Bengkel Menulis Kreatif RADITYA DIKA (Part 2)

Comments 13 Standar

Minggu kemarin, tanggal 25 September 2015, aku mengikuti Kelas Menulis Raditya Dika (alias yang hari Jumat), dengan tajuk “Bengkel Menulis Kreatif,” yang bertempat di Conclave Auditorium, Jalan Wijaya 1, Jakarta Selatan.

Aku menulis ulasan kelasnya dalam bentuk 2 part artikel. Ini adalah artikel PART 2.

12047133_10153236011932983_5609061778765597014_n

 

< < BELUM BACA ULASAN DI PART 1 ? KLIK DI SINI

Penanya #7: “Kalau nulis ‘berkata dalam hati’, itu cara nulisnya gimana? Dimiringin atau gimana?

Raditya Dika:

“Kalo gue sih nggak pernah namanya nulis ‘berkata dalam hati.’ Tapi iya, kalau di penerbit Gramedia biasanya dimiringin. Kalau di Gagas justru nggak. Tapi terserah, itu gaya selingkung. Gaya masing-masing penulis.”


Penanya #8: “Tadi ada tanda tiga bintang. *** itu kan buat nutup, break, abis itu dimulai tulisan baru. Itu gue bingung mulainya lagi gimana. Apa harus berhubungan sama part sebelumnya atau harus ide baru? Harus berkesinambungan atau boleh nggak berhubungan sama sekali dari bagian sebelumnya?”

Raditya Dika:

“Tujuannya dulu apa lo bikin break itu. Bikin tanda bintang itu. Nggak pake juga papa. Ada penulis yang pake, ada yang nggak, langsung paragraf aja. Makanya, jangan sampai lupa tujuan lo nulis bagian itu, untuk menceritakan tentang apa. Itu aja patokannya. Ide baru bisa, nyambung sama sebelumnya juga bisa. Tapi biasanya sih kalo lo bikin jeda gitu berarti lo mau nyeritain hal yang berbeda daripada adegan sebelumnya.”


Penanya #9: “Gue punya beberapa pertanyaan. Pertama, boleh nggak kita di tengah-tengah ngubah trait-nya si karakter? Kedua, gimana cara membuat konsistensi karakter? Ketiga, gaya penulisan yang baik menurut Raditya Dika seperti apa? Keempat, gimana cara mengkritisi tulisan kita sendiri?”

Raditya Dika:

1. Boleh, asal ADA ALASAN KENAPA DIA BERUBAH.

Dan sesuai dengan alur yang kita buat di awal. Misalnya, dari jorok berubah jadi bersih, kejadian apa yang bikin dia berubah? Kenapa kita mengubah trait-nya? Semua harus ada alasan.”

Penanya #9: “Boleh nggak kalo di tengah-tengah kita ngubah trait-nya, nggak sesuai alur, trus alurnya biar menyesuaikan aja?”

Raditya Dika:

“Nggak bisa. Harus sesuai alur. Kalau kita ngubah trait, trus malah jadi ngubah cerita kita, nggak bisa. Kalau ternyata ide perubahan trait ini bagus banget, BAGUS BANGET, ya udah gak papa, tapi jangan pakai alur yang lama. Bikin alur baru. Ubah alurnya. Ulang lagi proses pembuatan alurnya dari awal.

2. Kenali karakter.

Dia orangnya kayak apa? Batman, kalau pergi ke ATM trus mesin ATM-nya rusak, pasti beda reaksinya dibandingkan kalau Superman yang pergi ke ATM. Bayangin. Bayangin dia reaksinya kayak apa. Bikin karakter matriks.

Gini. Bikin tulisan lima halaman, yang isinya, kalau lo dan karakter lo itu sama-sama terjebak di lift… apa yang bakal lo obrolin sama dia? Apa yang kalian bicarain? Ada juga penulis yang mencoba cara yaitu dengan menginterview karakternya. Dia bikin kayak semacam tanya-jawab gitu ke tokoh-tokohnya, seperti wartawan.

Kalau serial TV, biasanya dia cuma punya 1 trait, lalu langsung dieksekusi. Kenapa di serial TV biasanya kepribadian tokoh-tokohnya itu cuman 1 dimensi? Karena durasinya pendek. Nggak cukup untuk pengembangan karakter. Beda dengan film yang durasinya lebih panjang.

