14. Perayaan

Comments 6 Standar

group-of-kids-clipart-happy_kids_clipart

Lucy baru saja menyampaikan berita gembira tentang kemenangannya di kota Heinswell. Kedua tim utusan Nimbersland—tim A dan tim B—memenangkan peringkat pertama dan peringkat kedua dalam kompetisi antar sekolah tersebut.

“Serius?” Gadis-gadis itu bersorak kegirangan.

“LUCY!!!” teriak Cathy, dengan kesenangan meledak-ledak. “Sudah kubilang, kan? Kau pasti akan memenangkan pertandingan itu! Kenapa kau tak percaya padaku!?”

Lucy tersenyum malu.

“Tidak, aku tidak menang, kok. Hanya peringkat kedua,” kata Lucy sambil menahan senyum. “Hanya selisih sedikit.”

Lucy menceritakan detil panjang tentang kompetisi yang berlangsung waktu itu. Setelah babak penyisihan yang cukup alot, kedua tim utusan Nimberland memimpin pertandingan, jauh meninggalkan saingan-saingannya yang tidak begitu menonjol. Selama babak final, tim A dan tim B Nimberland selalu memimpin skor, terus-menerus berkejaran seperti pebalap F1 di arena balap, meninggalkan lawan-lawannya. Karena penampilan sekolah mereka yang begitu memukau, siapa pun di sana sangat yakin kalau salah satu dari kedua tim sekolah Nimberland pasti akan merebut gelar juara satu, hanya saja tak seorang pun dari mereka yang dapat menebak yang mana dari kedua tim itu yang akhirnya akan berhasil memenangkannya.

Lucy mengakhiri ceritanya dengan ekspresi yang sedikit pahit, namun ia masih terlihat sangat bangga. Dia dan timnya memang hanya mendapat peringkat kedua, namun selisih skornya sangat tipis dengan tim A—hanya selisih 25 poin dari skor 2150 yang diperoleh tim A. Benar-benar tipis. Kalau saja Dean Heinsenberg tidak salah menjawab satu pertanyaan terakhir yang ambisius di akhir putaran final, tim B mereka pasti sudah menjadi pemenang mutlak dalam kompetisi itu.

“Wow. Sedikit lagi peringkat satu!” teriak Cathy putus asa. Ia mengerang dengan seluruh tenaga dalamnya, sampai-sampai seluruh bagian meja makan mereka bergetar karena hentakan yang keras dari kedua tangannya. “Dan si Heinsenberg sialan—apa yang diperbuat anak bodoh itu? Harusnya kalian juara satu! Harusnya kalian yang menang!”

Cathy menarik rambutnya sendiri.

“AAHHH—”

Ekspresi Cathy yang berlebih-lebihan telah membuat cerita Lucy menjadi terdengar lebih seru daripada film Star Trek yang mereka tonton kemarin. Gadis itu mampu membuat suasana di sekitarnya menjadi terlalu dramatis dan seru—seperti telenovela, meskipun itu membuatnya terlihat seperti orang gila yang kesurupan.

Gadis-gadis itu tertawa.

“Selamat ya, Sayang,” kata Kayla bangga. “Kurasa itu adalah sebuah pencapaian yang sangat hebat darimu. Guru-guru kita pasti sangat bangga padamu. Kami semua merasa sangat bangga memilikimu.”

“Walaupun bukan juara pertama—memang belum, hanya masalah waktu, kan?—tapi penampilanmu sangat hebat! Cool, Lucy!” kata Jessie, mengacungkan kedua jempolnya. “Kau memang teman kami yang paling pintar!”

“Apalagi, kalau kudengar dari cerita Mrs.Salander,” kata Cassandra. “Ia bisa menjawab seluruh pertanyaan kelas sepuluh jauh lebih banyak daripada Jennifer. Mrs.Salander waktu itu tak henti-hentinya berulang kali memuji Lucy.”

Gadis-gadis itu memandang takjub.

‘Anak itu benar-benar mengesankan. Benar-benar mengesankan,’ ” kata Cassandra lagi, menirukan suara Mrs.Salander yang bernada rendah dan serak-serak basah. “Entah sudah berapa kali wanita itu mengulang-ulang kalimat yang sama. Sepertinya dia benar-benar terkagum dengan kemampuanmu. Aku yakin, guru-guru tidak akan memandangmu sebelah mata lagi sekarang.”

