13. Hari yang Ditunggu (3)

Comments 12 Standar

11020382-illustration-of-french-cafe-street-scene

Julie berjalan terburu-buru menyusuri jalan lebar melingkar Circle Green yang menjadi salah satu daya tarik menarik bagi pengunjung jantung kota Eastcult. Awalnya Julie sempat menggerutu karena seandainya saja Taman Kota Evergreen tidak ditutup siang ini—karena ada persiapan untuk kampanye walikota nanti malam dan banyak petugas kampanye yang berkeliaran di mana-mana, ia pasti bisa mengambil jalan pintas yang lebih cepat tanpa harus mengitari pinggiran taman yang lebih panjang.

Julie tak tahu jam berapa sekarang. Tapi ia sangat tahu kalau ia datang terlambat. Lagi. Ia bahkan hampir lupa kalau hari ini mereka berjanji untuk menonton film, kalau saja tidak diingatkan oleh Kayla jam setengah dua tadi.

Cathy pasti ngamuk.

Julie sudah tiba di depan bioskop sekarang. Ia berdiri dengan punggung terbungkuk, kedua tangan memegang lututnya, dan mengatur napasnya yang terengah-engah. Ia kemudian merogoh ponsel yang ada di saku celananya, dan menurut jam digital yang ada di ponselnya itu, sudah pukul dua lewat lima belas sekarang. Julie melihat sekeliling.

Tidak ada seorang pun di sana.

“Ayo, angkatlah,” desah Julie sambil menempelkan ponselnya ke telinga. Ia mencoba menghubungi Kayla, Cathy, dan Cassandra, tapi tak seorang pun dari gadis-gadis itu yang mengangkat telepon mereka. Ponsel Jessie malah mati sama sekali.

Julie menggaruk kepalanya kebingungan.

Julie akhirnya memutuskan untuk berjalan sendiri menuju Ava Shopping Avenue yang letaknya hanya seperdelapan mil di arah utara, menyusul teman-temannya yang mungkin sudah ada di sana. Sambil melangkah sembrono, Julie memutar tubuhnya dan kepalanya beberapa kali untuk melihat-lihat pemandangan, seperti yang biasanya ia lakukan. Circle Green terlihat sangat ramai dengan orang-orang yang berjalan kaki, menikmati liburan akhir pekan mereka.

Julie terhenyak saat ia melihat seorang anak laki-laki bermata biru dan bersinar terang di balik kerumunan, tengah memandangnya dengan terkejut. Anak laki-laki itu berjalan menghampiri Julie dan membuat kaki Julie berderak seperti batu-batu tebing retak.

“Julie.”

Richard menghentikan langkahnya sebelum ia menjadi benar-benar dekat dengan Julie. Anak laki-laki itu menunduk sebentar, seperti sedang mengumpulkan kata-kata, untuk memecah keheningan yang janggal di antara mereka.

“Di mana yang lain?” kata Julie suatu ketika.

Anak laki-laki itu menampilkan senyuman yang kikuk, namun ukiran bibirnya yang indah itu tetap terlihat begitu manis dan menggoda. Julie menahan napasnya. Bola matanya melintir ke kiri dan ke kanan, mencari objek-objek lain untuk mengalihkan perhatiannya.

“Mereka sudah di Ava,” kata Richard, menahan napasnya saat ia memutuskan untuk memandang wajah gadis di hadapannya. “Tempat itu benar-benar ramai, penuh dengan ibu-ibu muda dan gadis-gadis yang berburu diskon. Sangat padat. Aku saja kesulitan bernapas di sana. Kayla menyuruhku keluar dan menunggumu saja di sini.”

Julie menelan ludahnya.

“Oh, begitu,” gumam Julie tidak jelas.

Julie teringat dengan hawa aneh yang ia rasakan dulu ketika pertama kali mengenal Richard. Lututnya mencair. Tulang-tulangnya menggigil kedinginan. Hawa mengerikan itu terulang lagi.

“Umm, ng,” gumam Julie sekali lagi. Otaknya berpikir cepat untuk mencari alasan agar bisa menghindar dari anak laki-laki itu sejauh-jauhnya. “Aku harus pergi sekarang. Aku belum beli tiket bioskop. Dagh.”

