Bengkel Menulis Kreatif RADITYA DIKA (Part 1)

Comments 28 Standar

Minggu kemarin, tanggal 25 September 2015, aku mengikuti Kelas Menulis Raditya Dika (alias yang hari Jumat), dengan tajuk “Bengkel Menulis Kreatif,” yang bertempat di Conclave Auditorium, Jalan Wijaya 1, Jakarta Selatan.

Aku menulis ulasan kelasnya dalam bentuk 2 part artikel. Ini adalah artikel PART 1.

12047133_10153236011932983_5609061778765597014_n

Sejujurnya, kelas yang pengen aku ikuti itu 2 kelas–“Kesalahan Penulis Pemula” dan “Bengkel Menulis Kreatif.” Tapi sayangnya kelas yang kusebutkan pertama kali itu hari Kamis, tepat di hari raya Idul Adha. Gak bisa datang. 😦

Tebak aku yang manaa?

Tebak aku yang manaa?

PERSIAPAN

Aku duduk di bangku paling depan, sendirian, tak mengerti kenapa orang-orang lainnya memilih duduk mulai di baris kedua. Hahaha. Tapi bukan aku namanya kalo gak pede berlebihan, apalagi aku butuh sudut yang bagus untuk merekam isi pelajaran dari Raditya Dika dan memotret apa pun yang bisa dipotret. Dan luaaaass……! Satu deret bangku untukku semua. Wkwkwk. 😛

20150925_194259 (Copy)

REKAP

Raditya Dika memulai kelas dengan membahas bau duren yang ada di hadapannya. Hahaha. Belakangan baru disadari ternyata bau duren itu berasal dari bingkisan plastik yang diberikan oleh salah satu peserta, yang tadinya diletakkan di atas mejanya. Karena nggak kuat iman, akhirnya Radit memindahkan bungkusan duren itu jauh-jauh ke pinggir belakangnya, dan seisi kelas pun tertawa.

Yang di bungkusan plastik putih itu isinya duren. :P

Yang di bungkusan plastik putih itu isinya duren. 😛

Oke. Itu gak penting, haha. Seharusnya kita bahas isi kelas menulisnya, ya? 😛

Sejujurnya aku tak tahan menulis banyak celetukan Radit yang bikin seisi kelas tertawa terpingkal-pingkal–tapi demi isi liputan kelas menulis yang fokus, tajam, dan terpercaya, aku berjanji akan berusaha mengurangi hasrat menulis hal-hal yang tidak relevan.

Kita mulai lagi. Sekarang pasang muka serius.

Radit membuka kelas dengan merekap kembali isi pelajaran sejak hari pertama sampai hari keempat. Isi rekapnya adalah sebagai berikut:

  1. Hari pertama -> IDE.
    Ide harus berasal dari kegelisahan kita sebagai penulis. Jangan menulis hanya karena pengen kaya, pengen pamer, tapi harus ada kegelisahan di dalam hati ini yang meminta untuk dijawab.
  2. Hari kedua -> ALUR.
    Ada 3 babak tulisan, masing-masing punya beat cerita sendiri. Babak satu porsinya 25%, babak dua porsinya 50%, dan babak tiga porsinya 25%.
  3. Hari ketiga -> KARAKTER.
    Kita harus memiliki karakter matriks. Isinya–nama, umur, apa yang dia mau, apa yang dia sukai, kapan dia jatuh cinta, kelemahan, kekuatan, dan seterusnya. Cocokin matriks ini dengan matriks milik karakter lawannya di cerita tersebut.
  4. Hari keempat -> KESALAHAN PENULIS PEMULA.
    Dialog salah, pembuka salah, dialog yang nggak asik, dst..

Setelah aku diskusi dengan peserta-peserta lain yang udah ikut kelas-kelas sebelumnya, ternyata kelas Hari Keempat ini yang paling bermanfaat. Aaaaaaah……. T_ 😥 *nangis bombay*

Ya sudahlah. Menurutku pribadi, Kelas Hari Kelima yang kuikuti kali ini juga padat ilmu dan sangat bermanfaat. Hari terakhir, hari kesimpulan. Meskipun aku gak tau mendetail soal teori-teori apa saja yang sudah dijelaskan Radit di kelas sebelumnya, tapi di hari terakhir ini, Radit mengulas kembali teori-teori tersebut, langsung dalam bentuk PRAKTEK.

