22 – Teman (2)

Comments 30 Standar

Nick bersedekap.

Julie belum datang juga. Padahal Mr.Kennedy sudah berada di ruang Kelas Musik hari ini–dan Nick yang hampa ini, tidak bisa membayangkan sehari pun dunianya di Kelas Musik tanpa kehadiran Julie.

Ia menyisir rambut hitam belah tengahnya dengan jari-jemarinya yang panjang.

“Jadi, hari ini kita akan membawakan parodi. Pilih anggota kelompokmu berisi 4-5 orang, pilih lagu kalian, dan hibur aku hari ini, anak-anak,” kata Mr.Kennedy dengan suaranya yang menyala.

“Parodi LAGI??” Respon beberapa siswa yang mengeluh panjang.

“Ya, PARODI LAGI,” tukas Mr.Kennedy dengan gaya dibuat-buat. “Apa Anda keberatan, Tuan-tuan dan Nyonya-Nyonya? Anda bisa melaporkan surat keberatan Anda pada guru Musik yang bertugas hari ini–yang mana aku yakin dia memiliki kewenangan tak terbatas untuk menentukan apa pun topik pelajaran yang dia mau, ini nomornya 03822211..”

Mr.Kennedy menepuk dahinya sendiri.

“.. Tunggu, tunggu dulu. Itu nomorku. Kenapa nomorku bisa ada di sana? Wah! Ternyata guru Musik itu aku! See?”

Dengan gayanya yang khas, kedua tangan Mr.Kennedy menari-nari dan melambai setiap kali ia berbicara, seperti kebiasaan seorang konduktor orkestra yang terbawa dari lahir.

“Di mana Julie?”

Mr.Kennedy mendelik ke arah Nick, kemudian menyapu pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Julie tidak ditemukan di mana pun.

Semua orang kini ikut-ikutan memandang ke arah Nick–seolah-olah dia pacarnya Julie atau semacamnya. Entah kenapa. Padahal gadis itu, melihat bulu hidungnya yang legendaris saja sudah menahan muntah.

“Aku juga menanyakan pertanyaan yang sama, Sir,” tukas Nick dengan napas pendek. “Kurasa dia terlambat lagi.”

Julie adalah murid kesayangan Mr.Kennedy sejak awal semester. Walaupun suaranya pas-pasan dan hampir selalu keluar tempo, tapi penampilan Julie selalu memukau guru Musik mereka, tak peduli betapa pun anehnya hal apa pun yang dinyanyikan oleh gadis itu.

Kalimat yang sepele yang diucapkan orang normal dengan normal pun, entah kenapa bisa terdengar luar biasa menggelikan jika Julie yang mengucapkannya.

“Ya sudahlah,” kata Mr.Kennedy, tampak kecewa.

Mr.Kennedy lalu bertepuk tangan dengan keras untuk memberikan isyarat pada seluruh siswa untuk memulai tugas mereka.

“Tiga puluh menit dari sekarang! Durasi pendek saja, tidak usah panjang, Gentlemen! Ingat apa yang aku ajarkan minggu lalu? Praktik! Kalo tidak ada elemen-elemen yang pernah kuajarkan, tidak ada nilai A, mengerti? Aku sangat baik hati hari ini, maka izinkanlah aku memberi nilai A untuk kalian semua. Please? Mulai!”

Dalam sekejap, kelas menjadi rusuh karena para siswa mulai mencari partner kelompok Musik mereka.

“Nick, apa kau akan sekelompok dengan Julie lagi jika dia datang?” tanya Clara suatu ketika. Nick mengangguk. Clara menarik garis bibir dengan masam.

“Ada masalah?” kata Nick.

Clara menggeleng.

“Tidak–hanya saja, kupikir sebaiknya kau mencari teman baru, Nick. Aku hanya kasihan dengan Jessie, kalau sampai ternyata antara kau dan Julie juga–” Clara tidak melanjutkan kata-katanya.

Nick tahu apa maksudnya. Pasti ini soal Richard dan Cathy.

“Jadi kau mau sekelompok Musik denganku atau tidak?” kata Nick tanpa menghiraukan pernyataan Clara tadi.

“Mau, tapi–”

“Kalau mau, aku ingin ada Julie di kelompokku. Aku tidak menerima negosiasi. Dan satu lagi. Julie, tidak seburuk yang Anda bayangkan, Nona.”

Nick meniru gaya santai yang dilakukan Mr.Kennedy tadi dan bersikap cuek seperti tidak terjadi apa-apa. Ia memanggil Rom dan Daniel, yang membalas lambaian tangannya dengan seringai lebar.

