14. Perayaan (2)

Comments 14 Standar

5765-woman-screaming-and-crying-in-frustration-while-getting-computer-errors-clipart-illustration

Julie sekarang duduk di meja redaksi favoritnya, bertopang dagu, memikirkan kata-kata yang akan diucapkannya pada Jerry. Lima belas menit sudah ia berada di ruangan ini, tapi tak sepatah kata pun yang berhasil diucapkannya. Ia malah sibuk bermain Solitaire di salah satu komputer klub koran sekolah.

“Menurutmu, bagian mana yang perlu diperbaiki dari tulisan Jacqueline?” tanya Jerry, sambil membolak-balik beberapa halaman folio yang terpampang di hadapannya. “Aku sejujurnya tak terlalu menyukainya, tapi kita tak bisa mengambil resiko dan menghilangkan tulisan ini dari bahan majalah sekolah. Kau tahu kan? Keith Lozer hanya datang sekali ke Eastcult. Kita tak mungkin bisa melakukan wawancara lagi.”

“Ya?” sahut Julie linglung. Bagian tersulit dari hidupnya hari ini adalah meyakinkan Jerry untuk membiarkannya pergi di saat anak laki-laki itu mengalami defisit tenaga kerja serius di klub mereka. “Benarkah?”

Jerry mendesah panjang. “Cuci mukamu sana.”

Julie menyengir.

Anak-anak klub mulai banyak yang mengeluhkan metode kerja Jerry yang terlalu workaholic dan ambisius—beberapa mulai sering bolos karena mengeluhkan terlalu banyak pekerjaan dan tugas-tugas sekolah yang terbengkalai. Julie bisa jadi tak terlalu mempermasalahkan karena ia masih punya Lucy yang mengajarinya sepanjang waktu, tapi anak-anak lain mungkin tak seberuntung itu. Hari ini saja hanya ada empat orang yang hadir di ruangan klub mereka.

Jerry, Julie, Lana. Dan Timmy.

“Tunggu apa lagi?” tanya Jerry. “Cepat cuci mukamu dan bantu aku merevisi tulisan ini. Huft. Banyak hal yang harus kita lakukan. Matikan game bodoh itu.”

Jerry terlihat desperate dan wajahnya kusut seperti kain kumal. Julie merasa semakin sulit untuk melarikan diri. Tapi biar bagaimanapun, ini harus dicoba. Ia sudah berjanji pada Lucy.

“Umm, Jerry,” kata Julie berusaha terlihat serius. “Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.”

“Apa itu? Oh. Jangan sekarang, Julie,” kata Jerry singkat. Ia menyodorkan kertas-kertas yang dari tadi dipegangnya. “Ini, tolong periksa tulisan ini. Aku harap kau bisa mengubahnya menjadi lebih baik. Huft. Seharusnya aku menyuruhmu saja meliput wawancara itu.”

Julie menggaruk-garuk kepalanya.

“Ng—tapi,” gumam Julie sambil menerima kertas itu ragu-ragu. “Tim akademis. Ehm. Klub A dan klub B. Mereka menang kemarin. Kau tahu, kan? Dan—ehm, hari ini Lucy mengajakku untuk makan-ma—”

“Tepat sekali!” sahut Jerry. “Itu berita yang sedang panas sekarang. Ah! Lucy. Dia kan temanmu, yah? Dia yang ada di tim—tim B?”

Julie menggangguk.

“Kau sudah kenal dia kan, tentunya? Kalau begitu, tolong tuliskan profil kehidupannya sekarang juga, ya. Sangat penting,” kata Jerry tanpa ekspresi. “Aku tunggu.”

Julie sempat mengira kalau Jerry pada akhirnya memberikan kode-kode tanda mengerti bahwa ia dan teman-temannya akan merayakan kemenangan itu. Tapi ternyata itu hanyalah harapan palsu. Pernyataannya barusan malah membuat anak laki-laki itu memberikannya tugas tambahan.

Julie menjadi sangat gemas.

