15. Ancaman (5)

Comments 35 Standar

sick_child_royalty_free_clipart_picture_090513-150628-9730531

Julie tidak mengerti kenapa dadanya terasa sakit sekali. Sepanjang jalan menuju rumahnya tadi, kepalanya terasa sangat berat, dan matanya berair. Sesampai di rumah, ia langsung menghambur menuju kamar tidurnya, dan berbaring di atas ranjangnya yang nyaman.

“JULIE–,” teriak Lily dari lantai bawah. “KAU MAU MAKAN MALAM APA?”

“Mom,” desah Julie.

Ia pun bangkit dari ranjang, berjalan menuju pintu kamarnya. Ia hampir tergelincir saat menginjak alas kaki lantai di kamarnya sendiri, karena tadi pagi ia menumpahkan segelas air di sana dan lupa mengeringkannya.

“JUUULI–.”

“Mom,” jawab Julie mendongkol. Kepalanya bertambah sakit sekarang. “Aku sudah makan ta–”

“JUUL–”

“AAKUUU SUUUDAAH MAKAAN TAAAAADIIIIIIIIIIIII TIDAAK MAKAAAN LAAAAGIIIIIII,” jerit gadis itu pada akhirnya. Ia mendongakkan kepalanya dari balik pintu kamarnya agar suaranya terdengar lebih jelas. Julie terkejut saat melihat Lily di depan mukanya.

“Di mana?”

Lily ternyata telah berdiri mantap di tengah-tengah tangga menuju kamar Julie, berkacak pinggang.

“Uh. Kedai Steak~Stack,” jawab Julie dengan nada normal. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, terlihat tidak bersemangat. “Dan sekarang aku mau mengerjakan tugas Prancisku. Oke, Mom? Aku butuh konsentrasi tinggi kali ini.”

Lily tercenung. “Tugas Prancis?”

Julie menatap datar.

“Iya. CERPEN. Dan aku mau mati,” kata Julie depresi.

Lily tertawa keras.

“Baiklah. Selamat belajar kalau begitu,” kata Lily. “Jangan lupa kalau besok giliranmu untuk mencuci baju. Aku akan sangat sibuk besok, jadi kalau kau tidak mencuci baju, aku tinggal potong uang jajanmu untuk beli baju baru untuk kita bertiga.”

Julie melenguh mengiyakan.

“Oh ya. Satu lagi,” kata Lily, saat ia hampir menuruni tangga. “Mukamu pucat, Julie. Kau sakit?”

Julie memutar bola matanya.

“Iya. Sakit jiwa,” kata Julie dengan datar. “Oke, Mom? Ada lagi?”

Lily tertawa. “Tidak. Itu saja.”

Julie menutup pintunya. Ia berjalan kembali menuju ranjangnya, lalu menyeret tas sekolahnya. Ia membuka tas itu, mengeluarkan isinya satu per satu, termasuk buku catatan yang ia kerjakan tadi bersama dengan Richard.

Ia membuka-buka isinya. Matanya berkunang-kunang melihat tulisan berbahasa Prancis karangannya sendiri. Kepalanya tambah sakit membayangkan masih ada satu halaman cerpen lagi yang harus diselesaikannya.

Ia menghela napas.

Tugas itu seharusnya bisa selesai hari ini dan hidupnya seharusnya sudah tentram sekarang. Ia tidak tahu bagaimana nanti ia bisa menyelesaikan cerpen Prancisnya tanpa kehadiran Richard, tapi ia sedang tidak ingin memikirkan anak laki-laki itu sekarang.

Julie membongkar isi tasnya lagi untuk mencari hal-hal lain yang lebih menarik.

Ia melihat map plastik merah yang tadi siang dikembalikan Jerry padanya. Ia segera meraih map itu dan mengeluarkan tumpukan kertas artikel yang ditulisnya, yang tidak jadi dimasukkan ke dalam proposal proyek Majalah Sekolah.

Salah satunya, sangat menarik sebenarnya. Tulisan Julie yang berjudul “Kenapa Seragam Nimberland Berwarna Merah Tua Kotak-Kotak Hitam?”

Julie berencana akan membuat versi pendek dari artikel ini, untuk bahan tulisan koran sekolah dua minggu ke depan.

Selanjutnya adalah tulisannya tentang orang-orang berprestasi di Nimberland. Tulisan ini sudah pernah dibuat oleh redaksi Majalah Sekolah yang dikelola oleh guru-guru, namun majalah itu belum memasukkan daftar nama baru, misalnya seperti kemenangan Tim A dan Tim B di kota Heinswell. Julie menulis tentang Lucy, yang waktu itu ia kirim via e-mail, tapi Jerry justru mengembalikan artikelnya tentang Clara Snyder.