Lucy menyembunyikan wajahnya yang tersenyum di balik gelas soda yang bermulut besar. Hadiah yang didapatkannya dari perlombaan itu memang tidak seberapa—apalagi setelah dibagi tiga dengan Dean dan Roscha. Meskipun demikian, baginya justru pengakuan dari orang-orang sekelilingnya atas hasil kerja kerasnya selama inilah hal yang paling berarti untuknya sekarang. Sangat berarti untuk menambah kepercayaan dirinya. Pujian yang tak henti-henti dari teman-temannya itu membuatnya sangat tersanjung.

Julie ikut menimpali percakapan.

“Nah, Lucy. Tidak percuma kan aku meminta bantuanmu mengerjakan PR-PR-ku setiap hari?” kata Julie sambil mengedipkan matanya. “Sedikit banyak aku sudah berkontribusi terhadap peningkatan kecerdasanmu, Lucy. Gila. Bahkan aku mengorbankan kecerdasanku sendiri.”

Gadis itu tertawa. “Bagaimana, Jess?” Julie memandang Jessie penuh arti. “Kau mau kuajari juga—supaya kau tambah pintar?”

Jessie terlihat kesal dan ingin melempar sepatunya ke arah Julie, seandainya saja hari itu ia tidak mengenakan sepatu kets yang bertali banyak.

“Ya. Terima kasih ya, Julie,” kata Lucy sambil tersenyum. “Terima kasih juga ya, teman-teman. Dukungan kalian benar-benar sangat berarti buatku. Kalian memang teman-teman terbaik. Aku sayang pada kalian.”

Kayla memberikan pelukan terlebih dahulu, disusul dengan gadis-gadis lainnya. Lucy balas memeluk teman-temannya dengan dekapan yang sangat erat. Keenam gadis itu sekarang saling menempel satu sama lain, membentuk sebuah formasi pejal melingkar seperti sekumpulan skydiver yang saling berpelukan setelah terjun dari kokpit pesawat. Nick berusaha sekuat tenaga menitikkan air mata.

“Oh! Ladies! Sangat mengharukan,” kata Nick, membuka tangannya. “Aku ingin berpelukan juga.”

Jessie mendorong muka Nick ke belakang, sehingga anak itu terjungkal. Ia merasa harus mencegah pacarnya yang gila itu sebelum anak laki-laki itu bergerak semakin mendekat ke arah mereka.

“Nick—kenapa kau harus meniru semua yang kami lakukan?” kata Jessie. “Hah?”

Nick merapikan rambutnya yang kusut sambil bersungut-sungut. “Pelit.”

Richard tersenyum. Ia menopang dagunya dan menyaksikan pemandangan itu dengan santai. Sedikit banyak ia sudah mulai terbiasa dengan perilaku teman-teman barunya ini, meskipun pada awal-awal kebersamaan mereka, ia lebih sering mengernyit kebingungan. Gadis-gadis itu pun melepas pelukan mereka dan kembali duduk dengan tenang di kursi masing-masing.

“Baiklah. Aku ingin mengajak kalian makan di suatu tempat sore ini. Aku traktir,” kata Lucy. “Di mana saja. Terserah kalian. Aku ingin kita merayakannya bersama-sama.”

Gadis-gadis itu bersorak.

“Sore ini?” kata Julie lemah. “Tapi aku harus ikut kegiatan klub koran sekolah.”

“Julie! Klub koran sekolah lagi?”

Pernyataan Julie barusan sepertinya merusak kesenangan semua orang. Mulut Jessie bahkan ternganga dan napasnya terbakar kaget. “Kau bercanda kan, Julie? ”

Tidak seperti yang lainnya, kegiatan Julie di klub ekstra kurikulernya ini hampir tidak mengenal waktu. Kadang-kadang ia bisa menghabiskan waktu setiap sore sepulang sekolah di ruangan klubnya, kadang-kadang di sela-sela jam pergantian kelas, atau di sela-sela jam makan siang.

