17. Yang Sebenarnya (2)

Comments 43 Standar

0511-1001-2706-2218_Boy_Sleeping_in_Class_with_a_Bully_and_the_Teachers_Pet_clipart_image

Sekarang mereka bertujuh telah berada di kafetaria–minus Lucy, yang beberapa menit lalu dipanggil ke ruangan Mrs.Salander. Mereka tak henti-hentinya memandangi Julie, seolah-olah gadis itu memiliki tiga insang di kepalanya.

“Kenapa kalian memandangiku terus?” kata Julie. “Aku hanya tidak masuk sehari dan kalian sudah begitu merindukanku.”

Nick memain-mainkan bulu hidungnya dengan santai.

Yeah, pada kenyataannya mereka memang merindukanmu, Julie. Mereka tak henti-hentinya menanyakan keadaanmu di kafetaria kemarin. Kau hilang tanpa kabar,” kata Nick. “Akui saja Jessie. Kau merindukan Julie, kan? Kau sangat pendiam kemarin, sampai-sampai kupikir kau kehilangan pita suaramu.”

Nick melirik ke arah Richard dengan senyum penuh arti.

Nonsense,” kata Jessie. “Tidak mungkin aku merindukan Sapi Bodoh itu. Lagipula, aku sama sekali tidak pendiam kemarin. Kau tahu sendiri kita membicarakan soal walrus dan kemiripannya dengan Julie.”

Julie melongo. “Apa.”

Jessie menjulurkan giginya seperti walrus dan menunjuk-nunjuk ke arah Julie. Nick memberikan efek suara.

“Tapi memang benar, Julie. Kafetaria ini terasa sepi tanpamu,” kata Kayla sambil tertawa. “Aku rindu melihat pertengkaran kalian berdua, walaupun kadang-kadang kalian bisa benar-benar–” Tiba-tiba meja mereka bergetar karena Julie dan Jessie sedang beradu cakar seperti kucing jalanan. “–menyebalkan. HEI!”

Kayla langsung menyesali ucapannya barusan. Kelakuan mereka berdua benar-benar membuatnya kehabisan kesabaran.

“Jerry mencarimu kemarin,” kata Cassandra. “Katanya dia sangat rindu padamu.”

Gadis-gadis itu bersiul-siul kesenangan. Keriuhan mereka benar-benar membuat kesal. Julie merasa asap lokomotif keluar dari ubun-ubunnya.

“Tidak mungkin. Dia kan sedang marah padaku,” timpal Julie. “Lagipula, kenapa kalian harus membahas soal Jerry terus-menerus? Aku benar-benar bosan sampai-sampai telingaku penuh dengan sarang laba-laba.”

Kebiasaan The Lady Witches membicarakan Jerry akhir-akhir ini sudah hampir sama menyebalkannya seperti saat mereka terus-menerus membicarakan Richard dulu. Sejak Cathy jadian dengan Richard, mereka tidak pernah lagi membicarakan Richard dengan nada histeris. Mereka mulai mengalihkan perhatian mereka pada hubungan Julie dan Jerry.

“Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Jerry, oke? Harus berapa kali kukatakan pada kalian,” kata Julie. “Kumohon kali ini saja, mengertilah. Aku sangat menginginkan kehidupan yang normal di Nimberland. Damai dan tentram. Oke?”

Julie mengalihkan pandangannya ke Richard. Anak laki-laki itu sedang menatapnya juga dengan matanya yang biru dan lembut, wajahnya terlihat pucat dan khawatir. Julie tersenyum padanya. Pipi Richard merona, terlihat lega.

“Jadi, apakah ada anak laki-laki lain yang kau sukai, Julie?” tanya Kayla tiba-tiba, memperhatikan perilaku mereka diam-diam.

Julie menggeliat.

“Tidak.” Ia meralat ucapannya kembali. “Oh, baiklah. Ada. Mr.Bouncer.”

