19 – Perang Dingin

Comments 31 Standar

images (4)

Kejadian sore itu telah mengubah segalanya dalam hidup mereka. Cathy tak pernah lagi bisa dihubungi. Gadis itu tak pernah mengangkat teleponnya. Richard menghilang.

Kayla akhirnya menceritakan semuanya pada Julie, Jessie, Nick, dan Cassandra. Berita itu benar-benar mengejutkan, sampai-sampai tak seorang pun dari mereka yang bisa memberikan ekspresi yang lebih pantas. Bahkan Julie hampir tak berbicara apa-apa sepanjang sore itu.

Mereka berusaha menghubungi Cathy untuk menjernihkan masalah ini, tapi Cathy bahkan sengaja tak mengaktifkan ponselnya. Nick menyarankan untuk mereka langsung menghampiri rumah Cathy—yang benar-benar mereka lakukan—tapi Cathy tak ada di rumah. Mereka menunggu cukup lama di luar rumah sampai akhirnya mereka mengetahui bahwa Cathy sebenarnya sudah ada di rumah sejak mereka datang dan menolak untuk menerima mereka masuk ke dalam.

Hal itu membuat Julie dan teman-temannya merasa terpukul.

Mereka berlima pun akhirnya pulang dengan tangan hampa. Tak ada yang bisa mereka lakukan lagi selain memutuskan untuk membiarkan hari itu berlalu. Julie juga berharap semoga keesokan harinya mereka dapat menyelesaikan masalah itu di sekolah. Cathy akan bisa menjadi tenang kembali dan Richard juga dapat hadir untuk memberikan penyelesaian yang baik bagi hubungan mereka berdua.

Julie tak akan pernah menyangka kalau masalah ini tidak akan berakhir dengan indah seperti biasanya. Ini lebih pelik daripada yang ia bayangkan.

Keesokan harinya, gosip menyebar dengan sangat cepat. Apa pun yang terjadi kemarin sore telah membakar rasa ingin tahu semua orang, seperti minyak panas yang memercik di atas api. Orang-orang bergosip. Mereka membicarakan tentang Sang Pangeran. Mereka membicarakan tentang kemenangan Sang Tak Tertaklukkan. Mereka membicarakan tentang The Mesmerizer yang terluka. Kemarahan, rasa senang, ekspresi tidak percaya, kekaguman, kebencian, mewarnai setiap wajah di koridor-koridor dan ruang-ruang kelas di Nimberland pada setiap percakapan. Mereka tak semuanya memiliki pendapat yang sama. Tapi satu hal yang jelas terlihat.

Richard menyukai Julie. Mereka semua membenci kenyataan itu.

Dan siang ini Jessie, Kayla, dan Julie telah duduk di tempat mereka di kafetaria, menanti rekan-rekan mereka yang lain.

Siapa pun tahu, ada yang tidak biasa hari ini.

Suasana di kafetaria begitu tegang mencekam, seperti tidak pernah terjadi sebelumnya. Setiap pasang mata menatap tajam, menghujam mereka dengan kilatan-kilatan rasa penasaran dan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Semua orang telah mendengar apa yang telah terjadi. Dan mereka sangat ingin tahu apa yang akan terjadi setelah kejadian ini, kelanjutan dari drama pertemanan mereka, saat mereka melihat seorang gadis cantik yang memasuki pintu kafetaria. Dia yang telah ditunggu-tunggu.

Gadis itu telah datang.

Cathy.

Gadis itu melihat sekilas ke arah mereka, secepat kilat membuang pandangan dalam seringai kebencian. Tak berselang lama kemudian, empat orang gadis kelas sepuluh lain ikut menyusul di belakangnya.

Cathy tak menoleh ke teman-teman lamanya lagi.

Setelah menghabiskan waktu cukup lama untuk mencari tempat duduk yang sesuai, Cathy dan teman-teman barunya memilih sebuah meja yang letaknya sangat jauh dari tempat di mana Jessie, Kayla, dan Julie berada.

Cathy Pierre telah memutuskan untuk bergabung dengan geng lain.