Tidak wajib, memang. Tapi Jerry lebih suka kalau anggota-anggota klubnya lebih sering menghabiskan waktu mereka untuk bekerja dan berkumpul di ruangan klub. Julie sendiri sebetulnya tak keberatan dengan aturan ini. Sejauh ini, ia cukup senang berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki kesukaan dan hobi yang sama dengannya.

“Kupikir sepanjang hidupmu sudah kau habiskan di ruangan terkutuk itu,” kata Jessie. “Hari Jumat, Kamis, Rabu, Selasa, Senin, dan hari-hari sebelumnya kemarin, kau selalu saja mendekam seperti keong di sana. Apa Jerry benar-benar membuatmu sebegitu mencintainya?”

Cassandra tertawa. Sebagai pencetus dan pendukung setia teori hubungan gelap terselubung Julie dan Jerry di klub koran sekolah, gadis itu tidak bisa mengelak dari kesempatan emas ini untuk menggoda Julie. “Yah. Kurasa Julie memang sangat, SANGAT—mencintainya.”

Gadis-gadis itu tertawa.

“Aku serius,” kata Julie. “Jerry bilang, minggu ini—”

“JEEE—RRY,” goda yang lain.

Julie menggerung dan meraung seperti serigala yang frustasi.

“Sudah, sudah,” kata Kayla sambil tertawa. “Kasihan Julie, kan? Maksudku, hmpph, bukannya mau meledekmu, Julie. Tapi gurauan mereka ada benarnya juga. Tidakkah kau terlalu sering menghabiskan waktu di sana? Aku saja berlatih di klub paduan suara hanya satu atau dua kali seminggu. Paling banyak tiga. Itu pun hanya sesekali.”

Yeah,” kata Jessie.

“Apa yang aneh?” tanya Julie. “Klub koran sekolah memang selalu sibuk. Kalian juga melakukan hal yang sama denganku.”

“Tidak, tidak,” kata Nick lagi. “Aku dan Jessie hanya berenang dua kali seminggu. Itu sudah peraturan sekolah.”

Cathy menggeleng.

“Aku pun tidak,” kata Cathy. Ia melihat Cassandra yang juga menggeleng. “Kurasa Cassandra juga. Klub Drama membosankan. Kami saja sering bolos.”

Cathy pernah bercerita tentang betapa bosannya dengan kegiatan di klub Drama yang diikutinya dengan Cassandra, terutama karena Mr.Bean—julukan yang diberikannya pada pelatih klub Drama mereka—memiliki gaya akting yang sangat kuno. Entah berapa kali ia menyebutkannya, Cathy selalu bilang kalau ia merasa terlahir sebagai generasi perfilman tahun 1910-an.

“Mereka seharusnya mencari pelatih baru yang kompeten, alih-alih menggaji kakek-kakek tua pikun itu.”

“Sudah kubilang,” kata Julie. “Seharusnya kau tidak keluar dari klub cheerleaders, kan? Setidaknya kau punya kegiatan lain yang lebih asyik daripada klub Drama.”

Sebelumnya, Cathy memang pernah mengikuti klub cheerleaders di awal tahun ajaran mereka. Di klub itulah ia pertama kali mengenal Emma Huygen, Gina Sanders, Libra Huston, dan teman-teman Emma yang lainnya. Emma memang sudah lama tidak bergabung di klub cheerleaders sejak mengikuti kompetisi akademis sekolah, namun pengaruhnya di klub itu masih sangat kuat. Siapa pun yang ada di klub itu akan mengikuti gaya berpakaiannya, cara bicaranya, model rambutnya, barang-barang yang dibelinya—pokoknya apapun yang berkaitan dengan Emma, sang bintang sekolah.

Cathy memang bukan penggemar Emma sejak awal. Dan sejak Emma dan gengnya melabrak dan mengganggunya karena telah mendekati Jake Williams, Cathy akhirnya tidak pernah menampakkan dirinya lagi di klub itu.

“Tidak,” tukas Cathy sambil mendesis. “Sampai kiamat pun tidak.”