Gimana metode bikin supaya karakter lo kuat? Gue punya tips dari Bagus, namanya CIRCLE OF BEING -> seorang karakter dalam hidupnya mengalami perputaran. Kenapa dia kayak gitu? Di masa lalunya terjadi apa? Titik pengalaman apa di dalam hidupnya yang bikin dia jadi kayak gini? Nggak semua yang kita tahu soal karakter ini harus masuk ke dalam cerita. Termasuk soal Circle of Being. Gue waktu bikin cerita ngobrol sama temen-temen gue, biasanya ngalor-ngidul gitu panjang banget ngomongin segala macem, nggak semuanya kepake. Tapi, kalau nanti gue mau bikin adegan, jadinya gampang banget. Ini yang namanya karakter nulis ceritanya sendiri. Apa dia mau belok ke kiri atau ke kanan, dia bisa belok sendiri. Karena kita udah kenal siapa dia.

Nah, gunanya ALUR adalah buat ngejagain supaya pas nulisnya nggak ngalor-ngidul juga.

Ada sih, penulis Prancis, yang bisa nulis nggak pakai alur sama sekali. Penulis Nausea. Eksperimental, malah dianggap sebagai buku terbaik. Tapi ya susah juga. Itu anomali, lah.

3. Jangan cari gaya penulisan yang diterima, tapi cari gaya penulisan yang LO SUKA.

Gue suka komedi, Lupus, dkk, kalo udah suka, gue bedah isinya. Kenapa gue suka ini? Apa yang bikin gue ketawa? Kenapa gue sampe sekarang masih ingat adegannya? Setelah memilih, biasakan membedah tulisan yang kita suka. CURI ilmunya, jangan pinjam. Kalau pinjam itu masih milik dia. CURI, supaya jadi milik kita, tapi dengan sidik jari kita sendiri. CURI, jangan pinjam karena pinjam itu maksudnya plagiat.

4. Taruh seminggu di laci, lalu baca. 

Baca dengan mata yang baru, undang orang untuk mencaci maki tulisan lo. Buka hati untuk dikatain orang bahwa tulisan kita jelek. Karena tulisan kita EMANG JELEK. (Sambil terpingkal-pingkal).

Jadi izinkan dirimu untuk DIKRITIK.”


Penanya #10: “Premis gue. Seorang gadis yang lugu ingin mendapatkan cintanya tapi sudah memiliki pendamping. Ini beranjak dari kisah nyata.”

Raditya Dika:

“Masih abstrak. Mendapatkan cinta kembali gimana caranya? Adegannya apa? Pelajaran apa yang dia ambil dari pengalaman ini? Kata kuncinya, kejadian itu harus bikin karakter itu tumbuh. Karakter gak dapet apa yang diinginkan, tapi dapet yang dia butuhkan. Perihal nanti pembaca nangis atau nggak nangis pas bacanya itu pinter-pinternya kita bikin adegan.”


Penanya #10: “Ini tulisan gue. Tolong dibedah ya.”

20150925_205559 (Copy)

Raditya Dika:

“Menarik. Bikin penasaran. Cuman nggak ada adegan dan deskripsi, menurut gue baiknya langsung dibikin dialog aja. Ini kayak rangkuman novel, bukan isi ceritanya, soalnya telling semua. Gambarin adegannya. Padahal awalnya sih udah asyik nih. Gue suka nih. Tuan mata meninggal dalam kesunyian. Titik. Ini bikin penasaran banget.

Selanjutnya, lo terusin adegannya. Langsung aja bikin adegan. Dia keringetan nggak? Kalimat apa yang dia ucapin untuk ngabarin berita itu?

Banyak penulis yang bingung komposisinya, antara dialog dengan deskripsi. Tapi menurut gue, kalo tulisannya udah sebanyak ini, lo harus bikin adegannya. Misalnya,

‘Aku masih ingat ulang tahun dia, 70 tahun lalu..’ –> adegannya keluar, kalo di film, informasi-informasi kayak umur gini dimasukin ke dialog.

Jadi menurut gue, alurnya ini udah bagus. Cuma kurang dialog. Beda sama tulisan yang tadi (yang tentang Arina), yang mana alurnya ada yang bisa diperbaiki, tapi masuknya udah pas. Kalimatnya jelas, ada adegannya, dan to the point.”


Penanya #11: “Tentang WANT sama NEED. Boleh nggak kalo karakternya dapet dua-duanya?”

Raditya Dika:

“Boleh, dapet dua-duanya bisa. Tapi menurut gue paling bagus kalau dia nggak dapet apa yang dia mau, tapi dapat NEED-nya. Lebih bagus. Lebih dalem.