“Mr.Bouncer merindukanm–“

Julie buru-buru memotong. “Jadi, ada berita apa kemarin? Apakah aku ketinggalan sesuatu?”

“Tidak. Hanya lagu bodoh Cathy,” jawab Nick. “Dia memaksa semua orang menyanyikannya. Masalahnya, lagu itu ia persembahkan hanya untuk Richard, dan aku juga dipaksa menyanyikan lagu yang sama. Bisakah kau melihat betapa konyolnya hal itu?”

“Lagu apa?” tanya Julie.

Semua orang menatap Kayla, mengetahui bahwa hanya Kayla satu-satunya yang kemarin mampu menyanyikan lagu itu dengan indah dan benar. Sebagai anggota klub Paduan Suara sekolah, kemampuannya yang satu itu memang sangat diandalkan.

“Oh, baiklah,” keluh Kayla. “They Long To Be–Close To You. The Carpenters. Pernahkah kau mendengarnya?”

Why do birds suddenly appear

Everytime you are near

Just like me, they long to be

Close to you

 

Why do stars fall down from the sky

Everytime you walk by

Just like me, they long to be

Close to you

Julie terkesiap. Lagu itu benar-benar menggambarkan Richard dengan sangat baik. Sekarang gadis-gadis itu bernyanyi bersama.

On the day that you were born

The angels got together

And decided to create a dream come true

So, they sprinkled moon dust in your hair of gold

And star-light in your eyes of blue

 

That is why all the girls in town follow you all around.

Just like me, they long to be close to you…

Just like me, they long to be close to you…

Suara yang lain terdengar sangat menyakitkan telinga–terutama suara Jessie yang cempreng–segera setelah mereka memutuskan untuk menyusul nyanyian Kayla. Apalagi suara Nick yang muncul di akhir-akhir, yang terdengar seperti lolongan orang gila. Julie hampir saja menutup kupingnya.

Tapi lagu ini, entah kenapa membuat Julie melakukan sesuatu yang tak pernah ingin ia lakukan dulu. Ia menatap wajah Richard, mengagumi wajahnya yang rupawan.

Menikmati ketampanannya.

Ia menyadari betapa menyenangkan dan meneduhkannya sinar matanya yang indah, dan lekukan bibirnya yang sempurna. Julie tersenyum. Cathy sangat beruntung bisa mendapatkan hatinya. Benar-benar beruntung.

“Lagu yang bagus,” kata Julie. “Dari mana kau mendapatkannya, Cath?”

Cathy merengut. Gadis berambut coklat itu tak terlihat bersemangat seperti biasanya. Wajahnya ditekuk, dan ia menopang dagunya dengan sebelah tangan, menandakan kalau ia sedang merasa kesal.

“Sepupuku,” katanya malas, tak menunjukkan minat sama sekali.

Julie keheranan. Ia juga baru menyadari kalau Cathy belum mengucapkan sepatah katapun dari tadi. Biasanya gadis itu selalu paling heboh di meja kafetaria mereka.

Ia melirik sekelilingnya untuk meminta petunjuk tentang apa yang sedang terjadi. Kayla berinisiatif menjelaskan, “Dia sedang ngambek.”

“Oh,” gumam Julie. “Kenapa?”

“Karena kemarin saat ia menyanyikan lagu itu, Richard tidak terlihat bersemangat,” jawab Cassandra. “Ia kesal dan tidak mau bicara apa-apa lagi.”

“Dan tampaknya masih bersambung sampai sekarang,” lanjut Jessie.

Julie melihat ke arah Cathy yang masih menopang dagunya dengan sebelah tangan, dan Richard yang tampak kuyu seperti balita kurang gizi. Ia tertawa sebentar, lalu menatap Richard dengan gaya memerintah.

“Kau harus melakukan sesuatu,” kata Julie pada Richard, yang terlihat kaget dan pipinya bersemu merah.

