15. Ancaman (2)

Comments 40 Standar

favoritism-clipart-school_boy_clipart_printsofjoy

Julie menggaruk-garuk kepalanya.

Ia tak mengerti kenapa sekarang dia yang jadi harus berbicara pada Richard tentang Emma, alih-alih teman-temannya yang lain. Apalagi mereka semua sekelas dengan Richard, yang menjadikan gagasan itu lebih baik, karena Julie tak pernah sekelas dengan anak laki-laki itu sama sekali, dan nyaris tak pernah bertemu dengannya, kecuali pada saat jam makan siang dan jika The Lady Witches, Nick, dan Richard pergi ke suatu tempat bersama-sama.

Selama ini, Julie juga nyaris tak pernah mengucapkan sepatah kata pun pada Richard, kecuali cengiran-cengiran yang tidak penting. Itu pun hanya supaya tidak kelihatan mencurigakan, karena sebagian besar waktunya dihabiskan untuk membuang mukanya dari anak laki-laki itu, dan menemukan hal-hal menarik di sekelilingnya yang bisa mengalihkan perhatiannya dari mata birunya yang menyilaukan.

Ya, mata birunya benar-benar menyilaukan.

Dan sekarang Julie ingat satu hal—bagaimana mungkin ia bisa menemui Richard tanpa ketahuan Cathy?

Julie mendengus bingung. Pertemuannya dengan Richard di Evergreen tiga hari yang lalu memang telah membuat suasana ganjil yang pernah terjadi di antara mereka menjadi berubah dan mencair, tapi itu tidak berarti itu menjadikan segalanya menjadi lebih mudah. Ia tidak pernah bisa mengerti kenapa ia selalu merasa kesulitan tiap kali berdekatan dengan Richard. Julie pun kemudian teringat kalau ia dulu pernah menjuluki anak laki-laki itu dengan dua julukan mutakhir yang tidak bisa dilupakannya—Anak Laki-Laki dari Neraka—dan Lampu Petromaks Perenggut Cahaya Kehidupan, yang mana kalau dipikir-pikir lagi sekarang, ternyata ada benarnya.

Ia tertawa geli.

Wajahnya yang manis dan menggemaskan memang sama sekali tidak cocok dengan gambaran itu. Tapi Julie tidak bisa menemukan julukan lain yang lebih tepat untuk Richard. Dari dulu sampai sekarang—dia terlalu drakula.

Julie menerawang jauh ke arah rerimbunan Zinnia yang silih berganti dari jendela ruang-ruang kelas yang ia lewati. Kepalanya kini sibuk berpikir, tapi bukan untuk alasan yang sama, karena sekarang ia bahkan tidak tahu sedang memikirkan apa. Ia menarik napas panjang dan melepaskannya perlahan-lahan, seperti yang diajarkan ibunya dari ilmu yang beliau dapatkan dari kelas Yoga. Teknik seperti ini sesungguhnya tidak pernah berhasil untuk Julie, ia selalu yakin kalau rasanya sama saja seperti bernapas dengan hidung seperti biasa. Bahkan ketika ia mencoba melakukannya dengan penghayatan, ia tak bisa memikirkan hal lain selain membayangkan bulu-bulu hidung Nick yang bergetar saat anak laki-laki itu bernapas dengan hidungnya yang menjijikkan.

Ia mau muntah.

Yah. Setidaknya dia sudah mencoba.

Julie mencoba mengumpulkan konsentrasinya lagi. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya dari kemarin, dan terus-menerus membuatnya resah sejak tadi pagi. Tapi ia tak tahu apa. Ia benar-benar tak tahu apa. Mungkin karena tugas cerpen Prancis yang diinstruksikan M.Wandolf, seperti yang Jessie bilang. Tapi Julie merasa tidak cukup yakin. Ia bahkan tak akan ingat soal tugas Prancis, kalau tidak diingatkan Jessie tadi.

Rasanya seperti diingatkan akan dosa-dosa di neraka.

Julie tiba-tiba melihat sinar putih terang di ujung matanya. Richard ada di depan sana, dengan mata birunya yang menyilaukan, sedang berjalan ke arahnya. Entah mengapa, Julie merasakan tekanan aura yang maha dashyat yang mencekik lehernya. Lututnya mencair dan napasnya membeku. Seperti sudah terlatih berbulan-bulan sebelumnya, Julie memutar tubuhnya secepat kilat dan berbalik ke arah berlawanan.