Cathy bersedekap dan membuang mukanya dengan raut wajah kesal. Pembicaraan barusan pun membuatnya mulai berpikir ulang tentang ketidaksukaannya dengan klub Drama. Buatnya, lebih baik mengikuti akting kadaluarsa ala Mr.Bean daripada harus kembali ke klub angkuh yang berisi gadis-gadis manja dan memuakkan itu lagi. Setidaknya, Mr.Bean tidak menghardik orang dengan kata-kata makian.

“Kenapa Cathy keluar dari klub cheerleaders?” tanya Richard.

“Itu karena Emma—”

Cathy terlihat tidak senang.

“—karena aku bosan,” potong Cathy. “Titik.”

Richard memandang kosong selama beberapa saat. “Oh.”

Cathy memperingatkan gerak-gerik mengancam ke Julie, Kayla, Jessie, Lucy, dan Cassandra, untuk mencegat mereka membahas hal ini lebih jauh di depan pacarnya.

“Bagaimana denganmu, Richard?” tanya Kayla, menghirup napas. “Kegiatanmu di klub Catur hampir tidak pernah ada beritanya.”

“Klub Catur sangat fleksibel,” kata Richard. “Malah kadang-kadang hampir tidak ada yang bermain, jika tidak kupaksa.” Anak laki-laki itu tersenyum. “Kupikir, tidak ada perbedaan yang berarti jika aku tidak hadir hari ini. Aku bisa meliburkan diri meskipun tanpa pemberitahuan.”

“Meliburka—maksudmu bolos??” tanya Nick dengan nada skeptis. “Jangan berpura-pura menjadi anak baik, Richard.”

Richard tergelak. “Ya. Bolos.”

Rasanya sangat aneh ketika Richard mengatakannya. Bolos. Julie mencoba membayangkan kenakalan apa lagi yang mungkin akan dilakukan anak laki-laki itu suatu saat nanti, tapi wajah lugunya yang tidak berdosa benar-benar tidak sesuai dengan profil itu.

“Ng,” gumam Julie.

Julie memperhatikan anak laki-laki itu sekali lagi, diam-diam. Lekukan wajahnya disemuti keteduhan yang menenangkan. Ia seperti malaikat. Dilihat dari logika manapun, wajah anak laki-laki itu sama sekali tidak cocok disandingkan dengan titel Anak Nakal yang Suka Membolos. Atau Ketua-Preman-Sekolah-Yang-Suka-Membangkang.

Ia terkikih.

“Kenapa, Julie?” tanya Kayla.

“Tidak kenapa-napa,” kata Julie, mencari kesibukan. Di situasi seperti ini, sangat baik baginya untuk mempertahankan kewarasannya, sebelum organ-organ tubuhnya yang tidak pernah bisa dipercaya itu mulai bertindak yang macam-macam.

Julie menahan napasnya.

Gadis-gadis itu sekarang bergemuruh mendiskusikan tentang keputusan mereka berikutnya. Hampir setiap orang di kelompok mereka hari ini tampaknya bisa mengusahakan diri untuk datang sore itu, untuk merayakan kemenangan Lucy. Bahkan Cathy dan Cassandra berencana bolos lagi untuk dua pertemuan berikutnya di klub Drama.

“Dari kita berdelapan, cuma Julie kan yang tidak bisa datang? Kalo begitu gampang,” kata Jessie. Ia menggosok-gosok hidungnya sambil berkata ringan, “Kita tinggalkan saja Julie di sini. Tidak penting-penting amat sih.”

Julie menarik jambang Jessie, gadis itu berteriak histeris.

“Jangan,” kata Lucy pelan, terdengar bimbang.  Ia menunduk gelisah dan mendesah cukup panjang. “Apa sebaiknya kubatalkan saja, ya? Aku tidak ingin tidak ada Julie di perayaan kemenanganku ini. Mungkin lain hari saja.”

Julie terhenyak. Ia tidak ingin acara itu dibatalkan. Terlebih lagi, ia tidak ingin menjadi perusak suasana. Biar bagaimanapun, kegembiraan bersama dengan teman-temannya adalah prioritasnya sepanjang waktu.

