22 – Teman

Comments 24 Standar

Julie menghabiskan makan siangnya dalam diam. Bahkan ketika Jessie mengajaknya bercanda soal rambut palsu Ms.Watson, ia hanya tersenyum sedikit.

Kayla merasakan perubahan yang kentara ini, tapi tak mampu berbuat banyak untuk mencerahkan perasaan Julie. Ia mengingatkan Julie untuk lebih sabar dan tenang–bahwa masalah ini akan segera berlalu, tapi gadis itu hanya termenung sambil memandang Cathy dan Cassandra dari kejauhan, bersama teman-teman baru mereka.

Dalam perjalanan menuju ke kelas, Julie akhirnya menceritakan tentang kejadian kemarin sore pada Jessie dan Kayla. Tentang pertemuannya dengan Richard.

“Kemarin aku menemui Richard,” kata Julie akhirnya.

Ini pertama kalinya ia berterusterang pada mereka terhadap peristiwa-peristiwa yang biasanya hanya ia rahasiakan.

Jessie dan Kayla terkejut, menghentikan langkah mereka.

“Apa?”

“Aku memintanya kembali pada Cathy, tapi dia menolak,” lanjutnya dengan suara parau. “Dia marah. Sangat marah. Dia meninggalkanku begitu saja. Kurasa aku semakin merusak semuanya.”

Julie terdiam, menghela napas.

“Kau meminta Richard kembali pada Cathy? Kenapa kau–” Jessie mengerang. “Argh! Kenapa kau sangat idiot?”

“Aku tahu,” Julie menunduk lemah. Ia tidak ingin mendebat Jessie lagi. Kali ini Jessie memang benar. Ia memang merasa sangat, sangat tolol.

Tak lama kemudian, ia juga menceritakan tentang Richard yang menemui beberapa gadis kelas dua belas selama beberapa hari terakhir. Dan soal pendapat Jerry tentang Richard.

“Aku juga melihatnya,” kata Kayla. “Aku tak tahu kenapa dia melakukan itu, tapi kurasa tindakanmu menemui Richard sudah benar, Julie. Aku sendiriΒ tak pernah punya kesempatan mendekatinya. Dia selalu menghindariku. Sama seperti Cathy dan Cassandra.”

“Memang brengsek si Richard itu,” Jessie meradang. “Mentang-mentang dia tampan lalu seenaknya memperlakukanmu seperti ini. Dan–jangan sebut-sebut nama dua orang Ratu Drama itu lagi, Kay. Aku sudah sangat muak dengan kelakuan bodoh mereka.”

“Apa lagi yang kau bicarakan dengan Richard?”

“Tidak banyak,” kata Julie, memalingkan muka. “Hanya soal kenapa dia menyukaiku dan berbuat semua kebodohan ini. Sejujurnya, aku tak begitu mengerti apa yang ia ucapkan. Dia–” suaranya melemah, “Dia–sangat marah.”

Kayla menatap tajam.

“Apa kau menyukai Richard, Julie?”

Julie terdiam sejenak, lalu menggeleng. Gadis itu masih sama keras kepalanya seperti saat Kayla pertama kali mengenalnya.

“Julie.”

Julie menutup rahangnya rapat, seakan seluruh partikel tubuhnya berubah menjadi batu.

“Aku ingin kau mempercayai kami sebagai sahabatmu, Julie, bukan hanya sebagai teman bersenang-senang saja. Aku ingin kau jujur padaku.” Kayla menggenggam tangan Julie dengan erat.

Julie menggigit bibirnya. Satu-satunya yang masih belum bisa ia utarakan pada teman-temannya adalah soal perasaannya yang sebenarnya pada Richard. Ada satu bagian di ruang hatinya yang masih menolak kenyataan itu. Segala gejolak yang asing dan tidak wajar ini membuatnya merasa benar-benar tidak mengerti akan apa yang terjadi pada dirinya sendiri.

“Tidak,” kata Julie, menarik tangannya, menyangsikan kebenaran itu dengan wajah kaku.

Kayla mengangguk paham.

“Baiklah. Jika saatnya nanti kau sudah siap, katakanlah yang sejujurnya pada kami. Aku tidak akan memaksamu lagi. Aku tahu semua ini sangat baru untukmu, Julie. Semua kejadian ini. Tapi kita akan melaluinya bersama-sama. Kami akan selalu menemanimu.”

Kayla lalu menghiburnya dengan kata-kata yang menyenangkan, berusaha membuatnya merasa lebih baik dengan mata hitam Asianya yang menenangkan. Jessie akhirnya berhasil membuat Julie tertawa setelah menunjukkan jerawat gendut di balik poninya, mengingatkan Julie akan hari pertama mereka bersekolah di Nimberland. Mereka saling berangkulan lagi, tidak peduli betapa terlambatnya mereka masuk ke kelas siang itu.

Julie sangat jarang bersikap sentimentil, tapi kali itu ia menyatakan dengan haru bahwa ia merasa beruntung memiliki sahabat-sahabat yang sangat baik seperti mereka berdua. Percakapan mereka berakhir saat mereka berpencar memasuki kelas masing-masing.

***

Β BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

24 thoughts on “22 – Teman

  1. Ping-balik: CATATAN PENULIS (67) | Naya Corath

  2. Suka sama kayla. Dia nanganin masalah dewasa banget. Sahabat yang pengertian. Gregetan sama julie kapan dia sadar sama perasaan dia ke richard. Trus kenapa richard kayak gitu. Kenapa dia ga coba nyelesain masalah malah lari dari masalah. Ditunggu lagi kelanjutannya ya kak!!

  3. Ada satu bagian ruang hatinya yg menolak kenyataan itu? Nih pasti krn julie bbrp kali lhat richard brsma bbrp gadis, ruang hatinya mnolak dia jg suka sm richard krn cemburu itu sndiri.
    Sayangnya pst lagi lagi julie nggak tau cemburu itu apa….???

    Iya nay bner2 pendek nh, nggk bisa coment byk jg.
    Jgn lama2 ya, kan udh kelar part 2 nya…

  4. Ping-balik: 21 – Keberanian (3) | Naya Corath

  5. Julie sangat beruntung mempunyai sahabt seperti kayla dan jessie πŸ˜€ tak sabar menunggu part selanjutnya πŸ™‚ semangat terus buat kak naya πŸ™‚

  6. kak jngan lama” dong lanjutannya
    aku penaran bnget sama klnjutannya
    plis dong kak d update dan lbih panjang yaa kak plissas

  7. Ping-balik: Daftar Isi | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s