13. Hari yang Ditunggu (2)

Comments 28 Standar

girl_in_love

“Kau—apa?” tanya Cassandra menahan tawa.

“Ya,” kata Julie santai, lalu tertawa cekikikan. “Aku mengolesi toilet seat itu dengan balsem mentol rasa paprika.”

Gadis-gadis itu tertawa.

Julie telah lama menantikan datangnya hari ini dan ia hampir saja kehabisan ide untuk melancarkan niat isengnya ini. Ia tidak jadi menerapkan tipuan saus tomat di kue strawberry, karena ibunya sedang dalam mood yang buruk—biasanya ia tak mau memakan apapun yang berhubungan dengan strawberry.

Sampai akhirnya dua hari lalu Jerry datang menawarkan bantuan. Selain lelucon keran westafel, Jerry juga memberikan ide untuk menambahkannya dengan poster kecoa—ia dan Jerry mengerjakannya posternya selama seharian kemarin. Sementara itu, Kayla datang dengan balsem Arabnya di detik-detik terakhir.

“Jadi, kau menghabiskan balsem pemberianku hanya untuk mengerjai ibumu?’ ungkap Kayla sedikit kesal. “Dan kuberitahu lagi ya Julie, itu bukan balsem paprika. Itu terbuat dari rempah-rempah. Dan sebagian besar bahannya diimpor dari Asia Tenggara.”

“Terbuat dari apa?” tanya Julie. “Baunya aneh.”

Lucy menjawab, “Commiphora gileandensis, mungkin dicampur dengan pala dan minyak eucalyptus, atau daun mint seperti yang Julie bilang, cera alba, dan mungkin ada senyawa stearic aci—”

“Lucy, Lucy,” potong Cathy. “Cukup, cukup. Kepalaku sakit.”

“Jadi,” kata Jessie dengan nada tidak puas. “Kau membuat trik kali ini untuk mengerjai ibumu tanpa merasa perlu berkonsultasi lagi pada kami ya, Julie? Sangat soliter sekali.”

Julie terlihat tidak senang.

“Tidak, tentu saja. Aku sudah berkonsultasi padamu, Bodoh. Dan apa yang kau katakan waktu itu? Kau bilang, ‘Pura-pura menjadi orang waras saja, Julie. Mengikat diri di pohon. Atau mengembik seharian seperti kambing. Ibumu pasti shock.’ Heh—Kau pikir aku orang gila?” tukas Julie. “Lagipula, soal tipuan balsem itu sudah kuceritakan pada Lucy. Dan trik-trik lainnya pun baru mulai jelas saat aku mempraktekkannya seharian kemarin dengan Jerry. Aku berlatih sedikit cara mengikat keran dan dia membantuku mencetak kertas poster kecoa menjijikkan itu.”

Julie bergidik ngeri. “Kalian tahu kan aku benci kecoa? Aku benci mengakuinya, tapi Jerry bilang ini ide yang bagus. Ia bilang aku harus mempraktekkannya. Melawan rasa takutku. Setidaknya pengalaman ini melatih mentalku untuk melihat gambar kecoa.”

Julie mendadak sesak napas dan di saat yang bersamaan menjulurkan lidahnya seperti mau muntah. “Ratusan kecoa Madagaskar.”

Gadis-gadis itu terlihat sangat tertarik.

“Oh. Jerry lagi rupanya,” goda Cassandra.

Gadis-gadis itu mulai berkicau ribut seperti burung Kakapo di musim kawin. Cathy berteriak histeris dan berakting konyol meniru gerakan gadis opera yang jatuh cinta pada Romeo di atas panggung pertunjukan. Sementara itu, Jessie dan Nick mengeluarkan lenguhan aneh bersahut-sahutan seperti suara kera.

“Aku mengerti,” kata Kayla sambil mengangguk nakal. “Jadi, sudah seberapa dekat hubunganmu dengan anak laki-laki itu?”

Julie mengerang. “Gals.

