19 – Perang Dingin (4)

Comments 25 Standar

对峙两个的女孩-34746689

Julie keluar dari kelasnya dan disambut oleh Kayla dan Jessie di perjalanan. Mereka saling merangkul pundak dan berjalan beriringan. Julie berada di bagian tengah.

“Jadi, hanya kita bertiga saja, nih?” kata Jessie dengan wajah skeptis. “Baguslah. Ini seperti kita waktu dulu, saat kita masih di Springbutter.”

Jessie mengayunkan tangannya ke belakang, bermaksud untuk menambah bobot tas sekolah Julie, sehingga gadis itu hampir terjungkal. Julie mengamuk dan menarik kuncir rambutnya dengan keras, yang membuat gadis itu berteriak.

Kayla tersenyum.

“Kalian ingat pelajaran terakhirku hari ini? Biologi,” kata Kayla. “Aku sekelas dengan Lucy, Cathy, dan Cassandra.”

Julie dan Jessie terperangah.

“Benar juga! Kalian berempat sekelas!” sontak Jessie. Dia dan Julie saling bertatapan. “Lalu, apa yang terjadi?”

“Apa yang kau harapkan, Jess?” kata Kayla sambil terkikih. “Keajaiban?”

Kedua gadis itu mengangguk, lalu mendengarkan dengan sangat penasaran. Tidak ada yang salah dengan sedikit harapan kalau Cathy dan Cassandra tiba-tiba berubah pikiran. Kayla hanya mengangkat pundaknya dengan malas.

“Seperti biasa, Cathy dan Cassandra memilih duduk menjauhiku. Mereka tidak mau berbicara sama sekali. Tidak menanggapi ucapanku sedikit pun,” kata Kayla, menggeleng pelan. “Hanya Lucy yang masih mau berbicara denganku.”

Julie melihat sekeliling, menyadari sesuatu.

“Di mana Lucy sekarang? Apakah dia masih sibuk dengan paper-nya?” tanya Julie.

“Dia dipanggil Mrs.Tamara Lautner di ruang kepala sekolah. Kurasa ada hubungannya dengan lomba-lomba,” jelas Kayla.

Jessie mengembalikan topik pembicaraan mereka kembali ke jalur semula. Ia berbicara dengan gaya menyindir.

“Dan pasangan Cathy-Cassandra itu—aku yakin mereka mengasingkan diri seolah-olah mereka adalah dua ratu dengan layanan yang eksklusif,” kata Jessie sambil memainkan intonasinya. Ia tertawa pahit. “Aku masih tak percaya semua ini.”

Kayla menarik sudut mulutnya, menghela napas. “Yah.”

“Menurutmu sampai kapan mereka berdua akan menjauhi kita?” tanya Julie.

“Entahlah,” kata Kayla, mengangkat pundak. “Ini baru hari pertama, Julie. Kita tak tahu apa yang akan terjadi besok dan besok lusa. Mudah-mudahan nanti suasana hatinya akan jadi lebih baik.”

Jessie mendongkol.

“Kau tahu? Kenapa Ratu Drama itu bersikap terlalu kekanak-kanakan? Aku benar-benar muak melihatnya,” kata Jessie. “Apa masalahnya? Ayolah! Hanya karena pacarnya suka pada Julie, bukan berarti dia harus memusuhi SEMUA ORANG.”

Julie tersenyum menggelap.

“Apa dia memusuhi kalian karena kalian masih berteman denganku?” tanya Julie.

Jessie menjawab dengan gaya menantang.

“Kalau pun iya, lalu kenapa? Apakah semua orang harus membencimu, padahal ini bukan salahmu sama sekali? Coba pikir, Julie. Memangnya salahmu kalau akhirnya Richard ternyata lebih menyukaimu?” kata Jessie. “Kalau aku jadi Richard, aku juga pasti akan memilihmu daripada dia, Julie. Dia memang cantik, tapi dia itu keras kepala, manja, egois, cengeng, payah, kekanak-kanakan, pengecut–”

“Hentikan, Jess. Kenapa kau harus menjelek-jelekkan dia?” tanya Julie.

