20 – Renungan (2)

Comments 25 Standar

0511-1007-1217-4411_Cartoon_of_a_Little_Boy_and_Girl_Waving_Hello_clipart_image

Julie baru saja menyelesaikan makan siangnya dan sedang berjalan menaiki tangga saat ia mendengar suara yang sangat gaduh dari arah ruang tamu.

“Kejutan!”

Jessie melesat seperti anak panah dan menghampirinya sambil meloncat menaiki anak tangga. “Kau tidak akan menduga kami datang, kan!?”

Julie melihat Kayla beberapa detik kemudian. Ia menyeringai senang saat melihat Nick dan Lucy menyusulnya dari belakang. Rasanya sudah seabad ia tidak melihat mereka berdua.

“Nick! Lucy!”

Julie menyambut keempat temannya itu dengan sumringah. Ia mempersilakan mereka untuk masuk ke kamarnya, dan ia sangat luar biasa bersyukur pada Tuhan karena tadi siang ia telah membereskan ruangan itu dengan baik.

“Berani taruhan,” kata Jessie. “Kau pasti belum mandi.”

Julie meringis. Ia menyemprotkan pewangi ke tumpukan kain kotor di atas keranjang laundry yang tadi belum dicucinya. “Bukan urusanmu.”

Jessie tergelak. “Sudah kuduga. Sapi sepertimu pasti tidak akan pernah mandi jika tidak diharuskan.”

Julie melempar sarung bantalnya ke muka Jessie.

“Senang melihatmu, Julie,” kata Nick. “Bagaimana keadaanmu? Apakah kau tiba-tiba insaf atau semacamnya? Terakhir aku ke sini, kamarmu tidak serapi ini.”

Julie menatap Nick dengan muka datar.

“Heh.”

Julie mendengar pintu kamarnya yang diketuk dengan sopan. Suara Lily terdengar setengah berbisik dari luar, meminta izin untuk masuk, membuat Julie harus menahan pandangan skeptisnya mengingat selama ini ibunya selalu masuk ke kamarnya tanpa mengetuk atau bahkan bisikan pemberitahuan. Biasanya adalah teriakan bar-bar.

“Permisi,” kata Lily dengan suara yang sangat lembut, seperti dibuat-buat. “Ada berapa orang dari kalian? Mau kubuatkan sesuatu? Es teh? Jus jeruk?”

“Jus jeruk boleh, Mrs.Light. Jika tidak merepotkan,” kata Nick. Gadis-gadis yang lain mengangguk setuju.

“Oh. Kau lagi ya, anak tampan. Nicholas. Benar, kan?” kata Lily genit. “Aku ingat sekarang. Kau yang waktu itu juga pernah datang ke sini untuk berkencan dengan Julie. Apa kau mau kubuatkan lagi sepiring pancake spesial bernada cinta dari Mrs.Light untukmu?”

“Mom!” teriak Julie. “Dia pacarnya Jessie. Harus berapa kali kubilang padamu?”

Julie melenguh depresi.

“Lihat. Di sini juga ada Jessie, sebagai saksi mata, kalau kau tidak percaya. Nick adalah pacarnya Jessie, bukan pacarku. Kenapa kau selalu seperti ini?” kata Julie dengan jengkel. “Kau benar-benar membuatku stress, Mom.”

Lucy tertawa sambil menunduk.

“Baiklah, baiklah. Aku kan hanya bercanda, Cantik,” kata Lily. Ia menghitung sambil mengeja nama-nama mereka. “Jessie. Kayla. Nicholas. Daan—” Lily tersendat sebentar sampai Julie membantu menyebutkan nama orang yang terakhir, “Umm. Lucy. Ya, Lucy. Lucy Stone, benar bukan?”

Lucy mengangguk.

“Oh! Di mana gadis berwajah Latin?” tanya Lily. “Ms.Pierre. Benar kan? Umm—dan gadis yang satu lagi, dengan pita-pita di rambutnya—emm, aku lupa namanya. Ah! Cassandra. Ya. Cassandra, benar kan? Di mana mereka?”

Kayla menjawab sambil tersenyum.

“Cathy dan Cassandra sedang ada keperluan mendadak, Mrs.Light,” kata Kayla. “Mereka berhalangan hadir hari ini. Mudah-mudahan lain kali mereka bisa ikut mampir dan berkunjung lagi ke sini.”

Lily mengangguk penuh arti. “Apa dia sedang berkencan dengan Richard?”

Julie terbelalak.

“Mom!” kata Julie.