“Apa-apaan dia?” omel Jessie terbelalak. “Pinky Winky! Kenapa dia duduk dengan mereka?”

Pemandangan ini cukup ganjil.

Pinky Winky adalah salah satu geng gadis kelas sepuluh yang cukup populer di Nimber. Geng ini hampir sama populernya dengan The Lady Witches, saingan mereka yang cukup berat di sekolah. Dari dulu, Cathy selalu berkata akan bergabung dengan geng ini jika seandainya saja tidak ada The Lady Witches di sekolah. Gadis itu selalu tampak serius dengan ekspresi super dramatisnya.

Dan mereka pikir gadis itu hanya bercanda.

“Dia benar-benar pergi,” kata Julie murung. Ia menatap Kayla dan Jessie dengan muram. “Ini semua salahku. Benar, kan?”

Kayla sebenarnya mencoba menghindari percakapan yang tidak perlu, berharap semoga Cathy akan kembali membaik siang itu sebelum mereka harus membicarakannya. Tapi keadaannya ternyata lebih buruk daripada yang ia harapkan.

“Tidak, Julie. Kupikir akulah penyebabnya,” kata Kayla akhirnya.

Kayla mendesah berat, menyiratkan sedikit nada sesal dalam perkataannya. Ia memang sudah merasakannya sejak kemarin. “Ini tidak akan terjadi kalau saja aku tidak memaksa Richard untuk berterusterang pada Cathy.”

Kayla menarik napasnya, berpikir panjang, berharap semoga ia tidak salah mengambil keputusan kemarin. Ia tidak bisa memungkiri bahwa terkadang ia pun meragukan keputusan dirinya sendiri. Meskipun begitu, ia berusaha untuk mempertimbangkan kejadian ini sekali lagi, dan ia tetap berakhir pada kesimpulan yang sama. Kejujuran memang pilihan yang menyakitkan, tapi ini adalah pilihan yang harus dilakukan.

“Tapi ini harus dilakukan,” sambung gadis itu tegas. “Aku tidak ingin anak laki-laki itu menyakiti siapa pun lebih lama lagi.”

Richard.

Julie menggigit bibirnya, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa tidur semalam, dengan alasan selain karena menonton film atau membaca novel. Ia memikirkan apa yang Richard ucapkan.

Julie menatap kosong di kejauhan. Richard belum datang.

Di manakah ia sekarang?

Julie tidak melihatnya lagi sejak kemarin. Anak laki-laki itu menghilang begitu saja, lenyap seperti ditelan angin, tidak pernah muncul lagi di hadapannya. Bahkan Richard tidak terlihat di koridor sekolah.

“Julie. Aku ingin kau mengatakan dengan jujur,” tanya Kayla suatu ketika. “Apa kau menyukai Richard?”

Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Julie.

“Tidak,” jawab Julie cepat.

Mereka kemarin sempat membahas hal itu. Jessie dan Nick sempat mengungkitnya sekali-sekali. Mereka ingin tahu apa yang Julie pikirkan tentang Richard. Tapi seperti biasa, gadis itu selalu mengalihkan topiknya. Ia tidak pernah mau menjawabnya.

“Kalian berdua suka membuat segalanya menjadi sulit, Julie. Kau dan Richard,” sergah Kayla frustasi. “Ini semua tidak akan terjadi seandainya kalian saling berterusterang satu sama lain.”

Julie menyengir masam. Ia tak mengerti kenapa ia tetap tak pernah bisa mengungkapkan hal itu. Ia memang menyukai Richard. Bahkan kejadian kemarin semakin menguatkannya.

Sebuah kenyataan yang tidak ingin ia rasakan.

“Kau harus jujur padaku, Julie,” kata Kayla. “Aku akan bertanya sekali lagi dan aku tidak akan bertanya lagi. Apakah kau menyukai Richard?”

“Tidak.” Julie mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya. “Aku tidak menyukainya.”

Kayla memicingkan mata.

“Baiklah. Kalau memang begitu,” kata Kayla, hampir kehabisan akal. Ia mencoba pendekatan lain. “Setidaknya katakan padaku, apa yang kau rasakan saat Richard mengakui rasa sukanya padamu?”

