17. Yang Sebenarnya

Comments 29 Standar

This is an evaluation image and is Copyright Pamela Perry. Do not publish without acquiring a license. Image number: 0515-1002-2517-3347. http://www.acclaimimages.com/_gallery/_pages/0515-1002-2517-3347.html

Julie telah masuk sekolah hari ini. Pengalamannya sakit selama sehari kemarin membuat semua orang bertanya apa yang terjadi padanya. Julie tak pernah absen sebelumnya dari sekolah, kecuali karena alasan terlambat dan tidak diizinkan masuk oleh satpam penjaga sekolah.

Bahkan Jessie pun kini bertanya-tanya.

“Kau sakit?” tanya Jessie dengan nada sarkastis. “Kau sakit apa, Julie? Kau tidak pernah sakit seumur hidupmu.”

Julie mengangkat pundaknya dengan santai.

“Cacar monyet.”

Jessie mendelik. Ia mencubit lengan Julie dengan cubitan memutar. Julie berteriak kesakitan. Sementara itu, Kayla hanya tertawa sambil melipat kedua tangannya.

“Kau tidak pernah bisa diajak serius,” omel Jessie. “Sapi.”

“Kami ke rumahmu kemarin untuk menjenguk—Jessie, Nick, Cathy, Richard, Lucy, Cassandra, dan aku,” kata Kayla, memotong pertengkaran itu dengan cuek. “Tapi kau sedang tertidur, Julie. Apakah Mrs. Light menyampaikan pesan bingkisan dari kami?”

Julie mengangguk. Kemarin malam, ia benar-benar dibuat takjub saat Lily membangunkannya untuk makan malam dan menyodorkan buah-buahan itu sebagai pencuci mulut.

“Ya,” kata Julie. “Sepaket bingkisan buah-buahan, kan? Dan semuanya dari keluarga berry. Strawberry. Cranberry. Blackberry. Blueberry. Raspberry. Di mana kalian membelinya, ngomong-ngomong?”

“The Villager’s. Milik saudara jauh Nick di Ernest,” kata Jessie sekonyong-konyong. Ia terlihat antusias. “Bagaimana dengan coklatnya?”

“Coklat?

“Iya, coklat—” kata Jessie. “Aku yakin kau pasti langsung jadi sembuh gara-gara makan coklat itu.”

Kening Kayla berkerut mendengar pernyataan Jessie barusan.

“Aku tak percaya kau tetap memasukkan coklat itu, Jess!” protes Kayla. “Kupikir kemarin sudah jelas saat Lucy menjelaskan dampak-dampak negatifnya padamu. Terutama kalau penyakit Julie ternyata berhubungan dengan kadar insulinnya yang—”

“Kay! Ayolah,” protes Jessie. “Coklat adalah makanan dari surga yang bersifat menyembuhkan—”

“Coklat apa?” Julie kebingungan.

Jessie tersenyum merekah.

“Aku memasukkan sebatang coklat Cadbury Dairy Milk Black Forest ke dalam bingkisan buah-buahan itu,” kata Jessie sambil menyeringai puas.

“Lucy berkali-kali melarangku, tapi aku berhasil menyelipkannya di bawahstrawberry dan blackberry . Sudahkah kau memakannya?”

Kayla menatap Jessie dengan sorot mengkritik, mengetahui kalau gadis bebal itu ternyata masih berusaha menyelundupkan coklat itu ke rumah Julie tanpa sepengetahuan mereka kemarin. Jessie menyaput poninya santai, pura-pura tidak terjadi apa-apa.

Julie merenung sejenak. Ekspresi Julie berubah masam. Ia baru ingat sekarang. Lily adalah penggemar coklat Cadbury. Ibunya menggila-gilai coklat itu melebihi cintanya pada Hans Solo dan Captain Kirk yang selalu diidolakannya.

“Jess,” kata Julie murung. “Itu coklat kesukaan Mom.”

Kedua gadis itu tertawa terbahak-bahak. Mereka menyadari kalau coklat itu ternyata telah disensor oleh pihak ketiga yang lebih menyukainya, Mrs Light. Dan biasanya Mrs.Light sangat suka merahasiakan pencurian-pencurian kecilnya itu dari Julie. Coklat itu tidak akan bertahan lama.

Kayla yang paling senang mendengar kabar itu.

