22 – Teman (5)

Comments 38 Standar

“Kau tahu, sudah berapa kali aku sengaja membiarkanmu menginjak-injak harga diriku?” kata Emma. “Tidakkah kau mendapat pelajaran dari beberapa kali pertemuan pribadi kita dulu?”

Emma mendongak dan tersenyum.

“Aku sengaja membiarkanmu menghisap darahku seperti seekor lintah selama beberapa bulan belakangan. Dan aku tidak sempat mencabut hisapanmu itu. Kau tahu? Kau sudah sangat gemuk sekarang. Tidakkah kau merasa senang, Mesmerizer?”

Emma menyurukkan jari-jarinya di sela-sela rambut Cathy yang berantakan. Matanya berkilat kejam. Auranya mencekam, ketakutan menyelimuti wajah Cathy yang pucat pasi.

“Aku tidak takut padamu,” geram Cathy di sela-sela giginya yang terkatup. Suaranya jelas bergetar.

“Aku akan melaporkanmu. Aku pasti akan melaporkan semua perbuatanmu ini. Kau dan anak-anak buahmu itu akan dikeluarkan dari sekolah, Emma.”

Gadis itu tertawa membahana.

“Ingin mengancamku, Pecundang? Sungguh?” Gadis itu mendengus. “Tidakkah kau sadar akan posisimu sekarang, Cathy? Menurutmu apa yang bisa membuat kepala sekolah percaya padamu, hah? Wajahmu? Kecantikanmu? Ya. Tentu saja hanya itu yang bisa kau andalkan—”

Emma mendorong tubuh Cathy dengan keras. “—sebab otakmu saja tak lebih besar dari otak udang.

Cathy berusaha memberontak. Teman-teman Emma menahan kedua tangannya, menarik rambutnya dengan kasar.

“Kecoa sepertimu benar-benar merepotkan,” kata Emma. “Aku terlalu sibuk untuk sempat mengurusi kau, Cath. TERLALU SIBUK! Bagaimana rasanya menikamku dari belakang, hah? KECOA!” Gadis itu membentak tinggi. “Aku tahu Jake memacarimu karena kau cantik. Tapi kini dia kembali padaku, Cathy, setelah Jake menyadari aku lebih berderajat dan berkelas dibandingkan dirimu. Seandainya saja aku tidak sibuk mengurusi urusan beasiswaku, pasti dari kemarin aku sudah menginjakmu sampai mati.”

“Tapi pembalasan tidak akan manis jika tidak dilakukan saat kau sudah terinjak-injak, kan?” kata Emma sambil tersenyum lembut. Ia mengayunkan tangannya dengan ringan, “Aku tahu, aku tahu. Dari dulu aku sudah tahu, kok. Pada saatnya kau pasti akan jatuh, dengan tabiat menjijikanmu itu. Gadis dengan kualitas kepribadian serendah sampah seperti kau, Cathy sayang, aku tahu suatu saat kau pasti yang menghancurkan dirimu sendiri. Semua orang akan meninggalkanmu, Honeydew. Cepat atau lambat. Dan tepat seperti dugaanku, kan? Puff! Semua yang kau cintai menghilang.”

Bibir Emma mencibir saat mengucapkannya. Kalimat berikutnya keluar dengan ekspresi muak.

“Kelakuanmu menjijikkan. Kesombonganmu menjijikkan. Semua hal tentangmu palsu. Apa yang kau sombongkan, Cath? Lihat isi kepalamu. Kosong. Nihil. Kau tak punya apa pun yang bisa kau banggakan.

“Bahkan Sunshine sekarang mencampakkanmu. Oh? Orang itu, orang yang kau gila-gilai? Lihat? Dia membuangmu demi perempuan lain. Kau sudah bisa melihat nilai dirimu yang sebenarnya, kan? Kau itu—TIDAK BERHARGA. Apakah kau sudah sadar sekarang? Tidak ada yang menginginkanmu. Kau sadar betapa jauhnya perbedaan kita?”

“Kau pengecut,” desis Cathy.

Emma menamparnya dengan sangat keras. Cathy berusaha berteriak minta tolong tapi teman-teman Emma langsung menutup mulutnya, mengunci kedua tangannya. Cathy menendang-nendang sekuat tenaga, tapi Emma menamparnya lagi. Emma menarik rambutnya dengan kasar, tidak mempedulikan tangisan Cathy.

