16. Sesi Kejujuran (2)

Comments 32 Standar

27311174-sad-girl-with-broken-heart-on-her-shirt-and-tear

Julie membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa berat dan pusing. Samar-samar ia melihat Lily sedang mondar-mandir di dalam kamarnya, memindahkan barang-barangnya dari tempatnya.

“Butuh waktu setahun untuk membersihkan kamarmu, Julie,” kata Lily ketika menyadari gadis itu telah terbangun dari tidurnya. “Dan kenapa kau masih menyimpan potongan donat di bawah meja? Itu menjijikkan.”

Julie berkerut saat menyadari ada selembar fever patch yang menempel di dahinya.

“Mom,” kata Julie. “Apa yang kau lakukan?”

“Membersihkan kamarmu. Memangnya apa lagi?” tukas Lily. “Kau tahu? Aku ingin menari hula-hula di depanmu. Tapi aku harus membersihkan rongsokan ini terlebih dahulu. Sudah berapa lama aku menyuruhmu merapikan lemarimu, Julie? Sekarang kecoa-kecoa sudah berkembang biak dan membangun sebuah negara di sana.”

Lily menceracau tanpa henti.

“Dan kau tahu? Ponselmu bergetar terus,” kata Lily. “Aku mencoba mengangkatnya sekali, setelah itu dia meminta nomor PIN padaku. Kau harus berhenti mencurigai aku, Julie.”

Julie mengambil ponselnya. Lima puluh lima panggilan tidak terjawab. Satu dari Cathy. Dua dari Cassandra. Tiga dari Lucy. Lima dari Kayla. Dan harusnya Julie tidak terkejut dengan kenyataan ini. Empat puluh empat–dari Jessie. Dan sebelas pesan masuk dari teman-temannya. Semuanya menanyakan di mana keberadaan Julie.

Ada satu lagi pesan dari nomor tidak dikenal. Julie tidak pernah menyimpan nomor ini sebelumnya, tapi entah kenapa terasa familiar. Napas Julie terhenti saat mengetahui siapa yang mengirimkannya.

Aku sangat khawatir padamu.
Apakah kau baik-baik saja?

Richard.

Jantung Julie berdegup kencang. Tangannya menggigil dan tanpa sengaja ia melepas ponsel itu dari tangannya.

“Jadi, katakan padaku,” kata Lily. “Siapa anak laki-laki itu?”

Julie mengernyit.

“Apa?”

Lily tersenyum miring. “Yang membuatmu sakit.”

Julie merasa pertanyaan ibunya sangat konyol, ia tidak tertarik untuk menjawab.

“Ayolah,” kata Lily. Ia tergelak. “Kau tidak pernah sakit, Julie. Terakhir kali kau sakit, dan itu delapan tahun yang lalu–” Lily memanggil kembali memori masa lalunya, “–saat kau berumur tujuh tahun.”

Lily melipat baju terakhir yang tergantung di tangannya dan memasukkannya ke dalam drawer.

“Siapa namanya?”

Julie terdiam sebentar. Tapi bayangan anak laki-laki itu terus-menerus membuatnya gelisah. Entah kenapa, kini ia tidak dapat menahannya lagi.

“Richard,” katanya pelan.

Julie menyingkirkan ponselnya dari jangkauannya. Ia meletakkannya di belakang bantal.

“Richard?” tanya Lily.

Lily mengambil koran sekolah dan memperlihatkan halaman yang berisikan foto seorang anak laki-laki di sana, yang tadi dilihatnya saat merapikan tempat tidur Julie.

“Maksudmu, anak laki-laki tampan ini?” kata Lily.

Wajah Lily tiba-tiba merekah. Ia membentuk senyuman yang lebar. Ia memperhatikan foto itu dengan lekat-lekat, seolah-olah matanya tak dapat lepas dari setiap detail wajah yang mempesona itu.

“Mom, aku tak ingin membicarakannya,” kata Julie. Ia memalingkan wajahnya.

“Dari dulu seleramu selalu bagus, Julie,” kata Lily sambil mengangguk, tidak menghiraukan perkataan Julie. “Sangat tampan, benar-benar sangat tampan. Anak ini–Richard Soulwind? Apa kau menyukainya?”

