21 – Keberanian (3)

Comments 29 Standar

1049204-royalty-free-rf-clip-art-illustration-of-a-valentine-cartoon-boy-crushing-over-a-school-girl

Hari keenam.

Julie sudah tidak tahan lagi. Ia selama ini tidak pernah menyimpan masalah terlalu lama. Apalagi yang berkaitan dengan sahabat-sahabatnya.

Masalah ini terus-menerus mengganggu pikirannya.

Sejak koran sekolah terbit kemarin, jumlah orang yang menanyainya semakin bertambah banyak. Mereka memburu Julie dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjepit, penasaran, seringkali memojokkan. Lebih dari itu, sebenarnya yang paling menyakitkan bagi Julie adalah tatapan kebencian sahabatnya yang menghantui pikirannya setiap kali mereka menanyakan soal Cathy. Ia benar-benar ingin semuanya kembali seperti semula, berbaikan lagi dengan sahabat-sahabatnya, namun sejauh ini belum ada tanda-tanda sedikit pun bahwa semuanya akan membaik. Dan di kafetaria siang ini, lagi-lagi mereka hanya duduk bertiga.

Jessie, Julie, dan Kayla.

Ini adalah mimpi buruk baginya.

Julie juga kehilangan kesibukan yang biasanya ia lakukan di klub koran sekolah. Sekarang ia hanya menghabiskan detik-detik yang hampa di setiap pergantian jam pelajaran kelas. Setelah ia bersitegang dengan Jerry karena masalah permintaan jadi narasumber berita yang telah ditolaknya mentah-mentah di ruangan klub koran sekolah dua hari yang lalu, Julie tidak pernah menghampiri ruangan itu lagi. Ia berpapasan dengan Jerry sesekali—dan beberapa anggota klub koran sekolah lainnya—hanya untuk tersenyum sesaat dan melewati mereka begitu saja. Ini seperti bukan dirinya sendiri. Semua yang terjadi dalam hidup Julie sekarang terasa ganjil dan terasa tidak menyenangkan.

Julie benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan.

Selama hidupnya, Julie selalu lebih terlatih untuk menghindari masalah, bukan untuk menghadapinya. Setiap kali ia memiliki masalah, ia memang selalu memilih untuk melupakan atau mengalihkan perhatiannya pada hal-hal lain yang lebih menyenangkan. Rasa cueknya telah menyelamatkannya dari begitu banyak hal, seperti halnya masalah kelas Prancis atau masalah lain yang selalu mengganggunya. Tapi kali ini, untuk pertama kali dalam hidupnya, Julie merasa tidak mampu melakukan hal itu lagi.

Hatinya terjebak dalam konflik pertemanan ini.

Kayla belum memberi petunjuk apa-apa, Jessie malah selalu mengamuk kalau mereka mulai membahasnya lagi. Nick sangat jarang ditemuinya. Apalagi Lucy—Julie sama sekali tak ingin merepotkan gadis itu di saat-saat pentingnya. 

Julie tidak berani menemui Cathy seorang diri. Gadis itu selalu membuang muka, berlari menghindar, atau justru menatapnya dengan sorot mata mengerikan yang membuat bulu kuduknya meremang. Sementara itu, Cassandra selalu menempel dengan Cathy, tidak pernah mengeluarkan sepatah kata pun tanpa kehadiran gadis itu di sampingnya. Dan yang semakin membuat semuanya menjadi sangat sulit adalah mereka berdua sekarang selalu berjalan bersama dengan Pinky Winky, tanpa sedetik pun memberikan Julie kesempatan untuk memiliki waktu yang cukup berbicara dengan mereka.
Julie harus berpikir keras. Ia lalu memikirkan orang itu—satu-satunya orang yang ingin ditemuinya namun juga sangat tidak ingin ditemuinya. Kemudian Julie menyadari masalah pertemanan ini lebih membebaninya daripada apa pun.

Ia telah memutuskan untuk menemui anak laki-laki itu.

RICHARD.

Julie melihat Richard di belakang sekolah. Anak laki-laki itu sedang menatap ponselnya sambil mengetikkan sesuatu, begitu asyiknya sampai-sampai anak laki-laki itu tidak menyadari saat Julie secara diam-diam berjalan mendekat ke arahnya. Julie menahan napas, membiarkan tubuhnya bergerak sendiri, menggunakan kesempatan untuk melakukan hal yang seharusnya sudah ia lakukan dari dulu. Entah kenapa, saat itu keberaniannya muncul secara tiba-tiba.

Ia ingin menyelesaikan ini sekarang.

