15. Ancaman (4)

Comments 18 Standar

sick-people-clip-art-free-138578

“Jadi, apa yang terjadi pada Anne Matilda yang pergi membeli telur?” tanya Richard.

Mereka terlalu asyik mengobrol hal-hal yang sangat tidak penting, sampai-sampai Julie lupa kalau cerpen yang sudah mereka terjemahkan baru sampai pada bagian Anne Matilda yang masih memilih telur di keranjang telur di pasar.

Tugasnya masih belum selesai.

“Dia tidak jadi membeli telur,” jawab Julie ringan. “Ia membeli barang yang lain. Saat ibunya mengetahui tidak ada telur di plastik belanjaannya, ia dimarahi ibunya.”

Richard mengernyitkan keningnya.

“Kenapa?”

Julie menyengir lebar seperti koala.

“Kau masih ingat kata-katanya ibu Anne waktu memberikan uang padanya di rumah?” kata Julie. Ia menutup bukunya cepat-cepat, berpura-pura menguji ingatan Richard akan tulisannya tadi. “Belikan selusin telur. Jika harganya kurang dari lima dolar–?”

“–belikan sekotak susu,” sambung Richard mantap.

“Tepat.” Julie menyengir. “Nah, Richard. Tebak apa yang dibeli Anne kecil?”

Richard terdiam sebentar. Ia menahan senyumnya. “Hanya sekotak susu.”

Mereka berdua tertawa.

“Seharusnya Anne kecil membeli selusin telur dan sekotak susu, namun pada akhirnya ia hanya membeli sekotak susu saja,” jelas Richard. “Permainan kata. Pintar.”

Julie mengangguk senang.

“Harga telurnya empat dolar,” kata Julie sambil menyengir. “Kalau harganya kurang dari lima dolar, kata ibunya tolong belikan sekotak susu, kan? Sesuai permintaan ibunya, Anne kecil membeli sekotak susu.”

Richard tersenyum.

“Menurutmu, apakah Anne melakukan kesalahan?” tanya Julie.

Anak laki-laki itu menggeleng.

“Tidak. Kurasa Anne adalah anak yang cukup cerdas di usianya. Hanya saja, ibunya perlu memberikan instruksi yang lebih jelas padanya.”

Julie bergidik kesal.

“Nah. Kalau begitu,” timpal Julie tidak terima. “Kenapa ibuku memarahiku?”

Richard terlihat kebingungan. “Ibumu?”

Julie terdiam sebentar. Ini seharusnya cerita tentang Anne Matilda, Si Gadis Kecil yang Periang. Bukan curhat tentang kehidupannya sehari-hari. “Eh, maksudnya–ibunya.”

“Apakah ini kisah nyata?” kata Richard. Ia tersenyum. “Kau dan ibumu.”

Julie nyengir cengengesan. Organ-organ tubuhnya mulai membuatnya terlihat tolol.

“Nguik, ar, yeah,” gumamnya.

Julie tak tahu kalimat apa lagi yang dikeluarkannya, karena entah kenapa setelah itu ia mendengar Richard terpingkal-pingkal. Ia hanya ingat monyet-monyet Jumanji sedang bergelantungan di syaraf-syaraf otaknya, menghilangkan semua kewarasannya.

“Kau lucu, Julie,” kata Richard, berusaha keras menahan tawanya.

Bibirnya yang melekuk itu terlihat sangat menawan saat anak laki-laki itu menarik garis bibirnya hingga ke pipinya yang putih dan bercahaya. Matanya yang biru berkilau seperti permata yang bertengger di wajahnya yang tampan, seperti ukiran indah yang sempurna dari Tuhan.

Senyuman itu adalah yang paling manis yang pernah dilihat Julie.

“Uh,” gumam Julie.

Julie menggeser pantatnya. Kursi ini terasa gatal, sempit, dan panas. Ia lalu mengambil kentang goreng terakhir yang ada di atas piring dan memasukkannya ke mulutnya.

“Julie. Apa kau mau memesan lagi?” tanya Richard.

“Eh, tidak,” kata Julie kikuk. Ia sama sekali lupa kalau tadi ia sempat ingin memesan sirloin steak di awal perjumpaan mereka.

Ia membolak-balik buku catatannya. Cerpen yang sudah dikerjakannya baru selesai satu lembar.

“Apa menurutmu aku bisa melakukannya, Richard?” tanya Julie tidak yakin. “Ini baru satu lembar. Kalau ceritanya sudah selesai dan ternyata kurang dari tiga lembar, apa yang harus kulakukan?”

