23 – Pengakuan (2)

Comments 37 Standar

Cathy menunggu di depan pintu ruang operasi. Matanya memerah dan membengkak. Beberapa siswa yang menemani mengantar Julie ke rumah sakit duduk di deretan kursi yang lain, tak berani mengganggunya. Gadis itu terus-menerus menangis saat mereka baru tiba di rumah sakit. Tapi sekarang dia hanya duduk diam saja, menunduk.

Lily Light pun telah tiba sejak sepuluh menit sebelumnya. Ia duduk di kursi yang berada tak jauh dari Cathy. Wanita itu duduk gelisah sambil meneteskan air mata, dan dihibur oleh siswa-siswa yang lain.

Nick, Kayla, Jessie, dan Lucy datang. Mereka berlari dengan panik, seperti orang yang kebakaran jenggot, dan segera menghampiri Lily. Wanita itu menyambut mereka dengan raut wajah sangat sedih.

“Kayla,” kata Lily sambil merangkul Kayla yang menyambar pelukannya dengan cepat.

“Apa yang terjadi, Mrs.Light?” tanya Kayla kemudian.

“Teman-teman kalian bilang, Julie telah menolong Ms.Pierre dari kecelakaan di sekolah,” kata Lily. Wanita itu menghela napas. Ia mencoba tersenyum, tapi ia tidak bisa menahan air mata yang tumpah di pipi kirinya. “Julie mendorongnya agar tidak tertabrak mobil, namun ia justru menjadi korban. Niatnya baik–anak itu,” Lily tertawa pahit. “Tapi selalu saja ceroboh. Aku yakin dia tersandung kakinya sendiri saat melakukan itu.”

Jessie melihat Cathy di ujung sana. Ia melotot marah. “KAU!” Ia berlari dan menyambar gadis itu dengan wajah sangat murka. Suasana berubah menjadi sangat kacau saat Jessie menarik kerah baju Cathy dengan kasar. Cathy yang tadinya dalam posisi duduk, sekarang terseret berdiri oleh tangan Jessie, yang sudah tidak peduli lagi pada kondisi tubuh gadis itu.

Cathy terkejut. Ia terjatuh.

“Apa yang kau lakukan pada Julie! Kurang ajar!” bentak Jessie, berusaha mengangkat tubuh Cathy dan memukulnya. Kayla tercengang, langsung bertindak melepaskan tangan kiri Jessie yang sudah setengah jalan hampir membuat kancing baju Cathy putus. Cathy terpekik.

“Jessie!” teriak Kayla.

Semua orang di sana tampak kaget dengan insiden itu. Nick dan beberapa siswa lain yang baru menyadari apa yang terjadi segera membantu Kayla menangkap Jessie. Jessie sempat memukul Cathy beberapa kali, sebelum akhirnya mereka berhasil memisahkan kedua orang itu, tapi Jessie berteriak tidak puas penuh sumpah serapah.

“Tidak tahu malu! Teman macam apa kau, IBLIS??! Bisa-bisanya Julie mau bersahabat dengan orang jahat seperti kau, Cathy! Gadis jahat!! GADIS JAHAT!!”

Cathy segera duduk kembali, menunduk, dan menangis. Ia menutup mukanya sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun dari mereka bisa melihat wajahnya, namun telapak tangannya itu tidak bisa menyembunyikan suara tangis kencangnya yang memilukan. Rasa sakit di wajahnya setelah ditampar Jessie barusan, tidak lebih sakit daripada rasa sakit di hatinya setelah mendengar kata-kata Jessie.

“IBLIS!!” runtut Jessie sekali lagi. “Mau sampai kapan kau menyakiti Julie?? SAMPAI JULIE MATI?? HAH??? BELUM PUAS KALAU JULIE BELUM MATI??? AKU BENCI KAU SETENGAH MATI!!!! PERGILAH KE NERAKA!!”

Lucy bergidik ngeri.

“JESSIE! TENANG!” Kayla mendengking. “Kau tidak malu apa? Di sini ada Mrs.Light. Kau bisa membuatnya tambah sedih. Diamlah!”