“Aku sudah dapat dua personel untuk kelompokku,” kata Nick pada Clara. “Nah, hanya tinggal satu kursi lagi yang tersisa. Kalau kau mau, ini kesempatan terakhirmu. Kalau tidak juga tidak apa-apa. Dengan Julie, kelompok kami pas berempat.”

Clara menggigit bibirnya. “Tapi Julie kan belum datang–”

Nick memotong cepat, memanggil dari kejauhan.

“Hey, Felton, kau mau ikut kelompokku?” Kata Nick sambil melambai. Clara menarik tangan anak laki-laki itu dengan wajah panik. “Oke, oke! Nick! Aku masuk.”

Dua menit kemudian, mereka sudah duduk melingkar di atas bangku yang mereka susun. Clara sudah menyiapkan kertas dan pulpen, menyerahkannya pada Nick.

“Kenapa kau menyerahkannya padaku?” tanya Nick.

“Karena kau ketua kelompok, Nick,” sambut Daniel dan Rom sambil tertawa. Clara tersenyum-senyum sendiri.

“Sejak kapan aku jadi ketua kelompok?” celetuk Nick.

Ketiga anak itu tak mendengarkan keluhannya, sehingga Nick terpaksa meraih kertas dan pulpen itu. Nick mendesah panjang. Panjang sekali. Selama beberapa puluh detik berikutnya, ia hanya menatap kertas itu dalam kesunyian. Dan ia mendesah sekali lagi. Ini bagian yang paling sulit.

“Rom, tolong beri aku ide.”

Rom menggaruk-garuk kepalanya, memberikan usulan agar kelompok mereka membawakan Metallica. Clara menolak mentah-mentah, sementara Daniel menyarankan untuk memparodikan Linkin Park. Clara semakin mengamuk, tapi Daniel bilang dia hanya mau memainkan melodinya saja, liriknya urusan Clara.

“Ha–ah, kalian ini menyedihkan,” keluh Nick sambil mengusap panjang wajahnya. Otaknya berputar-putar mencari ide, tapi untuk sebuah pertunjukan spektakuler yang biasanya ia mainkan, ia butuh satu personel lagi yang paling berbakat di antara mereka semua.

Sepertinya Nick tak perlu menunggu terlalu lama untuk frustasi, karena tak berapa lama kemudian, terdengar ketukan pelan dari pintu kelas mereka. Setelah gagang pintu ditarik ke bawah, sebuah kepala bulat berambut pirang panjang menjulur aneh di celah pintu.

“Siang,” kata Julie.

Nick mendongak gembira, seperti anak anjing yang menyambut pulang majikannya. Ia mengayunkan tangan kanannya dengan gerakan memutar, untuk menarik perhatian Julie ke arah tempat kelompok mereka duduk.

“Ms.Light. Masuk,” kata Mr.Kennedy. “Segera pilih kelompokmu. Ya, hari ini parodi lagi. Penampilan kesukaanku. Kau tentunya ingin bergabung dengan Mr.White, kan?”

Nick melihat sekeliling. Entah kenapa, tidak ada yang terlalu peduli akan kedatangan Julie. Julie tak terlalu mendapat banyak perhatian saat berada di Kelas Musik hari ini. Biasanya mereka selalu antusias setiap melihat Julie di dalam kelas, tapi sejak kejadian minggu lalu tampaknya hanya beberapa orang saja yang tertarik padanya.

Bahkan Rom dan Daniel pun tak seantusias biasanya.

“Hai Julie,” kata mereka datar.

Julie tersenyum hanya tipis saja.

Nick mengetahui dari Jessie kalau Julie sedang bersedih karena masalah yang menimpa mereka. Ia memikirkan sesuatu untuk membuat gadis itu bersemangat kembali.

“Jadi, Julie—” seringai Nick. “Lagu apa yang akan kita bawakan hari ini?”

“Entahlah,” kata Julie malas. “Terserah kau saja.”

Nick berpikir sejenak. Ada tiga orang lain di tim mereka—Daniel, Rom, dan Clara. Daniel dan Rom spesialis melodi dan perkusi. Clara penyanyi Sopran yang piawai, salah satu yang terbaik di klub Paduan Suara Nimber. Mereka adalah musisi yang handal di kelas, kombinasi yang paling menarik, namun ada lagi yang lebih menarik. Nick menoleh ke arah Julie dengan senyum terbuka.

Nick merasa ini adalah kesempatan emas untuk memulihkan kepercayaan orang-orang pada gadis yang sedang bersedih itu. Gadis itu pantas mendapatkannya.

