15. Ancaman

Comments 28 Standar

girl-scout-logo-clip-art-54403

Rasanya sudah lama sekali sejak mereka melupakan ancaman Emma Huygen dan gengnya dulu, yang terjadi bahkan sebelum Cathy berpacaran dengan Jake Williams. Sejak Emma pindah ke luar negeri, semua gangguan yang pernah mereka khawatirkan dari Emma dan gengnya menghilang begitu saja. Tak seorang pun dari teman-teman Emma yang pernah menghampiri Cathy. Mereka lenyap. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Aneh memang. Tapi bukan itu persoalannya sekarang. Masalahnya, Emma telah kembali. Dan tak seorang pun dari mereka yang tak tahu kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Emma berikutnya.

Lucy bertemu dengannya di ruang kepala sekolah kemarin sore. Emma ternyata kembali dari luar negeri untuk mengurus surat-surat rekomendasi untuk pengajuan beasiswanya di universitas. Untuk sementara, Emma juga akan melanjutkan studi lagi di Nimberland selagi menyelesaikan proses pengajuan beasiswa itu di sekolah mereka. Kembalinya Emma ke sekolah mereka membuat The Lady Witches menjadi bertanya-tanya. Dan Cathy pun tak terlihat terlalu senang mendengar berita ini. Mood-nya benar-benar menurun drastis sepanjang sore kemarin.

Sementara itu, Julie sedang memikirkan hal lain yang mengganggu pikirannya. Entah kenapa, kali ini otaknya penuh dengan sesuatu yang tidak bisa ia definisikan. Bahkan ia tak tahu hal apa yang sedang membuatnya resah. Mungkin serangga atau cicak, atau makhluk hidup terbang lainnya yang mulai berkoloni di otaknya yang telah membuatnya tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Yang jelas, bukan karena Emma.

“Kau pikir Emma akan kembali mengganggu Cathy atau tidak?” tanya Jessie suatu ketika, membuyarkan lamunan Julie saat itu. Mereka memang tidak bisa membicarakannya di kedai Steak~Stack kemarin, karena Cathy bersikeras memaksa mereka melupakan hal itu. Ia tak suka sama sekali jika mereka mulai membahas tentang Emma.

“Entahlah,” kata Julie. “Kau tahu—hal-hal seperti ini membuatku pusing.”

Jessie memutar bola matanya.

“Pusing?” tanya Jessie.

Julie mengangguk. Selama ini, ia selalu memilih hidup yang damai dan terhindar dari masalah-masalah, meskipun entah kenapa ia tak pernah bisa menghindarinya. Seperti sekarang, ia bahkan tidak tahu apa yang membuatnya merasa sangat gelisah.

“Oh. Aku tahu. Tugas Prancis, kan?” kata Jessie. “Kemarin M.Wandolf memuji-mujimu terus-terusan dan akhirnya memberimu tugas tambahan membuat cerpen untuk membuktikan betapa berhasilnya beliau mendidikmu sekarang.”

Julie mengerang. Bukannya menghibur, Jessie malah mengingatkannya akan tugas terkutuk yang membuat hidupnya semakin suram.

“Selamat,” kata Jessie sambil tertawa. “Ini bukti betapa tergila-gilanya M.Wandolf padamu, Julie. Eh, aku penasaran, kenapa kau sekarang jadi jago bahasa Prancis, ya?

Julie memandang dingin. Pernyataan terakhir Jessie juga telah menyindir kemampuan intelektualnya dengan ironis.

“Hah. Kau bercanda.”

Julie tidak mengerti kenapa M.Wandolf bisa memberikannya sebuah tugas yang benar-benar tidak masuk akal. Sebuah CERPEN. DALAM BAHASA PRANCIS. Bahkan meskipun ia sangat aktif menulis di kolom koran sekolah mereka, tapi ia tidak pernah sekalipun berkeinginan untuk menulis cerpen dalam bahasa apapun selain bahasa Planet Jupiter dan Mars.

“Tapi serius, kau tidak pernah kelihatan sedepresi dulu. Kau ingat kan?” kata Jessie. Ia benar-benar takjub dengan perubahan positif anak itu. “Dan kau tidak pernah minta bantuanku lagi mengerjakan PR, Julie. Bagaimana kau bisa melakukannya?”

Julie menyeringai penuh arti. “Rahasia.”

Richard telah mengajarkan Julie satu trik yang sangat menyelamatkan hidupnya dalam tugas apa pun di Kelas Prancis. Julie mungkin tidak akan pernah lagi bisa mengulang kejadian itu, tapi saat-saat di mana Richard sedang mengajarinya bahasa Prancis dan melatihnya mengucapkan pronounciation yang sulit, adalah saat-saat yang menyenangkan untuk diingat kembali.

