15. Ancaman (3)

Comments 22 Standar

0511-0902-0611-3545_Boy_Giving_a_Girl_a_Valentine_clipart_image

Julie harus datang tiga puluh menit lebih cepat, dan berlari sekencang rusa, karena ia benar-benar lupa satu hal.

Pelayan Steak~Stack yang bertengkar dengan Cathy kemarin hampir saja mengenalinya! Dan entah kebodohan apa yang merasuki otaknya tadi siang, ia justru memilih tempat itu lagi sebagai tempat pertemuan mereka. Ia tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau gadis pelayan itu melihatnya berdua lagi dengan Richard di sana.

“Apa yang kupikirkan?” gerutunya, merasa kesal dengan kebodohannya sendiri.

Julie bergegas ke bagian belakang kedai tempat kebanyakan para pelayan berkumpul. Tanpa perencanaan sama sekali, ia langsung menemui siapa pun pelayan yang ada di depannya satu persatu, dan menanyakan pada mereka apakah gadis pelayan itu masih ada di sana.

Setidaknya, ia harus memanfaatkan kewarasannya yang masih tersisa, sebelum anggota-anggota tubuhnya yang tidak bisa diandalkan itu memulai aksi-aksi lain yang tidak diharapkan.

Untung saja ia bisa menyadarinya, sebelum terlambat.

“Ah, Sarah? Dia sudah berhenti,” kata seorang wanita yang agak tua. Wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai Mrs.Marie, kepala pelayan yang merangkap sebagai kepala koki di dapur restoran.

“Sungguh kebetulan kemarin adalah hari terakhir ia bekerja di sini. Kau ada perlu apa dengannya, Nak?”

Julie mendesah luar biasa lega, sampai-sampai ia yakin suara napasnya itu terdengar jauh sampai ke komplek tetangga.

“Oh–tidak, Mrs.Marie. Tidak ada apa-apa,” kata Julie sambil menyengir. “Terima kasih banyak.”

Dalam sekejap, suasana di kedai itu terasa berbeda, sunyi dan familiar. Kehadiran seorang anak laki-laki yang berkulit pualam di pintu depan langsung menarik perhatian semua orang, saat ia membuka pintu dan melangkahkan kakinya ke lantai dengan gerakannya yang anggun dan berkelas. Anak laki-laki itu menoleh sekeliling, lalu berjalan perlahan menelusuri ruangan yang penuh dengan meja-meja beraneka bentuk itu.

Mrs.Marie melihat kulit putihnya yang bersih dan aura tampannya yang bercahaya. Wanita tua itu ternyata mengenali Richard.

“Lihat! Itu anak tampan yang kemarin,” kata Mrs.Marie, menunjuk ke arah Richard. Julie menoleh, tidak siap. “Tampan, bukan? Dia baru beberapa kali datang ke sini. Tapi sama sekali tak sulit mengingat wajahnya. Dan kau tahu, Nak? Restoran ini selalu ramai setiap kali anak laki-laki itu datang.”

Wanita itu tersipu-sipu.

“Sarah sangat suka dengan anak laki-laki itu. Dia bilang anak itu sangat sopan dan tampan! Dia tak henti-hentinya membicarakan tentang anak laki-laki itu kemarin,” lanjutnya. “Tapi gadis sombong yang bersama dengannya kemarin benar-benar kasar! Pacarnya, eh?”

Mrs.Marie mengelap tangannya yang basah dan mengusap-usap wajahnya dengan nada bersemangat.

“Anak laki-laki itu dulu juga pernah datang ke sini dengan gadis yang lain–gadis yang satu lagi. Kata Sarah, gadis yang satu lagi itu jauh lebih baik dan ramah. Entah berapa kali ia mengatakannya,” kata Mrs.Marie. “Ah! Sarah pasti senang sekali kalau tahu anak laki-laki itu datang ke sini lagi! Aku harus memberitahunya nanti.”

Richard melihat Julie. Ia tersenyum sambil melambaikan tangan, lalu berjalan ke arahnya. Julie tiba-tiba panik, membuka tangannya cepat-cepat, memberikan sinyal padanya untuk tidak mendekat, sebelum anak laki-laki itu menjadi lebih dekat lagi dan mendengar pembicaraan mereka.