Julie berjalan kaku, seperti mumi.

Julie baru saja akan menarik napas lega, sampai akhirnya ia menemukan seorang laki-laki tua gendut berkepala setengah botak yang sangat familiar di depan sana, tak jauh dari dari tempatnya berada. Laki-laki itu mengenakan jas coklat belel kesayangannya, vest bermotif bunga-bunga yang selalu diprotes Cassandra, dan laki-laki itu memegang sebuah buku yang menjadi buku favoritnya.

Kamus Bahasa Prancis.

Julie tersontak kaget dan berhenti mendadak. M.Wandolf! Ia berbalik lagi secara spontan. Ia menemukan Richard tepat di hadapannya.

Anak laki-laki itu tersenyum. “Hai.”

Tubuh Julie sudah bergoyang-goyang tidak karuan, seperti boneka anjing di dasbor mobil. Tenggorokannya penuh dengan lendir-lendir hijau berbusa, dan balita paramecium sedang membuat pesta prom di sana. “Ak-hai.”

Mademoiselle!” teriak laki-laki gendut yang ada di belakang Julie.

Entah kenapa, rasanya seperti dulu saat ia hendak meminjam buku PR Aljabar Lucy, dan saat ia pertama kali masuk ke kelas Prancis Richard dan menyerahkan tugas kelompoknya dengan Jessie di sana—Richard Soulwind dan M.Wandolf sama sekali bukan kombinasi yang diharapkannya hari ini.

“Halo,” kata Julie pasrah. “Monsieur.”

Julie setengah melenguh seperti sapi. Ia luar biasa berharap M.Wandolf tidak mendengarnya.

“Bagaimana dengan cerpenmu?” kata laki-laki tua itu bersemangat. “Pouvez-vous le faire? Apakah kau sudah mengerjakannya?” M.Wandolf menjawab pertanyaannya sendiri. “Aku yakin sudah! Kau sangat pintar.”

Richard bergumam heran.

“Cerpen?”

Oui,” jawab M.Wandolf cepat. “Sebuah cerpen dalam bahasa Prancis, yang sangat parfait, parfait—sempurna, seperti Mlle.Light, yang parfait, parfait.”

M.Wandolf memainkan jari-jemarinya, mengatup-atupkannya dengan lentik. Laki-laki itu terlihat sumringah.

“Apa kau tahu? Mlle.Light kita ini, benar-benar luar biasa sekarang! Kemajuannya benar-benar mencengangkan. Dia bisa membuat esai. Dia bisa membuat contoh percakapan. Dia bisa membuat puisi. Dia bisa mengerjakan apa pun yang aku perintahkan,” kata laki-laki itu pada Richard, melambaikan tangannya dengan semangat. “Dan semuanya—parfait! Tidak ada satu pun yang menjiplak. Kemajuannya sangat memuaskan. Dia sudah jauh lebih baik daripada saat kita pertama kali mengenalnya.”

Richard memandang Julie sambil tersenyum.

“Ya,” kata Richard. “Dia memang hebat, Monsieur.”

Julie meremas tangannya sendiri dan mencengkram perutnya. Ini benar-benar sangat ganjil. Ia tak tahu mana yang lebih membuatnya salah tingkah—M.Wandolf memujinya di depan Richard, atau Richard memujinya di depan M.Wandolf.

“Umm, tapi aku—”

M.Wandolf memotong dengan sangat cepat. “Dan tugas berikutnya, Cerpen Dalam Bahasa Prancis.”

Julie melenguh panjang. Padahal baru saja ia hendak meminta tugas gila itu dibatalkan. Biar bagaimana pun, membuat CERPEN adalah sesuatu yang terlalu banyak untuk dituntut darinya. Bahkan, tidak ada seorang pun dari teman-teman sekelasnya yang pernah diminta untuk membuat tugas sesulit itu. Dan Julie yakin, tidak ada yang mampu membuatnya.

“Anda tidak pernah menyuruh yang lain membuat cerpen, M.Wandolf. Kenapa harus aku?” kata Julie, bernada tidak setuju. “Aku tak bisa membuatnya. Ini terlalu sulit. Anda harus membatalkannya.”