Julie tersenyum-senyum sendiri.

“Dan sekarang kau malah cengengesan. Baiklah, kalo kau tidak mau mengatakannya, tidak apa. Cukup tahu saja sampai di mana batas persahabatan kita,” kata Jessie dengan remeh. Selagi itu berarti Julie tak lagi mengusiknya dengan ratapan-ratapan menyedihkan tentang Kelas Prancis, ia pun tak berniat untuk tahu lebih banyak. “Baiklah, kembali lagi ke topik. Menurutmu, apa teman-teman Emma memang tidak pernah mengganggu Cathy selama Emma pergi?”

Julie menggeleng.

“Entahlah,” kata Julie. “Cathy tidak pernah cerita.”

“Tepat. Gadis itu tidak pernah cerita apapun pada kita. Dan itu sangat mencurigakan,” kata Jessie. “Gadis itu seperti sebuah kotak misteri. Ia terlihat seperti orang yang berkepribadian sangat terbuka, tapi ia sebenarnya sangat tertutup. Dia selalu menutup-nutupi apapun hal yang berhubungan dengan Emma. Bahkan, kalau saja kau tidak menangkap basah dia menangis waktu itu, Julie—mungkin kita tidak akan pernah tahu kalau geng Emma pernah melabrak Cathy karena ia mendekati Jake.”

Analisis Jessie terdengar masuk akal. Cathy memang hampir tidak pernah menceritakan apapun dalam hidupnya kecuali hal-hal yang menyenangkan, romantis, atau hal-hal tidak penting yang membuatnya kesal dan ngambek. Julie tidak pernah merasa hal itu sebagai hal yang mencurigakan, sampai Jessie menunjukkannya hari ini.

“Jangan-jangan selama ini ia hanya mencoba menyembunyikan hal itu dari kita. Benar kan, Julie?” kata Jessie. “Dan sekarang Emma sudah kembali. Aku tak tahu apa yang akan dilakukan gadis itu terhadapnya nanti, yang mungkin tidak akan diceritakan Cathy pada kita lagi.”

Ia berhenti sebentar, memicingkan mata, seperti meminta perhatian Julie dengan lebih cermat. “Dengar. Kita tidak pernah membahas Emma. Tidak sekali pun. Tidakkah kau pikir itu mencurigakan?”

Julie merenung sebentar.

Selama ini, mereka memang sangat jarang membicarakan Emma Huygen. Bahkan Julie tak akan pernah tahu lebih banyak, jika saja mereka tidak membicarakannya di luar jam makan siang tanpa Cathy. Cathy selalu marah setiap kali mereka mengangkat topik yang berkaitan tentang Emma. Dan setelah Emma pergi, mereka otomatis tidak pernah membicarakannya lagi.

“Ya, kau benar,” kata Julie. “Lalu, apa yang bisa kita lakukan?”

“Tidak ada,” kata Jessie sambil menguap. “Lagipula, kurasa kita sudah tidak perlu terlalu khawatir. Sudah ada Richard sekarang. Aku yakin, Richard pasti akan menjaganya dari wanita itu.”

“Rich—” gumam Julie tiba-tiba. “Richard?”

Ia tersenyum getir.

“Ya, dia kan sudah punya pacar sekarang,” kata Jessie. “Kurasa Richard akan melindunginya dari Emma. Masalahnya, Richard tak tahu apapun tentang Emma. Itulah masalah yang akan kau selesaikan.”

Julie bengong. “Ha?”

“Ya,” kata Jessie. “Jadi ceritanya begini. Aku minta tolong padamu untuk mengatakan hal ini pada Richard.”

“Ha? Apa?” tanya Julie, tak yakin dengan pendengarannya. Rasa depresinya akan tugas Prancis tadi pasti telah melemahkan syaraf-syaraf auditorinya dan membuyarkan transmisi gelombang pesan itu di sel-sel otaknya. “Kau minta tolong APA?”

“Aku minta tolong bilang ke Richard soal Emma,” kata Jessie. “Demi Cathy.”

Julie menahan napas. Sekarang ia tertawa.

“Apa?” kata Julie.

Jessie terlihat kesal. “Tolong bilang ke Richard soal Emma. Bilang ke Richard. Tentang Emma. Aku harus ulang sampai berapa kali, sih?”

Masalahnya bukan Julie tak mendengar apa yang dikatakan Jessie, tapi ia tak percaya apa yang didengarnya.

“Kenapa aku??” protes Julie. “Lakukan saja sendiri. Aneh.”

Jessie mendesah.

