22 – Teman (6)

Comments 27 Standar

Julie berusaha menormalkan pernapasannya. Ia tidak tahu dari mana keberanian itu datang, tapi yang jelas keberanian itu datang di saat yang tepat.

Ia kemudian menatap Cathy. “Kau tidak apa-apa?”

Cathy tidak menjawab. Gadis itu terdiam membatu seperti patung. Ia memaku pandangannya pada ponsel Julie yang berserakan di tanah.

Julie berjongkok meraih ponselnya, mencoba mengumpulkan potongan logam itu di telapak tangannya. Ia tersenyum senang. “Ternyata Emma memang tidak sepintar yang kita pikirkan, Cath. Siapa sangka mereka dengan mudah bisa tertipu bualanku. Jessie pasti terkejut.”

Cathy tidak menjawab apa-apa. Ia hanya memperhatikan Julie memasukkan sisa-sisa kepingan ponselnya ke dalam tasnya dalam diam, sesekali menatap bekas luka bakar di tangan Julie.

“Richard yang mengirimkan video itu padaku. Baru saja. Itu sebabnya aku langsung ke sini. Kau pasti tidak percaya,” kata Julie. “Aku tak tahu bagaimana ia mendapatkannya, tapi kuharap ia masih menyimpan salinannya. Dia sangat khawatir padamu, Cath. Kami semua sangat khawatir padamu. Kenapa kau tidak pernah menceritakan pada kami tentang Emma? Apa saja yang dilakukan Emma padamu? Apakah dia menyakitimu?”

Cathy berkerut masam. Ia menjawab ketus. “Bukan urusanmu.”

Mendengar nama Richard yang disinggung Julie membuat Cathy merengut kesal, ia meraih tas sekolahnya dengan cepat, dan memakainya dengan gegabah. Kejadian hari ini bukan hal yang disukainya, kehadiran Julie lebih-lebih membuatnya merasa semakin dipermalukan. Ia segera menyingkir dari tempat itu tanpa mempedulikan gadis itu lagi.

“Tidak—” kata Julie. “Hey. Tunggu!”

Julie terpaksa mengejar Cathy dengan susah payah. Langkahnya tertatih-tatih namun ia memaksanya untuk tetap berjalan. Kakinya masih sakit karena ditendang Emma tadi, tapi ia berusaha untuk tidak menggubrisnya.

“Kenapa kau tak pernah bilang pada kami kalau kau masih diganggu Emma?”

Julie mengejar sambil meringis menahan nyeri. Tangannya pun mulai berkedut-kedut perih lagi. “Kau tahu kami bisa membantumu. Kami sahabatmu.”

“Kau bukan sahabatku,” desis Cathy.

“Kenapa kau bersikap seperti ini? Aku tidak ingin kita seperti ini. Cathy!” kata Julie.

Cathy berjalan tanpa henti, Julie tetap mengikutinya dari belakang. Cathy tidak menghentikan langkahnya sama sekali. Ia terus menghindar dan menghindar, bahkan meskipun itu berarti harus menghadang ilalang tajam yang hampir mengiris kulitnya.

“Cathy!”

Cathy malah mempercepat langkahnya.

“Kenapa kau terus-menerus mengikutiku? ENYAH!” Ia memandang garang. “PERGI!”

“Kenapa kau tidak mau berhenti dan menyelesaikan masalah ini? Aku akan terus mengikutimu sampai kita menyelesaikan urusan antara kau dan aku.” Julie mendengus kesal.

Cathy berjalan cepat lagi menghindari Julie, menuju trotoar di belakang sekolah, menyeberangi jalan raya lebar.

“Kenapa?” runtut Julie, mencoba berkomunikasi dengan Cathy lagi. “Kenapa kau begitu membenciku? Aku tak mengerti. Selama ini kita adalah teman baik, kan? Kupikir persahabatan kita lebih berarti daripada segalanya. Kenapa kita harus jadi seperti ini?”

“Aku tidak ingin bersahabat denganmu,” kata Cathy. “Enyah!”

“Jadi apa yang kau inginkan?” kata Julie. “Berhentilah, Cathy! Ayo kita bicarakan ini baik-baik. Katakan apa yang kau inginkan agar kau memaafkanku. Aku akan melakukannya untukmu.”

Mereka masih saja bekejar-kejaran seperti anak kecil. Situasi seperti ini lama-kelamaan membuat Julie menjadi sangat dongkol. Julie mulai kehilangan kesabaran. Ia akhirnya mengeluarkan sisa tenaganya demi berteriak sangat keras.

