12. Rahasia (2)

Comments 22 Standar

friendly-lunch-17876660

Keempat gadis itu sedang berkumpul di kafetaria saat jam makan siang—Julie, Kayla, Jessie, Cassandra—membicarakan kejadian yang menimpa Julie tadi pagi. Julie menceritakan tentang keterlambatannya dan bagaimana Jerry memberikan khotbah yang panjang setelah berhasil membuatnya masuk ke dalam areal sekolah.

“Laki-laki itu,” kata Julie. “Dia menyelamatkanku dari Mr.Bouncer pagi ini. Tapi setelah itu, dia menceramahiku sepanjang hari tentang bagaimana seharusnya aku berdisiplin dalam menjalani hidup ini. Ah, kupingku panas.”

Gadis-gadis itu tertawa cekikikan.

“Dari dulu dia memang paling suka kalau bisa menasehatiku berbagai macam hal, bersikap seperti orang tua yang arif bijaksana,” kata Julie. “Laki-laki itu tertawa puas karena hari ini aku tidak bisa membantahnya.”

“Memangnya Jerry bilang apa, Julie?” tanya Kayla. Seperti halnya Jessie dan Cassandra yang mendengarkan cerita Julie dengan antusias, ia pun terlihat sangat tertarik dengan apa yang diucapkan Jerry saat itu.

“Gals!” teriak Cathy dari kejauhan.

Gadis itu menggandeng kekasihnya sambil membawa dua gelas minuman bersoda dengan kedua tangannya. Sementara itu, anak laki-laki itu membawa satu baki berisi penuh dengan makanan dengan porsi besar yang tampaknya sengaja disiapkan untuk mereka berdua.

Julie merasa ada yang aneh dengan kelompok mereka hari ini.

Richard.

“Dia bilang aku gadis yang menyebalkan. Tidak pernah memikirkan orang lain,” kata Julie sambil membuang mukanya dari Richard. “Tidak pernah memikirkan masa depan. Terlalu cuek dengan keadaan di sekelilingku. Gadis teraneh yang pernah ada di alam semesta.”

Kayla tertawa. “Wow. Sungguh?”

Julie mengangguk.

“Dia bilang kalau ia merasa bertanggungjawab pada pendidikanku. Aku terlalu liar dan sulit diatur. Tidak pernah berpikir panjang atas konsekuensi dari tindakan yang kulakukan,” kata Julie lagi. “Ceroboh dan terlalu mengandalkan keberuntungan. Aku seharusnya bisa bersikap lebih baik daripada ini.”

Gadis-gadis itu tidak bisa menahan geli di perut mereka.

“Aku mengerti perasaan Jerry. Seratus persen,” kata Jessie. “Kau itu memang benar-benar gadis yang sangat menyebalkan. Ingat kejadian di Kelas Prancis itu, Julie? Kau itu sapi yang sangat menyebalkan. Absolut.”

Julie terlihat tidak senang.

“Kau datang terlambat ketika kau memegang tugas milik orang lain yang dipercayakan padamu. Dan kau hanya tertawa cengengesan saat kau datang terlambat dan jam pelajaran itu telah berakhir. Hah—yang benar saja,” kata Jessie, sambil berusaha menyingkirkan tangan Julie dari wajahnya. “Kalau ditanya orang yang paling menyebalkan di dunia ini—kaulah orangnya, Julie. Sekali lagi—ABSOLUT, Julie. Ab-so-lut.”

“Jess,” gerutu Julie. Julie menjadi semakin gusar mendengar pernyataan Jessie, sementara itu Kayla dan Cassandara tertawa.

Cathy yang tidak mengerti dengan isi pembicaraan mereka saat itu pun terlihat bingung. Ia menyeruput sodanya dan menaburkan garam dan merica di atas kentang gorengnya. “Hey. Kalian sedang membicarakan apa, sih?”

Kayla baru saja akan menjawab pertanyaan Cathy, tapi kata-katanya itu belum sempat diucapkan karena dipotong oleh orang ketujuh yang baru saja datang bersama dengan Lucy.