Misalnya film Ada Apa Dengan Cinta. Si Cinta WANT-nya apa? Jadian dengan Rangga. Tapi jadian nggak? Nggak. Yang dia dapat itu NEED, yaitu dia sebenarnya butuhnya untuk menyatakan rasa cintanya ke Rangga.

Film Inside Out. WANT-nya apa? Dia pengen Riley bahagia terus. NEED-nya apa? Supaya dia percaya sama temen-temennya, nggak selalu jadi pemimpin, percaya kalau orang lain juga bisa bantuin lo.

Kenapa gue suka banget sama film-film PIXAR? Soalnya PIXAR itu pakai 3 BABAK LITERASI MODERN INI. Ada ACT1, ACT2, ACT3, Midpoint. Juga pesannya dapet banget.

Misalnya How To Train Your Dragon, itu gue suka banget. WANT-nya apa? Dia ingin keliatan keren di depan orang-orang di desanya. NEED-nya apa? Ternyata dia hanya ingin diterima apa adanya. Ini digambarkan dengan adegan terakhir, di mana kakinya buntung, tapi semua orang tetap menyukainya. Ini ironi kan? Kakinya malah jadi buntung. Tapi feel-nya dapet banget.


Penanya #12: “Ini naskah gue. Tolong dibedah ya.”

20150925_211046 (Copy)

Raditya Dika:

“Ini gue-nya redundant. Dicoret aja. Batas, ambang, terakhir, juga redundant, kan artinya sama, dipilih aja salah satu. Kalimat kita harus ekonomis, usahakan lebih sedikit kata, tapi maksudnya tetap sama.

HUARR!! Ini nih… Gue biasanya hindarin yang huarr-huaar gini. Bunyi-bunyian apa gitu, tok tok.. (trus Radit niruin jenis bunyi-bunyian lain yang bikin kita semua ketawa), mendingan diganti aja jadi: Aku tersadar dari lamunanku sendiri. Atau dia tiba-tiba dipanggil seseorang, Pak.. Udah Pak.. Ini lagi ngelamun kan, ya? Iya, kayak gitu aja.. Dibikin adegan. Daripada huarr huarr.

Ni gue-nya kebanyakan, coret aja. Gue sudah sangat tidak sabar.. nah ini kan tadi udah ditulis ‘nggak juga’ berarti ini artinya udah menggambarkan gak sabar, redundant jadinya, artinya sama aja, mendingan diganti aja. Kalo artinya sama, lebih baik dihilangkan. Trus ini dikasih titik. Dikasih jeda supaya pacingnya enak. Misalnya gue ganti jadi

Nggak juga, gue tinggal 1 detik lagi menyembur anak ini dengan kobaran api.

Kata guru lain, jadi guru… Ini dua kali gurunya. Ganti aja, misalnya ganti jadi profesi ini.

Jadi ini namanya kalimatnya jernih. Jernih kan? Bersih. Emang ini nih yang mau gue omongin. Padat. Biasain nulis kalimat itu yang jernih dan padat.”

20150925_211658 (Copy)

Catatan Naya: Aku noted banget catatannya Radit soal efisiensi ini. Menyaksikan langsung Raditya Dika memangkas kata per kata yang redundant membuatku lebih menghayati pentingnya kalimat-kalimat yang padat dan tepat sasaran di tulisanku. Selama ini, cara menulisku kuakui memang masih sering redundant / boros seperti ini.


Penanya #13: “Kan tadi katanya nggak boleh nulis matahari, bulan, bintang. Gimana kalo misalnya gue emang tetep mau bikin? Masa gak boleh sih?”

Raditya Dika:

“Yaa, boleh aja sih, asal matahari itu adalah bagian dari ceritanya. Ada hubungannya sama ceritanya. Misalnya lo mau bikin matahari yang kayak gimana?

Biasanya orang nih nulisnya gini, siang itu matahari terik, aku merasa kepanasan di dalam angkot…. dst (aku lupa detailnya si Raditya ngomong apa lagi)

Itu gak ada hubungannya sama cerita lo. Misalnya lo pengamen gitu kan ya..? Nah, apanya yang di matahari yang ada hubungan langsung sama kisah kehidupannya? Apakah karena terik matahari dia jadi dapat duit lebih banyak? (actually yang ini aku ngarang sih, haha.. habis aku lupa si Radit ngomong apa, yaa intinya gitu lah, kalo mau nulis matahari bulan bintang gitu harus ada hubungannya sama cerita).

Suasana matahari sore terasa panas menyinari bumi -> Ini gak penting banget.

