24 – Selamanya

Comments 39 Standar

Hal yang menarik setelah kepergian sementara Julie dari Nimber adalah bagaimana cara Richard menangani masalah Emma dengan sangat baik. Richard tidak banyak berbicara pada siapa pun tentang rencana-rencananya menaklukkan Emma—bahkan tidak pada Nick sekali pun—namun perlahan dan pasti, kejeniusan anak laki-laki itu mulai menunjukkan hasil yang membuat mulut menganga.

Siapa yang menyangka kalau geng Emma segera runtuh setelah Richard mulai menurunkan pion-pion pertamanya?

Sangat penting bagi Richard untuk membatasi jumlah orang yang mengetahui apa yang sedang ia lakukan. Satu-satunya orang kepercayaannya adalah Jeremiah Hunt, sang ketua klub koran sekolah—partner in crime Richard dalam rencana kejahatan menjatuhkan Emma, khususnya karena ia juga tidak punya banyak pilihan. Posisi Jerry yang vital di media massa sekolah adalah kunci dari strategi serangan terhadap Emma Huygen.

Selama enam minggu setelah kecelakaan Julie, Richard dan Jerry mulai menjalankan aksi yang hanya diketahui mereka berdua. Richard menyiapkan plot yang kemudian ditulis oleh Jerry dalam bentuk fiksi. Sesuai pengarahan Richard, cerita ini selanjutnya terbit sebagai serial bersambung mingguan di koran sekolah.

Cerita fiksi tentang seorang detektif yang melakukan penyelidikan hilangnya seorang gadis di gudang belakang sekolah—adalah ide yang brilian. Dengan permainan kata yang pintar, Richard dan Jerry mengarahkan para pembaca untuk memecahkan sendiri kasus itu. Penyelidikan demi penyelidikan yang dilakukan perlahan-lahan mulai membuka misteri di balik menghilangnya gadis itu, tentang penyiksaan di gudang belakang sekolah, dengan detail yang hampir sama seperti yang pernah diceritakan Ruth pada Richard tentang kejahatan Emma terhadap para junior kelas sepuluh dan sebelas.

Cerita fiksi karangan anonim ini dengan segera melejit seperti roket setelah diterbitkan di minggu pertama. Popularitas koran sekolah langsung meningkat drastis, bahkan membuat orang yang jarang membaca koran sekolah berubah menjadi hippie penggila cerita misteri. Begitu banyaknya kesamaan antara Nimberland dengan sekolah fiktif yang ada di cerita ini membuat semua orang di Nimber tergila-gila setengah mati pada cerita ini. Tidak hanya dari kalangan murid, para guru pun saling membicarakan cerita fiktif ini dan beberapa guru yang nyentrik ikut membahas pemecahan misterinya di dalam kelas.

Lebih dari itu, ada satu sentuhan lagi yang selalu menjadi signature bagi penulis cerita fiksi ini di setiap minggunya. Maksud tersembunyi yang sebenarnya.

Sebuah gambar ilustrasi cerita. Foto blur yang diambil dari screenshot video penyiksaan Tania Lawless dari Ruth. Foto itu langsung populer dalam sekejap.

Orang-orang awalnya mengira kalau itu adalah gambar peragaan, karena diambil tepat pada bingkai waktu yang sempurna, saat wajah semua orang membelakangi kamera. Mereka mulai ramai mendatangi lokasi tempat penyiksaan yang biasanya digunakan Emma dan teman-temannya—gudang belakang sekolah Nimberland—yang detailnya sangat mirip dengan cerita fiksi di koran sekolah itu. Beberapa orang mulai merekonstruksi kejadian di cerita fiksi itu, seolah-olah memang benar-benar terjadi penyiksaan murid Nimberland di gudang belakang sekolah. Mereka menerka-nerka siapa saja yang ada di foto itu.

Jackpot!

Sesuai perkiraan Richard, kelompok pengikut Emma langsung kebakaran jenggot. Emma apalagi. Pelan-pelan, power Emma yang dulu membuat pengikut-pengikutnya tunduk, dikalahkan oleh teror takut dikeluarkan dari sekolah. Takut ketahuan. Takut dianggap terlibat dengan Emma.