“Selamat,” kata Kayla sambil tertawa. “Kurasa ini hari baikmu. Sudah kubilang kan, sebaiknya kau memang tidak makan coklat kalau sedang sakit.” Ia melirik Jessie penuh arti. “Ngomong-ngomong, kau sebenarnya sakit apa, Julie? Aku tidak pernah melihatmu sakit sebelumnya.”

Kayla mengulangi pertanyaan Jessie sebelumnya, tapi Julie tak tertarik untuk benar-benar menjawab. Ia hanya menjawab asal-asalan. “Rabies.”

Jessie mencubit lengan Julie lagi dengan kesal. Julie berteriak kesakitan. “Kenapa denganmu? Lihat tanganku biru-biru semua, karena ulahmu.”

Tak seberapa jauh dari mereka, kira-kira 100 kaki di sebelah utara, Julie melihat Richard sedang berjalan bersama dengan Nick ke arah toilet laki-laki. Perasaan yang berbeda Julie rasakan kali ini, perasaan getir dan hangat yang merangkak bersamaan di dalam dadanya membuatnya menahan napas selama beberapa detik.

Julie tiba-tiba terpikir sesuatu yang sangat penting.

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu,” kata Julie pada Jessie dengan nada menyelidik. “Kenapa kau bilang kalau tidak seorang pun dari kalian yang mampu bicara pada Richard tentang Emma, dan akhirnya kau memaksa-maksaku untuk melakukannya?”

Ia teringat betapa ia ingin mencincang Jessie kemarin. Jessie hanya terkikih salah tingkah.

“Masa? Aku bilang begitu?” kata Jessie, pura-pura lugu. Ia melambatkan suaranya dengan ragu-ragu. “Mungkin karena—umm, tidak ada yang bisa melakukannya?”

“Kayla sudah melakukannya sebelum aku. Persis seperti yang sudah kukatakan padamu waktu itu, Bodoh? Kau tidak membutuhkan aku untuk berbicara pada Richard,” kata Julie. “Kau benar-benar membuat kepalaku meletus!”

“Kayla? Kayla melakukannya?” tanya Jessie. “Tapi kata Nick, kau orang yang paling tepat untuk melakukan hal ini.”

“Yeah, Kayla sudah melakukannya, dan kau membuat aku terlihat seperti orang bodoh,” kata Julie uring-uringan.

“Aku tak tahu kalau Kayla bisa melakukannya. Kalau aku sendiri tak bisa bicara langsung pada Richard, aku terlalu grogi. Kupikir gadis-gadis The Lady Witches yang lainnya juga sama sepert—”

“Apa??” kata Julie geram. “Jadi, kau bahkan belum berkonsultasi pada Kayla?”

Jessie menutup kupingnya yang membengkak.

Mendengar namanya disebut-sebut, Kayla menjadi penasaran.

“Halo? Kalian bicara seolah-olah tidak ada aku di sebelah kalian berdua,” tukas Kayla. “Kalian sedang membicarakan apa sebenarnya? Richard? Julie, kau berbicara dengan Richard?”

Julie memutar bola matanya seperti zombie.

Kayla menantang curiga. “Kalian menyimpan rahasia tanpaku, ya?”

Julie melayangkan pandangan panik pada Jessie, tapi ternyata itu sudah terlambat.

“Aku meminta tolong pada Julie untuk memberitahu Richard soal Emma,” ujar Jessie membuka mulut. “Soalnya aku cukup khawatir dengan Cathy dan aku rasa gadis itu menyembunyikan sesuatu dari kita semua.”

“Kenapa Julie?” tanya Kayla sambil tertawa.

Julie menanggapi dengan cepat.

“Tepat! Aku juga menanyakan pertanyaan yang sama. Kenapa aku??” protes Julie sambil meringis. “Dan mengetahui bahwa Kayla ternyata telah memberitahu Richard sebelum aku, membuatku merasa sangat kesal padamu.”

“Soalnya Nick yang—” kata Jessie sepotong, tiba-tiba terpikir hal lain yang lebih menarik. “Kau sudah memberitahu Richard, Kay? Kau bilang apa padanya?”

Kayla mengangkat wajahnya.

“Tidak banyak,” kata Kayla. “Saat kita pulang dari kedai Steak~Stack hari Senin kemarin, aku menghampirinya sebentar. Tidak sampai dua menit. Aku hanya bilang padanya untuk lebih memperhatikan Cathy karena kurasa Cathy sangat sensitif pada isu tentang Emma.”