Mrs.Marie mengerutkan kening.

“Eh?” gumam Mrs.Marie heran. Ia menatap Julie lama, dengan wajah curiga. Matanya lalu bermain nakal. “Aaah. Aku tahu sekarang. Jangan-jangan kau gadis satunya lagi itu. Aku benar, kan?”

Julie tertawa masam. Ini bukan saatnya untuk ketahuan. “Eh, tidak. Aku–”

“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Kau gadis yang baik,” lanjut Mrs.Marie. Ia tersenyum menggoda. “Dan kau tahu? Kau sangat manis.”

Hidung Julie kembang-kempis karena mendengar pujian ini. Dan wajahnya akan memerah seperti tomat.

“Ehm. Begini, Mrs.Marie,” kata Julie tegar, berusaha menormalkan kewarasannya. “Sebenarnya hari ini aku harus mengerjakan PR-ku. Dan seperti yang Anda bilang tadi, semua gadis di sekolahku suka padanya. Aku tidak bisa meminta bantuan padanya untuk mengajarkanku tanpa membuat teman-temanku menjadi gila. Kalau teman-temanku tahu, mereka bisa membunuhku.”

Julie melebarkan senyuman malaikatnya.

“Bisakah Anda membantuku merahasiakan ini?” kata Julie, dengan sedikit efek mata berbinar, seperti mata lugu si kucing Puss di film Shrek 2. “Kumohon?”

Wanita itu mengangguk santai dan tersenyum penuh arti.

“Baiklah.”

Julie bergegas menghampiri Richard, yang masih berdiri di samping kursi sambil menungguinya.

“Hai,” kata Richard. “Julie.”

Richard terlihat tampan dengan baju sekolahnya yang bermotif kotak-kotak maroon dan tas punggung hitam yang ia gantung di bahu kanannya. Tapi Julie tetap lebih suka saat anak laki-laki itu memakai baju Hawaii biru yang dibelikan Cathy untuknya.

“Hai,” kata Julie. “Kau tidak duduk?”

Ia merasakan sedikit keinginan di kakinya untuk mundur dan melarikan diri dari tempat itu. Tapi otak warasnya kembali bekerja dengan normal dan memerintahkan anggota-anggota tubuhnya untuk berperilaku wajar.

“Setelah kau, Julie,” kata Richard sopan. “Silakan duduk.”

Julie menyeret kursinya dan meletakkan pantatnya di atas kursi itu. Lututnya menabrak kaki meja. Ia mengaduh. Tiba-tiba ia teringat kalau di pertemuan pertamanya dengan Richard dulu di tempat ini, ia sempat kesulitan dengan meja dan kursi di kedai Steak~Stack. Mejanya sangat sempit, yang ternyata hanya ada di meja-meja di bagian belakang. Sekarang ia malah duduk di meja itu lagi.

Ia merasa benar-benar bodoh.

“Umm, Richard,” kata Julie, mengernyitkan hidungnya. “Bagaimana kalau kita pindah saja ke ruangan ber-AC yang kemarin? Aku lupa kalau di sini mejanya sempit.”

Richard menggeleng.

“Aku sudah melihatnya tadi, Julie,” kata Richard sambil menoleh. “Di sana sedang ramai.”

Julie melenguh karena tidak punya pilihan lain. Ia akhirnya terpaksa menjejalkan pantatnya di kursi yang sempit ini, dan berusaha sebisa mungkin mencari posisi yang lebih nyaman, meskipun posenya sekarang jadi meliuk-liuk aneh seperti cacing kepanasan.

Seandainya saja ia memilih Perky’s House tadi.

“Kau mau pesan apa, Julie?” tanya Richard. Julie terkesiap, karena meskipun lututnya sakit, tanpa sadar ia tengah menikmati suasana nostalgia yang terjadi waktu itu.

“Sama denganmu,” kata Julie. “Jus cranberry, kan?”