Cara terbaik untuk belajar. PRAKTEK! 😀

Yup. Di hari terakhir ini, Radit tidak memberikan materi presentasi, tapi para pesertalah yang diminta untuk menyerahkan tulisan-tulisan milik mereka, yang di-copy ke laptop Radit, lalu dipajang dan dipertontonkan bersama-sama ke layar proyektor di depan kelas. Taraaaaa……

Tulisan kita dibahas kata per kata, kalimat per kalimat, lalu dibahas premisnya, konfliknya, halangannya, kelebihannya, kekurangannya, dan banyaaak banget tips on the spot yang diberikan Radit, berbekal pengalamannya bertahun-tahun sebagai seorang penulis, komedian, aktor, dan sutradara.

Selain itu, kita juga bebas bertanya dengan Radit kapan pun, bahkan di tengah-tengah penjelasannya. Jadi, sejujurnya banyak banget ilmu dan pertanyaan yang berseliweran di sepanjang kelas menulis itu. Terlalu banyak! Kecepatan menulisku di atas papan menulis kayu dengan modal lima lembar kertas HVS kosong yang diberikan pihak panitia rasanya tidak bisa menyaingi membludaknya ilmu menulis yang disampaikan oleh Raditya Dika, selama dua jam nyolong tambahan waktu 30 menit itu (harusnya dua jam, tapi saking serunya jadi di-extend setengah jam sama Raditya Dika).

Aku akan coba tulis di sini sebanyak yang aku ingat dan catat. Dan aku usahakan semirip mungkin dengan percakapan aslinya, sesuai dengan aliran obrolan yang terjadi di kelas saat itu, dari awal sampai akhir. Jadi, liputanku kali ini tidak terstruktur yaaa.. Lebih berupa insidental dan tanya-jawab aja.

Mudah-mudahan masih bisa dipahami intinya.

Kalo ada yang kelewatan, kasih tau yaa… 😀

 

TANYA-JAWAB  (disimplifikasi oleh Naya)


Penanya #1: “Saya sudah nulis 24 halaman. Mau coba diperbaikin, pengen ditambahin isi tulisannya, tapi bingung mau nulis apa lagi.”

Raditya Dika:

“Sembilan puluh persen orang stuck menulis gara-gara alur cerita. Karena dia nggak tau alurnya mau dibawa ke mana. Ibaratnya kayak kita bawa mobil nih, kita tau mau ke mana… Mau ke Puncak misalnya. Tapi kita gak tau mau lewat mana nih mobilnya. Premisnya apa?”

Penanya #1: “Nggak bikin.”

Raditya Dika:

“Nah itu. Penulis yang nggak bikin premis, pasti pas nulis halaman 40 dia sudah mabok duluan.”

Di sini akhirnya Raditya Dika mengulang lagi pelajaran tentang PREMIS, yang mana merupakan poin pelajaran di Kelas Hari Pertama.

RUMUS PREMIS: 
PREMIS = Karakter + Tujuan + Halangan

“Coba dibikin premisnya sekarang.”

Penanya #1: Seorang perempuan ingin kembali mengejar cinta lamanya, tapi orang yang ia kejar terus menjauhinya.

Raditya Dika:

“Yang…..? Perempuan yang apa? KARAKTER-nya seperti apa si perempuan ini?” (lalu mengusulkan contoh–pantang menyerah)

PREMIS SEMENTARA:

SEORANG PEREMPUAN YANG PANTANG MENYERAH INGIN KEMBALI MENGEJAR CINTA LAMANYA, TAPI ORANG YANG IA KEJAR TERUS MENJAUHINYA.

“Problemnya apa? Kenapa problem yang di premis ini kurang oke? Ada yang bisa jawab nggak?”

Peserta lain: “Terlalu abstrak.”

Raditya Dika: 

“Bener. Terlalu abstrak masalahnya. Orang tidak bisa lihat. Tidak bisa sentuh. Tidak bisa disaksikan. Caranya gimana? Apa tujuan yang dia mau? Wakilkan masalah ini dalam bentuk suatu adegan. Misalnya:

  • Sangat ingin dicium
  • Sangat ingin ditembak
  • Sangat ingin mantannya bilang ke ibunya dia bahwa mereka sudah balikan
  • Sangat ingin diberi bunga warna putih waktu wisuda

Makin konkrit ini, maka cerita lo jadi makin unik. Makin jelas. Punya ciri khas.

Oh ya, gue ada tips nih buat teman-teman. Usahakan selalu menulis kalimat aktif. Misalnya, DIA MEMUKULI WANITA ITU. Bukan WANITA ITU DIPUKULI DIA. Kenapa? Karena pembaca akan memvisualisasikannya dengan gampang. Kalau pakai kalimat pasif, pembaca harus menejermahkan dahulu kalimat itu dalam bentuk aktif, dan itu bikin dia susah memvisualisasikannya.

