14. Perayaan (3)

Comments 23 Standar

7798589-lunch

Julie dan teman-temannya telah sampai di kedai Steak~Stack sejak dua menit yang lalu, bahkan telah mengambil tempat duduk masing-masing, namun mereka sekarang harus berada di sana tanpa kehadiran Lucy, sang pentraktir. Saat Julie tiba di depan aula utama tempat mereka semua berkumpul, Cassandra memberikan kabar kalau Lucy tidak bisa hadir lebih cepat karena sepulang sekolah tadi tiba-tiba ia mendapat panggilan dadakan.

Mrs.Tamara Lautner—kepala sekolah Nimber—sore itu ternyata memanggil Lucy dan beberapa anak tim akademis lainnya untuk memberikan ucapan selamat dan sebagainya. Lucy berjanji untuk menyusul mereka sesegera mungkin, dan ia menitipkan pesan pada Cassandra agar mereka dapat langsung memesan makan tanpa harus menungguinya lagi. Julie—sebagai orang yang hampir tidak pernah-pernahnya datang terlalu cepat ketika mereka berkumpul—secara terang-terangan mengungkapkan kekecewaannya yang telah berusaha keras dengan sekuat tenaga untuk datang tepat waktu, dengan mengorbankan jiwa dan raganya. Padahal, kalau saja tidak ada Richard, barangkali ia masih terperangkap dengan Jerry di ruangan klub sekolah sekarang, mengerjakan revisi artikel milik Jacqueline.

Jessie tak mengerti kenapa Julie memilih tempat duduk yang jauh sekali dari tempat duduknya, tapi ia bersyukur karena minimal hari ini ia bisa makan steak idamannya dengan tenang, tanpa harus bersitegang tidak penting dengan Julie Si Alien Keturunan Sapi.

“Jadi, aku sudah boleh memesan?” kata Jessie penuh gairah. Cassandra mengangguk dan memanggil seorang gadis pelayan yang sedang berdiri beberapa kaki dari mereka bertujuh.

Julie sedang asyik sendiri bernostalgia dengan suasana bangku-bangku di kedai Steak~Stack, terutama kursi-kursi yang bersumpel di bagian pojok belakang, ternyata benar-benar sempit. Sebaliknya, furnitur-furnitur di ruangan ber-AC ini justru tertata lebih baik dan terasa lebih luas, seperti yang dikatakan Richard tadi siang.

Kedai Steak~Stack selalu terkenal dengan desain interiornya yang unik, yang berjejer tidak beraturan seperti balok-balok merah dan hitam berbentuk tidak jelas yang disusun sembarangan, namun tetap terlihat artistik. Kelebihan utamanya adalah pada beberapa titik, selalu ada  tumpukan balok-balok tidak jelas itu, terutama di bagian paling belakang restoran. Sempitnya sisa ruang di meja bagian belakang bisa jadi yang menyebabkan kursi-kursi di sana pun dipaksa berjejel-jejel sempit seperti ikan tuna di dalam makanan kaleng.

Cemilan khas Steak~Stack, yaitu original cheesestick yang selalu terhidang di atas meja, bahkan sebelum memesan makanan, tapi Julie tidak pernah tahu kalau rasanya benar-benar dashyat, sampai akhirnya ia dan Richard dulu memutuskan untuk mencoba makanan itu setelah wawancara kemenangan catur mereka selesai. Tanpa pikir panjang lagi, Julie langsung meraih toples kaca yang terpampang di hadapannya, untuk merasakan kembali kenikmatan dari surga dunia itu.

Tangan Julie dan Richard hampir saja bertemu, karena di saat yang bersamaan, anak laki-laki itu juga mengulurkan tangannya untuk mengambil cheesestick enak yang menjadi kesukaannya.

“Eh,” kata Julie tiba-tiba. Ia langsung menarik tangannya.

Richard tersenyum. Ia membuka tutup toples itu dan berkata, “Cheesestick ini sangat enak. Kalian harus mencobanya. Kau mau, Julie?”