Julie terkikih dan Richard menyambutnya dengan sebuah senyuman manis. Lesung pipit di kedua pipinya memilin simpul seperti gulali.

Richard lalu bangkit dan menghampiri meja pemesanan yang terletak tak jauh di belakang mereka. Julie melirik sekilas, Mrs.Marie dan beberapa pelayan lain terlihat sedang melayani anak laki-laki itu dengan wajah antusias. Mereka tampak sangat senang.

Saat Richard kembali ke meja mereka, Julie sedang asyik merogoh sakunya, karena tadi sepulang sekolah Christie sempat mengembalikan beberapa dolar uangnya yang ia pinjam untuk membeli merchant Twilight dari si Nyentrik Gogly. Ada empat lembar uang 5 dolar dan beberapa penny di sakunya. Tampaknya masih cukup untuk membeli seporsi sirloin steak.

Mata Julie tertuju pada satu titik yang baru saja diingatnya. Richard ternyata juga menatap hal yang sama. Anak laki-laki itu mengambil inisiatif lebih dahulu. Ia mengulurkan tangannya dan meraih setoples cheese stick yang menjadi kesukaannya.

Cheese stick?” kata Richard, menawarkan. Ia membuka tutup toples itu dan menyodorkannya ke Julie.

Julie pura-pura tidak tertarik. Ia menatap gengsi, setelah itu ia langsung menyambar toples itu dengan membabi buta. Kemarin, ia hanya bisa memakan dua batang saja, dan itu rasanya menyakitkan. Ia segera mengembalikan toples itu lagi ke Richard, setelah mengambil segenggam penuh cheese stick sebagai bentuk balas dendam.

“Julie, aku ingin bertanya sesuatu,” kata Richard. Wajahnya terlihat serius. “Apa Jerry tahu kalau kau ada di sini bersamaku?”

Julie menatap Richard heran.

“Tentu saja tidak,” kata Julie sambil tertawa. “Kenapa juga aku harus memberitahunya?”

Richard tersenyum miring. “Barangkali.”

Sebenarnya, salah satu alasan kenapa Julie bisa membuat janji dengan Richard sore ini adalah karena tidak ada kegiatan di klub koran sekolah mereka sore itu. Itulah sebabnya, Julie tidak perlu meminta izin Jerry seperti kemarin, dan tentu saja–ia tidak mungkin melakukannya. Pertemuannya dengan Richard hari ini adalah pertemuan rahasia, di mana tidak seorang pun yang seharusnya boleh tahu.

Apalagi Jerry.

Richard mengambil sebatang cheese stick dan mengunyahnya pelan. Ia masih ingin menanyakan satu hal lagi, yang sejak kemarin mengganggu pikirannya.

“Bagaimana hubunganmu dengannya?” tanya Richard, ragu-ragu. “Apa dia masih marah padamu?”

Julie melihat Richard dengan pandangan heran.

Pertanyaan semacam ini sebenarnya adalah pertanyaan yang selalu sulit ia jawab. Julie tidak pernah tahu soal perasaan manusia, sebaik Kayla dalam memahami orang-orang. Jessie bahkan menganggap kalau Julie adalah hasil kawin silang antara ‘Tin Man’–si manusia kaleng yang tidak bisa punya perasaan, dan ikan dori. Ia benar-benar bodoh, atau ia memang benar-benar bodoh.

Ia mengangkat pundaknya.

“Tadi siang Jerry masih berbicara padaku, tapi ia tidak menggubris artikel yang kukirimkan tadi malam,” sambung Julie. “Dan hari ini juga tidak ada kegiatan tambahan. Kata Emily, itu karena proyek Majalah Sekolah yang sedang digarapnya itu akhirnya dibatalkan. Itulah sebabnya, aku bebas tugas hari ini.”

Jerry siang itu memang tidak terlihat seriang biasanya, tapi Julie sulit menentukan apakah anak laki-laki itu sedang marah atau tidak. Anak laki-laki itu terlihat kesal, tapi masih ia sempat menceramahi Julie soal pentingnya masa depan. Kuping Julie saja masih panas dan gatal gara-gara mendengarkan ceramah Jerry yang panjang tadi siang.

