19 – Perang Dingin (3)

Comments 25 Standar

sad-girl-clip-art-820337

Julie tidak bisa mengenyahkan itu dari pikirannya.

Richard dan gadis kelas dua belas itu—apa yang mereka lakukan?

Sejak kejadian kemarin sore, Julie dan teman-temannya sama sekali belum menemui Richard untuk meluruskan permasalahan ini. Melalui Jessie, Nick hanya berkata kalau anak laki-laki itu saat ini belum ingin ditemui, dan Kayla pun merasa demikian. Julie juga belum bertemu dengan Nick. Lucy masih sibuk dengan paper internasionalnya, Cathy dan Cassandra telah menghindar dari mereka, sekarang rasanya hanya tersisa bertiga dari mereka. Rasanya The Lady Witches sedang tercerai-berai, terpisah satu sama lain dan menjadi sangat sedikit, walaupun mungkin keadaan ini hanya untuk sementara.

Yah. Hanya sementara, kata Kayla.

Julie baru saja akan memasuki kelasnya saat ia melihat M.Wandolf sedang berjalan menaiki tangga di sudut koridor. Ronald Whient tiba-tiba menghampirinya dan membuat laki-laki gemuk berkepala setengah botak itu berhenti berjalan. Anak laki-laki itu menyerahkan buku tugasnya. M.Wandolf menyambutnya dengan antusias. Pemandangan itu mengingatkan Julie pada satu hal.

Cerpen Prancis.

Tadi pagi, Julie juga telah menyerahkan tugasnya. Cerpen Prancis yang terkutuk. Julie baru mengetahui dari M.Wandolf kalau beliau ternyata tidak hanya menugaskan tugas cerpen Prancis itu pada Julie saja, tapi laki-laki itu juga menugaskan tugas yang sama pada beberapa murid di kelas lain. Di kelas sepuluh, kelas sebelas, kelas dua belas. Lebih tepatnya, semua kelas yang sedang diajarnya. Semua murid yang memiliki nilai yang buruk akan diberikan tugas cerpen Prancis menjelang akhir tahun ajaran.

Julie terkesan dengan kenyataan itu. Ternyata masih ada beberapa murid lainnya—walaupun di kelasnya sendiri Julie adalah satu-satunya—yang berkualifikasi sangat bodoh di Kelas Prancis, dan M.Wandolf yang baik hati ternyata memberikan mereka kesempatan yang sama. Dan ia dulu berpikir kalau ia adalah satu-satunya murid sekolah yang paling bodoh yang pernah ada di muka Bumi, yang seharusnya dimutasi dengan sinar pengecil dari Planet Mars, dideportasi ke Kutub Utara untuk berburu ikan bersama para beruang, atau membangun igloo untuk orang Eskimo.

Mungkin itu tidak sepenuhnya benar.

M.Wandolf tadi pagi bahkan mengatakan kalau di antara murid-muridnya di Nimber, perkembangan Julie adalah perkembangan yang paling pesat. Ia sangat bangga pada Julie. Laki-laki itu begitu gembira melihat tugas Julie yang telah selesai melebihi ekspektasinya, seolah-olah Julie baru saja memenangkan Grand Prix atau semacamnya, padahal Julie hanya melanjutkan sedikit saja dari yang pernah dikerjakannya bersama Richard.

Benar-benar sedikit.

Satu kalimat.

Sejak ia mengerjakannya dengan Richard sebanyak dua halaman cerita tentang Anne Matilda di kedai Steak~Stack, Julie tidak pernah bersemangat untuk melanjutkannya lagi. Di hari ia jatuh sakit, ia tidak menyentuhnya. Dan kemarin malam, setelah insiden Cathy, Julie berusaha keras untuk mengalihkan perhatiannya dari kejadian itu dengan cara melanjutkan tugas Prancis. Hanya untuk sakit kepala hebat. Ia akhirnya mengakhiri penderitaannya itu dengan satu kalimat penutup terkonyol yang pernah ia tulis, yang ia pikir hanya Tuhan yang tahu apakah itu artinya.

M.Wandolf malah mengatakannya luar biasa.

Julie tidak tahu apakah pernyataan laki-laki itu adalah sebuah pujian yang bersifat afirmasi positif, seperti kata Richard. Tapi semua hal yang berhubungan dengan kelas Prancis akhirnya malah semakin mengingatkan Julie pada anak laki-laki itu. Ini adalah dilema yang sangat menyusahkan untuknya.

Selama ini, ceracau aneh di kelas Prancis secara otomatis berubah menjadi suara Richard di kepala Julie. Kejadian ini sudah terjadi selama berminggu-minggu sejak pertemuannya dengan Richard di Perky’s House, sejak Richard mengajarinya bahasa Prancis. Suara Richard yang lebih merdu telah membuatnya mampu belajar bahasa Prancis tanpa perasaan tertekan, ia mampu mempelajarinya dengan lebih baik. Tapi hari ini, suara itu justru menimbulkan efek sebaliknya. Semua hal yang berhubungan dengan Richard membuat justru Julie menjadi sangat gelisah.

Ia benar-benar pusing.