Julie membayangkan anak laki-laki itu lagi. Suaranya yang lembut itu telah membuatnya bersikap tidak normal dan kesulitan bernapas. Suara yang sama yang mengatakan rasa sukanya pada  Julie. Suara yang sama yang menanyakan perasaan Julie pada dirinya.

Apakah kau menyukaiku, Julie?

Ia tidak ingin menjawabnya.

“Entahlah. Aku tak ingin memikirkannya,” jawab Julie cepat. Ia mengalihkan pertanyaan itu dengan sebuah pertanyaan baru. “Ngomong-ngomong, di mana Nick?”

Jessie mengangkat pundaknya.

“Kurasa Nick sedang bersama dengan Richard sekarang,” kata Jessie. “Kemarin dia meminta izin padaku untuk menghabiskan waktu lebih banyak bersama Richard, karena—yeah—suasana hatinya sedang sangat kacau dan dia butuh seorang teman yang menemaninya.”

Gadis itu menengadah, menatap Julie lekat-lekat di balik kulit wajahnya yang berbintik-bintik dengan maksud usil.

“Dan itu semua karenamu, Julie. Sang. Penakluk. Pangeran.”

Julie meringis. Ia tahu Jessie hanya bercanda, tapi julukan itu benar-benar tidak terdengar menyenangkan hatinya. Ia tidak menanggapi godaan dari Jessie.

“Dan Lucy?”

“Lucy sudah meminta izin padaku,” kata Kayla. “Dia harus berada di perpustakaan karena mengerjakan paper-nya. Aku belum bercerita banyak padanya, tapi sepertinya Lucy sudah tahu dari rumor-rumor yang beredar tentang kejadian kemarin sore. Ia meminta maaf karena tidak bisa berada di sini bersama dengan kita, tapi aku sudah mengatakan padanya untuk tidak perlu khawatir.”

Julie mengangguk.

“Oh, ya,” tambah Jessie, baru saja mengingatnya. “Aku juga berpapasan dengan Cassandra tadi. Dia bilang dia ingin ke toilet sebentar. Aku tak tahu apa yang ia lakukan di toilet sampai selama ini.”

Mereka bertiga pun melanjutkan makan siang dengan kehampaan. Rasanya sangat sepi. Biasanya di jam-jam segini akan selalu ada salah seorang dari mereka yang akan menceritakan pengalaman-pengalaman yang lucu saat mengikuti pelajaran di kelas pertama—apalagi hari ini ada Kelas Prancis. Mereka akan menertawakan kelakuan Julie yang kikuk. Dan keramaian di meja makan mereka akan mengundang perhatian orang-orang di sekeliling karena mereka terlalu berisik.

Tapi kali ini, mereka bertiga hanya fokus saja pada makanan di atas piring mereka. Tanpa percakapan aneh. Tanpa akting drama Cathy. Tanpa kehebohan apa pun.

Rasanya ada sesuatu yang hilang.

Julie memandang Cathy dari kejauhan. Gadis itu benar-benar terasa jauh dari mereka. Cathy tak sedikit pun melihat ke arah mereka, ia tampak seperti orang yang benar-benar berbeda dari yang pernah mereka kenal. Ia sekarang sedang bertukar kursi dengan Sonia Edmund, sambil menertawakan sesuatu yang terlalu menggelitik perutnya. Entah apa yang mereka bicarakan.

“Ini terasa aneh,” kata Julie.

“Apa?” tanya Jessie.

Yeah, situasi ini. Kita bertiga di sini, dan Cathy di sana,” kata Julie. “Aku merasa seperti kehilangan sesuatu siang ini. The Lady Witches tanpa Cathy. Dan Cathy tanpa The Lady Witches. Ini rasanya bukan kita.”

Kayla mengangguk pelan.

