13. Hari yang Ditunggu

Comments 18 Standar

cartoon-mom-yelling-589783

Lily mengusap kedua bola matanya. Setelah beberapa detik termenung, ia langsung teringat kalau hari ini hari ulang tahunnya. Dalam sekejap, ia menghambur cepat ke kamar mandi, mencemaskan terjadi sesuatu yang buruk dengan wajah kesayangannya.

“Baguslah,” kata Lily sambil mendesah lega setelah melihat cermin. “Tidak ada apa-apa.”

Sejak Lily mengerjai Julie di hari ulang tahunnya yang ke-10 dengan memberikan kue berbentuk ovarium yang sedang tersenyum dengan tulisan “Congrats on Your Menstruation” sebagai hadiah menstruasi pertamanya—yang bahkan belum terjadi, sampai Julie berusia 14 tahun—kelakuan  anak perempuan itu berubah menjadi sangat mencurigakan.

Tahun lalu, gadis itu telah memasukkan obat tidur ke salah satu makanannya dan mencoret-coret wajahnya dengan spidol permanen sepanjang malam. Dua tahun lalu, gadis itu melumuri ranjang tidurnya dengan Green Kool Aid sehingga keesokan harinya ia terbangun dengan tubuh berlumuran bubuk hijau seperti Hulk. Tiga tahun lalu, gadis itu menukar isi shampoo Head & Shoulder milik Lily dengan campuran mayonaise dan susu kental manis. Empat tahun lalu, gadis itu meletakkan sebuah meja kayu berkaki empat tepat di atas tubuh Lily yang sedang tertidur di atas ranjang, dan menyemprotkan air untuk membangunkannya, sehingga ia terbangun dengan kepala yang benjol.

Lily tidak tahu lagi apa lagi yang akan dilakukannya tahun ini. Yang jelas, ia harus benar-benar waspada, karena anak gadis itu benar-benar berbahaya dan tidak bisa dipercaya. Entah kenapa, kali ini Lily merasa yakin kalau anak itu akan melakukan sesuatu lagi terhadap wajahnya, rambutnya, kepalanya, atau apapun itu yang berhubungan dengan permukaan tubuhnya.

Lily membuka keran air di wastafel untuk mencuci mukanya.

“AAAKHH!!” teriak Lily saat air di keran itu muncrat ke wajahnya. “JULIEEEE!!”

“Kenapa, Sayang?” kata Ethan.

Lily mendengar suara suaminya yang menggema di dalam kamar. Ia mengumpat kesal dan berusaha menyingkirkan rembesan air yang menempel di rambutnya yang basah. Gadis itu telah mengikat lubang keran di wastafel itu dengan karet gelang dan mengarahkan lubangnya ke arah muka.

“Keran ini sudah disabotase,” gerutu Lily sambil mengelap mukanya dengan handuk kecil yang menggantung di kamar mandi. “Apa lagi yang telah dia lakukan, Ethan? Kau tahu apa yang direncanakan Julie, kan?”

Ethan hanya tertawa pelan dan mengatakan kalau ia tidak tahu apa-apa. Lily berjalan keluar dari kamar mandi untuk melihat ekspresi suaminya yang terlihat tidak meyakinkan itu sambil memicingkan kedua mata. Ethan hanya tersenyum geli, ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Meskipun demikian, dari nada suaranya Lily tahu kalau laki-laki itu telah berkomplot dengan Julie.

“Aku tidak akan memaafkan anak itu kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk dalam hidupku hari ini,” kata Lily. “Aku tahu kau telah bersekongkol dengannya, Ethan. Tapi karena kau mencintaiku, kau akan memberitahukan padaku kejahatan apa lagi yang akan dilakukannya hari ini.”

Lily mendekat ke ranjang menghampiri Ethan yang baru bangkit dari posisi tidurnya dan ia mencoba menggoda suaminya dengan nada yang sedikit merayu.

“Kau tahu aku tidak bisa melakukannya,” kata Ethan. Ia membelai rambut Lily dan mengecup bibirnya dengan lembut. “Aku sudah berjanji pada Julie. Maafkan aku. Selamat ulang tahun, Sayang.”