Jessie pura-pura tidak mendengarkan.

“–tukang ngambek, posesif, Ratu Drama, selalu mau menang sendiri, arogan, angkuh. Semua yang jelek-jelek. Intinya, dia seharusnya yang jadi orang yang lebih dewasa!” kata Jessie mendumel. “Titik.”

“Aku sudah memikirkannya baik-baik,” kata Kayla. “Kurasa ini saatnya kita bertiga menemuinya dan menyelesaikan masalah ini dengan segera.”

“Apa maksudmu?” tanya Jessie.

“Iya, kupikir yang dikatakan Julie tadi siang itu benar, Jess. Kita harus menemuinya dan tidak membiarkan masalah ini berlarut-larut,” kata Kayla. “Kali ini, kita akan memaksa untuk menemuinya. Kita akan terus memaksa meskipun ia nanti akan bersikeras untuk menghindar.”

Ide ini terdengar dramatis. Dari sekarang saja Julie sudah bisa membayangkan bagaimana mendebar-debarkannya rencana itu.

“Aku melihatnya dan Cassandra dengan Pinky Winky di sisi selatan lapangan sekolah tadi. Mereka sedang membicarakan tentang baju seragam untuk anggota baru geng mereka,” kata Kayla. “Sekarang kita akan ke sana untuk menemuinya. Apa pun yang terjadi.”

Mereka bertiga pun berjalan menuju lapangan sekolah. Jessie tidak sepenuhnya setuju dengan ide ini–ia sudah terlanjur sakit hati dengan perlakuan Cathy yang sengaja menghindarinya di kafetaria tadi siang. Tapi demi penyelesaian masalah, akhirnya mereka memutuskan untuk tetap menemuinya sekarang.

Mereka menemukan Cathy dan Cassandra sedang bercengkrama dengan teman-teman barunya. Kedua gadis itu terlonjak kaget saat melihat teman-teman lamanya berada di dekat mereka.

“Bagaimana teman-teman barumu, Cathy? Cassandra? Apakah mereka menyenangkan?” sindir Jessie dengan nada sinis. “Tidak seheboh The Lady Witches, huh? Ah, tentu saja. Itu pasti. Tapi setidaknya tidak ada gadis lain yang menyaingi kepopuleranmu di sini. Mereka semua payah.”

“Jessie.” Kayla mendesis.

“Baiklah, sebelum aku mulai merusak suasana, sebaiknya aku serahkan urusan negosiasi ini pada ahlinya,” kata Jessie sopan, melambaikan tangannya pada Kayla. 

“Silakan.”

Cathy bersiap-siap pergi. Ia menarik tangan Cassandra dan mengajak teman-temannya yang lain juga untuk segera menghindar.

“Cath, jangan pergi!” kata Kayla.

Cathy dan Cassandra menyingkir dengan cepat. Jessie berlari sangat cepat untuk menyusul mereka dan ia langsung menghadang Cathy, tepat di depan wajahnya. Gadis itu melonjak.

“Apa masalahmu!” kata Cathy gusar.

“Apa masalahmu!” balas Jessie tak kalah sengit. “Kaulah yang bermasalah, Cath! Kaulah yang menghindari kami! Kaulah yang bersikap aneh! Apa kau pikir tindakanmu ini tidak konyol dan kekanak-kanakan!? Hah?!”

“Aku tidak ingin melihat muka kalian,” desis Cathy. Kemarahan membakar seluruh urat nadinya.

Cassandra hanya terdiam membatu, memandang kejadian itu dengan wajah yang pucat pasi. Cathy segera menarik tangan Cassandra lagi. Ia bergerak cepat ke arah yang berlawanan, membuang mukanya dengan ekspresi muak, disusul cepat oleh teman-teman barunya.

“Cathy! Dengarkan kami dulu!” teriak Kayla.

Sonia Edmund menghalangi Kayla, menahan bahu Kayla dengan kedua tangannya. “Kau tidak dengar? Tadi dia bilang tidak mau melihat mukamu. Apa kau perlu kuucapkan sekali lagi?”