M.Wandolf menggeleng.

Non, non,” kata M.Wandolf. “Kau bisa melakukannya, Mademoisellle. Kita sudah membahasnya kemarin. Kau memiliki kemampuan menulis yang hebat, dan yang perlu kita lakukan adalah melatihnya dan melatihnya terus-menerus. Memberikanmu sebuah tantangan yang sangat sulit adalah ide brilianku. Ini tantanganmu yang terakhir. Kalau kau berhasil melakukannya, kau LULUS KELAS PRANCIS.”

Kata lulus kelas Prancis memang sangat menggoda, tapi Julie tak bisa mengenyahkan pikirannya dari kata terkutuk yang lain—cerpen. Bahkan kemarin ia tak bisa mendengar kalimat apa pun lagi setelah kata itu. Telinganya keburu berdenging begitu mendengar M.Wandolf mengucapkan kata cerpen.

Bagaimana mungkin ia bisa membuat cerpen?

“Dalam bahasa Inggris, boleh?” kata Julie, tampak membuka peluang untuk bernegosiasi. Menulis cerpen saja sudah merupakan sebuah tugas yang sangat sulit, apalagi kalau harus membuatnya dalam bahasa Prancis. Setidaknya, hukuman ini akan terasa jauh lebih ringan jika ia bisa menulisnya dalam bahasa lain yang lebih masuk akal.

Ia membuka senyuman yang selebar-lebarnya, berharap semoga senyuman malaikatnya kali ini berfungsi dengan baik. “Boleh, ya?”

M.Wandolf menggeleng tegas. “Non. Kita sudah membahasnya kemarin, Mademoiselle. Dalam bahasa Prancis—FRANÇAIS. Aku tahu kau bisa melakukannya. Kau murid yang pintar. Aku percaya padamu. Aku tahu, kau tidak akan mengecewakanku lagi, seperti waktu itu.”

M.Wandolf melirik penuh arti. Ia pasti sedang membahas soal kesalahan Julie menjiplak esainya Jessie beberapa minggu yang lalu. Kejadian ini memang benar-benar memalukan untuknya. Dan M.Wandolf cukup cerdik untuk bisa memanfaatkan rasa bersalah Julie untuk membuatnya mengerjakan tugas-tugas lain dengan sungguh-sungguh.

Yeah—baiklah,” kata Julie lemas.

M.Wandolf menyeringai senang. “Bon.”

Ia berangsur-angsur meninggalkan gadis itu sambil tersenyum puas. Ia memindahkan tubuhnya yang gemuk dengan gesit, tak butuh waktu lama sampai akhirnya sosoknya yang gempal itu benar-benar menghilang. Setelah itu, Julie langsung menghela napas panjang dan mendesah berat, berusaha menghilangkan perasaan kebas dan dingin yang menjalar di sekujur tubuhnya.

“Jadi,” kata Richard suatu ketika. “Cerpen Prancis, ya?”

Julie menoleh dan matanya bertemu dengan mata biru Richard yang menusuk hingga ke tulang-tulang. Anak laki-laki itu tersenyum.

Julie hampir saja lupa kalau ada Richard di sana.

“Umm, yeah—” kata Julie terbata-bata. Ia mengangkat bahunya dengan wajah tak berdaya. “Aku sudah tak bisa mengelaknya lagi. Ini kutukan dari Jessie. Kupikir, dengan melupakannya, tugas itu bisa menghilang begitu saja.”

Beberapa waktu yang lalu, Jessie sengaja menciptakan mantera penangkal, sebuah kutukan yang bernama, ‘Aku Akan Mengingatkanmu, Sayang’, saat Julie berencana membuat jampi-jampi ampuh bernama, ‘Sengaja Lupa Akan Membuat Tugasku Menghilang’—untuk dirinya sendiri. Itu adalah sebuah mantera jampi-jampi yang diciptakan Julie di awal bulan kemarin, karena secara ajaib ia ternyata berhasil mengelak dari tugas kelompok Sejarah Dunia saat ia lupa mengerjakannya, tanpa perlu dihukum karena entah kenapa tugas itu menghilang begitu saja.