“CATHY! KUBILANG BERHENTI!”

Gadis itu akhirnya berhenti juga.

Napas Julie sekarang terengah-engah. Seluruh energinya hampir habis untuk berlari dan berteriak. Ia menunggu respon Cathy, yang saat ini sengaja membiarkan suasana di antara mereka sunyi selama beberapa puluh detik, sebelum memberikan reaksi berikutnya. Ia memutar tubuhnya perlahan ke arah Julie.

“Kau ingin tahu apa yang kuinginkan? Kau yakin kau bisa memenuhinya, Julie?” desis Cathy. Julie mengangguk. Cathy balas menatap Julie dengan tatapan bengis. Nada bicara yang ia gunakan sengaja dimaksudkan untuk mengiris perasaan siapa pun yang mendengarnya.

“Aku ingin kau mati.”

Julie terdiam.

Kata-kata Cathy barusan benar-benar menyakiti hatinya. Kebencian Cathy padanya benar-benar dalam, sampai gadis itu tega mengucapkan hal seperti itu padanya. Langkahnya mulai melambat, seakan menyerap setiap kata kasar yang telah dilontarkan Cathy barusan. Matanya panas dan perih. Ia sudah tidak tahan lagi. Ketika darah panas surut dari wajahnya, air mata marah merebak.

“Kau benar-benar keterlaluan, Cathy.”

Julie menahan rahangnya yang gemetar. Suaranya yang bergetar tidak dapat dikontrolnya lagi. Ini adalah momen yang paling dihindarinya selama ini.

“Kenapa hanya aku yang tidak boleh menyukai Richard? Kenapa?” Julie mencecar dengan pertanyaan membakar. “Kenapa hanya kau yang boleh menyukainya? Kenapa!?”

Cathy memalingkan muka. Ia sekarang menatap Julie dengan senyuman sinis. “Jadi kau menyukainya?”

Julie menatap Cathy dengan pandangan menantang. Kalimat itu akhirnya keluar juga dari mulutnya. Dadanya panas. Urat-urat kepalanya tegang dan tertekan. Mereka berpandang-pandangan dengan dingin seperti saling bermusuhan.

“Iya. Aku menyukai Richard,” Julie menjawab tegas, tanpa sedikit pun keraguan.

“Pengkhianat.”

Julie merasa wajahnya semakin mengeras.

“Aku memang menyukainya! Tapi aku tak pernah sekali pun ingin merebut Richard darimu. Tidakkah kau melihatnya? Aku selalu mengalah untukmu! Kenapa kau sangat egois??”

Cathy menatap tajam. Amarah mengguncang tubuhnya seperti cambuk.

“EGOIS?” Cathy tertawa. “Ya, aku memang egois, Julie. Manusia teregois di dunia ini. Puas? Supaya kau semakin puas lagi, akan kuceritakan apa yang kupikirkan tentangmu. Aku akan menunjukkan padamu betapa egoisnya aku.” Cathy menarik rambutnya dengan frustrasi.

“Kau tahu apa yang kupikirkan sekarang, Julie? Kau tahu?? Aku muak. Aku muak padamu. Aku benci dan cemburu dengan semua yang kau dapatkan. Bagaimana rasanya sekarang? Menjadi THE UNBEATABLE! Sang Tak Tertaklukkan!” Suara Cathy menggelegar, memperagakan setiap kalimatnya dengan intonasi menyindir. “Kau selalu mendapatkan apa pun yang kau mau. RICHARD. Bahkan sekarang kau berhasil mengalahkan Emma. Wow! Kau memang sangat sempurna, Julie! Semua orang pasti jatuh cinta padamu!”

“Apa? Apa maksudmu? Aku tidak—” Kening Julie berkerut.

“Aku tak pernah habis pikir kenapa semua anak laki-laki menyukaimu. Kenapa? Maksudku, lihatlah dirimu. Kau tidak cantik. KAU BODOH. Apa yang menarik dari gadis biasa sepertimu?” kata Cathy tanpa mempedulikan ucapan Julie sama sekali.

“Aku sudah cukup bersabar selama ini. Kau boleh menaklukkan siapa pun, Julie. Aku tak peduli pada mereka, para anak laki-laki bodoh itu. Aku tak peduli jika seluruh orang di dunia ini jatuh cinta padamu tanpa alasan yang jelas. Tapi sekarang—Richard? Kenapa Richard menyukaimu? Apa yang dia lihat!? Apa dia buta?”