“Kalau dipikir-pikir, Jerry memang tidak terlalu ramah hari ini,” kata Julie, mengingat kalau Jerry terus-terusan cemberut di ruangannya siang itu. “Tapi kurasa semuanya akan baik-baik saja nanti. Ya. Semuanya akan kembali seperti semula–kuharap begitu.”

Beberapa anggota klub merasa cukup senang karena mereka bisa terbebas dari tugas-tugas tambahan selama seminggu ini–tulisan-tulisan dari artikel proposal proyek yang gagal itu cukup banyak, sehingga mereka tak perlu menulis artikel lagi untuk koran sekolah edisi minggu depan. Tapi Julie merasa sedikit bersalah saat Jerry mengembalikan beberapa hard copy tulisannya yang tidak terpakai. Seandainya ia bisa mengerjakan artikel-artikel itu lebih cepat kemarin, mereka mungkin masih bisa mengusahakannya.

Entah kenapa, Julie merasa tidak enak hati.

Julie bertanya pada Richard, apakah sebaiknya ia tetap menemani Jerry di ruang klub koran sekolah, meskipun anak laki-laki itu sedang tidak ingin diganggu akhir-akhir ini. Jessie bilang sebaiknya dibiarkan saja seperti itu, tapi Cassandra malah menyarankannya untuk sering-sering ke sana.

“Entahlah,” kata Richard. Ia terdiam sejenak, menahan diri untuk tidak membahas lebih jauh soal itu.

Richard memalingkan mukanya sebentar, menarik napas, dan mengganti topik.

“Bagaimana dengan kelas Prancismu? Kudengar M.Wandolf sangat senang dengan kemajuanmu,” kata Richard sambil tersenyum.

Julie tertegun.

“Oh. Pafek, pafek–” kata Julie, sambil nyengir. Kata-kata itu benar-benar menggelikan untuknya. “Kupikir sebentar lagi aku akan mengajar bimbel kelas Prancis atau semacamnya.”

Richard tertawa.

“Aku senang saat M.Wandolf bilang bahasa Prancismu mengalami kemajuan yang pesat,” kata Richard puas. “Setidaknya latihan yang kita lakukan waktu itu ada gunanya.”

Julie mengangguk. Trik yang Richard ajarkan benar-benar membuatnya tertolong dalam tugas Prancis apa pun. Dan suara Richard yang merdu membantunya melenyapkan ketakutannya pada bahasa yang mengerikan itu. Untuk pertama kalinya, Bahasa Prancis, ternyata bisa tidak berdengung seperti suara alien yang berkomunikasi dengan NASA.

Tapi tidak berarti semua yang dikatakan M.Wandolf itu benar. Entah bagaimanapun caranya, Julie masih merasa Bahasa Prancis adalah pelajaran tersulit di dunia, ia masih bingung dengan grammar-grammarnya. Semuanya serba membingungkan! Itulah sebabnya ia benar-benar butuh bantuan untuk menyelesaikan tugas ini.

Richard menahan senyumnya dari tadi. Julie menyadari ada yang aneh dari sikap ganjilnya barusan.

“Kenapa senyum-senyum?”

Richard gelagapan, salah tingkah. “Tidak apa-apa.”

Julie mendelik.

“Caramu mengucapkannya sangat–unik,” kata Richard, memilih kata yang baik. Ia masih mengulum senyumnya. “Ya. Unik.”

Julie memotong realistis.

“Maksudmu—aneh?”

Mereka tertawa.

Yeah, yeah. Aku tahu, aku tahu,” kata Julie. “Tidak perlu menghibur hatiku.”

Mereka berdua sekarang sudah terlihat lebih rileks daripada sebelumnya. Julie pun tidak lagi merasakan hawa dingin kaku yang tadi mengikat di kakinya. Entah kenapa, kesopanan yang khas dari anak laki-laki itu selalu membuat Julie terpancing untuk mengeluarkan kalimat-kalimat aneh yang tidak wajar.

