17. Yang Sebenarnya (3)

Comments 34 Standar

broken-piggy-bank-clipart-royalty-free-broken-heart-clipart-illustration-99101

Kayla sedang bersandar di balik dinding di dekat tangga.

“Maaf mengganggu waktumu, Richard. Ada yang perlu kubicarakan.”

Tak mudah mendapatkan waktu untuk berbicara berdua saja dengan anak laki-laki itu. Tidak hanya karena ada Cathy yang selalu berada di sisinya setiap saat, tapi juga karena sosok misteriusnya yang membuatnya terasa sulit. Kayla cukup beruntung karena siang itu presentasi tugas kelompok Aljabar mereka selesai dengan cepat, sehingga ia dapat melakukan pertemuan ini sebelum jam sekolah usai.

“Ada apa?” tanya anak laki-laki itu.

Kayla melihat sekeliling, memperhatikan dengan hati-hati, memastikan kembali tidak ada seorang pun yang mendengar pembicaraan mereka. Ia menatap wajah Richard dengan tenang.

“Ini sangat penting. Lebih dari apapun di dunia ini yang kuanggap penting. Kuharap kau mengatakan yang sebenarnya,” kata Kayla.

Rasa sukanya pada Sang Pangeran itu selama ini telah menumpulkan kemampuannya, kemampuan observasi yang selalu ia andalkan. Tapi hasil pengamatannya akan peristiwa yang terjadi tadi siang tidak diragukan lagi.

Ia mengucapkannya dengan sangat jelas. “Apa kau menyukai Julie?”

Richard terdiam membatu.

Ekspresinya membeku. Otot wajahnya mengeras dan ia menahan napas cukup lama. Tidak sulit bagi Kayla untuk menerjemahkan arti dari keterdiaman anak laki-laki itu atas pertanyaannya barusan. Pembicaraan ini jelas-jelas membuatnya tidak nyaman.

“Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?” tanya Richard.

“Caramu memandang Julie berbeda dengan caramu memandang kami semua. Bahkan pada Cathy. Kau bukan menyukai Cathy, Richard. Kau menyukai Julie,” jawab Kayla. “Selama ini aku tidak pernah memperhatikan dengan baik, tapi tadi siang aku akhirnya menyadarinya.

Pernyataan Kayla benar-benar tajam dan cepat, seolah-olah langsung menghujam jantungnya. Richard tidak langsung menjawab. Ia menarik napasnya dalam-dalam dan lebih berhati-hati memikirkan kata-kata berikutnya yang akan diucapkannya.

“Jawabannya—tidak,” kata Richard tegas. “Apakah sudah cukup?”

Kayla membalas cepat.

“Kurasa Julie juga menyukaimu.”

Richard bergidik. Kalimat itu menyeludukkan hawa dingin yang membuatnya merinding. Sekujur kulitnya menggelenyar saat Kayla mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang sangat ingin didengarnya. Namun ia tahu, itu terdengar tidak masuk akal.

“Tidak mungkin,” katanya sambil tertawa miris, seperti sedang menertawakan dirinya sendiri. “Mengapa kau membicarakan ini?”

Kayla menjawab dalam.

“Karena aku ingin tahu yang sebenarnya, Richard.”

Kayla menatap Richard dengan segenap kesungguhan hatinya, berusaha sekuat mungkin meruntuhkan dinding yang selama ini dibangun oleh anak laki-laki itu. Dinding yang membuatnya tak tersentuh. Ia seperti seorang aktor yang memainkan sebuah permainan karakter yang tidak dapat Kayla lihat selama ini. Anak laki-laki itu–dia dan Julie–benar-benar sangat baik dan cekatan dalam menyamarkan perasaan mereka yang sebenarnya di depan mereka semua.

Richard belum berbicara apa-apa lagi, namun Kayla telah menangkap maksudnya.

“Kalau begitu,” tanya Kayla. “Apa aku keliru?”

Richard tersenyum lemah.

“Sudah kukatakan,” katanya. “Aku tidak menyukainya.”

Kayla menghembuskan napasnya, menyandarkan tubuhnya dengan santai di dinding yang terdekat.

“Kau tidak bisa berbohong padaku, Richard. Bukankah gadis-gadis itu selalu mengatakan kalau aku adalah pengamat yang baik? Aku tahu kau menyukai Julie,” katanya. “Sekarang maukah kau berterusterang padaku? Kenapa kau–memacari Cathy? Bukan Julie?”

