20 – Renungan (3)

Comments 5 Standar

stock-photo-broken-toy-25151990

Julie harus mengakui, kunjungan teman-temannya telah membuat perasaannya hari ini menjadi lebih baik. Walaupun Lily terus-menerus menceritakan aib yang membuat mukanya memerah seperti tomat, tapi memiliki teman-teman yang tertawa bersamanya sangat menyenangkan.

Atau lebih tepatnya, menertawakannya.

Setelah Lily pergi, mereka tidak lagi membicarakan Cathy, Cassandra, atau Richard. Percakapan dengan Lily membuat mereka menjadi tertarik untuk tahu lebih banyak tentang kehidupan Julie, Kayla, dan Jessie di Springbutter. Jessie mengatakan kalau ia telah mengenal Julie di kelas Tujuh, sejak semester pertama. Sementara itu, Kayla baru sekelas dengannya di kelas Delapan.

“Jadi,” kata Nick kemudian, “Julie benar-benar terkenal di sekolah lamanya, ya? Kenapa kalian tidak pernah membicarakan hal itu?”

Cerita Lily tadi tentang kehidupan Julie di Springbutter membuat Nick menjadi sangat penasaran. Kehidupan Julie, Kayla, dan Jessie di sekolah lama mereka memang tidak terlalu banyak dibicarakan.

“Tidak ada yang spesial—kenakalan standar,” kata Julie ringan. “Hanya beberapa kenakalan standar.”

“Kenakalan standar?” Jesssie tertawa. “Teman-teman, kalian tidak punya ide sama sekali betapa gilanya Julie dulu.”

Jessie memutar telunjuknya di dekat pelipis untuk menggambarkan kekonyolan yang pernah dilakukan Julie di masa lalu. Jessie baru menyadari betapa sedikitnya hal yang pernah diceritakannya pada Nick tentang masa lalu mereka.

“Lebih dari yang pernah kami ceritakan.”

“Maksudmu, ada lagi selain soal feromon dan Kelas Prancis?” tanya Lucy kemudian.

Jessie mengangguk.

“Banyak.”

“Salah satunya Hukuman Toilet—” Jessie sesak napas saat Julie langsung menyergap mulutnya, sambil berusaha sekuat tenaga melepaskan diri. “—dan—umph—” Jessie meronta-ronta. “Julie!”

Nick menggangguk.

“Aku pernah dengar tentang Hukuman Toilet,” kata Nick. “Soal Julie yang tidak bisa bahasa Prancis kan? Untuk menyelamatkan nilainya saat itu, Julie akhirnya dihukum membersihkan toilet sekolah selama setahun. Supaya bisa naik kelas. Benar, kan? Cerita itu cukup terkenal kok, kami sering mendengarnya setiap kali anak-anak laki-laki membahas Julie.”

“Kita juga sering membahasnya,” Lucy menambahkan.

Jessie tampak sangat senang saat Nick dan Lucy mengangkat kenangan yang sudah lama terkubur dari ingatannya itu.

“Dan jadi Selebriti Toilet,” lanjut Jessie. “Begini teman-teman. Ada beberapa insiden penting yang tampaknya lupa kami ceritakan tentang masa lalu Julie. Kita sering membahasnya secara garis besar, tapi mendetail?”

Jessie berdehem singkat.

“Berbagai hal konyol terjadi di toilet sekolah. Hal-hal yang pasti akan membekas dalam ingatannya.” Jessie terdiam sejenak. Keningnya berkerut sebentar, merenungkan apa yang baru saja diucapkannya. Tak lama kemudian, senyumnya melebar seperti baru saja mendapat pencerahan. “Ah! Aku mengerti sekarang! Pantas saja! Kalian tahu kan kalau Julie sangat bodoh? Aku selalu heran kenapa dia berubah jadi seperti ini. Dulu sebenarnya dia lebih bodoh lagi.”

Julie melemparinya bantal. Mereka tertawa.