Jessie meringis dan menggeram tanpa henti. Dadanya naik-turun karena napasnya sangat pendek, menahan air mata kekesalan yang tidak henti-hentinya diuji oleh degupan jantungnya. “Si Sapi bodoh itu.. Julie bodoh.. Bodoh…”

“Tenanglah, Jessie,” kata Kayla dengan suara lebih lembut. Ia mengusap punggung Jessie dan menggenggam tangannya dengan erat. “Tenanglah. Dinginkan kepalamu.”

Walaupun tampak lebih tenang daripada Jessie, Kayla pun sedang susah payah mengendalikan dirinya sendiri. Julie adalah sahabat terbaiknya sejak bertahun-tahun lamanya, dan kekecewaannya terhadap Cathy sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Untuk kali ini, ia tidak tertarik untuk bersikap lebih ramah terhadap Cathy. Ia juga marah.

“Nick,” kata Kayla pada Nick. Nick mengangguk. Ia memeluk Jessie dan berusaha menenangkan gadis itu dengan kata-kata lembut.

“Hey, sudahlah, Dolphin,” kata Nick sambil mengusap kepala Jessie.

Cassandra datang tak lama kemudian. Sungguh pemandangan yang aneh, saat Jessie dan Kayla berdiri tepat di seberang Cathy dengan wajah tidak bersahabat, Lucy berdiri pucat dalam posisi serba salah, Nick berusaha menenangkan Jessie namun tidak seorang pun yang melakukan hal yang sama terhadap Cathy. Gadis itu dibiarkan sendirian, entah karena kebencian terhadapnya, atau karena takut padanya.

Beberapa siswa yang tadi ikut membantu memisahkan Jessie sudah bergerak mundur, memberikan ruang pada mereka untuk menenangkan diri. Lily Light pun hanya menyaksikan pemandangan itu dengan berdiam saja–dari gelagat Julie yang aneh akhir-akhir ini, ia sudah yakin kalau Julie dan teman-temannya pasti sedang bermasalah. Kejadian hari ini membuktikan dugaannya benar.

Cassandra terlihat bingung. Ia berjalan dengan ragu-ragu ke arah Lily, Jessie, Nick, Lucy, dan Kayla, namun langsung mengurungkan niatnya mendekati mereka saat mata Jessie berkilat kejam menghakiminya. Ia pun bergerak mendekati Cathy.

“Cathy,” kata Cassandra ragu-ragu. Alisnya berkerut resah.

Cathy tidak menjawab. Suara tangisan Cathy mengecil, namun ia masih menutup mukanya dan menunduk di atas kursinya. Cassandra memanggil Cathy sekali lagi, menyentuh pundaknya. Gadis itu dengan cepat membuang tangan Cassandra dari bahunya dan menutup mukanya kembali.

Jessie masih memandang Cathy dan Cassandra dengan tatapan kebencian yang dipeliharanya sampai ubun-ubun. Ia benar-benar benci kedua gadis itu. Julie adalah satu-satunya alasan yang menyatukan mereka semua. Dan tanpa Julie, tidak ada lagi yang bisa membuatnya mentoleransi kehadiran mereka di dalam hidupnya. Ia benar-benar muak.

“Kenapa ada mereka di sini? Mereka bukan sahabat Julie, mereka orang asing,” kata Jessie dingin.

Cassandra mematung.

Lucy tak dapat menahan rasa ibanya pada mereka. Ia menatap Cassandra dengan lemah, sebagai satu-satunya orang yang mau bersimpati terhadap Cassandra sekarang, Lucy memberikan sedikit gerakan tangannya yang melambai untuk mengajak Cassandra mendekat, sambil mengangguk tipis–takut ketahuan Jessie dan Kayla. Ia tak dapat menjelaskan betapa sedih dan bimbangnya wajah Cassandra saat itu. Gadis itu seperti sebentar lagi akan menangis. Sementara itu, Cathy masih menutup mukanya.