“Aku tidak menyukai Julie,” jawab anak laki-laki itu sekali lagi.

Kayla mengamati ekspresi Richard yang tidak berubah. Wajahnya terlihat keras dan sangat sulit dibaca. Kayla berdehem. Anak laki-laki itu benar-benar keras kepala. Kayla kemudian mengeluarkan sejurus pancingan.

“Tidakkah kau ingin tahu apa yang Julie pikirkan tentangmu?” tanya Kayla penuh selidik.

Kayla tak melepas intaiannya, namun menyiapkan jangkar yang cukup besar. Walaupun Richard masih diam saja, tapi Kayla yakin anak laki-laki itu pasti sedang memasang kupingnya lebar-lebar.

“Aku rasa, dia mulai menyukaimu. Maksudku–benar-benar menyukaimu. Hanya saja ia sedang menyembunyikannya. Sama seperti yang kau lakukan sekarang. Tidakkah kau ingin tahu?”

Kayla tersenyum penuh arti.

Richard menghela napas. Napasnya terasa lebih berat dan jantungnya berdegup kencang. Ia mulai kesulitan mengontrol dirinya sendiri. “Jangan bercanda.”

“Aku tidak bercanda,” kata Kayla sambil memainkan rambut hitamnya yang panjang. “Aku akan menyampaikan hasil pengamatanku tentang perasaan Julie padamu, asal kau bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan terus-terang. Kau yakin tidak mau tahu apa yang Julie pikirkan tentangmu?”

Richard memandang Kayla dengan penuh kecurigaan. Tawaran itu benar-benar menggoda.

Richard akhirnya mengangguk. “Baiklah,” katanya pelan. “Apa yang ingin kau tanyakan?”

Kayla tadinya akan mengulangi pertanyaannya yang pertama, tapi sekarang ia menyadari ada hal lain yang lebih menarik perhatiannya. Sebuah pertanyaan baru.

“Apa yang kau sukai dari Julie?”

“Aku tidak–” Richard hampir menyangkal. Ia menghentikan ucapannya secepat kilat dan memberikan waktu untuk dirinya sendiri untuk berpikir masak-masak.

“Dia gadis yang menyenangkan–”

Richard mengucapkan kata-katanya dengan nada standar. Sikap tubuhnya terlalu formal. Kayla masih menunggu penjelasan yang lebih lanjut dari anak laki-laki itu, tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi setelah mengucapkan,

“–itu saja.”

Kayla menghela napasnya. Anak laki-laki ini benar-benar menyusahkan.

“Richard, kau membuat ini menjadi sulit,” desah Kayla, kehilangan kesabaran. “Berhentilah berpura-pura dan aku akan memberitahukanmu semua tentang Julie. Kita tidak punya banyak waktu, kau tahu?”

Ia menggertak.

“Atau kalau memang ini maumu, kita akan menghentikan pembicaraan ini dan anggap saja tawaranku tadi tidak pernah ada. Aku akan kembali ke kelas sekarang.”

Kayla bersiap-siap meninggalkan tempat itu. Ia sudah dua langkah berpindah dari tempatnya berdiri, saat Richard menarik tangannya.

“Tidak. Tunggu!” cegah Richard.

Richard dengan sopan meminta Kayla untuk tetap tinggal. Ia berpikir selama beberapa saat, terpaku pada konflik internal di dalam dirinya. Ia mencoba mempertimbangkan hal ini sekali lagi, namun ia menyadari kalau menyembunyikan hal ini sekarang bukan keputusan yang cerdas. Gadis itu terlalu pandai.

“Aku memang menyukai Julie,” kata Richard, akhirnya.

Jawaban itu membuat batin Kayla bergejolak. Meskipun jawaban itu membuatnya merasa sedikit cemburu, ia sedang berusaha susah payah menahan senyumnya. Julie adalah salah satu sahabat terbaiknya sejak mereka bersekolah di Springbutter, dan daya tarik feromon Julie yang ajaib itu sudah dikenalnya sejak bertahun-tahun.

Dan di hadapannya sekarang, seorang pangeran yang mereka semua gila-gilai, justru menyatakan cintanya terhadap Julie.

Julie benar-benar telah mengalahkan mereka semua.