Terus, coba ditambahkan lagi kata sifat di premis ini. Seperti apa sifat si cewek ini? Gigih? (Jangan). Gigih itu adalah kata sifat yang BAIK. Idealnya, karakter kita punya kelemahan, supaya harapannya sifatnya akan berkembang di akhir cerita, sehingga dia punya sesuatu yang bisa diperbaiki.

Misalnya kita bikin sifatnya jadi -> seorang perempuan yang keras kepala, naif, jorok, cuek gak mau mendengarkan orang yang dia sayang, dst…… (ini bisa jadi bahan untuk mengembangkan karakter dia).

Lalu, apa kata TAPI-nya di PREMIS ini?

Misalnya, tanyakan ini untuk bikin TAPI-nya:

  • Kenapa mantannya terus menjauhi dia? Karena mantannya tidak yakin dia berubah (contohnya).

Apa yang membuat TUJUAN ini (yang ada di PREMIS, yaitu ingin balikan dengan mantannya) sulit terwujud? Itulah HALANGAN. Makin konkrit kita nulis HALANGAN-nya, makin gak abstrak, maka nulisnya jadi makin gampang.

20150925_191016

Lo maunya nulisnya jadi apa? Cerpen atau novel?”

Penanya #1: “Novel.”

Di titik ini, Raditya Dika pun langsung meminta tolong panitia untuk memindahkan koneksi proyektor ke handphone-nya. Ia menggambar sebuah garis dengan aplikasi Sketch Note, tentang 3 babak tulisan, yang merupakan materi pelajaran di Kelas Hari Kedua.

Raditya Dika:

ACT 1, itu isinya pengenalan tokoh. ACT 2, ini nih isinya seru-seruan, lucu-lucuan, senang-senang. Buat dia sebahagia mungkin di ACT 2, dan MIDPOINT itu bagiannya yang dia paaaaaling seneng. Misalnya, di midpoint kita tulis kemungkinan dia mau jadian lagi. Nah, ACT 3, di sinilah kita tulis jatuhnya dia. Setelah seneng-seneng nih di ACT 2, kita bikin dia jatuh karena suatu hal. Lalu bikin konklusinya, dia bisa balik apa nggak? Need VS Want. Dia ingin apa… tapi yang dia butuhin sebenarnya apa.

20150925_193940 (Copy)

Misalnya, dia inginnya kan balikan sama mantannya? Ternyata yang dia butuhin itu bukan itu. Yang dia butuhin justru jujur sama diri sendiri. Yang dia butuhin itu bisa move on, misalnya. Jadi, nggak harus dia dapetin apa yang dia mau di awal cerita. Tapi kita kasih konklusi alternatif, yaitu dia dapetin apa yang dia butuhin.

Boleh nggak di akhir cerita dia dapet WANT aja? Boleh sih. Misalnya, dia akhirnya balikan sama mantannya. Tapi kalo gue sih lebih suka dia gak dapet WANT tapi dapet NEED, lebih berasa feel-nya. Lebih ngenes, tapi dia dapetin apa yang sebenarnya emang dia butuhin, yaitu perkembangan kepribadiannya dia, jadi lebih baik. Makin menderita makin bagus. Jadi ironi gitu, tapi membekas di hati pembaca.

Boleh nggak kalau misalnya tokoh ini dapet WANT dan dapet NEED sekaligus? Yaa, boleh juga sih. Misalnya dia bisa balikan sama mantannya, tapi kepribadiannya juga berkembang. Tapi kalau gue sih lebih suka kalau dia nggak dapet WANT melainkan dapetnya NEED, lebih berasa aja gitu. Tapi yaa itu terserah kalian mau prefer-nya yang kayak gimana.

Kalau target novel lo misalnya 120 halaman, tiga babak ini–ACT 1, ACT 2, ACT 3. ACT 1 lo berarti nulis pengantarnya di sini sampai halaman 24. Dua puluh halaman itu isinya itu aja, tentang ACT 1. Bangun perkenalannya di sana. Kalau udah nulis, trus kurang gimana? Kembangkan. Bikin backstory. Bikin tujuannya yang jelas. Kenapa? Karena kalau lo tahu tujuan kamu bikin 20 halaman itu untuk apa, maka lo gak bakal kehabisan ide.

Midpoint lo nanti pas di halaman 60, nah ini pas tokoh utama lo lagi bahagia-bahagianya, nih… ACT 3 itu lo tulis sampai halaman 90. Kalau ternyata lo nulisnya kurang dari itu, berarti penjabarannya lo kurang banyak. Atau masalahnya kurang.

Gitu ya. Ada lagi yang mau nanya?”