Julie menatap kecewa. Dadanya sakit sekali.

“Jadi, itu yang kau pikirkan tentangku selama ini?”

“Di antara semua orang di dunia ini, kenapa harus kau yang disukainya? Kenapa?” kata Cathy penuh emosi. “Di sekolah kita, kenapa hanya kau yang bisa membuat Richard jatuh cinta padamu? Kenapa? BAGUS! SEMPURNA. Kau memang adalah segalanya di dunia ini, Julie. Yang Tak Tertaklukkan! Dan siapa aku?”

Air mata kesedihan bergulir kencang di pipi Cathy. Gadis itu berusaha susah payah menahannya, menyeka setiap tetes yang keluar dari matanya, seolah ingin memungkiri kesedihan itu.

“Siapa aku di mata orang-orang?” isaknya. Nada suaranya berubah menjadi rendah. “Aku bukan siapa-siapa, aku sama rendahnya seperti sampah yang tidak berharga. Aku tidak berharga. Aku–”

Cathy tampak sangat terpukul dan rapuh. Kepedihan membuat wajahnya terpilin. Kelopak matanya turun dan suaranya terdengar letih. Air mata yang mengalir semakin deras di pipi Cathy sekarang mulai melunakkan hati Julie.

“Cathy,” kata Julie.

Cathy menceracau seperti orang yang kehilangan harapan.

“Ya, aku cuma sampah, Julie! Aku cuma sampah! Emma benar. Tidak ada yang menginginkanku di dunia ini, Julie. Tidak ada! Semua orang akan meninggalkanku, karena mereka tidak pernah sayang padaku. Mereka akan melukai hatiku dan lagi dan lagi, seperti yang Dad selalu lakukan padaku selama ini. Dia tak pernah peduli padaku! Dia jahat! Semua orang meninggalkanku. Semua orang membuangku seperti sampah! Bahkan Richard. Bahkan Richard meninggalkanku. Dia menyadari kalau aku tidak pernah berharga untuknya.”

Luapan hati Cathy yang baru saja diucapkannya sekarang, tidak pernah Julie lihat sebelumnya. Gadis yang selalu pura-pura kuat itu, yang tidak pernah sekali pun ingin terlihat menangis di depan mereka, kini menangis sesegukan di depan Julie.

Ini seperti bukan Cathy.

“Cathy, apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Julie dengan ekspresi terkejut.

Seorang gadis yang terluka dan disakiti, tengah berdiri di hadapannya, seperti orang berbeda yang pernah dikenalnya. Momen ini akhirnya membuat Julie sadar sebenarnya betapa rapuhnya jiwa sahabatnya itu. Cathy telah menutup dirinya dalam tembok yang amat tinggi tanpa seorang pun yang mengetahuinya, sambil bersembunyi di balik keegoisannya selama ini.

Cathy tidak menjawab. Ia menghapus air matanya dengan wajah marah. Mulutnya terkunci seperti ada rahasia yang benar-benar tidak ingin disampaikan.

“Jika kau menginginkannya,” kata Julie kemudian, “aku akan menghilangkan perasaanku ini untukmu, Cath. Aku berjanji. Aku juga akan membantumu mendapatkan Richard kembali. Bukankah itu yang selama ini kulakukan untukmu?”

Cathy meradang. Kecemburuan yang sangat kentara menyelubungi isi hatinya.

“Tapi dia tidak menginginkanku? Dia mencintaimu, Julie. Dia mencintaimu! Dan aku hanyalah seorang gadis menyedihkan penampung semua bekas mainanmu. Itu kan yang mau kau bilang?”

“Ti-tidak, bukan,” Julie terbata-bata. Ia menghela napas. “Jangan salah paham dulu, Cath. Bukan begitu maksudku. Aku—”

Sekarang Julie merasakan sebuah firasat buruk. Ia melihat sekeliling. Ini tidak akan berakhir baik. Pertengkaran ini harus dihentikan, karena ia mulai menyadari, ada hal lebih genting yang harus mereka lakukan sesegera mungkin. Sekarang juga.

“Cathy, dengarkan–”

“TIDAK! Aku tidak mau mendengarmu!”

“Begini. Sebaiknya kita pindah ke tempat lain, Cath—”

Cathy masih mencecar tanpa henti. Ia berpikir kesempatan yang bagus ini akhirnya memberikan peluang untuk mengungkapkan semua kemarahannya pada Julie.