Julie melihat ada satu koran sekolah yang terselip di dalam mapnya, kemungkinan koran sekolah edisi minggu lalu namun Julie tak tahu kenapa Jerry meletakkannya di situ. Julie mengambil koran itu dan menyadari kalau itu adalah edisi koran sekolah yang memuat artikel wawancara kemenangan catur Richard yang pernah ditulisnya dulu.

Koran yang sempat menjadi sumber malapetaka baginya selama beberapa minggu.

Ia pun memeriksa halaman itu untuk memastikan apakah koran ini adalah versi asli, atau justru versi revisi yang telah dicetak ulang oleh Jerry tanpa puisi Richard di dalamnya. Ia membuka halaman koran itu dengan tangan gemetar.

Julie menahan napasnya.

Puisi itu ada di sana.

By the name of July, the summer of love

Ini pertama kalinya, sejak terakhir kali Julie melihat kalimat itu di kafetaria beberapa bulan yang lalu. Dan beberapa hari sebelumnya, saat Richard menuliskannya tepat di sampingnya.

Julie melihat ke bagian atas.

Wajah Richard bertengger manis di bagian atas koran itu. Keindahan yang sama yang mengusik ujung matanya setiap kali ia menjumpai anak laki-laki itu, walaupun ia tidak pernah mau melihat ke arah sana. Lesung pipitnya yang melekuk dan bibir tipisnya yang seperti gulali.

Matanya yang teduh itu sedang memandangnya.

as flowers bloomed, danced with flying fluff

deliciated on the beauty, who would rise in might

as the rich art loved light in the middle of the night

Julie terdiam mematung.

Ia membaca tulisan itu sekali lagi.

as the rich art

“Rich-art?” gumamnya.

–loved light

“Light?”

as the rich art loved light in the middle of the night

“Richard–,” gumamnya pelan. “–menyukai Light.”

Julie merasakan sesak lagi di dadanya, kali ini benar-benar sakit. Matanya yang berair dan air matanya meleleh menyakitkan.

“Bodoh, apa yang kupikirkan?” kata Julie sambil mengusap air matanya.

Ia tertidur untuk menghilangkan sakit di kepalanya.

 

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

35 thoughts on “15. Ancaman (5)

    • Ini tulisan penutup bab 15 πŸ™‚
      Tadinya mau aku pindahin ke bab 16, tapi akhirnya aku taruh di akhir bab 15 aja… πŸ˜€

  1. Cerita’a gantung jadi bikin penasaran banget.

    Lanjutin ceritanya jngan lama” ya kak udah penasaran bnget nih sama kelanjutannya πŸ˜€

  2. Ternyata richard nulis perasaannya di puisi o.0
    Penasaran sama reaksi julie selanjutnya >_<
    Semoga sesuai dngan harapanku..

    Ditunggu next selanjutnya kak ^-^

  3. klo apa yg diprediksi julie itu bnr, brarti richard itu jenius. eh salah…mskdnya kakak yg jenius… aku suka!!! well..selalu ditunggu kelanjutannya^^

  4. Ping-balik: Catatan Penulis (47) | Friday's Spot

  5. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  6. ihiw aku suka penulisan yang kayak gini, kayak novel terjemahan. blog ini bisa jadi tambahan bahan bacaan aku sih hehehe, salam kenal ka, aku pengunjuang baru blog ini

  7. As the rich art loved loght in the middle of the night, ah julie kenapa baru sekarang ! The unbeatable akan segera runtuh.. Tapi sayangnya richard udah jadi pacarnya cathy dan tahu sendirikan cathy itu sikapnya gimana ! Ditunggu kelanjutannya , oiya julie light ulang thunnya 11 juli kan ?

    • Yup! Komen kamu bikin aku terinspirasi posting update terbaru di tanggal ulang tahun Julie.. πŸ˜€
      Sudah muncul, yaa Syifa! Selamat membaca! πŸ˜‰

  8. ungkapin lewat puisi .. so sweeet banget,,
    gak sabar nunggu kelanjutanya. tapi sepertinya richard jd bener2 suka sama cathy.

  9. Kereeeeen ,,,, 4 jempol buat kaka, maaf 2 nya lagi jempol kaki, oh ya ka, ak ngedkung bgt si richard itu suka ama juliiie, smoga bgian ending nya si julie bisa jadi pacar Richard nnti, dan Chaty nyadar dngn kelakuannya yg kekanak2an yg g punya prasaan,,,, Good Job Ka smoga cepet dibukukan soalnya critanya seru bgt

  10. Ping-balik: 15. Ancaman (4) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s