“Kau tidak dengar penjelasanku barusan, ya?” kata Julie, sedikit jengkel. Ia mulai mendapatkan keberaniannya untuk mengutarakan apa yang tadi ada di pikirannya. “Sore ini  kami merayakan kemenangannya Lucy. Itulah sebabnya aku ingin bilang padamu, aku tidak bisa ikut kegiatan klub hari ini. Aku harus pergi.”

Jerry mendelik ke arah Julie.

“Apa?” cetusnya sambil melotot. Ia setengah tertawa. “Tidak bisa. Kau tahu kan proposal ini akan kuajukan hari Kamis besok? Kita bahkan belum punya separuh bahan yang diperlukan. Dan anak-anak yang lain—ahh, kemana mereka saat dibutuhkan? Benar-benar payah.”

Julie sudah pernah mendengar curhatan ini dari anak-anak klub sebelumnya. Mungkin ini saatnya Julie menyampaikan hal ini ke Jerry secara langsung.

“Tidakkah kau merasa tugas-tugas yang kau berikan ke anak-anak klub terlalu berat? Ayolah. Jerry. Kita ini masih anak sekolahan,” kata Julie. “Dengan tugas-tugas sekolah dan PR-PR yang sangat banyak? Kau bisa membunuh kami semua.”

Jerry tak menunggu waktu terlalu lama untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sepertinya ia sudah cukup sering mendengar pernyataan itu dari orang-orang lain sebelumnya. Ia malah menjawabnya dengan keyakinan kuat.

“Justru! Pola pikir seperti itulah yang harus diubah. Justru karena kita masih muda, kita harus mengembangkan bakat ini seluas-luasnya,” kata Jerry. “Apalagi dengan fasilitas yang senyaman yang diberikan oleh sekolah kita. Sampai kapan kau mau menyia-nyiakan waktu, Julie? Pikirkanlah itu baik-baik.”

Entah kenapa percakapan ini malah mengarah ke ceramah panjang favorit Jerry yang selalu membuatnya kesal. Julie sebenarnya sangat malas untuk berdebat lagi, tapi kebutuhan kali ini memaksanya untuk harus mengusahakan yang terbaik.

Demi Lucy.

“Aku tidak menyia-nyiakan waktu, Bodoh,” kata Julie. “Hanya makan-makan. Ini acara perayaan kemenangannya Lucy. Hanya sebentar.”

Jerry menggeleng tegas.

“Aku tak setuju dengan acara makan-makan. Traktiran. Perayaan. Atau semacamnya. Itu terlalu membuang-buang waktu,” kata Jerry. “Dan membuang-buang uang. Lebih baik kita melakukan hal lain yang lebih produktif.”

Yeah. Kau mungkin tak setuju. Tapi aku setuju,” kata Julie. Ia melipat tangannya di depan dada dan berusaha untuk terlihat semakin kesal. “Dan Lucy temanku. Aku tak mungkin melewatkan hari bahagia Lucy.”

Julie sekarang mematikan komputer yang ada di mejanya dan bersiap-siap untuk pergi. Ia berusaha menunjukkan wajah yang marah dan mengancam, menirukan gaya Cathy Pierre saat sedang merajuk, agar anak laki-laki itu dapat memahami betapa pentingnya acara perayaan kali ini untuknya. Ia sebenarnya tak sering melakukan akting ini, tapi Jerry benar-benar keras kepala.

“Julie?” kata Jerry.

Julie berencana tidak menjawab panggilan itu. Ia sudah cukup sering melihat Cathy mengabaikan semua panggilan orang-orang yang membuatnya kesal, dan sepertinya cara itu cukup berhasil. Julie sama sekali tidak tahu kalau cara itu sama sekali tidak ampuh, jika ia yang mempraktekkannya.

Wajah kaku dan dinginnya malah terlihat konyol dan menggelikan.

“Julie?” panggil Jerry sekali lagi, seperti sedang mengetes hipotesanya. Ia mengelus-elus dagunya penuh arti sambil tersenyum. “Baiklah.”