Julie tak mengerti kenapa gadis-gadis ini—dan Nick yang Sinting—malah berfokus pada topik yang sama sekali tidak berhubungan dengan topik yang sedang dibicarakannya. Mereka seharusnya penasaran dengan bagaimana Julie akhirnya berhasil menempelkan poster kecoa itu di meja dapur rumahnya tanpa menjadi pingsan sebelum menyelesaikan misinya, atau bagaimana cara Julie mengikat karet gelang di keran westafel kamar mandi. Itu adalah misi yang membutuhkan kejeniusan.

Yeah. Yeah. Aku bingung menanggapi kalian,” kata Julie. Ia memutar-mutar jari telunjuknya di depan pelipis, seperti sedang mengisyaratkan sesuatu. Mereka tertawa semakin keras dan membuat Julie semakin kebingungan. Kadang-kadang ia merasa salah pilih pergaulan. Teman-temannya yang sama-sama sakit jiwa ini bisa membuatnya semakin sinting.

Tiba-tiba ia mendapatkan ide yang bagus.

“Lihat, ini sampel kertas posternya,” kata Julie sambil mengambil sepotong kertas bergambar kecoa yang sengaja ia siapkan tadi pagi untuk ditunjukkan ke teman-temannya. Ia meletakkannya tepat di depan muka Cathy. Gadis itu memekik ketakutan.

“JULIE!”

“Bagaimana? Keren kan?” kata Julie sambil tertawa. “Kalian seharusnya memuji kehebatanku. Aku sangat jenius dalam segala hal.”

Gadis-gadis itu terperangah saat Julie mengumumkan tentang kejeniusannya. Jessie—yang paling tidak terima jika kejeniusan dikaitkan dengan Julie—menunjukkan dengan wajahnya ekspresi yang paling tertekan yang pernah ada.

“Ngomong-ngomong soal jenius,” kata Nick. “Kau seharusnya tanya ke Richard, Julie. Kurasa maestro catur yang jenius ini pasti punya ide yang lebih gemilang daripada idenya Jerry. Bukan begitu, Richard?”

Richard terkejut saat namanya disebut. Ia tersenyum masam. “Tidak juga.”

Julie melihat ke arah Richard. Ia merasakan ada sesuatu pada kulit putihnya yang bercahaya itu yang bisa membuatnya resah dan tenang dalam waktu yang bersamaan. Napasnya menderu tidak jelas.

Cathy terlihat antusias. “Ayolah, Sayang. Tunjukkan kejeniusanmu di depan mereka. Aku yakin kau lebih hebat daripada pacarnya Julie.”

Julie mendumel.

“Heey! Dia bukan paca—”

“Seekor ulat,” kata Richard. “Seekor ulat di dalam apel. Kau bisa memasukkannya dengan cara mengebor lubang di bagian bawah apel. Letakkan apel kembali dengan posisi lubang yang berada di bawah. Ibumu tidak akan tahu ada ulat yang sudah dibubuhkan sebelumnya di dalam sana.”

Mereka terkesiap. “WOW.”

“Kau memang hebat, Kawan!” puji Nick sambil menjulur-julurkan bulu hidungnya dengan bangga. “Begitu sederhana dan sangat mudah. Sial. Kenapa aku tidak sempat memikirkannya, ya?”

Julie tak bisa memungkiri kalau itu ide yang cukup bagus. Tapi entah kenapa ia tak dapat menunjukkan respeknya. Ia malah menjawab skeptis. “Terlalu sederhana.”

“Kau bisa meniup balon dan meletakkannya di atas piring, bekukan di lemari es, lalu menghiasnya dengan whipped cream dan chocolate chips, cherry, atau topping lainnya, seperti sebuah kue ulang tahun,” kata Richard lagi. “Saat ibumu mencoba memotongnya dengan pisau, kue itu akan meledak dan whipped cream akan memenuhi seluruh wajahnya.”

Gadis-gadis itu terlihat girang. “Ada lagi? Ada lagi?”

