19 – Perang Dingin (2)

Comments 37 Standar

0511-0708-2917-4850_school_girl_with_lunch_tray_clipart_image1

Julie tidak menyangka kalau masalah ini akhirnya menjadi sesulit ini. Sepanjang jam makan siang tadi, mereka bertiga sibuk membicarakan tentang Cathy yang berubah, gadis itu bergabung dengan geng lain, dan kali ini Cassandra ternyata juga ikut mengikuti jejaknya. Mereka berdua tidak pernah menoleh ke arah teman-teman lamanya lagi.

Jessie menjadi sangat gusar dan hampir saja akan menghardik kedua orang itu, kalau saja tidak ada Kayla yang menahannya. Jessie memutuskan untuk menunggu sampai geng itu menyelesaikan makan siang, tapi saat Jessie bergerak menghampiri mereka, Cathy, Cassandra, dan teman-teman barunya sudah bergerak terlalu jauh meninggalkan mereka bertiga.

Julie benar-benar tidak mengerti kenapa mereka berdua harus bersikap seperti itu. Cathy mungkin masih sangat marah padanya karena Richard menyukainya, tapi Julie tidak mengerti kenapa Cassandra juga merasa ingin ikut menjauhinya. Kemarin sore gadis itu tidak menunjukkan reaksi apa-apa saat ia menghabiskan waktu bersama dengan mereka dan Nick di depan rumah Cathy. Jessie bilang Cassandra adalah pengkhianat, tapi Julie sama sekali tidak setuju dengan istilah itu.

Kayla berkata kalau Cassandra memang dari dulu sangat menyukai Richard. Cassandra juga sangat dekat dengan Cathy—barangkali lebih daripada siapa pun di geng The Lady Witches mereka. Mereka berdua jauh lebih sering sekelas dibandingkan yang lain, dan mereka berdua berada di klub yang sama, Klub Drama. Bisa jadi gadis itu lebih merasa bersimpati pada Cathy dan memilih untuk berpihak padanya.

Kayla menambahkan, selama ini Cassandra juga selalu menginginkan Julie dengan Jerry. Bisa jadi, kenyataan bahwa Richard menyukai Julie tidak hanya membuatnya terpukul sebagai penggemar Richard dan Cathy, tapi juga ia merasa Julie telah merusak harapannya dengan Jerry. Di antara semua pertimbangan itu, barangkali memang baru siang ini gadis itu akhirnya menetapkan pilihannya untuk membela Cathy.

Mereka bertiga tak menghabiskan waktu terlalu lama di kafetaria. Setelah Cathy dan Cassandra berlalu, mereka pun memutuskan untuk kembali ke kelas mereka masing-masing. Julie meregangkan tangannya dengan malas saat mereka berpisah di koridor.

“Julie!” panggil Jerry dari arah belakang.

Julie menoleh. Anak laki-laki itu mendekatinya sambil tersenyum, sengaja berlagak gagah agar terlihat menarik. Jerry tampak lebih cerah hari ini ketimbang saat Julie terakhir melihatnya kemarin.

“Aku mencarimu,” kata Jerry. “Aku butuh bantuanmu untuk mengedit beberapa tulisan sore ini. Apa kau baik-baik saja?”

Jerry memperhatikan wajah Julie yang terlihat sedikit pucat.

Yeah,” kata Julie. “Hanya sedikit tidak enak badan. Kau butuh apa? Aku tidak dengar tadi.”

“Mengedit. Dengar Julie, aku tahu mungkin aku akan terdengar seperti ikut campur, tapi aku turut bersimpati pada apa yang menimpamu kemarin,” kata Jerry dengan tidak sabar. “Yeah, aku sudah mendengar ceritanya dari orang-orang. Mereka bilang Cathy menamparmu. Aku hanya ingin tahu apakah kau baik-baik saja. Apakah pipimu masih terasa sakit?”

Julie memutar balik tubuhnya dan menutup pipinya dengan rambut.

“Tidak.”

“Jam berapa persisnya kejadian itu? Apakah tepat setelah kita pulang sekolah?” tanya Jerry menyelidik.

“Ya.”

“Apakah ada yang ingin kau ceritakan padaku tentang kejadian itu?” tanya Jerry.

“Tidak,” kata Julie frustasi.

Jerry mulai terdengar menjengkelkan karena pertanyataan-pertanyaannya yang menodong dan kaku seperti gaya interograsi khas seorang wartawan. Ia harus melakukan sesuatu. “Jerry. Bisakah kau tinggalkan aku sebentar? Aku butuh bernapas sekarang. Lagipula seingatku, kemarin kau masih marah padaku gara-gara aku pergi ke perayaan kemenangannya Lucy.”

