22 – Teman (3)

Comments 3 Standar

Setelah penampilan mereka berakhir, mereka menghabiskan sisa jam Kelas Musik itu dengan perasaan lebih cerah. Nick diam-diam merasa bangga pada dirinya sendiri, ia telah berhasil membuat Julie tertawa kembali. Gadis itu terlihat lebih riang sekarang, kekonyolannya yang dulu akhirnya sudah mulai kembali seperti semula.

Beberapa siswa tertawa lepas saat Mr.Kennedy mengatakan akan memberikan A+ pada kelompok Julie dan kawan-kawan, Julie malah meminta program subsidi silang untuk mendongkrak nilai Kelas Prancisnya. Mereka benar-benar menyukainya, seolah telah lupa dengan ketidaksukaan mereka pada gadis itu beberapa waktu yang lalu.

Nick yakin, Jessie dan Kayla pasti akan senang mendengar kabar ini.

Dengan optimisme yang sama, Nick memutuskan untuk mengajak Julie pergi ke Kalle Expo sore itu, setelah Kelas Musik berakhir. Ayahnya menyelenggarakan pameran patung selama beberapa hari terakhir ini, yang Nick pikir mungkin akan menyegarkan pikiran gadis-gadis itu setelah melewati minggu yang melelahkan.

“Tidak bisa, Nick,” tolak Julie. “Kau saja pergi dengan Jessie dan Kayla. Aku harus menemui Jerry.”

“Kau yakin?” tanya Nick. “Di antara semua gadis, justru kau-lah harusnya mendapat liburan, Julie. Melihat patung Michael Angelo tiruan atau seni patung tak berbentuk mungkin bisa membuat pikiranmu lebih rileks lagi. Ayolah. Jerry bisa menunggu.”

Julie menggeleng.

“Aku sudah berjanji,” kata Julie. “Kau tahu, Nick. Aku sudah memperburuk semuanya. Aku tidak ingin semakin memperburuknya lagi. Kalau ada kesempatan bagiku untuk mengembalikan semuanya lagi seperti semula, aku akan melakukannya demi itu.”

Nick mengkerut masam.

“Kau menyukai Jerry, ya?”

Julie menjawab cepat. “Jangan macam-macam.”

Nick mencibir. Ia memang tidak berkata apa-apa, tapi alis matanya yang tegak naik-turun jelas-jelas menunjukkan kalau ia meragukan pernyataan itu. Julie melotot.

“Tidak,” kata Julie, mempertegas jawabannya. “Aku tidak pernah menyukainya.”

“Memang kuharap tidak.”

Nick menyengir penuh arti. Tuhan tahu benar siapa yang ia harapkan untuk disukai Julie dan itu selalu diusahakannya diam-diam. Termasuk menyugesti dan mensabotase isi pikiran Jessie selama ini agar merestui hubungan dua orang itu—Richard dan Julie. Siapa pun harusnya tahu Richard tidak pernah cocok dengan Cathy.

“Baiklah kalau begitu. Good luck,” Nick menyemangati. “Aku tahu kau bisa melakukannya dengan baik, Julie. Semua akan baik-baik saja.”

Julie balas tersenyum. Tapi dalam sekejap senyuman itu langsung menghilang, digantikan oleh seringai jijik yang berfokus pada satu titik di wajah anak laki-laki itu. Seuntai bulu hidung Nick menjuntai dari lubang hidungnya yang besar.

“Errgh. Sinting.” Julie menggeram rendah.

Nick tertawa. Ia mengorek hidungnya tepat di depan gadis itu, dan menunjukkan salah satu bulu hidungnya. Gadis itu menendangnya dengan kesal. Nick mengaduh.

“Nick,” kata Julie ragu-ragu. “Hari ini kau tidak menemani—orang itu?”

Nick tersenyum.

“RICHARD?” kata Nick, langsung menyebutkan nama itu tanpa berbasa-basi. Julie menyengir terpaksa. Nick menggeleng pelan. “Tidak. Sore ini Richard mengunjungi pamannya. Lagipula, aku tidak mungkin bisa mengajak dia berjalan beriringan bersama kalian, kan?”

Gadis itu menyengir pahit.

Yeah.

“Julie, sebelum kau pergi,” kata Nick suatu ketika. Wajahnya terlihat lebih serius daripada biasanya. “Aku tahu Jessie sangat membenci Richard sekarang. Kayla juga. Cathy, Cassandra, Lucy—hmph, mungkin semua orang sekarang membencinya. Bahkan kau adalah yang paling punya alasan untuk marah padanya saat ini.”

Nick menatap lekat.

“Aku ingin kau tahu kalau Richard tidak seburuk itu. Dia orang yang baik, dia sedang melakukan sesuatu untuk kalian. Meskipun yaah, dia juga punya kekurangan dan kebodohan. Tapi–yaah, itulah. Dia manusia biasa, Julie. Aku harap kau mau memaafkannya.”

Julie menelan ludahnya dengan kaku. Sampai akhirnya ia membuka suara dengan pelan dan serak. “Yeah.”

Mereka akhirnya berpisah di ujung tangga, sementara Nick turun dan Julie naik ke lantai atas menuju ruang klub koran sekolah.

***

 BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

3 thoughts on “22 – Teman (3)

  1. Ping-balik: CATATAN PENULIS (70) | Naya Corath

  2. Ping-balik: Daftar Isi | Naya Corath

  3. Ping-balik: 22 – Teman (2) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s