Cerita misteri yang ditulis Richard dan Jerry di minggu berikutnya mulai mengarahkan pembaca untuk mencurigai bintang sekolah sebagai tersangka, dengan deskripsi yang sama seperti Emma. Timing yang tepat untuk membuat orang-orang berspekulasi apakah cerita fiksi ini benar-benar terjadi di dunia nyata, di sekolah mereka. Orang-orang Nimber yang senang bergosip mulai membuat spekulasi-spekulasi. Gosip-gosip lama tentang kejahatan Emma mulai bangkit lagi.

Tujuh atau delapan kali, Emma melakukan serangan balasan. Ia sempat menyerang Jerry—sebagai ghostwriter dari cerita fiksi tersebut, tapi tak berhasil mendapatkan apa-apa, tak pernah tahu video itu berasal dari mana, bahkan tidak tahu tentang peran Richard di sana. Itu karena Richard telah menyiapkan petunjuk-petunjuk palsu dengan sangat rapi. Richard selalu menekankan pada Jerry saat mereka berdiskusi, serangan ini harus sangat halus dan tidak terdeteksi. Seperti yang dikatakan Richard pada Cathy di rumah sakit waktu itu, ini adalah permainan strategi untuk menunjukkan siapa yang paling pintar. Dan anak laki-laki ini berkata pada dirinya sendiri, bahwa demi janjinya pada Julie, ia harus lebih pintar daripada Emma.

Langkah terakhir, Richard mengirimkan video penyiksaan yang dimilikinya dari Ruth ke e-mail masing-masing pengikut Emma, dari alamat pengiriman yang tidak bisa dilacak—ia sudah meminta tolong sepupunya dari Harvard untuk memastikan hal ini. Sedikit ancaman untuk mempertegas posisinya sebagai orang yang bisa kapan pun melaporkan mereka ke kepala sekolah. Selanjutnya, anak laki-laki itu tinggal membiarkan teror psikologis memainkan efek domino dalam strategi yang telah diaturnya.

Dalam waktu empat minggu, Emma kehilangan seluruh pengikut setianya. Semuanya ketakutan setengah mati.

Rencana Richard berjalan lancar.

Emma tidak bisa lagi bertindak terlalu agresif. Dia menjadi lebih tenang dan tidak terdeteksi daripada sebelumnya. Dia sempat mengganggu Cathy dan teman-temannya, tapi apa yang bisa dia lakukan di bawah pengawasan ketat seluruh penghuni Nimberland? Dia harus menghindari spekulasi—memang sebaiknya begitu. Dalam keadaan genting seperti sekarang, dengan kecurigaan mengarah kepada dirinya, dan tanpa bantuan army sama sekali, ia terpaksa berhenti mencari jawaban. Akhirnya sang Ratu Sekolah itu menyerah, lebih berfokus pada pendidikannya daripada menantang sang anonim yang mengancam keberadaannya di sekolah ini. Beasiswanya pasti terlalu berharga untuk dipertaruhkan.

Dengan menghilangnya Emma dari peredaran, Richard pikir sudah tidak lagi perlu meneruskan serangan ini. Chapter terakhir dari cerita misteri yang akan dipublikasikan di koran sekolah diserahkannya pada Jerry hari ini untuk diselesaikan minggu depan.

“Jadi, ini adalah akhirnya,” kata Jerry pada anak laki-laki bermata biru yang berada di hadapannya. “Akhir dari perjuangan kita?”

Richard mengangguk.

“Siapa pelakunya?” Jerry meracau.

“Sang korban sendiri. Dia memanipulasi kejahatan atas dirinya sendiri,” jawab Richard. “Mungkin kau bisa menebaknya sejak cerita sebelumnya. Nanti kuharap kau bisa menambahkan sedikit drama untuk motifnya, karena—kau tahu—aku tak bisa mengarang drama.”

“Sang korban?”

Jerry menelan ludah, karena tebakannya salah, tapi tidak akan membiarkan Richard tahu soal itu. Ia membuka dua helai kertas yang berisi kerangka tulisan dan ide-ide Richard tentang akhir dari cerita misteri itu. Ia membacanya sekilas, tertegun pada beberapa poin yang menarik, lalu tertawa tidak percaya.