Richard memperhatikan ke belakang, seperti mencari sesuatu, namun tidak menemukannya. Ia terdiam sebentar. Ia terlihat ragu-ragu, namun akhirnya memutuskan untuk tidak mengabaikannya.

“Kau bisa menambah panjang tulisan di bagian deskripsinya, Julie,” kata Richard kemudian. “Misalnya, menambah detail dengan warna mata, warna rambut, atau bentuk rambutnya. Kira-kira seperti apa bentuk rambut Anne?”

Julie berpikir sejenak. “Lurus panjang.”

“Warna rambutnya?” tanya Richard.

“Umm. Coklat,” gumam Julie.

“Dan matanya?”

“Biru indah. Seperti matamu.”

Julie tidak mengerti kenapa ia mengucapkan itu. Ia memutar bola matanya, menyadari betapa konyolnya kalimat yang ia ucapkan barusan.

Richard terbatuk salah tingkah.

“Yah, kira-kira seperti itu,” kata Richard sambil mengeraskan wajahnya. Ia berusaha untuk bersikap senormal mungkin, meskipun ucapan Julie barusan membuatnya sangat geer. “Jadi, apa kau ingin meneruskannya lagi, Julie?”

Julie mengangguk. “Iya.”

Julie mengambil penanya lagi dan menggigit ujung penanya dengan bibir. Ia tidak dapat berkonsentrasi, entah kenapa. Ia melirik ke arah Richard, yang ternyata sedang memandang ke arah belakang, seperti mencari sesuatu.

“Kenapa kau selalu melihat ke belakang?” tanya Julie.

Richard memandangi Julie sambil mengerutkan keningnya. Ia tidak berkata apa-apa selama beberapa saat, namun beberapa waktu berikutnya kembali melihat ke belakang. Tak lama kemudian ia memutar tubuhnya.

“Kau ingat gadis pelayan yang kemarin sore bertengkar dengan Cathy, Julie?” tanya Richard. Ia masih melihat sekeliling. “Gadis itu tidak ada di sini hari ini.”

Julie berdehem karena tenggorokannya kering dan gatal. Ia lalu menyeruput jus cranberry-nya yang tersisa tinggal sedikit, lalu meluruskan punggungnya. Julie memainkan cuping hidungnya dengan kedua telunjuknya dengan sungguh-sungguh, seolah-olah hal itu adalah hal paling penting yang perlu dilakukannya di dunia ini.

“Mungkin dia berhenti,” celotehnya sambil kumur-kumur.

“Berhenti?”

Saat Richard menatapnya, Julie tak dapat menggerakkan mulutnya. Rahangnya mengeras seperti batu, dan lidahnya menghilang. Ia lagi-lagi tak mengerti kenapa tubuhnya selalu berperilaku tidak normal, tapi setidaknya lebih baik seperti ini daripada ia mulai mengucapkan kalimat-kalimat yang aneh.

“Kemarin Cathy terlihat sangat marah,” kata Richard. “Aku tidak menyangka kalau pertengkarannya dengan gadis pelayan itu benar-benar mengganggu pikirannya. Sejak kejadian sore itu, suasana hatinya terus memburuk. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku sangat bingung.”

Richard bertanya apakah pelayan itu benar-benar telah menyakiti hati Cathy, atau apakah mereka berdua pernah saling bertemu di tempat lain. Richard berharap ia dapat melakukan sesuatu, tapi ia juga bertanya dengan sopan apakah ini ada hubungannya dengan siklus bulanan Cathy.

Julie baru ingat kalau dia mau membicarakan tentang Emma pada Richard.

“Kurasa karena Emma,” kata Julie.

“Emma?” tanya Richard.

Dan akhirnya mereka membicarakan tentang Emma. Julie menceritakan sejak pertama kali mereka bertemu dengan Emma, bagaimana gadis itu dan gengnya mengancam Cathy karena mendekati Jake, bagaimana ancaman itu menghilang ketika Emma pindah ke luar negeri, dan sekarang ancaman itu kembali menghantui Cathy dan teman-temannya setelah mereka mengetahui kalau Emma telah pulang lagi ke Nimberland.

Jawaban dari Richard cukup mengejutkan.

“Aku sudah tahu dari Kayla,” kata Richard.

“Apa?” kata Julie sambil melotot.