Julie tersenyum masam. Ia berjalan mundur satu langkah, namun sebelum gadis itu sempat membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Richard, anak laki-laki itu bergerak maju untuk mencegahnya.

“Tunggu sebentar, Julie,” kata Richard.

Ia merogoh sakunya, mengambil selembar tiket bioskop. “Kami sudah membelikannya tadi.” Richard mengulurkan tangannya, menyerahkan tiket itu pada Julie. “Ini punyamu.”

Julie merasa partikel-partikel kulitnya bermutasi menjadi hijau dan berkulit belalang seperti alien dari Planet Zoird. Tangannya berubah bentuk menjadi tangkai kait bersisik kaku saat ia menerima tiket itu dari Richard.

Julie tertawa kecil, dengan napas yang tertahan. “Oh. Ya. Trims.”

“Aku sudah memesan kursi di kafe sebelah. Di bagian outdoor,” kata Richard. “Sebaiknya kita menunggu di sana saja. ”

Julie mengikuti Richard dengan patuh, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Richard pun berjalan begitu saja, memandang Julie sebentar saat mereka tiba di kafe yang diceritakan Richard, dan mempersilakan duduk dengan datar. Pertemuannya hari ini dengan anak laki-laki ini, tanpa kehadiran gadis-gadis The Lady Witches yang lain, benar-benar sunyi dan canggung.

Sejak insiden puisi yang terjadi waktu itu, Richard tak pernah lagi bicara padanya—atau lebih tepatnya, Julie tak pernah berani untuk mengatakan apa pun pada Richard—bahkan untuk menyampaikan permohonan maaf atas kesalahannya yang dulu.

Julie tak tahu apakah Richard sudah memaafkannya—atau malahan anak laki-laki itu mungkin justru tak pernah memikirkannya sama sekali—tapi ia masih merasa ada yang aneh dengan hubungan mereka berdua akhir-akhir ini.

Benar-benar ganjil. Perasaan aneh yang tidak menyenangkan yang dirasakannya tiap kali bersama dengan Richard. Dan perasaan itu bergejolak lagi sekarang, menjadi dingin dan sesak.

Tidak ada siapa pun yang menengahi pembicaraan di antara mereka saat ini. Tidak ada The Lady Witches yang berisik, tidak ada Cathy yang bergelayut di lengan Richard. Mereka terdiam selama beberapa puluh detik, saling membuang pandangan ke arah yang berbeda.

“Kau ingin memesan sesuatu?” kata Richard tiba-tiba.

Julie tersenyum kikuk. “Ya.”

Richard memanggil seorang pelayan laki-laki yang berada tidak jauh dari mereka. Pelayan itu terlihat sibuk mencatat pesanan dari meja yang satunya lagi—meja nomor tujuh, dan memberikan isyarat dengan telunjuknya sebelum akhirnya menghampiri meja mereka.

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” kata pelayan itu.

Richard memandang Julie. “Julie?”

“Um, yeah. Ng,” gumam Julie. Ia melihat daftar menu yang diberikan pelayan itu. Matanya sempat terpaku pada satu menu yang familiar, tapi ia langsung mengubah pikirannya. “Orange squash. Satu.”

Richard mendesah. Ia tersenyum pahit.

“Jus kiwi,” kata Richard. “Satu.”

Pelayan itu mengundurkan dirinya dengan sopan setelah mencatat pesanan mereka. Saat melihat pelayan itu pergi, Julie memikirkan hal yang tadi sempat mengusik benaknya. Ia mengucapkannya tanpa sadar. “Kau tidak memesan jus cranberry?”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

Richard tersenyum kecil.

“Tidak,” kata Richard. “Kau juga?”

Julie menggigit bibirnya, merasa terintimidasi dengan ketololannya sendiri.

Orange squash,” kata Julie datar.

Mereka berdua terdiam lagi.

Julie kembali mengamati meja nomor tujuh yang tadi sempat menarik perhatiannya. Seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun tengah merengek pada ibunya. Anak laki-laki itu pun menangis keras saat ibunya memaksa memasukkan brokoli ke dalam mulutnya dan mengunci tangannya, sementara itu ayahnya memegangi kedua kakinya yang memberontak ke sana ke mari.