Jessie mengepalkan tangannya dengan geram. Kalau saja mereka tidak melerainya, dia tadi sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menghajar Cathy sampai babak belur. Dia sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan gadis memuakkan itu. Dan Cassandra yang munafik. Mereka berdua adalah yang terburuk di antara yang terburuk, yang pernah ada di dunia ini.

“JANGAN PERNAH BERPIKIR AKU AKAN MENGIZINKAN KALIAN MENDEKATI JULIE LAGI. AKU TAK AKAN SEGAN-SEGAN MENAMP-,” kata Jessie.

Seorang perawat keluar dari ruangan operasi, membuat suara Jessie terhenti. Semua orang yang berada di sana langsung menghamburkan perhatian mereka pada perawat itu.

Perawat itu mengerutkan keningnya dan berkata dengan wajah kecut. “Saya minta kalian tenang. Kami membutuhkan ketenangan untuk operasi. Kalau Anda semua ingin membuat kegaduhan, harap lakukan di luar gedung rumah sakit. Mengerti? Terima kasih.” Perawat itu masuk kembali.

“Sudah kubilang, kan,” kata Kayla pada Jessie. Jessie cemberut.

Mereka berempat kembali menghampiri Lily dan berniat menghiburnya. Mereka sebenarnya sudah cukup tenang, sampai suatu ketika, salah seorang di antara siswa Nimber yang lain, Molly Alto, berinisiatif menceritakan lebih detail kejadian tadi dengan nada provokatif. “Sebelum kecelakaan, Cathy dan Julie bertengkar hebat. Mereka saling berteriak, berkejar-kejaran, Julie bahkan sampai menangis di depan Cathy. Mereka membicarakan Richard tanpa henti. Dan–ada luka bakar di tangan Julie tadi, sebesar ini,” Molly menunjukkan pergelangan tangannya.

“Apa?” Mereka terperanjat.

“Tunggu dulu, Julie menangis? Bagaimana mungkin?” kata Jessie meloncat kaget. Molly mengangguk mantap. Jessie terperangah, tidak dapat sedikit pun merasionalisasikan hal itu. Setahunya, Julie tidak pernah menangis seumur hidupnya. Jessie menggelegak lagi. Ia melempar pandangan bengis ke arah Cathy. “Ini keterlaluan.”

“Jess,” Kayla menahan tangan Jessie supaya anak itu tidak pergi ke mana-mana. Jessie mengamuk kesal.

“Dan–luka bakar?” tanya Lucy.

Molly mengangguk. “Sebesar telur. Lukanya benar-benar baru. Aku tak tahu apa yang dilakukan Cathy terhadap Julie sebelum kejadian tadi, tapi kurasa Cathy membakar tangan Julie demi membalas dendam karena Julie telah merebut Richard. Dia memang jahat–”

“Molly, Molly.. Ini bukan waktu yang tepat,” sanggah Kayla secepat kilat. “Kumohon jangan memperburuk keadaan. Mrs.Light, maafkan aku, karena kurasa ini tindakan yang paling tepat dilakukan. Aku juga ingin tahu lebih banyak, tapi saat ini kita semua berada pada situasi emosi yang tidak baik. Aku sendiri tidak tahu bagaimana reaksiku nanti.” Kayla menghela napas. “Untuk saat ini sebaiknya kita tidak membicarakan ini, setidaknya sampai Julie sadarkan diri. Maafkan aku, Mrs. Light. Hanya saja, Jessie.. dia–”

Lily mengangguk sambil tersenyum. “Aku mengerti.”

Permintaan barusan membuat mereka akhirnya memutuskan untuk hening cukup lama. Mereka hanya menunggu dalam rasa was-was yang tidak dapat mereka kendalikan. Tiga puluh lima menit berlalu namun lampu emergensi di rungan operasi itu masih tetap menyala. Belum ada kabar.

Gadis-gadis tersebut mencoba menguatkan Lily. Entah bagaimana caranya, kehadiran mereka telah membuat nuansa optimisme akan kesembuhan Julie meningkat tajam. Lily pun sudah cukup tegar dan tidak menangis lagi. Ia tersenyum lebar saat Kayla berkata bahwa semua akan baik-baik saja.