Julie menjawab cepat. “Tidak.”

Lily tersenyum menggoda.

“Ayolah.”

“Kau tidak mendengarku, Mom?” jawab Julie. “Aku tidak ingin membicarakannya lagi. Jadi, berhentilah menggangguku.”

“Kau suka padanya.”

“Tidak.”

“Suka.”

“Tidak.”

“Iya.”

“Mom,” protes Julie. “Kau membuat kepalaku semakin sakit.”

Lily mengangkat tangan tanda menyerah.

“Baiklah, baiklah,” kata Lily akhirnya. “Kalau kau tak mau cerita, tidak apa-apa. Sekarang aku akan ke bawah, menyiapkan makan siang, dan membawakan obat untukmu. Apakah kau ingin kubawakan sesuatu?”

“Tidak,” kata Julie.

Lily meletakkan koran sekolah itu di atas ranjang, bersiap-siap pergi. Julie memperhatikan ibunya dengan seksama. Ia merasakan ada yang aneh dengan keberadaan ibunya. Ia tiba-tiba menyadari sesuatu. “Mom? Bukankah hari ini kau harus bertemu dengan klienmu?”

Lily tidak langsung menjawab.

“Hah?” tanya Lily, pura-pura tolol. Ia lalu terkikik. “Oh ya. Benar.”

Julie benar-benar bingung karena Lily menutup pintu kamarnya begitu saja dan menghilang tanpa penjelasan. Sekarang ia sendirian di dalam kamar. Julie memutuskan untuk mengambil kembali ponselnya dan memperhatikan lagi pesan dari Richard. Pesan itu dikirimkan kemarin pukul tujuh malam, ketika ia sudah tertidur.

Ia membayangkan suara Richard yang merdu mengucapkan kalimat itu padanya dengan wajahnya yang khawatir.

“Apa yang kupikirkan?” gumam Julie. Ia tidak mengerti. Dadanya sangat sakit.

Ia melihat koran sekolah di samping tempat tidurnya. Ia melihat puisi Richard yang terpampang di halaman paling atas. Ia teringat lagi dengan gagasan bodohnya tadi malam. Gagasan yang sangat bodoh.

Tidak mungkin.

“Bodoh,” umpat Julie. Ia berguling-guling untuk mengenyahkan gagasan itu dari pikirannya, sesegera mungkin.

Ia mulai berpikir apakah ia memang menyukai Richard. Tapi ia tak mengerti apakah rasanya memang seperti ini. Richard selalu membuat organ-organ tubuhnya berbuat hal-hal aneh yang tidak ia inginkan, dan anak laki-laki itu selalu membuatnya ingin melarikan diri. Ia ingin sekali menjauh dari anak laki-laki itu. Tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang mengatakan bahwa itu tidak benar.

Sesuatu yang asing.

Sekelebat bayangan Richard mengenakan baju Hawaii biru mengusik benak Julie lagi. Wajahnya sangat tampan seperti malaikat, dan mata birunya bersinar cemerlang. Ia tersenyum dengan bibirnya yang manis seperti gulali, dan suara tawanya yang merdu terdengar meneduhkan. Entah mengapa, sekarang ia ingin sekali mendengar suara itu lagi.

Ia benar-benar pusing.

Terdengar bunyi berderak-derak dari gagang pintu yang bergetar karena Lily berusaha membuka pintu dengan sikunya. Dua tangannya sedang sibuk mengangkat baki yang berisikan semangkuk sup dan segelas air putih yang dibawanya secara hati-hati dan penuh keseimbangan, sementara itu sikunya dengan lihai memainkan peranan barunya yang signifikan. Ia lalu berjingkat pelan dan mendorong pintu itu dengan punggungnya saat pintu itu mulai terbuka.

“Makanan datang!” kata Lily dengan antusias.

