20 – Renungan (4)

Comments 13 Standar

friends

Setelah menghabiskan waktu terlalu lama bersenang-senang, kelompok itu menghentikan obrolan mereka karena langit telah mulai menggelap. Mereka lalu berpamitan dengan Julie dan Mrs.Light, dan ketika mereka tiba di ujung pintu, Jessie memberikan kejutan untuk Mrs.Light. Sebatang coklat Cadbury Dairy Milk kesukaan Lily. Wanita itu girang bukan main. Tentu saja, coklat itu hanya sebatang. Julie tidak kebagian jatah sedikit pun.

Dua jam berikutnya, Julie tertangkap basah sedang mengendap-endap di ruang makan untuk menjemput makan malamnya secara diam-diam. Julie meloncat kaget saat melihat Lily menyempil di sela-sela sofa. Suara Lily mengagetkannya seperti hantu.

“Kenapa tidak makan di sini?” kata Lily sambil menikmati potongan coklatnya dengan santai. “Kau ingin makan di kamarmu lagi, huh?”

“Umm,” kata Julie.

Lily terkikih penuh arti. “Kenapa? Apa kau menyembunyikan sesuatu?”

Julie tidak tahu bagaimana cara Lily melakukan itu, tapi tebakan Lily memang benar. Itulah alasan kenapa ia sengaja tidak ingin bertatap muka dengan Lily hari ini. Insting wanita ini sangat tajam.

“Umm,” Julie berdengung lebih panjang.

“Kau tidak ingin aku membahas sesuatu, kan Julie? Apa itu ada hubungannya dengan Cathy? Karena aku memang baru saja akan menanyakannya.” Lily menjilat sisa coklat yang masih menempel di jarinya. Ia menjorok untuk mengambil tisu. “Oh. Apa itu berarti ada hubungannya dengan Richard juga?”

Julie menelan ludahnya. Tepat pada sasaran.

Lily adalah satu-satunya orang di dunia ini yang mengetahui seperti apa perasaan Julie yang sebenarnya pada Richard. Kalau saja bukan karena demam yang dialaminya beberapa waktu lalu, mungkin ia tidak pernah menceritakannya pada siapapun. Apa lagi Lily. Wanita itu akan selalu mem-bully-nya setiap ada kesempatan.

“Ummm, tidak,” kata Julie akhirnya.

Julie bisa saja menceritakan permasalahan yang sedang dialaminya sekarang pada Lily dan berharap semoga ibunya bisa menenangkan hatinya, seperti ibu-ibu normal pada umumnya. Tapi Lily bukanlah ibu yang senormal itu.

Lily tertawa.

“Tidak apa-apa. Aku tahu. Kurasa ada pasti hubungannya dengan Richard,” kata Lily dengan intonasi yang aneh. “Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan? Benar, kan?”

Lily tidak bisa berhenti menggoda gadis itu–dengan dua kata yang sama yang selalu diulang-ulang yang membuat Julie hampir muntah. Julie segera mendaki tangga menuju kamarnya dengan kecepatan halilintar dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat.

“Sudah kuduga,” kata Julie. Ia menghela napas lega.

Julie membawa piringnya ke atas kasur dan menikmati makanannya pelan-pelan. Sisa makan siangnya tadi masih terasa sangat enak. Masakan Lily—dan kedatangan teman-temannya hari ini—adalah dua hal yang telah membuat mood-nya membaik. Lily selalu mampu menyenangkan hatinya dengan makanan-makanan enak, walaupun itu berarti ia harus bersiap-siap dengan kejutan gila yang kadang-kadang disisipkan Lily untuknya. Dan teman-temannya—adalah hal terbaik yang pernah dimilikinya dalam hidupnya. Julie tidak bisa mengharapkan apa pun lebih dari ini.

Julie telah menghabiskan makan malamnya. Ia meletakkan piringnya di atas meja belajar, sambil melihat ke arah jendela yang masih terbuka. Ia memandang lurus ke pemandangan luar, mengamati burung-burung gereja yang terbang rendah dari balik jendelanya yang masih terbuka. Sesaat kemudian, ia memutuskan untuk menyeret kursi meja belajar itu dan duduk di atasnya.

Ia terdiam selama beberapa menit.

Julie menghela napas, merasakan sesak di dadanya sendiri. Renungan ini membuatnya berpikir terlalu keras, menyeretnya ke dalam kesedihan yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya. Meskipun kedatangan teman-temannya tadi sangat menyenangkan, sesuatu yang sangat penting telah menghilang.

Tidak ada lagi Ratu Drama. Ia telah pergi.

Tidak ada lagi aksi menggebrak meja, mencakar muka, atau teriakan histeris seperti yang biasanya mereka lakukan. Atau gaya aktingnya yang menarik perhatian. Dan intonasi suara berlebih-lebihan yang selalu dimainkannya yang membuat mereka tertawa. Julie tersenyum lemah, mengingat betapa ia merindukan suara sahabatnya yang dramatis itu. Ciri khas yang biasanya selalu mewarnai setiap keriuhan dan menghidupkan suasana The Lady Witches selama ini.

Nick benar.

Tanpa Cathy, semuanya terasa berbeda.

 

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

13 thoughts on “20 – Renungan (4)

  1. Ping-balik: Catatan Penulis (60) | Friday's Spot

  2. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  3. Julie tulus banget temenan sama Cathy. Dia bahkan nggak kepikiran Richard dan malah nge galau in Cathy. Sumpah ya… :”( Lanjutin ya kak Naya! Semangaat

    • Hehehe.. Julie sebenarnya kepikiran Richard, tapi nggak mau mengakui.. Dia masih milih mikirin sahabatnya 😀

      Kelanjutannya udah ku-update yaa Aletha
      Selamat membaca! 😉

  4. Kenapa segitu panjang bab di renungan, ujung-ujungnya cathy yg dipikirkan???
    Toh yg buat masalah dan yg nggak bisa nyelesein masal cathy juga.
    Ingin rasanya bikinn cathy itu jera…

  5. Ping-balik: 20 – Renungan (3) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s