Kayla sekarang memperhatikan sekelilingnya. Beberapa siswa yang tadi datang sudah meminta izin pada Lily untuk pulang sebentar–sebagian dari mereka berjanji akan kembali lagi. Nick masih menghibur Jessie yang sudah mulai reda, beberapa kali mencoba bercanda, tapi hanya berhasil membuat Jessie mencubitnya, karena lawakannya yang tidak lucu. Lucy terus-menerus melihat ke seberang mereka, tempat Cathy dan Cassandra berada.

Posisi mereka tidak berubah sama sekali.

Cassandra masih berdiri di sana, bahkan meskipun banyak kursi kosong di tempat itu. Ia melihat ke arah mereka dengan bibir yang bergetar. Dan saat mata Kayla dan Cassandra bertemu, Cassandra meneteskan air mata.

Lucy sudah tidak bisa lagi melihat situasi seperti ini. Ia menoleh ke arah Kayla, memohon persetujuan. Kayla diam sebentar. Dalam pikiran singkat dan kejernihan otak yang pulih, ia mengangguk.

Lucy terkejut menerima jawaban yang tidak diduga-duga itu. Tanpa berlama-lama lagi ia langsung berbalik dan membuka tangannya untuk mengajak Cassandra ke arah mereka. Cassandra juga tak kalah terkejutnya. Ia segera berlari secepat kilat menyambut pelukan Lucy. Mereka berpelukan erat sekali.

“Apa yang kalian lakukan??” omel Jessie.

Cassandra menangis sesegukan dalam pelukan Lucy. Lucy tak kuasa terhanyut dalam situasi itu, menangis juga.

“Maafkan aku, maafkan aku–” Suara Cassandra tidak begitu jelas terdengar, namun jelas menyayat hati.

“Aku sangat rindu pada kalian.”

Jessie menyaksikan kejadian itu sambil mendengus skeptis. Matanya menyipit curiga. Dikatupkannya rahangnya rapat-rapat, seolah tidak ingin merasakan apa pun yang bisa mengubah pendiriannya.

Bibirnya mengerucut panjang saat Lucy menyelipkan jari-jemarinya di antara rambut keriting Cassandra. Pemandangan mengingatkannya pada kejadian di Ava Shopping Avenue, saat dia dan Julie berebutan jepit rambut yang dipakai Cassandra, sampai rambut Cassandra rontok sebagian di tangan Julie dan mereka tertawa. Bayangan kebersamaan mereka di masa lalu benar-benar membuat hatinya sakit.

Jessie terdiam, lalu melihat ke arah Kayla. Kayla balas menatapnya. Mereka berpandang-pandangan cukup lama, seolah-olah dapat membaca pikiran satu sama lain.

Setelah gerakan isyarat itu, ia menjauh dari Nick dan kini bergerak memeluk Lucy dan Cassandra tanpa antisipasi dari mereka.

“Kau tahu, Cassandra. Ini kulakukan untuk Julie,” kata Jessie tanpa basa-basi lagi. Ia memeluk kedua sahabatnya itu dengan sama eratnya. Ia dan Kayla telah sepakat ingin mengakhiri pertikaian ini.

Maka suara tangisan itu semakin kencang.

Kayla, yang tidak bergabung dengan mereka, menoleh ke arah Cathy. Gadis itu masih menutup mukanya, namun tubuhnya terhentak beberapa kali. Kayla pun bangkit menemui gadis itu. Ia memilih duduk di sebelah Cathy. Dengan kebijaksanaannya yang telah kembali, ia pun memeluk punggung sahabatnya yang menelungkup itu.

Tubuh Cathy berguncang hebat.

“Kayla.” Suara serak itu muncul juga, saat ia merasakan dekapan hangat Kayla. Nadanya benar-benar sedih memilukan hati. Kehadiran Kayla di sisinya saat ini jelas-jelas mempengaruhi emosionalnya.