Julie mendorong ibunya ke luar kamar, sebelum wanita itu mengeluarkan kalimat yang aneh-aneh lagi. Lily tertawa cekikikan. Wanita itu melambai ke arah mereka sambil berkata, “Baiklah. Lima gelas jus jeruk. Segera datang!”

Nick terkikih geli.

“Ibumu benar-benar lucu, Julie,” kata Nick. “Apa dia selalu bersikap seperti itu atau ini hanya perasaanku saja?”

“Dia memang seperti itu,” jawab Julie. Ia menghela napasnya lagi. “Selalu membuat stress. Oh ya, kenapa kalian ke sini?”

Jessie menghamburkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia melempar bantal-bantal dari ranjang ke arah teman-temannya. Nick dan Kayla menangkapnya. Lucy mengambil sendiri sebuah guling dengan malu-malu.

“Tentu saja untuk mengganggu tidur siangmu,” kata Jessie, menggosok-gosok hidungnya yang gatal. “Aku tahu, ini jadwal kau tidur siang, kan? Mau sampai kapan kau tidur terus, Sapi? Aku heran padamu. Selalu saja tidur kapan pun ada kesempatan.”

Julie memicingkan matanya dengan kesal. Ia bergerak perlahan ke arah ranjang, lalu menyambar gadis itu dengan gegabah. Mereka bergulat dengan seru, dengan bantuan bantal.

“Lucy berkata ia ingin sekali bertemu denganmu, karena selama seharian kemarin ia tidak bisa menemani kita,” kata Kayla.

Julie menghentikan perkelahiannya. Lucy tersenyum.

“Aku sudah mendengar tentang kejadian dua hari yang lalu, Julie,” kata Lucy. Ia menunduk penuh simpati. “Aku minta maaf karena tidak bisa berada di sana untukmu.”

Julie menyengir santai. Keberadaan Lucy hari ini saja sudah sangat menyenangkan untuknya.

“Tidak apa-apa, Lucy. Oh, ya. Bagaimana dengan paper-mu? Apa kau sudah menyelesaikannya?” tanya Julie. “Aku sangat senang kau bisa mendapatkan posisi itu. Aku tahu kau pasti akan memenangkannya. Kau sangat pintar. Lebih pintar dari kita semua. Yang jelas dan pasti, kau lebih pintar dari Jessie.”

“Baru selesai sebagian,” kata Lucy. “Riset dan membaca buku membutuhkan banyak waktu. Aku sengaja menyempatkan waktuku hari ini untuk berkunjung ke rumahmu, karena aku khawatir aku mungkin tidak bisa sering menemui kalian lagi dalam beberapa hari ke depan. Kuharap kalian bisa mengerti, teman-teman.”

Kayla menyusul ke arah ranjang. Ia memilih duduk di sebelah Lucy, yang sedang duduk di salah satu sisi sambil memeluk guling. Ia meletakkan kembali bantalnya.

“Tidak apa-apa, Lucy,” kata Kayla. “Kami sangat mengerti kesibukanmu. Lebih dari itu, kami mendukungmu dan selalu mendukungmu untuk setiap prestasi yang akan kau torehkan untuk sekolah kita. Dan kau tahu, kau sangat membanggakan kami semua.”

Lucy tersenyum. Mereka berempat berpelukan—minus Nick. Anak laki-laki itu menatap mereka dengan seringai iri.

Oh! So sweet, ladies,” kata Nick. “Tidak adakah ruang lebih untukku? Aku ingin berpelukan juga.”

Nick bergerak mendekat, merentangkan kedua tangannya seperti burung. Jessie melempar bantal ke mukanya, sehingga anak laki-laki itu mengaduh.

Mereka mengobrol sebentar tentang perjalanan mereka sebelum berangkat ke rumah Julie. Mereka bertemu dengan seorang kakek-kakek tua nyentrik, yang memakai setelan jeans gombrong, kacamata ray band, dan sebuah kalung rantai besar di lehernya. Kakek itu lalu mengajak mereka berempat untuk high-five dengannya. Setiap tepukan tangan, ia lalu memamerkan gigi depannya yang ompong. Mereka tertawa cekikikan.

Saat gadis-gadis itu bercerita, Nick melihat sekeliling.

Ia mengambil kursi dari meja belajar dan menyeretnya ke arah ranjang. Ia membalik arah kursi itu, lalu duduk di atasnya, sambil melingkarkan tangannya di sandaran kursi.

“Kalian tahu? Sejujurnya aku merindukan Cathy di dalam kelompok kecil kita,” kata Nick tiba-tiba. “Dan Cassandra. Aku juga sudah dengar tentang Cassandra. Uh–itu tidak berarti kita berlima itu grup yang membosankan lho, ladies, tapi–yeah–harus kuakui rasanya kali ini sangat berbeda tanpa kehadiran Cathy.”