Kebiasaan Richard yang selalu berlaku sopan sebenarnya adalah kebalikan dari apa yang Jessie biasanya lakukan padanya. Julie cukup terkesan dengan cara anak laki-laki ini berkata lembut dan sopan untuk sesuatu yang biasanya ia dengar dengan ledekan dan tertawaan dari teman-temannya. Jessie bahkan tak sungkan-sungkan mengatakannya Sapi Cadel.

Parfait,” kata Richard. “Cobalah sekali lagi.”

Julie terlihat bingung.

Parfait,” kata Richard.

“Pafek.”

Parfait.”

“Pafek.”

Par—” kata Richard perlahan. Julie mengikutinya pelan-pelan. “—fait.”

Parfait,” kata Julie.

“Bagus,” kata Richard senang. “Bon.”

Julie biasanya akan mendesah frustrasi tiap kali melakukan ini, tapi kali ini ia tidak merasakan tekanan buruk yang mengecilkan volume otaknya menjadi seukuran kuman. Richard terdengar seperti M.Wandolf, namun dengan suara yang lebih merdu, dan wajah yang lebih tampan.

“Kau murid yang pintar,” kata Richard.

Julie tertawa keras mendengar kata-kata barusan. “Jangan bercanda, Richard. Aku lebih bodoh dari ikan dori.”

Sekarang mengingat-ingat kenyataan tentang kemampuan intelektualnya yang menyedihkan, Julie merasa ingin komplain dengan seluruh tugas Prancis aneh yang diberikan padanya.

“Richard. Ini tidak masuk akal. Benar-benar tidak masuk akal,” kata Julie. “Kenapa M.Wandolf menugaskan cerpen padaku? KENAPA?”

Julie menghela napas seperti unta. Ia tahu kalau mengeluhkan tugasnya berkali-kali tidak akan membuat keadaan berubah. Ia hanya berharap semoga begitu. Dilihat dari logika manapun, sangat tidak masuk akal jika seorang guru Prancis memerintahkan murid yang sangat bodoh seperti dirinya, mengerjakan sebuah tugas yang sangat sulit, yang bahkan tidak pernah dikerjakan oleh siapapun.

Seharusnya M.Wandolf menugaskan tugas ini pada murid-murid yang lebih pintar.

Richard tersenyum.

“Trik psikologi, Julie,” kata Richard. “Dengan memberikanmu tugas yang sangat susah, alam bawah sadarmu akan mulai terbiasa dengan tingkat kesulitan itu dan mulai menganggap kalau tugas-tugas yang lain menjadi lebih mudah.”

Julie tercengang.

“Maksudnya?”

“Tugas yang sulit akan membuatmu merasa terbiasa dengan tugas yang lebih mudah. M.Wandolf sengaja memberikanmu tugas yang sulit, sehingga kau akan menganggap tugas-tugas yang normal yang biasanya ia berikan di kelas terlihat lebih mudah.”

Richard meneruskan penjelasannya dengan gaya yang menarik. Matanya terlihat sangat hidup dan kharismatik, dengan pembawaan yang cerdas dan bertenaga. Sesuatu yang tidak pernah Julie lihat dari Richard sebelumnya.

“Alam bawah sadarmu akan mulai terbiasa dengan tingkat kesulitan yang sulit, sehingga tidak merasa terbebani lagi dengan tugas yang lebih mudah,” kata Richard. “Sekarang aku bertanya padamu. Apakah kau ingin diberikan tugas yang lebih normal?”

“Ya,” kata Julie. “Tentu saja, Richard. Itu hal yang paling kuinginkan dalam hidupku.”

Richard tersenyum.

“Nah. Jadi kau menginginkan tugas Prancis normal, Julie? Aku berani bertaruh, padahal dulu kau bahkan sangat tidak ingin tugas Prancis APA PUN,” kata Richard. “Benar, kan?”

Julie tertawa geli. Tebakan ini sangat benar dan tepat.

“Aku menyukai cara guru itu mengajar,” kata Richard. “Ia tahu benar bagaimana cara memanfaatkan trik psikologi untuk memotivasi murid-muridnya belajar.”