Dan biasanya anak laki-laki itu selalu memilih untuk hanya berdiam saja dan mengamati percakapan mereka. Tapi kali ini, sepotong kalimat yang memancing dari Julie barusan telah membuatnya lebih bersemangat untuk mengeluarkan suara.

“Apa?” tanya Richard perlahan.

Julie menyengir. “Kau harus ikut menyanyi.”

Richard terperangah. “Aku?”

Sebagai orang yang dipersembahkan lagu, Richard memang tidak ikut menyanyi saat gadis-gadis itu menyanyi untuknya. Mereka menyanyikan lagu itu dan ia hanya mendengarkan–sudah lebih dari cukup baginya.

“Aku–aku tak bisa,” Richard terlihat bimbang. Ia melirik Nick yang sedang menahan tawa. “Aku–“

“Ayolah,” kata Julie memberi semangat.

Richard terlihat salah tingkah. Julie memberi perintah sekali lagi, disusul dengan suara keriuhan gadis-gadis The Lady Witches lainnya yang sangat menyukai ide Julie. Cathy mulai terlihat antusias.

Richard mendesah panjang. Sama seperti Nick, ia pun tak suka menyanyi. Tapi ia tidak bisa menolak saat Julie yang meminta padanya.

Richard bernyanyi perlahan, “why do birds suddenly appear, everytime you are near?”

Mereka terdiam.

Suaranya seperti piano. Lembut dan merdu. “Just like me, they long to be–“ Ia memandang Julie. “–close to you.”

Richard berhenti menyanyi. Ia terlihat kebingungan karena orang-orang di sekelilingnya malah terdiam mematung.

Rasanya sudah sangat lama sekali sejak terakhir mereka menghabiskan waktu di kafetaria untuk mengagumi pesona Richard seperti sekarang ini. Gadis-gadis itu tidak bergerak sama sekali, menghabiskan waktu mereka dalam lamunan, bahkan seekor lalat pun tak mampu membuyarkan konsentrasi mereka. Tiga puluh detik kemudian, gadis-gadis The Lady Witches mendapatkan kesadaran mereka kembali.

“WOW!”

Tak perlu tingkat kecerdasan seperti Albert Einstein untuk mengetahui bahwa mereka benar-benar tersihir oleh suara Richard yang merdu. Bahkan Julie pun sangat menyukainya. Gadis itu berkali-kali menahan senyum tanpa menyadarinya.

“Aku tak tahu kalau kau juga pandai bernyanyi,” kata Jessie dengan dramatis, yang membuat Nick merasa jengkel. “Benar-benar bagus!”

“Kau seharusnya masuk klub Paduan Suara saja, Richard,” kata Cassandra. “Suaramu merdu sekali. Bahkan lebih bagus daripada Thayton.”

“Aku setuju,” kata Kayla. “Suaramu sangat bagus. Aku bisa merekomendasikanmu untuk masuk ke tim lomba Paduan Suara, Richard. Kalau kau tertarik.”

Richard menundukkan kepalanya dengan malu, menyadari betapa konyolnya hal yang baru saja ia lakukan di depan teman-temannya.

“Tidak,” kata Cathy sekonyong-konyong. “Tidak akan kuizinkan.”

Gadis-gadis itu menatap Cathy bingung.

“Suara Richard memang bagus, tapi suara itu hanya milikku. Tidak akan kuizinkan siapapun mendengarnya,” kata Cathy dengan sikap dingin. “Dia akan menyanyi hanya untukku saja. TITIK.”

Gadis-gadis itu mencibir dan menjulurkan lidah.

“Pelit,” kata Jessie.

Cathy tak menggubris ucapan Jessie. Ia merangkul Richard dengan erat, seolah-olah telah lupa dengan kemarahannya tadi.

“Bukannya tadi kau menyia-nyiakan pacarmu, Cath?” kata Cassandra. Ia menyebutkannya dengan cepat, karena malu tapi mau, menahan merah di pipinya. “Kalau kau tidak mau–Richard buat aku saja!”