“Ia selalu punya seribu cara untuk membuat orang-orang menyukainya, bahkan tanpa ia menyadarinya. Aku tidak mengerti bagaimana dia melakukannya, seolah-olah ia memiliki feromon yang mengelilinginya,” kata Richard tanpa ragu-ragu. “Gadis itu selalu berbuat hal-hal konyol yang tidak kuduga-duga. Aku tak pernah bisa menebak kapan dia marah, kesal, sedih, senang. Tidak bisa menerka apa yang ada di pikirannya, karena di saat yang sama dia membuatku terkejut dengan tingkah lakunya yang unik.”

Richard tersenyum.

“Dia seperti sebuah kotak kejutan yang menyenangkan.”

Feromon. Richard menggunakan istilah yang sama dengannya. Kayla merasa tersanjung.

“Kau yakin? Itu karena dia sangat bodoh,” kata Kayla menahan tawa. “Tapi aku setuju denganmu. Dia memang memiliki feromon yang kuat. Bahkan feromon itu pun menarik perhatianmu.”

“Apa kau pikir dia menyukaiku?” tanya Richard ragu-ragu.

Kayla mengangguk. “Ya. Tidak salah lagi.”

Kayla merasa yakin dengan hasil pengamatannya, sebagaimana ia yakin dengan instingnya tentang perasaan Richard terhadap Julie. Richard tersenyum miring, hatinya menggelembung seperti balon udara yang akan terbang.

“Tapi mengapa ia selalu menghindariku? Rasanya seolah-olah ia membenci kehadiranku,” kata Richard putus asa, mencoba menurunkan harapannya sendiri. “Dia selalu menjauhiku setiap kali aku ingin mendekatinya. Sejak dulu. Aku tidak mengerti kenapa. Kupikir dia membenciku.”

“Karena dia menyukaimu, Richard,” jawab Kayla.

Kayla pun juga pernah menanyakan pertanyaan yang sama. Dulu. Ia memang sempat heran dengan sikap Julie yang selalu antipati terhadap Richard setiap kali The Lady Witches membicarakannya di kafetaria. Tapi entah kenapa ia justru selalu melupakan gagasan bahwa Julie menyukai anak laki-laki itu. Mungkin karena kenyataan bahwa The Unbeatable itu tidak pernah menyukai anak laki-laki manapun dalam hidupnya.

Dan mungkin karena Julie memang selalu bersikap konyol sepanjang hidupnya.

Apalagi Julie selalu mengatakan wajah Richard standar dan membosankan. Julie mengatakan kalau wajah Richard seperti lampu petromaks. Kayla dan gadis-gadis akhirnya malah sibuk menanggapi pernyataan skeptisnya yang mengesalkan itu dengan tindakan anarkis mereka sehari-hari, ketimbang menyadari arti di balik sikap Julie yang sebenarnya.

“Julie tidak pernah menghindari anak laki-laki sedemikian rupa seperti dia menghindarimu, Richard. Dan itu sangat aneh. Seharusnya aku menyadarinya dari dulu,” lanjut Kayla.

“Ia tak pernah jatuh cinta sebelumnya. Dan dengan sifat cuek dan kebodohannya itu, aku tahu dia tak akan mengakuinya sampai kapan pun. Dia bahkan mungkin belum menyadarinya.”

Atau mungkin sudah, pikir Kayla kemudian. Ia merasakan ada perbedaan yang aneh yang terjadi pada Julie hari ini. Pasti ada sesuatu yang terjadi saat Julie sakit kemarin.

“Kau pun sama saja. Kau malahan berpacaran dengan Cathy. Kalian ini, benar-benar bodoh,” gerutu Kayla. “Kenapa kau berpacaran dengan Cathy?”

Richard termangu. Pertanyaan itu begitu sulit dijawab, bahkan ketika Nick menanyakannya. Ia sama sekali tak tahu jawabannya.

“Aku tak tahu,” kata Richard.

Richard menyadari kalau ia saat ini terdengar seperti seorang pecundang yang payah. Ia tidak bisa memberikan pembelaan terhadap dirinya sendiri. Pada kenyataannya, ia memang seorang pengecut. Ia terlalu takut untuk mendapatkan penolakan dari orang yang sangat disukainya.

“Mungkin kau benar,” kata Richard, menyesali kebodohannya. “Seharusnya dulu aku lebih berani mengungkapkan perasaanku pada Julie, bukan pada Cathy.”

Pernyataan Richard barusan mengubah suasana percakapan mereka.

“Apa maksudmu?” tanya Kayla marah.