“Buatkan aku sebuah lirik,” kata Nick kemudian. “Ini parodi lagi. Aku akan membuatkan komposisi musiknya. Seperti biasa.”

“Apa yang harus kutulis?” tanya Julie.

“Terserah,” kata Nick sambil bersenandung.

“Tentang apa?”

Nick mengangkat bahunya sambil tersenyum miring.

Julie menanyakan pertanyaan yang sama pada ketiga orang lainnya, tapi mereka tak terlalu bergairah menjawab. Clara bahkan tak henti-hentinya menengok ke arah kelompok lain.

Gadis itu akhirnya menghela napas.

“Baiklah, baiklah. Tapi jangan salahkan aku kalau aku menghancurkan mood kalian,” kata Julie dengan pasrah. “Kurasa aku sangat berbakat menghancurkan segalanya akhir-akhir ini.”

Ia mengambil secarik kertas dan menulis sembarangan.

“Sudah selesai,” kata Julie. Ia mendorong kertas itu dan pulpennya ke arah mereka.

Do You Wanna Build A Snowman. FROZEN.”

Nick mendengar judul lagu itu dengan antusias. Ia mengambil kertas yang tadi ditulisi Julie dan membacanya.

Ia tertawa keras-keras.

Ketiga orang lain memandangnya dengan penasaran, ingin tahu apa yang ditulis Julie di kertas itu. Daniel, Rom, dan Clara mengambil kertas itu dari tangan Nick dan membacanya.

Mereka tertawa meledak.

“Kau hebat, Julie.” Clara menyunggingkan senyumnya.

Nick sudah menduga ini akan terjadi. Tak peduli seberapa pun siswa-siswa Nimber kehilangan gairah mereka akan Julie, gadis itu pasti akan kembali menarik perhatian mereka dengan pesonanya.

Mereka membawakannya di depan kelas. Awalnya, tidak ada yang bereaksi saat tim mereka memperkenalkan diri. Tapi saat Nick memulai parodinya dengan petikan gitarnya yang profesional, mereka mulai tersihir.

Terutama saat Julie mulai membuka suaranya.

JULIE: [1]
Do you wanna eat potato?
Better than tomato
Potato chips is the best, in toaster it is fresh
tomato melts away

I’m so hungry I could die
I can’t think or sing
I’m dumb and I don’t know why 

Seisi kelas langsung riuh seperti petasan. Kata-kata yang diucapkan Julie begitu tidak masuk akal, hingga akhirnya ingatan akan penampilan-penampilan aneh Julie minggu-minggu sebelumnya segera meluncur cepat ke kepala mereka.

Nick berusaha mati-matian berkonsentrasi pada permainan gitarnya.

Do you wanna eat potato?
It’s really better than tomato..

okay, bye

Beberapa orang mulai menahan merah di muka mereka saat Julie mengakhiri nyanyiannya. Ekspresi Julie masih sama lugunya ketika menatap Clara dengan wajah polos.

“Itu bukan lagunya, Julie,” kata Clara sambil berakting. “Biar kuajarkan lagu yang sebenarnya.”

Nick, Rom, dan Daniel mulai berimprovisasi lagi.

CLARA:[2]
Do you wanna school in Nimber?
It’s the real song we have to sing
You will learn many things in this place, education is the best
Now get out of your nest

Come on let’s go in hurry
‘Cause I know you’re not
Or you could lose brighter sky..

Suara Clara terdengar merdu. Semua yang mendengarkan mereka sangat terpukau. Sampai akhirnya Julie menjawab percakapannya.

JULIE: [3]
Do you wanna eat potato? (no!)

It’s our lunch in Nimber’s cafetaria 
(not like that, Julie!)
Okay, bye 

Julie kemudian menyanyikan kelanjutannya sebagai pemeran utama menggantikan Clara, dengan suaranya yang pas-pasan dan tempo berlarian. Tidak ada yang peduli kecuali pada apa yang dinyanyikannya, ekspresinya dan gaya bicaranya.

JULIE: [4]

Alright, it’s about Nimber
Well, I don’t think so, I don’t know..
You’re right many things in this place, education is the best
With one cardiac arrest

M.Wandolf is scary
He asks me to French
His bald head will shine so bright..

Anak-anak tertawa lagi. Julie menghentikan lagunya sesaat dengan penuh penghayatan. Bahkan Mr.Kennedy tak kuasa membayangkan kilap di kepala guru Kelas Prancis itu, yang memang berkilau-kilau di ruang guru.