Julie mencoba bangkit dari tidurnya dan bersandar di papan ranjang dalam posisi setengah duduk. Lily mulai menyuapinya seperti bayi, dan Julie menyambut dengan lemah. Ia sesungguhnya tidak berselera makan sama sekali, tapi ia justru melahap suapan sup dari ibunya dengan sangat cepat.

“Kelaparan ya, hah?” kata Lily sambil terkikih. Ia melanjutkan suapan itu dengan wajah senang. “Tentu saja. Kau kan belum makan apa-apa sejak pagi. Dan lagi, kau makan malam terlalu cepat kemarin, ya kan Julie? Apa yang kau makan di kedai Steak~Stack–ngomong-ngomong?”

Julie menjawab tanpa semangat. “Kentang goreng.”

Mata Lily terbelalak.

“Kentang goreng??” jerit Lily, seolah-olah seluruh dunia akan runtuh menimpa kepalanya. “Badanmu sudah kering kerontang seperti gurun pasir, Julie! Tidakkah kau lihat itu!? Dan kau benar-benar kurang asupan gizi sekarang. Orang-orang akan berpikir kau adalah tongkat yang bisa berjalan.”

Julie selalu berpikir kalau Lily benar-benar mirip dengan Cathy saat ia berteriak dramatis, tapi kali ini ia merasakan perasaan yang berbeda saat ibunya tiba-tiba memandangnya dengan lembut dan menyentuh tangannya.

“Kau adalah orang yang paling penting dalam hidupku, Julie,” kata Lily dengan suara yang nyaris terdengar. “Dan kau tak pernah menyadarinya.”

Lily terdiam sejenak.

“Wajar saja kalau kau jadi sakit sekarang dan menyusahkanku–”

Lily berdehem nakal. “–kalau bukan karena Richard.”

“Mom!”

Julie langsung menyesali kenapa ia mengatakan soal Richard pada ibunya. Itu adalah keputusan yang sangat bodoh. Normalnya, ia tidak akan pernah mengatakan apa pun pada ibunya. Apalagi soal Richard. Ia bahkan tidak pernah mengatakannya pada siapa pun. Demamnya hari ini malah membuatnya semakin tidak cerdas.

“Mom,” gumam Julie, mencoba mengungkit lagi topik yang tadi ingin diketahuinya. “Bagaimana dengan meeting-mu? Kau tidak membatalkannya karena aku, kan?”

Julie ingat benar kalau ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh ibunya. Lily sudah mempersiapkan ini sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Mereka bahkan telah mempersiapkan jadwal piket hari ini untuk Julie menggantikan tugas Lily di rumah. Julie tidak ingin percaya kalau ia membatalkan semuanya begitu saja.

Lily mengangkat bahunya.

“Apa yang bisa kulakukan?” kata Lily, mencoba menambahkan pernyataan itu dengan nada humor. “Aku sudah menelepon Mr.Thompson untuk menegosiasikan pertemuan pengganti, tapi sepertinya ia tidak begitu senang. Kurasa aku harus mengikhlaskannya saja. Masih banyak ikan di laut, kan?”

Wanita itu tersenyum, tapi siapa pun bisa melihat semburat kekecewaan di balik wajahnya. Bahkan Julie mampu mengenali gurat kesedihan yang sangat jarang ia lihat dari ibunya.

“Pertemuan ini adalah salah satu mimpiku,” kata Lily. “Tapi kalau Tuhan mengatakan belum saatnya, berarti memang belum saatnya. Yah, anggap saja ini bukan hari keberuntunganku.”

Wanita itu membereskan peralatan makan yang sudah selesai dan mengambil obat dari bakinya.

Julie merasa tidak enak. “Mom, aku minta maaf. Seandainya saja aku tidak sakit hari ini, aku–”

“JULIE–” potong Lily. “Sudah berakhir. Tidak perlu dibahas lagi. Dan yang terpenting–” Lily tersenyum menuntut. “–kau harus bertanggung jawab sekarang. Ceritakan padaku tentang Richard.”

“Kau seharusnya tetap pergi ke meeting itu, Mom. Aku bisa mengurus diriku sendiri,” kata Julie.

Lily tertawa. “Jangan bercanda.”