Ia terlihat sangat puas dengan apa yang baru dibacanya.

“Ms.Taylor sangat suka tulisanmu ini. Berkali-kali dia membahasnya di pertemuan mingguan dengan ketua klub ekstrakurikuler,” kata Jerry.

“Kau yang menulisnya, Jerry. Dan kau melakukannya dengan sangat baik,” kata Richard sopan.

Jerry mendecak.

“Memang tulisanku, tapi ini kan ceritamu. Hanya kita berdua yang tahu,” kata Jerry. “Kau sangat berbakat dalam hal ini. Tidakkah kau tertarik untuk membuat versi sekuelnya? Atau membuat cerita misteri lain untuk koran sekolah? Aku dengan senang hati akan membantu. Kau membuat klub koran sekolah mendapat sorotan besar selama hampir dua bulan terakhir ini. Aku berhutang banyak padamu. Guru-guru bahkan menerima proposal Majalah Sekolahku.”

Richard menggeleng pelan. “Tidak. Kau tahu alasanku, Jerry. Dan sebenarnya aku yang berutang padamu.”

Jerry mengerti apa maksudnya.

“Baiklah! Akhir dari kerajaan besar Emma Huygen yang diagung-agungkan. Seandainya saja mereka tahu apa yang kau lakukan. Kau—orang yang mengerikan, Richard. Kau menghancurkan orang yang paling kuat di Nimber dalam hitungan minggu. Sekarang dia benar-benar berusaha tidak menarik perhatian. Dia hanya bisa menunggu waktu sampai akhir masa pendidikannya di Nimber, mungkin untuk keluar dari kecurigaan atas kegiatan ilegalnya di sekolah. Dan kau melakukannya bahkan tanpa menunjukkannya sama sekali pada orang-orang. Aku benci mengatakan ini, tapi kau brilian!”

“Aku selalu merasa beruntung menemukan Ruth,” kata Richard pada Jerry. “Tanpa gadis itu, tanpa video ini, rencana ini tidak akan pernah ada.”

“Dan hanya orang sepertimu saja yang bisa melakukan rencana ini, Richard. Barang bukti seperti apa pun tidak akan pernah berguna. Tidak ada yang bisa melawan Emma. Kau memang gila.” Jerry menggelengkan kepalanya sambil tersenyum simpatik. “Dan aku—sangat senang terlibat dalam kegilaan ini. Kau adalah narasumber favoritku. Boleh aku bertanya sesuatu?”

Richard tersenyum tipis.

“Silakan.”

“Bagaimana caramu menemukan Ruth? Tanpa ketahuan?”

“Hanya bertanya,” kata Richard.

“Bagaimana caramu menyusun semua skenario ini, membuat semuanya berjalan sendiri yang bahkan kau sendiri tidak perlu turun tangan?”

“Seperti bermain catur,” kata Richard. “Kau hanya perlu memprediksi gerakan lawanmu.”

“Sok keren,” kata Jerry.

Richard membalas sindiran itu.

“Sekarang boleh aku yang bertanya padamu?” kata Richard. Jerry mengangguk cepat, tak mencurigai apa-apa. “Kenapa kau mau membantuku, Jerry? Kenapa kau mempercayaiku? Kau bisa saja kehilangan jabatanmu jika rencanaku gagal dan Emma berhasil mengalahkan kita.”

“Mungkin karena kau adalah rekan kerja paling mengagumkan di dunia ini? Narasumber favoritku?” kata Jerry dengan nada politis.

“Ini ironis, sebab kau tidak suka denganku saat pertama kali kita bertemu,” kata Richard, “—karena aku tahu kau menyukai Julie.”

Senyuman Jerry langsung berubah masam. Serangan itu tepat kena ke jantungnya.

“Apa?”

“Dan aku tahu kalau kau tidak bisa mengatakan itu padanya, Jerry.” Richard menajamkan intonasi suaranya. “Tapi tidak berarti aku akan membiarkan Julie jatuh ke tanganmu.”

Jerry tersenyum. “Tidak masalah, tidak masalah.” Ia mengayunkan tangannya. “Asalkan kau mau menulis cerita-cerita fiksi berikutnya denganku untuk proyek Majalah Sekolah, aku akan merelakan Julie untukmu.”