Tak lama kemudian, Julie dan Clara berduet, Clara mengisi suara dua. Nick menaikkan nada dasarnya, mempercepat tempo permainannya. Rom dan Daniel mengiringi dengan sangat cekatan.

JULIE & CLARA: [5]

Mr.Kennedy in Music Class
He never let you make a mess
He asks weird questions to you in flash, breaks your brain in a crash
He won’t care for the rest (never care for the rest)

Julie bernyanyi sendirian.

JULIE: [6]

If we can live in Hawaii
And release birds’ poo
We can have a better sky (WHAT?)

Clara menatap Julie sambil berkacak pinggang.

Wait, wait.. Julie
Birds’ p-poo? 

Julie menyengir.

JULIE & CLARA: [7]

Yeah.. It’s brilliant idea, right? A new invention, you like it? (NO!)
I like it (I DON’T)
What a better sky than a smelly jelly white and grey one? (EVERY NORMAL SKY, JULIE)
Or.. Maybe we can really make clouds from chicken’s poo. (DON’T DISTURB THE SONG)
Okay, I will change the song

Nick’s nose hair is overdue, and it is smelly, too
I wanna go away (JULIE!!)

Saat Julie membawakan bagian percakapan reff yang terakhir, seisi kelas kembali tertawa.

Gerakan kikuk Julie dan rasa jijiknya saat melihat bulu hidung Nick yang saat itu memang sedang berkibar-kibar membuat semua orang sakit perut kegelian. Mereka bertepuk tangan penuh semangat, teringat kembali pada lagu “Bulu Hidung Nick Bukanlah Kacang Panjang” yang pernah menjadi hits di Kelas Musik mereka beberapa bulan yang lalu.

Setelah beberapa bait selanjutnya yang semakin mengundang tawa, Julie melanjutkan lirik berikutnya, yang tidak ia tulis di kertas tadi. Tidak ada yang menyangka bahwa lagu itu masih berlanjut, bahkan Nick sendiri.

Gadis itu mengulangi lirik asli dari lagu tersebut, tanpa iringan musik, menyanyikannya dengan sangat pelan.

JULIE: [8]

Do you wanna build a snowman
Come on let’s go and play
I never see them anymore, come out the door
It’s like they’re gone away

We used to be best buddies
And now we’re not
What am I gonna do?

Seisi kelas terdiam. Mereka tahu benar, Julie sedang membicarakan siapa.

Nick tak bisa menggambarkan betapa sunyinya ruang kelas itu. Ia tak pernah melihat Julie seperti ini.

Tak lama kemudian, Julie tersenyum dan memberikan isyarat pada teman-teman sekelompoknya. Nick mengangguk. Mereka bernyanyi dan bermain musik lagi, seperti ending yang sudah mereka rencanakan tadi.

JULIE & CLARA: [9]

We make fun of our teachers
We’re gonna get absolute A plus 

Thank you, byee~

Kelas itu akhirnya bertepuk tangan sangat meriah.

Kepiawaian Nick, Daniel, dan Rom dalam bermain instrumen membuat penampilan kocak mereka menjadi semakin mengagumkan. Julie dan Clara berpegangan tangan lalu membungkuk dengan hormat, mengakhiri pertunjukan mereka dengan salam.

Pertunjukan mereka benar-benar disukai oleh semua orang.

“Kerja yang bagus, Julie!” kata Clara sambil mengajak high five setelah kelompok mereka selesai tampil. “Maafkan aku karena sikapku yang buruk padamu sebelumnya. Kuharap kita bisa tetap menjadi teman.”

Julie menyengir. “Memang kita teman, kan?”

“Sudah kuduga, kau akan melakukannya, Julie,” kata Nick. “Kau seorang natural. Kau membuat semua orang sakit perut tanpa perlu kau rencanakan. Itu sudah tercetak di cetakan darahmu.”

Julie menatapnya. “Berbakat badut sirkus, maksudmu?”

Nick terkikih.

 

***

[1]

Apa kau mau makan kentang?
Lebih enak daripada tomat
Kripik kentang itu enak, di pemanggang roti rasanya segar
Sementara tomat meleleh

Aku sangat lapar hampir mati
Tidak bisa berpikir atau bernyanyi
Aku bodoh dan aku tak tahu kenapa

[2]

Apa kau mau sekolah di Nimber?
Itu lagu yang seharusnya kita nyanyikan
Kau bisa belajar banyak hal di tempat ini, pendidikan di sini yang terbaik
Sekarang keluarlah dari sarangmu

Ayo cepat kita ke sana
Karena aku tahu kamu selalu terlambat
Kalau tidak kamu bisa kehilangan langit yang lebih cerah

[3]

Apa kau mau makan kentang? (tidak!)