Ia mencoba menyuapi Julie dengan sebutir paracetamol, meskipun mulut gadis itu malah sibuk dengan argumentasi-argumentasi konyol yang akan membuatnya menyesal dengan keputusannya hari ini. Gadis itu baru terdiam saat Lily memaksanya menelan obat.

“Aku belajar dari pengalamanku, Julie,” kata Lily kemudian. Ia teringat dengan kepergian janin pertamanya, alasan utama kenapa ia tak bisa meninggalkan Julie hari ini. “Ada hal-hal yang harus mendapat perhatian lebih dibandingkan dengan hal-hal lainnya. Hidup ini tidak selalu mudah, kau tahu? Itulah sebabnya kau harus menceritakan padaku soal Richard.”

“Mom,” protes Julie.

Lily tertawa kecil, menatap tidak percaya.

“Julie–setelah pengorbananku hari ini, kau masih ingin merahasiakannya dariku?” kata Lily. “Serius? Kau tidak kasihan padaku?”

Julie mendesah panjang. Ia harus memikirkan masak-masak keputusannya kali ini. Hanya saja, pikirannya terlalu kalut untuk dapat berpikir dengan jernih. Dan ibunya saat ini mungkin hanya satu-satunya orang yang dapat ia percaya. Ia tidak punya pilihan lain.

“Baiklah,” kata Julie. “Hanya saja–kumohon jangan beritahukan siapa-siapa. Jangan pernah! Kau harus berjanji, Mom.”

Lily mengangguk mantap, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tidak akan senang kalau kata-katanya nanti malah membuat gadis ini berubah pikiran.

Julie menarik napas panjang. Sangat panjang.

“Anak laki-laki ini–Richard–adalah temanku di sekolah. Aku tak pernah sekelas dengannya,” kata Julie. ” Tidak sekali pun.”

“Kami hampir tak pernah bertemu sampai pertengahan semester. Aku bahkan selalu menghindarinya. Tapi semua orang membicarakannya, Mom. Semua gadis. Dia seperti magnet bagi para gadis di sekolah,” kata Julie. “Teman-temanku selalu membicarakannya. Sepanjang waktu. Setiap hari. Kapan pun. Di mana pun. Sampai-sampai aku mau muntah setiap kali aku mendengar namanya.”

Julie mengulum senyumnya dengan jenaka, mengingat betapa konyolnya kejadian itu. Matanya menerawang jauh. Rasanya seperti sudah terjadi sangat jauh di masa lalu.

“Dan kemudian, datanglah kesempatan itu. Aku dipaksa ketua klub koran sekolahku untuk mewawancarainya, dan akhirnya kami berkenalan,” ungkapnya. “Aku tak pernah bisa mengerti kenapa sejak dulu setiap kali berada di sekitarnya, aku tidak pernah merasa nyaman. Lututku selalu mencair, dan napasku tercekat, seolah-olah ia akan menghisap darahku seperti drakula. Aku tak tahu kenapa, tapi buatku, dia seperti Anak Laki-Laki dari Neraka. Orang yang kupikir tidak ingin aku temui sampai kapan pun dalam hidupku.”

Ia menegaskan itu seolah-olah hal yang sangat penting.

“Tapi sejak pertemuan wawancara itu, aku akhirnya tahu, Richard adalah anak laki-laki yang baik dan menyenangkan. Tidak seburuk yang kukira,” kata Julie. Ia tersenyum. “Kami akhirnya berteman untuk beberapa lama. Dia bahkan membantuku mengerjakan tugas Kelas Prancis.”

Lily mengangkat alisnya. Cerita ini terdengar sangat menarik.

“Richard ini, seperti apakah orangnya?” tanya Lily penasaran.

“Dia tampan. Dia sangat sopan dan cerdas. Dia selalu berkata lembut kapan pun ia mengeluarkan suara,” ungkapnya. “Ia sangat jarang berbicara, Mom. Tapi kau tidak akan melupakan suaranya yang merdu dan ramah. Dia bahkan berhasil membuatku menyukai bahasa Prancis.” Julie tiba-tiba menyadari ucapannya yang terdengar ganjil saat ibunya mendelik. “Yeah, yeah. HANYA JIKA dia yang mengucapkannya. Mom, kau tahu kalau aku sangat membenci kelas Prancis.”