Persis dugaan Julie, ternyata Kayla sudah melakukannya. Satu-satunya alasan kenapa Julie akhirnya bersedia mengobrol dengan Richard hari ini adalah karena Jessie tidak henti-hentinya merengek memohon padanya, memastikan kalau di dunia ini hanya Julie seorang yang mampu berbicara pada Richard.

Rasanya ia ingin mencincang gadis itu dan membuat steak daging Jessie.

“Dan–” kata Julie, berusaha untuk terlihat normal. “Apa saja yang sudah Kayla katakan?”

“Tidak banyak, hanya sepintas. Itulah sebabnya aku lebih mengira kalau Cathy berubah karena gadis pelayan itu–bukan karena Emma. Itu lebih masuk akal dan lebih jelas terlihat,” kata Richard. “Apalagi Cathy tidak pernah menceritakan tentang Emma sama sekali. Aku mungkin tidak tahu jika kau dan Kayla tidak menceritakannya padaku.”

Julie mengangguk setuju.

Yeah,” gumam Julie. “Dia memang tidak pernah mau membahas Emma. Aku juga tidak tahu kenapa.”

Richard terlihat khawatir.

“Emma Huygen memiliki reputasi yang sangat baik di sekolah. Ia gadis yang sangat cerdas dan sangat dihormati,” kata Richard. “Aku memang pernah mendengar desas-desus tentang perlakuannya yang buruk pada junior-junior perempuan. Tapi tak ada satupun dari tuduhan itu yang benar-benar terbukti. Jika apa yang kau dan Kayla katakan itu memang benar, berarti ia bisa menyembunyikannya dengan sangat baik.”

“Di sisi lain, Cathy memiliki sisi emosional yang kurang terkontrol. Jika Emma Huygen dan teman-temannya memang mengganggunya dan kalaupun Cathy bersedia menceritakannya, masih ada kemungkinan para guru tidak akan mempercayainya dan lebih memilih mempercayai Emma, murid kesayangan mereka.”

Richard menatap Julie dengan lembut.

“Aku akan mencoba mencari cara untuk melindunginya,” kata Richard sambil tersenyum. “Jangan khawatir.”

Suara Richard yang merdu membuat Julie merasakan ketulusan yang terpancar dari kata-katanya yang menenangkan. Matanya yang biru itu tidak lagi menghujam jantungnya, mata itu sangat meneduhkan.

“Kau sangat mencintainya, ya Richard?” kata Julie.

Richard memandang Julie sesaat. Ia menahan napasnya, membuang mukanya.

“Iya,” kata Richard pelan.

Julie biasanya tak pernah mau ikut campur. Namun ada sesuatu yang terjadi hari ini yang membuatnya ingin menyampaikannya pada Richard. Ia juga tak tahu apa.

“Apa yang kau sukai darinya?” kata Julie.

Richard terlihat bingung. Ia sama sekali tidak menyangka akan ditanya hal seperti ini. Ia mencoba membayangkan hal-hal baik dari Cathy yang menarik perhatiannya.

“Dia sangat ceria,” kata Richard. “Penuh dengan drama. Tapi kukira justru di situlah daya tariknya. Ia masih kekanak-kanakan, namun keceriaannya menyatukan semua orang.”

“Kau benar,” kata Julie. “Ke-telenovela-annya menyatukan semua orang, untuk mencakar mukanya.”

Mereka tertawa.

“Di luar dari apa yang disadarinya, gadis itu sebenarnya memiliki kualitas yang sangat baik dalam memilih pertemanan. Aku bisa melihatnya dari bagaimana ia memilih kalian sebagai teman-temannya,” kata Richard. “Ia saat ini mungkin masih belum bisa bersikap dewasa, tapi aku yakin ia adalah gadis yang berhati baik.”

Julie terdiam sebentar.

“Dan Cathy juga sangat cantik, kan?” kata Julie.

Richard mengangguk.

“Ya. Dia sangat cantik.”

“Kalian sangat serasi,” kata Julie.

Julie ingat betapa pertama kali ia bertemu dengan Cathy, ia merasa amat yakin kalau gadis cantik itu akan berjodoh dengan Richard yang amat tampan. Mereka berdua seperti seorang putri dan pangeran di negeri dongeng yang saling menyayangi dan sudah selayaknya hidup bahagia selama-lamanya.