“Seharusnya aku saja yang mati.”

Cathy akhirnya mengangkat wajahnya. Wajahnya sudah benar-benar bengkak dan merah, air mata membanjiri pipinya. Ia menatap Kayla lekat-lekat. “Dia menolongku dari Emma, Kay. Julie menyelamatkanku.”

Kayla terdiam. Sejujurnya mereka tidak pernah melihat Cathy seperti ini. Gadis itu terlihat begitu lemah dan rapuh. Image yang sangat berbeda dari Cathy yang dulu pernah dikenalnya, seperti orang yang berbeda. Sepanjang pertemanan mereka, Cathy selalu terlihat paling kuat, tak pernah sedikitpun memperlihatkan kesedihan atau masalahnya pada teman-temannya. Dan kini, gadis itu memperlihatkan sisi gelap yang selalu disembunyikannya selama ini dari mereka.

Kayla memilih untuk mendengarkan dengan seksama.

“Sepanjang hidupku, tak ada orang benar-benar yang menyayangi aku. Tak pernah ada, Kay. Mereka membuangku. Tidak ada orang yang melakukan apa yang Julie lakukan untukku,” kata Cathy terisak-isak. “Dan aku malah menyia-nyiakannya. Aku tadi menginginkannya mati! KENAPA?? KENAPA AKU JAHAT! AKU TAK INGIN JULIE MATI.”

“Teman macam apa aku ini? Aku egois. Aku jahat. Jessie benar, aku memang tak pantas jadi sahabatnya. Aku selalu jahat dan iri padanya. Dan sekarang, dia malah mengorbankan nyawanya untukku. Apa lagi yang kuinginkan darinya? Apa lagi yang harus kurebut dari Julie? Kenapa aku seperti ini!”

“Aku—” Cathy meneteskan air matanya. “—memang jahat. Kalian benar. Aku sangat jahat dan egois. Seharusnya memang aku saja yang mati. Seharusnya aku.”

“Jangan berkata seperti itu,” kata Jessie tiba-tiba. Dia, Lucy, dan Cassandra kini sudah berada di hadapannya. “Kalau kau mati, aku juga pasti menangisi kepergianmu. Aku tak mau menangis untukmu, karena aku benci kau, Cath, jadi jangan sampai kau membuatku menangis karena merindukanmu.”

Cathy menatap Jessie dengan air mata menggenang. “Jessie.”

“Tenang saja, aku tidak akan memukulmu lagi. Aku juga tidak akan minta maaf, karena kau memang pantas mendapatkannya. Aku sudah ingin melakukannya dari dulu,” tukas Jessie datar. “Julie adalah sahabatku. Dia adalah orang yang paling baik yang pernah kukenal, dia selalu mendahulukan teman-temannya lebih daripada apa pun. Itu adalah kelemahan sekaligus kelebihannya. Dan aku sangat benci jika kau memperlakukan Julie dengan buruk, sementara Si Bodoh itu terus-menerus ingin bersahabat denganmu. Aku tak suka kau memanfaatkan kebaikan hatinya untuk memuaskan egoismemu. Iya, kau egois. Manja. Memuakkan. Hanya memikirkan dirimu sendiri.”

“Iya, kau benar,” kata Cathy lemah. Sudut mulutnya tertekuk ke bawah. “Selama ini aku memang egois. Aku minta maaf.”

“Berjanjilah kau tidak akan menyakiti Julie lagi. Berjanjilah sebanyak yang kau bisa, baru aku akan memaafkanmu,” kata Jessie, menandaskan ketegasan.

Cathy mengangguk pelan dan berbicara dengan suara isakan yang tertahan. “Aku berjanji tidak akan pernah melakukannya. Aku berjanji tidak akan pernah menyakitinya lagi, sampai kapan pun. Aku berjanji akan menjaga perasaannya seperti menjaga perasaanku sendiri. Aku berjanji akan memperlakukannya seperti saudara kandungku sendiri. Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan kebaikannya lagi. Aku berjanji–”

“Itu sudah cukup, Cath,” kata Kayla.