Richard bergeming.

“Kau tahu, Richard?” kata Jerry sekali lagi. “Kenapa kau tidak bergabung saja dengan klub koran sekolah? Aku akan langsung mengangkatmu jadi wakilku. Masa depan karirmu akan sangat gemilang. Bersama-sama Julie, kita bisa membawa klub sekolah ke puncak kejayaan di Nimberland. Kita akan menjadi klub ekstrakurikuler terbaik di kota Eastcult. Demi masa depan kita semua. Bagaimana?”

Richard tidak menjawab. Ia tersenyum saja. Ia tahu anak laki-laki ini tidak akan berhenti mengganggunya dengan penawaran itu. Tapi setidaknya ia telah menyelesaikan tanggung jawabnya dengan Julie dan Cathy.

“Terima kasih, Jerry. Sampai bertemu lagi.”

Iklan

39 thoughts on “24 – Selamanya

  1. Yaah… kak Nay! Trus gimana donk hubungan Julie dan Richard? Epilognya donk kak! Aku kurang puas nih, sama chapter terakhir. Feel-nya tuh gak dapet! Julie and the Lady witches juga belom pada muncul. Epilog donk kak! *maksa 😀

    • Belum selesai kok bab ini.. Hehe
      Update berikutnya sudah muncul yaa Mimi
      Selamat membaca! 😉

  2. Cara penyampaiannya sperti lg dikejar kereta. Bahkan kita nggak bisa bayangin ekspresi cathy ketakutan dan menyerah.
    Sayang sekali…

    • Hehe iya.. Kayaknya yang segmen ini mau kubikin bab khusus aja supaya bisa lebih detail nanti. (One day)
      Untuk sementara segini dulu hehe.
      Terima kasih atas kritiknya Mala. ^_^

  3. Kakak..kakak kaya dikejar utang sama rentenir..dan kaya kereta ekspress..terlalu cepat..
    Yah,meskipun dande suka tokoh richard diakhirnya,
    Tapi satu yang kurang,yups..kurang feel..:)
    Anyway ini udah beneran end yah?
    Say welcome to prequelnya,sebelum julie di Nimber..

    • Part yang ini memang versi ekspress, hehe (versi gak sabar pengen tamat)
      One day nanti mungkin aku mau bikin satu bab khusus yang lebih terelaborasi membahas ini. 😀

  4. Kagum kak sama pemikiran kak nay, yang bisa pinter bikinn cerita yang di suka sama banyak orang dan genius dalam menuangkan ide ide ke sebuah cerita. Selalu salut dan semoga sukses selalu kak nay

  5. kak lanjut lagi dongg… pengen tau cerita juli dan richard pas keluar dari rumah sakit gmana? trus kelanjutan richard dan the Lady
    witches nya pleasee……

  6. Woooaahhhh… Kereen…. 2 jempol gede gak cukup nih….
    Richard emang brilian banget.. hehehehe… brarti selama 6 minggu, nimber sepi dong. Gak ada Julie..
    Naya emang keren…
    Smangat nulis yaah..

  7. Yah gak ada adegan richard ama julienya. Tapi richard keren jadi pengen cium haha.
    Suka pas richard ngomong “tapi tidak berarti aku akan membiarkan julie jatuh ketanganmu” ehm ehm orang ganteng mah bebas

    • Ceritanya masih lanjut kok.. 😀
      Update part terbaru sudah muncul yaa Atifa

      Selamat membaca! 😉

    • Masih lanjutz.. Hehe tapi memang udah mau tamat kok
      Updatenya sudah ku-publish yaa Nurida

      Selamat membaca! 😉

  8. BENERAN UDAH END INI, KAK??!
    #pukulmeja XD

    Jangan END duluuu, momennya Julie-Richard belom banyaaaakkkkk ini 😭
    Tapi ttp salut lah sama tulisan Kak Naya yg ini, sllu bikin mupeng soalnya, hahaha

    Btw, Jerry, sama aku aja yuk 😜

    • Belum… Part terbaru sudah ku-posting yaa

      Setelah itu, nanti tinggal satu part lagi.
      Selamat membaca! 😉

  9. Ping-balik: Daftar Isi | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s