Pemandangan ini mengingatkan Julie pada masa kecilnya yang mirip sekali seperti yang baru saja dilihatnya. Bedanya, ibunya mengikat tangan Julie dengan tali pramuka, dan mengikatnya kakinya di kursi. Sedangkan ayahnya yang baik hati hanya bisa menatap iba, tak berdaya, dan tak mampu berbuat apa-apa, entah karena ngeri atau mengagumi keperkasaan istrinya sendiri.

Kadang-kadang Julie merasa seperti sedang dianiaya, berbagai macam percobaan siksaan dan sabotase makanan sering diterapkan ibunya padanya. Itulah sebabnya mengapa ia merasa sangat senang kalau bisa melakukan sesuatu untuk membalaskan dendam pada ibunya yang suka berbuat semena-mena.

“Kau tahu? Tadi malam aku mempraktekkan apel ulat seperti yang kau sarankan, dan ibuku berteriak sepert—”

Julie menghentikan napasnya.

Julie memandang mata biru Richard dengan kaku. Kepalanya berisi penuh dengan atom hidrogen dan bersiap-siap untuk mengembang, atau mungkin bereaksi fusi dengan matahari. Ia merasa amat tolol. Situasi ini membuatnya merasa ingin mencelupkan kepalanya ke gunung berapi.

“Seperti apa?” tanya Richard.

Julie menjawab asal-asalan. “Komodo.”

Richard mengulum senyumnya sedemikian rupa. Wajah dan telinganya memerah. Ia berusaha mengalihkan pandangan, tapi ia tidak tahan untuk mencuri pandang ke arah Julie. Ternyata gadis itu juga menatapnya, dengan bentuk wajah yang sangat aneh, dan akhirnya menyeringai seperti kuda.

Mereka berdua tertawa.

Mereka saling berpandangan dengan akrab, seolah-olah kembali lagi pada masa-masa lampau, ketika Richard masih meminum jus cranberry dan sedang mengajarinya cara membuat esai bahasa Prancis. Wajah Richard yang terlihat gembira telah membuatnya melupakan rasa asingnya pada anak laki-laki itu.

Mereka berdua telah melupakan masalah mereka.

“Ibuku memberiku makan kecoa mati,” kata Julie, tampak jijik dan geli. Ia tak tahu apa yang membuatnya merasa perlu untuk menceritakan hal ini, terlebih lagi pada anak laki-laki yang tadi sempat membuatnya kedinginan.

“Oh, ya?” kata Richard.

“Ya. Kecoa sungguhan. Mati. Di atas piring. Dia menyembunyikannya di bawah selada,” kata Julie. “Untung aku sudah menyelipkan apel laknat itu di atas meja.”

Julie tergelak.

“Aku benar-benar tak kuat menahan tawa saat ibuku mengunyah apel itu dan dia bilang ada cacing yang menggelitik bibirnya,” kata Julie lagi, menahan tawanya. Ia tak bisa menahan apa pun yang dilakukan oleh organ-organ tubuhnya kemudian. “Serius. Bagaimana kau bisa sampai pada ide hebat itu?”

Richard menunduk malu.

“Aku tak tahu,” kata Richard perlahan, menyunggingkan senyuman malu-malu di bibirnya yang melekuk menggemaskan. “Hanya ide yang sederhana. Kupikir itu ide yang bagus.”

Julie mengangguk senang.

“Ya, memang,” kata Julie sambil terkikih. “Aku saja hampir ti—”

Seorang pelayan yang membawa baki berisi dua gelas minuman datang menghampiri mereka dan memotong pembicaraan.

“Selamat siang,” kata pelayan itu sambil menurunkan dua gelas yang berisi orange squash dan jus kiwi. “Ini pesanannya. Ada lagi yang bisa saya bantu?”

Richard bertanya pada Julie, gadis itu menggeleng pelan. Ia kemudian tersenyum ramah pada pelayan laki-laki itu. “Tidak, terima kasih banyak.”

Julie menyeruput orange squash-nya. Ia mengamati Richard yang sedang sibuk membuang beberapa semut yang terapung di jus kiwinya, yang membuat Julie tak sadar kalau ia sendiri sudah menelan sekitar tiga atau empat ekor.