“Aloha, aloha!” kata Nick. Laki-laki itu menghampiri mereka, membawa baki makanannya dan mengambil tempat duduk di sebelah kursinya Jessie. “Kalian merindukanku, kan? Kemarin aku kena diare gara-gara Jul—”

“Shhh. Nick. Diam dulu, aku sedang bicara,” protes Cathy. Ia sekarang menarik bangkunya, meletakkan minuman bersodanya, dan mencoba mencermati perkataan Kayla dengan sungguh-sungguh. “Kalian sedang membicarakan apa tadi?”

Nick tampaknya tidak menggubris perintah Cathy. Ia memperhatikan sesuatu yang berbeda di meja itu.  Saat melihat anak laki-laki berkulit putih terang yang sedang bersanding di sebelah Cathy, ia terlonjak kaget dari kursinya, seperti melihat hantu. “OH!!”

“Richard!?” seru Nick.

Nick terlalu ekspresif dengan keterkejutannya, sampai-sampai ia kehabisan kata-kata. “Maksudku, maksudku. Aku—aku pikir Jessie hanya bercanda.”

Richard tersenyum.

“NICK. DIAM,” omel Cathy. Ia tidak bisa lagi menahan emosinya. “Kayla, lanjutkan. Tadi kalian sedang membicarakan apa?”

Jessie mencoba mengambil alih pembicaraan. “Jerry membuat pengakuan cinta pada Julie hari ini,” kata Jessie. “Katanya—”

“Tidak!” potong Julie. Ia mengamuk dan menggerecoki anak itu dengan serangan membabi buta sebelum Jessie bicara lebih banyak lagi.

“Jess—kau ini, awas kau!”

Meja mereka mulai kisruh dengan kesibukan pasangan Julie-Jessie. Julie memulai serangan favoritnya yaitu menarik ikat kuncir kuda Jessie yang membuat gadis itu menjerit, dan berusaha menyumpal mulut Jessie dengan beberapa side dish yang terlihat di piringnya. Jessie mencoba segala upaya untuk menjauhkan tangan Julie dari mukanya, termasuk menggigit apapun yang masuk ke mulutnya.

“Kurasa Jerry mulai suka padamu, Julie,” kata Kayla sambil tertawa kecil. “Bagaimana menurut kalian? Cukup terlihat dari gelagatnya akhir-akhir ini. Menurutmu kenapa Jerry bersedia mengganti semua koran sekolah yang sudah beredar dengan uangnya sendiri kalau bukan karena Julie?”

“Konyol,” kata Julie. “Aku membayarnya dengan harus kehilangan jabatan editor juniorku, Bodoh.”

“Aku tak tahu sih,” kata Cassandra, pura-pura tidak mendengar perkataan Julie. “Tapi kupikir kalian pasangan yang cukup serasi.”

Cathy menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia menjadi semakin tidak sabar. “Aku benar-benar tidak mengerti. Halo, ada apa ini sebenarnya?? Jerry, Julie—kenapa dengan mereka?”

Julie segera menjawab pertanyaan itu sebelum teman-temannya yang gila ini mulai kambuh lagi dengan teori-teori mereka.

“Tadi pagi aku terlambat, Mr.Bouncer menutup gerbang dan tidak mengizinkanku masuk. Jerry datang dan berkata pada Mr.Bouncer kalau ia dan Mrs.Lautner memerlukan bantuanku untuk proyek Majalah Sekolah,” kata Julie. “Jadi aku diizinkan masuk untuk membantu mereka mengerjakan proyek itu. Dan setelah itu, Jerry pun menasehatiku panjang lebar soal kedisiplinan, masa depan, pendidikan, dan sebagainya, dan sebagainya. Aku tidak boleh membantah ceramahnya yang sangat panjang itu sebagai hukumannya, dan itu membuat kupingku memerah karena panas.”

Ketiga gadis itu kembali cekikikan.

“Itu saja,” kata Julie sambil mengancam Jessie, Kayla, dan Cassandra. “Jangan ditambah-tambahi lagi, ya? Awas kalian!”

Cathy mengangguk tanda mengerti. “Oh, begitu.”

Lucy yang dari tadi diam saja akhirnya mulai membuka suara. “Jadi, kalian pikir Jerry suka pada Julie, ya?”

Jessie bersorak. “Voila! Kau memang benar-benar pintar, Lucy.”

Lucy menunduk malu.