Jessie menatap Nick dengan kesal.

“Kenapa kita selalu membahas soal Cathy?” runtut Jessie.

“Hanya pendapat,” kata Nick sambil menyengir cantik.

“Tidak bisakah kau menerima kalau kelompok kita sekarang adalah lima orang keren yang super baik, tulus, setia kawan, dan menyenangkan? Kita justru harus bersyukur karena terbebas dari Nenek Sihir Ratu Drama itu,” kata Jessie. “Aku ingin mengusulkan pergantian nama.”

Mereka terkejut. “Apa?”

The Lady Witches adalah nama geng payah dengan Cathy dan Cassandra. Kita seharusnya kembali ke keputusan kita yang dulu, nama geng kita yang sebenarnya, yang dulu sempat dicetuskan oleh Kayla. Kita pernah memakai nama itu selama sehari, sampai akhirnya si Nenek Sihir itu ngambek dan memaksa kita untuk berganti nama,” kata Jessie. “Kalian masih ingat?”

Lucy menimpali. “Fame Us.

“Tepat! FAME US,” kata Jessie. “Bagaimana, Nick? Keren kan?”

Nick menyeringai aneh, antara menerima atau tidak menerima pendapat itu. Ia berdengung panjang. “Hmm. Entahlah. Kurasa lebih keren–ehm–The Lady Witches.”

Jessie mencubit Nick sampai anak laki-laki itu berteriak kesakitan.

“Aku tidak ingin kita berganti nama,” kata Julie. “Kita masih dalam geng yang sama. Cathy dan Cassandra adalah sahabat kita. Aku tidak ingin itu berubah.”

Jessie mendesah.

“Bodoh,” kata Jessie. “Jangan bodoh, Bodoh. Mereka takkan kembali pada kita. Mereka terlalu egois dan kekanak-kanakan untuk bisa berpikir seperti orang dewasa. Situasi ini tidak akan pernah berubah, mau berapa kali pun kita mencobanya. Kalian ingat kan betapa kita tidak pernah sekali pun menang melawan keegoisan Cathy? Ujung-ujungnya, kita selalu mengalah karena dia ngambek dan mogok bicara. Ingat? Pernahkah kita berhasil membuatnya berubah? Tidak?”

Perkataan Jessie sebenarnya memang benar. Mereka tidak pernah sekalipun benar-benar berhasil mengubah pendirian Cathy ketika gadis itu benar-benar menginginkan sesuatu. Bahkan Kayla sekalipun, hanya bisa membujuknya untuk berhenti ngambek, tapi tidak berhasil membuatnya berubah pikiran. Mereka akhirnya akan mengalah untuk membuat Cathy lebih senang dan berhenti marah, sesuatu yang baru mereka sadari sekarang ternyata bukan keputusan yang bijaksana.

“Kenapa diam saja? Jadi kalian setuju kan dengan pendapatku barusan? Tidak ada gunanya kita menghabiskan tenaga untuk Drama Queen itu. Semuanya akan sia-sia saja, seperti yang sudah kukatakan padamu kemarin, Kayla,” kata Jessie. “Kita berusaha mendekatinya, dia menghindar. Kita mengejarnya, dia berlari lebih kencang lagi. Apakah ada tindakan yang lebih kekanak-kanakan lagi daripada itu?”

Kayla meluruskan punggungnya, mendesah panjang, merasa bersalah karena tidak bisa berbuat lebih banyak akan hal ini. Terlebih lagi, ia harus mengakui kalau yang dikatakan Jessie barusan memang benar. Gadis itu terlalu keras kepala untuk bisa dibujuk melawan kemauannya.

“Bagaimana dengan Richard?” tanya Kayla pada Nick. “Apakah dia mengatakan sesuatu padamu?”

Nick mengangkat pundaknya.

“Beberapa hal,” kata Nick. “Sayangnya aku tidak bisa mengatakannya pada kalian. Rahasia anak laki-laki. Tapi yang jelas aku bisa memastikan kalau Richard akan menghindar dari kalian selama beberapa hari ini.”

Julie mendesah. Ia teringat lagi saat ia melihat Richard berbincang-bincang akrab dengan gadis kelas dua belas kemarin, penasaran apakah itu juga bagian dari rahasia yang ia sembunyikan dengan Nick sebagai sesama anak laki-laki. Apakah Richard telah menyukai gadis lain di sekolahnya? Gadis itu? Siapa gadis itu?

Apakah Richard sengaja melakukan ini untuk membalas dendam padanya?