“Kau memang tidak  pernah belajar dari pengalaman,” kata Emma. Ia memberi aba-aba pada teman-temannya. “Mungkin aku perlu memberimu pelajaran lagi.”

Dua orang gadis anak buah Emma segera mengeluarkan buku-buku sekolah Cathy, melemparnya ke atas tanah. Tanpa ragu-ragu, mereka menginjak-injak buku-buku itu dengan sepatu mereka yang kotor. Mereka mengambil buku-buku itu lagi dan memasukkannya kembali ke dalam tas.

“Oh? Kau tampak lapar,” Emma berbicara iba. “Beri dia makanan yang pantas untuk derajatnya.”

Beberapa gadis yang menggunakan sarung tangan plastik meraup segenggam tanah di permukaan rumput dan memasukkannya dengan paksa ke dalam mulut Cathy. Gadis itu meraung-raung memberontak tapi kedua tangannya dipegang dengan sangat erat oleh teman-teman Emma.

Cathy berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya.

“HENTIKAN!” Julie berteriak keras.

Julie tersandung dan tersungkur di rerumputan. Gadis-gadis itu terperangah melihat kedatangannya, lalu tertawa keras.

Well, well. Lihat siapa yang datang,” kata Emma. “Oh? The Unbeatable.

Teman-teman Emma datang menghampiri untuk menangkap Julie, tapi Emma melarangnya. “Tidak, tidak. Jangan tangkap dia. Biarkan saja, tapi tutup jalan keluarnya. Aku ingin tahu ke mana arah permainan ini. Ini sangat menarik.”

Emma menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Pemandangan ini telah memberinya ide untuk menciptakan sebuah pertunjukan baru. Ia lalu memberi aba-aba pada teman-temannya yang mengunci tangan Cathy. “Lepaskan dia.”

Segera setelah teman-teman Emma melepaskan Cathy, gadis itu menghapus air matanya dan membersihkan mulutnya yang kotor. Julie menghampiri Cathy, menawarkan bantuan.

“Pergi sana! Aku tak butuh bantuanmu!”

Cathy menyentakkan lengannya, berteriak marah. Julie tersentak kaget. Ia menghentikan gerakannya, terpaku diam saat menyadari Cathy menatapnya dengan tatapan kebencian.

“Siapa nama aslinya? Julie? Julie Light?” tanya Emma pada teman-temannya. “Menarik sekali, Julie, karena aku dan Cathy tadi sempat membicarakan tentang kisahmu dan Sunshine. Bagaimana kabar kekasih bermata birumu hari ini, Julie?”

Julie meringis.

“Oh? Kuharap dia baik-baik saja,” sambung Emma tanpa menunggu, “karena di sini ada seorang gadis yang sangat mengharapkan kehadirannya. Seorang gadis sombong yang suka bermain api denganku.

“Tidakkah dia pernah menceritakannya padamu, Sayang? Dan geng norak kalian itu? Tentang petualangan-petualangan kecil kami?” tanya Emma dengan gerakan halus dan sangat anggun. “Oh? Tentu saja dia tidak menceritakannya pada kalian. Aku lupa kalau kalian adalah teman-teman palsu. Maafkan aku.”

Julie menatap ke arah Cathy. Gadis itu masih membersihkan mulutnya dengan mata yang basah dan penuh kemarahan. Tidak sekali pun Cathy melihat ke arahnya kembali. Dadanya naik turun dengan cepat, namun kepalanya selalu memilih menunduk dan menghindar dari pandangan Julie.

“Seharusnya sejak beberapa peringatan yang aku berikan padanya dulu, dia sudah menyadari betapa beresikonya kalau dia bermain-main dengan kekasihku. Itu kalau dia pintar! Dan kau tahu? Saat aku sedang lengah, DIA MALAH BERPACARAN DENGAN JAKE-KU DAN MENCAMPAKKANNYA! KAU BISA LIHAT KURANG AJARNYA DIA?”

“Kenapa kau tidak mencegahnya melakukan kebodohan itu, Julie? KENAPA?” tanya Emma dengan nada kasar. Sekejap kemudian, ia terlihat lebih tenang dan terkendali.