“Julie,” kata Richard. “Punyamu juga ada semutnya.”

Julie melongo. Ia mengaduk-aduk setengah gelas orange quash yang masih tersisa, dan tidak menemukan seekor semut pun di sana.

“Tampaknya mereka sudah di perutku semua,” kata Julie.

Richard tersenyum. Pipinya bersemu merah dan membuat wajahnya yang seputih pualam itu terlihat seperti es serut Hawaii yang manis dan menyegarkan.

Mereka saling bertatapan lagi.

Julie merasakan ada sensasi yang aneh di jantungnya. Sensasi itu sangat nyaman dan menyenangkan. Sejuk—dan menggigil kaku dalam waktu yang bersamaan.

Ia tak bisa bernapas.

Ponsel Richard berdering, membuyarkan konsentrasi mereka. Richard mengangkat telepon itu, mengangguk beberapa kali, sementara Julie menghabiskan orange squash-nya yang masih tersisa.

“Mereka sudah berjalan menuju bioskop sekarang,” kata Richard setelah menutup teleponnya. Ia menyeruput jus kiwinya, namun tidak menghabiskannya. Ia memanggil pelayan untuk meminta tagihan.

Julie baru saja akan mengambil dompetnya ketika Richard melambaikan tangannya untuk mencegahnya melakukan hal itu.

“Kali ini giliranku, kan?” kata Richard lembut. “Aku yang bayar.”

Julie menggigit bibirnya untuk menyembunyikan senyumnya yang sulit ditahan. Tiba-tiba ia teringat dengan pertemuan mereka di Perky’s House, saat Richard berkata kalau ia akan mentraktir Julie suatu saat nanti. Ternyata Richard masih mengingatnya. Entah mengapa, ia merasa senang.

Mereka berjalan keluar dan bertemu dengan The Lady Witches tak jauh dari tempat mereka berada. Gadis-gadis itu menenteng plastik-plastik besar di kedua tangan mereka, Cassandra terlihat kepayahan dengan kantong kertas berukuran raksasa yang terpaksa harus dipeluknya di depan dada.

“Julie!” kata Jessie. “Kemana saja kau!? Sapi!”

Julie menyeringai seperti kuda.

“Sudah kubilang kan. Jangan terlambat, Bodoh!” kata Cathy. “Kau ini benar-benar membuatku emosi. Untung filmnya belum dimulai.” Ia melihat Richard dan berkata dengan manja. “Sayang, tolong bawakan belanjaanku, ya?”

Julie melihat Richard menghampiri Cathy dan membawakan satu kantong plastik di tangan kirinya, sementara tangan kanannya dirangkul Cathy dengan mesra. Ia tersenyum getir.

“Yaah—yang penting aku tidak telat nonton bioskop kan? Cassandra pasti sudah membeli pakaian untukku,“ kata Julie sambil membantu Cassandra mengangkat kantong kertas raksasa yang sedang dipeluknya. Cassandra tersenyum penuh arti.

“Kalau aku tidak meneleponmu tadi, kau pasti lebih terlambat dari ini kan?” kata Kayla. “Kau benar-benar harus mengubah kebiasaanmu, Julie.”

Julie memeriksa isi kantong itu dengan penasaran.

“Santailah, Kay,” kata Julie. “Lagipula, kurasa sekarang masih jam tiga kurang lima belas—atau semacamnya. Masih lama, kan? ”

Richard mengangkat tangan kirinya yang berisi barang belanjaan untuk melihat jam tangan. Napasnya langsung membeku.

“Sekarang jam tiga—kurang lima,” kata Richard. “Lima menit lagi.”

“APA!?” teriak gadis-gadis itu.

Mereka berenam berlari ke bioskop seperti orang gila.

 

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

12 thoughts on “13. Hari yang Ditunggu (3)

  1. kyaaaaa kuraang lamaaa ngobrolnyaaa >.<
    pdhal ini yg sllu ditunggu2
    tpi greaat kak….aku tunggu lanjutannya
    makasih kak onya :3

  2. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  3. Ping-balik: 13. Hari yang Ditunggu (2) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s