Jessie menghentakkan kakinya ke kaki Sonia. Gadis itu terpekik.

“Bukan urusanmu, Jalang,” runtut Jessie. “Pergilah, Cath! Pergilah sejauh-jauhnya karena aku pun sudah muak melihat kelakuanmu!” Jessie berteriak. “Dan Cassandra—selamat karena kau telah memilih untuk meninggalkan sahabat-sahabat terbaikmu. Hebat!”

Kejadian itu berlangsung sangat cepat, Julie hanya mampu menyaksikan kejadian itu dengan mulut yang terkatup rapat. Jantungnya berdebar-debar seperti akan meledak. Teman-temannya saling berteriak satu sama lain, bekejar-kejaran dengan emosi, dan saling mengumpat marah.

Ini bukan pemandangan yang disukainya.

“ENYAH!” Cathy masih berusaha menghindari mereka. Jessie sudah berhenti mengejar, ia melipat kedua tangannya dengan gondok. Kayla menaikkan intonasi suaranya tiga kali lipat daripada biasanya.

“Ada cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah ini, yaitu dengan membicarakannya baik-baik. Aku tahu kau bisa melakukannya,” kata Kayla tidak sabar. “Cathy! Kau harus mengontrol emosimu, seperti yang selalu aku katakan selama ini. Emosi hanya akan memperbesar masalah, kau tahu itu!”

Cathy tetap saja tidak berhenti berlari. Teman-teman barunya di Pinky Winky bahkan berusaha susah payah menyamakan posisi mereka.

“Cathy, kumohon pikirkanlah sekali lagi!” kata Kayla, terengah-engah. “Kemarin kau sudah berjanji padaku untuk menanggapi ini dengan kepala dingin. Kau ingat?”

Cathy dan Cassandra semakin menjauh dari pandangannya. Kayla berhenti mengikuti mereka. Ia memutuskan untuk membiarkan saja kedua gadis itu pergi. Usahanya tidak membuahkan hasil.

“Jadi, sudah kubilang kan?” kata Jessie. “PER-CU-MA. Kau saja yang tidak percaya padaku.”

Setelah pengejaran itu, mereka bertiga sekarang kembali berjalan ke gerbang sekolah, dengan langkah lunglai. 

Julie melihat ke arah kedua sahabatnya. Ia masih bisa mendengar tarikan napas Kayla yang tersengal. Titik-titik keringat yang membasahi dahi gadis itu, ia mengelapnya dengan punggung tangannya. Sementara itu, Jessie merapikan kembali kuncir rambutnya yang berantakan.

Julie menunduk kecewa. Ia merasa benar-benar tidak berguna.

“Terima kasih atas usaha kalian, teman-teman. Aku sangat menghargai itu,” kata Julie. “Aku tak tahu kenapa aku tak bisa mengatakan apa-apa tadi. Rasanya lidahku kelu dan aku tak bisa berkata apa-apa sama sekali. Dan Cathy terlihat sangat–” 

Julie terbata-bata.

“Sudahlah, Julie. Tidak apa-apa,” kata Kayla sambil tersenyum. Ia menepuk pundak Julie dengan hangat. “Kita akan menyelesaikan masalah ini, cepat atau lambat. Jangan khawatir.”

Yeah. Tidak apa,” kata Jessie. “Aku hanya ingin mencabik-cabik mukanya sesekali.”

Kayla berdehem. “Jessie.”

Mereka telah tiba di ujung gerbang, saat Mr.Bouncer menyapa Julie dengan kumis mungilnya. Tidak lama kemudian, Jessie dan Kayla berpamitan dengan Julie, karena mereka akan mengambil bus dari seberang jalan, sedangkan Julie akan berjalan kaki ke arah sebaliknya.

“Jadi, Julie. Besok sudah weekend,” kata Kayla sebelum mereka pergi. “Apa rencanamu untuk besok?”

Julie menggeleng.