“Tidak, tidak. Jangan dibatalkan,” kata Julie. Ia mengangkat tangannya, mengayunkannya perlahan-lahan, mencoba meyakinkan Lucy. “Aku akan melakukan segala cara untuk melarikan diri dari kegiatan klub hari ini. Jangan khawatir. Aku bisa melobi Jerry.”

Julie sendiri sebenarnya tidak yakin dengan ucapannya itu. Bukan karena ia sudah berhutang budi terlalu banyak pada Jerry—toh anak laki-laki itu juga selalu meminta ganti rugi yang menyusahkan—tapi Jerry akhir-akhir ini memang sedang berambisi besar untuk mengambil alih proyek Majalah Sekolah.

“Kau yakin?” tanya Lucy ragu-ragu. Julie mengangguk. “Baiklah,” kata Lucy sambil menepuk kedua tangannya dengan semangat. “Kalau begitu, kita akan makan di mana? Ada ide?”

Seperti anjing yang sangat bersemangat menyambut tuannya yang baru saja pulang ke rumah, Jessie tanpa ragu-ragu menyambut dengan wajah sumringah. “Bagaimana kalau kita makan di Steak~Stack?”

Julie menelan ludah.

Nama itu terdengar sangat familiar.

“Jess!” protes Kayla dengan tatapan tidak setuju.  Ia menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak, tidak. Kita cari tempat lain yang lebih murah saja. Kau ingin merampok Lucy, ya? Tidak. Tidak.Tidak.”

Kayla mengucapkan kata ‘tidak’ sangat banyak, seolah-olah itu adalah hal yang paling berdosa yang akan mereka lakukan dan akan berakhir di penjara Guantanamo di Kuba. Wajah Jessie langsung berubah suntuk. “Aah, ayolah,” rengek Jessie. “Aku sedang ingin makan steak.”

Mata Kayla membelalak.

“Apalagi steak,” protes Kayla. Ia berkacak pinggang dengan kening berkerut berlipat-lipat. “Kau tahu kan harga makanan di sana mahal-mahal? Kita bisa membuat Lucy bangkrut.”

Julie kini melirik ke arah Richard. Anak laki-laki itu ternyata juga sedang memandangnya sambil tersenyum simpul. Tampaknya mereka berdua sama-sama menyadari tempat yang dimaksud Jessie barusan. Julie menyengir sedikit, merasakan ada alien yang sedang mengaduk perutnya.

“Aku setuju,” tambah Julie tiba-tiba. Entah kenapa, ia ingin menggagalkan pertemuan mereka di tempat itu. Ia sendiri tak punya alasan yang masuk akal. “Aku tak yakin kita berdelapan akan muat duduk di sana. Tempat duduknya benar-benar—uhm.”

Julie berdehem. Ia mencoba memanggil kembali semua memorinya tentang tempat itu. Apa pun yang bisa menggagalkan rencana itu. “—sempit. Kursi di sana sempit-sempit.”

Julie ingat sekarang.

Julie pernah bersentuhan kulit dengan Richard di sana. Pertama kalinya. Itu terjadi saat ia melakukan wawancara liputan kemenangan turnamen catur di pertemuan pertama mereka, dan itu rasanya mengerikan. Sangat mengerikan—ia tidak ingin mengingatnya. Ia akan menggigil kedinginan jika mengingatnya.

Tata letak furnitur di sana juga aneh, serba tumpang tindih dan berdesak-desakan. Dan lagi, kursi-kursi Steak~Stack menurutnya terlalu sempit untuk ras manusia—mungkin lebih cocok untuk kurcaci.

Alam bawah sadarnya telah mem-blacklist kedai Steak~Stack secara otomatis dari sel-sel otaknya.

Richard melihat Julie sebentar.

“Aku pernah ke sana dengan ibuku,” kata Richard. Ia mengatakannya dengan tenang, seolah-olah merasa yakin akan apa yang diucapkannya. “Makanannya sangat enak.”

Pernyataan Richard barusan cukup membuat Julie bingung. Pasalnya, ia dan Richard jelas-jelas pernah menghabiskan waktu di sana berdua, tapi ia tak menyinggung hal itu sama sekali. Ia tak tahu apakah Richard hanya sedang berusaha menjaga rahasia—mungkin untuk menjaga perasaan Cathy; padahal cerita tentang wawancara liputan itu juga toh sudah bukan rahasia umum lagi di antara geng mereka—atau justru karena Richard dan ibunya memang pernah pergi ke tempat itu sebelumnya.