“Kau bisa memasukkan kalajengking plastik ke dalam balon kue itu. Atau bangkai kalajengking sungguhan.”

Gadis-gadis itu berteriak histeris.

“Richard!!”

Nick dan Julie terkikih mendengar perkataan Richard yang benar-benar menggelikan, sementara gadis-gadis yang lain masih membayangkan kue balon kalajengking itu di benak mereka dengan bulu kuduk yang merinding.

“Yah. Tidak buruk juga,” seloroh Julie, tapi pandangannya berputar ke sana ke mari menghindari wajah Richard.

Richard tersenyum sedikit.

“Oh ya, ngomong-ngomong,” kata Nick sambil memandang gadis-gadis The Lady Witches dengan penasaran. “Aku tahu Julie memang orang yang aneh, tapi aku tak tahu kalau dia ternyata sejahil ini. Selama ini dia terlihat seperti anak yang baik-baik, tidak pernah berbuat iseng pada siapapun. Apa kalian juga pernah dikerjai Julie?”

Jessie tergelak. “Tidak, tidak. Hanya ibunya.”

“Ya, hanya ibunya saja,” kata Kayla. “Julie selalu menjahili ibunya. Mereka berdua sudah seperti kucing dan anjing. Tapi Julie sangat setia pada kawan-kawannya. Dia akan melakukan apa pun untuk membuat sahabat-sahabatnya senang.”

Cathy membelalakkan matanya berlebih-lebihan.

“Kata siapa?” protes Cathy. “Kau lupa kalau Julie dan Jessie sialan itu pernah memasukkan saus tomat dan saus mayonaise ke fruit parfait-ku!?”

Julie menyengir seperti kuda.

“Jessie yang melakukannya,” kata Julie. Jessie memutar bola matanya tidak percaya. “Aku hanya mengikutinya saja.”

“Wah! Mengajak ribut lagi dia,” kata Jessie, nyaris menggeram. Suara dan alisnya serta-merta terangkat. Jessie dan Julie siap-siap berkelahi, kalau tidak segera dilerai Nick yang hampir terkena cakaran Jessie yang tidak tepat sasaran.

“Eh, sudah-sudah!”

Cathy merangkul Richard dan tampak tak tertarik.

“Aku bosan melihat kalian bertengkar. Kalau mau berkelahi, jangan di sini. Di meja ini ada tamu kehormatanku,” kata Cathy. Ia membenamkan kepalanya di bahu Richard dengan manja. Gadis-gadis yang lain bergemuruh dengan tatapan iri dan sebal. “Oh ya, sebelum aku lupa. Aku ingin mengajak kalian menonton premiere film ‘Star Trek’ Sabtu ini. Aktornya ganteng banget!”

Cathy menahan senyumnya.

“Tetap saja tidak bisa mengalahkan gantengnya Richard. Tapi aku senang saja bisa pamer.” Gadis itu tertawa puas. “Bagaimana, bisa kan?”

Gadis-gadis itu mengangguk semangat. Film ini sudah mereka bicarakan sejak berminggu-minggu yang lalu, dan Julie sangat tidak sabar untuk menyaksikan aksi heroik yang terbaru dari Kapten Kirk dan Si Pintar Spock yang selalu diwarnai dengan petualangan-petualangan seru.

Nick menggeleng.

“Sabtu ini?” kata Nick. “Aku ada janji dengan adik perempuanku.”

Julie mengernyit. “Kau punya adik?”

“Tentu saja aku punya,” jawab Nick sambil mendengus. “Memangnya kau tak lihat aura seorang kakak yang hangat dan kebapakan di dalam wajahku yang tampan ini?”

Julie langsung sesak napas.

“Aku juga tak bisa,” kata Lucy. Ia tampak merasa sedikit bersalah dan lagi-lagi melakukan ekspresi favoritnya, memandangi  lantai. “Aku harus berlatih untuk kompetisi tim antar SMA di kota Heinswell hari Minggu besok. Kalian ingat, kan?”