Kalo emang mau make ini, hubungin sama karakter lo. Misalnya lo nulis suara klakson mobil di mana-mana. Ya gak usah. Aku adalah salah satu pengamen jalanan di Jakarta. Langsung aja ke karakternya. Tujuannya itu kan?

Tulis aja, apa aja kesusahan dia hidup jadi pengamen? Misalnya ditolak orang. Diludahin. Didorong dari bis.

Bis masih melaju kencang tapi gitarku tertinggal di bagian belakang. Duitku tidak cukup dan matahari terasa terik di tubuhku. (kurang lebih Si Radit ngomongnya ini) Nah, itu lo masukin matahari gak papa, ada hubungannya sama cerita.

SEMAKIN SEDIKIT KATA yang lo tulis untuk menggambarkan sesuatu, SEMAKIN BAGUS.”


Penanya #14: “Gue bikin novel. Tadinya nggak bikin prolog, trus disuruh bikin prolog sama editor gue. Eh setelah bikin prolog, malah jadi nggak bagus. Bagusnya jadi ilang. Ini tulisan gue.”

Intinya, novel si penanya ini, di bagian prolognya dia nulis semacam argumen dan esai panjang gitu tentang opini dia tentang kehidupan kampus dan arti skripsi di mata dia. Nggak ada dialog-dialognya sama sekali.

Raditya Dika:

(Panjang ngomongnya.. hehehe intinya sebagai berikut)

“Kenapa nulisnya kayak gini? Tujuan bikin prolog apa? Bisa nggak semua informasi yang lo taruh ini masuk melalui cerita melalui mulut KARAKTER. Gue tau nih apa yang terjadi. Ini pasti menggebu di pikiran lo kan, makanya lo mau nulis itu di tulisan lo? Lo bisa masukin pikiran lo itu ke salah satu karakter, lewat mulut karakter yang idealis. Lo kasih liat dia bisa nggak survive dengan idealisme dia itu. IDEALNYA, NARATOR ITU TIDAK BEROPINI. Kecuali kalau dia adalah tokoh AKU-nya. Orang ketiga tidak akan beropini, jadi lo gak bisa masukin esai-esai lo itu.”

Lihat videonya aja yahh hahaha. Aku pegel nyatetnya.


Penanya #15: “Ini gue ada naskah skenario. Tolong diperiksain dong.”

20150925_213329 (Copy)

Raditya Dika:

“Nah. Ini menarik nih. Harusnya kita hari ini cuma ngebahas soal menulis cerita biasa aja, nulis novel. Tapi boleh nih, kita bahas sedikit soal skenario.

Bedanya skenario sama buku.. Kalau skenario semua harus jelas, pendek. Banyakin putih-putihnya. Kalau di buku itu haram. Tapi kalo di skenario itu wajib. To the point. Jelas. Lo gak boleh nulis mendayu-dayu di skenario.

Ini gue suka ni skenarionya. Lo bikinnya bagus. Paling yang bagian bawah aja nih yang perlu dicoret. Nggak usah, nggak penting soalnya. Penonton nggak bisa lihat ini.

(Bonus video lagiii tentang naskah skenario. Kalian bisa liat sendiri gimana kocaknya Raditya Dika di kelas)

Tommy berniat ingin marah tapi mulutnya hanya menganga. Hanya menganga. (trus mempraktekkan orang menganga)

Mendingan lo tulis aja, dia kesal. Udah. Titik. Nggak perlu ditulis sampai dia menganga. Kalau aktor baca ini, dia jadi di otaknya itu harus menganga. (praktek orang menganga lagi, seisi kelas tertawa)

Nggak usah. Biarkan aktornya menginterpretasikan seperti apa kesel itu. Buat gue, kita sebagai penulis, jangan men-direct aktor. Kenapa nganga? Kalo misalnya nganganya itu PENTING, kita harus tulis. Misalnya, Tommy menganga lalu lalat masuk ke mulutnya.

Tapi kalo nggak penting, ya lo tulis aja dia kesal.

Gue juga suka nih skenario ini, soalnya nggak ada direct untuk arah kameranya. Biasanya kan suka ada tuh, skenario yang ada arah kameranya dari mana, harus dari mana. Sutradara biasanya nggak suka yang kayak gini. Biarkan gue berkreasi sendiri, biarkan aktor bekerja sendiri. Karena film itu pekerjaan kolektif. Banyak kepala. Biarkan mereka, tim lo bebas berkreasi. Nanti kalo misalnya buku lo diangkat jadi film, lo nggak bisa ngatur-ngatur oh jangan nih, kameranya harus gini, ini gue gak suka nih harusnya aktingnya kayak gini, masuknya kayak gini. Jangan. Kalau udah jadi film, film itu udah milik sutradara. Itu haknya sutradara mau bikin filmnya kayak gimana.

