22 – Teman (4)

Comments 25 Standar

Julie baru saja tiba di lantai tiga saat ia mendengar sebuah pesan masuk yang berdering dari ponselnya. Ia mengambil ponsel dari saku bajunya, melihat nomor tak dikenal yang cukup familiar di matanya. Ia menahan napasnya.

Pesan dari Richard.

Jantung Julie berdegup kencang.

Ia berhenti berjalan. Tubuhnya merapat di dinding, di sudut koridor, setengah bersembunyi seperti memastikan tidak ada orang yang melihat keberadaannya di situ.

 

Julie.

Segera hapus pesan ini setelah kau membacanya. Tapi jangan lupa mengunduh file video di lampiran pesan ini terlebih dahulu sebelum kau melakukannya. Simpan di dalam direktori ponselmu, atau perbanyak untuk rangkap pribadimu. File asli ada padaku. Aku mendapatkannya dari seorang teman yang dapat dipercaya. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi.

Aku sudah membicarakannya dengan Jerry. Dia setuju untuk membantu menulis artikel yang mengancam Emma. Mungkin dia akan menghubungimu lagi hari ini untuk membahas tentang rencanaku padanya.

Aku memenuhi janjiku padamu, Julie. Kuharap ini juga dapat memperbaiki hubunganmu dengan Cathy.

Aku minta maaf karena sudah merusak persahabatan kalian.

 

Richard.

 

Ia membaca pesan itu sekali lagi. Tangannya gemetar karena panik, tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan jari-jemarinya.

Kata-kata pada tulisan itu ditulis dengan rapi dan sopan, seperti ciri khasnya Richard yang membuat Julie begitu terkacaukan. Suara Richard yang lembut seperti berbisik pelan di telinganya. Ia tidak bisa berkonsentrasi. Dadanya getir sekali saat Richard mengucapkan kata maaf.

Setelah berkali-kali menarik napas, Julie berusaha mencerna kata-kata yang ditulis oleh Richard barusan. Sekarang ia mencoba meng-klik sebuah ikon bergambar video. Ia meng-klik tombol “Play” pada pesan multimedia tersebut.

Julie melihat gambar video rekaman Emma dan teman-temannya sedang memukul seorang siswi kelas Sepuluh di belakang gedung sekolah.

Ia terperanjat.

Gadis yang ada di video itu adalah Tania Lawless, gadis kelas Sepuluh yang dikabarkan berhenti sekolah sejak dilabrak geng Emma beberapa bulan yang lalu. Namun tidak pernah ada seorang pun pihak otoritas di sekolah yang mempercayainya karena Emma selalu dapat menutupi kejahatannya dengan baik. Gosip itu akhirnya hanya menjadi satu dari jutaan gosip-gosip yang berlalu di Nimber, tanpa ada penanganan khusus, dan menghilang begitu saja tanpa penjelasan.

Dari sudut pengambilan gambar yang tidak mulus dan bergoyang serampangan, jelas terlihat bahwa rekaman ini diambil diam-diam oleh seseorang di suatu tempat tanpa sepengetahuan Emma dan teman-temannya. Beberapa kali terlihat jari-jemari pengambil gambar tampak menghalangi layar kamera, setiap kali Emma dan teman-temannya menatap ke arah sana, seperti berusaha menutupi agar aktivitasnya tidak ketahuan.

Julie langsung mematikannya saat video itu menampilkan adegan sadis di pertengahan menit pertama. Dengan hati-hati, ia menyimpan video itu di galeri ponselnya, lalu menghapus pesan tadi, sesuai perintah Richard. Ia merenung lagi, memikirkan arti dari semua ini. Ia kemudian teringat perkataan Nick padanya di Kelas Musik tadi, tentang Richard yang membuat sebuah rencana untuknya. Apakah video ini adalah bagian dari rencananya? Mengapa Richard mengirimkan ini?

Puluhan pertanyaan tiba-tiba muncul di kepalanya secara bertubi-tubi. Julie tidak tahu apa persisnya yang direncanakan Richard, tapi Richard berkata kalau ini ada hubungannya dengan Jerry. Kenapa Richard menemui Jerry? Apa saja yang mereka bicarakan? Apakah pesan Jerry menyuruhnya ke ruangan klub koran sekolah sore ini adalah untuk membahas ini? Apakah nanti Richard juga akan ada di sana? Apakah mereka berencana merusak nama baik Emma di koran sekolah dengan video ini? Kenapa? Apakah itu tindakan yang bijaksana? Artikel seperti apa yang ditulis Richard dan Jerry yang bisa menyelamatkan Cathy nanti?

Dari mana Richard mendapatkan video ini?

Semakin lama Julie memikirkannya, semakin semuanya menjadi lebih jelas sekarang. Video ini dapat menjadi alat bukti kejahatan Emma yang selama ini tidak tersentuh, mereka bisa menjadikannya kartu As kapan pun Emma mengganggu Cathy. Richard benar, Julie bisa menggunakan video ini untuk memperbaiki hubungannya dengan Cathy.

Julie memutuskan untuk menonton video itu sekali lagi, kali ini hingga durasi video empat menit dua puluh detik itu selesai dimainkan. Ia mengecilkan volume ponselnya dan mengerling sesekali ke sekelilingnya dengan hati-hati, jangan sampai kepergok geng Emma yang menangkap basah tiba-tiba dari belakang. Beberapa adegan awal tidak terlalu jelas kelihatan karena posisi kamera yang sering bergoyang, tapi menuju pertengahan video terlihat lebih stabil. Wajah Emma terlihat jelas, begitu mengerikan, sedang mem-bully Tania dengan ancaman tamparannya yang sengaja mengintimidasi.