Gadis-gadis itu mengeluh. “Yaah, Lucy.”

“Kupikir kau sudah terlalu banyak belajar, Lucy,” kata Cathy. “Bersenang-senanglah sedikit. Lagipula, kau masih bisa belajar nanti malam, besok pagi, atau besok malam, kan? Ayolah.”

Gadis-gadis yang lain ikut menimpali. “Ya, ya. Benar.”

Lucy hanya menggeleng.

“Oh, ya! Besok juga ada diskon besar-besaran di Ava Shopping Avenue. Kemarin aku lihat iklannya,” kata Cassandra. “Kita bisa sekalian mampir ke sana sebelum filmnya dimulai. Aku akan memilihkan blazer yang bagus untuk kalian.”

Gadis-gadis itu terlihat amat senang.

“Bagaimana, Lucy?”

Lucy hanya menunduk dan menjawab lemah. “Tidak. Maaf aku tidak bisa,” kata Lucy. “Aku harus belajar lebih giat, karena posisiku sebagai anggota tim kompetisi perwakilan Nimber tidak terlalu kuat. Selama ini, aku hanya tergabung di tim B, kalian ingat, kan?”

Julie ingat. Lucy pernah menceritakannya beberapa minggu yang lalu. Gadis itu pernah bercerita kalau ia terpilih menjadi salah satu kandidat perwakilan sekolah dalam kompetisi akademis, dan ia terlihat sangat gembira. Setelah mengikuti beberapa kali seleksi, akhirnya ternyata Lucy hanya dipercaya untuk menjadi bagian dari tim B, tim cadangan. Lucy merasa sangat sedih karena ia tidak bisa mengalahkan saingannya, Jennifer Montag, yang kemudian terpilih sebagai perwakilan dari kelas sepuluh di tim A.

“Aku ingin menunjukkan ke guru-guru pembimbing kalau aku layak dipilih,” kata Lucy. “Maafkan aku. Kuharap kalian mengerti.”

Gadis-gadis itu mengangguk. “Iya, Lucy. Tidak apa-apa, kok,” kata Kayla sambil tersenyum. Ia meremas tangan Lucy dengan lembut. “Aku sejujurnya sangat berharap kami bisa ikut menghadiri kompetisi itu. Tapi kota Heinswell sangat jauh. Dan guru pembimbing lomba tampaknya lebih suka untuk menghemat biaya akomodasi. Meskipun begitu, kau tahu doa dan dukungan kami akan selalu menyertaimu, Sayang.”

Lucy tersenyum dan memeluk Kayla dengan hangat.

Nick melenguh. “Oooh. Bagaimana denganku? Tidak adakah yang merindukanku? Aku harus mengantarkan Michelle ke Festival Sains di sekolahnya, menjadi tukang angkat-angkat barang-barang, memikul proyek gunung berapi buatan, dan peralatan sains teman-teman sekelompoknya yang banyaknya bukan main itu, sementara kalian bersenang-senang di bioskop.”

“Kau ajak saja Jessie,” kata Julie sambil meringkik.

“Tidak, tidak,” tukas Jessie, mengibas-ibaskan tangannya. “Aku sudah pernah bertemu dengan teman-temannya Michelle. Mereka gila.” Ia menunjukkan ekspresi masam dan frustrasi yang meyakinkan. “Michelle sih tidak apa—anak itu manis dan menggemaskan. Tapi, Si Gendut Judith dan temannya Hellen yang kurus kering dan keriting gimbal itu—mereka tak henti-hentinya menjambak-jambak kuncir rambutku.”

Mereka tertawa.

“Kau tahu Nick punya adik?” tanya Julie.

“Ya,” jawab Jessie. “Memangnya aku belum cerita? Seingatku aku sudah pernah menceritakannya pada kalian.”

Julie menggeleng.