Cathy mulai menyeka air matanya. Rambutnya yang semrawut tidak dipedulikannya sama sekali. Kayla tersenyum.

“Rambutmu,” kata Kayla. “Kalau Julie lihat, dia pasti akan mengomentarinya. Apa yang biasanya diucapkannya, ya?”

“Rambut singa,” jawab Lucy dan Cassandra berbarengan.

“KEMOCENG BULU NAGA,” kata Jessie. “Kemarin anak bodoh itu mengucapkan kata-kata aneh itu saat menertawai rambut palsu Ms.Watson.”

Mereka tertawa meledak.

“Kuharap Julie baik-baik saja,” kata Cassandra. Lucy dan Kayla mengangguk. Jessie menjawab dengan keyakinan penuh.

“Jangan khawatir. Si Bodoh itu tahan banting. Dia tidak akan kenapa-napa.”

Cathy hanya tersenyum saja. Kesedihan masih terpancar jelas di matanya. Kayla memperhatikan itu dan mencoba menghiburnya.

“Aku tahu, kalau Julie ada di sini, dia pasti juga ingin memelukmu, Cath,” kata Kayla kemudian. “Atas nama Julie-peluklah kami, Cath. Kau harus tahu kalau kami selalu menyayangimu.”

Mereka berlima sekarang saling berpelukan.

Nick, yang sedari tadi hanya bisa menjadi pengamat yang baik, tersenyum lega saat melihat kelompok yang disukainya ini akhirnya berbaikan kembali. Kejadian yang menimpa Julie memang benar-benar tragis, tapi pada akhirnya gadis itulah yang menyatukan mereka. Sejak dulu sampai sekarang, gadis itu dengan pesona anehnya selalu dapat memukaunya dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.

Nick baru ingat, ponselnya bergetar terus dari tadi. Sebelum ia sempat menelepon balik orang yang menghubunginya tanpa henti itu, ternyata orang itu sudah tiba di sana. Orang itu segera menarik perhatian sekelilingnya dalam sekejap, meskipun dengan napas yang terengah-engah dan wajah pucat yang sangat khawatir.

Seorang anak laki-laki berkulit pualam, kini memandangi Nick dengan mata birunya yang khas.

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

37 thoughts on “23 – Pengakuan (2)

  1. Ping-balik: Daftar Isi | Naya Corath

    • Semoga worth the wait, yaa Yulie 😀

      Oh iya, novel terbaruku sudah muncul. Kalau kamu mau pre-order, kasih tau aku ya 😀 (sebelum tanggal 26 November 2015). Ada bonus ttd

      Novel Eternal Flame

    • Ditunggu kelanjutannya, Nindri! 😉

      Oh iya, novel terbaruku sudah muncul. Kalau kamu mau pre-order, kasih tau aku ya 😀 (sebelum tanggal 26 November 2015). Ada bonus ttd

      Novel Eternal Flame

  2. Ping-balik: CATATAN DARI PENULIS (74) | Naya Corath

    • Update terbaru sudah muncul yaa Dea 😀
      Selamat membaca! 😉

      Oh iya, novel terbaruku berjudul ETERNAL FLAME sudah terbit di toko buku Gramedia. Kalau kamu misalnya mau pesan langsung dariku (dan mau ada request tertentu), kirim ke e-mailku yaa: nayacorath@gmail.com
      (Ssst.. Ada bonus ttd!) ❤

      Eternal Flame

  3. OMG… Ini bener-bener sedih… Semuanya kembali karena Julie… Plisss, Let the “LIGHT” that still shines with its own charm.. Jadi kepikiran sama Richart.. Pasti dia sedih banget… Puk puk puk.. Bantuin tepuk-tebuk tabahin si Richart… Hehehe.. Bestfriend emang the best ever..