Tak lama kemudian, video itu berlanjut ke adegan penyiksaan yang lebih menakutkan. Emma menarik rambut Tania dan melumuri wajahnya dengan semangkuk cacing tanah yang masih hidup dan menggeliat. Ia memasukkan sisanya ke dalam saku seragam sekolah Tania, lalu menjahit mulut saku itu agar cacing-cacing itu tidak dapat keluar. Sebagian yang berjatuhan dimasukkan ke dalam kaus kaki Tania, sambil teman-teman Emma membungkam mulutnya agar tidak berteriak.

Julie menelan ludahnya. Bayangan tentang Cathy yang diperlakukan seperti itu membuatnya ngeri.

Ia ingat sekarang. Dulu saat ia memergoki Cathy menangis, gadis itu juga datang dari arah tempat yang sama. Ia tiba-tiba mengurungkan niatnya menemui Jerry. Ada hal lain yang lebih mengganggu pikirannya—lebih daripada apa pun. Firasat buruk dan naluri jurnalismenya menyuruhnya untuk segera mengunjungi lokasi penyiksaan itu sekarang.

Julie berlari secepat kilat menuruni tangga menuju tempat itu. Tidak ada yang pernah peduli pada bagian belakang bangunan tua bekas gudang. Tempat itu terlalu angker dan tidak menarik untuk dikunjungi. Semak-semak yang tumbuh liar dan tinggi di sekelilingnya membuat tempat itu tak terjamah oleh banyak orang, dan sudut mati yang sempit mungkin tak menarik perhatian tukang kebun sekalipun. Pantas saja Emma selama ini selalu dapat menutupi kejahatannya.

Setelah semakin dekat dengan bangunan tua itu, Julie mendengar bunyi tawa yang berdentum dari kejauhan, kelebat bayangan beberapa orang di sela-sela semak dari tempat yang ia tuju. Ia memperlambat langkahnya, lalu berjalan mengendap-endap untuk menyelinap.

Dugaannya benar. Gerombolan Emma sedang ada di sana, menyakiti seseorang lagi. Dengan napas yang ditahan, Julie merangkak mendekati tempat itu dengan sangat hati-hati, bersembunyi di balik pilar dan semak-semak tinggi dengan posisi setengah berjongkok. Ia mengamati kalau ada sepuluh orang senior kelas atas—Kelas Sebelas dan Dua Belas, berjaga berkeliling di sekitar area itu untuk memastikan tidak ada yang menyusup dan mengetahui aktivitas mereka. Di lingkaran tengah, Emma dan tiga sahabat utamanya berdiri melingkar menghadap tembok.

Ketika ia sudah sangat dekat, ia melihat sosok berambut coklat bergelombang yang sangat dikenalnya.

Cathy!

***

 BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

25 thoughts on “22 – Teman (4)

  1. Ping-balik: CATATAN PENULIS (70) | Naya Corath

  2. Ping-balik: Daftar Isi | Naya Corath

  3. OMG…!!!!
    Aku susah move on dr novel ini…!!
    1 hari langsung diselesain baca’y,,,
    Kirain udah ampe the end, ternyata blum.
    Suka ama Richard,,, tapi aku juga suka kalau Julie ama Nick…!!
    Tapi Pliiiis… Untuk TE’y Julie ama Richard yaaa.
    Pliiiiiis,,, aku gk rela kalau Richard kelamaan galau. Hahahaha…
    Thanks banget ka…!!! Poko’y ditunggu Next’y…!! Fighting…!!!

  4. Kena batunya cathy, kurang detail penyiksaannya ke cathy, biar makin seru. Jangan cuma dngerin ketawanya si emma sm temen2nya aj. Emg prlu dikasih plajaran tuh cathy.
    Untuk novel ini sy brharap endingnya, kebersamaan tokoh pemeran utamanya julie dan richard jangan trlalu cepat. Slama ini tiap sy nonton sinetron atau baca novel indonesia di tiap endingnya sllu mrasa kurang puas, kurang greget, trpaksa sy baca yg terjemahan ketimbang karya negeri sendiri, miris. Biasanya yg sering sy temui novel cinta versi rrnj indonesia setelah mngetahui perasaan masing2 terus saling snyum dan peluk atau smpai kiss tapi stelah itu lgsg tamat. Jadi sy lgsg down, kita udh pnasaran tngkat akut trnyata akhirnya cuma segitu doang??

    Smoga di novel ini bnyak kejutan stlah mngetahui prsaan msing2, mngkin bisa diteruskan mrk kencan, mngenang masa mrk knalan krn wwncara richard, atau boleh jg julie diajak rrichard ke rumahnya dan rhasia perasaan richard dibeberkan sm org tuanya sndiri, pasti seru bayangin salah tingkahnya sang pangeran sekollah mati kutu di dpan julie….wkwwkwkwk
    Dan banyak lg moment mrka berdua, shngga kita para pmbaca sllu inget trus dan nggak bisa nglupain novel ini.
    Maaf naya, banyak ngomong nih, abis seru cerita km dan byangin bahagianya julie sm richard klau udh jadian hehehe…
    Semangat ya nulisnya….

    • Noted. Tapi mungkin nanti falling actionnya nggak sedetail itu.. Aku coba sesuain sama ending yang di kepalaku dulu yaa 😀
      Terima kasih idenya Mala 😀

  5. omigot oh my wow… ternyata cathy masih di bully yah.. jangan2 yg bikin cathy gak mw balik ke geng mereka karena ancaman emma?? plis plis plis… biar richart sama julie jadian dong.. kasian kelamaan galau…

  6. Semangat merivisi novel blog ini ya kak 🙂 eh, revisinya udah selesai? Aku makin penasaran, si Cathy di apain ya sama Emma and the gang:D

  7. Ping-balik: 22 – Teman (3) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s