Jerry tergelak. “Tidak. Kenapa juga aku harus marah? Aku butuh bantuanmu hari ini, makanya aku mencarimu. Bagaimana? Kau bisa membantuku, kan?”

Julie menghela napas.

“Aku tidak merasa bersemangat hari ini, Jerry. Tidak bisakah kau meminta tolong pada anggota-anggota yang lain? Mungkin Timmy bisa melakuka—”

Julie terdiam membeku.

Richard.

Anak laki-laki itu berada beberapa puluh kaki di arah jam dua. Rasanya sudah lama sekali Julie tidak melihat wajahnya.

Richard sedang mengobrol dengan seorang gadis, Julie tidak mengenalnya. Richard menoleh seketika ketika menyadari keberadaan Julie, ia menatapnya dengan matanya yang biru.

Jantung Julie berdegup sangat kencang.

“Julie?”

Jerry melihat ke arah Richard, yang sudah membuang mukanya lebih dulu.

Richard kembali melanjutkan obrolannya dengan sang gadis, tak sedikit pun mempedulikan kehadiran Julie ataupun Jerry di sekitarnya. Ia sesekali tersenyum dan kemudian menyodorkan secarik kertas pada gadis itu. Gadis itu tampak sangat senang. Mereka saling berlambaian tangan saat berpisah.

“Wow,” kata Jerry.

Anak laki-laki itu berdecak kagum. Ia menoleh kembali ke arah Julie.

“Kau mau tahu gadis itu siapa? Luna Hartwright. Kelas dua belas. Teman sekelas Mitch.” Jerry menggeronyotkan senyumnya. “Ini sangat menarik, Julie. Jadi, segera setelah diputuskan oleh Cathy dan patah hati denganmu, Richard mencari calon pacar yang baru. Gadis yang lebih tua.”

Julie terdiam. Perasaan dingin dan beku menjalari setiap tulang-belulangnya, seolah-olah akan mencengkramnya dengan erat.

“Luar biasa. Kau tahu, Julie. Kejadian ini adalah berita yang paling menghebohkan di Nimber abad ini. Aku sangat senang menulisnya untuk berita di koran sekolah minggu depan,” kata Jerry. “Sangat banyak orang yang menunggu-nunggu mendengar detail dari berita itu. Termasuk aku. Aku hanya mengingatkanmu soal kemungkinan itu.”

Jerry mengangkat tangannya dengan bebas.

“Kecuali—kalau kau membantuku mengedit sore ini. Aku mungkin akan mempertimbangkannya lagi. Richard dan Cathy memang topik yang selalu menarik untuk dihidangkan, tapi jika kau setuju untuk bekerja sama, aku mungkin tidak akan menulis terlalu banyak tentangmu.”

Julie menatap Jerry dengan tidak percaya.

“Apa?”

Pernyataan Jerry barusan membuat Julie sadar akan fakta bahwa masyarakat sekolah Nimber sangat suka dengan berita-berita terbaru, bahkan gosip-gosip murahan sekalipun. Berita tentang hubungannya yang memburuk dengan Cathy, Cassandra, dan Richard tentu saja akan menjadi santapan yang sangat lezat untuk mereka. Ini benar-benar bukan sesuatu yang diharapkannya.

“Kau tidak akan menulis apa pun, Jerry,” kata Julie.

Jerry menggeleng santai.

“Aku seorang wartawan, Julie. Tugasku adalah meliput berita. Kau tidak bisa mencegahku melakukan itu,” jawab Jerry. “Kau juga seorang wartawan. Jangan lupa. Aku sudah bilang, kau harus mengutamakan logikamu di atas perasaanmu. Profesionalismemu untuk masa depan. Masalah hanya akan menunggu orang-orang yang membuang waktu dan masa muda mereka.”

Julie berhenti berjalan. Ia mendesah berat. Anak laki-laki ini memang selalu menjengkelkan. Ia tak tahu apa maunya Jerry, tapi jika perhatian yang penuh bisa membuat Jerry berhenti mengganggunya, Julie bersedia untuk menyediakan waktu menanggapinya dengan lebih serius.

“Jadi, apa maumu?” tanya Julie, menatap Jerry dengan sungguh-sungguh sambil melipat tangannya. “Kau sangat mengesalkan.”

Jerry mengangkat bahunya.

“Aku hanya ingin kau membantuku sore ini,” kata Jerry. “Sesederhana itu.”

