21 – Keberanian

Comments 27 Standar

images (7)

Sudah empat hari berlalu sejak hari Kamis sore yang tragis itu, sejak Cathy menampar Julie dengan marah. Hari di mana Richard akhirnya mengakui rasa sukanya pada Julie. Dan tiga hari sejak Cathy dan Cassandra memutuskan untuk berpisah dari geng mereka. Tidak banyak yang berubah siang itu. Julie, Jessie, dan Kayla masih duduk bertiga saja di meja mereka. Nick tidak bisa ikut bergabung, Lucy masih sibuk dengan kompetisinya. Sementara itu Cathy dan Cassandra—mereka berdua memilih duduk di tempat yang sangat jauh di ujung sana.

Mereka tampak asyik dengan teman-teman baru mereka.

Semua orang di Nimber benar-benar sibuk membicarakan perpecahan yang terjadi di dalam internal geng The Lady Witches. Bahkan di kafetaria sekalipun, orang-orang dari meja di sebelah Jessie, Julie, dan Kayla menanyakan apa yang terjadi pada geng mereka. Kayla berusaha menjawab dengan jawaban yang baik, Jessie tidak peduli sama sekali, sedangkan Julie hanya diam saja.

Siapa pun tahu kalau ada yang tidak beres yang terjadi di antara mereka.

Orang-orang mulai membuat spekulasi-spekulasi yang memanaskan telinga, menciptakan gosip-gosip baru tentang hubungan segitiga antara Cathy, Julie, dan Richard. Topik itu adalah topik terpanas di Nimber saat ini. Cerita tentang Richard yang berselingkuh diam-diam, Julie yang mempermainkan perasaan sahabatnya, atau Cathy yang mendapat karma atas perbuatannya—gosip-gosip semacam itu berlalu-lalang seperti burung merpati. Beberapa orang membuat teori baru tentang siapa anak laki-laki berikutnya yang akan ditaklukkan oleh Julie, siapa yang akan jadi pelampiasan Cathy, dan bagaimana Richard akan menghadapi penggemarnya yang patah hati. Simpang siurnya kejelasan tentang gosip ini disebabkan karena tidak ada konfirmasi sama sekali baik dari pihak Julie, Cathy, maupun Richard. Mereka bertiga tidak tertarik untuk memberikan penjelasan apa-apa, bersikap dingin dan membungkam mulutnya, bahkan Cathy pun tampaknya tak bicara terlalu banyak pada geng barunya tentang perselisihan itu.

Julie akhirnya memutuskan untuk mengikuti permintaan Jerry untuk membantunya di klub koran sekolah. Sikap Jerry yang ditunjukkannya minggu lalu memang mengesalkan—dan biasanya selalu begitu. Tapi Julie menyadari kalau akan lebih bijaksana jika ia terlibat di dalam tim. Insiden puisi Richard yang dulu pernah terjadi tidak boleh sampai terulang lagi. Ia harus mengawasi apa pun yang ditulis Jerry nanti tentang ia dan teman-temannya di koran sekolah minggu ini.

Julie benar-benar lupa kalau keputusannya itu justru adalah sebuah kebodohan besar. Sekarang, ia justru harus lebih banyak menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang yang paling haus akan sumber berita.

Para jurnalis klub koran sekolah.

Di ruangan klub koran sekolah sore itu, gadis-gadis anggota klub yang biasanya jarang menampakkan diri akhirnya mulai memadati ruangan klub mereka. Tidak hanya dari kelas sepuluh, bahkan ada yang dari kelas sebelas, dan sesepuh kelas dua belas. Motivasi utama mereka hanya satu—mereka ingin tahu apa yang terjadi dengan Cathy, Richard, dan Julie. Mereka tak henti-hentinya menanyakan Julie pertanyaan-pertanyaan mengganggu yang membuat telinganya sangat kebas.

“Kenapa kau tega merebut Richard dari Cathy, Julie?” tanya seseorang.

Sebagian besar dari mereka adalah gadis-gadis yang tidak senang dengan kenyataan bahwa Richard menyukai Julie. Mereka lebih bisa menerima ketika Cathy berpacaran dengan Richard, karena gadis itu sangat cantik. Tapi Julie–bagi mereka  adalah pengecualian yang tidak masuk akal.

Pada awalnya, mereka memang memulai dengan pertanyaan yang cukup sopan. Pertanyaan-pertanyaan berikutnya lebih memojokkan, bahkan ada yang dengan terus terang menyatakan ketidaksukaannya.

“Apa yang kau lakukan sehingga Richard menyukaimu? Apakah kau memasang guna-guna atau semacamnya?”

“Aku tak tahu kalau ada yang bisa mengalahkan wajah cantik, yaitu kebodohan.”

“Kau tidak pantas dengan Richard,” kata seseorang yang lain.