Oh ya. Tau nggak? Akting itu adalah di mata. Jadi gini nih. Gue biasanya kalau liat artis-artis baru gitu, biasanya kalau akting tangannya suka berlebihan. (memperagakan akting marah pakai gerakan tangan berlebihan, kita pada ketawa)

Kalau aktornya udah profesional, biasanya tangannya diam aja. Jadi kalau akting marah, matanya yang main. Mata itu yang berbicara. Di film, biasanya di-shoot matanya, keliatan aktingnya bagusnya di sana.

Jadi gitu ya. Menjadi menulis dan menjadi aktor itu adalah menemukan kebenaran dalam karakter. Ketika tulisan itu udah jadi film, maka itu udah jadi haknya sutradara, itu adalah visinya dia mau bikin apa film itu nanti.”


Penanya #16: “Kalau buku kita mau dibuat film, kita nulis lagi skenarionya atau nggak?”

Raditya Dika:

“Nggak. Biasanya dikasih ke penulis script, soalnya teknik nulis buku dengan skenario itu beda. Kalau lo mau belajar dan pede, boleh, lo bisa minta supaya jadi penulis skenarionya juga.”


20150925_215148 (Copy)

OKE. DONE.

Sekarang waktunya aku ngasih pertanyaan titipan dari teman-teman grup penulis yang kuikuti.

Pertanyaan dari Hanna Yastinika: Gimana cara nulis bagian cooling down setelah konflik supaya endingnya nggak terburu-buru?

Raditya Dika:

(aku lupa jawabannya, hahahaa.. intinya kalo gak salah, bikin alur dulu di awal, ACT1 ACT2 ACT3, kayak yang dia ajarin. Lo harus tau tujuannya lo bikin tulisan itu)

Pertanyaan dari Sandra Setiawan: Gimana cara bikin sub konflik yang digantung, supaya endingnya gak terkesan terburu-buru, soalnya mau bikin novel seri?

Raditya Dika:

Nggak harus digantung.. Problem boleh selesai. Lo bisa bikin konflik baru lagi di seri berikutnya. Atau kalau memang mau digantung juga gak papa. Tapi pastiin ada masalah yang diselesaikan di buku pertama. Jadikan ada pertanyaan yang mau dijawab di buku kedua, tapi tipis aja.

Pertanyaan dari Farah Sach: Kapan launching buku di Makasar? Pengen meet and greet?

Raditya Dika:

(ketawa) Belum.. Gue belum launching buku lagi.

Pertanyaan dari Dwi Lestari: Gimana cara menjaga kestabilan mood?

Raditya Dika:

“MOOD ITU GAK ADA. Yang ada itu alasan untuk gak menulis. Kalo nggak niat, paksa aja. Kalo jadinya jelek, biarin aja. Hahaha, gue jadi ada tips nih, salah satu skill yang lo butuhin jadi penulis, gimana caranya boongin saat ditagih naskah sama editor. Kemaren udah kakeknya meninggal, hari ini kakek mana lagi yang meninggal? (sambil ketawa)

Nggak lah. Becanda aja gue. Ya itu… Nggak ada yang namanya mood. Gue nggak percaya sama mood nulis.”

Pertanyaan dari Kristina Yovita: Gimana caranya supaya lo mau, sempat komen hasil tulisan gue? Tulisan gue genre komedi juga.

Raditya Dika:

(ketawa lagi) Gue ini sebenarnya orangnya paling males baca tulisan dari e-mail. Jadi kalo lo mau.. lo nemuin aja gue, bawa tulisan lo ke gue, trus kita langsung bahas bareng-bareng. Iya kayak sekarang ini.