“Ketika kupikir aku telah menemukan orang yang kucintai dan menyayangiku dengan tulus, dia malah melakukan hal yang sama dengan yang selalu kutakutkan. Richard adalah jawabanku, Julie! Tapi kau merebutnya! Kau merebutnya! Kau tahu kenapa aku membencimu? Karena kau merebutnya, kau merebut orang yang kusayangi, sama seperti saat wanita jahat itu merebut ayahku—”

“Cathy! Ini berbahaya,” kata Julie sambil melihat sekelilingnya. Mereka berada tepat di tengah-tengah jalan raya. Ia berusaha meraih tangan Cathy untuk menyingkir. “Kita harus pergi dari sini.”

“JANGAN SENTUH AKU!”

Gadis itu tidak mau mendengar penjelasannya. Gadis itu tidak berhenti berbicara.

Julie mulai panik karena ia melihat sebuah truk besar datang ke arah mereka.

“Cathy, ayolah!”

Cathy menoleh. Gadis itu akhirnya mendengar suara klakson besar menghujaninya tanpa henti. Ia sudah sangat dekat dengan truk yang akan menabraknya.

“Tidak, tidak—” kata Julie cemas. “CATHY!”

Julie mendorongnya dengan cepat, dan membiarkan tubuhnya sendiri terhempas oleh truk besar itu.

Cathy terperanjat.

 

 BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

27 thoughts on “22 – Teman (6)

  1. Oh My God! Ka Naya, kenapa harus ada adegan ini. Ini ngebuat aku jadi penasraan dan ga sabar nunggu 2 minggu lagi untuk liat lanjutannya:D
    Hufft, semoga Cathy cepet taubat dan julie berhenti jadi gadis naif.

  2. Gregetan liat si Cathy, tu si namanya sirik.. semoga doa si cathy ngk di kabulin.. Jd penasaran ma reaksi temen2 Julie, kalau dengar Julie kecelakaan gara2 si cathy… 😀

  3. Aku pikir sifat egois cathy krn dia sering dimanja sm kluargany dan krn trllu mudah mndapatkan apa yg dia mau dr ortunya. Aku nggk prnh brpikir dia ada bbn mental yg disebabkan dr ayahnya sndiri.
    Masuk akal jg, cathy mncari plampiasan di luar sana mncari apa yg dia mau yg tdk dia dpatkan dr keluarganya.
    Tp klau trlllu egois jg nggak masuk akal mnurutku aplg slama brteman sm cathy sblm peristiwa richard, nggak ada satu pun dr tman tmannya protes atau mnentang cathy, nggak mungkin smua teman lbh dari 2 sama2 pny ksabaran yg lur biasa sprt itu, bhkn jessie marah pun stelah kejadian richard kan…..

    Seneng jg saat permintaan cathy ke julie, lbh baik ngmong gt drpd mnt julie jauhin richard lg.
    Pengen tau respon jessie nglabrak cathy stlah tau julie kcelakaan krn cathy…
    Ditunggu kelanjutannya ya…

  4. Jgn bilang ntr julie malah amnesia.. biasa kalo adegan ditabrak, efek nya bakap amnesia, kalo ga koma.. hadeuh..
    Moga aja dari musibah ini, si cathy binti kepala batu dan egois, bakal sadar kalo julie beneran tulus sahabatan sama dia, yah walau sifat julie yg menyagkal perasaan ny ke richard sangat saya tidak saya sukai..

    Next part moga cathy ikhlasin richard ke julie, dan richard pun tahu perasaan julie yg sebenarnya.. yah walau di waktu yg tidak tepat.. hehe
    Semangat mba.. slalu ditunggu loh update nya.. yuhui.

  5. Aduuuuhhhh!!!
    Aku kok maleeesss bgt sama si Cathy ini -,-
    Nah, tadikan berharap si Julie mati tuh, tinggal bnyak2in doa aja biar cpet terkabul #bantingapapun 😀

    Nyesek tahu jadi Julie, harus ngalah sama mendem mulu dianya TT___TT
    Gak sabaaaarrrr pengen liat reaksinya si Jessi, kalo perlu Cathy-nya dijambak yooooo, hakkakkak

  6. Ping-balik: CATATAN DARI PENULIS (72) | Naya Corath

  7. Ping-balik: Daftar Isi | Naya Corath

  8. Ping-balik: 22 – Teman (5) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s