Lily tertawa. “Lalu, apa yang terjadi?”

“Karena suatu kesalahpahaman, puisi yang ia buatkan untukku–aku sempat memintanya secara iseng saat wawancara–malah tercetak di koran sekolah dan membuat teman-temanku marah.” Julie mendesah. “Itu adalah awal dari segalanya.”

“Puisi?” tanya Lily.

“Ya, sebuah puisi. Hanya puisi biasa, Mom. Aku memintanya saat wawancara karena kudengar ia sangat piawai dalam merangkai kata-kata. Aku hanya penasaran saja. Dan memang sangat bagus,” kata Julie. “Tapi orang-orang akan menganggapnya lain. Itulah sebabnya aku merobeknya. Aku tidak ingin siapa pun melihatnya. Dan dia melihatku merobeknya. Kurasa dia tersinggung atau marah. Hubungan kami memburuk sejak saat itu.”

“Kenapa kau merobeknya, Julie?” tanya Lily, menggugah perhatian Julie.

“Aku tak tahu,” keluh Julie. “Aku hanya tak ingin siapa pun melihatnya. Mereka akan salah paham. Apalagi Cathy.”

“Cathy?” tanya Lily, mencoba mengingat-ingat. “Oh. Gadis Latin yang sangat cantik itu, kan?”

Julie mengangguk.

“Cathy sangat menyukai Richard. Dia pasti sangat marah jika mengetahui Richard membuatkan puisi untukku. Dan dia memang marah,” kata Julie. “Perlu waktu yang lama untuk berbaikan dengannya. Setidaknya–kalau saja Richard tidak memintanya menjadi pacarnya, akan lebih sulit bagiku untuk membuatnya percaya lagi padaku.”

“Richard apa?” tanya Lily setengah bingung.

“Richard sekarang berpacaran dengan Cathy, Mom,” kata Julie. “Dan hubungan kami mulai membaik lagi. Aku dan Cathy. Aku dan Richard. Semua sudah kembali seperti semula,” kata Julie. “Bahkan Richard membantuku lagi mengerjakan tugas Prancis kemarin sore. Cerpen Prancis.”

“Jadi, apa masalahnya?”

“Entahlah. Aku tak tahu.”

Julie sejujurnya memang tidak mengerti apa yang menjadi masalah dalam hidupnya saat ini. Hanya saja, entah kenapa ia merasa sangat sedih. Ia ingin memperbaiki keadaan yang bahkan ia tidak mengerti sama sekali. Ia benar-benar bingung.

“Aku tak pernah menceritakan ini pada siapa pun. Aku selalu merahasiakan pertemuanku dengan Richard dari teman-temanku,” kata Julie. “Aku tidak ingin mereka berpikir yang tidak-tidak. Mereka benar-benar menggila-gilai Richard. Sementara itu, mereka tahu kalau aku tidak pernah peduli pada anak laki-laki itu. Mereka akan membenciku jika mengetahui bahwa aku menemui Richard beberapa kali. Cathy akan membenciku.”

“Jadi, apa kau menyukainya?” tanya Lily.

“Tidak, aku–” potong Julie cepat. Ia terhenti sejenak. Ia mendesah panjang. “Tidak.”

Lily mengambil koran sekolah yang tergeletak di sampingnya. Ia mengamati wajah Richard sekali lagi, mencoba membayangkan seperti apakah wajah anak laki-laki itu dalam bentuk 3-dimensi. Wajah itu tidak membosankan untuk dipandang, seolah-olah menyita seluruh waktu mengagumi keindahannya.

Lily baru menyadari kalau ada sebuah puisi di halaman yang sama, di pojok kanan bawah. Melihat judul tulisan dan sub judul di bawahnya, sangat jelas bahwa ini adalah puisi yang dimaksudkan oleh Julie tadi.

