16. Sesi Kejujuran

Comments 19 Standar

mommy-girl-brunette1

Kurang lebih sudah sebulan lamanya, Julie tidak pernah lagi terlambat ke sekolah. Rekor terbaru itu baru terpecahkan sejak Lily terakhir kali dulu mengantarkannya ke sekolah dasar. Seingat Lily, Julie bahkan hampir tidak pernah melewatkan sebulan pun dalam hidupnya tanpa pengalaman terlambat ke sekolah. Seperti kebutuhan hidup sehari-hari, anak itu melakukannya minimal tiga kali dalam sebulan. Malah pernah juga dua minggu berturut-turut. Bahkan 2o hari dalam sebulan.

Beberapa kali.

Kecerobohan dan keterlambatan adalah sifat buruknya yang sama sekali tidak membuatnya bangga, dan ia selalu heran kenapa anak gadis semata wayangnya itu tidak mewarisi sifat ayahnya saja. Lily padahal sudah sangat senang dan berharap kalau ini adalah pertanda yang sangat bagus akan perubahan sifat Julie ke arah yang lebih baik, sebagaimana yang pernah dialaminya dulu.

Atau setidaknya ia pikir begitu.

Tapi pagi ini, gadis itu justru mengulangi lagi kebiasaan buruknya itu. Lagi dan lagi. Dan sialnya, justru di saat yang benar-benar genting, di mana Lily seharusnya sedang sibuk mempersiapkan persiapan meeting penting dengan calon kliennya siang ini.

Calon klien besar.

Dan ini benar-benar bukan saat yang tepat.

“JULIE!”

Lily melihat jam dinding, ini sudah jam 9 kurang 5.

Lily telah memanggil nama gadis itu berkali-kali, tapi tetap tidak ada jawaban. Ia tidak bisa menahan kesabaran lebih lama lagi. Guru yoganya berkata kalau kekuatan kesabaran adalah hal yang sangat penting dalam pengendalian emosi, tapi peraturan itu tidak ada gunanya jika harus berhadapan dengan putrinya. Biar bagaimana pun, ia tetap harus turun tangan, memaksa gadis itu untuk bangun dan berangkat ke sekolah, meskipun harus terlambat sekalipun.

Lily naik ke kamar atas, menghampiri gadis itu, dan melihatnya tertidur pulas seperti bayi. Ia memanggil nama gadis itu sekali lagi, tanpa reaksi apa-apa.

Anak itu masih tidak bergeming sama sekali.

“Hey.”

Lily mendesah. Ia terpaksa menggunakan cara andalannya yang sudah lama tidak digunakannya. Ia menarik tangan Julie dan bersiap-siap akan menindih anak itu dengan tubuhnya. Ia sangat terkejut.

Tangan gadis itu sangat panas.

“Julie?”

Lily menarik tangan Julie dan membalikkan tubuhnya. Matanya masih terpejam, bibirnya pucat. Lily meletakkan telapak tangannya di leher gadis itu, merasakan panas membara dari kulitnya yang memerah.

Ini bukan sesuatu yang diharapkannya hari ini.

“Julie,” kata Lily, menghela napas.

Lily menatap wajah gadisnya yang terkulai lemah, setengah meringkuk seperti menahan dingin. Rambutnya berantakan, kaki dan tangannya menindih buku-buku dan kertas-kertas koran yang masih berserakan di atas tempat tidurnya. Napasnya berat dan tidak beraturan.

“Ternyata kau benar-benar sakit,” kata Lily, bergumam pelan. “Sudah kuduga ada yang aneh denganmu kemarin.”

Lily berpikir sejenak. Ia sangat menyadari kalau ini akan menempatkannya pada posisi yang tidak menguntungkan dalam kariernya. Ia kemudian mengambil telepon genggam yang bergetar di saku celananya.

“Halo, Mr. Thompson,” kata Lily sopan. “Maaf, sepertinya saya harus membatalkan pertemuan kita hari ini.”

Lily berusaha menjelaskan dengan hati-hati. Ini adalah salah satu calon klien terbesar sepanjang karier hidupnya, yang mungkin tidak akan datang lagi. Tidak dalam beberapa tahun ke depan. Dan ia tahu, ia akan melewatkan kesempatan ini begitu saja.

“Saya mengerti, saya sungguh-sungguh minta maaf,” kata Lily. “Kalau Anda ada waktu lain–”

Lily tak sempat menyelesaikan kalimatnya. Suara di seberang telepon sana sudah buru-buru mematikan sambungan telekomunikasi di antara mereka.

Lily terdiam sebentar, menggigit bibirnya.

Lily tak bisa bilang kalau ia tidak merasa kecewa–ia telah membuang kesempatan emas yang mungkin hanya akan datang sekali seumur hidupnya. Ia telah bekerja keras untuk ini, terutama karena sebelumnya ia juga pernah melakukan beberapa kesalahan yang harus ia tebus dalam waktu dekat. Tapi ia menyadari kalau tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Lily memutuskan untuk melupakannya sesaat.

Ia mematikan ponselnya.

Lily merapikan buku-buku yang berserakan di atas tempat tidur Julie dan meletakkannya ke atas meja belajar. Ia kemudian mengambil helaian-helaian kertas koran yang tadi terhimpit di bawah pinggang Julie, memperhatikan isi koran itu sebentar. Lily pun membenarkan posisi tidur Julie dan menutupi tubuhnya yang kurus dengan selimut. Ia hampir tersandung tas punggung yang berada di lantai, tapi buru-buru ia letakkan di atas meja.

Lily melihat jam weker di atas meja, yang terus-menerus berdering tadi pagi. Jam sembilan lewat sepuluh. Ia membelai dahi Julie dengan lembut, merasakan panas yang menyengat di ujung kulitnya. Ia menatap wajah putrinya yang manis, dan mengecup pipinya beberapa kali.

Lily tiba-tiba menyadari kalau ia tidak pernah melakukan hal ini sejak waktu yang sangat lama. Julie tidak pernah mengizinkannya menyentuh kulitnya, bibirnya, atau bermain-main dengan pipinya. Gadis itu pasti akan mengamuk dan meronta, atau ia hanya bisa melakukannya saat mereka berdua sedang bergulat.

Lily membelai rambut Julie sekali lagi. Gadis itu terlihat sangat cantik dalam tidurnya.

“Kau tahu, Sayang? Tinggal kau dan aku saja hari ini,” kata Lily, mendekatkan wajahnya dengan perlahan. Ia tersenyum penuh arti.

“Dan kau pasti tidak akan menyukainya.”

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

19 thoughts on “16. Sesi Kejujuran

  1. Ya ampun Julie sakit kira” Richard bakalan jenguk gak ya? Udah penasaran sama cerita Julie sama Richard nih
    Kak lanjutan’a jangan lama” ya 🙂

  2. wah tokoh favorit aku sakit.. kasihan julie.. penasaran sama kelanjutan ceritanya.. siapa nih yang bakal jujur.. ditunggu next story’nya kak.. 🙂

  3. Ping-balik: Catatan Penulis (47) | Friday's Spot

  4. wah!!..julie sakit apa ya? apa gra2 tau singkatan dri puisinya atau …???? .kak cepet dilanjut ya.?jangan lama” bikin penasaran #oke^^

  5. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  6. Ping-balik: 15. Ancaman (5) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s