Dan sejak Jessie menciptakan mantera kutukan balasan itu, keberuntungan Julie langsung menyusut secara drastis. Karena kutukan ini, Julie tak lagi bisa menghindar dari kewajiban-kewajibannya—terutama jika Jessie yang mengingatkannya.

Entah kenapa, tugas-tugas yang diingatkan oleh Jessie, selalu tidak pernah bisa berhasil digagalkan.

“Aku bisa membantumu, Julie,” kata Richard. “Kalau kau mau.”

“Tidak.”

Julie membalas pertanyaan itu dengan secepat kilat. Julie tidak bisa membayangkan jika ia harus menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan anak laki-laki ini.

Richard tersenyum lemah. “Baiklah.”

Julie berbalik dan berjalan cepat menjauhi Richard. Untuk alasan yang tidak bisa dijelaskannya, ia menginginkan untuk segera menyingkir dari tempat ini dan menikmati hidupnya yang lebih tenang dan menyenangkan. Lagipula, pertemuannya dengan Richard kali ini hanya akan mengundang masalah. Biasanya selalu seperti itu. Dan Cathy pasti akan marah kalau tahu Julie berduaan lagi dengan pacarnya.

Julie terdiam.

Tiba-tiba Julie teringat sesuatu yang sangat penting. Janjinya pada Jessie.

Emma Huygen. Cathy.

Beberapa menit yang lalu, ia padahal sempat merasa sangat kebingungan memikirkan caranya membuat pertemuan rahasia dengan Richard, mengingat ia sama sekali jarang bertemu dan tidak pernah sekelas dengan anak laki-laki tersebut. Dan sekarang, ketika kesempatan itu datang, ia justru membuang-buangnya begitu saja.

Julie mendesah. Ia merasa benar-benar bodoh.

Ia menghentikan langkahnya, memutar balik badannya, dan setengah berlari menghampiri Richard yang sudah agak jauh, dengan wajahnya yang masam.

“Eh—Richard,” panggil Julie tergesa-gesa, memanggil anak laki-laki itu. Ia menggigit bibirnya ragu-ragu. “Tunggu.”

Richard menoleh.

“Ya?”

Julie menelan ludahnya. Rasanya ada monster iguana yang sedang melolong di kepalanya, meraung seperti suara mobil ambulans. Ia menghela napas. “Baiklah. Aku mau.”

Richard menahan senyumnya. Hatinya sangat senang.

“Kau yakin?” tanya Richard. “Aku tak akan memaksamu, Julie, kalau kau memang ingin mengerjakannya sendiri.”

Julie butuh waktu sepuluh detik untuk termangu.

“Ya,” katanya mantap. Ia akhirnya telah memutuskan untuk membiarkan semuanya terjadi apa adanya. Sudah kepalang basah. “Kau sungguh-sungguh bisa? Maksudku—ehm, aku ingin mengerjakannya sore ini, sepulang sekolah, kalau kau tidak punya kesibukan lain.”

Richard mengangguk. “Kurasa bisa, Julie.”

Ia melihat jam tangannya sebentar, berusaha mengingat-ingat kembali apa yang harus ia lakukan. “Kegiatanku sore ini kosong. Aku bisa menemanimu sampai selesai. Di mana kau ingin mengerjakannya?”

Julie berusaha memikirkan tempat lain selain Steak~Stack dan Perky’s House. Beberapa waktu yang lalu, ia pernah mengajak Nick ke rumahnya untuk berlatih aransemen lagu yang Nick buat untuk ujian praktek Kelas Musik, dan ibunya meledeknya habis-habisan. Lily bahkan tak percaya kalau Nick adalah pacarnya Jessie dan wanita itu membuatkan Nick sebuah kudapan sore dari panekuk yang berbentuk hati—lengkap dengan sirup strawberry merah menyala—sebagai lambang cinta untuk mereka berdua. Apapun alasannya, membawa teman laki-laki ke rumahnya adalah ide yang buruk.

“Steak~Stack,” kata Julie spontan.

Richard mengangguk paham. Ia teringat kembali akan pertemuannya dengan Julie waktu itu, tersenyum dengan wajah menggoda. “Jam 4, jangan pakai baju sekolah?”