Ekspresi Kayla pun berubah. Tadinya gadis itu berharap Richard memberikan penjelasan yang logis atau semacamnya, alih-alih sebuah jawaban yang tidak menunjukkan kedewasaannya. Itu bukan jawaban yang ingin ia dengar.

“Kenapa kau berpacaran dengan Cathy sejak awal? Kau ingin membuat Julie cemburu?” Kayla mencecar. “Jadi selama ini kau sengaja menjadikan Cathy sebagai batu loncatanmu?”

Gadis itu sekarang tidak lagi terlihat ramah. Ia kecewa karena Richard memberikan jawaban yang terlalu kekanak-kanakan. Ia berubah menjadi seorang sahabat yang protektif dan terlihat sangat gusar.

“Bukan begitu,” kata Richard. “Aku tidak–”

“Keterlaluan. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri saja. Kau tahu apa akibat perbuatanmu ini, Richard?” kata Kayla tidak sabar. “Kau akan menyakiti perasaan kedua sahabatku. Ya. Kau akan menyakiti mereka. Kau sedang menyakiti Cathy dengan kepura-puraanmu, kau juga menyakiti Julie karena sikap palsumu, kau tahu? Itukah yang kau mau?”

Richard terkejut.

“Tidak! Aku–aku hanya,” katanya terbata-bata. “Aku tidak tahu apa yang kulakukan. Aku memang bodoh, Kay. Tapi aku tak berniat menyakiti siapapun. Percayalah!”

Kayla menatap anak laki-laki yang kini berada di hadapannya. Ia tidak pernah sekalipun membayangkan akan melihatnya dalam situasi seperti ini, Richard benar-benar terlihat berbeda. Kali ini, untuk pertama kalinya, Kayla akhirnya mampu memandang Richard sebagai seorang anak laki-laki biasa, teman biasa yang berbuat kesalahan dan sedang terpuruk karena masalah cinta.

“Maafkan aku.” Richard menunduk lemah.

Anak laki-laki itu kini menyembunyikan ekspresinya yang terpukul dengan wajah yang berpaling. Ada secercah nada pedih yang menyelimuti kata-katanya, dalam suara rendahnya yang selembut beledu.

“Aku tahu tindakanku ini sangat bodoh dan irasional. Entah kenapa, setiap kali berurusan dengan Julie, aku selalu kehilangan akal sehatku. Harusnya aku tahu, harapanku akan cinta Julie hanya menyakiti perasaanku. Kupikir jika aku memilih Cathy, aku dapat melupakan Julie dan menjadi lebih gembira.”

“Bodoh,” sasar Kayla. “Benar-benar bodoh.”

Mereka berdua terdiam dalam keheningan.

Richard terlalu lama memandang kejauhan untuk menyesali apa yang telah ia katakan, sementara itu Kayla sedang berdiam diri untuk merenungkan cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalah ini. Mereka berdua tidak saling berbicara ataupun berpandangan.

Keheningan yang ganjil itu pecah saat bel pulang sekolah berbunyi, hampir bersamaan dengan sebuah suara yang familiar yang menimpali mereka dari arah tangga.

“Richard? Kayla?” kata Cathy.

Mereka berdua terperanjat.

Cathy!

tanya Cathy, memandang curiga. “Apa yang sedang kalian lakukan di sini?”
Cathy datang di saat yang benar-benar tidak tepat. Kayla belum memutuskan apa yang akan ia lakukan terhadap fakta yang baru saja ia ketahui itu, sedangkan Richard sangat ingin keluar dari situasi yang tidak menguntungkan ini dan pergi menyendiri. Cathy menaiki anak tangga, dengan cepat menghampiri mereka, tanpa mengetahui apa-apa.

“Apa yang sedang kalian lakukan, Sayang?” tanya Cathy sekali lagi, sambil bergelayut. “Kalian tidak diam-diam berselingkuh di belakangku, kan?”

Kayla menatap Richard dengan pandangan tajam. Ia sudah memutuskan jawabannya.

“Kau harus mengatakannya sekarang, Richard. Kau harus mengatakan yang sebenarnya pada Cathy. Ini saatnya mengakhirinya,” kata Kayla tegas.

Gagasan itu terdengar mustahil.

“Apa?” kata Richard terkejut. “Tidak.”

Cathy melihat mereka berdua dengan keheranan. “Mengatakan apa?”

“Tidak. Aku ingin bersama Cathy sekarang,” kata Richard. “Aku sudah memutuskannya, Kayla. Aku ingin bersama Cathy.”

