Creative Writing Workshop #SafetyFirst oleh Bernard Batubara (10 Oktober 2015)

Comments 18 Standar

Hari Sabtu kemarin, tanggal 10 Oktober 2015, aku mengikuti Creative Writing Workshop yang diisi oleh novelis Bernard Batubara, bertempat di Comic Cafe Tebet, Jakarta Selatan. Acara ini adalah bagian dari pengumuman kompetisi menulis cerita pendek bertema #SafetyFirst, disponsori oleh Nulisbuku.com, GagasMedia, dan Yayasan Astra Honda Motor.

12088159_401887293340796_8977166203837879803_n

Kebetulan, acara itu dekat dengan rumahku. Jadi aku menyempatkan waktu untuk mengikutinya, ditambah lagi dengan rasa penasaran dengan kelas menulis Bernard Batubara yang belum pernah kuikuti sebelumnya. Bara hanya mendapat slot waktu berbicara 1 jam saja (sayangnya), tapi menurutku isi presentasi Bara hari itu sangat bermanfaat. Cara penyampaiannya pun excellent.

Kualitas microphone saat itu tidak bagus (gema ruangannya terlalu parah, hampir sepanjang waktu terdengar seperti orang bergumam), tapi Bara berhasil membuat orang-orang terkesan. Sesulit apa pun kami mendengar, kami masih berusaha untuk bisa menyimak pelajaran penting yang disampaikannya. Slide presentasinya juga sangat menarik.

Bad news is, AKU DUDUK DI BARISAN PALING BELAKANG.

Jadi tidak akan ada foto-foto kelas yang memanjakan mata kalian pada ulasan kali ini. Daya tangkap auditoriku pun sudah kuamplifikasi, belum maksimal seperti biasanya, tapi inilah takdir tak terelakkan dari Tuhan. Yang berhasil kucatat hanya segini, hahaha. Tadinya bahkan aku tidak berniat mengabadikannya ke dalam bentuk ulasan (saking desperate-nya dengan kualitas pendengaranku, aku harus banyak mengimprovisasi penjelasannya), tapi setelah kupikir-pikir, kontennya memang terlalu menarik untuk dilewatkan.

Selamat menyimak!


 

HOW TO KEEP THE READERS READING
(Bagaimana Cara Membuat Para Pembaca Tetap Terus Membaca Tulisan Kita)

oleh Bernard Batubara

  1. BEGIN WITH A CHAOS
    Mulailah ceritamu dengan kekacauan. Dengan begitu, pembaca langsung tertarik dan perhatian mereka langsung terebut, begitu membaca paragraf pertama.
  2. THEN SLOW IT DOWN
    Setelah adegan pertama yang kacau, langkah berikutnya, hilangkan chaos-nya. Temponya dipelankan. Misalnya, bagian ini bisa kita isi dengan flashback, untuk merunut perlahan-lahan kenapa kekacauan yang muncul di adegan pertama bisa sampai terjadi.
  3. GIVE BACKGROUND
    Cerita yang baik adalah cerita yang berlapis-lapis. Berikan background terhadap adegan-adegan dan kepribadian para tokoh, yaitu cerita latar belakang kenapa mereka bisa memiliki sifat seperti itu, atau memutuskan melakukan hal tersebut. Berikan alasan, berikan cerita pendukung yang menjelaskan.
  4. RAISE THE TENSION
    Setelah tadi temponya relatif santai, sekarang naikkan lagi tensinya. Munculkan lagi ketegangan di tengah-tengah cerita. Di situlah letak seni bercerita, yaitu kita harus pintar-pintar mengatur tempo, yang membuat pembaca merasa TEGANG – RILEKS – TEGANG – RILEKS. Jangan tegang terus, atau jangan lambat terus, supaya pembaca tidak cepat bosan.
  5. MAKE IT WORSE
    Ketika kita memberi masalah terhadap tokoh kita, jangan langsung diselesaikan. Buatlah agar masalahnya menjadi semakin buruk, keadaannya menjadi tambah sulit, benar-benar terpojok, sampai-sampai tokoh itu putus asa, dan tidak tahu harus melakukan apa untuk menyelesaikan masalahnya. Buat seburuk mungkin, supaya karakter/kepribadian asli dia bisa keluar. Jangan tanggung-tanggung memberi konflik di sini. Buatlah kondisinya sesulit mungkin.
  6. REVEAL A SECRET
    Manusia seperti apa pun, pasti punya rahasia. Introvert, atau extrovert sekali pun, pasti punya rahasia yang tidak pernah mereka katakan pada siapa pun. Di bagian ini, keluarkan sebuah rahasia yang terdalam yang dimiliki oleh tokoh kita.
  7. BRING IT TO THE END (Make it STACATTO)
    Maksudnya stacatto di sini adalah, temponya harus dibuat sangat cepat. Tek, tek, tek, tek. Lakukan narasi dengan cepat, supaya pembaca semakin tegang.
  8. FINISH IT BEAUTIFULY
    Akhiri dengan cantik. Bayangkan seolah-olah seperti kita sedang menutup sebuah acara MAGIC SHOW, kita harus menutupnya dengan megah dan spektakuler. Kalau mau sedih, sedih sekalian, kalau mau dibuat senang, dibuat senang sekalian. Jangan tanggung-tanggung. Jangan ragu juga untuk mengakhirinya dengan tiba-tiba (maksudnya, tiba-tiba selesai/tutup), karena banyak penulis yang berhasil melakukan ini, dan ini justru membuat tulisan kita semakin berkesan. Tapi pastikan juga kalau kita berhasil menulisnya dengan bagus, sebelum memutuskan untuk mengakhiri tiba-tiba seperti ini. (kalau ceritanya jelek, menutup tiba-tiba justru bikin pembaca makin jengkel)