“Kalian ingat kan kejadian beberapa waktu lalu? Jerry mengganti semua koran sekolah dengan uang sakunya sendiri. Uang sakunya sendiri—coba bayangkan,” kata Kayla mencoba melebih-lebihkan. “Dan sekarang, ia meminta Mr.Bouncer mengizinkan masuk sekolah dan meminta izin langsung kepada kepala sekolah. Kalian bisa lihat kan betapa perhatiannya Jerry pada Julie?”

Julie terlihat frustasi.

“Harus sampai kapan aku menjelaskan pada kalian, ini tidak seperti yang kalian kira,” kata Julie dengan nada yang serius. “Laki-laki itu memang melakukannya, tapi aku harus membayar semuanya. Aku harus merelakan jabatan editor juniorku, dan tadi pagi—kalian tahu, aku diceramahi habis-habisan olehnya dan tidak boleh membantah sama sekali. Dia pasti sangat senang mengerjaiku.”

“Tentu saja senang,” kata Cassandra. “Dia kan suka padamu.”

Gadis-gadis itu tertawa cekikikan.

Julie tidak bisa membiarkan pembicaraan ini berlarut-larut. Ia akan menggunakan jurus terbaiknya dalam menghadapi kegilaan mereka, yaitu dengan mengalihkan topik.

“Kenapa kita tidak membicarakan topik lain saja? Misalnya, Nick—” kata Julie. Ia memutar otaknya sambil melihat ke arah Nick. “Kau ingin tahu kan bagaimana Cathy bisa berpacaran dengan Richard? Aku juga ingin tahu.”

Julie menghentikan napasnya. Ia tidak percaya ia mengucapkan hal itu.

“Benar,” kata Nick. “Aku sangat penasaran. Tidak bisakah seseorang menceritakannya padaku, kumohon?”

Sementara itu, Julie sedang sibuk berkonfrontrasi dengan sel-sel otaknya sendiri. Ia tak pernah habis pikir kenapa lagi-lagi anggota tubuhnya ini berkhianat dan berinisiatif sendiri di luar kemauannya. Topik tentang Richard seharusnya bukan topik yang ingin dia bahas di kafetaria pada saat jam makan siang. Apalagi dengan situasi yang sekarang.

Jessie tertegun, seperti sedang menahan kencing. “Bukankah aku sudah menceritakannya padamu kemarin?”

Nick menyeringai salah tingkah.

“Maksudku,” kata Nick. “Maksudku, aku belum mendengar cerita lebih detailnya dari Richard dan Cathy. Kau hanya menceritakan sedikit kemarin. Benar, kan?” Nick melirik ke arah Julie. “Julie juga penasaran, tuh.”

“Ya kan, Julie?”

Mendengar namanya disebut-sebut, Julie berusaha menyembunyikan wajahnya. Ingin sekali rasanya ia melakukan sihir apparate seperti penyihir Hermione dan menghilang dari meja mereka—atau kabur terbang bersama naga Ridgeback Norwegia menuju ke penjara Azkaban dan tak pernah kembali lagi.

Cathy tertawa kecil.

“Oh, baiklah,” kata Cathy. “Jadi, begini ceritanya.”

Enam pasang mata di atas meja itu tengah berusaha menyimak baik-baik apa yang akan dikatakan oleh Cathy. Cathy dan Richard memang belum sempat bercerita detail tentang hubungan mereka kemarin. Dengan demikian, apa pun yang akan diceritakan siang ini akan menjadi sebuah pengetahuan yang sangat berharga dalam hidup gadis-gadis itu. Setiap patah kata yang keluar dari mulut Cathy akan memadamkan rasa penasaran mereka yang terus-menerus menggila selama dua hari ini.

“Ooowh—sebaiknya aku cerita tidak, ya? Cerita atau tidak?” lenguh Cathy tiba-tiba, terlihat ragu-ragu secara dramatis. Ia mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk kembali menikmati makan siangnya. “Oh. Mungkin tidak. Aku pikir-pikir dulu, deh.”

Gadis-gadis ini sudah mencapai batas kesabaran mereka. “CATH.”