“Kau benar,” kata Kayla. “Aku sudah mencoba menemui Cathy sejak tadi pagi, Julie, tapi gadis itu selalu menghindariku. Dia benar-benar menghindariku. Aku tidak bisa mendekatinya sama sekali. Dia tidak lagi mematikan ponselnya, tapi dia tidak pernah mau mengangkat telepon dariku atau membalas pesan. Dia menyingkir saat melihatku di sekitarnya. Dan sekarang, dengan keberadaannya di geng Pinky Winky, kurasa Cathy secara tidak langsung telah mengumumkan kalau ia ingin keluar dari kelompok kita.”

Julie menghela napas.

“Apa tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membujuknya?” tanya Julie.

“Entahlah,” kata Kayla. “Aku sedang memikirkannya, Julie. Kau tahu, gadis itu sangat mudah mengamuk jika kita melakukan hal-hal yang bodoh. Aku harus lebih berhati-hati lagi kali ini.”

Situasi seperti ini benar-benar bukan situasi yang Julie sukai. Selama ini ia tak pernah sedikit pun menyukai hal-hal yang mengundang permasalahan. Ia selalu dapat memilih untuk bersikap lebih santai dan cuek, biasanya ia tak memang pernah ambil pusing memikirkan hal-hal yang terjadi di sekelilingnya. Namun kali ini Julie harus mengakui, hari ini ia tidak dapat lagi merasakan ketenangan itu. Perselisihan dengan Cathy ini terus-menerus mengganggu pikirannya, meskipun ia berkali-kali mencoba untuk tidak mengabaikannya. Ia merasa tidak bisa lagi terlalu lama berdiam diri dan berharap semuanya akan berubah baik-baik saja.

Ia harus melakukan sesuatu.

“Kita bisa menghampirinya di meja itu sekarang, selagi Cathy masih ada di sana,” kata Julie, memberi gagasan. “Aku akan meminta maaf, atau melakukan apa pun yang ia mau, asal ia mau kembali dengan kita. Bagaimana menurutmu?”

Jessie melompat marah.

“TIDAK.” Jessie mendadak mengeluarkan kemarahannya, yang ternyata telah berusaha ia tahan sejak lama. Ia mengerutkan keningnya dan mengepalkan tinjunya, kentara sekali terlihat sangat jengkel.

“Dia akan menamparmu lagi, Bodoh! Dan sekarang dia akan melakukannya di depan teman-teman barunya! Kau bodoh!” kata Jessie. Ia menggeram kesal. “Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.”

Kening Jessie berkerut masam. Alisnya bertaut. Ia memandang garang pada Cathy yang tampak dari kejauhan.

“Kau tahu? Aku sangat kesal padanya tiap kali mengingat kejadian itu. Aku tidak pernah bisa terima perlakuannya padamu. Dia seperti orang lain, dia bukan sahabatku,” kata Jessie, meletup-letup. “Dan jangan sampai aku meninjunya karena mencoba memukulmu lagi.”

Julie bergidik. Jessie tak biasanya bersikap seperti ini.

“Kurasa Jessie benar, Julie. Ada baiknya kalau kita memberi Cathy waktu untuk menenangkan diri,” kata Kayla, memberikan pengertian. “Untuk saat ini kita biarkan saja dulu seperti itu. Nanti kalau ia sudah sedikit lebih tenang, aku akan mencoba untuk membujuknya lagi, Julie. Pada saatnya, ia akan kembali lagi pada kita nanti. Ia pasti akan memaafkanmu. Bersabarlah. Kita harus memberinya sedikit waktu untuk berpikir jernih.”

“Tidak, tidak, Kay. Kali ini aku tidak setuju,” kata Jessie, memotong cepat-cepat. “Memberi dia waktu? Sampai kapan? Kupikir selama ini kita sudah cukup berbaik hati padanya. Di tengah segala keegoisannya selama ini, sudah berapa kali kita memaafkannya, mengalah, dan akhirnya tingkahnya justru semakin menjadi-jadi?”