Julie tersadar dari lamunannya saat M.Wandolf  pergi dan Ronald Whient kembali ke kelas. Julie barus saja akan kembali ke kelasnya, yang akan dimulai dalam sepuluh menit lagi, kalau saja Mark McGollen tidak memanggilnya dari kejauhan.

“Julie,” kata anak laki-laki itu.

Julie menoleh. Mark berjalan mendekatinya.

“Ada apa?” tanya Julie.

Mark adalah mantan pacar Cathy, yang dulu juga sempat menyukai Julie di awal tahun ajaran, saat mereka masih menjadi siswa baru di Nimber. Sudah lama Julie tidak berbincang-bincang dengannya, sejak Cathy memutuskan Mark berbulan-bulan yang lalu. Mark tidak pernah muncul lagi ke permukaan sejak diputuskan oleh Cathy, anak laki-laki itu terlihat depresi dan tidak terlalu menonjol.

Rasanya sudah sangat lama sekali.

“Tidak apa-apa, Julie,” kata Mark, tersenyum simpatik. “Aku, eh—um, sudah dengar soal kejadian kemarin sore. Tentang Cathy dan uh—Richard. Kudengar, Richard ternyata menyukaimu. Dan Cathy sangat marah. Apakah itu benar?”

Julie mengangguk malas.

Yeah,” kata Julie.

Mark tersenyum lebar. “Aku senang mendengarnya.”

“Apa?” Julie mendelik.

“Ya. Aku senang mendengarnya,” kata Mark. “Aku senang gadis itu akhirnya dicampakkan, seperti saat dia mencampakkan aku dulu. Aku benci Cathy. Dia memang pantas menerimanya.”

Mark menyeringai. Sudut mulutnya berkedut-kedut senang. Wajahnya yang biasanya lugu telah berubah menjadi jahat dengan semburat kegembiraan yang tidak tertahankan. Matanya berkilat kejam. Ia tidak lagi seorang Mark McGollen yang sebelumnya Julie kenal.

Julie terkejut. “Apa katamu?”

Mark berdehem singkat.

“Aku senang karena gadis itu dicampakkan Richard,” kata Mark, mengulangi pernyataannya sebelumnya, sesuai dengan pertanyaan Julie. “Dia memang pantas menerimanya.”

Julie menelan ludahnya tanpa sadar—tenggorokannya terasa kering. Mark masih belum kehilangan ciri khasnya yang lama. Tapi apa yang dikatakan Mark benar-benar berbeda dari yang Julie bayangkan.

Yea—yeah, aku tahu apa yang kau ucapkan, tapi maksudku—kenapa kau berkata seperti itu? Ini seperti bukan kau,” kata Julie meruntut. “Dia tetap sahabatku. Dan aku tak suka kalau kau mengatakan hal yang buruk tentangnya. Kau harus menarik kembali ucapanmu.”

Mark menggeleng.

“Tidak mau,” kata Mark, kata-katanya merayap dengan apatis. “Dia pantas mendapatkannya. Gadis itu akhirnya mendapatkan pembalasan dari apa yang dia lakukan padaku. Aku sama sekali tidak akan menarik ucapanku ini.”

Mark terus berbicara dengan semangat, seolah tak dapat menghentikan kegairahannya untuk membicarakan hal ini.

“Kau tahu, Julie? Aku justru sekarang ingin berterimakasih padamu,” kata Mark lagi. “Karena kau, Richard sekarang mencampakkan Cathy. Karena kau, Cathy merasakan apa yang aku rasakan dulu, saat ia mencampakkanku dengan begitu mudah. Karena kau, Cathy sekarang kehilangan semua teman-temannya. Karena kau, ia kehilangan semangat hidupnya. Kau benar-benar seorang penyelamat, Julie. Aku sangat berterima kasih karena aku sendiri tidak tahu bagaimana cara membalasnya.”

Perasaan kelu tiba-tiba menyergap Julie, yang membuat ekspresi wajahnya berubah.

“Tidak, ini tidak seperti yang kau kira, Mark. Aku tak pernah–”

“Apa pun yang terjadi dan apa pun yang dipikirkan orang-orang, ingatlah kalau aku berada di pihakmu, Julie. Lagipula—” kata Mark, meninggalkan tempat itu bersamaan dengan bunyi bel yang berdering. “—dia sebenarnya bukan sahabatmu lagi, kan?”

“Tidak. Bukan begitu,” kata Julie cepat-cepat, meralat pernyataan itu. “Kau salah, Mark! Kami mungkin sedang menghadapi sedikit masalah, tapi kami tetap–”

Mark segera berlalu, meninggalkan Julie tanpa mendengarkan.

Julie mendesah pelan. “–berteman.”

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

25 thoughts on “19 – Perang Dingin (3)

  1. Ping-balik: Catatan Penulis (56) | Friday's Spot

  2. Aku telat bacaaaa :((( kak, abis baca ini aku jd lupa bab kemarin kak, jd musti bukak lagi. Kl bisa jgn lama lamaa, biar bab yg kmrn msh bisa diingat dan terus menyambung 😀 hehe fighting kak!!!!! ^^

  3. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  4. Ping-balik: 19 – Perang Dingin (2) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s