Last but not the least, foto narsis di setiap ujung liputan…. Wkwkwk. 😛

20150925_215503 (Copy)

Kesimpulanku dari hasil belajar di Kelas Menulis ini:

  1. Raditya Dika itu orangnya ramah banget. Santai. Trus dia juga tipikal orang personal, maksudnya selalu nanya nama kita dan manggil kita pakai nama kita. Kalo lucu sih udah pasti yah, hahaha.
  2. Pelajaran utama yang ditekankan Raditya Dika di sepanjang kelas ini adalah: Membuat PREMIS (diulang berkali-kali); Bikin ACT1, ACT2, ACT3, Midpoint (ini juga sering diulang-ulang); Memahami karakter, bayangkan kepribadiannya sedetil mungkin; Memangkas tulisan, harus bikin sepadat mungkin.
  3. Satu pelajaran lagi yang kutangkap. Radit tipikal orang yang suka baca dialog. Pokoknya tiap kali bedah tulisan, pasti gatel gitu matanya kalo liat storytelling yang kepanjangan. Dia pengennya, langsung dialog aja. Bagian awal cerita pun pengennya langsung dialog aja. Pasti sarannya yang paling dominan, “Ini mendingan dibikin jadi adegan aja. Bayangin jadi adegan, itu adegannya kayak gimana.”
  4. Seperti yang kutulis di Twitter-ku @NayaCorath, aku bilang kalau Raditya Dika ini kayaknya berbakat jadi PSIKOLOG. Hahaha. Soalnya dia kalau membahas soal kepribadian tokoh itu detiiiil banget… Kayak psikolog/psikiater yang lagi membedah pasiennya dan pengen nyembuhin masa lalu si pasien. Jawabannya juga suprisingly bijaksana. Jarang bercanda kalau lagi ngebahas soal kepribadian dan masa lalu tokoh, seolah-olah kayak menghayati banget. Dia pasti tipikal sahabat yang sering dicurhatin sama temen-temannya nih.. Wkwkwk.
  5. Apa lagi yah… Segitu dulu. Nanti kurevisi lagi kalau ada yang kuinget. Liputanku udah ditagih mulu nih dari minggu kemarin… Hehehehe. Harus publish cepet-cepet biar gak pada jamuran nungguinnya.

Sekian dulu dan terima kasih. Nanti halaman ini masih akan aku update lagi, salah satunya profil teman-teman sesama penulis yang sama-sama ikut di Kelas Menulis Raditya Dika ini. Aku sebut namanya dulu yaa hahaha

  • Falen
  • Dian
  • Irene
  • Js Khairen
  • Fiana
  • Mili
  • Qiqi
  • Ruth
  • Wibowo
  • Wignya
  • Zain

Nanti ku-update lagi yaaaa. Ini kutulis sedetail mungkin, selengkaaap mungkin….. walaupun kayaknya masih ada juga beberapa pertanyaan yang kelewat dan nggak sempat kucatat. Tapi, mudah-mudahan liputanku ini bisa membantu kalian membayangkan pelajaran-pelajaran berharga yang aku catat baik-baik di kepalaku dari Kelas Menulis Raditya Dika ini, ya? Hehehe. Beri tahu aku kalau kalian suka tulisanku.

Terima kasiiiih, semoga menginspirasi! 😉

 

CATATAN AKHIR NAYA: Gimana? Kalian suka nggak tulisanku ini? Bermanfaat nggak? Ada yang kurang jelas? Ada yang kalian banget? Aku minta komentarnya yaaa, supaya aku makin semangat menulis buat kalian. Terima kasiiihh….! 😉

Iklan

13 thoughts on “Bengkel Menulis Kreatif RADITYA DIKA (Part 2)

  1. Ping-balik: Bengkel Menulis Kreatif RADITYA DIKA (Part 1) | Naya Corath

  2. Reblogged this on ruthlestitia and commented:
    Ulasan penting untuk para penulis pemula, isi nya lengkap dn sangat terinci yang d buat oleh mbak naya, so. Come join to blog mbak naya untuk mencuri ilmu ~
    Hehehe. Thank you mbak naya .
    Xoxo

  3. Hai Kak Naya! Bermanfaat banget lho kak postingnya. Catetanku yang hari kelima ilang soalnya. (Btw, pertanyaan no. 11 itu pertanyaanku lho). Kakak cuma ikut hari kelima ya? padahal banyak banget pelajaran pentingnya. aku aja nyesel gak ikut hari pertama… Thanks kak, ilmunya bermanfaat banget!

    • Sama-sama. Semoga bermanfaat yaa Nala
      Oh iya, jangan lupa cek e-mail. Aku mau kasih info soal grup menulis Raditya Dika 😀
      Terima kasih. ^_^

  4. Gue baru bisa baca sekarang setelah 2 tahun di Upload. Tapi Thanks banget, banyak ilmu yang gue dapet dari tulisan ini. Terus bikin gue semangat buat revisi tulisan gue. “membuka diri buat dikritik” kata Bang Radit.

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s