Julie menyeringai salah tingkah. “Eh. Iya.”

Julie dengan sungkan mengambil dua batang cheesestick—hanya dua—dan mengunyahnya pelan-pelan. Richard menawarkannya pada yang lain dan mereka mengambil cheesestick itu sambil berebutan. Cathy menjadi yang paling rakus, meraup makanan itu dalam jumlah super banyak, yang sangat mudah dilakukan karena ia duduk di posisi yang paling dekat dengan Richard.

“Kapankah kalian semua akan menjadi dewasa?” kata Julie sok bijak, menirukan gaya Jerry. Ia berdecak tragis, padahal di dalam hatinya ia juga ingin mengambil cheesestick lagi.

Seorang gadis pelayan muda menghampiri meja mereka, membawa sebuah notepad dan pena. Ia terlihat ragu-ragu pada awalnya, namun ia tak dapat melepaskan pandangannya dari wajah Richard.

“Um, eh. Iya,” kata pelayan itu. “Ada yang bisa dibantu?”

Cathy menyimak situasi mencurigakan itu dan tidak bisa terlihat senang.

“Tentu saja kami ingin memesan. Menurutmu kami di sini mau apa? Senam lantai?” kata Cathy tajam. Ia merangkul Richard dengan angkuh. “Dan kenapa kau melihat ke pacarku seperti itu, hah? Iri?”

Kayla mencoba menenangkan, “Cath.”

Wajah gadis pelayan itu terlihat masam.

“Tidak,” kata gadis itu ketus. “Memangnya salah jika aku menikmati ketampanannya? Kupikir, dia juga tidak mempermasalahkannya.”

Cathy terlihat semakin kesal.

“Lagipula, aku tak tahu kalau ternyata kau pacarnya. Dulu ia ke sini dengan gadis yang lain. Dan tahu tidak? Gadis itu jauh lebih ramah daripada kamu.”

Julie tercekat.

“Gadis lain?” kata Cathy kaget.

Julie langsung menunduk, pura-pura memperhatikan benda-benda yang berlawanan arah, dan menutup mukanya pelan-pelan. Ini sangat gawat.

“Ya,” jawab gadis itu. “Dan dia lebih baik darimu. Aku sih berharap dia saja yang jadi pacarnya, daripada kamu.”

Cathy langsung naik darah. Ia mengumpat tidak jelas dan berusaha bangkit dari bangkunya untuk melabrak gadis itu, tapi tangannya langsung ditarik oleh Richard dan Kayla. “Kau—”

Gadis pelayan itu meletakkan notepad dan penanya di atas meja. Ia sangat tahu kalau ia akan dipecat karena kelakuannya ini, tapi ia lebih puas begini. “Ini, pesanan kalian tulis saja sendiri. Nanti taruh di meja pemesanan.”

Ia langsung berlari terbirit-birit.

Nick dan Jessie tertawa geli. Sementara yang lainnya terlihat bingung dan satu orang di antara mereka merah dan mendidih seperti air panas di atas kompor.

“Siapa gadis itu?” tanya Cathy geram pada Richard. “Siapa? Gadis yang bersamamu waktu itu?”

Richard merenung sebentar dan melirik ke arah Julie. Julie langsung memberikan aba-aba ‘jangan’ dengan kedua alisnya.

“Sepupuku, Janice,” kata Richard tenang. “Anak pamanku, adiknya Mom. Aku ke sini dengan Mom dan Janice beberapa bulan yang lalu. Janice yang memperkenalkan tempat ini kepada Mom.”

Richard terlihat sangat meyakinkan. Anak laki-laki itu benar-benar pandai berakting.

“Tuh, kan. Jangan marah-marah terus, Cath,” kata Cassandra. “Ternyata hanya sepupunya Richard, kan? Makanya, kau jangan marah-marah terus.”

Cathy menekuk wajahnya sedemikian rupa, sehingga ia terlihat sangat jelek. “Tapi, pelayan itu benar-benar kurang ajar. Aku bisa saja menampar mukanya yang menjijikkan itu, saking kesalnya. Kalau saja kau—,” katanya sambil menunjuk Richard. “—dan kau, Kay, tidak menahan tanganku tadi.”