Penanya #2: “Gimana caranya supaya bikin perjuangan tokoh kita itu greget? Maksudnya, gue kan udah bikin konflik nih, tapi kok penyelesaiannya membosankan, jalan ceritanya kayak biasa banget, gitu, kayak kurang ada gregetnya.”

Raditya Dika: 

“Premisnya apa?”

Penanya #2: “Seorang anak perempuan ingin menanam jagung, tapi jagungnya ada di dunia lain.”

Seisi kelas tertawa, karena bengong mendengar isi premisnya yang unik. Raditya Dika juga tertawa.

Raditya Dika:

“Gimana? Gimana? Tujuannya apa? Masalahnya apa?”

Penanya #2: “Jadi gini.. Dia kan pengen banget nanam jagung, tapi jagungnya ada di dunia lain… Sementara dia (blablabla)…. Tapi dia .. (blablabla) Terus dia itu…. (dst dst)” (bercerita panjang lebar)

Raditya Dika:

“Premis itu harus satu kalimat yang utuh. Jadi kalau lo mau bilang premis lo, lo nggak boleh cerita kayak gini. Lo mesti rangkum itu semua dalam satu kalimat utuh yang bagus. Yang bikin orang-orang mau GARUK karena gatel liat premisnya. Gatel gitu, pengen garuk!

Gue ingetin ya. Jangan berani-berani nulis dulu sebelum bikin premis! Sebelum lo bikin premis yang lo tunjukin orang-orang sampe mereka bilang, GILA! GILA BANGET INI PREMIS LO! GATEL GUE! PENGEN GARUK!!

Coba lo perbaikin lagi premisnya.

Kenapa dia mau menanam jagung? Apa yang bikin dia merasa ingin menanam jagung? Kalo nggak nanam jagung emangnya kenapa? Orangtuanya collapse? Bangkrut? Atau jadi gila ortunya?”

Setelah berdiskusi selama beberapa menit, akhirnya Raditya Dika membantu menyimpulkan contoh premisnya menjadi seperti ini:

PREMIS:

SEORANG ANAK PEREMPUAN YANG MENCINTAI KELUARGANYA, INGIN MENANAM JAGUNG SUPAYA KELUARGANYA TIDAK GILA, TAPI TERNYATA JAGUNGNYA ADA DI DUNIA LAIN.

“Nah… Sekarang, HALANGAN-nya apa?”

Penanya #2: “Ternyata ada makhluk lain yang juga ingin menanam jagung di dunia itu. Jadi dia harus bersaing dengan makhluk itu.”

Raditya Dika:

“Oke. Sekarang kita bahas, gimana caranya supaya bikin cerita ini bisa jadi lebih greget. Ada beberapa cara, misalnya:

  1. Pakai STAKE/greget. (aku lupa penjelasannya, intinya bikin hal urgent yang harus dikerjakan segera , kalau nggak nanti terjadi sesuatu gitu, misalnya dia harus berhasil menanam jagung sampai batas apa, kalau nggak nanti seluruh keluarganya jadi gila)
  2. Kasih motivasi sang ANTAGONIS. Kenapa? Karena seburuk-buruknya lawannya, kasih alasan kenapa dia bisa jahat, yang bisa jadi malah bikin kita yang baca jadi pengen mendukung dia, jadi simpati sama dia. Apa yang terjadi dalam hidup dia yang bikin dia ngelakuin hal-hal jahat itu?
    Lo juga bisa kasih konflik siapa aja yang nggak setuju sama si tokoh aku ini, nggak setuju dia menanam jagung atau pergi ke dunia lain. Elemen cerita yang bagus itu punya konflik yang KUAT. Konflik itu tipis aja, nggak harus mendayu-dayu, yang penting kuat. Setiap adegan harus pnya karakter yang konfliknya tabrakan. Misalnya pas lagi ngomongin nikahan, karakter yang satu pengennya makanannya nasi goreng, karakter yang satu lagi pengennya nggak mau ada nasi goreng. Gitu aja udah bisa jadi konflik.
    Atau misalnya, bikin adegan mau putus di kafe. Lagi nangis-nangis nih, tapi konfliknya apa bentroknya? Oh, ternyata pas mereka berantem, ternyata kafenya itu udah mau tutup. Trus pas ceweknya nangis, yang punya kafe nyamperin dan bilang, “Mbak, mbak… Nangisnya boleh nggak, agak minggiran dikit?”
    (seisi kelas tertawa)
    Ini bisa diterusin jadi cerita komedi kan, misalnya kalau mau. Ini kan contoh aja. 😛
  3. KARAKTER. Nah ini.. Ini juga bisa dimainin. Makin unik karakter lo, makin greget ceritanya. Misalnya, ada koleksi foto-foto tempel apa aja dia di dinding kamarnya, apa rahasia yang dia sembunyikan yang orang lain nggak boleh tau, apa yang ada di kamarnya. Kenapa kamar itu penting? Karena kamar itu mencerminkan karakternya dia.
    Lo tau gak? Kalo bikin film nih ya, hal pertama yang harus dibuat benar itu adalah kamarnya. Bentuk kamarnya tuh harus pas sama kayak kepribadian dia. Apa aja yang dia pajang? Kayak apa warna kamarnya? Perintilan-perintilan itu yang susah… Tapi dengan begitu kita bisa mudah membayangkan seperti apa sifatnya dia.”