“Richard,” kata Julie.

Anak laki-laki itu terkejut. Ia hampir saja menjatuhkan ponselnya, kalau saja ia tidak langsung menangkap ponsel itu dengan cepat. Anak laki-laki itu menatap Julie dengan mata birunya yang menggeletar terbuka, terbelalak.

“Julie,” suaranya terkesiap.

Mereka berdua terdiam selama beberapa detik, menyingkapkan keganjilan yang selama ini hanya mereka hindari. Julie mengontrol pernapasannya. Jantungnya membeku, namun segera mencair dan melunak saat melihat satu kedipan mata biru yang khas, yang telah lama tidak dilihatnya. Wajah itu selembut beledu, memancarkan kehangatan.

“Ke mana saja kau?” kata Julie dengan suara serak aneh, seperti orang yang baru saja kena batuk berdahak. Ia berdehem singkat untuk melancarkan suaranya yang mendadak parau, yang entah kenapa kali ini begitu sulit untuk dikeluarkan.

Julie mengumpulkan keberanian yang lain.

“Semua orang mencarimu.”

Richard terdiam mematung, menahan luka. Ia sudah berupaya sedemikian rupa untuk tidak melukai hatinya sendiri sekarang, tapi tampaknya hari ini ia terpaksa harus menghadapi sakit hati itu lagi. Ia segera menunduk, seperti tidak dapat bertahan menatap Julie lebih lama.

“Tidak kemana-mana,” kata Richard pelan. “Apa yang kau inginkan?”

Julie menelan ludahnya. Ini lebih sulit dari yang ia duga.

“Aku ingin kau kembali dengan Cathy.”

Julie tidak mengerti kenapa ia mengucapkan itu. Ia bahkan sebenarnya tidak tahu apa yang seharusnya ia bicarakan dengan Richard. Entah bagaimana caranya, ia hanya memikirkan kondisi di mana semuanya benar-benar kembali seperti semula. Ia tidak bisa memikirkan ide yang lebih pintar.

Richard mengerjap. “Tidak akan pernah terjadi.”

Julie menaikkan alisnya.

“Kenapa?” Julie menuntut.

Richard tertawa dengan suara rendah. “Kau sudah tahu jawabannya.”

Senyuman anak laki-laki itu memudar. Ia tak lagi menatap Julie. Rambut emasnya yang terpapar sinar matahari berkilau cemerlang, seperti mencoba menutupi bayang-bayang kesedihan yang berkelabat di balik wajahnya. Richard memutar tubuhnya dan berjalan menjauh.

Reaksi yang tiba-tiba itu membuat Julie terkejut.

“Tidak, Richard. Tunggu!”

Julie mengejar Richard yang semakin jauh, dengan gayanya yang kikuk, tapi sebenarnya anak laki-laki itu tidak pernah benar-benar berniat pergi. Richard akhirnya berhenti berjalan. Ia menarik napas panjang. Giginya terkatup rapat karena menahan emosinya.

“Kenapa, Julie?” gumam Richard tiba-tiba. “Kenapa kau melakukan ini padaku?”

Julie terperangah.

Richard menengadah, memperlihatkan kelopak matanya yang terbuka lebih lebar. Tidak ada yang bisa menjelaskan betapa ganjilnya pemandangan itu, selain rasa aneh yang mencekik di leher Julie. Siluet wajah itu sekarang terlihat begitu jelas, sama mengagumkannya seperti saat Julie pertama kali melihatnya.

“Bukankah aku sudah menyebutkannya waktu itu?” kata Richard.  “Aku menyukaimu. Aku tidak pernah menyukai Cathy,” kata Richard dengan suara lebih lantang. “Dan sangat bodoh jika aku kembali lagi padanya. Aku menyukaimu. Kau ingin aku mengucapkannya sekali lagi? Itukah yang kau inginkan?”

Julie menelan ludahnya. “Tidak.”

Sekali lagi, setelah percakapan itu, mereka berdua terdiam. Mereka hanya berpandang-pandangan, lebih sering saling membuang muka, menyembunyikan perasaan tertekan. Angin yang berhembus gemericik di rerumputan di sekitar mereka telah mengabarkan cuaca mendung yang akan segera datang. Angin yang lebih kencang meniup tubuh mereka lagi, seolah-olah mengetahui bagaimana cara mengisi kesunyian yang ganjil yang terjadi saat itu.