Kayla bergumam. “Jess—”

“Tahu tidak? Kupikir kalau dia memang tidak mau diajak bicara dan menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik, biarkan saja dia dengan geng Pinky Winky itu. Aku tidak peduli,” kata Jessie. “Sejujurnya aku sudah muak dengan sifat manjanya yang sudah sangat keterlaluan. Dan saat kemarin dia menamparmu, Julie, itu adalah batas kesabaranku. Aku bahkan tidak peduli kalau dia tidak menjadi teman kita lagi. Biarkan saja dia seperti itu! Suatu saat, orang-orang di Pinky Winky juga akan muak dengan kelakuannya, aku jamin. Maksudku—siapa yang selama ini tahan dengan sifatnya? Hanya kita, kan? Hanya kita.”

Jessie terus-menerus menggerutu. “Hanya kita yang sanggup meladeni dan bersabar menjadi sahabatnya. Dan apa yang dia lakukan? Dia meninggalkan kita hanya karena Richard menyukai Julie! Teman macam apa itu? KONYOL.”

Kayla mencoba menenangkan.

“Jess, tenanglah. Aku tahu saat ini kau sedang kesal dengan Cathy. Kita—sedang kesal dengannya. Aku juga sebenarnya kesal,” kata Kayla. “Tapi tidak berarti kita—”

“Tidak, tidak, Kay! Aku tidak mau mendengar nasehat bijakmu kali ini,” bantah Jessie cepat-cepat. “Coba renungkan baik-baik. Berapa kali kita berkorban perasaan untuknya, memikirkan kepentingannya, mengalah untuknya, dan dia selalu bersikap semena-mena terhadap kita? Kau harus akui, Kay. Kau harus akui ini. Kali ini memang sudah saatnya kita memberi dia pelajaran.”

Setelah percakapan itu, mereka bertiga kembali melanjutkan makan siang mereka dalam keheningan. Jessie terlihat cukup keras kepala dan bertahan dengan pendapatnya. Kayla lebih berhati-hati mengeluarkan kata-katanya. Sementara itu, Julie merasa cukup pusing karena ia sangat tidak ingin menambah masalah lagi. Mereka bertiga terdiam cukup lama.

“Kau tahu, Julie? Sejujurnya—” kata Jessie suatu ketika, memecah keheningan dengan nada panjang yang menarik perhatian, “—saat aku mendengar bahwa Richard menyukaimu, aku tidak percaya itu.”

Jessie lalu mengusap hidungnya yang tidak gatal, menandaskan keseriusan yang ingin diteruskan. “Nick beberapa kali sempat mencetuskan kemungkinan itu. Gosip-gosip juga sudah berspekulasi dari dulu, aku tak mempedulikannya. Tapi, semua keyakinanku berubah saat aku mendengar kalimat itu sendiri dari Richard. Aku tidak bisa memungkiri itu sekarang. Richard menyukaimu, Julie. Orang yang kami gila-gilai dari dulu ternyata memilih menyukaimu. Dan itu bukanlah hal yang mudah untuk diterima. Well, yeah, untuk sebagian orang.”

Jessie mengangkat bahunya.

“Aku tidak bisa bilang kalau aku tidak cemburu. Tapi tidak seperti Cathy, aku tidak marah padamu.”

Jessie sekarang merendahkan suaranya. Wajahnya lebih kaku. Ia berbicara sangat lambat, seolah-olah secara langsung ingin menggarisbawahi bahwa kali ini ia ingin ditanggapi dengan lebih serius.

“Julie, kalau ada yang ingin kau katakan—katakan saja. Kau tidak berpikir kami akan bereaksi histeris seperti gadis itu, kan? Kupikir kami berdua sudah cukup dewasa untuk mendengarkan dengan baik.”

Gadis itu kini tak terlihat seperti gadis jahil yang biasanya Julie kenal. Ia berubah menjadi gadis simpatik yang sama yang dulu sempat mengkhawatirkan Cathy, yang berusaha menganalisis situasi yang terjadi. Pancaran kepedulian yang hangat memancar dari sikap Jessie yang memperhatikan.

Julie terdiam sebentar, memikirkan kemungkinan itu. Ia menggeliat, mengendurkan otot-ototnya di atas kursi.

“Baiklah. Ini hanya perumpamaan. Kalau seandainya aku mengatakan pada kalian bahwa aku menyukai Richard—apakah,” kata Julie ragu-ragu. “Apakah kalian juga akan pergi meninggalkanku?”