Lily menghela napas panjang dan beranjak dari tempat tidurnya menuju ke dapur yang berada di bagian belakang rumah. Ia melihat dapurnya dipenuhi dengan kecoa-kecoa Madagaskar. Lily berteriak seperti orang kesetanan.

“Apa!? Apa yang terjadi dengan—dapurku!?!”

Lily menepuk kepalanya dengan mulut yang separuh ternganga.

Lily sekarang berusaha menarik dan menghembuskan napasnya dan menormalkan detak jantungnya yang berpacu seperti kuda. Ketika kewarasannya kembali, ia langsung berlari membabi buta ke arah ruang keluarga untuk menyelamatkan diri dari serbuan kecoa-kecoa itu. Lusinan kecoa Madagaskar—ya, Madagaskar, yang hitam, besar dan menggelikan—menyerbu dapurnya.

Ini adalah lelucon terburuk.

Setelah merenung selama beberapa menit di tempat persembunyiannya, ia segera menyadari keganjilan yang sedang terjadi. Ini benar-benar aneh. Julie seharusnya takut dengan kecoa. Bagaimana mungkin ia menyebarkan lusinan kecoa di dapur, sementara ia sendiri takut dengan hewan-hewan berkaki enam menggelikan itu?

Lily memutuskan untuk kembali ke dapur dengan langkah berani. Ia berjalan  mendekat ke arah kecoa-kecoa itu.

Kecoa-kecoa itu tidak bergerak. Kecoa-kecoa itu hanyalah lembaran kertas poster bergambar kecoa yang ditempel di meja dan kabinet, yang mirip sekali dengan kecoa sungguhan. Seperti yang Lily duga, ini pasti lelucon bodoh yang sengaja dipasang Julie untuk mengganggunya hari ini. Ia mencabut kertas poster itu dengan serampangan dan membawanya ke tangga menuju ke kamar atas.

“JULIE LIGHT!”

Lily membuka pintu kamar anak itu dan melihat isi di dalamnya. Tidak ada siapa-siapa. Ia memeriksa setiap inci sudut ruangan kamar tidur itu sambil memanggil nama anak itu berkali-kali. Di bawah selimut, di bawah ranjang, di kamar mandi, bahkan di balik tirai yang sangat sempit.

Tidak ada siapa-siapa.

Selama beberapa menit ia mencari gadis itu, gadis itu tak ditemukan di mana pun. Lily meringis kesal. Ia tidak tahu di mana anak itu berada dan ia sama sekali tidak tertarik untuk bermain petak umpet dengan anak nakal itu di situasi seperti ini. Ia pun memutuskan untuk kembali ke dapur dan menuruni tangga. Anak itu pasti cepat atau lambat akan menghampirinya di ruang makan untuk mengambil sarapan.

Lily tersentak saat melihat Julie sedang asyik duduk di atas kursi meja makan sambil mengoles rotinya. Gadis itu terlihat santai dan melirik ke arahnya sebentar sambil cengengesan. Ia tak tahu bagaimana anak itu bisa ada di sana tanpa sepengetahuannya. Seingatnya sebelum naik ke lantai atas tadi, tidak ada siapa-siapa di sana.

“Halo, Mom,” kata Julie lugu.

Lily memandang Julie dengan skeptis.

“Wajahmu terlihat segar,” kata Julie. Ia memakannya rotinya dengan santai. “Apa kau sudah melihat kado ulang tahun dariku?”

“Maksudmu, ini?” umpat Lily sambil menunjukkan robekan kertas-kertas poster bergambar kecoa yang tadi menempel di meja dan kabinet dapur.

Julie tertawa.

“Ternyata sudah,” kata Julie dengan nada biasa. “Bagaimana? Bagus, kan?”

Lily menggulung lengan bajunya dan mengepalkan tangannya di depan dada. “Apa lagi yang akan kau lakukan untuk mengerjaiku hari ini?”

Julie terbatuk-batuk saat mengunyah rotinya yang terakhir.

“Tidak, tidak. Itu saja,” kata Julie sambil menyeringai mencurigakan. “Selamat ulang tahun, Mom!”