“Puisi ini sangat manis,” kata Lily. “Dan anak ini sangat rupawan. Kalau aku jadi kau, aku pasti jatuh cinta padanya.” Lily mengamati puisi itu sekali lagi dan berteriak, “July! Julie. The summer of love. Kalau aku tidak mendengar ceritamu, aku pasti berpikir kalau dia menyukaimu, Julie. Puisi ini indah sekali.”

Julie tahu persis kalau kenyataannya adalah sebaliknya. Richard menyukai Cathy. Richard selalu menyukai Cathy. Dan tak ada yang salah dengan hal ini.

Tidak ada.

“Dia memang jenius. Dia juga membuatnya untuk Cathy Pierre, Mom. Gadis tercantik, sahabatku–”

Bibir Julie bergetar.

“–dan dia sangat mencintai gadis itu. Kekasihnya.”

“Kau cemburu?” tanya Lily. Ia menatap Julie dalam-dalam. “Akuilah Julie. Kau juga menyukainya, kan?”

Julie menggeleng lemah. “Tidak. Aku hanya–” Napasnya tersengal. Tanpa disadarinya, air matanya telah menggenang membasahi pipinya. “Kepalaku sakit, Mom. Demam.”

“Oh, Sayang,” kata Lily. Ia memeluk Julie dengan erat. Tubuh Julie sangat panas dan lemah, ia bisa merasakan air mata Julie mengalir di bahunya.

Ini pertama kalinya ia melihat Julie menangis, setelah bertahun-tahun lamanya ia tidak pernah merasakan kesedihan dari wajah gadis kecilnya itu.

“Sekarang, maukah kau mengakui padaku kalau kau juga menyukainya?” pinta Lily. Ia membelai rambut Julie dengan lembut. “Kau menyukainya, Julie.”

Julie tak bisa menahan matanya yang semakin panas.

“Katakan,” tukas Lily.

Julie hanya terdiam, namun ia merasakan pedih yang menyengat di dadanya.

“Katakan, Julie!”

“Aku–menyukainya.” Bibirnya terasa kelu.

“Lihat? Betapa mudahnya mengakui perasaanmu?” kata Lily. “Kau tidak akan bisa menghilangkannya jika kau terus-menerus menyangkalnya. Kenapa kau begitu sulit mengakui kalau kau mencintai dia?”

Napas Julie sesak hanya karena memikirkan hal itu. “Kenapa ini terasa menyakitkan? Aku tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya,” kata Julie. “Aku tidak ingin merasakannya lagi, Mom.”

Lily terkikih. “Tidak sesederhana itu.”

“Apa yang harus kulakukan?” tanya Julie.

“Katakan yang sebenarnya pada teman-temanmu. Katakan yang sebenarnya pada Richard. Katakan kalau kau menyukainya,” kata Lily. “Memulainya dengan mengatakan kebenaran akan memberikanmu petunjuk bagaimana cara menyelesaikan masalah ini. Jangan sembunyikan lagi perasaanmu.”

Julie tercengang. Baginya, itu sama sekali bukan pilihan.

“Aku tak bisa,” tukas Julie. “Aku tak bisa melakukannya, Mom. Aku bisa kehilangan teman-temanku.”

Lily berkata dengan sabar.

“Aku tahu ini tak mudah. Tapi, kejujuran adalah hal yang tepat untuk dilakukan, sweetheart. Dan menunda masalah bukan jawabanmu. Kau tetap harus menghadapinya–cepat atau lambat,” kata Lily sekali lagi, berusaha meyakinkan putrinya. “Jika mereka memang teman-temanmu, mereka tidak akan pergi meninggalkanmu. Percayalah itu, Sayang.”

Julie hanya menunduk. Ia menggigit bibirnya dan berpikir panjang.

“Aku tak bisa. Ini akan menyakiti Cathy,” kata Julie. “Maafkan aku, Mom. Aku tak bisa.”

Lily tersenyum. Anak ini benar-benar persis seperti ayahnya–rapuh, mengalah, dan selalu mementingkan orang lain. Julie mungkin mendapatkan sifat cuek dan sembrono itu darinya, tapi jiwa tulus yang selalu rela berkorban demi teman-temannya adalah sesuatu yang ia warisi dari Ethan Light.