Julie menyadari kalau Richard juga mengatakan hal yang sama padanya dua hari yang lalu. Richard bilang kalau ia dan Kayla hanya berbicara sebentar tentang Emma. Itu berarti memang hanya Julie-lah satu-satunya yang sempat menceritakan pada Richard tentang perihal Emma dengan penjelasan yang lebih mendetail. Dan keputusan Jessie meminta tolong padanya tidak sepenuhnya salah, kalau dipikir-pikir lagi.

“Bagaimana denganmu Julie? Apa kau juga sudah berbicara dengan Richard?” tanya Kayla.

Julie mengangguk.

Yeah,” jawab Julie. “Aku mengatakan soal Cathy dan Mark, soal Cathy dan Jake Williams, soal Cathy yang dilabrak oleh gengnya Emma, soal geng Emma yang tiba-tiba menghilang. Semua yang kau minta tolong padaku, Jess.” Ia menggaruk-garuk kepalanya. “Richard bilang kalau ia akan mencari cara untuk—”

Julie menahan napasnya. “—melindungi Cathy.”

Julie sekarang mengerti kenapa tubuhnya sering bereaksi aneh setiap kali membicarakan soal Richard.

Ia merasakan jari-jemarinya gemetar, tapi ia sudah belajar untuk menguasai perasaannya sendiri. Ia sudah menerima kenyataan bahwa ia menyukai Richard. Ia tidak akan memungkirinya lagi. Tapi demi sahabatnya, ia akan berusaha untuk menghilangkan perasaan itu.

Sementara itu, Kayla merasakan ada sesuatu yang aneh. “Bagaimana caranya kau bisa berbicara pada Richard sebanyak itu, Julie? Kau pernah membuat pertemuan dengannya?” tanya Kayla. “Seingatku, kau dan Richard jarang berbicara. Apa kalian membuat pertemuan rahasia?”

Kayla memicingkan matanya dengan cermat. Mata elangnya mulai mendeteksi sesuatu yang asing yang sedang terjadi saat itu. Entah kenapa, firasatnya mengatakan kalau ada sesuatu yang ganjil di antara mereka berdua. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat.

“Ti—tidak, um,” kata Julie terbata-bata.

Ini sangat gawat.

“Tidak,” kata Julie.

Kayla masih menatapnya dengan pandangan yang tajam, seolah tak ingin melewatkan sedetik pun yang berharga dari pengamatannya akan tindak-tanduk Julie. Kayla sudah lama tak melakukan ini padanya.

“Baiklah, baiklah. YA—,” kata Julie dengan suara melenguh, “—tapi itu karena Jessie yang memintaku melakukannya.”

Julie berbicara dengan sangat cepat, seolah-olah napasnya akan habis di ujung percakapan. “Aku membuat janji dengannya dua hari yang lalu, sore sepulang sekolah. Kami membicarakan soal Emma saat Richard membantuku mengerjakan tugas Prancis di Kedai Steak~Stack.”

“Apa?” kata Jessie. “Tugas Prancis? Richard membantumu mengerjakan—”

Yeah, Cerpen Prancis. Puas?” potong Julie. “Bukankah kau yang memaksaku untuk berbicara padanya apa pun caranya? Bagaimana caranya aku berbicara padanya tanpa membuat Cathy marah sementara aku tak pernah sekelas dengannya?” Julie bergumam.“Lagipula, aku memang butuh bantuan mengerjakan tugas itu.”

“Apa yang Richard katakan tentang hal ini?” tanya Kayla.

“Sudah kubilang, kan? Dia berjanji akan mencari cara untuk–” Julie menahan napas seperlima milidetik, “–melindungi Cathy. Richard belum memberitahuku bagaimana caranya. Tapi, setidaknya kita bisa cukup lega karena Richard kan pintar? Kurasa dia akan memikirkan sesuatu yang brilian atau semacamnya. Dia pasti bisa melindungi Cathy walaupun yeah, um–badannya kerempeng seperti cacing.”

Ucapan Julie barusan membuat Kayla terkikih geli. Ia sampai lupa berfokus dengan mata elangnya tadi. Sementara itu, Jessie masih berkutat dengan sesuatu hal yang mendadak mengganjal pikirannya. “Tunggu dulu.”

“Apa?”