“Dan menurutmu aku percaya padamu?” cecar Kayla. Ia tahu persis bahwa kenyatannya tidak demikian. “Aku tidak ingin kau menyakitinya lebih lama lagi. Ini harus diakhiri sekarang, sebelum benar-benar terlambat. Kau harus mengatakan yang sebenarnya pada Cathy. Sekarang juga.”

“Mengatakan apa?” tanya Cathy penasaran.

Richard memilih bergeming. Ia tidak mengeluarkan satu patah kata pun. Ini bukan bagian dari rencananya. Ia menyesali keputusannya mengatakan hal ini pada Kayla.

“Richard!” Seru Kayla. “Kau ingin menyembunyikan ini sampai berapa lama lagi? Pahamilah, semakin lama kebohongan dirahasiakan, maka konsekuensinya akan semakin besar. Lebih baik jika diakhiri sekarang.”

Richard tetap merasa tidak sependapat dengan gagasan tersebut. Kayla tidak mengerti. Ini hanya memperburuk keadaan. Seharusnya ia memang tidak menceritakannya pada siapa-siapa.

“Baiklah, kalau kau tidak mau mengatakannya, biar aku yang mengatakannya,” kata Kayla kemudian. “Jangan panik, Cath. Kau harus berjanji untuk belajar menyikapi ini dengan kepala dingin, atau aku tidak akan memberitahukanmu.”

Cathy mengangguk. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

“Richard baru saja mengatakan padaku bahwa ia menyukai Julie.”

“Apa?” Cathy membelalak.

“Richard menyukai Julie sejak lama dan ia merahasiakannya darimu. Ia telah merahasiakannya dari kita semua,” kata Kayla dengan lugas. “Aku tahu ini hal yang menyakitkan untukmu, tapi aku ingin kau mengetahuinya, Cath. Aku ingin kalian menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik.”

Cathy memandang tak percaya. Darahnya mendidih dan dadanya terasa sangat panas. Amarah yang tidak terbendung membakar mulutnya. “Benarkah itu, Richard?”

Richard masih tidak menjawab. Ia membuang muka dan rahangnya terasa kaku, tak bisa digerakkan.

“Richard!” hardik Cathy. Suaranya terdengar mengerikan.

“Cathy–” kata Kayla mencoba menenangkan.

Tenggorokan Richard tercekat. Ini benar-benar situasi yang sangat sulit untuknya. Rahangnya sulit digerakkan. Sangat sulit. Ekspresinya keras dan pahit, tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya nanti.

“RICHARD!!!”

“Ya,” kata Richard sangat pelan. “Itu benar.”

Mata Cathy berkaca-kaca. Ia menggelengkan kepalanya tidak percaya dan melepaskan rangkulannya dari lengan Richard.

“Sudah kuduga, sudah kuduga. Kau dan gadis itu–,” kata Cathy penuh emosi, dan perlahan air matanya menetes membasahi wajahnya yang sangat marah. “Kenapa? Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa dia? KENAPA JULIE!!”

Cathy berteriak seperti kerasukan. “JULIE!”

Ia berlari dengan cepat menuju keramaian. Sosoknya mulai menghilang di tengah kerumunan siswa yang mulai memadati setiap koridor. Kayla menyesal karena tidak mengestimasi reaksi ini. Ia tahu ke mana perginya gadis itu. Dan perasaannya tidak enak.

“Sial! Richard, kita harus berlari mengejarnya!” kata Kayla pada Richard. “Sekarang!”

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

34 thoughts on “17. Yang Sebenarnya (3)

  1. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  2. Horee akhirnya muncul juga nih part 3 nya 🙂 udah nunggu lama loh kak nay, tapi gkpapa deh ^^ Tetap Semangat ya kak nulisnya 🙂

  3. Dan tak kusangka pengakuan akan secepat ini. Benar-benar cocok dengan judul babnya “Yang Sebenarnya”. Sebuah ungkapan penulis untuk pembaca yang setia menjadi Waiter dan Reader. Penantian dari Franchophobia tak sia-sia. benar-benar kado terindah. Ditunggu kisah selanjutnya….
    SEMANGAT BERKARYA!!!! 🙂

  4. Finally !!! Richard mengakui isi hatinya. Aaa…gak sabar gimana jadinya kalo Julie tau perasaan Richard selama ini. But…Cathy, ughh.. kuharap dia gak berbuat sesuatu yg bisa mencelakakan Julie. *grrr..