Julie meraup segenggam blueberry dan mencium pipi ibunya. Sebelum gadis itu sempat mengambil tasnya dan meninggalkan rumah itu, Lily mencengkram kerah belakang bajunya, sehingga anak itu tidak  bisa bergerak.

“Mom,” protes Julie. “Lepaskan aku. Aku mau berangkat ke sekolah.”

Lily melihat jam dinding yang berada di dinding dapur. Jam itu menunjukkan pukul 6 lewat 25 menit. Ini terlalu pagi, pikirnya. Julie bahkan hampir tidak pernah berhasil bangun sendiri setiap pagi, bahkan dengan bantuan jam weker sekalipun, kecuali kalau ada maksud-maksud tertentu.

Mencurigakan.

“Kau tidak pernah berangkat sepagi ini,” kata Lily penuh curiga. “Oke, cuma sekali—dan itu juga aku tak pernah tahu kenapa.”

Lily teringat kalau beberapa waktu yang lalu, Julie sebenarnya pernah bangun pagi sendiri dan berangkat pagi-pagi buta ke sekolah, tanpa ia pernah tahu alasannya. Anak itu tak pernah mau mengatakan alasannya. Itu masih jadi misteri besar dalam hidupnya sampai sekarang.

“Apa lagi yang kau sembunyikan dariku, Nona?”

Julie mengerang seperti bayi rusa.

“Ayolah, Mom. Mau sampai kapan kau akan curiga terus padaku seperti ini?” keluh Julie penuh ratapan. “Aku harus berangkat sekolah pagi ini. Mr.Bouncer akan menghukumku kalau aku hari ini datang terlambat lagi. Bukankah kau sendiri yang selalu ingin aku bangun pagi dan datang ke sekolah tepat waktu?”

Lily menatap gadis itu dengan tajam. Gadis itu menyeringai cengengesan. Dalam hatinya ia sangat yakin bahwa ia tidak bisa mempercayai anak ini. Tapi kalau ia melarangnya pergi ke sekolah sekarang, bisa jadi besok pagi anak itu malah akan sengaja bermalas-malasan pergi ke sekolah dan menjadikan tindakannya hari ini sebagai sebuah alasan.

“Oke. Pergilah,” kata Lily. “Tapi ingat—kalau kau berbuat sesuatu lagi hari ini, aku akan meracuni makan malammu dengan kecoa sungguhan.”

Lily melepaskan cengkramannya. Gadis itu langsung menyambar tasnya. Ia berjalan dengan hati-hati menuju rak sepatu untuk mengambil sepatu sekolahnya, sambil mengawasi gerak-gerik Lily dengan waspada. Setelah selesai memasang tali sepatunya, anak itu berlari seperti orang gila.

“Daagh, Moom!”

Lily mengawasi gerak-geriknya hingga sosok gadis itu menghilang di balik pintu. Tidak ada hal lain yang terjadi. Lily mendesah lega. Kalau tahun ini kejahilan Julie ternyata hanya sebatas siraman air keran yang disabotase dan lelucon poster kecoa bodoh seperti ini saja, menurut Lily kemampuan gadis itu masih tidak ada apa-apanya.

Mungkin anak itu akan beraksi lagi nanti malam.

Lily berjalan kembali menuju ke kamarnya. Ia meremas dengan gemas robekan-robekan kertas poster yang masih berada di genggamannya dan melemparnya dengan enggan ke dalam tempat sampah di dalam kamarnya.

Tembakannya meleset.

“Ethan, kau belum memberikan kado untukku, kan?” kata Lily dengan malas. “Tolong masukkan sampah itu ke dalam tempat sampah, ya? Anakmu itu benar-benar minta aku kerjai nanti malam. Lelucon poster kecoa? Hah—tidak lucu. Aku bisa membuat lelucon yang lebih hebat lagi daripada itu.”

Lily membuka pintu kamar mandi dan menutupnya kembali. “Lihat saja nanti.”

Lily hampir saja akan memutar keran jebakan itu lagi, kalau saja ia tidak langsung teringat dengan jebakan yang dipasang Julie saat air keran tadi itu menyemprot mukanya. Ia menjadi semakin kesal.

Rasanya ia ingin menggilling anak itu dengan penggilingan cabe.