Julie tidak menyadarinya, tapi setelah diingat-ingat kembali, ia memang berusaha lebih keras sejak di Nimberland, karena alasan yang tidak bisa ia jelaskan. Mungkin Richard memang benar.

“Dan–menurutmu kenapa aku tetap melakukan tugas-tugas yang sulit itu?” tanya Julie. “Aku tak mengerti.”

Richard tersenyum.

“Afirmasi positif, Julie,” kata Richard. “Tidak hanya memberikanmu tugas sulit, tapi M.Wandolf juga membuatmu percaya kalau ia sangat percaya padamu. Ia percaya penuh pada kemampuanmu, sehingga kau akan merasa sangat bersalah ketika kau membuatnya kecewa. Ia akan membuatmu merasa kalau kau mampu, sehingga kau berusaha membuktikan kalau kau memang layak dipercaya. Sangat pintar, kupikir.”

“Wow,” kata Julie. Trik afirmasi dan trik-trik psikologi lainnya tiba-tiba menarik perhatiannya. “Jadi maksudmu, selama ini aku sudah dimanipulasi?”

Richard tersenyum.

“Ya,” kata Richard. “—dan tidak.”

Julie menatap Richard kebingungan.

“Trik afirmasi sangat tergantung pada kepribadian orang yang dituju. Kau adalah pribadi yang baik, Julie. Lugu. Kau selalu ingin menyenangkan orang lain, dan sangat sulit untuk berkata ‘tidak’, oleh karena itu memanipulasi pikiranmu sama sekali tidak susah.”

“Apa?” kata Julie, setengah tertawa. “Jadi, kau juga bisa memanipulasi pikiranku?”

Richard tersenyum geli.

“Tidak, Julie. Aku tidak bisa,” kata Richard. “Aku–”

Richard terdiam sesaat. Ia hampir saja akan mengatakan betapa terbaliknya kondisi itu antara ia dan Julie, tapi ia langsung menyadari kalau itu bukan keputusan yang bijaksana. Ia menarik napasnya. Ia segera membuka topik lain.

“Jadi, kau ingin menulis apa?” kata Richard.

“Cerpen,” kata Julie tanpa hasrat sama sekali. “Dalam bahasa Prancis. AAAAHH—”

Richard tersenyum. “Iya. Maksudku, Julie, apakah kau sudah memikirkan sesuatu untuk ditulis? Misalnya, jalan cerita untuk cerpen ini? Dalam bahasa Inggris saja, nanti aku akan membantumu menerjemahkannya.”

“Umm, apa ya?” gumam Julie. “Mungkin aku akan menulis cerpen tentang Jessie.”

“Jessie?” tanya Richard.

“Ya!” sahut Julie bersemangat. Tiba-tiba ia mendapatkan ide yang sangat bagus. “Jadi, ceritanya begini.”

Richard mendengarkan dengan seksama.

“Jessie adalah keturunan siluman ular berkepala naga,” kata Julie perlahan. “Ia tak pernah tahu asal-usulnya. Jessie tersesat di hutan. Di hutan itu, ia bertemu dengan kakek angkat Nick Si Manusia Lumba-Lumba, seekor monyet berkaki lima, berkepala sepuluh, berjari sebelas, bermata lim—”

Richard berusaha menahan tawanya.

“Apa?” tanya Julie, memasang tampang serius. “Aku serius, tahu.”

“Baiklah, maafkan aku,” kata Richard sungguh-sungguh. “Silakan teruskan.”

Julie menghela napasnya lagi, mencoba mengingat kembali jalan cerita yang tadi dipikirkannya.

“Kakek angkat monyet Nick bilang, ‘Tunggu dulu Nak Jessie.’ Jessie pun berbalik dan memperhatikannya dengan seksama. Suara kakek monyet itu sangat parau. ‘Kau adalah keturunan dari Yang Maha Agung Dewi SnaSna dan Dewa KeyKe. Dewa dari segala dewa Kobra.’ Jessie berkata, ‘Tidak! Aku tak percaya,’ dan kakek monyet Nick pun berkata, ‘Baiklah, untuk memulihkan ingatanmu itu, hai Jessie Yang Dimuliakan, kau akan kuberikan selembar—maksudku lima lembar bulu hidung Nick yang menjulur-julur. Dan kau akan—”

Richard tertawa lepas. Ia tidak bisa menahannya lagi.