    Aku suka banget cerita ini. Bangetttt…!! Ditunggu lanjutannya lagi yaa.. semangat! *wink *wink

  5. Ya ampun akhirnya keluar juga lanjutannya. tapi cerita yg ini ngegantung banget malah tambah bikin aku penasaran kak lanjutannya jangan lamalama dong ya. Udah penasaran tingkat dewa nih haha

  6. Aku terharu, sngt2 terharu bagaimana perasaan Julie dan Chaty atas kejjadian ini smoga Chatty tidak berbuat hal yang bakal mencelakakan Julie pada Akhirnya, semoga ajja semakin kedepan Chaty bisa mnyikapi hal ini dan sadar kala selama ini dia bener2 egois tidak mementingkan orang lain, Kasian Kan Julie sudah ikhlas2 mempertahankan dan sabar dengan cara melupakan richard walaupun akhir2 ini ia sudah menunjukkan skanya pada Richard ,, Julie rela berkorban hanya ntuk Cathy sahabatnya, Awass Lo kalo kamu berbuat jahat pada Julie, Kamu seharusnya belajar Dewasa.

    KEREn Dech Part ini aku bnr2 terharu, smoga aja endingnya si Julie dan richard bisa bersatu. Ditnggu ych kelanjutannya slmt Nlis ka ,,,, Gomawo Chingu^^

  7. Maaf, Kak, setelah sekian lama akhirnya aku baru membaca novel ini sekarang. Aku awalnya berpikir bahwa ini akan menjadi cerita romansa remaja yang standar, tetapi ternyata tidak. Setiap kalimat dan adegannya begitu detail dan membuatku mampu membayangkannya dengan jelas. Tokoh-tokoh yang ada di dalam novel ini terasa hidup dan nyata. Apalagi Julie dan Richard yang membuatku geregetan. Ya ampun, dua orang itu!

    Dan begitu bagian ini berakhir, aku deg-degan menebak-nebak kelanjutannya 🙂

  8. Woowww.. Akhirnya richard trus terang juga.
    Nggak sabar, pngen liat richard ngungkapin perasaannya scara lgsg ke julie.
    Sebenernya ada satu kekurangan dr novel ini yg dari dulu aku tunggu tunggu,yaitu kapan julie bisa sekelas sama richard???
    Perasaan dr awal cerita mereka nggak prnah satu kelas, pasti seru mrk bisa saling lirik dan gugup plus grogi, Bisa senyum senyum sndiri jadinya hehehe…

    Untuk cathy!! Mampuuuusss looooo hahahaha…
    Kualat km cath, biar buat pelajaran km, jangan suka mainin perasaan cowok dan asal main putus aja (jack, siapa lg lupa… Hehe).
    Biar cathy ngerasain gimana rasanya diputusin nnti.

    Eh dulu pdahal 1bulan 2x tayang, tp skrg kok sering cuma sekali aj 1bulan??

    • Iya. Akhir-akhir ini aku banyak terdistraksi sama beberapa pekerjaan lain.
      Mudah-mudahan tahun 2015 bisa lebih konsisten untuk posting cerita terbaru 2x sebulan.. 😀

      Oh ya, update terbarunya sudah muncul ya, Mala
      Selamat membaca! 😉

  9. kk nay, bab yg ini benar” membuatku berhasil menahan nafas lebih lama dari biasanya. speechless. *menghayati banget jadi Julie* xD aaaaaahh.. love yaa :* cant wait for the next chapter ❤

  10. Seneng banget bisa jumpa situs ini. Kemaren pas jumpa lgsg buka… dan ternyata aku lgsg jatuh cinta dgn cerita cinta Richard & Julie..
    smpe2 aku berimajinasi klu aku jd tokoh juli hahah lol 0^◇^0)/
    pas nemu situs ini, lgsg baca dr kmren pagi smpe mlem. Akhirnya mata memerah n air mataku netes g ak sanggup nahan kantuk akhirnya tidur.
    Td pagi bangun lgsg nyambung lg.
    Pokongnya aku jatuh cinta sm novel ini *yay* (*^﹏^*)
    Ga sabar nunggu lanjutannya hhah
    Keep posting y mbak. (=^.^=) Semangat!!!! Ü↖(^▽^)↗
    Love you♥

  11. Ping-balik: 17. Yang Sebenarnya (2) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s