“Tugas Prancis,” gumam Jessie. Jessie tiba-tiba mendapatkan pencerahan tentang misteri yang selama ini menghantui akal sehatnya. “Jangan-jangan selama ini, kau belajar bahasa Prancis dengan Richard!”

Jessie berteriak keras seperti angsa-angsa kelaparan. Julie terhentak kaget, lebih-lebih karena jantungnya mau copot mendengar suara cempreng Jessie yang memekakkan telinga.

“Apa?” kata Kayla.

Julie menggigit bibirnya, merasakan monyet-monyet Jumanji berkeliaran di kepalanya lagi. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa gadis-gadis ini tiba-tiba menjadi sangat cerdas seperti ini. “Tidak, aku–”

Julie menghela napas.

“–TIDAK BELAJAR PRANCIS DENGAN RICHARD.” Lidahnya menari salsa. “Oke. Aku belajar Prancis dengan Richard. Tapi aku tidak belajar Prancis dengan Richard.”

Julie menggarisbawahi kata-katanya dengan hati-hati, “Kalian mengerti, kan?”

Kayla mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

Jessie menyambar dengan tergesa-gesa.

“Sekarang aku mengerti. Pantas saja nilai-nilaimu membaik,” kata Jessie. “Aku tak percaya kau menyembunyikan hal ini. Kau belajar dengan Richard setiap hari. Kau bertemu dan tertawa dan bercanda dengannya setiap hari, kau–”

“Bukan SETIAP HARI, Bodoh,” umpat Julie. “Aku hanya bertemu dengannya tiga kali. TIGA KALI.” Julie menunjukkan dengan jari tangannya, memberi tanda dengan telunjuk, jari tengah, dan jari manis. “Pertama–saat liputan wawancara. Kedua–beberapa waktu yang lalu mengerjakan esai Prancis. Dan ketiga–kemarin. Hanya tiga kali.”

Julie menambahkan, “Dan apa maksudmu dengan muka yang jelek itu, Jess?”

“Jadi, kau sudah sering bertemu dengan Richard,” kata Kayla, yang langsung dikoreksi oleh Julie dengan wajah gemas dan tiga jarinya, “–baiklah. Seperti katamu, tiga kali. Tapi, kenapa kau merahasiakan hal ini dari kami semua?”

Julie sudah menduga kalau ini akan menjadi hal yang besar bagi The Lady Witches tentang pertemuannya dengan Richard. Ini sangat menjemukan.

“Apa yang kau harapkan, Kay? Aku bahkan hanya bertemu dengannya tiga kali saja sudah menjadi hal yang kalian besar-besarkan,” gerutu Julie. “Apa lagi kalau Cathy sampai tahu? Ayolah, aku tahu kalian. Kalian akan membuatnya seperti film Armageddon.”

Julie langsung memanfaatkan kelihaiannya mengganti topik, jurus melarikan diri yang selalu jadi andalannya.

“Pembicaraan ini bahkan tidak penting sama sekali, kalau dipikir-pikir, kan?” kata Julie sambil menyengir seperti kuda. “Bukankah tadi kita sedang membicarakan Cathy?”

Julie merangkul kedua gadis itu dengan memaksa.

“Ingat, jangan sampai Cathy tahu soal pertemuanku dengan Richard.”

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

29 thoughts on “17. Yang Sebenarnya

  1. Ping-balik: Catatan Penulis (50) | Friday's Spot

  2. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  3. pengakuan dan kejujuran adalah yang terbaik 😀 kyaa jadi Julie udah ngakui kalo suka sama Richard? Akkk Julie suka Richard, Richard suka Julie! Ditunggu lanjutannya ya kak, pasti seru :3

  4. Setelah sakit Julie menjadi dewasa, mbak Naya gimana klo Julie & Richad menjadi peran utama dalam pementasan drama romantis klas perancis, biar temen mereka tahu klo Julie & Richat sangat serasi

  5. di lanjut ya di lanjut missy…. luamaaaa banget nunggunya, terobatin lagi baca tingkahnya julie…. aku suka pas julie bilang *cacar monyet * sama *rabies* ….

    kayak kebayang expresi nya kayak apa….

    hakuna matata… di lanjut missy…

  6. haloo kak , aku reader baru nih , lsung tak habisin 1 hari 1 malem baca critanya , asiikkk bangeet soalnya…ayoo dong kak di update lanjutannya , penasaran nih….hihi

    cayooo…

  7. Ping-balik: 16. Sesi Kejujuran (2) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s