Selama berbulan-bulan Cathy menghabiskan waktunya di kafetaria untuk membicarakan tentang Richard. Menatap wajahnya yang bersinar setiap ada kesempatan. Selalu berharap semoga ada keajaiban yang datang dan Sang Pangeran yang ditunggu itu akan menghampiri hidupnya, mengisi hari-harinya, Sang Malaikat Pelindungnya.

Dan harapannya itu sekarang menjadi kenyataan.

“Dia menyukaimu, dan.. kau–” Bibir Julie bergetar.

“–menyukainya.”

Julie merasakan perasaan yang tidak nyaman itu lagi. Dadanya sakit.

“Ia selalu bersemangat tiap kali menceritakan tentang hari-harinya bersama denganmu. Ia selalu dapat melihat senyummu yang indah, suaramu, dia sangat—”

Tubuhnya selama ini sudah terlalu sering berbuat aneh, tapi kali ini keanehan yang terjadi lebih buruk dari biasanya. Matanya perih dan kepalanya sangat sakit. Dadanya juga terasa sangat sakit, seperti ditekan-tekan. Napasnya pendek dan sangat sesak. Ia tidak mengerti kenapa.

“Menyukaimu.”

Sekarang perutnya terasa sakit dan kepalanya semakin pusing. Matanya perih dan panas. Jantungnya berdetak tidak karuan. Ia sesak napas. Ia tidak mengerti. Ini benar-benar aneh.

“Aku akan melakukan apapun untuk menolongnya, Julie,” kata Richard sambil menatap lembut. “Aku berjanji.”

Entah kenapa, Julie tidak ingin melihat wajah itu lebih lama lagi.

“Kau tahu? Aku,” kata Julie tiba-tiba. “Aku harus pulang sekarang.”

“Kenapa?” Richard tercenung.

“Karena—umm, ah, begini,” ceracau Julie tidak jelas. Tubuhnya bergerak sendiri di luar kemauannya. “Aku sakit perut. Perutku sangat mulas, sangat, sangat, sangat mulas. Kupikir aku akan buang air besar di celana. Ini dia, aduh, aduh, sudah di ujung celana.”

Julie menggeliat seperti cacing.

“Kau ingin aku antar?” kata Richard panik.

Julie menggeleng cepat. Ia hampir saja terjatuh karena kakinya masih tersangkut kaki meja saat ia ingin berjalan keluar.

“JULIE!”

Richard menangkap tangan Julie sebelum gadis itu terjatuh. Tangan Richard yang dingin membuat Julie menggigil. Ia semakin salah tingkah.

“Biarkan aku mengantarmu, Julie,” pinta Richard.

“Tidak, tidak!” potong Julie. “Richard, dengar. Aku sebentar lagi akan kentut dashyat. Dan mungkin akan berak di celana. Dan rumahku dekat. Dan aku akan berlari dari sini ke rumah. Mudah-mudahan tidak ada yang tercecer di jalanan.”

Ia bergerak kikuk dan mengeluarkan beberapa dolar uang dari sakunya, meletakkannya di meja. Ia memasukkan segala alat tulisnya ke dalam tas, dan ia pun berlari terbirit-birit meninggalkan Richard yang masih kebingungan.

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

18 thoughts on “15. Ancaman (4)

  1. di bagian akhirnya…. semoga itu tidak membuat rich illfeel, -_-”
    tapi ceritany seru…. ^_^ sungguh menarik 😀

  2. di awal udah seneng gegara Julie bikin Richard ge er, eh taunya di akhir cerita julie bikin ngakak.
    😀
    btw kok lama banget update nya. tetep semangat nulis ya.

  3. Ceritanya makin seru abiss. dan semoga sih Richard gak ilfeel sama Julie haha
    Jangan lama” ya kak kelanjutan’a 🙂

  4. Nyesek abis tuuuhh.. 😥 tapi julie gokil yah 🙂 haha.. kelanjutannya jangan lama2 yak kak … kepo nihh … 🙂

  5. julie lucu banget yah? cerpen gokil yg dibuatnya ternyata berdasarkan pengalaman pribadi. wkwk. trus julie blak blakan banget, kayak ga punya malu ngomongin hal yg bisa bikin ilfeel. tapi itu malah bikin karakter julie unik.
    semangat yah authornya ceritanya keren. semoga julie cepet nyadar kalo richard suka sama dia. begitu juga sebaliknya

  6. Endinggnya keren bin gokil , cuma Richard knapa kmu gak jujur dari awal .. 😦 ditunggu lanjutannya kak 🙂 jangan lama**

  7. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  8. Ping-balik: 15. Ancaman (3) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s