“Kau harus belajar cara mengontrol emosimu, Cath,” kata Kayla perlahan. “Kau harus bisa mengontrol emosimu. Aku sangat khawatir. Kalau begini terus, bukan tidak mungkin hal yang buruk akan terjadi padamu suatu saat nanti.”

“Misalnya,” sambung Nick, sambil melirik ke arah Julie. “Richard meninggalkanmu dan—pacaran dengan Janice.”

Nick tertawa sendirian, tapi yang lain hanya memandang Cathy dengan was-was. Dulu, topik ini memang topik gurauan yang menyenangkan. Tapi gadis-gadis itu tahu kalau bagi Cathy sekarang, isu itu sama sekali tidak lucu. Gadis itu bisa menerkam siapa saja yang diisukan mendekati Richard, bahkan hanya sekedar menyebutkan namanya saja.

“Richard tidak akan pacaran dengan siapapun, kecuali aku,” kata Cathy. Ia menoleh ke arah Richard, meminta kepastian. “Ya kan, Sayang?”

Richard tersenyum lemah.

“Ya,” jawab Richard.

“Mengerikan,” kata Nick. “Tidakkah kau merasa kau mengikat Richard terlalu kuat, Cath? Aku saja ketakutan melihat sikapmu yang posesif itu. Kalian, gadis-gadis, harus memberi kami, anak laki-laki, keleluasaan. Kami juga ingin punya privasi sendiri. Bahkan dalam urusan pertemanan sekalipun.”

“Bukan urusanmu, Nick,” hardik Cathy. “Lagipula, aku adalah aku. Kalian harus menerima aku apa adanya. Bukankah itu gunanya teman? Dan asal tahu saja, ya, Richard dan aku sudah ditakdirkan untuk bersama. Dan kalau ada wanita lain yang berani-bera—”

“Cath,” kata Kayla. “Kupikir Nick ada benarnya juga.”

Cathy mendumel.

“Kenapa kau malah membelanya?” kata Cath dengan dramatis. “Padahal jelas-jelas aku adalah korban di sini. Cintaku dan harga diriku dipertaruhkan di sini. Tidakkah kalian pikir—”

“Baiklah, baiklah,” kata Julie panjang, membubarkan perdebatan mereka yang tidak ada habis-habisnya. Ia berusaha menjangkau notepad dan pena yang tergeletak sangat jauh dari tempat duduknya. “Bagaimana kalau kita mulai memesan saja? Perutku sudah lapar.”

Sirloin steak,” sontak Jessie. “Julie! Kumohon, sirloin steak!”

Jessie hampir saja menyambar tangannya dengan ganas, kalau saja mereka tidak duduk berjauhan. Julie berterima kasih pada Tuhan atas keputusannya duduk jauh-jauh dari Jessie hari ini. Dan pada Kayla. Sepertinya mulai hari-hari ke depan, ia akan mulai mempertimbangkan untuk lebih sering duduk berjauhan dari gadis itu.

“Oke. Kalo begitu, bagaimana kalau kita pesan sirloin steak untuk semuanya? Sangat direkomendasikan—yeah, oleh Jessie,” kata Julie. Ia sendiri tak tahu bagaimana rasanya, ia dulu hanya memesan sosis goreng. “Delapan sirloin steak, dan minumannya silakan pilih sendiri.”

Kayla mengkerut.

“Julie. Sirloin steak itu harganya sangat mahal,” tegas Kayla. “Yang lain saja.”

Julie mengamati papan harga yang tergantung di dinding sebelah mereka. Angka yang terpampang memang cukup fantastis. Pada kenyataannya, tidak ada harga steak yang lebih murah lagi daripada itu.

“Baiklah. Lalu, kau mau aku menulis apa? Sosis?” kata Julie.