Cathy tak menggubris keluhan-keluhan itu. Ia justru tampak sedang asyik melumat jari-jarinya yang berlumuran saus tomat, setelah menikmati kentang goreng yang terakhir. Tak hanya menikmati makan siangnya dengan lahap, gadis itu pun juga sangat menikmati mendengar suara-suara rengekan dari teman-temannya yang begitu terlalu menginginkan aksi panggungnya yang bernilai jual mahal.

Richard tersenyum dan menawarkan sedikit bantuan.

“Mungkin aku bisa membantu,” kata Richard, sambil melihat ke arah Cathy yang tampaknya tidak begitu peduli dengan nada-nada protes yang panjang yang didengarnya. “Kemarin di kelas Inggris, aku meminta Cathy jadi pacarku, dan ia mengatakan ‘ya’. Apa ada lagi yang ingin kalian ketahui?”

Nick terkesima.

“Wow,” teriak Nick. “Benar-benar—wow.”

Richard tersenyum. Nick menghela napas. Gadis-gadis itu tertawa.

“Richard,” desah Nick perlahan-lahan. Ia terlihat cukup tertekan. “Kurasa kau tidak berbakat menjadi pencerita, Nak. Maksudku—ayolah!? Kau dan Cathy jadian di Kelas Inggris? Semua orang juga sudah tahu. Aku butuh cerita yang lain. Detail. Detail.”

Richard menatap kosong menunjukkan ekspresi kebingungan. “Detail? Detail seperti apa?”

Tubuh Julie mulai bergeliat aneh. Julie berusaha keras menahan dirinya untuk tidak menanggapi pertanyaan Richard dengan tanggapan-tanggapan konyol apapun yang biasanya ia lakukan. Tidak peduli betapa hebatnya godaan ini, ia harus memastikan kalau setelah jam makan siang ini ia tidak memutuskan untuk bunuh diri dengan melompat ke jurang karena menyesali perbuatannya.

“Richard memberikan aku secarik kertas,” kata Cathy. “Tepat setelah bel istirahat berbunyi.”

Cathy menunjukkan kertas yang ia keluarkan dari saku bajunya.

Aku sudah lama memikirkan hal ini. Cathy, apakah kau mau menjadi pacarku?

Richard.

It’s so sweeeeeeet!” teriak gadis-gadis itu. “Kenapa kau tidak menunjukkannya dari kemarin!?”

Cathy menahan senyumnya yang tidak tertahankan sambil menyeringai senang.

“Karena aku ingin memamerkannya hari ini. Kalian senang, kan?” kata gadis itu sambil merangkul pacarnya. “Aku langsung berkata iya. Dan sekarang dia jadi pacarku!”

Dia mencium pipi Richard dengan sangat romantis. Melihat kejadian itu, gadis-gadis The Lady Witches langsung bergemuruh rusuh seperti kucing-kucing jalanan yang berebutan tulang-tulang ikan.

Julie merasakan perasaan yang tidak menyenangkan di dalam dadanya.

“Tadinya kukira Richard akan membuat puisi romantis untukmu. Kalian tahu kan, Richard memang sangat berbakat di bidang itu,” kata Lucy dalam sekejap. Ia membuat sebuah lingkaran dengan kedua tangannya di udara. “Sebuah puisi yang romantis di Kelas Inggris. Situasi yang sempurna.”

Wajah Cathy merengut masam. Ia baru menyadari betapa bagusnya ide itu dan Richard pada kenyataannya tidak melakukan itu saat mereka memulai ikrar cinta mereka kemarin. Dan sekarang ia merasa kesal.

“Tidak,” kata Cathy. “Dia sama sekali tidak melakukannya.”

Richard menatap polos.

“Kurasa aku tidak berbakat membuat puisi cinta,” kata Richard. “Aku memang bukan orang yang romantis. Maafkan aku.”

Cathy memandang Richard dengan tatapan protes.

“Tapi kau membuatnya untuk Julie!”

Cathy melipat kedua tangannya di depan dada dan membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Richard. Ia menjauhkan piring mereka dari pandangannya dan kemudian melipat tangannya lagi. Sementara itu, Richard tampak kebingungan dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menenangkan gadis itu.

Richard melihat ke arah Julie.

Julie menggigit bibirnya. Suasana siang ini benar-benar terasa aneh.

Ini bukan suasana yang menyenangkan.