Julie memasang telinganya baik-baik.

“Begitu proposal majalah sekolah versi klub koran sekolah ini selesai,” kata Jerry perlahan, tersenyum santai, dengan gaya mengancam. “Aku akan memasukkan nama-nama kontributor-kontributor terbaik di klub koran sekolah di halaman pertama. Bayangkan? Namamu dibaca oleh semua orang di dunia sebagai salah satu kontributor majalah pendidikan Nimberland yang sangat terkenal. Siapa yang bisa berharap pencapaian yang lebih baik lagi?”

Jerry mengangkat kedua tangannya dan bersandar pada telapak tangannya di belakang kepala. Ia melipat sebelah kakinya ke atas, menaikkannya di atas kaki yang lain, dan menghirup udara sore itu dengan santai.

“Tadinya aku mempertimbangkan  memasukkan namamu, Julie,” kata Jerry. Ia berpura-pura terlihat bimbang dengan gaya yang sangat mengesankan. “Tapi mungkin sebaiknya aku pikir-pikir dulu.”

Julie terhenyak.

Pertahanannya runtuh.

“Aaaaah, ayolaaah! Jerry—” rengek Julie. Pernyataan Jerry barusan benar-benar membuatnya berpikir panjang akan kesempatan yang menggiurkan itu. “Aku akan melakukan apapun yang kau mau. Merevisi tulisan Jacqueline? Membuat profil Lucy? Baiklah. Aku akan menulis semuanya dan mengirimkannya ke e-mailmu nanti malam. Kumohoon. Kali ini saja.”

Ia merengek seperti bayi.

“Aku ingin kedua artikel itu selesai sore ini,” kata Jerry. “Dengan atau tanpa acara perayaan dengan teman-temanmu itu. Kalau kau mau, selesaikan itu terlebih dahulu, baru kau boleh pergi.”

“Ap—aku tidak bisa,” kata Julie.

“Julie?? Kau tahu aku kekurangan tenaga di sini!” protes Jerry.

Julie menghela napas. “Kami akan pergi ke Steak~Stack jam 4, dan aku sudah berjanji untuk datang 10 menit sebelumnya. Aku tak bisa menulis secepat itu.”

Julie berusaha menjelaskan.

“Dan aku bukan robot, Jerry. Aku hanya manusia biasa. Kalau kau membutuhkannya dalam waktu cepat, kau harusnya suruh Timmy. Atau Lana. Atau anak-anak lainnya yang tidak hadir hari ini. Aku tak bisa.”

Jerry menoleh ke arah Lana yang sedang menguping pembicaraan mereka dari pojok depan. Gadis itu berpura-pura tak mendengar. Ia terlihat sangat sibuk dan memperhatikan komputernya dengan sangat serius, seolah memberikan sinyal keras kalau ia tak ingin dihadiahkan dengan tambahan tugas apapun lagi.

Nonsense. Kau tahu itu tak mungkin,” kata Jerry. “Kita kekurangan waktu dan tenaga, dan mereka yang tidak hadir sekarang tidak bisa diandalkan untuk tugas yang akan kuberikan. Jadi apa penawaran terbaikmu?”

Julie mengernyitkan dahinya. “Mengizinkanku pergi kali ini supaya aku tidak marah padamu?”

Jerry tertawa keras.

“Oke, oke,” kata Jerry.“Aku sangat takut kalau kau marah.”

Nada suaranya mungkin terdengar sarkartis, tapi sebenarnya ia cukup khawatir. Jerry tak tahu apakah gadis itu hanya mengancam atau sungguhan, tapi ia tak ingin mengambil resiko. Ia menatap Julie lekat-lekat.

“Baiklah—dengan satu syarat,” kata Jerry akhirnya. Ia sangat berharap kalau Julie akan menuruti kemauannya kali ini dan mengutamakan prinsip profesionalisme seperti dirinya. Tapi setiap kali berurusan dengan teman-temannya, gadis itu memang sulit untuk diajak kompromi.

Ia menghela napas. Julie bersorak kegirangan.