Julie merengut. Bukan hanya karena ia benar-benar tidak mood melakukan apa pun hari ini, tapi juga ada hal lain yang membuatnya sangat malas. Di tengah-tengah permasalahan yang mengganggu pikirannya sekarang, hal terakhir yang diinginkannya adalah menghabiskan waktu dengan Jerry yang menjengkelkan. Kecuali jika ada alasan spesial yang bisa membuatnya berubah pikiran.

“Apakah kalau aku membantumu sore ini, masa depanku akan berubah?” kata Julie.

“Tentu.” Jerry tertawa.

“Apakah kalau aku membantumu sore ini, kau bisa membuat Cathy dan Richard berpacaran lagi? Dan teman-temanku akan kembali berbaikan lagi seperti semula?” tanya Julie.

“Tidak.”

“Apakah kalau aku membantumu sore ini, kau akan membatalkan rencanamu menulis tentang teman-temanku?” kata Julie.

“Ng—tidak.”

Julie menanggapi dengan cuek. “Kalau begitu, aku tidak akan datang.”

Gadis itu mungkin terdengar galak, namun ekspresi wajahnya menunjukkan hal sebaliknya. Ia berusaha sebaik mungkin menurunkan sebuah pandangan garang, namun gerakan tubuhnya yang kikuk itu tidak pernah meninggalkannya.

Jerry tergelak.

“Baiklah, kalau itu memang maumu,” kata Jerry. “Aku hanya bercanda, Julie. Sebenarnya aku hanya ingin memastikan keadaanmu hari ini. Tapi setelah kulihat-lihat, sepertinya kau memang baik-baik saja. Aku akan memberikan waktu untukmu beristirahat sampai akhir minggu ini, menyelesaikan urusanmu dengan teman-temanmu. Aku tunggu kehadiranmu hari Senin besok di ruangan kantorku, seperti biasa.”

Julie merengut lagi. “Aku tidak akan datang.”

Jerry tersenyum miring.

“Aku tahu.”

Jerry baru saja akan bersiap-siap meninggalkannya saat gadis itu mengalihkan perhatiannya ke tempat lain. Namun anak laki-laki itu tiba-tiba berubah pikiran, memutuskan untuk menanyakan satu pertanyaan terakhir sebelum ia pergi.

“Satu lagi,” kata Jerry. “Apakah kau menyukai Richard?”

Julie memicingkan matanya.

“Pergi.”

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

37 thoughts on “19 – Perang Dingin (2)

  1. Ping-balik: Catatan Penulis (55) | Friday's Spot

    • Lagi masuk awalan konflik. Aku sengaja nggak nulis panjang-panjang, supaya feel-nya pas. 😀

      Update terbaru sudah muncul ya Yulie..
      Selamat membaca! 😉

  2. wah yang ini pendek:( jadi gak sabar sama kelanjutannya dan . . .
    Richard! apa yang barusan kau lakukan?

    tapi aku suka kalau Jerry sama Julie debat, mereka kedengeran … konyol/?

    • Hehehe.. Kamu tim Julie-Jerry, ya Horikittie? 😀

      Update berikutnya sudah muncul yaa
      Selamat membaca! 😉

  3. lagi seru”nya baca malah nggantung, jadi gk sabar nunggu lanjutan’a..
    tetap semangat yah kak nay..
    karya novel mu bagus sekali i like it 🙂

  4. Cassandranya jahat banget parah sama julie. Jessienya baek banget tapi tetep garang. Buat julie puk puk sabar yaa.

    Uploadnya jangan lamalama ya kak

  5. Aku nggak tau brapa kali buka ini kirain kelanjutannya udh ada, kecewa dh….
    Awalnya aku benci banget sama jessie seriing ngatain julie yg nggak nggak, trnyata baca smpai sini lebih kelihatan hanya jessie yg mengerti julie. Terharu sm persahabatan julie + jessie.

  6. Abis baca bab ini, ntah kenapa punya feeling kalo sebenernya cassandra bukan berpihak pada cathy. Tapi dia lagi usaha supaya bisa bikin cathy gabung lagi sama lady witches a.k.a baikan sama julie dkk… mungkin cassandra gabung sama pinky winky ato apalah itu dan cathy supaya tau apa yang cathy pikirin? mungkin jg dia mikir: udah banyak yg nemenin julie. tapi cathy cuma sendiri.

    Ntah kenapa justru saya mikirnya cassandra yang akan jadi juru damai untuk konflik kali ini… hehe….

    Semangat ngelanjutinnya 😀

  7. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  8. Ping-balik: 19 – Perang Dingin | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s