“Ah, iya. Aku lupa lagi. The Mesmerizer tidak mungkin menceritakan apa pun pada teman-teman palsu seperti kalian. Apalagi mempercayaimu.” Gadis itu terkekeh, tawanya rendah dan panjang. Teman-temannya mengikuti dengan tawa merendahkan yang sama.

Julie merasa terpukul. Rasa kebas yang menjengkelkan kini mencengkram perutnya. Ini persis seperti yang pernah dikatakan Jessie padanya waktu itu. Tentang rahasia Cathy. Pada kenyataannya, selama ini ternyata Cathy memang tidak pernah mengucapkan apa pun pada mereka. Tidak satu pun. Julie memandang dingin ke arah Cathy.

“Kenapa kau tidak pernah menceritakannya pada kami, Cath?” tanya Julie dengan perasaan kecewa.

“Bukan urusanmu!” jawab Cathy ketus.

Emma tertawa.

“Tidakkah dia gadis yang menyebalkan, Julie?” kata Emma, setengah berbisik. “Kau membelanya mati-matian dan dia malah membentakmu. Teman macam apa itu? Mari kita balas pelacur ini hari ini dengan beberapa kejutan yang menyenangkan.”

“JANGAN MENGHINA SAHABATKU!”

Julie terlihat benar-benar marah. “Dia lebih baik daripada kalian semua!”

Emma mendengus.

“Heh.”

Ucapan Julie barusan membuatnya merasa tertantang.

Gadis itu mengayunkan tangannya lagi dengan gemulai, segera menyuruh para anak buahnya untuk menangkap dan mengunci tangan Julie dan Cathy. Kedua gadis itu berusaha memberontak tanpa hasil.

“Baiklah, Julie. The Unbeatable. Karena kau sudah memintanya dengan sopan, mari kita membahas mengenai dirimu hari ini.”

Emma memulai presentasinya dengan gaya formal dan sangat anggun. Pengendalian kualitas suaranya benar-benar terlatih dengan baik, postur tubuhnya tegak sempurna, dengan jelas menggambarkan pengalamannya yang luas dalam kompetisi berkelas internasional selama ini.

“Aku akan memperkenalkanmu pada teman-temanku. Saudari-saudariku, perkenalkan. Ini adalah Julie Light. Gadis kelas Sepuluh, Nimberland High School. Siapa kau, Julie? Julie Light. Oh. Hanya seorang idiot yang tidak bisa berbahasa Prancis. Meme un escargot ne est pas aussi stide que son. Kau pasti tidak mengerti apa yang kukatakan, kan?”

Gadis-gadis itu tertawa.

“Prestasi? Nihil. Kesibukanmu? Hanya reporter bodoh penulis artikel tidak penting di klub koran sekolah. Kualitas tulisanmu di bawah standar. Rongsokan seperti itu pasti langsung dijadikan pembungkus kotoran anjing di meja juri lomba-lomba yang sudah kumenangkan. Kecerdasanmu jelas di bawah rata-rata,” kata Emma dengan berwibawa. “Tapi kau manis juga, Julie. Pantas saja Cathy sangat cemburu padamu.”

Emma membelai rambut Julie dengan sangat lembut, jari-jari Emma menelisik lincah di kulit kepalanya. Mata Emma yang mengerikan kini menatapnya tepat di depan hidungnya. Julie berusaha keras menyembunyikan napasnya yang berantakan. Jantungnya berdegup tidak karu-karuan.

“Apa yang membuatmu berpikir bisa melawanku, Julie? Kenapa kau merasa sederajat denganku? Jenis hukuman apa yang pantas? The Unbeatable pasti butuh tantangan yang tidak biasa, kan?” tanya Emma dengan senyum jahat. Ia mundur beberapa langkah untuk menikmati pemandangan mangsanya.

“Baiklah. Aku akan memberikan hadiah yang tidak bisa kau lupakan, Julie. Apakah kau punya permintaan khusus?” tanya Emma sekali lagi.

Julie masih berusaha menarik tangannya yang dipegang kuat oleh teman-teman Emma, namun tidak membuahkan hasil apa-apa. Semakin ia berusaha melawan, tangannya semakin ngilu dan kram karena ditahan sekuat tenaga oleh lawannya.