    • Hehehe.. Setuju!
      Update terbarunya sudah ku-publish yaa Iyand
      Selamat membaca! 😉

      Oh iya, novel terbaruku berjudul ETERNAL FLAME sudah terbit di toko buku Gramedia. Kalau kamu misalnya mau pesan langsung dariku (dan mau ada request tertentu), kirim ke e-mailku yaa: nayacorath@gmail.com
      (Ssst.. Ada bonus ttd!) ❤

      Eternal Flame

    • Kelanjutannya sudah bisa dibaca lagi yaa Istima 😀
      Selamat membaca! 😉

      Oh iya, novel terbaruku berjudul ETERNAL FLAME sudah terbit di toko buku Gramedia. Kalau kamu misalnya mau pesan langsung dariku (dan mau ada request tertentu), kirim ke e-mailku yaa: nayacorath@gmail.com
      (Ssst.. Ada bonus ttd!) ❤

      Eternal Flame

    • Part selanjutnya sudah ku-posting yaa Hime Chan 😀
      Selamat membaca! 😉

      Oh iya, novel terbaruku berjudul ETERNAL FLAME sudah terbit di toko buku Gramedia. Kalau kamu misalnya mau pesan langsung dariku (dan mau ada request tertentu), kirim ke e-mailku yaa: nayacorath@gmail.com
      (Ssst.. Ada bonus ttd!) ❤

      Eternal Flame

  4. Ka Nay.. aku gemeteran bacanya. Feelnya dapet beneran deh. Akhirnya cathy mulai luluh juga. Dan.. Ya! Akhirnya Richard dateng, yeaay! Semoga keadaan Julie ga parah. Jangan lama-lama kaya kemarin ya lanjutin ceritanya:D

    • Nggak lama kok, hehehe. Sudah kuposting yaa Nandita 😀
      Selamat membaca! 😉

      Oh iya, novel terbaruku berjudul ETERNAL FLAME sudah terbit di toko buku Gramedia. Kalau kamu misalnya mau pesan langsung dariku (dan mau ada request tertentu), kirim ke e-mailku yaa: nayacorath@gmail.com
      (Ssst.. Ada bonus ttd!) ❤

      Eternal Flame

  5. Knp trburu buru memaafkan cathy? Klau mmg smua yg mmprtmukan mrk itu julie, hrusnya yg mndmaikan prmsuhan mrk jg hrus julie stelah dia sdar dari koma. Shingga mnimbulkan efek jera dan emosionalnya lbh trasa. Klau mnurut sy trlalu cepat alurnya, nggak seru klau mrk sdh damai sblm julie sdar aplg yg disayangkan mrk berdamai sblum richard dtg mlht kjadiannya, jd kita jg bs tau reaksi richard, apkh dia dtg mnngkan cathy ats rs brslahnya atau justru dia mmihak jessy bgtu mndngr alasan julie trtbrak dan bsarnya rs cinta dia ke julie..

    • Terima kasih atas masukannya.. ^_^
      Update berikutnya sudah kuposting lagi yaa Mala
      Selamat membaca! 😉

      Oh iya, novel terbaruku berjudul ETERNAL FLAME sudah terbit di toko buku Gramedia. Kalau kamu misalnya mau pesan langsung dariku (dan mau ada request tertentu), kirim ke e-mailku yaa: nayacorath@gmail.com
      (Ssst.. Ada bonus ttd!) ❤

      Eternal Flame

  6. kak…keeerrreeeennnnnn banget… Kpan lnjutnny nih Kak?? Udh gx sbar mo tau klanjutnny bgmn..
    Jgn lma2 ya Kak,,
    SEMANGAT 🙂

    • Kelanjutannya sudah muncul yaa Sumar 😀
      Selamat membaca! 😉

      Oh iya, novel terbaruku berjudul ETERNAL FLAME sudah terbit di toko buku Gramedia. Kalau kamu misalnya mau pesan langsung dariku (dan mau ada request tertentu), kirim ke e-mailku yaa: nayacorath@gmail.com
      (Ssst.. Ada bonus ttd!) ❤

