah cintanya julie dan richard.
    kak nayyy, buat season keduanya dong kak.

  3. kelihatannya tulisan ceritanya tuh panjaaaang deh, nay… tapi kenapa pas dibaca tau-tau udah -THE END-??? whaduuuuh… asli, masih penasaran! bener tuh uslan temen-temen, nay… bikin sequelnya… ^_^
    anyway, terima kasih ya udah buat cerita yang bagus banget… terus semangat berkarya!!

  4. Wehhh… gak mungkin tamat ini. Belum ada epilognya soalnya ✌✌
    Seneng dan sedih gegara si kakak akhirnya update. Seneng karena akhirnya upadate, sedoh karena ternyata update-annya harus bikin cerita si aneh July tamat😭😭😭

  5. Yah kak.. Udah nunggu lama sekali, eh tahunya the end 😥 .. Gak rela ngelepasin julie sama richardnya.. 😂
    ~Terus berkarya kak.. Tulisan kka itu unik, suka sekali 😄😘

  6. Lho hanya itu??
    Bagus sih dari pada part part sebelumnya ini yg paling terpanjang.
    Tapi tetep aja kurang momentnya. Ini sih moment hanya sekali adegan julie richardnya sdgkan di rmh skit pun nggak ada obrolan scara lgsg dg richard hnya cerita sbagian besar yg hanya saling melirik., pdahal seneng bgt akhirnya doaku terkabul julie bisa sekelas dg richard. Tapi mana cerita moment julie richard sebenarnya……..?? Mana kencannya?? Mana adegan belajar lg di cafe steak nya???

  7. Yahhh ceritanya udah tamat aja 😔
    Kak Nayy buat squel atau season 2 nya dong yahh.. Masih pengen tau kelanjutan kisah cinta nya si Julie dan Richard alias belum bisa move on kak dari nih cerita 😢

  8. kak nayaaa, ceritanya baguus, :’) sumpah bahasa-nya aku suka, jalan ceritanya bagus, bikin ngakak tengah malam bacanya, 😀 semangat kak, semoga terlahir kembali cerita bagus selanjutnya, 😀 di tunggu loo,

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s