Lily sempat terpikir untuk mempengaruhi Julie sekali lagi, namun ia akhirnya mengurungkan niatnya. Gadis itu tampaknya cukup keras dengan pendiriannya untuk tidak mengatakan apa pun pada teman-temannya.

“Baiklah, jika menurutmu itu lebih baik,” kata Lily. “Lalu apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan bisa menerima kenyataan bahwa Richard sekarang bersama dengan Cathy dan mencintai gadis itu? Apa kau akan berkorban untuknya?”

Julie mengangguk. “Ya.”

Lily tersenyum. Meskipun ia meyakini kalau menjadi asertif dan menyelesaikan masalah dengan kejujuran adalah solusi yang lebih baik, ia menghormati pilihan putrinya itu. Biar bagaimana pun, solidaritas yang tinggi dan kebaikan hati Ethan adalah sesuatu yang ia kagumi dari dirinya sejak dulu.

Ia memeluk putrinya dengan hangat, membelai punggungnya dengan lembut. “Apa kau sudah merasa baikan?”

Julie mengangguk lagi. Wajahnya sudah terlihat lebih segar daripada sebelumnya, walaupun masih tampak lemah. “Terima kasih, Mom,” katanya. “Aku sayang padamu.”

Lily tersenyum dan memberikan sebuah kecupan di kening Julie.

“Aku akan ke bawah membawa baki ini dan membiarkanmu beristirahat dengan tenang,” kata Lily sambil membawa baki yang terasa cukup ringan. “Kau tahu? Ada cucian yang menunggu kasih sayangku di bawah.”

Lily tertawa kecil. Ia tahu pasti, ia tidak menyesali keputusannya hari ini. Kedekatannya dengan putrinya adalah hadiah yang jauh lebih berharga dibandingkan kenaikan karier apa pun.

Ia memutar gagang pintu dan setengah terhenti saat Julie memanggilnya. “Mom, bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Lily mengangguk, mendengarkan dengan seksama.

“Apakah ketika aku sakit, aku akan selalu melihatmu seperti ini?” tanya Julie polos. Kening Lily berkerut. “Normal, baik hati–dan penuh kasih sayang seperti ibu-ibu lainnya?”

Lily tersedak. Pertanyaan itu membuat Lily terdengar seperti seorang maniak yang tidak waras yang selalu membuat keonaran dengannya. Melihat Julie mengucapkan kalimat itu dengan tubuhnya yang lemah dan wajahnya yang lugu, ia memilih untuk menjawabnya sambil tertawa.

“Ya,” kata Lily. “Aku akan jadi normal seperti ibu-ibu lainnya.”

Julie tersenyum.

“Tapi jika kau berpikir untuk sering-sering sakit, aku perlu memberitahumu kalau aku senang mengetahui hari ini kalau ternyata aku perlu membelikan bra ukuran baru untukmu. Survei lapangan. Kau tahu apa maksudku?” tambah Lily. Ia menyeringai cengengesan.

Matanya mengedip genit. “Cup B.”

Julie terperanjat, merasa ternodai. Ia tahu apa artinya itu. Ibunya telah meraba-raba dadanya.

“MOM!!!”

 

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

32 thoughts on “16. Sesi Kejujuran (2)

  1. Ping-balik: Catatan Penulis (49) | Friday's Spot

  2. seneng banget ad part ini,, akhirnya julie mau ngakuin kalo dia emg suka ke richard… kyaaaaa.. jdi suka banget ama tokoh lily
    blum ada gambaran gmana part slnjutnya bkal dibikin
    semangaat kak onya :*

  3. Akhirnya Julie ngaku juga sama lily kalo dia suka sama Richard.hehe
    tapi gimana sama Richard ya. Julie bakal jujur gak ya sama dia?
    Kak jangan lama” ya lanjutinnya

  4. Kyaaa~ Lily ternyata ibu yang baik ya.. tp aku lebih suka Lily yang jahilnya minta ampun, apa lagi kalo lagi berantem sama Julie 😀