“Kurasa kita semua sudah sepakat kalau kejadian waktu itu cuma kebetulan saja, kan?” kata Julie tiba-tiba, berinisiatif melerai mereka. “Sudah kubilang, itu bukan puisi cinta, Cath. Bukan puisi cinta. Dan itu tidak dibuat Richard dengan sengaja, karena aku yang meminta Richard untuk membuatnya. Tapi—eits, sebelum kau marah—Cath, bukankah aku sudah menjelaskan berkali-kali padamu kenapa aku melakukan itu?”

Julie menatap Cathy dengan sungguh-sungguh.

“Ayolah.”

Cathy masih menekuk wajahnya. “Oke,” kata Cathy. Ia memutar kepalanya menghadap Richard untuk memberikan ultimatum. “Tapi kau harus membuatkan puisi cinta untukku. Sekarang juga.”

Richard menarik napasnya. Kepalanya tampak sedang berpikir keras. “Baiklah.”

Gadis-gadis itu menyimak dengan perhatian tingkat tinggi.

My dearest Cathy,” kata Richard. “For feelings that can’t be spoken. Imaginary world where I don’t belong. A witch girl of East End. She spelled an easter island and it came to end.”

Gadis-gadis itu tertawa.

Richard terdiam sejenak. “I was that island.”

Julie menahan napasnya.

“For whom I died peacefully, that I came to heaven.

Anak laki-laki itu memang benar-benar berbakat. Julie tak habis pikir mengapa Richard mengatakan kalau dirinya tidak romantis—padahal kata-kata yang diucapkannya sangat manis.

Gadis-gadis itu terdiam.

The one I would never share. It’s my beloved one and it’s you, Princess Pierre,” kata Richard dengan lembut. “Apakah kau sudah memaafkanku sekarang?”

Cathy mengangguk sambil menahan isak tangisnya. Richard membelai rambut Cathy dan gadis itu menempel ke bahunya.

Nick mengangkat kedua jempolnya.

“Richard, Richard—kawanku!” kata Nick sambil tergelak. “Menarik. Kalian semua benar-benar sangat menarik. Sangat menarik.”

Nick terlihat seperti seorang penonton opera yang merasa begitu puas dengan pertunjukan drama yang baru saja dinikmatinya. Ia tersenyum penuh arti, dan mencubit pipi Jessie dengan gemas.

“Kenapa kau tidak pernah membuatkanku puisi?” tanya Jessie.

“Tidak, tidak,” kata Nick sambil membuka tangannya di depan dada. “Jessie. Jangan bertindak bodoh. Aku tidak bisa membuat puisi, kau tahu itu.”

“Memang,” kata Julie sambil meringis. “Puisi Nick sangat jelek, sampai-sampai kau ingin muntah mendengarnya.”

Nick memicingkan kedua matanya. “Aku bisa membuatkanmu sebuah lagu dan kau akan menggelepar-gelepar seperti sotong, saking bagusnya.”

“Sotong tidak menggelepar, Bodoh,” umpat Jessie sambil menggetok kepala Nick.

Kayla tersenyum dan memandang Richard dengan kagum.

“Tapi puisimu benar-benar bagus, Richard. Sangat romantis,” kata Kayla. “Dan seperti kata Julie waktu itu, kau mampu membuat sebuah puisi dalam waktu yang sangat cepat. Seperti insting yang muncul begitu saja. Kau benar-benar hebat, Richard.”

Lucy mengangguk. “Ya, sudah kubilang kan, Richard sangat berbakat.”

“Pacarku,” kata Cathy. “Pacarku memang hebat. Kau sangat romantis, Sayang. Aku harus mencatat puisimu tadi. Puisi itu tidak boleh hilang begitu saja. Aku akan menyimpannya dalam hatiku.”

Semakin mereka memuji puisi buatan Richard, Julie menjadi semakin merasa tidak enak. Kejeniusan Richard memang pantas mendapatkan apresiasi yang lebih baik. Laki-laki itu memang jenius. Julie menyadari wajar saja kalau Richard menjadi marah padanya karena tindakannya merobek-robek puisinya waktu itu. Ia kini merasa seperti orang brengsek yang tidak bisa menghargai karya orang lain.