Emma mengeluarkan sebotol kecil cairan berwarna kuning muda dari tasnya. Ia mengaduk-aduk botol itu, tampak bimbang dengan keputusannya kali ini.

“Kau tahu ini apa? Ini urinku. Air seniku sendiri. Hadiah spesial yang kusiapkan untuk penggemar-penggemarku. Tadi aku menyiapkannya untuk diminum Cathy. Tapi aku sekarang ragu apakah aku ingin menghadiahkannya untukmu. Rasanya hukuman seperti ini terlalu standar, tapi aku tak tega jika terlalu jahat padamu, Julie. Karena sebenarnya kau gadis yang manis. Kesalahanmu hanyalah berteman dengan pelacur ini,” kata Emma. “Bagaimana sebaiknya?”

Emma meletakkan botol itu kembali ke dalam tasnya. Ia berubah pikiran setelah berpikir sejenak. Sebagai gantinya, ia mengambil sebuah pemantik api dari saku samping tas sekolahnya.

“Baiklah. Sudah kuputuskan. Hukumanmu. Aku akan membakar tanganmu,” kata Emma.

“Apa?”

Julie terkejut. Ia hampir mengira kalau tadi ia hanya salah dengar, atau mungkin hanya bercanda, tapi reaksi penolakan yang keras langsung muncul dari orang-orang di sekelilingnya membuatnya meyakini kalau Emma memang benar-benar berniat membakar tangannya. Terdengar suara gemuruh dari teman-teman Emma yang juga ternyata tidak setuju dengan ide gila ini.

“Emma, apa yang kau lakukan? Kita tidak pernah melakukan ini sebelumnya.”

Emma tersenyum miring.

“Tenanglah. Aku hanya akan membakar sebuah fragmen kecil di kulit tangan kirinya. Dia tidak kidal, kan? Sebuah luka bakar kecil di pergelangan tangannya pasti memberinya kenangan tak terlupakan. Dia pasti akan mengingatku seumur hidupnya. Aku merasa terhormat, The Unbeatable, mematahkan julukan tidak terkalahkanmu itu. Buktinya, aku akan mengalahkanmu, sekarang. I beat you.

Emma menyalakan pemantik apinya.

“TIDAK!”

Julie meronta-ronta untuk melepaskan diri. Kedua anak buah Emma yang sedang memeganginya pun mulai terlihat panik dan tidak yakin.

“Jangan sampai kalian melepaskannya! Kalau kalian mengkhianati kepercayaanku, kalian yang akan jadi korbanku berikutnya!”

“Tapi, Emma—ini berbahaya.”

“Turuti apa kata-kataku maka semuanya akan baik-baik saja. Aku hanya akan membakarnya sedikit. Selama ini juga kita tidak pernah ketahuan, kan? Kalian meragukan kemampuanku?” Emma membentak. “Aku tahu apa yang kulakukan. Tahan tangan kirinya, jangan sampai dia bergerak, kalau tidak nanti api ini juga bisa membakar baju kalian. Dan tutup mulutnya.”

Julie berteriak dan meronta sekuat tenaga, tapi kini anak buah Emma yang membekuknya bertambah jadi empat orang. Mereka memegangi kaki Julie, tangan Julie, membekap mulutnya, berusaha menghentikan perlawanan tubuhnya dengan segala cara, sampai tubuh Julie jatuh tersungkur di atas tanah. Mereka langsung menduduki punggungnya, menahannya dengan kaki, lalu berusaha sekuat tenaga menghentikan semua gerakan apa pun dari lengan kirinya.

Cathy memandangi semua itu dengan wajah ketakutan.

“Bagus,” kata Emma. Ia menyalakan pemantik apinya lagi, lalu meletakkannya tepat si kulit lengan kiri Julie. “Sekarang, Mlle.Light. SELAMAT DATANG DI NERAKA.”

Emma meletakkan nyala api itu tepat di bagian dalam pergelangan tangan kiri Julie. Ia membuat gerakan memutar untuk bersenang-senang, lalu mulai memusatkannya lagi di satu titik yang sama.

Julie menjerit tanpa suara, luar biasa kesakitan. Api itu membuat kulitnya melepuh perlahan-lahan. Air matanya mengalir tanpa dapat dikendalikannya. Rasa dingin yang disusul cepat oleh perih dan panas dari api pemantik itu membuatnya kehilangan kontrol atas tubuhnya sendiri.