Raditya Dika pun menampilkan lagi garis ACT1, ACT2, dan ACT3 di layar proyektor.

20150925_192210 (Copy)

Ngintip Catatan Temen di Kelas Hari Kedua

Di ACT1 ini isiannya apa aja? Ini namanya story beat. Kita perkenalkan kenapa dia butuh jagung di babak pertama ini. Dari halaman 1-30.

Mulai dari halaman 30, ini masuk ACT2. Di sini nih nanti dia mulai masuk ke dunia lainnya. Di sini mulai petualangannya. Kalo di film Spiderman, ini pas Peter Parkernya baru mulai jadi superhero. Kalo di film UP, ini pas rumahnya naik. Dunia baru tuh nulisnya di sini. Yang penting, kalian harus bikin pembabakan ini duluan, sebelum menuliskan kata pertama di laptop.

Memang sih.. Ada penulis yang bilang… ‘oh, kalo gue sih lebih suka cerita gue mengalir, biar tokoh gue yang menjalankan ceritanya sendiri’ (alias nulisnya nggak pake perencanaan), tapi penulis yang nulis kayak gini biasanya ceritanya nggak rapi.

Halaman 30-60, itu tokohnya dibikin happy dulu. Bikin dia seneng dulu. Ceritain petualangan dia. Nanti dia paling happy itu di MIDPOINT, di halaman 60. Mulai dari halaman 60-90, dia mulai kehilangan segalanya. Situasinya lebih harus buruk daripada kehidupan dia dulu sewaktu kita memulai cerita.”

Peserta lain: “Harus lebih buruk, ya?”

Raditya Dika:

“Oh iya. Harus. WAJIB ITU. Lo harus bikin dia JAUH, JAUH lebih buruk daripada waktu pertama kali, pokoknya JAUH LEBIH BURUK!”


Penanya #3: “Ini premis gue. Seorang gadis yang merindukan sifat ayahnya yang dulu sehingga ayahnya berubah.”

Raditya Dika:

“Halangannya apa? Masalahnya apa?”

Penanya #3: “Jadi ayahnya itu sifatnya berubah, dan dia ingin ayahnya kembali seperti dulu, sembuh dari masalahnya.”

Sampai di sini, sebenarnya aku tidak begitu mengerti isi premisnya. Penanya pun mencoba menyampaikan ulang premis yang direvisi beberapa kali, tapi aku masih belum bisa menyimak intinya.

Raditya Dika pun membantu gadis itu merumuskan premis yang diinginkannya pelan-pelan. Seperti seorang guru yang sangat sabar dan piawai menuntun muridnya, Raditya Dika begitu telaten membimbing sang penanya dengan gaya khasnya yang selalu ramah, senyumnya lucu, dan aura kebapakan yang memancar deras.

*Ehm.. Maaf, mulai ngaco nih liputannya, hahaha..* *cuci muka* 

Raditya Dika:

“Ini rumus bikin PREMIS.

Seorang _________________ sangat ingin _________________ tetapi harus ______________.

Seorang (KARAKTER), sangat ingin (TUJUAN), tetapi harus (HALANGAN). Pakai rumus itu untuk bikin premis.

Kalo udah jadi, tes ke semua orang. Lo tunjukin ke semua orang premis lo, udah bagus nggak? Nggak papa jelek, karena tulisan lo memang pasti jelek (sambil ketawa). Gak papa, karena makin kita sering kita ngomong, ntar premisnya bakal berkembang sendiri. Karena lo jadi latihan terus. Pas lo ngasih tau orang lain, tiba-tiba lo dapat ide buat ngembangin premis lo, dari hasil ngomong dan diskusi sama orang lain.