“Menghindar lagi, menghindar lagi,” omel Jessie. “Aku tidak mengerti dengan isi otak mereka.”

“Apakah aku bisa melakukan sesuatu untuk membantu menyelesaikan masalah ini?” tanya Lucy.

Jessie menyambar dengan cepat.

“Tidak, Lucy! Tidak,” tukas Jessie. Ia mengibaskan jari telunjuknya dengan sangat gemas. “Jangan membuatku mengulangi apa yang aku ucapkan pada Julie kemarin.”

“Memangnya kau mengucapkan apa?” tanya Julie.

Jessie mendelik. “Kau tidak ingat apa yang aku ucapkan?”

“Tidak,” kata Julie sambil memutar bola matanya. “Tidak ingat. Sepertinya tidak penting. Oh. Mungkin. Apakah ada yang penting?”

Jessie melotot. “Ya.”

Julie memekik karena Jessie akhirnya langsung mencengkram kepalanya dan menggulung rambutnya dengan sungguh-sungguh. Perkelahian mereka terhenti saat Julie mendengar suara yang mengetuk aneh di balik pintu.

Lily meminta izin sopan, dan mengetuk pintu sekali lagi, meminta tolong untuk dibukakan pintu karena dari tadi ia mengetuk dengan menggunakan kakinya. Lucy tersenyum geli dan bangkit untuk membukakan pintu.

“Sangat seru sekali sepertinya,” kata Lily, sambil meletakkan gelas di depan masing-masing orang. “Apa yang sedang kalian bicarakan?”

Jessie tersenyum aneh, terpikir sebuah ide cemerlang.

“Mrs.Light,” kata Jessie. “Apa kau sudah menceritakan pada Nick tentang kisah Julie yang dihukum membersihkan toilet di Springbutter? Soal LONCATAN TAI?”

Kayla langsung tertawa kencang.

“Loncatan tai?” tanya Nick.

Julie menjadi panik.

“Belum,” kata Lily. “Kukira kalian sudah mengetahuinya.”

“Tidak terjadi apa pun,” kata Julie cepat. “Mom. Cepat pergi dari sini sebelum kau menyesalinya.”

“Ah. Jadi kau merahasiakannya ya, Julie?” kata Lily dengan wajah licik.

Julie mendorong ibunya keluar pintu.

“Aku mengerti sekarang. Kau sengaja merahasiakan ini dari teman-temanmu di Nimber, ya? Untuk memulai hidup yang baru?” kata Lily dengan nada menggoda. “Bukankah mereka teman-temanmu, Julie? Mereka harus tahu semua masa lalumu.”

Jessie mengangguk antusias. Sementara itu, Kayla tidak bisa berhenti tertawa. Nick dan Lucy mendengarkan dengan penasaran.

“Dengar anak-anak,” kata Lily perlahan-lahan.

Ia mendorong balik tubuh Julie yang kurus dengan begitu mudahnya, lalu mendudukkannya di atas ranjang seperti bayi.

“Dua tahun yang lalu, saat Julie masih bersekolah di Springbutter Junior High School, dia dihukum membersihkan toilet sekolah setiap hari karena ia tak pernah bisa lulus kelas Prancis. Dan suatu hari, ia pulang dengan baju basah kuyup yang berlumuran warna coklat dan kuning—”

Julie meloncat dan berusaha menutup mulut ibunya dengan sekuat tenaga.

“MOOM!”

Lily dengan cepat menyingkirkan tangan Julie yang tak berdaya dan melanjutkan ceritanya hingga remaja-remaja itu tertawa berguling-guling menahan sakit di perut mereka. Lily bahkan menambahkan dengan cerita memalukan di Taman Bermain Wonderland saat Julie masih kecil, yang bahkan belum pernah Julie ceritakan pada Jessie dan Kayla.

Julie melolong depresi.

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

25 thoughts on “20 – Renungan (2)

  1. Ping-balik: Catatan Penulis (58) | Friday's Spot

  2. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  3. wakwakwak mamanya juli itu ya rese-rese-sayang gitu yak kak xD Tapi akhir pekan itu jadi seru karena anak-anak pada main kan , setidaknya juli nggak terlalu sedih lagi xD oh iya, cathy emang nyebelin. Dan kenapa si keyla sabar sekali xD

    • Hehehe.. Lily Light emang orangnya rese dan usil.. Makanya Julie berantem terus sama mamanya..
      Kalau Kayla.. itu sebabnya Kayla jadi sahabat favorit Julie, kan ? 😀

      Update berikutnya sudah ku-publish yaa Monalisa.. Selamat membaca! 😉

  4. Ping-balik: 20 – Renungan | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s