Julie menatap Richard sekilas. Anak laki-laki itu biasanya tak pernah banyak bicara saat mereka bersama-sama dengan The Lady Witches di kafetaria. Tapi kali ini, ia bisa mendengar tawanya yang renyah. Entah kenapa, napasnya sekarang terasa sesak dan begitu sulit.

“Ahngk—”

Julie tidak sempat menyelesaikan ceracaunya. Napasnya kaku.

“Ya?” kata Richard.

Julie tersenyum salah tingkah. “Apa?”

Julie menelan ludahnya, tak tahu apa yang dia pikirkan beberapa detik tadi. Perasaan yang aneh dan sesak itu muncul lagi. Namun entah kenapa kali ini ia menikmatinya. Ada sesuatu yang membuatnya merasa sangat nyaman.

“Imajinasimu sangat tinggi, Julie,” kata Richard. “Kau baru saja mengarangnya?”

Julie menyengir. “Yeah. Begitulah.”

“Melebih dari apa yang kau percayai, sebenarnya kau lebih berbakat daripada yang kau kira, Julie,” kata Richard. “Kau hanya harus percaya pada dirimu sendiri.”

Julie tersanjung. Hidungnya kembang kempis karena geer.

“Apakah kau sedang mencoba memanipulasi pikiranku, Richard?” kata Julie. “Kalau iya, selamat. Aku sudah geer sekarang.”

Richard tertawa.

“Baiklah, kita mulai sekarang. Berapa banyak tulisan yang harus kau buat?” tanya Richard.

“Dua atau tiga halaman.”

“Tidak banyak, kukira delapan halaman,” kata Richard ringan. Julie mendelik, menatapnya melotot seperti burung kakatua. “Cukup membuat sebuah cerita sederhana akan membantumu menyelesaikan tugas ini, Julie. Kisah Jessie Si Manusia Ular kurasa terlalu sulit. Kau bisa membuat yang lebih sederhana lagi?”

Julie berpikir panjang. Padahal ia sudah yakin akan membuat cerita pendek dengan Jessie dan Nick sebagai tokoh utamanya, tapi Richard benar. Berhubung ini tugas Prancis—yang menjadikan tugas ini seratus kali lebih susah daripada seharusnya—Jessie juga bisa ngamuk-ngamuk kalau mendengar cerita ini di depan kelas.

“Bayangkan saja seperti membuat sebuah cerita anak-anak. Cerita yang sederhana,” kata Richard. “Cerita yang sederhana seperti Serigala dan Tiga Anak Babi, atau yang lebih sederhana lagi—Teletubbies kecil yang sedang belajar menyapu lantai.”

Julie tertawa. “Kau serius?”

Richard mengangkat pundaknya sambil tersenyum. “Terserah padamu, Julie. Ini kan ceritamu.”

Julie merenung sebentar. Ia menarik secarik kertas, mencoret-coret sesuatu, lalu memindahkannya ke buku catatan yang lebih besar.

Anne Matilda adalah seorang gadis kecil yang riang dan senang bekerja. Matanya bulat, bulu matanya lentik dan panjang. Anne baru berumur delapan tahun, namun ia sangat lincah bergerak ke sana ke mari. Anne kecil sangat senang mengerjakan sesuatu yang diperintahkan ibunya.

Suatu ketika, ibunya menyuruh Anne untuk membelikan selusin telur. Anne kecil pun segera bergegas. Ia bersiap-siap untuk berangkat. Anne menggunakan sepatu bot merahnya yang mengkilat dan topi bundar kesayangannya yang dibelikan ayahnya dari kota. Ia terlihat sangat cantik, seperti bidadari kecil yang turun dari surga.