Julie harus mengingatkan dirinya untuk tidak akan bertindak bodoh lagi di masa yang akan datang. Konsekuensi dari tindakan yang secara sembrono ia lakukan beberapa hari yang lalu entah kenapa masih berimbas padanya sampai hari ini. Kalau saja Richard tak membuat puisi yang sangat bagus dan menyelamatkan mood Cathy hari ini, ia pasti akan tertimpa masalah dan gadis itu pasti akan marah lagi padanya sekarang. Pada kenyataannya, ia harus mengakui kalau ia tidak bisa mengandalkan keberuntungannya setiap saat.

Jerry memang benar.

“Julie, telepon selularmu berdering,” kata Cassandra.

Julie mengangkat teleponnya.

“Jerry,” kata Julie. “Kebetulan sekali. Baru saja aku memikirkan tentangmu.”

Gadis-gadis itu—dan Nick Si Bulu Hidung Panjang yang sinting—bersuit-suit dengan hebohnya. Julie langsung menyesali ucapannya barusan. Ia merasa benar-benar tolol.

“Maksudku, aku teringat dengan nasihat-nasihatmu yang membuat kupingku panas tadi pagi. Kurasa aku mulai mendapat sedikit pelajaran,” kata Julie salah tingkah. “Ada apa Jerry?”

Geng makan siangnya semakin menggila dan mereka berteriak-teriak histeris untuk menggodanya. Julie menjadi semakin stress dengan kelakuan mereka dan mencoba menutup sebelah kupingnya.

“Tidak, aku sedang di kafetaria dengan teman-temanku,” kata Julie. “Baiklah. Tidak masalah. Aku sudah selesai makan. Aku akan menemuimu sekarang.”

Julie beranjak dari tempat duduknya setelah mematikan ponselnya.

Sorry, Gals. Aku harus pergi,” kata Julie. “Jerry membutuhkan bantuanku untuk me-review naskah terakhir sebelum diserahkan ke kepala sekolah.”

Nick melolong. “Auuu.”

Seperti biasa, Julie tidak mempedulikan ledekan itu dan melengos pergi sambil mengucapkan sepatah kata dengan sangat meyakinkan. “Au revoir, Mon ami!

Selain Jessie dan Richard, ini pertama kalinya The Lady Witches mendengar Julie mengatakan kata-kata dalam bahasa Prancis dengan baik dan benar.

“Apa? Dia bisa bahasa Prancis!” Kayla menatap Julie dengan mulut menganga. “Sejak kapan??”

***

BACA SELANJUTNYA >>

Iklan

22 thoughts on “12. Rahasia (2)

  1. Julie, kau memang bodoh dan kurang peka.. Sifatmu inilah yg akan jd bumerang buatmu..

    eciee eciee.. Sama Jerry. Panas2in noh Richardnya.. Yg mesra ya.. 🙂

    Jadi rahasianya mana ini? Apa masih rahasia? Aduh kak jgn main rahasia2an dong.. -_-

  2. richard beneran suka ma cathy????oh noooo!!tp kalo beneran suka it memang karakter richard yg manis…tp kalo cm buat cathy cemburu..itu kayak bukan richard ato stidaknya sisi lain dr deorang richard a good boy..ni novel jd agak dark kalo bgitu bukan bermandikan cahaya terang pelangi..please thor mau dibawa kemana crita cinta si julie T.T

  3. Lagi donnggg penasaran bgt… Masih ga rela richard jadian sma cathy. Ahh ku pikir bakal sama julie. Btw richard mirip bgt sma org yg di sukai tmen”ku. Hduhh serasa inget kejadian itu hahahh. Update lagii ya

  4. aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~ love this part so much
    aku pingin bagian2 kaya gini dibanyakkin kak >.< pas julie diejek gara2 jerry
    auuu

  5. akhirnya saingan richard muncul juga, jerry haha
    jadi semakin gila dan ga sabar nunggu cerita selanjutnya ahaha

  6. oh tidak pokoknya gak rela richard jadian ama cathy
    julie kmu ini masa sma perasaan sendiri gak peka itu namanya kmu cemburu ckckckckc
    penasaran banget ama lanjutannya

  7. Ping-balik: Daftar Isi | Friday's Spot

  8. Ping-balik: 12. Rahasia | Naya Corath

Komentar kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s