  5. Julie sakit krn memendam cinta sama richard. Lyli kau memang hrs begitu biar anakmu tdk jahilin kamu. Julie perasaanmu hrs kau ungkapin ke Richard. Aduh aku dak seneng Julie sakit mb. Naya

  6. Aduhh, jadi penasaran banget sama kelanjutan ceritanya. Pasti banyak banget konflik yang dialami mereka nantinya, apalagi Richard suka sama Julie dan begitu juga dengan Julie, yang jadi masalahnya Richard sedang berpacaran sama Cathy. Omaigatt! nggak bisa dibayangin! semoga kelanjutannya menyenangkan deh, amiin.

    hai kak? aku Liana, aku udah lama banget baca cerita ini. cuma aku baru komentar hehehe 😀 maaf ya kak, aku jadi silent reader, soalnya jaringan nya suka macet nih -,- . btw, ceritanya kerennn banget! belum pernah baca cerita kayak gini sebelumnya. Salam buat Julie ya, semoga tambah kocak lagii wkwks 😀 😉

  7. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  8. 5 hari belakangan selalu tidur lebih malam,, juga sekaleng wafer tanggo yang tadi’a penuh, sekarang hanya tersisa beberapa saja,, tersudut di pojokan kaleng tak berdaya…

    Semua gara2 cerita Julie light yg menggemaskan dan terlihat konyol… Hahahahaha *garuk perut

    O iya,, soal Richard,, dg semua sifat dan ketampanan’a ya..?? Entah kenapa gw lebih suka mentranslatekan’a mnjadi sosok Para Penyinden yg selalu terlihat anggun dan indah dg suara yg merdu dan sopan di dalam imajinasi liar gw… Hanya saja dalam cover laki2,, hahahahay….

    Gw pecinta komik,, tapi gara2 karangan kK ini…
    Seperti’a membaca novel juga hal yg menyenangkan… *senyum malaikat ala Julie

    hey,, terimakasih ya kK…,, di tunggu cerita lanjutan’a…. ^_^

    • Hai Andria
      Salam kenal 😀
      Hehehe, nggak kebayang kalo Richard ditranslate jadi Sinden.. wkwkwk
      Update terbaru sudah ku-publish yaa
      Selamat membaca! 😉

  9. Akhirnyaaa, selesai baca semua part-nya Julie Light 😀 Di part ini baca sampai bercucuran air mata, terkesan sekali sama tokoh Lily. Sesuatu yang sederhana kalau diceritakan dengan cara yang tidak biasa akan jadi luar biasa. Julie, keep moving forward ya! 😀

  10. Hai salam kenal, reader baru^^
    seneng banget rasanya bisa berkunjung blog ini, oh novelnya kereen banget. aku suka semua-semuanya.

    Dipart ini aku nangisss.. (kebetulan dikamar stock tissue banyak)
    betapa malangnya nasip Julie, sangat bangga dengan sifatnya yang lebih mementingkan orang lain dan mengalah, walau pada akhrinya nyakitin dirinya sendiri. pokoknya part ini haru biru.

    Julie masih polos banget, sampe-sampe dia butuh waktu lama buat memahami perasaannya ke Richard.. mungkin karena dia belum pengalaman juga jatuh cinta. dan aku baru sadar juga ada sepenggal kalimat dipuisi buatan Richart buat Julie yang isinya ” rich art loved light”.. wow ternya Richard suka sama Julie sejak lama dari sebelum obrolan rahasia bareng Nick. Tapi kenapa harus jadian dulu sama Cathy buat bisa deket-deket sama Julie.

    Aku yakin Richard ngak bisa kayak Nick, mengalihkan perasaannya sama orang lain.. rich kayaknya tipikan cowok yang susah beerpaling. Ah ya semoga rasa sukanya sama Julie nggak akan luntur.

    Sebelumnya dengan tidak mengurangi rasa hormat, aku minta maaf karena udah baca semua bab tapi baru komen di part ini. Keep writing! Fighting!^^

  11. Ping-balik: 16. Sesi Kejujuran | Naya Corath

  12. Ping-balik: 17. Yang Sebenarnya | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s