Emma tertawa. Ia menghentikan siksaannya setelah melihat Julie cukup terluka. Dengan aba-aba dari gerakan tangannya, ia memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan Julie dari cengkraman.

Julie berusaha bangun dengan susah payah. Seluruh sendi tubuhnya sakit, tulangnya sakit, punggungnya sakit, dan tangan kirinya lebih sakit lagi. Rasanya api itu masih membakar kulitnya. Ia melihat kulitnya yang melepuh, membentuk keriput basah putih berdiameter satu inci.

“Bagaimana, Julie? Kau suka dengan salam perkenalanku?” tanya Emma. “Tanda tangan itu yang nanti akan jadi pengingatmu kapan pun kau berpikir untuk bermain-main api lagi denganku. Oh? Kenapa aku melakukan ini padamu? Seharusnya aku melakukan ini pada Cathy, bukan padamu. Benar juga. Aku menyesal. Maafkan aku. Tapi tidak apa-apa, yang penting Cathy sudah menyaksikannya. Benar kan, Cathy?”

Julie melihat ke arah Cathy. Kali ini, gadis itu juga melihatnya, dengan ekspresi wajah yang tidak pernah Julie lihat sebelumnya—rasa bersalah, iba, sedih, dan benci yang bercampur menjadi satu. Rasa sakit di pergelangan tangannya kali ini membuatnya tersadar bahwa sesuatu di dalam hatinya juga sedang merasakan rasa sakit yang sama. Ia terluka oleh penolakan sahabatnya. Ia sangat menginginkan semua kekacauan di pikirannya ini cepat berakhir.

Tiba-tiba suara yang lembut seperti piano bergema di telinga Julie. Suara yang sama yang tadi berbisik padanya saat ia membaca pesan dari telepon selularnya. Suara Richard!

“Jangan berpikir kau udah menang,” kata Julie dengan mantap dan tegas. Sekarang ia teringat lagi alasan kenapa dia bisa berada di tempat ini sejak awal. Ia menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan diri untuk serangan berikutnya.

Emma mengedikkan kepalanya. “Kau ingin tambahan hukuman lagi?”

“Aku punya bukti video yang bisa membatalkan beasiswa ke luar negerimu, Emma,” kata Julie tajam.

Emma menegakkan alisnya. “Video?”

Julie menelan ludahnya.

Yeah, sebuah video penyiksaan yang kau lakukan di tempat ini. Persis seperti yang kau lakukan padaku dan Cathy sekarang. Kami merekamnya dengan sangat baik, yang sebentar lagi akan mengakhiri masa depanmu. Semua reputasi akademis yang susah payah kau bangun selama ini, Emma. Semua akan runtuh saat video ini kami sebarkan ke semua orang.”

Julie mencoba maju selangkah meski dengan kaki goyah dan gemetaran. Ia menarik napas panjang. Bayangan tentang Richard tadi telah memberinya keberanian dan senjata untuk melawan Emma. Ia sudah tidak merasa takut lagi.

Emma tertawa.

“Cih. Kau pikir aku bodoh,” kata Emma. “Gertakanmu tidak akan berpengaruh apa-apa padaku, Julie. Aku selalu memastikan setiap tindakanku bersih dan bebas dari kecurigaan. Kau pikir aku tidak mempersiapkan semua ini dengan cerdas? Kau lupa sedang berhadapan dengan siapa?”

“Lalu menurutmu apa yang ada di kantongku sekarang, Emma?” jawab Julie dengan menantang. Ia merogoh sakunya memperlihatkan telepon selulernya. “Video aksi yang kau lakukan di tempat ini.”

“Ambil ponsel itu!” perintah Emma pada anak buahnya.

Gadis-gadis itu menggeledah Julie dengan kasar. Mereka merebut ponsel Julie, memastikan tidak ada ponsel lain di pakaiannya, lalu menyerahkannya pada Emma. Emma memeriksa ponsel itu, meyakinkan kalau tidak ada aplikasi perekam yang sedang diaktifkan. Ia kemudian memeriksa galeri, menemukan sebuah file yang tidak ingin dilihatnya.

“Apa ini?” kata Emma dengan marah. “Kenapa video ini bisa ada di sini!?”

“Video apa?” tanya teman Emma.