Richard menghela napas, menenangkan diri. Ia menyadari kembali betapa gadis ini benar-benar berbeda dari gadis lain yang pernah ditemuinya, betapa ganjil perasaan yang selalu Julie berikan padanya, dan betapa ia kesulitan mengontrol perasaan itu. Kali ini, ia tidak dapat menyimpan perasaannya lagi. Ia akan mengatakannya sekarang, tepat di depan gadis ini.

“Aku menyukaimu sejak lama, jauh sebelum kau memintaku untuk bertemu di kedai Steak~Stack waktu itu. Tapi aku tak pernah berani mengatakannya padamu,” kata Richard lirih. “Aku sangat menyukaimu.”

Jantung Julie berpacu cepat. Setiap kali Richard mengatakan bahwa ia menyukainya, kakinya bergetar. Pengakuan Richard minggu lalu terdengar seperti mimpi samar-samar, namun hari ini Richard mengulanginya lagi dengan begitu jelas, seolah-olah meyakinkan Julie bahwa semua ini terasa semakin nyata. Ini benar-benar terjadi.

“Lalu kenapa kau berpacaran dengan Cathy?”

Julie hampir tidak menyadari ia mengucapkan kalimat ini. Ia mengucapkannya begitu saja. Lehernya kaku dan tegang.

“Kenapa kau mendekati Cathy dan sekarang menyakiti hatinya? Kau berbuat kekacauan ini lalu menghilang begitu saja, Richard. Kenapa kau melakukan ini? Kenapa?” runtut Julie, mulutnya bergerak sendiri tanpa diperintahkan. “Kau menempatkanku di posisi yang sulit, kau tahu? Sahabat-sahabatku sekarang menghindariku. Mereka membenciku. The Lady Witches kini tercerai-berai. Itu semua karena ulahmu.”

Julie berusaha keras menahan panas yang akan membuncah dari dadanya. Ia akhirnya mengungkapkan perasaan kesal yang selama ini hanya ditahannya. Napasnya memburu, ia berbicara dengan nada suara asing yang biasanya tidak pernah ia lakukan.

Ia menuntut dengan nada mendesak. “Dan sekarang aku gantian bertanya padamu, Richard. Kenapa kau melakukan semua ini padaku?”

Richard hanya bergeming. Ia tidak senang mendengarnya, sudut-sudut mulutnya tertekuk ke bawah. Wajahnya membuang pandangan, mata birunya menghampiri Zinnia yang tumbuh liar tanpa disengaja di atas permukaan tanah. Ia belum siap menghadapi situasi seperti ini.

Ia tidak menjawab.

“Kenapa kau diam saja? Katakan sesuatu,” desis Julie kesal.

“Kau tidak mengerti, Julie—”

Richard menarik napas panjang. Rasanya sangat berat. Butuh waktu lama baginya untuk bisa menyampaikan perasaannya pada gadis itu. Jika bukan karena gadis itu yang memintanya hari ini, ia tidak akan pernah berani mengungkapkan jawaban ini. Ia tampak murung karena terikat dengan rasa bersalah yang terus menghantuinya.

Ia menatap Julie dengan tajam.

“Aku adalah pemain logika yang bisa diandalkan. Aku selalu menempatkan logikaku di atas segalanya. Namun ketika berurusan denganmu, aku kehilangan semua akalku. Tidakkah kau menyadarinya?” jelas Richard.

Secercah nada pedih terdengar pada getaran suaranya.

“Puisiku–” Richard menarik napasnya, “–puisiku adalah ungkapan hatiku yang ingin kusampaikan untukmu. Tapi kau tak mengerti. Kau malah merobek-robeknya seperti sampah. Tidakkah kau tahu betapa marahnya aku padamu? Semua tentangmu Julie, semuanya menyiksaku. Aku mencoba melupakanmu, tapi aku malah terjebak dalam kebodohan yang merusak semua akal sehatku. Aku tak dapat mengendalikan diriku sendiri, Julie. Kau adalah satu-satunya orang yang membuatku merasa sebodoh ini dalam hidupku.”

Richard sekarang memandang Julie dengan matanya yang biru.

“Dan di antara semua orang yang pernah kutemui dalam hidupku, kau adalah orang yang paling membingungkan. Aku tidak pernah bisa memahami jalan pikiranmu. Sekarang kau ingin tahu kenapa aku melakukan semua kebodohan ini?”

Richard tidak dapat menahan emosinya lagi.

“Itu karena aku adalah seorang pengecut,” kata Richard tegas. “Aku seorang pengecut yang bodoh. Pengecut yang jatuh cinta padamu.”

Julie merasakan gejolak hebat di perutnya.