Pertanyaan itu benar-benar memancing, Julie tidak bisa menahannya lagi. “Tidak. Kau harus pakai baju Hawaii,” kata Julie sekonyong-konyong. “Baju Hawaii biru, lengkap dengan celana putih, dan sepatu rumbai-rumbai.”

Richard tampak kaget. “Apa?”

Julie tertawa lepas.

“Hanya bercanda,” kata Julie. Entah kenapa, ia sekarang merasa lebih rileks dan santai. Ekspresi kaget anak laki-laki itu tadi tampak sangat lucu. “Tentu saja boleh pakai baju sekolah. Aku tahu kau tidak akan sempat pulang ke rumah. Rumahmu jauh, kan?”

Jalan Red Orchid, nomor 5A. Julie masih ingat menggambar anggrek itu di buku catatannya.

Richard berusaha menahan sipu yang memerah di wajahnya. Di satu sisi, ia merasa sangat lega. Biar bagaimana pun, ia tidak bisa menolak jika Julie benar-benar meminta hal yang memalukan itu padanya.

“Baiklah.”

“Satu lagi,” kata Julie diam-diam. Julie ingin memastikan satu hal, sebelum mereka pergi meninggalkan tempat itu, karena hal ini benar-benar sangat penting, menyangkut hidup dan matinya Julie setelah hari itu.

“Jangan beritahu siapa-siapa.”

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

40 thoughts on “15. Ancaman (2)

  1. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  2. Udah gak sabar nunggu cerita selanjutnya tentang Richard nd Julie. Kak jngn lama” ya ngelanjutin cerita’a, udah gak sabar nih

    • Hai Citra! ^_^
      Aku memang sengaja belum memunculkan sosok maskulinnya.. (maksudnya yg macho-macho gitu ya?)
      Mau disimpan untuk buku kedua. 😀 (aamiin hahaha)

      Update berikutnya udah muncul, yaa
      Selamat membaca! 😉

  3. Wow… Ricard sampai segitunya akan menyanggupi jika mmg julie yg meminta bawa baju hawaii biru, celana putih dan sepatu rumbai rumbai..???

    Sdh ketauan bagaimana cintanya ricard ke julie kan!! Terus ngapain harus korban perasaan jadian sama cathy…
    Aaahhhgggg… Sakit kepala aku jika ingat nama cathy lagi, benciku sampai ke ubun ubun.

    Aku nggak bisa bayangin gimana nyadarin julie kalau ia jg punya perasaan sm ricard.
    Penasaran juga sm jalan ceritanya gimana tuh buat nyadarin julie.

    Lanjuttt…
    Oh ya, numpang promosi ya sebelumnya kak : untuk yg cari souvenir kantor atau seminar bisa ke tempat kami di surabaya, alamat adan katalog produk bisa dilihat di website :www.souvenirkantortermurah.blogspot.com

    Terima kasih….

    • Hehehe.. Sabar2 😛

      Baca update terbaru yaa biar seneng lagi, hehehe!
      Selamat membaca, Mala! 😉

      Good luck yaa bisnisnyaa.. Teman2 yg tertarik boleh mampir ke blognya Mala ^__^

  4. kk,,
    q gk sbar bnget ni untuk cerita slanjutny….
    Kk ini imajinasi sndiri kn….?

    Klw ya….Q bilank ini TOP

    • Trims Sherly! ^__^
      Yuup.. Imajinasi sendiri

      Update yang terbaru udah muncul, yaa
      Selamat membaca! 😉

  5. kk,,
    q gk sbar bnget ni untuk cerita slanjutny….
    Kk ini imajinasi sndiri kn….?

    Klw ya….Q bilank ini TOP

    lnjut kk……

  6. ceritanya bikin penasaran sama kelanjutannya..

    terus berkarya! kalo bisa ini dijadiin novel beneran aja kak..

  7. hallo kakak author yg baik hati. tulisan kamu bener-bener EYD banget. oh ya, salam kenal ya kak nay aku readers baru disini. ini semacam cerpen atau fanfiction? oh ya kak apa di blog ini nerima author freelance? makasih

    • Hai. Salam kenal. 😀

      Isinya adalah potongan novel buatanku yang kupublikasikan secara gratis di blog ini.
      Untuk saat ini aku belum kepikiran tentang content lain.

      Next, maybe? 😀

  8. Ping-balik: 15. Ancaman | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s