“Aku ingin, tapi tak bisa,” keluh Jessie. “Ini Richard. Aku—aku tak bisa berbicara berdua saja dengannya. Dia terlalu tampan. Aku tak bisa konsentrasi.”

Pernyataan itu terdengar menggelikan.

“Oh. Terlalu tampan,” kata Julie skeptis, memutar bola matanya. “Konyol. Kenapa aku? Kau tahu aku paling tidak bisa diandalkan untuk urusan seperti ini. Aku bahkan hampir tak pernah bicara apa pun pada anak laki-laki itu. Seharusnya kau minta tolong Kayla.”

Jessie menggeleng.

“Tidak ada di antara kami yang bisa melakukannya. Hanya kau yang bisa,” kata Jessie. “Meskipun Richard sudah pacaran dengan Cathy, kami tetap penggemar Richard, Julie. Dan itulah yang membuatnya menjadi terasa semakin sulit.”

Julie tertawa melecehkan. Gadis-gadis ini tampaknya tidak berubah sama sekali. Memang sejak Cathy jadian dengan Richard, mereka tidak lagi berteriak histeris ketika bertemu dengan Richard, atau membicarakan Richard di kafetaria sepanjang hari. Mereka justru menjadi lebih kalem dan malu-malu, atau setidaknya bertindak jauh lebih normal daripada yang biasanya mereka lakukan. Tapi tidak berarti ia harus menggantikan mereka untuk berbicara pada Richard sekarang.

“Tidak,” kata Julie sambil melipat tangan. “Aku tidak mau.”

“Ayolah!”

Jessie mengguncang-guncang lengan Julie sambil merengek. Julie mendumel dan teringat kalau kejadian ini mirip seperti dulu saat Jerry memaksanya untuk meliput wawancara kemenangan catur Richard karena tidak ada lagi orang yang bisa melakukannya di klub mereka. Ini benar-benar menjengkelkan.

“Hentikan, Bodoh. Kau seperti Jerry saja,” kata Julie risih. “Suruh orang lain saja melakukan tugas itu. Yang jelas, aku tak mau jadi pengganti kalian—” Ia tiba-tiba teringat satu hal yang penting, yang seharusnya dilakukan Jessie alih-alih membuat permintaan bodoh itu. “Kenapa kau tidak menyuruh Nick? Bodoh. Malah menyuruh aku. Jelas-jelas Nick berteman dengan Richard.”

Jessie melepas tangannya.

“Sudah kulakukan. Tapi aku tidak yakin Nick mengerti maksudku,” kata Jessie. “Nick terus-menerus memberikan saran-saran yang konyol. Aku tak yakin dia mengerti apa yang aku ceritakan.”

Jessie melipat wajahnya, terlihat muram dan suntuk di saat yang sama, dan melebih-lebihkan ekspresinya yang sangat memprihatinkan.

“Dia tidak pernah merasakan betapa sulitnya hidup menjadi seorang The Lady Witches, kau tahu? Kita memiliki seorang teman dengan kepribadian kompleks seperti Cathy Pierre dan cobaan tampan yang sangat berat seperti Richard Soulwind. Tidak akan ada yang mengerti penderitaan kita kecuali kalau orang itu menjalani hidup kita yang sulit.”

Pernyataan ini terdengar semakin menggelikan.

“Pokoknya–aku tak mau,” kata Julie.

Julie tak sempat memberikan pertahanan diri lebih banyak lagi karena Jessie keburu menarik tangannya dan menyuruhnya bersembunyi di balik dinding. Julie mengaduh keras saat kepalanya baru saja terbentur dinding, tapi Jessie buru-buru menutup mulutnya dengan rapat. Jessie memberikan kode dengan kedua matanya bahwa ada bahaya yang mengintai di ujung koridor di sebelah mereka.

“Emma,” bisik Jessie. “Ada Emma.”

Julie menjulurkan kepalanya karena dengan posisi seperti itu ia tidak bisa melihat Emma sama sekali. Jessie menarik kerah bajunya, untuk mencegahnya menjulurkan kepalanya lebih banyak.

“Jangan sampai kelihatan, Bodoh!”

Julie akhirnya berusaha hanya mengintip, tapi ia tak bisa melihat apapun selain matanya yang kelilipan ujung tembok. Ia menjulurkan kepalanya lebih jauh lagi, dan ia melihat seorang gadis cantik yang sangat kharismatik, dikelilingi oleh beberapa gadis muda yang tampak sangat memujanya.

Napas Julie tercekat sesaat di tenggorokan, saat mata hijau Emma yang tajam itu tiba-tiba menatapnya.

Gadis itu tersenyum sinis.

“Mengerikan.” Julie menarik kepalanya dengan cepat. “Gadis itu seperti Medusa.”