Sejak mengikuti kelas Yoga di Perkampungan India dua hari yang lalu, Lily telah menyadari kalau temperamennya semakin memburuk dan ia sedang berusaha keras untuk mengatasinya. Tekanan dalam pekerjaannya akhir-akhir ini memang membuatnya sangat pusing—client-nya sangat rewel dan tidak bisa diajak kompromi, ditambah lagi dengan kelakuan anak gadisnya yang menjadi-jadi itulah yang membuatnya semakin stress. Ia pikir manajemen emosinya harus dapat dikelola dengan lebih baik. Pembalasan dengan amarah sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

Ia menarik napasnya perlahan-lahan.

Ia kini sibuk memikirkan masakan dashyat seperti apa yang akan ia siapkan untuk Julie nanti malam. Selama beberapa detik ia sempat berpikir untuk tidak usah mengizinkan gadis itu menikmati makan malam—tapi ia sadar kalau itu sama sekali tidak keren.

Lebih baik kalau ia membubuhkan kecoa sungguhan.

Lily membuka tutup toilet seat dan duduk di atasnya sambil merenung. Yoga gurunya mengatakan kalau mengendalikan napas adalah cara yang terbaik untuk mengendalikan pergerakan pikir, terlebih lagi—mengatur emosi. Ia pun menarik dan menghembuskan napasnya lagi dengan perlahan-lahan.

Lily merasakan ada sensasi yang aneh dan lengket yang terasa menempel di kedua pahanya. Ia segera berdiri dan memperhatikan kalau ada bau mint yang pedas dari toilet seat yang tadi didudukinya. Bau itu menyebar dengan cepat. Pantatnya mulai terasa pedas.

Lily panik. Ia segera meraih tisu untuk membersihkan gel yang menempel di pantatnya yang terasa sangat pedas, tapi tidak berhasil. Pantatnya semakin pedih dan panas seperti terbakar. Ia menyalakan keran wastafel tanpa sadar. Tiba-tiba keran itu mengamuk, penutup kerannya terlepas dan memuntahkan semprotan air dalam jumlah besar.

Lily menjerit.

“JULIEEEEEEEEEEEEEEE!!!!!!!!!!!”

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

18 thoughts on “13. Hari yang Ditunggu

  1. kyaaaa aku pembaca pertamaa…..makasih kak onya aku udh dikasi tau ^_^
    hahaaa…ini hari ibu…dan julie emang bner2 bandel >.<

  2. WUAHAHAHAHA……
    bisa yah ada gadis se_usil Julie Light ^_^
    Ckckck….
    Bersabarlah Mrs.Light mungkin sifat Julie itu jg didapatkan dari Ibunya! 😉
    Wah author bener2 hebat meng-konsistenkan sifat Julie yg bener2 rese’ itu disini.
    Saya harap Sang Pangeran Lemah Lembut yg menyukai Julie itu,tidak kaget jk mengetahui sifat Julie yg spt itu.
    Saya tunggu kejutan apa lagi yg akan diberikan Julie pd Ibunya.!!
    Lanjutttttt!!!!!

  3. WUAHAHAHAHA……
    bisa yah ada gadis se_usil Julie Light ^_^
    Ckckck….
    Bersabarlah Mrs.Light mungkin sifat Julie itu jg didapatkan dari Ibunya! 😉
    Wah author bener2 hebat meng-konsistenkan sifat Julie yg bener2 rese’ itu disini.
    Saya harap Sang Pangeran Lemah Lembut yg menyukai Julie itu,tidak kaget jk mengetahui sifat Julie yg spt itu.
    Saya tunggu kejutan apa lagi yg akan diberikan Julie pd Ibunya.!!
    Lanjutttttt!!!!!
    Semangat 🙂

  4. Haha LOL XD Julie, you’re very dangerous and evil … Mrs. Lily yg sabar yaa~ I love you, Julie.. jdi ingat sama kelakuanku yg agak sama kayak Julie, kkk..~ dtnggu lanjutannya

  5. Makin ke sini cerita.y tambah seru,, jd tambah penasaran baca kelqnjutan cerita.y,, kak di tunggu yah update cerita.y lg…

  6. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  7. Ping-balik: 12. Rahasia (3) | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s