Jangan takut dicuri. ‘Gimana dong ntar ide gue dicuri??’ Gak papa, jangan takut dicuri. Kan itu idenya tetap lo yang punya. Lagipula yang lo kasih lihat itu kan hanya premis. Eksekusinya kan itu ada di kepala lo. Kalau orang lain curi, biarin aja, toh dia nggak mungkin bisa ngembangin seperti yang ada di pikiran lo. Punya lo tetap ide lo lebih bagus.

Keuntungan yang didapat dari nunjukin premis ke semua orang ini, keuntungan yang lo dapat dari ngembangin premis berkat saran-saran dari orang lain, perkembangan kemampuan lo, itu keuntungannya JAUH LEBIH BESAR daripada kerugian lo kalau misalnya pun ide lo dicuri orang lain.


Penanya #4: “Kalau di tengah-tengah, kita mau bikin flashback, itu gimana? Masuknya ke mana?”

Raditya Dika:

Flashback itu terserah aja, mau ditulis di mana, kan tujuannya udah ditulis di ACT. Fungsi flashback itu nanti sebagai bagian dari adegan. Boleh ditaruh di ACT1, boleh di ACT2, boleh di ACT3. Flashback itu memperkuat tujuan kita, jadi nggak ngaruh harus ditaruh di mana, sesuai tujuan aja.”


Penanya #5: “Kalau di Drama Korea gitu kan kita sering liat banyak tokoh cowok yang too good to be true.. di novel-novel juga banyak yang kayak gitu. Itu gimana? Misalnya, gue mau bikin tokoh cowok yang perfect tapi playboy, dan pengen ketemuin dia sama satu cewek yang bikin dia insyaf. Tipe cewek yang kayak gimana yang bisa bikin dia insyaf? Soalnya kan dia udah perfect gitu.”

Raditya Dika:

“Nah ini tentang KARAKTER nih. (pelajaran Kelas Hari Ketiga)

Menurut gue, karakter yang terlalu sempurna itu nggak ada asyik-asyiknya. Cari kelemahannya. Superman aja punya kelemahan, dia lemah sama Kryptonite.

Kenapa dia playboy? Oh, mungkin karena dulu pernah disakiti orang lain, jadi dia segera pindah sebelum disakiti orang lain.”

CATATAN NAYA: ^kalimat bijaksana di atas langsung menginspirasi Radit buat menulis status inspiratif ini di Facebook Page-nya, KEESOKAN HARINYA. Wkwkwkwk……..

Picture7]

“Dia punya kebutuhan untuk sembuh dari masa lalu. Perempuan ini yang dia butuh, perempuan yang bisa menyembuhkan dia. Memperkenalkannya dengan cara apa? Misalnya, dia masuk ke Dufan, trus ceweknya petugas Bianglala, dia naklukin cewek itu supaya bisa naklukin Bianglala.”

Sampai di sini, aku sebenarnya gak mudeng sih apa maksud omongan si Radit barusan. Ceweknya petugas Bianglala? Naklukin bianglala? Hahaha. Tapi yaa, intinya itulah. Intinya bikin sosok cewek yang bisa nyembuhin dia dari trauma masa lalu dia.

“Gue kasih contoh, Miko misalnya. (Tokoh rekaan Raditya Dika di serial Malam Minggu Miko)

Miko takut ngomong sama orang lain. Karena dia nggak pernah ngerasa accepted / diterima. Ryan masuk dan ngasih tau Miko, bahwa dia tuh sebenarnya bisa. Kenapa Ryan ngasih tau Miko? Karena Ryan sendiri orangnya nggak pedean, makanya dia sotoy suka ngasih-ngasih tau orang aja beraninya.

Nah jadi gregetnya cerita lo yang tadi itu adalah gimana caranya bikin dia ketemu pacarnya itu, gimana prosesnya, dll, bisa nggak cewek itu bikin dia insyaf.”

Catatan Naya lagi: Maafkan hasil liputanku yang bagian ini, agak loncat-loncat, soalnya Radit ngomongnya cepet dan banyak banget.


Penanya #6: “Ini naskah gue. Tolong dibedah ya.”

20150925_195639 (Copy)

Raditya Dika:

“Ini terlalu banyak deskripsi nih (di satu kalimat yang mana), merunduk, menangis, bersandar. Merunduknya gimana? Menangis gimana? Bersandar gimana? Dijabarkan.

Ini premisnya apa?”

Penanya #6: (aku lupa detailnya, tapi intinya dia bilang ujung-ujungnya nanti bakal ketahuan kalau si Arina itu mencuri karena selalu di-bully sama teman-temannya di sekolah. Dia dipaksa harus selalu traktir teman-temannya.)

Raditya Dika:

“Kenapa dia nggak pernah ngasih tau ibunya kalau dia di-bully di sekolah?”