“Kalian tahu? Julie telah memperkenalkan padaku kekonyolan dan keabsurdan yang paling absurd yang pernah ada di muka bumi ini.” Jessie bermain-main dengan bantalnya. “Sepertinya dia sudah dikutuk oleh takdir. Bodoh. Ceroboh. Sapi–”

Julie menarik kuncir rambutnya dengan gemas.

“Hanya saja kadar kecerobohannya sudah berkurang drastis sejak bersekolah di Nimber. Kalian harus tahu kalau Julie Light di Springbutter dulu jauh lebih parah daripada apa yang kalian lihat hari ini,” kata Jessie pada Nick dan Lucy. “Julie yang sekarang memang tolol. Julie yang dulu lebih tolol lagi. Seratus kali lipat. Kalian pikir memangnya kenapa aku memanggilnya Sapi?”

“Ceritakan padaku!” pinta Nick dengan sungguh-sungguh. Lucy pun tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

Jessie memulai bercerita tentang kecerobohan Julie yang hampir membakar lab Biologi saat percobaan memasak reagen fehling dengan kompor bunsen yang menyala. Seluruh penghuni Springbutter menjadi luar biasa heboh, kecelakaan itu menyalakan alarm kebakaran yang membuat siswa-siswa panik, dan sampai-sampai kepala sekolah Springbutter mengundang petugas pemadam kebakaran ke sekolah khusus untuk memarahinya.

Cerita berlanjut dengan pembalasan dendam Julie pada anak perempuan yang bernama Donita, karena anak perempuan itu mengadukan Julie pada Miss Hellen–guru Kelas Prancis yang sangat dibencinya. Kayla ikut menambahkan dengan beberapa detil yang terlewat oleh Jessie, salah satunya rencana Julie untuk mengelem kursinya. Adegan itu berakhir dengan insiden Julie tertangkap basah oleh guru Kelas Prancis mereka itu karena rambutnya tersangkut di resleting tas Donita, saat Julie mencoba menyelundupkan kodok ke dalam tas anak itu.

“Aku tidak pernah mendengar cerita itu,” tukas Lucy.

Nick tertawa.

“Kenapa kalian tidak menceritakannya dari dulu? Sepertinya masa muda kalian sangat menyenangkan.” Nick terlihat antusias. “Aku sangat ingin sekali bisa hidup dan bergabung di masa itu.”

Julie mendengus.

Yeah,” kata Julie datar. “Bisakah kalian menghentikan ini? Aku hanya berusaha untuk menjadi orang normal sekarang.”

“Itu benar,” kata Kayla sambil tertawa. “Kau sudah cukup berubah sejak di Nimber, Julie. Aku juga heran kenapa kau tidak pernah dihukum lagi seperti di Springbutter dulu. Padahal Hukuman Toilet menjadikanmu sangat terkenal. Kurasa mereka perlu tahu tentang rincian ceritanya.”

“Tidak, tidak,” pinta Julie panik. “Kayla.”

“Hukuman Toilet?” tanya Nick sambil menyeringai. Jessie mengedikkan kepalanya, tersenyum lebar.

“Kayla.”

“Ya. Termasuk Loncatan Tai yang diceritakan Mrs.Light tadi,” kata Kayla sambil terkikih. “Jadi, semuanya berawal saat Julie hendak membawakan—”

Ini yang paling Julie takutkan. Selama bersekolah di Nimber, ia sudah mengerahkan seluruh kemampuannya yang terbaik untuk mengalihkan perhatian semua orang supaya tidak ada lagi yang membahas masa lalunya yang satu itu. Sekarang, hanya dalam sebuah kunjungan singkat, semua aibnya yang disembunyikannya selama ini benar-benar akan terbongkar.

Dan semua ini gara-gara ibunya.

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

5 thoughts on “20 – Renungan (3)

  1. Ping-balik: Catatan Penulis (60) | Friday's Spot

  2. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  3. Ping-balik: 20 – Renungan (2) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s