Itu menu makan siang kita di kafetaria Nimber 
(bukan seperti itu liriknya, Julie!)
Oke, dagh

[4]

Baiklah, ini tentang Nimber
Well, kayaknya sih, aku tak tahulah..
Kau benar banyak hal di tempat ini, pendidikan yang terbaik
Dengan bonus serangan jantung

M.Wandolf mengerikan
Dia menyuruhku berbahasa Prancis
Kepala botaknya bersinar sangat terang..

[5]

Mr.Kennedy di Kelas Musik
Dia tidak bakal membiarkan kalian berbuat kekacauan
Dia suka bertanya pertanyaan aneh tiba-tiba, merusak otakmu dalam kecelakaan maut
Dia tidak peduli hal yang lainnya (tidak peduli hal yang lainnya)

[6]

Kalau kita bisa tinggal di Hawai
Dan melepaskan kotoran-kotoran burung di sana
Kita bisa punya langit yang lebih indah (APA?)

[7]

Yeah.. Itu ide brilian, kan? Penemuan terbaru, kau suka? (TIDAK!)
Aku suka (AKU TIDAK)
Langit apa yang lebih indah daripada langit putih abu-abu berbau kenyal-kenyal yang kuciptakan tadi? (LANGIT NORMAL, JULIE)
Atau.. Mungkin kita memang bisa bikin awan dari tai ayam. (JANGAN RUSAK LAGUNYA, JULIE)
Oke, aku akan mengganti lagunya

Bulu hidung Nick sangat panjang, dan bau juga

Aku ingin pergi menghindarinya (JULIE!!)

[8]

Apa kau ingin membuat boneka salju?
Ayo kita keluar dan bermain bersama
Aku tidak pernah melihat mereka lagi, keluar dari pintu itu
Rasanya seperti mereka menghilang dari hidupku

Kami dulu adalah sahabat terbaik
Dan sekarang tidak lagi
Apa yang harus kulakukan?

[9]

Kita membuat lelucon tentang guru-guru kita
Kita bakal mendapat nilai absolut A plus

Terima kasih, daagh~

***

 

 BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

30 thoughts on “22 – Teman (2)

  1. Ping-balik: CATATAN PENULIS (69) | Naya Corath

  2. Ping-balik: Daftar Isi | Naya Corath

  3. Ping-balik: 22 – Teman | Naya Corath

  4. Inikah yg katanya lebih bagian part akan lebih panjangggggggg???
    Kurasa sama sj dg part sebelumnya, hanya sj trjemahannya yg membuat isi tulisannya panjang.
    Nggk tau kurang greget momentnya.
    Mungkin dr sisi temennya yg brnama clara, aku rasa msh kurang percakapannya dg julie atau brsma 1 kelompoknya, yg sebenarnya bisa bikin lbh menarik lg….

    • Hehehe.. kurang ya? Sebenarnya aku galau mau manjangin part ini, soalnya Bab 22 masih bakal ada banyak part-nya (mungkin part terbanyak di blog novel ini)

      Okay, I’m working on that.
      Thanks masukannya ya Mala! 😉

  5. keerrrrrrrreeeennnn,,
    jd tmbah pnasarn sma cra pnyelesaian konflikny,,
    update’ny jangan lama2 ya kak,, hehehe… 🙂
    FIGHTING 😉

  6. ceritanya selalu keren. julie lagu mu luar bisa. bikin ngakak hahaha. pengen deh kayak julie yang selalu bisa buat suasana disekitarnya menjadi penuh keceriaan

    • Iya.. Selama masa konflik, aku gak bisa nulis karakter Julie yang lucu, jadi kangen juga nih sama Julie yang satu ini.. hehehe

      Aku jadi pengen nulis prekuelnya Julie Light dan Kelas Prancis deh, jamannya Julie, Jessie, dan Kayla masih di Springbutter. Gimana menurut kamu? 😀

  7. Keren kaq…. setia menunggu lanjutan@…
    chaty tu gak usah lg jd teman@ dech..
    Nyebelin bgt..
    Berharap akhir@ julie n richat hidup bahagia selama@… (kyak di dongeng2 aja… hehehe)

  8. maaf kkax.. slma ini hnya mnjdi pmbca pasif… 😉
    tpi aq sngt suka skli novel ini…
    aq hrap julie dan richard brakhir bhgia… tak ada lg cathy ckup jessy kayla itu sdah mnynangkan…

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s