“Siapa yang merekam ini!?”

Emma berlari mencengkram kerah Julie, berteriak dengan intonasi yang mengerikan. “KENAPA VIDEO INI BISA ADA DI SINI!!!”

“Video apa, Emma?” tanya yang lain.

“SIAPA YANG MEREKAM INI!?”

Emma menunjukkan video pada ponsel itu satu persatu pada teman-temannya.

“Kupikir kau bilang kau sudah memastikan semuanya aman dan terkendali, Glade!” kata Emma dengan bergemuruh marah pada salah seorang sahabatnya. “Kenapa aku selalu dikelilingi para idiot!”

Julie menjawab pertanyaan itu dengan ekspresi menantang. “Apa hal itu menakutkanmu?”

Emma menyambar Julie. “Dari mana kau mendapatkan ini!”

“Dari teman-teman yang menyayangi Cathy,” kata Julie. “Dan orang-orang yang peduli padanya. Dan kami masih punya banyak lagi.”

Mereka mulai semakin riuh saat ponsel Julie diperebutkan dan diperdebatkan satu sama lain. Emma menarik ponsel itu dengan paksa dari mereka, lalu mulai menyalahkan orang-orang kepercayaannya. Mereka bertengkar dan bersilat lidah, sedapat mungkin melepaskan diri sendiri dari tuduhan dengan cara mengkambinghitamkan anggota geng yang lainnya. Emma mendapat kecaman yang paling berat karena dia mulai mengancam akan membeberkan keburukan semua orang.

“Aku tahu kau sangat pintar, Emma, tapi kau tidak dikelilingi sahabat-sahabat seperti Cathy. Tidakkah kau lihat sendiri di sekelilingmu, apakah teman-temanmu akan menyukaimu di saat kau sedang terpuruk?” kata Julie. “Kami bukan teman-teman palsu Cathy, Emma. Kami adalah sahabatnya. Dan kami akan melakukan apa pun untuk membantunya.”

Julie terlihat lebih berani daripada Julie yang biasanya. Ia seperti orang yang berbeda.

“Aku dan teman-temanku punya banyak video seperti itu, dan kau tahu? Kami lebih pintar daripada yang kau duga.” Julie meringis. “Kau tidak ingin video itu sampai di tangan kepala sekolah, kan? Atau kau ingin aku buatkan artikel khusus di koran sekolah untuk membahas perbuatanmu? Aku tidak akan ragu-ragu melakukannya, karena aku sudah punya bukti yang kuat.”

“Kau ingin tahu bagaimana kelanjutan nasib beasiswa luar negerimu? Dan nasib semua orang yang ada di sini? Semua orang yang menuruti kemauanmu untuk mem-bully orang lain?” lanjut Julie. “Kuharap berakhir indah, karena itu semua adalah keputusanmu. Pikirkanlah baik-baik.”

Emma menelan ludahnya dengan penuh amarah. Ia sangat yakin dengan kehati-hatiannya selama ini. “Kenapa video itu bisa ada!”

Emma menyambar kerah baju seragam sekolah Julie dengan kasar. “Bagaimana kau melakukannya!?”

“Mungkin kau harus berpikir lagi tentang definisi pintar, Emma,” kata Julie sambil menyeringai. “Kalau kau berpikir kau sangat pintar, bisa jadi karena selama ini karena kami mengalah dan mengasihanimu. Atau kalau kau mulai menyadari kenyataannya, kau tidak sepintar yang kau kira.

Emma benar-benar kehilangan kendali emosinya. Ia melepas satu persatu partisi ponsel Julie, mematahkannya, mencabut memori card-nya dengan marah dan merusaknya, lalu menginjak ponsel itu hingga hancur.

“Hancurkan saja. Aku masih punya banyak yang lain,” kata Julie sambil menyengir.

Emma menampar Julie, gadis itu tersungkur. Ia menendang tungkai kaki kanan Julie dengan keras, membuat gadis itu kesakitan. “Bagaimana kalau aku menghancurkan kakimu? Kau masih punya banyak yang lain?”

Julie meringis dan bangkit.

“Kau yakin mau meneruskan ini, Emma?” kata Julie, melayangkan pandangan sengit pada gadis itu. “Pertimbangkanlah tawaranku baik-baik, Emma. Dan teman-temanmu juga. Mereka akan dikeluarkan dari sekolah karena membantumu.”