“Kay! Kita ke sini untuk makan steak—bukan SOSIS,” protes Jessie. “Ayolah. Kumohoon. Tadi Lucy juga sudah mengiyakan. Ya, kan?”

Jessie merengek putus asa. Ia memperlihatkan kedua matanya yang berbinar-binar dan penuh rasa iba. “Nanti kalau ternyata uangnya kurang, biar aku tambah sendiri saja. Ya??”

“Aku tidak bisa—ini harusnya keputusan Lucy. Seandainya saja dia ada di sini,” kata Kayla sambil mendesah.

Kayla mengangkat topik ini lagi. Julie paling suka kalau mengungkit-ungkit hal ini. Ini membuatnya menjadi merasa sangat disiplin.

Yeah. Di mana anak itu?” kata Julie, pura-pura sebal. Ia tampak protes, padahal dalam hatinya senang sekali. “Tadi, dia memintaku datang jam empat KURANG sepuluh, dan sekarang dia malah tidak ada di sini.”

Cassandra mengutak-atik ponselnya, membaca pesan singkat yang baru dikirimkan oleh Lucy. “Sepuluh menit lagi. Lucy sedang di jalan.”

Julie memberikan notepad dan pena pada gadis-gadis lainnya dan melihat toples kaca yang telah kosong menganga tepat di hadapannya. Ia menggigit bibirnya.

“Ngomong-ngomong,” kata Richard. Anak laki-laki itu biasanya tidak banyak bicara, tapi ia terus-menerus mempertanyakan hal ini sejak mereka berangkat dari sekolah. “Kenapa hanya aku yang memakai baju bebas? Kalian semua masih memakai seragam sekolah. Bahkan Nick juga.”

“Karena kau terlihat luar biasa tampan,” kata Cathy. “Itulah sebabnya kenapa.”

Richard memang terlihat sangat tampan. Julie sendiri sangat menyukai Richard dengan penampilannya yang segar dan menyenangkan. Benar-benar enak dilihat. Tapi kaus Hawaii biru terang itu memang terlihat sangat kontras dengan seragam sekolah mereka semua. Wajar saja kalau gadis pelayan di restoran itu tidak henti-hentinya memandangnya dan mengamuk saat Cathy memarahinya.

“Cath, kita semua terlihat kumal di sini,” kata Cassandra.

“Itulah intinya,” kata Cathy.

Mereka tertawa.

Kadang-kadang terasa aneh bagi Julie dan kawan-kawannya yang lain, tentang logika Cathy yang satu ini. Ia ingin pacarnya terlihat sangat tampan dan memamerkannya ke mana-mana, tapi ia juga sangat marah kalau gadis-gadis lain di sekelilingnya memandang pacarnya yang tampan terlalu lama.

Nick dan Jessie pun sepakat kalau Cathy seharusnya membuat Richard terlihat kusam dan menyeramkan—alih-alih terlihat semakin tampan, kalau ia sebegitu tidak inginnya Richard dilihat oleh semua orang. Hanya Cathy yang tidak berpendapat demikian. Ia masih ingin memamerkan pacarnya.

“Bajumu yang kubeli di Ava hari Sabtu yang lalu terbawa olehku. Aku sengaja membawanya hari ini untuk memberikannya padamu dan ternyata Lucy mengajak kita makan-makan. Jadi—”

“—jadi, kenapa tidak? Kau pakai saja sekalian,” sambung Cathy, setelah menarik satu helaan napas pendek.

Pipi Richard yang memerah seperti tomat. Wajahnya yang imut menggemaskan tampak tak berdaya di samping Cathy yang ngotot dan memaksa.

“Jangan tanya-tanya lagi, Richard. Ini terakhir kalinya aku mengulang kalimatku ini,” kata Cathy.

“Tapi,” kata Richard sekali lagi. Ia menunduk kalem seperti kucing. “Ini.. Baju ke..,” suaranya semakin melemah. “Pantai.”

Tawa mereka meledak lagi.