      Eternal Flame

  7. Aduuuhhhh, banjiirrrr!!! Banjir air mata tapi 😀
    Pengen cepet2 tahu keadaannya Julie. Dan yeah, berharap juga kalau setelah ini Julie mau jujur ttg perasaannya ke Richard 🙂

    • Update terbaru sudah muncul yaa Reyya 😀
      Selamat membaca! 😉

      Oh iya, novel terbaruku berjudul ETERNAL FLAME sudah terbit di toko buku Gramedia. Kalau kamu misalnya mau pesan langsung dariku (dan mau ada request tertentu), kirim ke e-mailku yaa: nayacorath@gmail.com
      (Ssst.. Ada bonus ttd!) ❤

      Eternal Flame

  8. Aku terharu kak! Akhirnya the lady witches kembali bersatu! Kak, seringin update dong kak! Aku penasaran nih! Pasti cowok di paragraf terakhir itu Richard 😀 . Jangan lupa update kilat ya kak! Kalo bisa, dua kali sehari XD

    • Hahaha dua kali sehari? 😀 Pengennya sih gitu.. wkwkwk
      Mudah-mudahan akhir tahun 2015 ini sudah bisa tamat. Aamiin. Kayaknya emang aku bakalan sering update bulan ini.

      Postingan terbaru sudah muncul yaa Mimi
      Selamat membaca! 😉

      Oh iya, novel terbaruku berjudul ETERNAL FLAME sudah terbit di toko buku Gramedia. Kalau kamu misalnya mau pesan langsung dariku (dan mau ada request tertentu), kirim ke e-mailku yaa: nayacorath@gmail.com
      (Ssst.. Ada bonus ttd!) ❤

      Eternal Flame

  9. kyaaaaaa! >.< ,ketinggalan 6 hari *baah 😥 , asli worth it nungguin nya ka , terharu , hampir saja menitikkan air mata :'). Lanjutkan yesss 😀 Fighting!

    • Terima kasih Novia 😀
      Kelanjutannya sudah bisa dibaca yaa.. 😉

      Oh iya, novel terbaruku berjudul ETERNAL FLAME sudah terbit di toko buku Gramedia. Kalau kamu misalnya mau pesan langsung dariku (dan mau ada request tertentu), kirim ke e-mailku yaa: nayacorath@gmail.com
      (Ssst.. Ada bonus ttd!) ❤

      Eternal Flame

    • Teriam kasih Niya 😀
      Update terbarunya sudah ada yaa
      Selamat membaca! 😉

      Oh iya, novel terbaruku berjudul ETERNAL FLAME sudah terbit di toko buku Gramedia. Kalau kamu misalnya mau pesan langsung dariku (dan mau ada request tertentu), kirim ke e-mailku yaa: nayacorath@gmail.com
      (Ssst.. Ada bonus ttd!) ❤

      Eternal Flame

  10. Omg kaak
    Udah aku tunggu tunggu kelanjutannyaaa dan hasilnyaa . wow awesome 👍aku kira mereka akan semakin terpecah. Tapi malah semakin kuat dan bersatu. Gak sabar liat kisah richard ama julie. Semangat kaakakaa kutunggu cerita selanjutnya 👼

    • Hehehe update part 3, 4, dan 5 sudah muncul yaa B
      Selamat membaca! 😉


      launching-yesterdayinbandung

      Jangan lupa, tanggal 14 FEBRUARI 2016 ini, jam 11 siang di AULA GRAMEDIA MATRAMAN…. kalian bisa ketemu aku, 9 penulis Elex, dan Jenny T. Faurine sang penulis best seller #1 Elex Media, di acara launching novel kolaborasiku ETERNAL FLAME“.

      Kalian juga bisa hunting tanda tangan, karena 10 penulis yang berasal dari berbagai kota ini akan hadir semuanya, LENGKAP!

      Oh yaa… Nanti di sana ada PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA DAN KUIS JUGA. YANG MAU IKUT LOMBANYA, KLIK DI SINI YAA.

      Sampai ketemu di Gramedia Matraman! 😉

      1866450-130525000143

  11. Ping-balik: 23 – Pengakuan | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s