Julie menghentikan pertanyaannya. Dengan perasaan was-was, ia mengamati reaksi dari teman-temannya, berharap tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaan itu di luar harapannya.

Jessie memang tidak menjawab. Ia terdiam selama beberapa detik, seperti memikirkan sesuatu dengan amat serius, lalu kemudian membuka mulutnya.

“Tentu. Aku akan meninggalkanmu dan segera bergabung dengan kelompok Pinky Winky, karena mereka adalah geng kelas sepuluh yang paling keren di Nimberland, dan aku akan membuat mereka semua jatuh cinta padaku, dan aku akan menjadi ketua di sana—”

Julie mengerut bingung. Kayla berdehem. “Jess.”

Jessie kini tertawa lebar, sama lebarnya seperti ikat rambut besar yang sekarang ia pakai di rambutnya. “—lalu aku akan memaksa Cathy untuk meminta maaf padamu.”

Ekspresi Jessie langsung berubah seratus delapan puluh derajat, kehilangan mimik bijaksana yang menghiasi wajahnya tadi.

Ia merangkul Julie dengan gegabah, mencubit pipinya sehingga Julie berteriak kesakitan. Julie berusaha membebaskan diri dari rangkulan yang mulai mencekik lehernya itu, Jessie malah mencium pipinya dengan bibirnya yang basah penuh dengan air liur, yang membuat Julie berteriak jijik.

“Aku tidak mungkin meninggalkanmu, Julie. Kau sahabatku yang paling baik,” kata Jessie dengan optimistik, mencoba mencium Julie sekali lagi. “Kau kembaranku.”

“Air liurmu bau,” gerutu Julie sambil mendorong muka Jessie. Ia mengelap pipinya walaupun sebenarnya di dalam hatinya ia sangat menikmati perhatian yang diberikan sahabatnya. Tapi tetap saja, ia tampak sangat jengkel.

Air liur Jessie benar-benar bau.

“Julie sayang.”

Kayla tersenyum, menatap Julie dengan mata hitamnya yang lembut. Kehangatan yang terpancar dari sorot mata yang sangat keibuan itu. Ekspresi lembut menggayuti wajahnya.

“Kalau Bumi terbelah dua dan langit akan runtuh sekalipun, aku akan tetap menjadi sahabatmu,” kata Kayla sambil memegang tangan Julie dengan hangat, memancarkan ketenangan. “Jangan pernah lupakan itu, Julie.”

Jessie memotong cepat.

“Kau yakin, Kay? Kalau Bumi terbelah dua dan langit akan runtuh, alien berwajah sapi dari Planet Mars akan menculik Julie dan mengadopsinya lalu mengoperasi plastik mukanya karena mukanya terlalu mirip sapi, sehingga—“ Jessie berteriak saat Julie menarik poninya dengan kasar. “—aak!”

Mereka berkelahi lagi seperti anak kecil.

Kali ini, Kayla tidak melerai pertengkaran mereka. Ia membiarkan kedua anak kecil itu saling berkelahi. Kayla tahu saat ini itulah yang dibutuhkan oleh Julie. Gadis itu mungkin tidak pernah mengungkapkan perasaannya, tapi Kayla tahu bahwa jauh di dalam hatinya, gadis itu sedang berusaha menahan kesedihan.

Julie dan Jessie telah berkelahi cukup lama sampai akhirnya mereka sendiri kelelahan. Jessie menyeruput sedotan terakhirnya, sementara itu Julie menghabiskan saladnya sambil memandang kejauhan, ke arah Cathy berada.

“Jika ada yang bisa kulakukan untuk memperbaiki hub—” kata Julie.

“Tidak!” potong Jessie cepat-cepat. Ia sudah bisa menebak apa yang akan Julie katakan. Ia terlihat dingin dan ketus. “Tidak. Tidak ada yang perlu kita lakukan. Sudah kubilang, TIDAK ADA.”

“Tapi—” Julie terbata-bata.

“Tidak.”

“Mungkin aku harus—” kata Julie.

“TIDAK.”

“Ayolah.”

Jessie bergemuruh gerah.