“Kalau kau ingin berbicara denganku sekarang, setidaknya katakanlah sesuatu yang bisa membuatku merasa lebih tenang. Aku butuh berpikir lebih logis, namun aku tidak bisa melakukannya ketika aku bersamamu.”

Pernyataan ini mengguncang Julie, membuat gigi-giginya gemelutukan karena panik. Ia tidak bisa memberikan respon yang normal, bahkan terhadap perasaannya sendiri pada anak laki-laki itu. Saat ini hanya satu hal yang mampu dipikirkannya. Alasan pertama kenapa ia akhirnya memutuskan untuk menemui anak laki-laki itu.

“Kembalilah pada Cathy.”

Richard menatap kosong. Kekecewaan dan sakit hati menyaput garis-garis wajahnya yang sempurna. Ia mendesah, tertawa tanpa suara. “Sudah kuduga. Kau benar-benar mustahil.”

Ia akhirnya memutuskan untuk menyudahi percakapan ini. Entah kenapa, ia tidak pernah bisa mengerti, gadis itu selalu saja bersikap berbeda dari harapannya. Ini sudah berada di luar batas kesabarannya. Ia pergi meninggalkan Julie tanpa melihat ke belakang lagi, segera berlalu dalam keadaan marah dan terluka.

Sementara itu, Julie hanya termenung di tempat, menyadari kebodohan apa yang baru saja ia lakukan.

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

29 thoughts on “21 – Keberanian (3)

  1. Ping-balik: CATATAN PENULIS (63) | Naya Corath

  2. Ping-balik: 21 – Keberanian (2) | Naya Corath

  3. Ping-balik: Daftar Isi | Naya Corath

  4. Hai kak, namaku salsa. Salam kenal :). Wuahh keren, akhirnya julie berani ketemu sama richard, semakin ke sini ceritanya jadi makin menegangkan, semangat nulisnya ya kakk.. Julie ulang tahun hari ini, sama dong, aku juga ulangtahun hari ini. Hihi

    • Halo Salsa.. 😀

      Waah, sama kayak Julie ya.. hehehe.. 😀 Selamat ulang tahun, Salsa 😀
      Tapi jangan jadi ceroboh dan tukang telat kaya Julie yaa, hehe 😀

      Salam kenal.

  5. Wow wow wow woooooowww…
    Nggak tau mau ngomong apa. Meskipun nggak seneng plus kecewa denger jawaban julie yg super bodoh nyakitin hati richard, tp aku salut, bisa dibilang tersihir ats pengakuan richard yg bener bener aku tunggu. Cara richard ngungkapin perasaannya sperti nih cowok mmg pantas dibilang jenius bgitu ngena banget dh pemilihan kata katanya. Terharu, smpai aku ikut jingkrak jingkrak bayanginnya. Smpai aku ngebayangin nih novel bgs banget klau dijadikan film, tp kan indonesia nggak punya rambut emas, cocoknya mmg film luar nh.
    Ada nggak ya film luar yg ceritanya miripnya kayak gini? Ada yg tau nggak judulnya apa? Pasti aku beli dh hehehehe…..

    Smakin semangat nunggu kelanjutannya.
    Semoga makin seru…..

    • Sudah ku-update lgi yaa Mala 😀

      Yg kali ini pendek sih hehe.. tpi update berikutnya pasti lebih panjang

      Selamat membaca! 😉

  6. Saya angkat tangan kak, saya juga bingung kalo di posisinya julie.
    Huft.
    .
    .
    .
    Haha 😀 cepet di lanjut ya kak, biar para readers nggak galau sama nasip cintanya julie. Semangat kak!

  7. novel ini memiliki cerita yang sangat menarik dan selalu membuat saya merasa penasaran dengan kelanjutan ceritanya. semangat terus ya ka. fighting

  8. Sialan si Julie.. Rumit banget juli mikirnya.. Kenapa gak coba jujur ajah?? Astaga, jangankan Richart, aku juga bingung sama Julie, Naya..
    Btw, Happy birthday Julie… Moga cepat jujur sama hati kamu sendiri.

  9. Julie terlalu rumitt.. kenapa dia ga sadar kalau dia suka richard? Kasian richardnya.. sekarang dia malah nambah masalah sama richard gara2 salah ngomong.. jadi gregetan sm julie kak haha.. tapi richard juga sih yang salah kalau dia suka julie harusnya dia deketin julie jangan pura2 pacaran sm cathy.. ditunggu kelanjutan ceritanya lagi ya kak!! Semangatttt!!!

  10. Ping-balik: CATATAN PENULIS (64) | Naya Corath

  11. Ping-balik: CATATAN PENULIS (65) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s