“Tidak peduli bagaimana pun caranya, aku ingin kedua artikel itu sudah ada di mejaku sebelum pukul 6 sore,” kata Jerry. “Tercetak.”

“Ha?” kata Julie bingung. Ia tergelak. “Kau pasti bercanda.”

Jerry menggeleng.

Julie tahu, Jerry memang lebih suka mengoreksi bahan-bahan tulisan anak-anak klub dalam bentuk hard copy atau kertas tercetak—katanya lebih mudah baginya untuk memproyeksikan kesesuaian tulisan itu dengan bentuk jadi di dalam imajinasi pikirannya. Julie selalu komplain—dan Jerry tak pernah mendengarkan—tapi kali ini kondisinya benar-benar lain. Ia tak mungkin mengumpulkannya sebelum jam 6.

“Kau gila? Bagaimana mungkin aku melakukannya?” protes Julie frustasi. “Kenapa tidak lewat e-mail?”

“Aku tak suka membaca draft dalam bentuk e-mail. Kau kan tahu itu,” kata Jerry. “Aku akan menunggumu di ruangan ini sampai kau selesai dengan urusanmu dan kembali lagi ke sini untuk mengumpulkan artikel itu. Jam 6 sore.”

“Tapi aku kan bukan jin—.”

Julie tak sempat menyelesaikan kalimatnya, saat Timmy menghambur dari pintu depan seperti orang gila. “Julie! Ada Richard datang mencarimu.”

Julie memandang Timmy dengan sangsi saat ia menyebutkan nama anak laki-laki itu. Ia tertawa. Anak itu tidak mungkin datang ke sini.

Julie terdiam saat anak laki-laki itu memasuki ruangan mereka.

“RICHARD!!”

Julie tak tahu kenapa Lana harus menyebutkan nama anak laki-laki itu sambil menjerit. Lana dan Timmy—dan semua gadis di klub mereka sebenarnya—memang bagian dari anggota penggemar Sang Pangeran Tampan Bercahaya Richard Soulwind, bahkan mereka punya julukan sendiri untuk Richard. Twinkle Prince—Pangeran Kelap-Kelip. Sangat konyol.

Julie langsung mengubah pendapatnya begitu melihat cahaya putih gemerlap yang masuk ke dalam ruangan itu dan berjalan semakin mendekat ke arah mereka.

Richard terlihat tampan dengan baju Hawaii biru bermotif bunga hibiscus dan celana pendek putih yang membuat kulit putihnya terlihat semakin bersinar. Mata birunya benar-benar mencolok. Richard biasanya tak pernah mengenakan pakaian semacam itu, anak laki-laki itu lebih suka memakai kaus T-shirt polos, bergambar sedikit, atau bergaris-garis sederhana, namun kali ini penampilannya benar-benar berbeda.

Julie sekarang mengerti mengapa Lana sampai terkaget-kaget seperti orang kesetanan, karena dengan penampilan seperti itu, Richard terlihat benar-benar berkilau dan tampan, seperti seorang aktor Hollywood yang sedang liburan di Pantai Waikiki. Apalagi karena ia berada di ruangan klub koran sekolah, ruangan paling butut di gedung sekolah mereka, yang sangat kontras dengan warna kulitnya.

Richard merendahkan suaranya dan berkata dengan sopan.

“Maaf aku mengganggu kalian semua,” kata Richard. Suaranya benar-benar merdu dan enak didengar. “Aku ke sini ingin menjemput Julie.”

Jerry mengernyit.

“Julie sedang sibuk,”  katanya ketus. “Dia tidak ada waktu untuk melayanimu.”

“Sebenarnya ada,” kata Julie cepat-cepat. “Kami sudah membicarakannya sejak tadi siang. Itulah sebabnya aku meminta izin padamu sore ini. Ayolah Jerry, kali ini saja.”

Timmy menatap Julie pangling, seolah tidak percaya. “Kau akan kencan dengan Richard?? Kukira Richard pacaran dengan Cathy.”