“Kalau ingin membahas soal Cathy lagi, Julie, aku tidak ingin berteman denganmu hari ini,” hardik Jessie. “Tidak hanya gadis manja itu, aku juga bisa marah dan merajuk. Dan aku akan terlihat sangat mengerikan saat aku melakukannya. Kau ingin melihat aku merajuk?”

Jessie berusaha keras menampilkan wajah datar terbaiknya.

“Ya,” goda Julie.

Sekarang Julie juga pura-pura memasang wajah datar tepat di depan muka Jessie. Kedua gadis itu saling berhadapan, sekuat tenaga menahan tawa. Jessie mencubit dirinya sendiri agar tidak terpedaya karena wajah tolol Julie yang mengaduk perutnya dengan hebat. Permainan mereka harus terhenti sejenak saat Kayla melihat Cassandra di pintu kafetaria.

“Itu dia Cassandra,” kata Kayla.

Jessie dan Julie menoleh kompak ke arah yang ditunjukkan Kayla. Dengan bersemangat, mereka akan melambaikan tangan untuk menyambut sahabat baik mereka yang telah ditunggu-tunggu itu. Tapi, keanehan terjadi karena Cassandra tidak berjalan ke arah mereka.

Sesuatu yang tidak mereka bayangkan. Cassandra kini memilih bergabung dengan meja Pinky Winky, bersama Cathy.

Mereka terkejut.

“Oh, kau pasti bercanda!” sontak Jessie. “Dia juga!?”

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

31 thoughts on “19 – Perang Dingin

  1. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  2. Tepuk tangan buat jessie.. Plok plok plok….
    Ssetuju dg jessie, trnyata nggak cuman aku yg ngrasa cathyy egois, kekanakan pngen mng sndiri….
    Dasar mak lampir, nggak bs terima knyataan.
    Hny krn urusan pribadi udh nnggalin temen, bener jessie jangan diladenin, mrka slama ini udh banyak ngalah sm kelakuan cathy yg manja dan sok jadi ketua.

    Lho lho lho…?
    Ada apa nh kak, kok casandra ikut ikutan?
    Jadi, ke toilet itu cuman pura pura…
    Ingin ikut gabungnya krn kemauan sndiri atau dipaksa mmak lampir nh????
    Ditunggu dh klanjutannya.
    Smoga aj pny mksd baik casandra ikt gabung sm tingky wingky itu, eh pingky wingky…

  3. Dari awal emang udah ngerasa kalo yg bener2 true friend dan plg dkt sama Julie itu ya Jessie dan Kayla. Sama aja kayak Cassandra, rasanya emg dia lbh deketnya sama Cathy. Kalo Lucy, somehow bisa dibilang netral.

    Dannn, suka banget sama karakter Jessie. Entah kenapa dari awal, dari semua anggota the lady witches, saya paling suka sama karakter Jessie dan paling suka juga sama friendship Julie – Jessie. Rasanya tipe friendship kayak gitu adalah yang paling ngga fake. Walaupun sehari hari selalu berantem, tp tetep kompak, care dan mendukung satu sama lain.

    Btw, semangat ngelanjutin nya 😀

  4. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  5. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  6. bagus banget cerita’y dan tambah seru baca’y, jadi tambah penasaran jja sama lanjutan’y.. 🙂 jgn lama” yah kak lanjutan’y udh gk sabar nii,, tetap semangat.. 🙂

  7. Halo naya salam kenal. Aku belum lama nih baca blog.kamu tp langsung gimana gitu. Ingat jaman2 sma flirting sama anak kelas sebelah. Soale kalo lihat sinetron anak sma sekarang kayAknya lebay bgt deh (ketahuan deh umurnya he..he..). Tetep semangat ya nulisnya. Gak sabar pengen tahu endingnya. Dan semoga nanti ada penerbit yg tertarik.

  8. cerita nya keren banget kak.. makin jauh jadi makin penasaran sama kelanjutannya.. lanjutannya jangan lama-lama ya kak di postnya… hehehe semangat ya kak! Fighting!

  9. Ping-balik: 18 – Bayangan | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s