Gadis-gadis itu cukup memahami betapa Richard menderita karena ia terlihat berbeda sendiri daripada yang lainnya, tapi mereka sebenarnya juga berterimakasih dengan ide Cathy yang brilian. Atmosfir geng mereka di kedai Steak~Stack sore itu benar-benar sejuk dan biru menyegarkan. Richard benar-benar enak dilihat.

Nick merasa cemburu dengan perhatian yang berlebih itu.

“Oke. Jessie. Besok tolong bawakan juga baju Hawaii untukku,” kata Nick. “Aku juga ingin terlihat tampan.” Nick tiba-tiba teringat sesuatu. “Eh, ya. Ngomong-ngomong—di mana bajuku?? Kau tidak membelikan sesuatu untukku?”

Jessie sudah menantikan pertanyaan ini sejak lama. Ia hampir saja mengira Nick sama sekali tidak akan pernah menyadarinya. Anak laki-laki ini cukup lambat berkembang.

“Tidak,” kata Jessie. “Untuk apa?”

“JESS,” ringkik Nick merana. “Aku juga butuh baju.”

Jessie melanjutkan menulis pesanannya di atas kertas catatan. “Kau sudah memakai baju.”

“Aku ingin memakai baju Hawaii,” kata Nick lagi.

“Beli sendiri,” tukas Jessie.

Nick menurunkan kedua bahunya kecewa.

Cassandra terkekeh melihat tingkah laku kedua pasangan ini. Ia tahu kalau Jessie sebenarnya telah membeli dua stel baju untuk Nick, termasuk sebuah kemeja indian voile keren yang ia bantu pilihkan di Ava waktu itu. Semua orang di kelompok mereka telah mendapatkan jatah mereka masing-masing—bahkan baju Hawaii yang sama. Ia tak mengerti kenapa Jessie masih merahasiakannya.

Cassandra baru saja akan menghibur hati Nick soal baju Hawaii-nya yang disembunyikan oleh Jessie, tapi kata-katanya tidak sempat diucapkan karena seorang gadis berambut pirang lurus berponi segera menghampiri mereka dari kejauhan dengan langkah yang tergesa-gesa.

“LUCY—,” kata Kayla. “Akhirnya kau datang juga.”

Lucy tampak begitu kelelahan. Ia merapikan kacamatanya yang berantakan dan mencoba mengatur napasnya yang masih tersengal-sengal sehabis berlari.

“Teman-teman, aku membawa berita buruk,” kata Lucy. Wajahnya menyiratkan kengerian yang luar biasa, seolah-olah baru saja melihat hantu di tengah-tengah kuburan.

Lucy menarik napasnya. Gadis-gadis itu memperhatikan dengan serius.

“Emma!” kata Lucy. “Dia sudah kembali.”

 

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

23 thoughts on “14. Perayaan (3)

  1. aduh….
    Kpan si richard jadyan sma julie…
    gk sabar nie !!
    kkk,,,,
    cepet lanjutin dong….
    Kngen nie !!
    pissss…..

    Kkkk,,,
    aza aza fighting !

  2. Aiiihhh… Kok abis baca part ini, aku rasanya bosen ya.
    seperti ada kata di kalimatnya yg kurang sreg.

    Alur ceritanya trlalu makin meluas dan nggak ada ujungnya.

    Cepek juga mbayangin..

  3. kkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk

    lanjutin pisssss

  4. kak sonya, maaf aku baru baca sekarang, serius deh makin menarik cerita julie light with sang pangeran richard, aku suka progress mereka yang bertahap gitu makin kesini naksirnya keliatan jadi kesannya nggak yang mendadak cinta, terus ada cathy disini, i think she’s the big matter here. Kakak bisa banget ngehidupin karakter cathy yang nyebelin posesif galak, bener kata richard, she really is the witch!
    Bikin reader bener2 sebel sama si cathy. Si antagonis tp bukan dalam artian sebenernya, soalnya dia sahabat julie sih.