Penanya #6: “Karena dia pemalu.”

Raditya Dika:

“Kenapa dia pemalu? Apa yang terjadi dengan masa lalu dia? Dia dididik dengan cara apa di keluarganya? Dia punya kakak, nggak? Dia sering dibandingin nggak sama kakaknya? Cari apa yang bikin dia minder. Cari solusinya sehingga dia nggak perlu lagi traktir teman-temannya. Cari alasannya, baru perbaiki.”

Oke.

Break sebentar.

Sampai di sini, saat menulis paragraf di atas, sekarang aku baru nyadar kalau Radit punya bakat sebagai seorang psikolog. Honestly, nggak semua orang bisa mikir kayak gitu lho. Mendalami masa lalu seseorang, memahami orang lain, memahami kenapa dia bisa melakukan hal itu, memahami latar belakang keluarganya, latar belakang masa lalunya… Bahkan walaupun ini tokoh fiksi sekalipun, kemampuan analisa dan observasi psikologis macam ini, biasanya cuma ada pada orang-orang yang berbakat jadi psikolog, yang suka mengamati orang lain. Some gifted people. Hahaha. 😛

Lanjuts yak…

Raditya Dika:

“Kalimat pertama dimulai dari tengah. (maksudnya, kalimat pertama dari sebuah tulisan, itu sebaiknya langsung saja menceritakan pertengahan adegan, supaya langsung menarik perhatian pembaca dan seru)

Ini udah bagus masuknya nih. Mulainya udah di tengah. Tiba-tiba dia ketahuan sama ibunya mencuri uang. Problem gue cuma satu. Ini sinetron banget.

‘MAU JADI APA KAMU?? Ha?? MAU JADI APA KAMU….’ (Radit menirukan gaya lebay ibu tiri di sinetron-sinetron Indonesia, seisi kelas terbahak-bahak)

Kan nggak mesti ditulis begini, ini kayak sinetron nih. Kalau sinetron sih gapapa kayak gini.

Problemnya apa? Ibunya nggak suka perilaku anaknya, kan? Jangan dibikin hitam putih… Ibunya marah-marah terus. Coba kalau ibunya diem. Diem aja. Trus anaknya ngeliatin ibunya, ‘Ibu.. ngomong dong..’ trus ngeliatin ibunya nangis. Ibunya bilang begini sama anaknya, ‘Kenapa kamu kayak gini? Ini sudah ketiga kalinya minggu ini… Almarhum papa kamu pasti kecewa.’ Ini ditulis di bagian paling awal. Beeuhhh. Dalem nggak tuh?

Daripada ‘MAU JADI APA KAMU??  HAA? MAU JADI APA KAMUU’ (Kelas tertawa lagi)

Jadi, gitu ya.. Kita bikin lebih khusyuk. Kalau awalnya udah marah-marah kayaknya gimana gitu.

Ketika kita merekonstruksikan suatu adegan, kita bayangkan dulu apa yang mau diceritakan. Lalu cari cara terbaik menggambarkannya. Kalau ditulis dengan marah-marah, itu hanya sekali duduk. Cepet selesai. Tapi nggak bagus. Cerita yang bagus itu, kayak yang gue bilang kemarin, tiga kali duduk. Bisa nggak bikin adegannya lebih asyik? Kalo ibunya nggak marah, gimana? Kalau ibunya kita bikin menangis, gimana? Apa efeknya buat karakter utamanya?

Lebih kompleks jadinya kepribadiannya.”

Setelah menjelaskan hal tersebut, Radit kemudian men-scroll lagi tulisan itu lalu mengomentari soal pemakaian tanda baca. Misalnya seperti tanda titik-titik yang digunakan penulis, tanda seru, dan tanda baca lain, yang kayaknya kurang sreg di mata Radit.

“Ini namanya SELINGKUNG, gaya seorang penulis membuat tulisannya sendiri. Kalo gue sih, tanda serunya satu aja. Titik-titik gini biasanya gue bikinnya koma.

Oh iya. Jangan bikin tiga paragraf yang bercerita tentang adegan yang sama. Bikin ESKALASI. Bikin ada sesuatu yang baru terjadi. Misalnya, setelahibunya  bangkit, di paragraf berikutnya ibunya buka kasurnya ‘Jangan-jangan di sini juga ada duitnya!’, kemudian Arina langsung berteriak, ‘JANGAN, BU!’ terus ternyata di balik kasur itu banyak uangnya yang dia sembunyikan.

Hal-hal kecil gini yang bikin lebih berwarna.