Jessie mengangguk. Ia sudah mempelajari situasi ini dan mempercayai intuisi yang dimilikinya kalau mereka tidak bisa tinggal diam begitu saja. “Dan kau ingin membiarkan teman kita Cathy berpotensi untuk diganggu oleh gadis mengerikan seperti itu? Ayolah, Julie.”

Penjelasan itu memang terdengar masuk akal, tapi biar bagaimana pun Julie merasa ini luar biasa aneh. Seharusnya ada cara yang lebih masuk akal lagi daripada memaksanya berbicara pada Richard.

Dan kenapa dia yang harus mengatakannya?

“Kenapa kau pikir ini—”

Jessie tak membiarkan apapun yang melintas di pikiran Julie. “Bukankah kau menginginkan yang terbaik untuk Cathy? Menurutmu, teman seperti apa kita ini? Bagaimana mungkin kau tega membiarkan Cathy, sahabat kita, diganggu oleh Emma dan kawan-kawannya? Sungguh, Julie? Inikah arti persahabatan untukmu?”

Julie mendelik.

“Bukan begitu. Aku hanya—”

“JULIE.”

Jessie menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Julie menghela napas panjang, mengangkat tangannya pasrah.

“Baiklah, baiklah,” kata Julie. “Oke.”

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

28 thoughts on “15. Ancaman

  1. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  2. akhirnyaaaa kelua jg ini lanjutannya :3
    mkin bnyak intrik niih…mkin seru
    dan sumpaaaahhh… udh g sabar baca adegan JJ couple ini lagi kak
    ditunggu update.anny yah kak onya
    semangat berkarya sist 🙂

  3. Cie Julie keinget moment belajar perancis bareng Richard cie, yah aduh kok aku ngerasa kasian sama julie, dia kan mulai naksir richard tapi jessie malah maksa-maksa demi cathy gitu. Terus pas jessie bilang: kan ada richard, pacarnya cathy akan melindunginya. Perasaanya Julie gimanadeh. kasian julie kak
    Tapi disini kita tau Jessie punya sisi waras juga sometime, cara dia care tentang Cathy dibalik semua kejahilannya sama cathy itu.. Suka deh!

    Terus perumpamaan Emma kayak Medusa itu berarti tatapannya Emma horor banget dong, dia lebih horor dari cathy nih kak?

    Yaudaaah Julie selamat ngobrol lagi sama Richard sekalian dating lagi di kedai Steak~Stack yaaa. Meski modusnya mau ngomongin tentang cathy-emma, aku harap Julie Richard ngomongin tentang mereka dan dunia mereka juga kak. Kakak belom jelasin loh alesan Richard naksir Julie selain karena dia unbeatable, pasti ada suatu moment yang bikin si pangeran head over heels with Julie Light kan? aaaa cant wait, aku tunggu moment mereka kak 🙂

  4. kkk,
    slam knal y…
    Hehehe:-)

    kkk,,
    lnjutin dong adegan julie dan richard ny y…
    udh kngen sma s richard lmpu petromax,
    atau jgn2 richard vampire kyk d seri novel twilight,,
    kan klok app richard slalu brcahaya…
    kyk edward cullen,,
    hehehe…

    jgn lma2 y kk lnjutinya…

    • Hahaha.. kalo Edward Cullen ada sparkling-sparklingnya kan..?
      Nggak kebayang kalo Richard pakai kilau-kilau di bawah matahari… xD

      Update-nya udah muncul ya, Sherly
      Selamat membaca! 😉

  5. Aku sbenernya males banget ngebahas pribadi cathy.
    Dia mau gila kek, mau dilabrak emma, dia mau nyungsep di bak mandi kek… I don’t care.

    Aku malah ngebayangin emma nnti bisa menang ngelawan cathy, dan bisa kasih pelajaran ke cathy.
    Atau emma bisa bilang kalau cathy itu nggak ada pantes pantesnya sama richard, atau malah emma diam diam udh tau klau richard naksir sm cathy dan itu bisa dijadikan jurus andalan buat nyudutin cathy… Setuju nggak semu?? Hehehehe…

    Oh ya, aku dr dlu sbenernya aku penasaran juga, sjak kapan si richard bisa naksir sm julie, alasan apa yg bikin si jenius ini bisa suka sm julie, yg pasti aku harap alasannya beda bgt sm cowok lainnya, jawaban versi si jenius richard dan ini wajib ada di cerita ini nantinya, krn itu alasan satu satunya yg bikin aku penasaran ngikutin nih crita, mgkin yg lainnya jg.

    Aku tunggu cerita selanjutnya,moment si julie and richard lampu petromaks hahahaha…

  6. Ping-balik: 14. Perayaan (3) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s