Meskipun telah berusaha untuk tidak menghiraukannya, kata-kata itu sedikit banyak membuat Julie terluka. Ia tahu, mereka tidak pernah bermaksud jahat–hanya cemburu saja. Beberapa menyampaikan keberatan mereka dengan gaya setengah bercanda, beberapa sedikit lebih sinis, ada juga yang hanya diam saja, tapi jelas-jelas api kecemburuan yang menggelora telah membakar wajah mereka. Dalam hal ini, Julie sendiri tidak menyangkal tuduhan-tuduhan itu. Ia merasa layak untuk dipersalahkan. Ia memang tidak pantas untuk anak laki-laki sebaik Richard.

Julie hampir saja menyesali keputusannya untuk menghabiskan waktu di ruangan klub koran sekolah, kalau saja tidak ada Jerry yang kemudian datang dan memarahi gadis-gadis itu. Selama hampir setengah jam anak laki-laki itu mengomeli mereka semua, karena komitmen mereka yang sulit diandalkan.

Jerry memberikan kesempatan pada mereka untuk meliput berita itu dengan cara yang lebih elegan.

“Jika kalian ingin tahu lebih banyak tentang peristiwa menghebohkan itu, lakukanlah dengan cara terhormat. Sebagai seorang reporter profesional,” kata Jerry. “Aku tak butuh gosip berkepanjangan yang tidak tercetak di atas kertas.”

Mereka terdiam dan tidak terlalu bersemangat memberikan jawaban. Semua orang tahu bahwa Jerry adalah seorang perfeksionis, jadi para anggota yang biasanya jarang datang memilih untuk menghindar dari tanggung jawab tambahan.

“Tidak ada yang berani?” kata Jerry.

Natalie mengacungkan tangan, dengan syarat Julie bersedia menjadi narasumbernya. Julie mendelik dan mengurutkan kening. Ini bukan bagian dari kesepakatannya dengan Jerry waktu itu.

“Tidak akan,” kata Julie, menyatakan keberatannya. “Seperti perintahmu, Jerry. Aku ke sini untuk membantumu mengedit tulisan. Bukan untuk wawancara.”

“Ayolah,” kata Jerry. “Demi klub koran sekolah.”

Julie tetap bergeming.

Jerry memegang dagunya untuk memikirkan pancingan seperti apa yang akan membuat Julie berubah pikiran.

“Aku butuh sudut pandangmu, Julie. Tidak pernah ada yang tahu kebenarannya, kecuali kalau salah satu dari kalian bercerita,” kata Jerry.

“Kau bisa membela diri. Atau kau bisa menyalahkan seseorang. Bayangkan itu? Selama ini orang-orang hanya bisa menebak-nebak. Tidak tahu siapa yang jahat–kau, Cathy, atau Richard. Mungkin Richard yang jahat. Kau dan Cathy hanya korban permainannya.”

“Apa?” tanya Julie.

“Kita butuh peran di sini. Pencitraan,” kata Jerry. “Kau pasti tahu. Tulisan yang menarik butuh peran tokoh yang tertindas dan yang jahat. Kalau kau setuju menjadi narasumberku, kau bisa memilih tokoh jahat mana yang kau inginkan. Berhubung Cathy adalah sahabatmu, kurasa Richard-lah yang bisa kita persalahkan untuk perpecahan kalian berdua.”

“Tidak!” Julie mulai terlihat jengkel. “Tidak ada yang jahat. Kenapa kau ini?”

Perkataan Jerry barusan benar-benar keterlaluan. Julie mulai kehilangan kesabaran.

“Kalian boleh menulis apapun, tapi aku tidak akan pernah berkata hal-hal buruk tentang teman-temanku,” kata Julie dengan ketus.

“Aku butuh berita, Julie.”

Julie menggeleng tegas.

“Kau tidak akan mendapatkannya dariku. Paham?”

“Hanya sedikit saja, ayolah. Kau bahkan tidak perlu–”

“Tidak!” kata Julie tegas. “Tidak, tidak, tidak.”

Jerry tiba-tiba berubah ekspresi.

“Lalu kenapa kau di sini? Kau seorang reporter,” kata Jerry kesal, meninggikan suaranya. “Ingat?”

Julie naik pitam.

“Karena kau yang menyuruhku ke sini. Untuk MEREVISI.” Julie membalas kesal. “Ingat?”

Percekcokan mereka berdua begitu sengit, sehingga anggota-anggota klub koran sekolah lainnya hanya menonton dan membiarkan. Sadar sedang diperhatikan, Julie menahan emosinya dan mengalihkan pandangannya.

Julie keluar dari ruangan itu untuk menyegarkan kepala dan dadanya yang panas. Napasnya menderu cepat, seolah berkejar-kejaran. Baru kali ini ia merasa sangat marah, untuk hal yang benar-benar sepele. Biasanya ia dengan mudah tidak menghiraukan tingkah Jerry yang menjengkelkan, tapi entah kenapa hari ini ia tidak bisa menahan dirinya. Akhir-akhir ini, perasaannya memang jadi sangat sensitif.

Julie tahu, Jerry tidak pernah bermaksud untuk membuatnya marah. Ia hanya menjalankan tugasnya, seperti yang biasanya ia lakukan. Mungkin Julie merespon terlalu berlebihan.