20150925_200703 (Copy)

Jangan bikin jam. Jam menunjukkan pukul 7.45 pagi. Kenapa nulis gini? Sama nih kayak yang pernah gue jelasin kemarin. Hilangkan kebiasaan menulis jam di bagian awal cerita. Juga menulis soal matahari, bulan, bintang… yang kayak gitu nggak usah. Hari ini matahari panas terik, awan-awan putih di langit biru……… Bulan…. Bintang……. Hindari itu ya.

Bikin tulisan yang lebih asyik. Caranya?

Lo balik lagi, tujuannya lo bikin adegan itu untuk apa? Misalnya di tulisan ini nih, tentang Arina di sekolah. Lo jelasin, di sekolah itu kayak apa? Ada apa aja di sekolahnya? Gimana suasana di sekolahnya? Ada anak-anak yang tergesa-gesakah? Arinanya lagi apa saat itu?

Show the situation, show the time, bukannya nggak boleh sama sekali.. Boleh. Cerita soal matahari, bulan, bintang, boleh.. Pakai jam juga boleh-boleh aja. Tapi di luar sana, ratusan penulis lain juga yang menulis model begini. Lo nggak ada ciri khasnya. Sama aja gitu sama yang lain.

‘Arina, prmu udah dikerjain semua? Pinjem dong!’

Ini kan habit. Si Arinanya udah sering kan minjemin PR? Udah pasti ngerjain PR juga kan? Ngapain nanya lagi? Mendingan langsung dibikin aja.

‘Rin. Mana?’ 

Nah. Kalo gini, ada dominasi. Antara Putri terhadap Arina. Gambarin relationship-nya. Ini temannya Arina. Kalau si Putri itu dominan, nggak mungkin kalimat minjem PR-nya kayak yang lo tulis gini. Pasti lebih nyelekit kalimatnya.

Penulis itu kayak pelukis. Kalau pelukis, dia punya kuas, punya warna-warna yang bisa dia pilih untuk lukisannya. Kalau kita sebagai penulis, kita punya kata-kata. Gimana cara kita merangkai kata-kata itu, untuk menggambarkan kejadiannya Arina di-bully oleh teman-temannya. Itu kita yang harus pintar memainkan kuasnya kita. Pilih warna yang pas.”


BERSAMBUNG…

INGIN BACA ULASAN PART2 ? KLIK DI SINI > >

 

Iklan

28 thoughts on “Bengkel Menulis Kreatif RADITYA DIKA (Part 1)

  1. Wah lengkap banget laporannya sampai ada foto dan video. Tulisannya juga menarik untuk dibaca. Kayaknya kelasnya seru ya. Makasih udah berbagi 🙂

  2. Wkwkwk. Rapii banget kak tulisan nya . Wah nama aku nimbrung juga akhirnya di blog kak naya 😊😀..
    Good 👏👏

    • Hehehe, welcome Ruth! 😀
      Akhirnya kamu bikin blog jugaa. Terusin yaa! 😉 *jangan isinya dua post doang hehehe*

  3. waaa.. panjang banget nyaak.. mungkin bisa dibagi2 jadi beberapa seri kali yak kalo panjang gini? Atau dibagi jadi beberapa page berbeda. Onyak pake WordPress kan yak? 😀

  4. Ping-balik: Bengkel Menulis Kreatif RADITYA DIKA (Part 2) | Naya Corath

  5. Ping-balik: Creative Writing Workshop #SafetyFirst oleh Bernard Batubara (10 Oktober 2015) | Naya Corath

  6. waaah.. aku ikutan jg kelasnya. ternyata ada yg bikin ulasannya ya 🙂 Jadi inget lagi deh feel kelasnya yg menyenangkan dan bikin semangat buat nulis. Thanksss ulasannya!

    *btw Naya ini yg ngajuin beberapa pertanyaan dari teman2 grup menulisnya ya? hehehe

    • Hahaha iyaa, aku yang banyak nanya itu wkwkwk.. Kamu udah dapat follow up dari Kelas Menulis Raditya Dika? Kebetulan aku bikin grup Whatsapp yang isinya beberapa orang peserta kelas waktu itu, jadi kita bisa bahas lagi tentang tips-tips menulis via Whatsapp. Mau aku invite?

  7. Reblogged this on ruthlestitia and commented:
    Ini part 1 nya.. hihihi . Maaf terlambat report blognya.
    So.. baca dari part 1 dulu ya, baru baca part 2. Kalau mau lebih detail lagi, monggo mampir ke blog mbak naya.
    Xie-xie 😀

  8. Ping-balik: Tips Menulis melalui Pemodelan Lifestyle Tokoh Fiksi (Studi Kasus: Mobil Grand New Veloz) | My Mighty Adventures!

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s