“Tidak,” bantah Julie secepat kilat. “Tidak kencan. Sudah kubilang kan dari tadi, aku dan teman-temanku akan merayakan kemenangan Lucy. Dan—kenapa kau di sini, Richard? Aku tak ingat pernah minta tolong padamu untuk menjemputku.”

“Memang tidak,” kata Richard. Ia tersenyum lembut. “Aku hanya kebetulan lewat saja. Berhubung sekarang sudah jam empat kurang lima belas, kukira tidak ada salahnya jika sekalian menjemputmu, Julie. Cathy cukup sensitif soal keterlambatanmu, akhir-akhir ini.”

Julie mendongak ke arah jam dinding. Memang sudah jam 4 kurang lima belas, persis seperti yang dikatakan Richard. Julie tak tahu logika apa yang terlintas di pikiran anak laki-laki itu, tapi kedatangannya benar-benar tidak diharapkan. Tidak hanya memperburuk situasi, seumur hidupnya selama ini, ia sama sekali tidak pernah berharap akan dijemput Richard atau apapun. Bahkan jika Cathy sampai harus memarahinya, bisa-bisa Cathy lebih marah karena Richard menjemput Julie daripada karena ia datang terlambat.

Jerry mengulangi kata-katanya sekali lagi.

“Kalau kau pergi sekarang, aku takkan memasukkan namamu sebagai kontributor proposal majalah sekolah sama sekali. Tak peduli betapa banyak pun peranmu di sana,” kata Jerry. “Pikirkan baik-baik.”

Julie terlihat gelisah.

“Proposal?” tanya Richard. Julie menyengir sedikit. Ia tak tahu harus berbuat apa dalam situasi sulit ini. Walaupun Jerry sudah menawarkan syarat lain, hasil negosiasi itu sama sekali tidak menguntungkan.

Richard tiba-tiba mengubah ekspresinya menjadi lebih serius.

“Aku tak ingin ikut campur, Julie,” kata Richard perlahan, sambil menganalisa dengan hati-hati. “Tapi jika itu memang hakmu, namamu pasti akan ada di sana. Kukira dia hanya menggertak saja.” Richard menatap Jerry dengan tajam. “Lagipula, kalau ternyata masih berbentuk proposal, kukira tak ada gunanya mempertaruhkan harapan sahabat-sahabatmu demi sesuatu yang belum pasti.”

Jerry meringis. Ia memandang Richard dengan pandangan jijik. Intensitas ketegangan di antara mereka berdua meningkat lagi. Kehadiran anak laki-laki itu di ruangan ini saja sudah cukup membuatnya tidak senang, apalagi sekarang anak laki-laki itu mulai berlagak sok pahlawan.

“Fantastis,” erangnya. Ia mengangkat tangannya dengan marah. “Hebat. Sekarang kau sudah punya malaikat pelindung rupanya. Pergilah. Jika itu memang maumu, pergilah. Aku tak akan melarangmu lagi. Cukup tahu saja, seberapa jauh profesionalisme-mu terhadap pekerjaan ini. Aku tak akan mengganggumu lagi. Pergi.”

Anak laki-laki itu melambaikan tangannya dengan acuh tak acuh. Ia kini sibuk mencoret-coret naskah proposal majalah sekolah seolah-olah tumpukan kertas yang ada di atas mejanya itu kini lebih menarik dari apapun yang ada di ruangannya saat ini.

Julie semakin bimbang. Meskipun telah memberikan izin, raut wajah Jerry sama sekali tidak bersahabat.

“Apa yang harus kulakukan?” gumamnya pada Lana dan Timmy. Mereka menggeleng serba salah.

“Jam 8,” kata Julie pada akhirnya. “Aku akan mengirimkan e-mail ke tempatmu jam 8.” Ia sekarang bangkit dari kursinya terburu-buru dan tak henti-hentinya memandang Jerry dengan seringai terlebar yang pernah dimilikinya. “Maafkan aku, aku harus pergi. Daaagh!”