“Ruangan ber-AC di bagian samping sebenarnya cukup luas,” kata Richard, menjawab keterangan yang disampaikan Julie tadi. “Meja-meja yang kecil di bagian belakang memang cukup sempit, tapi meja-meja yang ada di ruangan ber-AC di kedai itu sebenarnya cukup luas dan nyaman. Jika beberapa meja digabungkan, kurasa masih cukup besar untuk 8-10 orang.”

Benar juga.

Penyebab kenapa ingatannya sangat buruk tentang kursi-kursi di kedai Steak~Stack adalah karena Julie hanya memilih kursi-kursi yang letaknya terselubung di bagian paling belakang. Posisi duduknya sangat strategis untuk kabur kapan saja di mana saja, tanpa ketahuan orang-orang di pintu depan, namun layout-nya tidak lebih nyaman daripada kursi dan meja lainnya yang ada di depan—atau di samping.

Julie sempat curiga, jangan-jangan kursi dan meja di situ sebenarnya adalah properti-properti restoran yang kebetulan jumlahnya kelebihan dan ternyata akhirnya diputuskan untuk digeletakkan begitu saja.

“Tapi kan itu—” kata Julie. Suaranya semakin mengecil. “—mahal?”

Lucy mengibaskan tangannya. Berbeda dari keyakinan teman-temannya, menurutnya menghabiskan uang beberapa dolar untuk berterimakasih pada orang-orang yang sangat berarti baginya benar-benar bukan sesuatu yang harus diperhitungkan.

“Tidak masalah,” kata Lucy. “Kalau kalian mau, di sana juga boleh. Hanya sekali-sekali kan, tidak apa-apa.”

Gadis-gadis itu terbelalak. Jessie melompat senang. “Serius??”

Lucy mengangguk.

“Sepulang sekolah, kita langsung berangkat ke sana, ya,” kata Lucy. “Kita berkumpul di depan aula utama. Setelah itu, langsung berjalan kaki ke sana. Jaraknya dekat, kan? Kalau tidak salah, dekat dengan rumah Julie.”

“Jangan sepulang sekolah,” sergah Julie. “Jam 4 saja, ya? Aku harus menyelesaikan urusanku dengan Jerry terlebih dahulu. Kalian berkumpul duluan saja, nanti aku menyusul.”

Cathy memicingkan mata.

“Apa? Menyusul?” tanya Cathy skeptis. “Sampai kiamat pun tidak akan terjadi. Aku tidak percaya padamu. Lebih tepatnya, aku tidak percaya kalau kau akan menyusul tepat waktu. Bisa-bisa, kami semua bisa berkarat menungguimu.”

“Tidak, tidak. Aku tidak akan telat deh,” kata Julie. “Jam 4. Di depan ruangan aula utama. Janji.”

Gadis-gadis itu memandang Julie dengan kening berkerut.

“OKE-OKE,” kata Julie lagi. Ia mendengus. “Jam 4—KURANG LIMA, di depan ruangan aula utama. Tidak akan telat. Janji.”

Gadis-gadis itu masih memandangnya dengan dingin, seperti anjing laut yang menatap mayat-mayat ikan dengan dingin, sebelum menghamburnya dengan penuh nafsu. Julie mengerang.

“KURANG SEPULUH,” ralat Julie sekali lagi.

Lucy mengangguk dan mereka tertawa.

“Oke,” kata Lucy. Suaranya terdengar bersamaan dengan suara bel penanda berakhirnya jam makan siang. “Sampai ketemu nanti, ya.”

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

6 thoughts on “14. Perayaan

  1. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  2. Wah, senengnya, akhirnya cerita ini dipublish…. 😀
    Bener2 berharap ada momen JulRich di nextnya. Ah, Lucy pinter banget dan pemalu, ya~ Hahahaa

    Lalu Jerry, apa akan diundang di perayaannya LUcy, ya? 🙂

  3. Ping-balik: 13. Hari yang Ditunggu (3) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s