Gadis-gadis itu ramai menimpali.

“Tidak! Buat aku saja!”

Mereka tertawa.

Cathy bergelayut manja di sisi Richard. Mood-nya sudah berubah. “Tidak akan pernah.”

Tidak butuh lama sampai akhirnya suasana di kafetaria itu normal kembali. Cathy kembali menjadi gadis yang ceria dan membuat heboh meja mereka dengan berita-berita terbarunya yang tidak penting. Cassandra mulai berani menyatakan pendapatnya tentang Richard yang semakin tampan. Nick dan Jessie berdebat soal siapa yang paling tampan antara dirinya dengan Richard.

Sementara itu, Kayla masih diam-diam memperhatikan perilaku Julie yang terlihat mencurigakan. Kadang-kadang ia pun memperhatikan perilaku Richard yang aneh.

Ternyata ada sesuatu yang luput dari perhatiannya selama ini.

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

43 thoughts on “17. Yang Sebenarnya (2)

  1. Ping-balik: Catatan Penulis (51) | Friday's Spot

  2. Ping-balik: Catatan Penulis (51) | Friday's Spot

  3. Boleh request nggak?
    Coba dh sekali kali julie satu kelas sama richard. Perasaan dari awal cerita mereka nggak pernah sekelas sama sekali.
    Bayangin mereka jadi sekelas dan curu curi pandang gitu.. Jadi senyum senyum sendiri bayanginnya hehehehe…
    Ditunggu kelanjutannya.
    Katanya dulu sebulan 2x terbit ceritanya, skrg kok molor jadi 1x sebulan??
    Yg lebih cepet lagi ya, biar nggak penasaran akuuuttt…

    • Iya Mala.. Selama di kelas sepuluh, Julie & Richard memang tidak pernah sekelas. 😀
      Kelanjutannya sudah ku-update yaa
      Akhir-akhir ini memang molor, soalnya ada hal lain yang aku lakukan.. Tapi mudah-mudahan worth the wait yaa
      Selamat membaca! 😉

  4. Haii…Boleh request nggak?
    Coba dh sekali kali julie satu kelas sama richard. Perasaan dari awal cerita mereka nggak pernah sekelas sama sekali.
    Bayangin mereka jadi sekelas dan curu curi pandang gitu.. Jadi senyum senyum sendiri bayanginnya hehehehe…
    Ditunggu kelanjutannya.
    Katanya dulu sebulan 2x terbit ceritanya, skrg kok molor jadi 1x sebulan??
    Yg lebih cepet lagi ya, biar nggak penasaran akuuuttt…

  5. Haii… Boleh request nggk?
    Coba dong sekali kali julie sekelas sm ricard. Dr awal cerita sepertinya nggak pernah mrk sekelas.
    Pasti seru kalau liat mrka sekelas dan saling curi pandang.
    Senyum senyum sndiri gn jadinya kl bayangi mreka sprt itu.
    Oh ya katanya dlu pernah bilang sebulan 2x terbit, nah akhir akhir ini kok molor jadi sebulan 1x.
    Dipercepat dong lanjutan ceritanya, biar nggak jadi penasaran akuut..
    Aku tunggu ya part selanjutnya..

  6. Huh…udh ada yg mulai curiga#colek kayla#
    Aku nungguinnya udh lama bgt…dan tiba” si kayla mulai curiga…hmmm..pnasaran ama yg lainnya.. Apa bkl ada lg yg curiga ama htsannya julie richard… Oke..ditunggu crita slnjutnya..

  7. Wuahh! Akhirnya di posting juga 🙂
    Aku suka banget kak sama ceritanya, oh ya aku udah baca dari awal sampe sekarang. Semangattt ya kak buat bikin lanjutannyaaa!!!!! 🙂 😀

  8. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  9. Ping-balik: 17. Yang Sebenarnya | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s