Ibunya memberikan uang sepuluh dolar dan berkata, “Anne, ini adalah uang sepuluh dolar untukmu. Tolong belikan selusin telur. Jika harganya kurang dari lima dolar, maka belikan sekotak susu.”

Anne pun menerima uang itu dengan gembira.

Anne telah tiba di pasar. Ia

Julie berhenti menulis. Ia melihat Richard kini duduk di sampingnya.

“Kenapa berhenti, Julie?” tanya Richard.

Julie terdiam.

Wajah anak laki-laki itu terlihat sangat dekat. Matanya yang biru—sangat biru—terlihat indah seperti kilauan air di tengah samudera.

“Tidak.”

Julie menghela napasnya tidak beraturan. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi padanya saat ini.

Mrs.Marie datang menghampiri mereka dan membawa sebuah baki yang berisi dua jus cranberry dan sepiring kentang goreng.

“Halo Nak,” kata wanita itu dengan bersemangat. “Maaf menunggu lama. Ini pesanannya.”

Richard terlihat bingung.

“Maaf. Aku tidak memesan kentang goreng, Nyonya,” kata Richard. “Aku hanya memesan dua gelas jus cranberry.”

“Memang tidak. Ini bonus untukmu, anak tampan,” kata wanita itu sambil tersenyum. Mrs.Marie menurunkan gelas-gelas cranberry itu dan sepiring kentang goreng dari bakinya.

“Dan untuk gadis manis ini.”

Mrs.Marie mengedipkan matanya ke arah Julie. Julie menyeringai salah tingkah, merasa kepalanya meletus tiap kali wanita itu mengatakannya. Richard mengucapkan terima kasih dengan sopan dan mempersilakan Julie untuk makan. Wanita itu kini meninggalkan mereka berdua sambil tersenyum senang.

“Kau mengenalnya, Julie?” tanya Richard. “Aku melihatmu dengannya tadi di belakang. Tadi kalian membicarakan apa?”

“Oh, tidak,” kata Julie. “Hanya mengobrol saja. Ehm, jadi… Bisa kita lanjutkan dengan peerku?”

“Tentu,” kata Richard.

Julie menggenggam lagi penanya dan meraih buku catatan yang tadi sempat disingkirkannya saat Mrs.Marie menaruh minuman di atas meja.

“Bagaimana kalau kita langsung menerjemahkan tiga paragraf yang baru saja kutulis ini, Richard?” kata Julie. “Aku sangat penasaran. Nanti aku bisa mengarang lagi kelanjutannya.”

Richard tersenyum.

“Baiklah.”

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

22 thoughts on “15. Ancaman (3)

  1. Hahaha, padahal cuma obrolan-obrolan biasaa. Tapi aku ngerasa mereka romantis bangettt >.<
    aku jadi ngefans banget dengan sosok richard yang 'WAH'. Argh richarddd ~

  2. Ahh, manisnya kalian berdua…
    Aku senyum senyum sendiri baca nih cerita.
    Nggak rugi juga, udah nunggu lama lanjutannya.

    Nggak apa-apa eps selanjutnya bikin sakit lagi, pasti brhubungan dg cathy lagi kann? Yg penting di sini, aku udah tau kalau richard suka sm julie.

    Yang penting jangan lama lama ya kak…
    Klau blh tau usianya brapa ya?
    aku masih pantas nggak manggil kak, soalnya udh nikah + pnya si kecil 1, suka baca novel udh dr SMP, jd lanjutt smpai skrg, buat hiburan kl lg nggak ada kerjaan ╋╋뀕⌣•:D ╋╋뀕⌣•:D ╋╋ë€:D…

  3. iiiiiih manis banget kak :*…. jadi kepengen jadi Julie 😀 .. waaaahhaaha lanjutannya ditunggu ya kak :*

  4. Ping-balik: Catatan Penulis (46) | Friday's Spot

  5. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  6. Wahh akhir’a lanjutan’a keluar juga. semoga si Richard sama julie makin deket deh tanpa ketauan sih Cathy 🙂 bikin penasaran nih cerita’a. Kak lanjutan’a jngan lama” ya 🙂

  7. Ping-balik: 15. Ancaman (2) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s