Julie mengendap-endap dengan cekatan dan mengajak Richard pergi secepat-cepatnya. Ia takut kena sembur Jerry, oleh karena itu sebaiknya ia kabur dari tempat itu sebelum Jerry mengubah pikirannya. Jerry sendiri tak lagi memperhatikan. Ia benar-benar kesal dan memilih untuk tidak menghiraukan mereka berdua lagi.

“HAAH!” seru Julie setelah mereka menjauh beberapa kaki dari ruangan klub itu. Paru-parunya mengembang dan mengempis tidak beraturan, berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. “Rasanya seperti baru keluar dari sarang naga.”

Richard bertanya dengan penasaran, “Kenapa Jerry bersikap seperti itu padamu?”

“Aku tak tahu,” kata Julie. Ia mengangkat pundaknya. “Tapi sebelum kau datang tadi, dia masih baik-baik saja.”

“Anak itu—” kata Richard sambil menerawang. “—terlalu obsesif.”

Julie tidak bisa menampik kenyataan itu. Semua orang membicarakannya. Tapi ia juga mencoba memahami situasi yang dihadapi oleh Jerry. Anak laki-laki itu sangat menyukai dunia tulis-menulis, sangat berdedikasi dengan apa yang dilakukannya, memiliki mimpi yang besar dan panjang, dan ia merasa—sendirian.

“Aku tak bisa menyalahkannya,” kata Julie. Ia merasa benar-benar kasihan. “Sejujurnya aku ingin membantu Jerry sebisaku, tapi situasinya sedang tidak mendukung sama sekali. Kau tahu, kami sedang kekurangan orang, mempunyai proyek yang besar di depan, dan aku di sini malah pergi bersenang-se—”

“Julie,” kata Richard. Ia menatap Julie lekat-lekat, seolah tak ingin melepaskannya. “Apapun alasannya, kau harus memiliki kehidupan yang seimbang. Tidak dengan cara seperti ini.” Richard melanjutkan kata-katanya dengan cemas. “Jerry terlalu obsesif. Dia bisa menyakitimu.”

Richard memperlambat langkahnya, Julie pun merasakan gigil yang tidak biasa di jantungnya. Ada sesuatu yang berbeda saat Richard mengucapkan itu dan memandang Julie dengan mata yang teduh seperti air laut. Julie menyeringai salah tingkah, merasa seperti ada balon luar angkasa yang meletus di perutnya.

Julie dan Richard menuruni tangga menuju lantai kedua dengan langkah yang seirama dan itu rasanya sangat ganjil bagi Julie. Ini pertama kalinya ia dan anak laki-laki itu berjalan beriringan. Biasanya Richard selalu ditemani Cathy.

“Kenapa, Julie?” tanya Richard.

“Um. Tidak.”

Julie berdehem.

“Oke, sebenarnya ada yang mengganggu pikiranku dari tadi,” ceracau Julie tak jelas. Otaknya sudah tidak sinkron lagi dengan organ-organ apapun di seluruh anggota tubuhnya. “Bajumu—baru, ya?”

Richard terperangah. Ia tertawa.

“Ini?” tanya Richard sambil menunjukkan bajunya ragu-ragu. “Ini baju dari Cathy yang mereka beli di Ava kemarin. Dia memaksaku untuk memakainya sore ini.”

Julie mengangguk sambil tertawa. “Sangat—aloha.”

“Jelek, ya?” tanya Richard, . Ia sebenarnya ia tidak begitu nyaman berkeliaran dengan pakaian semencolok itu dari tadi. Apalagi saat mereka masih berada di sekolah. “Aku sangat malu memakainya. Tapi Cathy bersikeras memaksa.”

“Tidak, tidak. Kau sangat—” kata Julie. Ia menahan napasnya sebentar, mempertimbangkan apakah ia benar-benar akan mengucapkan kata itu. “Yah. Kinclong.”

Mereka tertawa.

“Kau sangat lucu,” kata Richard sambil menahan senyumnya.