Emma menggeram.

“Kau tidak akan menyerahkan video itu pada siapa-siapa,” bentak Emma. “Karena kau akan tamat hari ini, Julie.”

“Kau pikir memangnya kenapa aku berani datang ke tempat ini seorang diri? Apakah karena aku yang bodoh atau kau yang bodoh?” balas Julie dengan nada sama tinggi. “Silakan lanjutkan jika kau ingin menambah koleksi videoku untuk diserahkan ke kepala sekolah. Sekarang teman-temanku sedang merekam kejadian ini dari suatu tempat. Kalau kau bersikap lebih kasar lagi padaku, aku akan menyuruh mereka memanggil semua orang ke tempat ini sekarang juga.”

“Omong kosong!” kata Emma. Ia tertawa mencibir. “Teman-temanmu? Kau tidak bisa menggertakku dengan omong kosong itu. Tidak ada siapa-siapa di sini.”

Teman-teman Emma mulai terlihat gelisah. “Emma, sudahlah. Ayo kita pergi dari sini.”

“Dia berbohong!” kata Emma.

“Lalu bagaimana caranya ia mendapatkan video itu?” tanya yang lain dengan keras. “Wajahku juga terekam di sana. Aku tidak mau terlibat lebih jauh lagi.”

“Salah seorang dari kalian berkhianat padaku,” kata Emma. “Katakan! Siapa yang merekam ini!”

“Bukan aku yang merekamnya—”

“Kau juga ada di sana waktu itu! Mukamu tidak ada di sini. Jangan-jangan kau yang berkhianat padaku—”

“HEY! KAU PIKIR KAU SEKARANG DALAM POSISI TAWAR??” bentak Julie. “Pecahkan teka-teki itu di tempat lain! Pergi dari sini sebelum aku kehilangan kesabaran!”

“Jalang!”

Setelah berdebat dan berargumen tidak henti-hentinya, Emma tidak bisa mengalahkan desakan teman-temannya yang sudah sangat ketakutan kalau video itu akan tersebar. Gadis itu dan teman-temannya akhirnya pergi meninggalkan Julie dan Cathy, sambil tetap saling menyalahkan satu sama lain dan berbantah-bantahan. Emma mendengking marah dari kejauhan.

***

 BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

38 thoughts on “22 – Teman (5)

  1. Ping-balik: CATATAN DARI PENULIS (70) | Naya Corath

  2. Ping-balik: Daftar Isi | Naya Corath

      • itu kak…
        adalah aktivitas yang bertujuan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dengan efisien dan secepat-cepatnya, menggunakan prinsip kemampuan badan manusia. Itu berarti untuk menolong seseorang melintasi rintangan, yang bisa berupa apa saja di sekitar lingkungan dari cabang-cabang pohon dan batu-batuan hingga pegangan tangan dan tembok beton yang bisa dilatih di desa dan di kota.
        https://id.wikipedia.org/wiki/Parkour

  3. Sdh ditolak cathy habis habisan tp km tetap mau nolong dia. H E B A T !
    Aku harap stelah emma sama geng nya pergi, julie jg lgsg pergi tanpa mlihat cathy, sekali kali dia juga harus ngrasain gimana rasanya dicuekin apalagi sama orang yg tlah membelanya sejauh itu.
    Tanganmu kasih liat richard ya julie, biar lekas diobati sm pangeranmu wkwkwkwkwkwk…..

  4. Woaaa……
    Keren bgt kak, smoga aja stlh ini richard jd prhatian sm julie,:-*
    cpet lnjut ya kak, klo bs sh sminggu ini udh update ya kak gk sbar bgt sm klanjutannya. Keep fighting ! 😉

  5. Aku ga tau kalau udah di lanjut masa-,-
    Seru banget ih, ka. Emangnya Julie sempet manggil temen-temennya ya? Terus…suara Richard. Julie denger langsung atau cuma ingatannya doang? Ah aku banyak tanya ya:D

  6. Mba… i’m back.. gomenne baru bisa baca sekarang, udah beberapa part ya yg diupdate..

    Semoga part depan, cathy sadar dan ngiklasin jullie sama richard, 😉

  7. Ping-balik: 22 – Teman (4) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s