Atau mungkin justru sebaliknya. Barangkali anak laki-laki itu memang sudah merencanakan itu selama ini. Julie sekarang mulai curiga, jangan-jangan tawaran membuat revisi itu sebenarnya hanya jebakan dari Jerry, untuk memaksanya masuk ke dalam perangkap ini. Sejak awal, Jerry memang ingin menjadikannya sebagai bahan berita untuk koran sekolahnya.

Julie merengut. Ini benar-benar membuat kesal.

Julie masuk kembali ke dalam ruangan itu, membuat semua orang menatapnya dengan kaku.

“Aku butuh libur,” kata Julie. “Aku tidak akan datang ke ruangan ini dalam beberapa hari ke depan. Lagipula, kau sudah tidak butuh aku lagi, kan?” Julie memandang sekeliling. “Pasukan reportermu sudah banyak sekali. Kau pasti sangat senang.”

“Kau yakin?” tukas Jerry dingin. “Aku akan menulis apa pun yang aku inginkan.”

“Terserah,” kata Julie.

Julie keluar dari ruangan itu sekali lagi, tanpa mempedulikan reaksi dari orang-orang. Ia ingin meninggalkan tempat itu sesegera mungkin, mendinginkan hatinya yang sedang panas. Saat berjalan menuruni tangga di lantai dua, Julie terhenyak. Seseorang yang bercahaya dari kejauhan menarik sudut matanya.

Ia melihat Richard.

Anak laki-laki itu sedang berbincang dengan seorang anak perempuan. Gadis berambut pirang yang berbeda. Julie tak mengenalnya. Dan entah kenapa, mereka terlihat sangat akrab.

Sekarang kepala Julie benar-benar pusing.

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

27 thoughts on “21 – Keberanian

  1. neng Julie galau.. Jerry malah gak nolongin, bikin suasana hati julie tambah runyam… sabar julie…
    Nayaaaaaaaaa…. lama bgt updatenya…

  2. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  3. Ping-balik: Catatan Penulis (59) | Friday's Spot

  4. Kak nay , aku suka part ini pkoknya bkin greget deh kya part2 sbelumnya .. :>
    Lanjutannya kutunggu kak ,Jangan lama2 ya kak 😀

  5. Panaaaassss!!! Panaaaasssss!
    Aku ikutan emosi masaaaaaa >_<

    Aku juga ngerasa kalo ini si Jerry punya niat ter-se-lu-bung 😒

    Ck! Semasa bodoh deh yah sama si Cathy, Cassandra dan juga Richard
    Kak Nayaaaaa, apdetannya jangan lama yaaahhhh #SEMANGAT ❤

  6. jerry tuh emang yaaaa! Ini mau selesai bab berapa kak? Oh iya, aku ngerti sih perasaann anak-anak jurnalistik- pasti kepo gitu kan? Secara gitu berita heboh tapi belum ada yang konfirmasi kan:( tapi tapi… Aku kok ngerasa makin kesini juli nya karakternya meredup ya? Perasaan aku aja kali ya hehehe, semangat kak ditunggu lho

    • Kalau sesuai perkiraanku, kemungkinan akan selesai di bab 24. Yang jelas, seri Friday’s Spot – Julie Light dan Kelas Prancis akan tamat tahun ini. Aku akan mulai seri baru lagi tahun depan.. mungkin, berbau detektif?

      Makasih yaa buat sarannya.. Nanti bakal aku revisi lagi 😀

      Oh ya.. Update terbarunya sudah muncul yaa, Monalisa
      Selamat membaca! 😉

  7. Kok kayaknya richard sengaja, terlhat brsma dg cwek yg brbeda tiap harinya. Mungkin richard mrasa brsalah stlh lihat keretakan julie dan teman2nya, dia pikir dg mlakukan itu, smua bisa branggapan yg brengsek itu richard bukan julie atau cathy.

    Kalau tbakanku benar, itu tindakan bnar bnar bodoh…

    • Hehehe.. jawabannya nanti akan ku-reveal di bab-bab terakhir

      Aku sudah posting update terbarunya yaa, Mala
      Selamat membaca! 😉

  8. Kasian julie 😦 richard kenapa jadi kayak gitu? Sebenernya cassandra cuman ikut-ikutan cathy karena terpaksa atau kemauannya sendiri? Ahh penasaarann.. Ditunggu kelanjutannya lagi ya! Jangan lama-lama hehe.. Semangattt!!!

  9. uwaaa…ceritanya makin tambah penasaran…richardnya donk kak tambahin segmen nya dia…semangat terus kak nay , fighting!

  10. aku reader baru disini,,, tpi aku suka bngt critanya apalgi bgian julie dan richard..
    Be strong for julie 😐 cptan update klanjutannya dong kak,, gk sbar nih.

    • Bagian favoritku memang part Julie-Richard
      Sayang nggak bisa banyak-banyak.. hehehe

      Update selanjutnya udah muncul yaa Istima.. Ada Richardnya kok hehe
      Selamat membaca! 😉

  11. Ping-balik: 20 – Renungan (4) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s