“Julie!” teriak Kayla dari kejauhan. Ia berlari dari arah koridor menuju ke tangga yang sedang mereka turuni. Julie dan Richard menoleh dan berhenti sejenak, melihat ke arah Kayla yang terkesiap saat melihat anak laki-laki yang menggunakan baju Hawaii berwarna biru mencolok. “Dan—Richard. Eh, sedang apa kalian?”

“Menurutmu?” tanya Julie retoris.

Richard tersenyum. “Turun ke bawah. Mau ikut dengan kami?”

“Ehmm, um. Iya. Boleh,” gumam Kayla salah tingkah. “Ngomong-ngomong.. Kau sangat tampan dengan baju itu, Richard. Cassandra pintar memilih, ya.”

“Benarkah?” tanya Richard. Ia melirik ke arah Julie, yang pura-pura tidak melihat. “Julie bilang aku sangat kinclong.”

Kayla menatap Julie dengan alis berkerut.

“Dalam arti yang bagus. Dalam arti yang bagus,” kata Julie, meralat cepat-cepat. “Ayolah. Masa yang begitu saja mau dianggap serius? Eh, ya. Kay—” Julie menahan tubuh Kayla, sebelum gadis itu menapaki anak tangga berikutnya. “Berhubung  kau ada di sini, nanti kalau Cathy tanya, bilang saja kau dan Richard baru saja berpapasan dengan aku di tangga ini, ya?”

Kayla terlihat keheranan.

“Memangnya kenapa?” tanya Kayla. “Dan aku baru mau menanyakannya. Memangnya kalian dari mana?”

Richard baru akan menjawab, namun Julie langsung menyambar pertanyaan itu secepat kilat. “Aku dan Richard hanya berpapasan di depan ruangan klub koran sekolah. Kami kebetulan bertemu. Aah—kau tahu kan Cathy? Dia bisa ngamuk kalau tahu aku jalan hanya berdua dengan pacarnya.”

Kayla mengangguk paham. Ia tak perlu diingatkan lagi betapa protesnya Cathy saat Kayla menyuruh Richard keluar dari Ava Shopping Avenue dan menunggui Julie kemarin. Kalau saja Richard tak kegerahan dan terlihat benar-benar menderita di balik siku ibu-ibu muda yang berebutan pakaian renang, Cathy pasti tak pernah mengizinkannya pergi.

“Baiklah,” kata Kayla. “Dengan satu syarat.”

“Apa?”

Kayla tersenyum penuh arti.

“Nanti di kedai Steak~Stack, kau dan Jessie harus duduk berjauhan,” kata Kayla, dengan menegaskan. “Aku tak mau tempat itu jadi rusuh karena kalian.”

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

14 thoughts on “14. Perayaan (2)

  1. God! Tolong luruskan otak Julie!~~
    Apalagi dari arti perseteruan Jerry dan Richard kalau bukan krna sm” menyukai dan mmpertahankan Julie 😉

    Salam kenal kak Naya (;

  2. Hufft… Aku selalu berharap dlam cerita ini bahwa hubungan richard dan cathy hanya bohongan atas permintaan richard untuk menarik perhatian julie supaya cemburu… Bener nggak?? Ngayall yaaa???? Wkwkwkwkwk…..

    Untuk cerita ini lumayan deh, soalnya nggak ada cathy yg super manja hihihi.

    Suka perseteruan antara jerry dan richard, agar suasana ada tegangnya juga.
    Kan klau gitu richard bisa keliatan tegasnya.

    Lanjutttt kak…

  3. Ini novel super lama..authornya kelewat pngen sempurna akibatnya slalu bikin penasaran akut..ga sabar pngen tau andai cathy tau perasaan richard yg sbnernya..kalo crita pasarannya mah karakter julie ngalah..menghilang..brtemu lg brrp thn kmudian..jd penasaran bgmn versi nayacorath ^^

    • Hehehe iya.. Ilhamnya lama soalnya.. Ngumpet dia
      Update berikutnya udah muncul yaa Fathiya
      Selamat membaca! 😉

  4. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  5. Ping-balik: 14. Perayaan | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s