TIPS MENULIS LAGI:

  • Simpilicity
    Kalau kita bisa mengungkapkan sesuatu dengan cara yang sederhana, tidak perlu menggunakan kata-kata rumit yang sulit dimengerti. Pertajam gagasan ceritanya, tanpa harus merumitkan kata-kata hanya untuk menutupi kekurangan kualitas isi cerita kita. Be clean and direct.
    (Ini sama persis seperti yang pernah disarankan oleh Raditya Dika –> baca ulasannya di sini)
  • Freedom
    Dengarkan tips saya dan lupakan. Akhirnya teman-teman harus menemukan gaya menulis yang cocok dengan kalian masing-masing. Pelajari dasar-dasarnya, berlatihlah terus-menerus, bend the rules dan berinovasi, bereksperimen dengan tulisan kalian, sesuai dengan gaya kalian.
  • Personalize Your Narrator
    Buatlah ciri khas tulisan kalian sendiri. Saking khasnya, sampai-sampai jika pembaca melihat potongan tulisan kalian, mereka langsung tahu siapa penulisnya. Kita harus menciptakan voice, voice ini yang nanti akan membuat pembaca mengenali karakter tulisan kita.
  • Inwardness
    Masuk sangat dalam ke isi hati tokoh, benar-benar dalam. Apa yang ia takuti? Apa yang ia rasakan? Masuklah ke lapisan paling dalam dan munculkan itu, tarik narasinya.
    (Ini mirip seperti Circle of Life yang pernah dijelaskan oleh Raditya Dika  –> baca ulasannya di sini)
  • Artisty
    Ambillah pelajaran dari cabang seni yang lainnya. Musik, film.. Dari film, kita bisa belajar bagaimana menulis cerita yang tidak bertele-tele, karena di film, semua elemen cerita yang paling penting harus bisa diringkas dalam durasi 2 jam. Dari musik, kita bisa belajar menempatkan tempo, misalnya seperti kapan menempatkan intro, bridge, reff.
  • Observasi
    Ini sangat penting. Sebagai penulis, kita harus belajar melatih kemampuan observasi kita terhadap lingkungan di sekitar, sehingga mampu memunculkan perspektif baru dalam tulisan kita.

Okey. Nggak banyak yang bisa kutulis, tapi ini sudah lebih dari cukup untuk memberikan panduan pada kita tentang trik-trik yang menarik dan bermanfaat di dunia kepenulisan.

Last but not the least… Foto narsis. Hehehe. 😛

12072580_10204880485068118_5618137409945065763_n

Aku pernah bertemu dengan Bara di ASEAN LITERARY FESTIVAL awal tahun ini. The good news, ternyata dia masih mengenaliku. The bad news is, aku diingat sebagai orang yang bicaranya panjang lebar. Hahaha. Memangnya aku sepanjang lebar itu ya? 😛

Sekian dan terima kasih. Semoga bermanfaat! 😉

 

CATATAN AKHIR NAYA: Gimana? Kalian suka nggak tulisanku ini? Bermanfaat nggak? Ada yang kurang jelas? Ada yang kalian banget? Aku minta komentarnya yaaa, supaya aku makin semangat menulis buat kalian. Terima kasiiihh….! 😉

Iklan

18 thoughts on “Creative Writing Workshop #SafetyFirst oleh Bernard Batubara (10 Oktober 2015)

  1. Keep it up Mbak Nay!! Yang kaya gini nih yang bener-bener di butuhin sama para penulis yang ingin berkembang,blog yang penuh inovasi juga bisa sebagai mentor hahaha …Two Thumbs Up deh pokonya !! (*Udah kaya di cover DVD bajakan aja ya wkwkw)

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s