    Aku suka gaya temenannya the lady bitches deh, fun banget! Nggak boring ada aja yg bisa bikin rame terus julie jessie itu!! Cute! I’m fond of them tbh

    Dan julie ini…. Aduh aku cinta bgt karakter julie, sifatnya cantik banget, playfull yg pas sama mamanya resek abis hahaha jarang sih ada relationship anak-emak sebrutal punya julie-lily light aku suka! Terus yg dia tipikal telatan, jahil, cuek entah deh kok aku lebih nangkepnya karakter dia yg bikin para cowok captivated gitu ketimbang si diva cathy. Terus yg julie belom nyadar kalo dia mulai naksir richard, dia respek sama perasaan cathy, bahkan sejak dia ngewawancarain richard dia masih ngerasa nggak enak sama sahabat-sahabatnya gitu.

    aku juga suka part yg the lady bitches teasing julie tentang jerry. Kayaknya omongan mereka bener deh, i smell something fishy there, yakin jerry nggak naksir julie? More spotlight jerry julie dong kak hehehe

    aku mau ngomongin Mr. Oh-so-charming-Richard. Rahasia si cakep sama nick! I got you man. Nah kan ternyata dia kena juga pesona julie, siapa sih yg bisa nolak si unbeatable? Dan kayaknya si richard yg nantinya bakal matahin gelar unbeatable julie. Si cakep emang deh bener-bener nggak bisa di skip, cara dia ngomong beneran nandain kalo dia seorang jenius cakep deh, terus mata birunya itu aku kalo bayangin takjub bgt meski cuma fict character. Tp aku masih bingung, why, out of the blue richard and cathy?
    Boleh aku koreksi dikit kak? Alurnya kecepetan, kan tadinya richard semacem kecewa yg julie nggak ngehargain puisinya tp disaat situasinya yg nggak enak richard mutusin buat jadi pacar cathy biar bisa deket sama julie, mungkin sebelomnya boleh dikasih sentuhan dikit kak 🙂

    Here comes Emma!
    Penasaran dia bakal bikin ulah apa buat cathy, semacem revenge? terus jake?

    Overall cerita ini perfecto kak, bikin nagih buat baca, top banget deh nggak boong, kakak segera publish novel ya aku bakal beli! Maaf kak komen aku kepanjangan hehehe

    Xoxo,
    Ditia

    • Woow..! Komennya panjang banget!
      I really appreciate that! 😀

      Thanks for the overview, Ditia!
      Sangat membantu-ku untuk me-review poin-poin yang kurang dan poin-poin yang sudah tepat sasaran. Hehehe!

      Baca kelanjutannya lagi, yaa! 😉

  5. Slam knal, ak pmbaca bru disini. Ak bru2 ni sdang tergila2 buat bca novel online. Dan kmarin scara ajaib, sya menemukn blog ni. Dan . . .
    Serius ak bnar2 langsung jatuh jnta saat pertma kali bca certanya.
    Julie dan Ricard, bnar2 mengagumkn, sgat membuat pnsarn. Ak smpet kget lihat awal novel ni dibuat 2011, sekitar 3 thun yg lalu. Ak tdk bsa membyangkn bgaimana cra para pembca stia itu menunggu novel ni d publish tiap blannya.
    Bhkan yg bru thu kmrin pun, sgat2 terpesona dgan crtanya. Tak sbar menunggu kelanjutnya.
    Jdi kakak ak mohon, tetap semangat menulisnya, dan tetap slalu d publish.
    Dan ak akn setia menunggu.
    Menunggu julie dan richard jdian.
    Hehehe ^^

    • Hai salam kenal juga ^_^

      Terima kasih atas support dan commentnya yaa, sangat berarti buatku semangat menulis lagi. Hehehe
      Iya, blog novel ini aku bikin tahun 2011 dan seri Friday’s Spot – Julie Light dan Kelas Prancis akan tamat tahun ini. Jangan lupa baca kelanjutannya yaa.. 😀

      Selamat membaca! 😉

    • Yup! Aku sudah mampir.. Isinya review-review novel-novel keren 😀
      Teman-teman yang tertarik, silakan mampir yaa 😉

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s