“Entahlah,” kata Julie, tersenyum tipis. “Kurasa aku ingin di rumah saja. Mengganggu Mom.”

Julie mengucapkannya dengan nada monoton. 

“Kau yakin tidak ingin ke mana-mana? Aku bisa mengajakmu berjalan-jalan, nonton film di bioskop, atau–” Jessie langsung terdiam. “Yah. Kau benar. Lupakan saja ide bodoh itu.”

Julie tersenyum pahit. “Yeah.”

 

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

25 thoughts on “19 – Perang Dingin (4)

  1. Ping-balik: Catatan Penulis (57) | Friday's Spot

    • Nanti bakal ada scene khusus buat mereka kok 😀
      Update terbaru sudah muncul yaa, Chie

      Selamat membaca! 😉

  2. Wowww…. Wow….. Woooowwww
    Ini memang sebentar partnya, hanya sj semuanya bener bener dapet. Kereeen….
    Seperti biasa, aku paling suka karakter jessie.
    Aku smangat skali baca saat jessie lgsg ngomong ke cathy dan casandra tanpa basa basi, menghadang cathy saat mau kabur dan nginjak slah satu wanita jalang itu tanpa rasa takut sm skali. Mmg harusnya sperti itu cara ngadepin orang kayak cathy, biar tau rasa. Paling paling dia kabur krn malu bisa dikalahin julie.

    Sy tunggu kelanjutannya, smg doaku trkabul julie bisa satu kelas dg richard wkwkwkwk….!!

  3. Kasian ya si julie. Sih Richard mana lagi ngumpet mulh nih. Buat Jessie nd Kayla kerennn. Buat Cathy nd Cassandra cukup tau aja ya masih bisa disebut temen tuh haha.

    Ka Jangan lamalama yaw lanjutannya esmosi banget nih

    • Hehe iya nanti ada tanggal mainnya 😀

      Kelanjutannya bakal muncul lagi hari ini ya, Inks
      Selamat membaca! 😉

  4. hai kak, gue new readeer 😀 salam knal yah :3 bner2 gila baca cerita2 ini, sdih sneng kesel marah haru cmpur aduk bgt kak :3 yampun keren tau kak, kalo aja next.nya gak lma2 psti tmbah keren hehe 😀

  5. Huwooooowwwww… Jessie aku padamu 😀

    Aku malah lebih senang karna Cathy udah gak sama mereka lagi. Gadis egois dan hanya ingin menang sendiri >_<
    Kalau jadi Jessie pun aku bakal ngomong kayak gitu. Langsung dikeluarin semuanya, hihih

    Pokoknya ttp semangat yak, Kak 😉 aku selalu menunggumu #eeaaaaaa 😜

  6. Selamat malam kak,
    udah lama g baca ceritanya julie.

    daan kaget aja ternyata maslah julie udh kompleks bget, apa ini pertanda mau end? Tapi yang jelas aku bener2 kasihan dgn perasaan julie, sekalinya jatuh cinta, seruwet itu, dan untuk cathy aku pikir semua orang bkalan ngelakuin apa yg ia lakukan, setelah ‘ditusuk dari belakang’ setiap orang btuh menjauh sementara dan berpikir jernih cuman dia slh mengekspresikan. Dan aku jadi ingin tau perasaan richard mengenai msalah julie dengan temannya dari sudut pandang richard.

    Tapi, overall aku tetep cinta sama julie. Richard dan lady bi..,

    ditunggu lanjutannya kakak,
    semangat terus \’_’/

    mitsalia.

    • Iya, rencananya memang akan selesai tahun ini, blog novel ini kulanjutkan dengan seri fiksi yang lain 😀

      Update yang terbaru bakal muncul hari ini yaa Mitsalia
      Selamat membaca! 😉

  7. waaa…seruu bangeet inii…bikiin ikuut deg” an kak…ayoo kak semangat buat update ^^
    richardnya donk kak di keluarin dah lama dia tak menyapa…hihi 😀

  8. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  9. Ping-balik: 19 – Perang Dingin (3) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s