“Oh, ya. Waktu itu memang tidak ada kau, Julie. Hanya ada aku, Kayla, dan Cassandra,” kata Jessie, sambil melihat ke langit-langit seperti berusaha mengingat. “Kalau tidak salah, kau sedang pacaran dengan Jerry.”

Mereka tertawa lagi sampai sakit perut.

Julie melihat Jessie dengan kesal, merasa ingin menjambak rambutnya. Kalau hari Sabtu besok Jessie memang tak jadi ikut menemani Nick mengantar adiknya ke sekolah, ia bersedia menggantikan Judith dan Hellen menjambak kuncirnya yang panjang itu.

Cathy menepuk tangannya. “Jadi bagaimana? Selain Lucy dan Nick, kalian semua bisa, kan?” Gadis itu lalu memandang pacarnya dengan tatapan manja. “Kau juga bisa kan, Sayang?”

Richard mengangguk sambil tersenyum.

“Baiklah,” kata Cathy. “Kita berkumpul jam setengah dua siang di depan bioskop Evergreen. Kalau tidak salah, filmnya mulai jam tiga. Kita bisa berbelanja sebentar.”

“Oh iya, satu lagi. Julie,” kata Cathy perlahan-lahan.

Julie terhenyak. “Apa?”

“Jangan. Telat.”

“Tidak,” kata Julie sambil tergelak. “Aku tidak mungkin tel—”

“Titik.” Cathy mendesis.

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

28 thoughts on “13. Hari yang Ditunggu (2)

  1. Makin seru aja nih cerita.y si Julie, jd tambah penasaran nunggu kelanjutan cerita.y,, d tunggu yah kelanjutan cerita.y…

  2. Wow. ide Richard TOP banget 😀 Ciie, Julie jangan salting dong XD Jerry-Julie moment makin menguat nih, Richard cemburu ga yaa?? haha LOL Cathy sepertinya tahu kebiasaan Julie.. Lanjuutt 🙂

  3. Akhirnya… 1 bualan bisa dimuat lebih dari 1x, jadi nggak nunggu terlalu lama. 2x muat lumayan lah dari pada suma sekali hehehehe… Ditunggu moment julie dan ricard ya, udh nggak sabar lihat cathy diputusin si ricard. Kalau boleh milih bukan jessie yang dijambak tapi rambut cathy aj yang dijambak abisss kalau perlu sy sndiri yang turun tangan hahahaha….

    Sorry kak, bener bener super benci sama tuh cathy, sok cantik, sok manja lagi, kalau beneran tuh cewek di depanku, sudah sy lempar sapu tuh cewek wkwkwkwk….EMOSI!!!!

    Bisa reda emosinya kalau ada moment julie cama ricard lagi ╋╋뀕⌣•:D ╋╋뀕⌣•:D ╋╋ë€:D.

  4. Wah.. Hubungan julie ama richard jd kikuk gt.. Julienya G̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ mw mandang richard НīĬ:DнīĬ:DнīĬ:D НīĬ:DнīĬ:D

    Disini koq sepertinya nick malah jodoh2in richard ya? Pdhl nick tau kalu richard jg mau ngelupain julie..

    Lanjut deh (y)

  5. waaaaa kocak bgt sih julie! oh ya author niat bikin novelnya gak? suka bgt ala ala terjemahan gitu hehehe. pengen baca versi buku tanpa harus cek blog ini apa udh update apa belum huhu

    • Hehehe.. Mudah2an nanti kalo udah selesai.
      Endingnya aja belum ketulis..Hehehe
      Tapi udah ada update terbaru, lho.. Fafa! Selamat membaca! 😉

  6. mana ni kelanjutannya, kok laqma banget, udah nunggu banget ni, aku novel hlic gak isa lah kalo penasaran gini,oh ya ceritanya dan alurnya bagus banget kalo di jadikan novel n di terbitkan, gakda salahnya donk, pasti banyak deh peminatnya

  7. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  8. Ping-balik: 13. Hari yang Ditunggu | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s